Sweet Scandal
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Happy Reading
.
.
.
[Chapter 2: Trapped]
Ino menghela napas berat. Kepalanya pening karena ulah Sasuke. Ia meraih cangkir kopinya lalu meneguk cairan keruh di dalamnya. Baru saja hendak beranjak pergi dari meja kerjanya, seseorang memanggil namanya.
"Hey Ino!"
Yang dipanggil menoleh ke sumber suara. Didapatinya gadis berambut merah berjalan ke arahnya.
"Kau kenapa? Ada sesuatu yang terjadi padamu?" Gadis yang diketahui bernama Uzumaki Karin itu menelengkan kepalanya, menatap rekan pirangnya dengan tatapan khawatir.
"Ngg—ya.." Ino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ayolah katakan saja padaku." Karin tersenyum.
"Ini hanya masalah kecil kok, tentang jadwal wawancara dengan Sasuke yang begitu mendadak."
Karin ber-O-ria, kemudian mengalihkan pandangannya pada arloji yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.
"Ah! Sudah waktunya makan siang. Kau bisa ikut makan siang denganku jika kau mau. Atau mungkin kau tidak bisa?"
Ino berpikir sejenak sebelum mengiyakan ajakan Karin. "Aku rasa jika kita makan dengan cepat dan segera kembali kesini tidak masalah."
"Baguslah! Ayo kita makan siang!"
Selama di cafeteria, gadis bermarga Yamanaka itu tidak dapat berkonsentrasi selama berbicara dengan Karin di cafeteria. Pikirannya seakan entah berada di mana. Menyadari hal tersebut, Karin menepuk pelan pundak Ino.
"Nee, jadi bagaimana sih sebenarnya si Uchiha Sasuke itu?"
Ino tersentak dengan pertanyaan Karin. "Kenapa kau bertanya tetang si Uchiha itu?"
"Habisnya dari tadi kau terus melamun. Aku kira kau sedang memikirkannya karena jatuh cinta padanya atau semacamnya." Ujar Karin sembari menyesap milk tea favoritnya. "Lagipula Sasuke itu tampan. Tidak ada salahnya sih kalau kau tertarik padanya."
"Aku tidak memikirkan Sasuke! Aku memikirkan pekerjaan kok! Aku harus hati-hati mewawancarai boat racer itu. Jadi aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. " Ino merengut.
"Baiklah. Tapi jangan menipuku ya! Selama ini kau hanya berbicara mengenai pekerjaan. Aku khawatir padamu. Tapi kalau kau benar tertarik dengan pria, ya aku sangat bersyukur karena itu artinya kau normal."
"Karin!" Ino hampir saja tersedak orange juicenya.
Karin tertawa, "habisnya aku tidak pernah mendengar kau membicarakan tentang pria manapun. Aku jadi takut kalau-kalau kau ternyata tertarik dengan perempuan."
Ino menghela napasnya. Rekannya yang satu ini memang benar-benar membuatnya gila. Tapi dia tidak sepenuhnya menyalahkan perkataan Karin. Ia sendiri merasa bahwa Sasuke memang menarik tapi ia segera menggelengkan kepalanya. Jatuh cinta dengan Uchiha Sasuke? Yang benar saja!
Setelah makan siang dengan cepat, Ino segera berjalan menuju meja kerjanya. Ia mendapat FAX dari Sasuke berisikan peta menuju bengkelnya yang disertai sebuah pesan singkat.
Aku baru ingat untuk mengirimkan peta ini padamu. Aku akan berada di bengkelku besok. Kau tidak usah datang hari ini. Aku ingin kau datang ke bengkel pukul 8 pagi. –Sasuke
Ino terbengong sejenak membaca pesan singkat yang disertakan di peta tersebut. Pantas saja aku tidak langsung menerima peta ini. Ternyata dia lupa mengirimkannya dan dia ingin aku berada di bengkelnya sepagi itu? Kamisama!
Gadis itu mendadak khawatir dengan pekerjaannya kali ini. Saat itu juga ia berdoa dan berharap tidak akan terjadi masalah apapun besok.
.
.
.
Esok harinya, Ino berangkat menuju bengkel Sasuke menggunakan kereta pertama—kereta terpagi yang beroperasi dan bergegas pergi menuju tempat yang dimaksud setibanya ia di stasiun yang tertuliskan di peta yang tidak jauh dari bengkel Sasuke. Ia tengah berada di sebuah pedesaan yang asri. Sepanjang perjalanan, Ino memerhatikan pegunungan dan pepohonan yang berjejer rapih. Sungguh ia tidak menyangka akan menemukan tempat seperti itu lagi. Ia kembali memandangi peta yang berada di tangannya, seraya berjalan menuju bengkel.
Lama berjalan, ia tidak kujung menemukan tempat yang dimaksud. Ia sedikit resah karena merasa tersesat. Ino kembali membuka petanya, dan menyadari bahwa ia telah berjalan begitu jauh hingga masuk ke hutan di kaki gunung. Ia panik. Ia mencoba berjalan lagi, berharap menemukan seseorang yang dapat menunjukkannya jalan tapi nihil, tidak ada seorangpun di sana. Sungguh saat itu juga ia benar-benar panik dan hampir menangis. Semakin jauh ia berjalan, ia semakin masuk ke dalam hutan dan jalan yang dilaluinya semakin gelap. Ia pun berjalan berbalik arah, membaca petanya lagi dan berusaha membaca petanya dengan benar untuk ke stasiun dan memulai lagi mengikuti peta dari sana.
Sayangnya, meskipun ia sudah berbalik arah dan merasa sudah mengikuti peta untuk kembali lagi ke stasiun, ia malah semakin tersesat lebih dalam lagi ke hutan. Ia benar-benar merasa kehilangan kemampuanya untuk mengikuti petunjuk pada peta. Terlebih lagi langit terlihat mendung dan tidak ada petunjuk arah di dalam hutan benar-benar membuatnya terjebak di sana.
Resah, awalnya Ino memutuskan untuk menelpon Sasuke untuk menanyakan arah sembari megistirahatkan dirinya yang mulai lelah dan memeriksa kakinya yang mulai sakit tetapi niat itu diurungkannya dan berencana untuk menelponnya nanti. Ia kembali memutuskan untuk kembali berjalan, berusaha keluar dari hutan. Untungnya, ia menemukan sebuah bangku dengan papan tanda bergambar bus. Ia segera mengeluarkan smartphonenya dan menelpon Sasuke.
"Halo…" Ujar suara di ujung sana.
Ino merasa sangat lega setelah teleponnya diangkat, "ini dengan saya, Yamanaka. Maaf Uchiha-san, saya tersesat. Sekarang saya berdiri di tempat pemberhentian bus dengan tulisan 'Okura'—"
Belum sempat Ino menyelesaikan perkataannya, Sasuke lebih dulu berbicara.
"Apa yang kau lakukan? Kau itu benar-benar reporter atau bukan?"
"Saya minta maaf Uchiha-san…" Ino benar-benar merasa bersalah.
"Jika kau tidak mau mewawancaraiku, pulang saja! Aku tidak peduli denganmu!"
"S-saya benar-benar ingin mewawancarai anda, Uchiha-san. Saya benar-benar minta maaf!"
Terdengar helaan napas Sasuke di ujung telepon. Sat itu juga Ino merasa begitu bodoh.
"Tunggu di sana. Aku akan menjemputmu."
"Apa? Uchiha-san tung—"
Sasuke memutus sambungan sebelum Ino menyelesaikan perkataannya.
Ino mendudukkan dirinya di bangku. Ia merasa senang sekaligus bersalah. Ia senang akhirnya Sasuke bersedia diwawancarai tapi juga ia merasa bersalah karena merepotkan Sasuke yang kini dalam perjalanan menjemputnya.
20 menit kemudian.
"Hey!"
"Uchiha-san! Saya minta ma—oh!"
Ino terkejut ketika berbalik menghadap Sasuke. Perkataannya terhenti saat memerhatikan Sasuke. Pemuda itu terlihat maskulin dengan setelan jersey dan rambut terikat, nampak sangat berbeda dengan sebelumnya mereka bertemu terlebih saat memerhatikan rambut Sasuke yang semula bergaya pantat ayam melawan gravitasi kini terikat rapih. Sasuke nampak tidak senang dengan keterkejutan Ino ketika melihat penampilannya yang berbeda.
"Apa yang kau lihat?" Ujarnya dingin.
"A-ah! Tidak, hanya saja anda terlihat berbeda dibandingkan kemarin. Hari ini—"
Lagi-lagi perkataan Ino dipotong oleh Sasuke.
"Kau pikir aku bodoh memakai pakaian bagus saat memperbaiki mesin? Yang benar saja!"
"Bolekah saya mengambil foto?"
"Tidak." Jawab Sasuke ketus.
Bagi Ino, meskipun Sasuke tidak mengijinkannya mengambil foto, Sasuke tetap menarik.
"Ayo pergi dari sini! Reporter tukang nyasar!"
"Ap—baiklah…" Ino mendengus mendengar ucapan Sasuke yang mengatainya tukang nyasar. "Saya benar-benar minta maaf! Saya jarang tersesat, saya tidak selalu seperti ini!"
"Ya-ya." Ujar Sasuke sembari tertawa kecil seraya berjalan namun akhirnya tiba-tiba berhenti. Sasuke berbalik, bertemu pandang dengan Ino kemudian meraih pergelangan tangan gadis itu. "Ayo."
Ino terkaget dengan apa yang Sasuke lakukan padanya tapi ia menurut saja. Ia merasa tangan Sasuke begitu hangat, membuat jantungnya berdebar kencang dan sulit menenangkan diri. Mereka terus berjalan hingga Sasuke perlahan melepaskan gengamannya. Untuk beberapa alasan, Ino merasa sedikit sedih. Sasuke berjalan di depan Ino dengan langkah cepat hingga Ino tertinggal cukup jauh dan berlari kecil untuk menyamai langkahnya dengan Sasuke.
"Omong-omong…" Sasuke memulai percakapan saat Ino sudah berjalan di sampingnya.
"Ya? Ada apa?"
"Kau tadi berjalan sangat jauh karena kau berjalan menuju arah sebaliknya dari bengkel."
Ino terbelalak, "apa?! Benarkah? Saya benar-benar minta maaf sudah merepotkan anda."
"Aku tidak peduli dengan itu tapi seingatku orang-orang sekitar sini tidak pernah ada yang berjalan sampai sejauh itu. Aku heran, mengapa kau bisa kehilangan arah?"
"Oh.." Terlalu lama memikirkan jawaban, Ino kembali tertinggal di belakang Sasuke dan Ino lagi-lagi menyusul Sasuke. Baru saja Ino berlari kecil untuk menepuk pundak Sasuke dan berkata padanya agar tidak berjalan terlalu cepat, pemuda Uchiha itu malah mendadak langkahnya.
"Aku rasa akan lebih cepat sampai kalau kita naik taksi."
"Ap—" Ino yang berlari hampir dekat dengan Sasuke tersandung karena tidak melihat ada batu cukup besar di depannya. Sasuke yang melihat Ino hampir tumbang segera menangkapnya. Seketika itu juga, Ino merasa wajahnya begitu panas. Sadar bahwa ia tengah berada dalam dekapan Sasuke, ia segera melepaskan diri.
"S-saya minta maaf…" Ino langsung menunduk setelah berhasil melepaskan diri dari Sasuke.
Melihat tingkah Ino, Sasuke tertawa. "Kau konyol sekali! Hahaha!"
Ino tertegun memerhatikan Sasuke yang menertawakannya. Ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Tawa dan senyum Sasuke yang dilihatnya kali ini sama seperti yang dia lihat saat Sasuke memenangkan pertandingan.
Kalau saja aku bisa mengambil fotonya saat tersenyum seperti itu… meskipun ia menertawakanku, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Pikir Ino.
Mereka memutuskan untuk tidak naik taksi dan terus berjalan hingga sampai pada sebuah bangunan yang nampak seperti sebuah cottage, tidak sebagus bangunan di kota seperti biasa dilihat Ino.
"Kita sampai." Ucap Sasuke sambil berjalan melewati pagar bangunan tersebut dan membuka pintu masuk yang terkunci.
"Err—ini bengkel…anda?" Ino mendapat anggukan sebagai jawaban.
"Masuklah."
Ino mengekor Sasuke. Seletah masuk Ia terbengong, masih tidak mengerti kenapa ia berada di tempat itu. Selagi Sasuke bersiap untuk melanjutkan pekerjaannya, gadis itu memberi pertanyaan pada Sasuke.
"Apa yang anda lakukan di sini?"
"Aku menyuruhmu kemari karena menjelaskannya padamu hanya akan membuang waktuku." Sasuke tidak menoleh pada Ino dan tetap melanjutkan pekerjaannya. "Duduk saja dimanapun, diam dan lihat."
"B-baiklah."
Ino duduk pada sebuah kursi kayu yang terletak tidak jauh dari Sasuke yang memperbaiki mesinnya. Ia memerhatikan Sasuke dengan saksama. Meski begitu ia tetap tidak terlalu tahu mengenai boat racing sehingga ia tidak tahu apa yang sebenarnya Sasuke lakukan.
Apa yang harus aku lakukan? Aku harusnya bertanya beberapa pertanyaan padanya tapi—
Ino urung bertanya ketika melihat ekspresi Sasuke yang serius, memfokuskan dirinya pada mesin-mesin itu. Ini pertamakalinya Ino sulit bertanya pada narasumbernya. Ia mencoba menunggu waktu yang tepat untuk bertanya agar Sasuke tidak merasa diganggu. Setelah agak lama menunggu, ia merasa mendapat kesempatan bertanya ketika Sasuke berhenti sejenak dari pekerjaannya.
"Uchiha-san?"
"Apa?" Sasuke membalas pertanyaan Ino dengan nada yang ketus. Saat itu juga rasanya Ino ingin gantung diri karena narasumbernya sangat dingin padanya tapi ia bersikeras mencoba.
"Maaf saya mengganggu pekerjaan anda, tapi bolekah saya bertanya beberapa pertanyaan?"
"Hn."
Ino menghela napas mendapat jawaban demikian. Ia segera mempersiapkan note dan alat tulisnya berikut perekam suara. Ino seketika teringat akan syarat yang diberikan Sasuke untuk tidak menghalanginya, karena itu Ino mencoba berhati-hati ketika bertanya pada Sasuke.
"Apa yang biasa anda lakukan di sini?" Ino mulai bertanya.
"Mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk pertandingan." Jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangan dari mesin di hadapannya. "Kebanyakan boat racer menggunakan tempat seperti ini."
Ino mencatat apa saja yang baru didengarnya.
"Saya mengerti. Apakah anda bekerja sendiri di sini?" Tanya Ino lagi.
"Ada beberapa orang lagi yang membantuku tapi mereka sedang pergi."
Ino mengangguk sembari mencatat lagi jawaban Sasuke. "Apakah ini tempat anda menyimpan boat yang akan anda pakai untuk pertandingan?"
"Tidak. Tempat ini diperuntukkan memperbaiki mesin dan membuat properti."
"Properti apa?"
"Tebak saja sendiri." Jawab Sasuke asal. Tidak tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Ino.
Ino berpikir sesaat, mengingat apa yang sudah dibacanya kemarin di ruang referensi. "Mungkin… baling-baling?"
"Hn." Ino mengangguk, menganggap 'ya' jawaban Sasuke.
"Baling-baling yang dibuat di sini dipasangkan ke speedboat yang digunakan untuk pertandingan?"
"Kau pikir kami membuatnya untuk dipasangkan ke kepala untuk terbang?"
"Te-tentu saja tidak!" Ino tersenyum kecut.
"Tapi jika kau mau mencobanya, aku akan memasangkannya di kepalamu."
Ino tertawa dipaksakan. Ia segera menolak dengan sopan tawaran Sasuke.
"Jadi apa yang sedang anda perbaiki di sini? Apakah anda sedang memperbaiki baling-baling?" Ino melirik mesin yang menyerupai sebuah tangki dengan baling-baling di belakangnya.
"Ini tangki bensin," jawab Sasuke singkat.
"Bisa tolong jelaskan apa hubungan tangki bensin dengan baling-baling?"
"Tangki bensin ini merupakan patokan untuk pembuatan baling-baling."
Ino mengangguk mengerti kemudian menuliskan semua yang dikatakan Sasuke pada notenya. Setelah menuliskan semua yang sudah didengarnya, In kembali bertanya beberapa pertanyaan pada Sasuke yang menyadarkannya bahwa boat racing itu merupakan subjek yang cukup sulit untuk dimengertinya namun juga cukup membuatnya tertarik setelah Sasuke menjelaskan secara singkat dasar-dasar mengenai boat racing. Ino membalik halaman note nya, berniat untuk bertanya tentang Sasuke secara personal setelah dirasa cukup mendapatkan info mengenai boat racing.
"Sekarang saya ingin bertanya mengenai kehidupan pribadi anda." Ujar Ino ragu.
"Bisakah kau lakukan itu nanti? Aku sibuk."
Gadis Yamanaka itu menautkan kedua alisnya, "tapi bukankah anda tidak keberatan jika saya bertanya selama tadi anda bekerja? Saya akan mulai dengan topik yang tidak akan mengganggu pekerjaan anda."
"Terserah kau."
Ino kini sudah cukup terbiasa dengan jawaban seenak jidat dan cuek dari Sasuke.
"Apa yang anda lakukan jika sedang senggang?"
"Berlatih." Sasuke lagi-lagi menjawab singkat pertanyaan Ino.
"Selain itu?"
"Aku berlatih seharian."
Ino mengangguk. Ia berpikir tetang pertanyaan selanjutnya yang sekiranya dapat menghancurkan dinding yang Sasuke buat di antara mereka.
Sasuke medadak menghentikan pekerjaannya, "ada hal lain yang biasa aku lakukan."
Mendengar hal tersebut, Ino langsung bersiap menulis lagi di notenya.
"Ah! Apa itu?" Ino penasaran.
"Makan, mandi, dan tidur. Oh, menonton liputan dan pertandingan boat race untuk diteliti lebih lanjut."
Ino terdiam.
"Ayo tulislah. Bukankah ini sebuah wawancara?"
"S-saya sudah menulisnya." Ino menatap note di pangkuannya. "Baiklah, bolekah saya bertanya mengenai hobi dan kemampuan anda yang lain?"
"Hobiku berlatih dan menonton boat racing, kemampuanku memperbaiki mesin speedboat dan mengendalikan speedboat."
Ino kembali terdiam.
"Bisakah anda memberi jawaban selain yang tadi anda ucapkan? Maksud saya seperti membaca, menonton film atau bermain game?" Ino menelan ludah, "yah hal lain yang membuat anda tertarik selain boat racing?"
"Aku melakukan hal seperti itu kadang-kadang."
Gadis pirang itu menghela napas pelan, "biar saya tebak. Anda pasti melakukan itu jika ada hubungannya dengan boat racing kan?"
"Tepat." Jawab Sasuke datar.
Ino menggelengkan kepala. Ia merasa harus memberi Sasuke pujian sebagai orang yang cinta sekali dengan boat racing tapi mendengar semua jawaban Sasuke selama bertanya mengenai kehidupan pribadinya, Ino merasa itu bukanlah seperti wawancara yang biasa dilakukannya. Ino sebisa mungkin memutar otaknya untuk menyusun kata-kata yang akan dimuat di artikelnya mengenai betapa hebatnya Sasuke.
Ino kemudian melayangkan beberapa pertanyaan lagi pada Sasuke yang kembali dijawab dengan jawaban yang singkat dan tidak berhenti dari kegiatan memperbaiki mesinnya.
"Jadi—" Ino menarik napas sebentar sebelum kembali bertanya, "—apa yang anda lakukan jika sedang tidak bertanding atau berlatih? Apa anda menghabiskan waktu di sini?"
"Hn." Sasuke menjawab sembari mengecek tangki bensin menggunakan satu mata tertutup.
Ino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mencoba bertanya dengan hati-hati, takut mengganggu konsentrasi Sasuke yang sedang bekerja dan memutuskan untuk keluar sebentar agar tidak menggangu. Ketika Ino berdiri dan berjalan menuju pintu, Sasuke malah memanggilnya.
"Hey."
Ino menoleh, "ya?"
"Ambilkan aku tang pada rak di sana." Sasuke menunjuk rak yang dimaksud.
Ino mengangguk dan mencoba meraih rak yang tinggi hingga cukup sulit untuk dijangkaunya. Ia berjinjit tapi masih tidak sampai dan memutuskan mencari barang untuk dinaikinya agar dapat menjangkau rak itu. Baru saja akan berbalik, ia merasa tubuhnya terangkat. Ino terkejut, dilihatnya Sasuke tengah memegang pinggangnya dan dengan mudah mengangkatnya.
"Ap—apa yang anda lakukan?!"
"Kalau kau tidak bisa menjangkaunya, seharusnya kau bilang padaku."
"Tapi anda sedang bekerja—dan mengapa anda melakukan ini?" Tanya Ino panik dan sedikit meronta.
"Karena kau bersusah payah menjangkau rak itu. Cepatlah ambil tangnya! Dan berhenti meronta! Kalau tidak, aku akan menjatuhkanmu!" Ancam Sasuke.
Ino segera mengambil barang yang dimaksud Sasuke, dan ia merasa kakinya kembali menapaki tanah. Sasuke segera mengambil barang yang diperlukannya dari tangan Ino.
"Terimakasih." Ucap Sasuke singkat dan kembali bekerja.
Yang tadi dilakukan Sasuke padanya membuatnya urung beranjak keluar ruangan. Ino kembali duduk di tempatnya semula sembari menunggu Sasuke menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa waktu berlalu dan Sasuke menghentikan pekerjaannya.
"Aku mau mandi." Ujar Sasuke sembari melongos pergi.
Ino geram melihat tingkah Sasuke yang seakan memanipulasinya. Baru saja pemuda Uchiha itu meninggalkannya untuk mandi, ia mendengar suara ketukkan dari luar ruangan. Akhirnya Ino beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Di balik pintu terdapat seorang pemuda yang memakai setelan jersey seperti Sasuke.
"Hah? Mana Sasuke?" Pemuda itu terkejut saat Ino muncul di balik pintu.
"Dia sedang mandi." Jawab Ino.
Pemuda berambut pirang dengan kumis kucing di wajahnya itu menautkan kedua alisnya.
"Bisakah kau pangggilkan dia untukku?" Pinta pemuda pirang itu.
"Apa?!"
"Aku baru saja membeli barang yang ia butuhkan. Bisa tolong kau katakan padanya ada beberapa hal penting yang harus aku diskusikan dengannya? Ada hal lain yang harus kulakukan dan aku harus segera pergi."
Ino terdiam beberapa saat.
"Tolong cepat panggilkan dia sekarang!"
"B-baiklah!" Ino bergegas masuk ke dalam dan mencari Sasuke.
Sebenarnya ia malu untuk berbicara dengan laki-laki yang sedang mandi, tapi sesuai dengan apa yang dipinta oleh pemuda tadi ia mencari kamar mandi untuk menemui Sasuke. Ino kemudian menemukan sebuah ruangan yang nampak seperti kamar mandi. Ia dapat mendengar suara shower dari dalam ruangan. Disaat yang bersamaan ia merasa jantungnya berdetak kencang.
"Ini memalukan sekali…" Ino berbicara pada dirinya sendiri.
Ino membayangkan Sasuke yang sedang berada dibalik pintu dan wajahnya merona seketika.
"Permisi, Uchiha-san!"
Tidak ada jawaban.
"Sepertinya dia tidak mendengarku. Kalau begitu aku akan berbicara lebih keras lagi." Ino menghela napas berat.
"Uchiha-san! Ada orang yang mencari anda, dan dia bilang, dia membelikan barang yang anda butuhkan."
Masih tidak ada jawaban. Padahal Ino merasa sudah meanggil Sasuke cukup lantang. Ino kemudian mengetuk pintu di depannya dan memanggil nama Sasuke.
"Uchiha-san! Uchi—"
Baru saja ia akan berteriak lagi, pintu terbuka dari dalam dan Sasuke muncul dibalik pintu.
"Apa? Aku tidak mende—"
Ino mendadak kehilangan keseimbangan dan mulai terjatuh.
"Aaaa—"
"Hey awas!"
Ino terjatuh. Namun ketika terjatuh, ia merasa tidak menyentuh lantai melainkan pada suatu benda empuk di bawahnya.
T-tunggu! Empuk?! Mata Ino yang semula tertutup, perlahan terbuka. Didapatinya Sasuke berada di bawahnya dan tengah memeluknya. Ino dapat merasakkan jantung Sasuke yang berdetak kencang. Suhu tubuh Ino mendadak naik.
"Um—" Ino perlahan mengalihkan pandangannya dari dada telanjang Sasuke ke wajahnya. Sasuke pun melihat ke arahnya. Tubuh mereka begitu dekat. Tubuh Sasuke masih basah karena habis mandi. Aroma pinewoods menguar dari tubuh Sasuke. Tanpa sadar, tangan Ino meraih dada bidang Sasuke dan memandanginya cukup lama. Sasuke sadar dadanya sedang diperhatikan tetapi ia tetap diam. Malu, Ino langsung bergerak menjauh dari Sasuke.
Apa yang sebenarnya kulakukan?! Saat itu juga Ino merasa wajahnya begitu panas.
TBC
From Author: Maaf kalau Ino atau Sasuke atau karakter lainnya mendadak out of character. Semoga suka. Don't Like Don't Read!
.
.
.
Thanks to:
Ayam Rusa: Thanks reviewnya! Kali-kali bikin makhluk Uchiha jadi atlit gapapa kali ya :')
Hime Yamanaka, INOcent Cassiopeia & YamanakaSwift13: Thanks kalian! :)
Ulin Nuha & Call Me Baby Lotion: Aw.. Thanks! perahu di ch sebelumnya itu sebenarnya speedboat bukan canoe ataupun perahu lainnya, ch 1 sudah di update kok smoga tidak gagal paham lagi ya. Maaf sebelumnya bikin gagal paham :')
Dan semua yang sudah nge-alert thanks yaa! :)
