Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Tsunade menatap anak didiknya lembut, tangannya terulur merapikan helaian merah jambu Sakura yang menutupi pipi pucat gadis itu.
"Bagaimana perasanmu, Sakura?"
"Lebih baik, shisou," ujar Sakura tersenyum lemah. Emerald yang biasanya terlihat bening dan penuh semangat itu seolah kehilangan cahayanya.
Tsunade menghela nafas panjang, lalu mengeluarkan jarum suntik dari saku jasnya. "Istirahatlah," sarannya pada gadis yang sudah dianggapnya seperti putrinya itu.
Setelah selesai menyuntikkan semacam cairan ke dalam selang infus Sakura, Tsunade lalu membenarkan posisi tidur Sakura.
Tidak butuh waktu lama hingga Sakura kembali jatuh dalam tidurnya.
Tsunade tersenyum kecil, betapa sangat bersyukurnya diirnya ketika Sakura mampu bertahan dan masih bernapas hingga saat ini. Mengusap pelan pipi pucat gadis itu, ia lalu memberikan kecupan selamat malam pada anak didiknya.
Tsunade melangkah keluar, menimbulkan dentuman yang cukup keras dari tumit sepatunya yang runcing. Tapi, belum sempat ia menutup pintu ruang rawat Sakura, tanpa sengaja tatapannya jatuh pada jendela yang masih terbuka. Mau tidak mau, wanita itu kembali masuk ke kamar Sakura dan menutup salah satu jendela yang masih terbuka tersebut.
Namun, ketika Tsunade mengulurkan tangannya, entah kenapa ia mengurungkan niatnya untuk menutup jendela itu. Wanita beriris madu itu hanya menarik tirainya, dan membiarkan daun jendela tersebut tetap terbuka.
Ketika menutup pintu kamar Sakura, senyum sangat tipis terukir di bibir merahnya.
.
.
.
.
Sepasang mata itu terus menyala merah di tengah kegelapan. Sedetikpun, sang pemilik mata tidak pernah mengalihkan tatapannya dari salah satu jendela yang tirainya terbang keluar tertiup angin. Nyanyian serangga malam serta angin dingin seolah menjadi sahabat baginya beberapa malam ini. Desahan frustasi terdengar memudar oleh suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin.
Sejujujurnya, Sasuke sendiri bingung dengan apa yang tengah di lakukannya sekarang. Setelah pelatihan yang sangat melelahkan dengan Kakashi yang membuatnya menguras seluruh chakra-nya, ia masih memiliki tenaga untuk berdiri di tengah malam yang sangat dingin seperti sekarang ini.
Seharusnya, ia tidur dan beristirahat di rumah, bukannya keluyuran di tengah malam. Namun, perasaan membingungkan yang selalu menghantuinya membuatnya melakukan hal bodoh ini. Ketika akan menutup matanya, bayangan Sakura yang tidak bernyawa selalu bermain dalam pikirannya. Ada ketakutan yang menelusup di hatinya, jika gadis yang tidak mampu menyelamatkan Juugo itu benar-benar pergi dari hidupnya. Sekalipun ia merasa membenci gadis merah jambu yang kini terbaring lemah tidak berdaya, Sasuke tidak pernah berpikir bagaimana jika gadis itu menghilang selamanya, bahkan terlintas saja tidak pernah.
Sasuke ingat, bagaimana jantungnya seolah berhenti bekerja dan dadanya terasa sangat sesak ketika mengira Sakura sudah tidak bernyawa dalam pelukannya waktu itu. Ia sama sekali tidak merasakan bumi yang dipijaknya, yang ada di pikirannya hanyalah Sakura yang akan meninggalkan mereka, meninggalkan dirinya.
Ia baru menyadarinya, bagaimana berpengaruhnya kehadiran Sakura dalam hidupnya yang lebih banyak diselimuti kegelapan. Sasuke sendiri tidak benar-benar membenci gadis itu atas kepergian Juugo, karena Sasuke memang tidak akan mampu untuk membenci Haruno Sakura sekeras apapun ia mencoba.
Setiap kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya untuk Sakura beberapa waktu lalu, secara tidak langsung membuat dirinya merasakan sakit yang lebih dari yang dirasakan gadis itu. Sasuke memang bisa berbohong dengan tindakan dan ucapannya, namun ia tidak akan mampu membohongi hatinya.
Sasuke merasa sangat kehilangan dengan kepergian Juugo dan mulai menyalahkan Sakura. Karena awalnya, ia berharap banyak pada gadis merah jambu itu untuk bisa menyelamatkan pemuda berbadan kekar itu. Namun, sepertinya takdir berkata lain dan Juugo memang sudah mencapai batasnya di dunia ini. Kemudian, Sasuke mulai melimpahkan kesalahan pada orang lain untuk mengalihkan emosinya. Seharusnya Sasuke tahu, kematian tidak akan pernah bernegosiasi dengan siapapun. Tapi kenapa harus menyalahkan Sakura atas semua yang menimpanya?
Hingga sekarang, Sasuke benar-benar tidak mengerti kenapa ia bersikap seperti itu pada Sakura.
Ada rasa kecewa, marah kesal dan benci atas takdir yang telah digariskan, namun kenapa harus melampiaskannya pada gadis merah jambu yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tidak, Sasuke tidak membenci Sakura, lebih tepatnya tidak pernah mampu membenci gadis itu terlepas dengan sikap kasar yang selalu ditunjukannya.
Tapi kenapa ia membuat Sakura sebagai pelampiasan atas kemarahan, kekecewaan, kebenciannya pada dirinya sendiri?
Sasuke sama sekali tidak mengerti dengan dirinya. Tetapi yang ia tahu, dirinya merasa sakit melihat keadaan Sakura sekarang.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam dendam dan kegelapan, nampaknya Sasuke masih belum bisa menemukan apa sesungguhnya yang diinginkan oleh dirinya (tentunya juga Itachi).
Apakah sekarang ia menyesal?
Jawabannya tetap sama.
Sasuke tidak pernah menyesali apapun yang telah dilakukannya. Tapi ia tidak bisa mengabaikan rasa bersalah yang sangat sehingga membuatnya berada disini sekarang.
.
.
.
.
Sakura tersenyum lemah melihat Naruto diseret keluar oleh Ino. Emerald itu kembali terlihat sayu saat pintu ruang rawatnya tertutup rapat, semua teman-temannya sudah pulang dan ia merasa kesepian.
Menghela napas panjang, Sakura merebahkan kepalanya di atas bantal. Matanya menatap sendu langit-langit ruangannya. Sudah tiga hari semenjak ia siuman, Sasuke sama sekali belum pernah mengunjunginya.
Apa mungkin pemuda itu mengharapkannya mati saja?
Memikirkan sikap Sasuke belakangan ini, membuatnya tidak kuasa menahan buliran air mata yang merembes melalui kelopak matanya yang tertutup. Apa sudah tidak ada harapan untuk memperbaiki hubungan mereka lagi.
Memangnya Sasuke pernah menganganggapnya teman?
Kendati Sasuke sangat membencinya sekarang, Sakura masih tidak bisa melupakan perasaan yang yang sudah mulai terpupuk waktu mereka masih genin. Gadis itu sadar, perasaannya memang tidak akan pernah terbalas, namun apa mau dikata. Sudah seringkali ia mencoba untuk melupakan rasa menyesakkan itu, tapi selalu saja gagal bahkan rasa itu tumbuh semakin kuat.
Apa mungkin suatu hari nanti, ia bisa melupakan Sasuke dan berpindah ke lain hati?
"Sakura."
Sakura bergegas menyeka air matanya ketika mendengar seseorang memasuki ruang rawatnya.
Sai datang dengan senyum biasa yang selalu menghiasi wajahnya. "Kau terlihat mengerikan," komentarnya sembari mengambil tempat duduk di samping ranjang Sakura.
"Terimakasih, Sai," tukas Sakura dengan suara seraknya. "Kau perhatian sekali mengunjungiku hari ini?" tanyanya. Memang dalam satu hari ini, Sai sudah berkunjung lebih dari tiga kali.
Sai mengangkat bahu, "Yah, aku sedang berbaik hati dan kasihan melihat keadaanmu," jawabnya acuh.
Sakura mendengus rendah, lalu melirik sekeranjang apel yang dibawakan Sai. "Untukku bukan?"
Sai mengikuti tatapan Sakura, kemudian tersenyum. "Tidak, tapi kalau kau ingin, aku bisa memberimu satu," ucapnya polos seraya mengambil sebuah apel dari dalam keranjang.
Mulut Sakura berkedut kesal, rasanya ia ingin menghajar wajah innocent rekan satu timnya itu.
"Nah, aku pulang, cepat sembuh, jelek." Sai melenggang keluar pintu, meninggalkan Sakura dengan sebuah apel di atas meja.
Benar-benar, hanya sebuah.
Sakura kembali memejamkan mata saat mendengar pintu tertutup. Ia sedikit menggulirkan kepalanya, sehingga dapat melihat langit senja melalui jendela kamar rawatnya yang terbuka.
Pandangannya kosong, seolah-olah tidak memiliki semangat hidup. Beberapa menit kemudian, kelopak matanya terpejam dan Sakura terjebak dalam tidur tanpa mimpi.
.
.
.
Sasuke terengah-engah, buliran keringat membasahi dahi hingga lehernya. Matanya berdenyut sakit, kepalanya terasa mau pecah dan giginya bergemeletuk menahan nyeri. Sudah hampir setengah jam ia mengalami hal ini, tetapi pemuda itu sama sekali belum berniat untuk ke rumah sakit.
Ia bukannya tidak tahu dengan kondisinya saat ini, namun ia masih saja keras kepala untuk menggunakan sharingan-nya tiap malam.
"Kuso!"
Merangkak turun dari ranjangnya, Sasuke mencari obat yang diberikan Tsunade padanya. Dengan penglihatan seadanya, ia dapat menemukan obat tersebut dengan susah payah dan langsung menelannya beberapa butir. Dengan tubuh di lantai dan kepala tergeletak di kasur, ia berusaha mengatur napasnya karena efek obat tersebut sudah mulai terasa.
Beberapa menit setelahnya, rasa nyeri tersebut berangsur menghilang. Sasuke merangkak naik ke tempat tidur dan berbaring dengan posisi janin. Kendati sudah sedikit mereda, namun efek penggunaan sharingan -nya beberapa malam terakhir ini masih terasa sakit, karena memang matanya masih belum pulih benar. Kegiatannya tiap malam mengawasi Sakura di rumah sakit sama sekali tidak membantu penyembuhan matanya.
.
.
Gelap.
Sasuke menahan napas ketika membuka matanya. Menutup matanya sejenak, ia berharap apa yang ditakutinya tidak terjadi. Namun, kegelapan masih saja menyambutnya. Kemudian, sinar rembulan menelusup melewati celah jendela, membuatnya mendesah lega.
"Sudah malam," pikirnya.
Turun dari ranjang, Sasuke meraba dinding kamarnya kemudian menyalakan lampu. Seketika, ruangan tersebut terang benderang. Beberapa buku dan gulungan serta selimut tergeletak di ubin, belum lagi barang-barang yang seharusnya berada di atas meja kini berserakan di lantai. Mendengus pelan, Sasuke merapikan kamar tidurnya sebelum membersihkan diri.
.
Setelah mengganjal perut dengan makanan seadanya, Sasuke keluar dari komplek Uchiha seperti malam-malam sebelumnya. Tetapi, untuk malam ini ia sedikit terlambat, karena hampir menjelang sepertiga malam.
Memasuki area rumah sakit, Sasuke berjalan ke bagian belakang gedung tersebut. Kalau malam-malam sebelumnya ia hanya akan mengawasi dari luar, kali ini Sasuke memilih untuk memanjat ke kamar Sakura dan masuk melalui jendela.
Melangkah pelan menuju ranjang pasien, Sasuke mengambil sebuah kursi dan menyamankan diri di sana.
Ia menatap nanar tubuh mungil yang beberapa hari yang lalu hampir tidak bernyawa itu. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras menahan emosi di dadanya.
Helaian merah jambu Sakura menarik perhatiannya. Tanpa sadar, tangannya terangkat untuk menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga. Sontak, ia menarik tangannya ketika jemarinya bersentuhan dengan kulit halus Sakura.
Sasuke membeku menatap telapak tangannya, mengingat apa yang telah dilakukannya pada Sakura. Bagaimana ia menepis kasar botol obat diberikan gadis itu padanya, melempar sepiring apel yang sudah diiris untuknya dan ia bahkan tidak ingat lagi apa yang telah dilakukannya untuk menyakiti Sakura hanya dengan sebelah tangannya ini. Belum lagi, kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.
"Sakura, aku … "
Suara berat Sasuke terdengar jelas meskipun dengan volume rendah karena keadaan ruangan itu yang memang sunyi. Pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya, kata-katanya seolah tertahan di tenggorokan.
"Maaf … " Akhirnya kata itu keluar dari mulutnya. Walaupun ia tahu Sakura tidak akan mendengarnya, Sasuke menggumamkan kata itu beberapa kali dengan kepala tertunduk. Ekspresi Sasuke tersembunyi dengan baik oleh kegelapan malam.
Akhirnya fajar menjelang. Biasanya, Sasuke akan langsung pulang setelah fajar, tapi kali ini ia masih betah untuk duduk dengan posisi yang sama saat pertamakali datang. Mata hitamnya tanpa sengaja melihat sebuah apel di samping ranjang Sakura.
Ia menjangkau apel tersebut dan mulai mengupasnya. Apel memang buah kesukaan Sakura, mungkin ia bisa membawa buah tersebut besok malam.
.
.
.
.
Sakura bangun lebih pagi dari biasanya. keadaan kamarnya masih gelap dan matahari nampaknya belum muncul. Sakura bersusah payah mencoba untuk duduk, tubuhnya terasa kaku hanya berbaring terus.
Sakura menyapu pandangannya ke seluruh ruangannya, tidak ada yang berubah dan masih tetap sama. "Aku masih di rumah sakit, " batinnya. Ia mendesah, menatap jendela yang terbuka. Keningnya mengernyit, menerka siapa yang kiranya sepagi ini menjenguknya.
Ia menggeleng, tidak mungkin ada orang yang pagi-pagi sekali datang berkunjung. Mungkin semalam, Tsunade lupa menutup jendelanya.
"Aku ingin cepat pulang," gumamnya bosan.
Merasakan tenggorokannya kering saat bicara, Sakura menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya hingga tandas. Ia juga melihat irisan apel di atas piring yang terlihat baru selesai dikupas karena warnanya masih putih bersih. Sakura membawa piring kecil tersebut ke atas pangkuannya dan mulai memakannya perlahan.
"Terima kasih, Shishou," ujarnya pelan sembari menikmati apel segar, mengira Tsunadelah yang mengupaskannya apel tersebut.
.
.
Siang itu, akhirnya Sakura mendapat izin untuk meninggalkan rumah sakit setelah berkali-kali memohon pada Tsunade. Pada awalnya, Tsunade memang menyarankannya menginap beberapa hari lagi hingga kondisi tubuhnya stabil, namun Sakura tetap keras kepala ingin pulang.
"Aku akan mengirim perawat untuk memeriksa keadaanmu," ujar Tsunade sembari membantu Sakura turun dari ranjangnya. Di samping kiri Sakura, Shizune ikut memapah gadis merah jambu itu hingga duduk di atas kursi roda.
"Terimakasih, Shishou." Sakura tersenyum lebar pada mentornya, namun tidak mencapai matanya.
Tsunade sadar akan hal itu.
"Hm, cepatlah sembuh." Tsunade menepuk pucuk kepala Sakura beberapa kali.
Sakura mengangguk, lalu pamit pada gurunya.
"Terima kasih, Tsunade-sama." Kizashi memberikan senyum kecil, lalu mendorong kursi roda putrinya.
Tsunade mengangguk pada Kizashi, lalu menghela napas berat. Ia menatap sekeliling ruangan pasien, lalu melihat sebuah benda di bawah ranjang Sakura.
Membungkuk untuk mengambil benda putih yang sudah terlihat kotor itu, Tsunade lalu membuang potongan perban tersebut ke tempat sampah.
.
.
.
.
.
Sakura berbaring nyaman di ranjangnya. Tangannya memutar-mutar setangkai dafodill putih yang masih segar. Desahan rendah keluar dari bibir mungilnya, memikirkan siapa yang tiap pagi menaruh bunga kesukaanya di atas nakas.
Seminggu setelah keluar dari rumah sakit, kondisi Sakura sudah sangat membaik dan sekarang hanya menunggu pemulihan sehingga ia bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Setiap hari, teman-temannya datang menjenguk secara bergantian, mulai dari pagi hari seperti Naruto yang selalu mampir sebelum berangkat berlatih. Ino biasanya akan datang siang hari atau sore hari setelah selesai bekerja atau tengah tidak jadwal di rumah sakit.
Seperti ucapan Tsunade, setiap hari ada perawat yang rutin memeriksa kondisi tubuhnya. Kadang juga Tsunade Sendiri yang datang jika tidak terlalu sibuk.
Namun, hanya ada sau orang yang sama sekali tidak pernah menjenguknya, mulai dari ia masih di rumah sakit hingga sekarang.
Sakura merasa bodoh. Mana mungkin dia akan datang, Sasuke sangat membencinya sekarang.
Merasakan punggungnya sedikit kaku karena hanya berbaring terus selama dua jam terakhir, Sakura memilih untuk turun dari tempat tidur.
Menaruh bunga dafodill tersebut di dalam vas berisi air, Sakura melangkah tertaih menuju balkon kamarnya.
Tubuhnya sedikit merinding saat udara malam membelai kulitnya yang telanjang. Ia duduk di sebuah kursi kayu, matanya menatap langit malam yang cerah. Berbeda sekali dengan suasana hatinya sekarang.
Pikirannya melayang pada orang tertentu tanpa bisa dicegahnya. Bibir keringnya melapalkan nama seseorang yang selalu membuatnya mengeluarkana air mata. Mungkin, dirinya memang seorang masokis sejati.
"Sasuke-kun … " gumamnya dengan sorot mata kosong dan suara serak. Kendati hatinya menangis, namun setetespun air matanya tidak jua keluar.
Perlahan, kelopak matanya terasa berat. Tidak butuh waktu lama hingga Sakura kehilangan kesadarannya.
Dari gelapnya malam, muncul sosok yang selalu mengawasinya setiap malam dan mengangkat tubuh ringkih gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Sesaat, Sakura melenguh dalam tidurnya membuat lelaki itu menegang.
Setelah memastikan Sakura hangat dengan balutan selimut tebalnya, ia langsung keluar dari jendela dan menghilang di kegelapan malam.
.
.
.
.
Tidak terasa, satu bulan telah berlalu semenjak Sakura keluar dari rumah sakit. Kini, kondisi tubuhnya sudah stabil meskipun masih belum dapat melakukan misi keluar desa. Untuk sementara, Sakura hanya melakukan tugasnya sebagai seorang ninja medis di rumah sakit Konoha kendati hanya paruh waktu. Tsunade sangat membatasi jam kerja anak didiknya, takut jikalau kondisi tubuh Sakura menurun.
"Pulanglah … " Tsunade menyuruh Sakura untuk beristirahat, mengambil alih tugas Sakura yang tengah memeriksa seorang wanita yang terbaring lemah.
Awalnya Sakura ingin menolak, namun melihat tatapan tegas gurunya membuatnya tidak punya piihan. Tidak ingin berdebat juga, Sakura akhirnya mematuhi.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," pamitnya dengan senyum kecil.
Tsunade mengangguk, menatap punggung Sakura yang menghilang di balik pintu. "Kau dan Sasuke sama saja," desahnya.
.
.
Mendongak melihat senja yang membentang di ufuk barat, Sakura berdiam sejenak di tengah jalan merenungkan sesuatu. Wajah lelahnya sedikit berseri sesaat setelah sebuah ide muncul di kepalanya. menghembuskan napas panjang, gadis itu berbalik dari jalan arah rumahnya menuju j ke luar desa.
Di dekat desa, ada sebuah bukit kecil dengan pemandangan langit malam yang menakjubkan. Dulu ia sering kesana bersama Ino atau juga Naruto jika sedang tidak misi. Menikmati hamparan langit malam yang dihiasi milyaran bintang dan menikmati keheningan yang nyaman.
Tidak memedulikan tubuhnya yang sedikit kelelahan, kaki jenjangnya melangkah ringan dan perasaannya juga terasa sedikit lebih baik.
Sebelum keluar desa, Sakura menyempatkan diri membeli makanan manis untuk disantapnya. Ia tidak bisa mengabaikan tuntutan perutnya yang terus menggerutu meminta diisi.
.
.
.
.
.
"Sasuke, kau baik-baik saja?" Kiba menghentikan langkahnya melihat Sasuke tiba-tiba berhenti, dan turun menuju pemuda itu yang sudah bersandar di sebuah pohon besar.
"Sasuke?"
"Hn, aku baik," sahut Sasuke dengan sedikit terengah-engah.
"Kau naik saja di punggung Akamaru," sarannya.
Sasuke mendecih, "Tidak!"
Kiba hanya mendengus, melirik diam-diam Sasuke yang nampaknya tengah menahan sakit yang teramat. Sepertinya, chakra pemuda itu benar-benar habis. Memang, misi mereka cukup sulit dan membutuhkan tenaga dan waktu yang lumayan lama hingga dapat membekuk target.
"Argh!"
Geraman Sasuke membuat Kiba terkejut, apalagi ketika Sasuke berlutut memegang kepalanya.
"Sasuke, jangan keras kepala. Cepat naik ke punggung Akamru, Konoha hanya tinggal sepuluh menit lagi." Kiba terus memaksa Sasuke, namun tetap saja pemuda itu tidak menggubris.
"Sasuke!"
"…"
"Sasuke!"
"Kyaa …!"
Teriakan feminim itu tentunya bukan milik Sasuke. Seketika, tubuh Sasuke menegang dan langsung berdiri dengan tubuh sedikit bergetar. Dalam sekejap, Sasuke sudah berlari dengan sisa chakra-nya menuju sumber suara.
"Sasuke!" Kiba berteriak, mengikuti Sasuke bersama Akamaru.
.
.
.
.
Tubuhnya terasa sangat sakit karena terhempas oleh pukulan yang sangat keras. Sudut mulutnya mengeluarkan cairan merah. Napasnya tersengal berat, penglihatannya sedikit mengabur. Makanan-makanan yang dibelinya tercecer di tanah dan sudah tidak berbentuk lagi.
Dadanya terasa sakit dan sesak akibat pukulan yang diterimanya. Sakura sudah tidak memperhatikan ucapan meremehkan sekelompok orang yang berniat menyusup ke Konoha itu. kalau saja ia lebih kuat, tidak lemah seperti ini.
Uhuk!
Sakura terbatuk, kembali darah kental meluncur dari mulutnya membasahi tanah di bawahnya.
"Kau sangat cantik, sayang kau harus mati muda."
Sakura tidak memedulikannya, ia berusaha untuk bangkit dan melakukan sesuatu. Namun sayang, tubuhnya sudah tidak mampu bergerak.
"Cepat selesaikan!"
Sakura mendengar salah seorang dari mereka berbicara. Dengan samar-samar, ia bisa melihat seorang pria berjalan ke arahnya dengan pedang terhunus. Apakah hidupnya akan berakhir sia-sia seperti ini?
Melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya, Sakura mendongak dengan susah payah. Lengan pria bertubuh gembul dan kekar itu mulai mengayun dan bersiap menghujamkan pedang panjang menuju padanya. Sontak, Sakura menutup matanya. Takut untuk melihat kematian datang menjemputnya.
Namun, sepasang lengan besar merengkuh tubuhnya. Dengan kesadaran yang semakin menipis, ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang tengah memeluknya. Sakura tidak tahu itu hanyalah halusinasinya atau bukan, wajah seseorang yang sangat dirindukannya kini menatapnya penuh khawatir.
"Sasuke-kun … "
Kegelapan langsung menyelubunginya.
.
.
.
.
.
Sakura terbangun dengan sekujur badannya terasa nyeri. Tenggorokannya kering dan bibirnya kaku untuk dibuka. Pandangannya yang mengabur perlahan-lahan mulai jelas.
Ia tahu dimana ruangan ini, rumah sakit lagi.
"Syukurlah kau sudah sadar."
Sakura menggulirkan kepalanya, melihat Shizune yang datang dengan Naruto di belakangnya.
"Sakura-chan!" Naruto langsung berlari dan menghampiri ranjang Sakura. Langsung saja, pemuda itu merengkuh tubuh kurus sahabatnya dengan hati-hati.
Sakura merasakan tubuh Naruto bergetar saat memeluknya. Tanpa bisa dicegahnya, gadis itupun ikut menangis haru.
"Aku sangat takut, Sakura-chan," gumam Naruto.
"Aku baik-baik saja, Naruto." Sakura mencoba menghibur sahabat tercintanya.
"Aku sangat takut saat Kiba dan Akamaru membawamu dan Sasuke dalam keadaan luka parah seperti itu. Aku tidak ingin ditinggalkan lagi, Sakura-chan." Naruto masih mengoceh dengan kepala terselip di bahu Sakura. Pemuda itu tidak menyadari tubuh Sakura membeku setelah mendengar ucapannya.
"S-Sasuke … kun."
Jadi, apa yang dlilihatnya bukan hanya halusinasi atau mimpi saja, yang waktu itu benar-benar Sasuke. Sakura masih tidak bergerak, dunianya seolah berhenti. Pikirannya kalut, ia takut. "B-bagaimana Sasuke-kun?" lirihnya. Tubuhnya terasa lemah, pandangannya mengabur akibat air mata yang membludak keluar.
Naruto melepaskan pelukannya, mengusap matanya yang sembab dengan lengan bajunya. Seperti biasa, pemuda pirang itu mencoba tersenyum, namun gagal. "Jangan khawatir Sakura-chan, dia baik-baik saja."
Sakura mengangguk lemah. Ia tahu Naruto berbohong.
"Nah, bisa kau keluar sebentar Naruto. Aku ingin mengganti baju Sakura." Shizune menyatakan, sudah siap dengan pakaian baru di tangannya.
Naruto merengut, lalu menatap kesal Shizune. "Tidak bisa aku disini saja, aku tidak akan melihat," tolaknya.
Shizune melotot, kemudian menendang pantat Naruto hingga keluar ruangan.
Wanita itu kemudian beralik menuju Sakura. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya, sembari mengecek bagian-bagian tubuh Sakura yang dililit perban.
"A-aku tidak tahu … " sahut Sakura dengan suara serak. Tatapannya kosong ke arah luar jendela.
Shizune menatap prihatin pada kouhai-nya yang sekarang sudah melampaui dirinya. Tidak mengatakan apa-apa lagi, wanita itu mulai melepaskan pakaian yang dikenakan Sakura dan menggantinya dengan yang baru. Dia tidak ingin mendorong Sakura dalam kondisi seperti sekarang ini.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke tidak tahu saat ini sudah malam atau belum, atau mungkin masih siang. Semenjak bangun beberapa saat yang lalu, yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Hati-hati, ia mencoba untuk duduk kendati sekujur tubuhnya masih terasa sakit saat digerakkan.
"Ugh!"
Sasuke meringis, menahan nyeri di sekitar matanyanya serta pergelangan tangan kirinya. Akhirnya, setelah berusaha dengan susah payah, pemuda itu dapat menyandarkan punggungnya di kepala ranjang pasien dengan sebuah bantal sebagai penyangga punggungnya.
Samar-samar, ia mendengar suara decitan sepatu mendekat ke arahnya. Beberapa saat kemudian, deritan pintu menyapa telinganya dan teriakan seseorang yang sangat dikenalnya membautnya berjengit kaget.
"Sasukee!"
Sasuke merasakan tubuhnya seakan remuk oleh pelukan maut pemuda berisik penyuka ramen yang sayangnya adalah sahabatnya.
"Lepas baka!" ketus Sasuke, berusaha keluar dari jeratan lengan Naruto.
Naruto seolah-olah tidak peduli, ia semakin mengencangkan pelukannya. "Syukurlah, kau juga sudah siuman. Aku benar-benar khawatir dengan kalian."
Untuk sesaat, tubuh Sasuke membeku. Ia mengabaikan celotehan Naruto, bahkan tidak mempermasalahkan pelukan Naruto padanya yang masih belum dilepas hingga saat ini. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini, bagaimana kondisi gadis merah jambu itu sekarang, apakah dia baik-baik saja? Bagaiman luka-lukanya?
"Oi, Teme!"
Sasuke tersentak, langsung menepis lengan Naruto di bahunya. "Hn."
Naruto nampak menghela napas, lalu mengambil sebuah kursi dan menjatuhkan pantatnya disana.
"Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan," ujar Naruto lirih. "Tapi mungkin nanti saja, setelah keadaanmu lebih baik," sambungnya cepat.
Kendati kedua matanya tengah tidak bisa melihat sekarang, Sasuke menoleh ke arah kanan untuk berhadapan dengan Naruto. "Apa?"
Pemuda pirang itu menggaruk kepalanya, lalu menunduk dan sekilas menatap wajah Sasuke sebelum mnegalihkan tatapannya keluar jendela. "Kau dan Sakura …" Naruto terdiam, masih menyusun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Bagamana dia?" Ada nada kehawatiran dalam ucapan Sasuke.
Naruto menatap Sasuke, lalu mendesah pelan. "Dia sudah siuman beberapa saat yang lalu," jawabnya. Ada jeda yang cukup panjang sebelum Naruto melanjutkan ucapannya. "Karena luka-luka yang dialaminya cukup serius, untuk sementara ia hanya bisa diam di ranjang pasien." Naruto menjelaskan dengan raut wajah sendu.
Setelah memaksa Tsunade untuk menjelaskan kondisi Sakura saat ini, Naruto merasa cukup terpukul. Apalagi ditambah dengan informasi keadaan Sasuke, ia merasa tidak berguna sebagai sahabat. Ia tidak ada disana saat mereka dalam kesulitan.
Naruto menyesal dan tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia hanya berharap Tsunade dapat melakukan yang terbaik untuk sahabat-sahabatnya. Pertanyaan yang bercokol di kepalanya belakangan ini terlupakan untuk sementara.
.
.
.
.
"Operasi, huh!"
Sasuke mendengus, mengusap pelan lilitan perban baru yang dipasang Tsunade.
Beberapa saat yang lalu, Tsunade menjelaskan tentang kondisinya dan memberinya beberapa alternatif terkait dengan matanya. Wanita itu lebih menyarankan untuk menjalani operasi meskipun proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang agak lama. Artinya, Sasuke tidak akan mampu menggunakan dojutsu-nya untuk sementara waku. Bukan hanya tidak mampu menggunakan sharingan-nya, bahkan ia tidak akan mampu untuk melihat selama proses penyembuhan.
Alternatif lain, melakukan transplantasi mata, tetapi mata biasa yang bukan milik dari keturunan Uchiha.
Pilihan kedua sudah tentu ditolaknya.
Atau pilihan lain, ia tetap dapat melihat dan menggunakan sharingan-nya dengan resiko sakit yang luar biasa, seperti yang dirasakannya belakangan ini hingga Tsunade dapat menemukan cara lain untuk memulihkan matanya tanpa operasi.
Opsi pertama memang terdengar lebih baik, namun Sasuke masih belum bisa memutuskan, ia akan memikirkannya baik-baik terlebih dahulu. Tidak dapat melakukan apa-apa selama berbulan-bulan dan hanya berdiam diri di rumah sama sekali bukan dirinya. Namun, ia juga tidak kuasa menahan sakit yang luar biasa.
Saking tenggelam dalam pikirannya, Sasuke tidak menyadari seorang lelaki telah berdiri dengan sebuah buku oranye di tangannya.
"Bagaimana perasaanmu, Sasuke?" Entah darimana Kakashi datang, namun sepertinya ia sudah berada di ruangan Sasuke cukup lama.
Suara Kakashi membuat Sasuke terbangun dari pikirannya.
"Hn, baik-baik saja."
Kakashi menghela napas, tahu bagaimana sebenarnya keadaan anak-anaknya.
"Aku sudah mendengar dari Tsunade, jadi pikirkanlah yang terbaik. Tidak ada salahnya kau istirahat di rumah untuk sementara, Sasuke." Lelaki itu menyarankan secara tidak langsung.
Sasuke hanya bergumam tidak jelas sebagai tanggapannya.
"Istirahatlah, aku ada urusan." Kakashi bersiap meninggalkan kamar Sasuke.
"Hn."
"Oh … " Kakashi berhenti sejenak, lalu melirik sekilas pada Sasuke, "Sakura ada di kamar 134."
Kakashi tersenyum tipis di balik topengnya, ia tahu informasi kecil ini cukup berharga bagi anak didiknya yang keras kepala itu.
Jika Sakura berada di kamar 134, artinya kamar gadis itu tepat berada di sebelah kamar Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura menguap kecil beberapa kali, mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Gadis itu melirik nakas di samping ranjangnya dan senyum kecil menghiasi bibirnya. Menjulurkan tangan kirinya yang tidak terpasang selang infus, gadis itu membawa sepiring apel yang sudah dikupas dan dipotong-potong ke pangkuannya.
Sudah seminggu belakangan ini, ia selalu menjumpai sepiring apel yang masih segar saat bangun tidur. Dari warnanya, Sakura bisa memastikan apel-apel tersebut dikupas tidak terlalu lama sebelum dirinya bangun karena masih putih bersih.
Kira-kira siapa yang selalu melaukannya? Apa mungkin Tsunade atau Shizune. Dua orang itulah yang paling mungkin berada di rumah sakit sepagi itu dan mengupaskannya apel.
Mungkin nanti ia harus berterima kasih pada salah satu dari mereka, tapi Sakura terus saja lupa untuk mengucapkannya saat Shizune atau Tsunade memeriksanya.
Mungkin karena terlalu tenggelam dalam pikirannya, Sakura tidak menyadari seorang perawat telah memasuki kamarnya.
"Selamat pagi, Sakura-san." Gadis muda yang memiliki nametag bertuliskan Yuki itu sedikit membungkuk hormat pada Sakura.
Sakura menoleh pada pada gadis berambut cokelat sepinggang itu. "Tidak perlu seformal itu, Yuki," ujarnya dengan sedikit cemberut.
Yuki tersenyum, lalu menghampiri senpai-nya dalam bidang medis itu. "Tsunade-sama menyuruhku untuk mengganti perbanmu, dia mungkin agak sedikit terlambat pagi ini," jelasnya. "Ada pasien yang sangat membutuhkannya," sambungnya.
Sakura mengangguk, kemudian meletakkan piring di pangkuannya yang hanya tersisa beberapa potong apel ke atas meja di samping ranjang.
Yuki mulai membuka lilitan-lilitan perban di beberapa bagian tubuh Sakura. Gadis itu terlihat sangat hati-hati agar tidak menyakiti. "Saya rasa, luka-lukamu akan segera pulih."
Sakura mendesah, menatap sebuah goresan memanjang di sekitar perutnya. "Hmm, semoga."
Yuki terus melakukan pekerjaannya, sembari menceritakan tentang gosip-gosip yang sedang panas-panasnya dibicarakan orang.
"Aku tidak tahu kau mulai terkontaminasi Ino, Yuki," ujar Sakura bercanda.
Terkikik, Yuki menggaruk pipinya yang sedikit bersemu merah. Sedikit malu. "A-aku hanya tidak bisa mengabaikannya," tukasnya memberi alasan.
Sakura tertawa dengan alasan Yuki yang menurutnya menggelikan. Ada-ada saja.
"Senang melihatmu tertawa seperti ini, Sakura."
"Eh?" Seketika, Sakura terdiam menatap Yuki dengan pandangan bertanya.
Yuki tersenyum, lalu merapika peralatan. "Rasanya, belakangan ini kau selalu terlihat murung," ungkapnya.
Sakura menunduk, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Nah, aku akan menemui Tsunade untuk menjelaskan keadaanmu setelah ia selesai memeriksa –Uchiha-san." Yuki bersiap untuk keluar, namun Sakura menghentikannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sakura, tangan kanannya menarik ujung baju yang dikenakan Yuki.
Yuki mendesah, kemudian menggeleng. Ia tidak tahu persis bagaimana keadaan pemuda itu. "Aku tidak tahu pasti, tapi yang kudengar kalau Uchiha-san mengalami masalah yang sangat serius dengan matanya." Yuki menjelaskan.
Sakura menunduk, keuda tangannya terlihat lemas di sisinya.
"Jangan khawatir, Tsunade-sama pasti melakukan yang terbaik, Sakura," ujarnya sedikit berusaha memberikan semangat.
Sakura mengangkat kepalanya, melengkungkan sedikit sudut bibirnya. "Iya, shishou akan melakukan yang terbaik."
.
.
.
.
.
Dengan sebuah kruk menyangga lengan kanannya, Sakura berdiri di depan sebuah pintu yang letaknya tepat berada di samping kamarnya. Lima belas menit sudah ia berdiri di sana, namun masih belum berniat untuk melewati pintu di depan matanya.
Sakura ragu, takut akan menerima penolakan dan kata-kata menyakitkan lagi. Ia juga sudah berjanji tidak akan menggangu Sasuke lagi. Namun, ia masih belum terlihat beranjak dari sana. Gadis itu menatap sendu pintu yang tertutup rapat tersebut. Kendati dirinya telah berjanji untuk tidak menemui Sasuke lagi, nmaun ia tidak mampu membendung rasa rindunya hanya untuk melihat pemuda itu. Apalagi dengan keadaan Sasuke sekarang, ia sungguh khawatir.
Dengan tangan sedikit bergetar, Sakura membuka perlahan pintu bertuliskan angka 135 tersebut. Memejamkan matanya sejenak untuk meyakinkan diri, Sakura akhirnya melangkah sangat pelan agar tidak mengganggu pasien yang tengah berbaring disana.
Satu langkah.
Dua langkah.
Sakura kembali ragu.
Ia berhenti, menatap prihatin pada pemuda yang tengah terlelap di atas ranjang. Sakura memperhatikan dada Sasuke yang naik turun secara konstan. Takut untuk melangkah lebih lanjut, ia hanya diam kaku. Tanpa direncanakan, semua hal yang membuat hubungannya dengan Sasuke merenggang berputar kembali dalam benaknya. Kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Sasuke menggema di kepalanya. Namun semua hal itu tidak mampu untuk membuat Sakura membenci pemuda itu.
Tidak pernah, dan tidak akan pernah.
Mungkin, Sasuke memang selalu menjadi penyebab air mata dan luka hatinya. Namun, pemuda itulah juga sumber kebahagiannya.
Sakura sudah tidak kuasa menahan tangisnya, isakannya mulai terdengar. Nampaknya, hatinya masih belum sanggup untuk melihat Sasuke. Tetapi di sisi lain, ia benar-benar ingin melihat pemuda itu. Ia mengkhawatirkan Sasuke lebih dari dirinya sendiri. Tapi, Sakura tidak bisa lebih lama berada disana. Selain karena kondisi tubuhnya yang tidak mampu bertahan terlalu lama untuk berdiri, Sakura juga takut akan mengganggu Sasuke dengan isak tangisnya.
Akhirnya dengan berat hati, Sakura berbalik mundur. Suara kruk menyentuh lantai terdengar cukup jelas di tengah malam yang sunyi. Gadis itu berusaha melangkah sepelan mungkin agar tidak membuat keributan.
Sakura tidak menyadari, sepasang mata hitam mulai terbuka dan menatap punggungnya penuh penyesalan.
Juga kerinduan.
.
.
Sakura menggigit bibirnya, menahan rasa nyeri di kakinya. Memang, ia masih belum diperbolehkan untuk menggunakan kedua kakinya tanpa pengawasan, namun gadis itu memaksakan diri. Lihatlah akibatnya, gadis itu menahan rasa nyeri yang luar biasa sekarang. Sakura tidak menyangka, cedera di kakinya ternyata cukup serius.
Menggigit bibirnya untuk untuk menahan erangan, Sakura berusaha meraih obat pereda nyeri yang terletak di meja samping ranjangnya.
"Ahh!"
Kakinya benar-benar sakit saat digerakkan. Sakura sudah tidak dapat menahan erangan yang meluncur dari mulutnya.
"Minumlah!"
Sejenak, Sakura melupakan sakit yang tengah menyerang kakinya. Ia shock dan tidak percaya dengan siapa yang dilihatnya.
Di depan matanya, Sasuke berdiri dengan segelas air dan dua butir kapsul di tangannya.
"Sasuke … kun."
Ragu-ragu, Sakura mengambil air dan menelan sekaligus kapsul yang diberikan Sasuke.
.
.
.
Sakura menggigit bibirnya, kali ini bukan karena nyeri di kakinya. Namun, kehadiran Sasuke di kamar rawatnya membuatnya bingung, kaget, takut, dan tentunya senang. Sakura tidak tahu harus melakukan apa atau mengatakan sesuatu.
Jadi, ia hanya diam, menunduk sambil meremas selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Bahkan, untuk melirik Sasuke saja, Sakura tidak memiliki keberanian.
Pun juga dengan Sasuke. Pemuda itu hanya diam dengan wajah datar tanpa emosi dan mulut tertutup rapat. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, sorot matanya menampilkan emosi yang tidak biasanya.
"Maafkan aku."
Setelah tiga puluh menit tidak ada yang membuka suara, akhirnya Sasuke memilih untuk memulainya.
Sakura masih terdiam, bukan karena takut namun sangat terkejut.
Gadis itu tidak pernah menyangka akan mendengar kata tersebut keluar dari mulut Sasuke, bahkan terlintas dalam pikirannyapun tak pernah.
Memberanikan diri, Sakura mengangkat kepalanya. Ia melihat ke arah Sasuke yang sekarang tengah menatapnya.
"Maafkan aku … untuk semuanya."
Untuk kedua kalinya, pemuda Uchiha itu mengucapkan permohonan maaf pada gadis yang selalu menangis karenanya.
"Sasuke … kun." Air mata meluncur deras menuruni pipi mulus Sakura. Senyum nyata tersungging di bibir pucatnya. Menggunakan lengan kirinya, Sakura mengusap air mata sembarangan. Namun, cairan bening itu terus meluncur tanpa bisa dicegahnya. Jadi, Sakura hanya membiarkannya.
Sementara Sasuke, pemuda itu hanya diam namun sorot matanya tampak lega. Bahkan, posisi duduknya terlihat lebih santai.
Sasuke mungkin sering menyebabkan rasa sakit bagi Sakura, tapi pemuda itu jugalah obatnya.
.
.
.
.
Semenjak pembicaraan mereka seminggu yang lalu, hubungan Sasuke dan Sakura berangsur-angsur membaik. Bahkan, Sasuke sudah beberapa kali berkunjung ke kamar gadis itu, tentunya saat Sakura masih terjaga dengan alasan bosan hanya berdiam diri di ruang rawatnya.
Seperti sore ini, Sasuke tengah duduk di samping ranjang Sakura dengan sebuah buku di tangannya.
"Bagaimana matamu, Sasuke-kun?"
Sasuke mengalihkan tatapannya dari buku yang tengah dipegangnya. "Baik-baik saja," jawabnya, lalu kembali membaca.
Sakura mendesah, tahu jika Sasuke hanya berbohong.
"Aku sudah mendengarnya dari Tsunade-sama," gumam Sakura membuat perhatian Sasuke ditujukan padanya. "Jadi, bagaimana?" Sakura bertanya, menatap Sasuke dengan mata besarnya yang penuh kekhawatiran.
Sasuke menutup bukunya, memijat pelan pelipisnya karena matanya terasa sedikit nyeri.
"Aku belum tahu," desah Sasuke.
Sakura menggigit bibir bawahnya, yang akhir-akhir seolah menjadi kebiasaannya. "T-tapi Sasuke-kun, jika tidak segera ditangani matamu akan lebih parah."
"Aku tahu, " sahut Sasuke.
"Lalu kenapa?" Sakura benar-benar khawatir.
Sasuke menatap Sakura, mulai dari wajah hingga kaki berbalut perban gadis itu.
"Aku menunggumu," ujar Sasuke. Matanya masi terpaku pada kaki Sakura.
Kedua alis Sakura bertaut, tidak mengerti maksud pemuda itu.
Seakan mengetahui isi kepala Sakura, Sasuke menghembuskan napas pendek (sedikit jengkel). "Setelah operasi, aku ingin dirawat oleh orang yang bisa kupercaya," jelasnya sambil menatap Sakura. "Jadi, cepatlah sembuh!" imbuhnya dengan nada memerintah.
Sakura tidak bisa menyembunyikn rona kemerahan yang menyebar di pipinya. "A-aku akan berusaha, Sasuke-kun."
"Hn." Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah jendela, ia tidak menyangka kata-kata itu meluncur begitu mudah dari mulutnya. Ujung telinganya bahkan sedikit memerah, entah malu karena ucapannya atau karena Sakura yang tengah tersenyum manis padanya.
Apapun, yang pasti Sasuke tidak kehilangan tempatnya pulang dan ia akan melakukan apa saja untuk menjaga "rumahnya".
Karena rumah adalah tempat dimana orang-orang memikirkanmu ... dan mencintaimu.
.
.
End
.
.
Ahhhh, ternyata sudah setaon nelantarin penpik ini..bunuh saya dengan pesona ultimate embah Madaaa!
Sumpahh, ide awalnya lupa, padahal pengen bikin yang agak nge-hurt, tapi enggak inget gimana plotnya dulu hahahha
Maaf kalo typo's sangat mengganggu dan buat endingnya yang kurang greget. Bingung bikin endingnya yang kek gimana T_T
Terimakasih juga untuk yang udah ripiu, maaf engga bisa bales satusatu…untuk yg nge-PM juga, terimaksihhh
Happy belated birthday untuk my beloved queen, Sakura Haruno yang sekarang udah jadi Uchiha Sakura. Tahun ini udah jadi mama yaaa…
Mohon riview dan konkritnya jika berkenan XDDD
