Sai menenangkan hatinya di bawah pohon yang sangat rindang. Dia terus mengingat saat Shisui hampir memukulnya siang itu. Dulu, kedua kakaknya selalu mengistimewakannya. Tak pernah ada kata kasar yang keluar dari mulut sang kakak untuknya, bahkan untuk memukul pun mereka tak pernah. Tapi sekarang, kata-kata itu keluar dengan sendirinya.

"Suatu hal yang langka bisa melihatmu disini Sai," sapa suara asing yang seketika mengalihkan tatapan membunuh Sai padanya. Siapapun pasti tahu Sai paling benci diganggu ketika suasana hatinya sedang buruk.

"Kau..."

Orang itu tersenyum menyebalkan kemudian berjongkok tepat dihadapan Sai yang sedang duduk. "Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?"

Sai mendelik garang. "Tidak perlu berbasa-basi!" bentaknya, "Katakan apa maumu datang kesini menemuiku Menma?"

Lelaki bernama Menma itu tak lama tergelak. Ia mencolek dagu Sai yang langsung di tepis begitu saja oleh si empunya. "Kau tetap saja galak seperti biasanya. Padahal aku masih setia menunggumu loh~ Bahkan setelah kau putus dari Naruto."

Sai mendecih. Berbicara dengan Menma sama saja menambah kekesalan di hatinya. Ia berniat untuk pergi. Beranjak dari posisi duduknya lalu melangkah meninggalkan Menma yang tiba-tiba saja langsung berdiri dan mencekal pergelangan tangannya.

"Aku bahkan belum mengatakan apapun," Menma memasang raut memelas yang ditanggapi decihan muak oleh Sai. Tapi pemuda eboni itu tidak berusaha menepis ataupun mendorong Menma yang masih bertingkah menyebalkan di depannya. "Katakan, apa yang harus kulakukan untukmu?"

Sai tidak menjawab dan hanya mengerutkan dahinya pertanda bingung. Senyum simpul di bibir Menma kian terkembang bebas.

"Bukankah sudah pernah kukatakan, aku akan melakukan apapun untukmu. Apapun Sai. A-pa-pun."

Sai menaikan sebelah alisnya dan benar-benar mendorong Menma menjauh. "Apapun heh?" Dia tersenyum sinis. "Jika kau bisa menyingkirkan anak haram itu dari hidupku, itu akan jauh lebih baik."

"Lalu kau mau menerimaku begitu?"

"Mungkin aku bisa mempertimbangkannya jika kau berhasil," ucap Sai sekenanya. Meskipun ia tidak begitu sungguh-sungguh mengatakannya karena ia pikir Menma hanya sekedar bercanda. Tapi jika memang benar dilakukan itu justru lebih baik.

Sai berlalu dari hadapan Menma yang saat ini mengukir senyuman penuh ambisi. Rupanya pemuda keturunan Uzumaki itu benar-benar serius menanggapi ucapan spontan dari Sai.

"Sasuke ya? Aku tahu anak itu mengganggumu kan Sai? Maaa, ini akan mudah untuk dilakukan. Kau tunggu saja Sai, kali ini aku pasti bisa lebih unggul dari pada Naruto."

.

Itachi dan Kisame memasuki sebuah ruangan yang memang disiapkan untuk mereka. Itachi masih berusaha untuk tenang. Dia siap apapun yang akan dia dengar nanti dari Kisame.

Setelah keduanya duduk, Kisame segera memberikan koran terbaru hari ini pada Itachi. Di koran itu terpampang wajah Uchiha Madara dan Rikudou Yahiko yang sedang berjabat tangan. Kolom berita di bawah foto itu menyebutkan soal rencana kerja sama antar bisnis mereka. Seketika mata Itachi terbuka lebar melihatnya. Ia tak pernah menyangka bisa melihat wajah Yahiko lagi setelah sekian lama mereka berpisah.

"Dia benar-benar Yahiko, dan sekarang dia telah bekerja sama dengan perusaan Madara-san," ucap Kisame lirih.

Itachi masih terdiam, terpaku melihat gambar di koran itu. Tangannya mendadak terasa dingin.

"Tidak hanya itu," Kisame melanjutkan, "Perusahaan kita baru saja mendapatkan surat permohonan dari Akatsuki inc. dia juga ingin bekerja sama dengan kita. Tapi... apa kita akan menerima tawaran itu?" tanya nya agak ragu.

"Tolong atur segera pertemuanku dengan dia," pinta Itachi tegas.

"Kau mau menerima tawaran itu?" tanya Kisame kaget. Matanya membulat memandang kesungguhan di mata Itachi.

"Tidak ada alasan untuk kita menolak. Semua perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, selalu kita terima bukan? Begitupun dengan dia," sahut Itachi, mata onyx yang bergetar itu menatap Kisame dengan pandangan memohon. Meskipun hatinya sedang mengalami pergolakan, tetapi putra sulung Uchiha tetap berusaha untuk tenang.

Kisame menghela nafas mendengar keputusan Itachi. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, jika Itachi sudah memberikan keputusan.

"Baik, aku akan mengaturnya. Kemungkinan besok kita akan bertemu dengan dia."

Itachi meletakkan koran itu di atas meja. Dia meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa. Jantungnya seakan berdetak kencang. Saat berada di luar, Itachi segera menyandarkan tubuhnya di tepian dinding. Dia menggenggam tangannya yang terasa dingin.

Tanpa di sadari oleh Itachi, dari kejauhan Kurama memperhatikannya. Wajahnya terlihat sendu, melihat Itachi yang begitu terpuruk karena mendapatkan banyak kenyataan pahit. Ingin sekali Kurama mendekatinya, tapi dia sadar untuk sekarang ini biarlah Itachi menenangkan dirinya sendiri. Setelah itu akan dia pikirkan bagaimana caranya nanti menghibur pemuda bermata onyx kelam itu.

Di dalam, Kisame melirik Koran yang ada diatas meja. Dia mengambil koran itu, dan matanya terpaku pada gambar seorang Yahiko.

"Aku mohon... Jangan pernah menghancurkan Itachi, Yahiko..." bisik Kisame lirih.

.

Brugh! Ketika hendak menaiki tangga, Sasuke tiba-tiba menubruk bahu seseorang dan terjatuh. Ia tidak sempat melihat-lihat jalan karena ia ingin cepat sampai di kamarnya lalu menenggelamkan diri di depan setumpuk buku seperti rutinitas hariannya di rumah ini. Suara rintihan pelan dari mulut pemuda itu mengukirkan senyum sinis di bibir pemuda lain.

"Kalau jalan itu hati-hati. Kau taruh dimana sih matamu itu?!" bentak pemuda bersurai eboni yang ternyata adalah Sai.

Sasuke tersentak dari jatuhnya, buru-buru ia berdiri meski harus menahan rasa ngilu di sekitar pinggang juga bahunya. "Ma-Maaf kak…, aku tidak sengaja."

"Maaf? Apa hanya itu yang bisa kau katakan?"

Sasuke tak berani menatap Sai yang sedang marah. Wajah pemuda itu terlalu menakutkan, dan lagi ia sadar posisinya di rumah ini sebagai apa. Alhasil Sasuke hanya menunduk sembari meremas buku-buku jarinya yang terasa dingin.

"Dengar ya anak haram," desis Sai dengan suara yang berbahaya. Tak peduli bahwa perkataannya barusan telah melukai hati Sasuke. "Kau bukan siapa-siapa disini. Semuanya hanya sementara untukmu. Kau mungkin bisa mengambil perhatian kak Itachi dan kak Shisui, tapi kau tidak akan bisa mendapat perhatian dariku!" tuding Sai geram.

Sasuke menggeleng tak setuju. Betapa jahatnya mulut kakak ketiganya ini hingga menuduh dirinya macam-macam. "A-Aku tidak pernah bermaksud seperti itu," sanggah Sasuke gugup. "Ta-Tapi kak Itachi bilang—"

"SHUT UP!" Sai membentak tinggi. "Dia bukan kakakmu, dan kami semua bukan saudaramu! Kau itu hanya anak haram yang di pungut kak Itachi. Jadi… sadarilah posisimu sendiri di hadapan kami!"

Tubuh Sasuke bergetar. Hatinya seakan teriris-iris pilu mendengar berbagai kata menyakitkan yang diucapkan oleh Sai. Tapi ia tidak melawan atau berusaha membantahnya. Semua yang dikatakan Sai adalah benar. Itachi memungutnya dari desa dan memberikan tempat tinggal di rumah ini bukan berarti dia menganggap Sasuke adik, justru Itachi ingin mencari tahu kejelasan yang sudah beredar di masyarakat. Mungkin jika status Sasuke sudah jelas dan benar-benar hanya anak haram, ia akan dikembalikan ke desa dan diusir layaknya binatang dari rumah ini.

"Sekarang pergi… pergi dari hadapanku," Sai mendorong kasar bahu Sasuke sampai nyaris membuatnya terjatuh lagi ke lantai. "Pergi kubilang!" teriaknya yang kali ini benar-benar membuat Sasuke tersentak.

"Sai…," panggil Itachi dari arah pintu utama. Bunyi tapakan sepatu yang di hasilkan oleh langkah Itachi terdengar semakin dekat. "Jangan berkata kasar seperti itu pada Sasuke," tegurnya. Baru saja ia pulang dari kantor, dirinya malah harus mendengar suara teriakan keras dari Sai. Itachi sungguh tidak tega jika melihat Sasuke selalu di kasari dan di bentak.

"Terus saja kakak membelanya. Memang apa sih yang dilakukan anak haram ini sehingga kakak lebih memilih dia dari pada aku, adik kandungmu sendiri."

"Sai… Sasuke sekarang juga adikku, sama sepertimu. Kau lebih tua darinya, bersikap dewasalah dan terima dia sebagai bagian dari Uchiha."

Sai nyaris saja tertawa meledek mendengar perkataan kakaknya barusan. "Adik? Bagian dari Uchiha? Jangan bercanda!"

"Dengar Sai—"

"Kakak yang harusnya mendengarkanku!" sela Sai emosi. "Dia bukan adikmu, bukan juga adikku. Aku tidak akan menerimanya meskipun Tousan yang memintanya sekalipun."

Itachi mendesah lelah. Tatapannya berubah nanar. Seumur hidup ia tidak pernah melihat atau mendengar Sai berteriak tidak sopan terhadapnya. Dulu Sai adalah anak yang manis, dia memang sedikit nakal dan manja tetapi dia juga penurut. Sai tidak pernah membantah ataupun membentaknya. Sekarang melihat tidak ada lagi rasa hormat di diri sang adik merupakan sebuah pukulan besar untuknya.

"Kakak tidak mengerti perasaanku. Kakak mengabaikan aku hanya demi dia. Kakak bahkan rela menyakiti hatiku dengan membawa dan menganggap anak ini sebagai adik."

"Sai…," Itachi mencoba bersabar. Kekerasan tidak akan meluluhkan hati Sai yang sekeras batu. Ia pun juga tidak mungkin tega membentak Sai disaat dirinya merasa terasingkan, padahal Itachi dan Shisui sangat menyayanginya. Tapi jika harus memilih, Itachi juga bingung kenapa ia tidak bisa memilih salah satu diantara Sai dan Sasuke.

"Tidak perlu menasihatiku. Aku tahu kakak pasti akan menyalahkanku dan membenarkan anak ini. Ya, aku memang selalu salah dan aku merupakan adik paling egois bagimu kan?" Sai menepis tangan Itachi yang berniat menyentuh bahunya.

"Tidak seperti itu Sai. Tolong jangan memulai pertengkaran, kakak sangat lelah hari ini," Itachi memohon dengan suara lemahnya. Tetapi Sai tetaplah Sai. Hatinya lebih keras dibandingkan sebuah batu.

"Kumohon…," Akhirnya Sasuke bersuara. Tangannya masih saling meremas buku-buku jarinya hingga telihat pucat dan berkeringat dingin. "Jangan… jangan bertengkar…," ucapnya lirih. Suaranya hanya berupa bisikan karena ia terlalu gugup dan takut.

"Diam kau!" Sai kembali membentaknya sampai anak itu terkaget dengan bahu yang menegang. "Ini semua karena ulahmu, kesalahanmu. Seharusnya kau sadar bahwa kehadiranmu akan menyebabkan pertengkaran di rumah ini."

"Cukup Sai!" Tiba-tiba Shisui memasuki ruangan dan berdiri diantara Sai dan Itachi. Mata putra kedua Uchiha itu sudah berkaca-kaca dan memerah. Ia tidak suka ada pertengkaran di rumah karena mereka sebelumnya tak pernah melakukannya. Tapi bukan berarti ia akan menyalahkan Sasuke atas semuanya. Sasuke tidak bersalah. "Jangan berkata kurang ajar pada kak Itachi, dia kakak kita dan kau tidak boleh bersikap demikian. Kau juga tidak boleh terus-menerus menyalahkan Sasuke, kami berdua telah sepakat untuk merawat Sasuke dan menjadikannya bagian dari keluarga ini."

"Ya, ya, ya," Sai memutar bola matanya. Kepalan tangannya telah memadat ketika mendengar perkataan Shisui. "Terus saja menyalahkanku dan pujalah anak haram ini," Ia mendengus meremehkan. Sakit hatinya justru bertambah dengan kedua kakaknya yang terus-terusan membela Sasuke. "Sebenarnya yang adik kandung kalian itu siapa? Kenapa malah aku yang merasa terasingkan disini? Mungkin memang sebaiknya aku pergi dan membiarkan anak haram ini menghasut kalian untuk segera membenciku."

"Sai, kakak menyayangimu. Tidak ada yang mengasingkanmu disini, justru kaulah yang menutup jarak dirimu sendiri dari kami," kata Itachi.

"Aku tidak akan melakukannya jika tidak ada dia disini!" seru Sai sembari melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Dadanya terlihat naik-turun dengan deru napas yang tidak beraturan karena masih terliputi amarah. Itachi dan Shisui hanya membiarkannya saja karena pada saat ini mereka juga tidak tahu harus melakukan apa. Perhatian mereka justru terfokus kearah Sasuke. Anak itu masih saja diam dengan tubuh tegang dan kaku. Tapi sedetik kemudian Sasuke langsung berbalik dan menaiki tangga sambil berlari kencang.

"Sasuke…," Shisui mengikuti Sasuke menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Itachi mengusap wajahnya yang letih dengan telapak tangan yang gemetar. Ketika ia berbalik badan, ia melihat Kurama dan Naruto yang diam mematung di depan pintu ruangan. Mereka pasti telah mendengarkan semuanya sekaligus melihat kepergian Sai barusan.

Itachi mencoba untuk tersenyum meskipun ekspresi wajahnya tidak terlihat seperti itu. Ia menatap Kurama yang berjalan menghampiri dirinya dengan tatapan sedih. Kekasihnya adalah orang yang paling dia harapkan untuk memberinya sandaran ketika merasa lelah dan terpuruk seperti sekarang. Seolah mengerti dengan perasaan Itachi, Kurama lekas memeluk dan membawanya kearah sofa untuk duduk bersama. Sementara Naruto terlihat berpikir dan memandangi jejeran tangga lalu mendegus kesal sebelum ikut menaikinya.

.

Hati itu kembali merasa sakit. Seorang Sasuke yang tidak tahu apa-apa, kini harus menerima kebencian yang sangat dalam dari sang kakak. Sejak awal ia menginjakan kakinya di rumah ini, Sasuke sudah tahu bahwa Sai pasti tidak akan pernah bisa menerima kehadirannya disini. Itachi juga bahkan pernah memperingatkannya mengenai hal itu. Sasuke duduk dipinggiran kasur lalu merenungi semuanya. Mungkin memang seharusnya ia tidak menerima ajakan Itachi dan tetap hidup di desa. Itu jauh lebih baik daripada harus tinggal di rumah yang seperti istana tapi hidupnya menderita.

"Sasuke…."

Sasuke menoleh, dia melihat Shisui yang sedang menatapnya sendu. Putra kedua Uchiha itu berjalan kearahnya lalu memeluknya secara tiba-tiba. Pedih yang dirasakan hatinya perlahan mulai terkikis, tergantikan oleh kehangatan yang membuatnya tentram.

"Maafkan Sai… terkadang dia memang egois, tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik. Mungkin Tousan, kak Itachi, dan kak Shisui terlalu memanjakannya sehingga dia jadi seperti itu."

"Tidak apa-apa," ucap Sasuke pelan. Di usapnya lengan Shisui yang sedang memeluknya erat. "Aku mengerti. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."

"Aku justru ragu kau bisa bersikap seperti itu," Shisui menahan senyum sembari menatap wajah Sasuke lekat setelah melepaskan pelukannya. Ia menyentuh pipi Sasuke dengan tangannya, dan kehangatan yang sama juga menjalar sampai ke hatinya.

"Kenapa?"

"Aku yakin kau adalah anak yang baik."

"Kak Sai juga baik."

Shisui menggeleng lalu memasang senyum kecut di bibirnya. "Kalian berbeda Sasuke. Sai tidak pernah merasakan hidup keras sepertimu karena itulah dia tidak bisa bersikap dewasa. Kau bahkan jauh lebih tegar darinya padahal posisimu di kota ini cukup sulit."

Sasuke menyentuh tangan Shisui yang masih menempel di pipinya. Ia terdiam, matanya memandang sudut dinding dengan pandangan menerawang. "Aku tidak seperti itu. Aku hanya mencoba berlagak kuat meskipun aku ini lemah. Sebaiknya kalian mengembalikan aku ke desa saja, dengan begitu kalian tidak akan bertengkar seperti ini lagi."

"Ya, sebaiknya anak cengeng sepertimu kembali ke desa saja," cibir Naruto di depan pintu. Pemuda pirang itu mendengus lalu melenggang masuk tanpa meminta izin pada Sasuke terlebih dahulu.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak suka. Nada bicara Naruto terdengar seperti sedang menghinanya.

Bibir Namikaze muda itu mengukir senyuman sinis dengan pandangan yang lurus menatap kearah luar jendela. "Kubilang, sebaiknya anak cengeng sepertimu kembali ke desa saja. Kau bahkan tidak cukup tangguh untuk menerima rintangan yang ada disini. Kau tahu? Hanya pengecut yang minta dipulangkan dan merengek seperti seorang bayi."

"Aku tidak merengek!" sanggah Sasuke dengan nada tinggi.

Naruto kembali tersenyum meremehkan sembari berbalik badan untuk menatap wajah kesal Sasuke. "Lalu yang barusan itu apa? Aku tidak merasa telingaku salah dengar. Kau merengek pada Shisui untuk minta di pulangkan dan lari di tengah masalah yang belum ada titik penyelesaiannya. Ternyata Itachi salah mempercayaimu karena kau sendiri tidak bisa menghargai pengorbanan Itachi."

Sasuke menggertakan giginya. Naruto memang benar, Itachi sudah bersusah payah berkorban untuknya dan mungkin lebih banyak dari apa yang ia perkirakan. Seharusnya ia tidak boleh mengeluh dan bisa jauh lebih bersabar menghadapi semuanya. Dengan ia kembali ke desa, hal itu justru hanya akan menambah beban di pundak Itachi maupun Shisui.

"Kenapa diam? Kau sedang berpikir kalau perkataanku benar atau sedang merencanakan pelarian saat malam hari?"

"Diam idiot!" Sasuke berteriak kesal lalu berdiri. Meskipun perkataan Naruto ada benarnya, tapi ia tetap tidak suka dengan sikap pemuda pirang itu yang seakan tengah menghakimi dan meremehkannya. "Aku bukan pengecut! Dan aku tidak akan lari dengan cara seperti itu!"

Shisui yang mendengarnya hanya tersenyum. Ia mengarahkan pandangannya kepada Naruto. Ia tahu, Naruto hanya mencoba untuk membangkitkan semangat Sasuke meskipun caranya sedikit menyebalkan. Shisui tanpa sadar sudah menaruh banyak harapan pada bocah pirang itu.

"Bagus…," Naruto tersenyum puas lalu berjalan mendekati Sasuke. "Aku tahu kau bukan pemuda lemah."

Sasuke membeku. Kemarahannya tiba-tiba saja menguap dan sekarang ia malah terlihat bingung. Naruto tersenyum padanya dan baru saja mengatakan kalau Sasuke tidak lemah. Sebenarnya pemuda itu berniat memprovokasinya atau apa?

"Yah, sepertinya cuaca diluar sangat bagus untuk bepergian. Bagaimana Shisui apakah aku boleh?" tanya Naruto ambigu. Alisnya turun-naik dengan penuh maksud terselubung. Bibirnya memahat cengiran, menularkan senyum lebar di wajah Shisui.

"Kenapa tidak Naruto. Usahakan untuk tidak memulangkannya sebelum jam makan malam."

Cengiran Naruto kian melebar dan ia memberikan gestur hormat pada Shisui. "Siap laksanakan kapten!" serunya antusias.

Sasuke mengerutkan dahinya ketika dua orang pemuda itu menatapnya dengan senyum mencurigakan. Tetapi Sasuke tak sempat menyadarinya. Ia hanya melihat Naruto yang tiba-tiba saja membungkuk dan membuatnya tersentak saat tubuhnya dibopong paksa. Sasuke terpekik, merasa perutnya menubruk keras bahu Naruto yang bidang dan ia dipanggul begitu saja keluar kamar.

"Kak Shisui…," panggil Sasuke susah payah. Ia hampir menjerit saat pandangannya goyah karena kepalanya berada dibawah dan terayun-ayun secara tidak beraturan. "Ow —hey, turunkan aku! Kak Shisui tolong aku…," Ia meronta-ronta dan merasakan tepukan keras di pantatnya. "Sialan!" umpatnya, yang hanya dibalas tawa super memuakan dari Naruto.

"Kak Shisui!" teriak Sasuke yang semakin lama semakin menjauhi pintu kamarnya.

"Tak apa Sasuke… bersenang-senanglah…," Shisui menyahut dari depan pintu kamar sembari melambaikan tangannya pada Sasuke dan Naruto.

"Turunkan aku idiot!" Sasuke memukul punggung Naruto dan berusaha menggerakan kedua kakinya untuk menendang pemuda itu, tapi cengkeraman si blonde terhadap kakinya cukup kuat sampai ia merasa kesulitan untuk menggerakannya.

"Diam Teme! Aku sudah mendapat izin dari kak Shisui dan aku yakin, aku juga akan mendapatkan izin dari kak Itachi."

"Memangnya kenapa mereka harus mengizinkanmu? Apa yang mau kau lakukan padaku? Kau mau membawaku kemana?"

"Sudah diam saja. Kau ini berisik sekali."

Naruto menapaki satu persatu pijakan tangga dengan langkah yang santai tapi menciptakan efek kejut jantung yang dahsyat bagi Sasuke. Seharusnya Sasuke juga sudah tahu bahwa Naruto memang brengsek. Buktinya pemuda blonde itu malah sengaja mengusilinya seperti ini.

.

"Untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Sasuke sinis. Setelah diam cukup lama selama dalam perjalanan, akhirnya ia tak kuat menahan banyak tanya didalam benaknya lebih lama lagi. Terlebih Naruto sudah memberhentikan mobilnya tepat didepan taman bermain yang setiap sorenya dipenuhi oleh anak-anak kecil.

Naruto tidak menjawab. Ia lekas saja keluar dan menghampiri anak-anak yang langsung menghambur kedalam pelukannya. Pemuda blonde itu tertawa, tak lama ia menengok kebelakang melihat Sasuke yang sudah keluar dari dalam mobil dengan masih memasang wajah merengut karena kesal. Naruto menyeringai diam-diam, ia tahu Sasuke masih kesal karena Naruto membawanya dengan cara paksa seperti modus penculikan, ditambah lagi saat Sasuke meminta tolong pada Itachi yang saat itu sedang mengobrol bersama Kurama di ruang tamu, putra sulung Uchiha itu justru malah tertawa dan membiarkan Naruto membawanya jalan-jalan keluar meski Sasuke tidak menyukainya.

"Untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Sasuke lagi, masih dengan suara yang sinis.

Naruto berdiri lalu memasang senyuman charmingnya yang sangat lebar dan hangat. "Menurutmu untuk apa?"

"Kenapa kau malah balik bertanya?" kata Sasuke makin kesal.

"Kemarilah…," ajak Naruto, namun Sasuke tetap bergeming sambil menyilangkan tangannya di dada. Naruto yang gemas akhirnya memutuskan untuk menghampiri Sasuke kemudian menarik tangannya.

"Lepaskan, idiot!"

Naruto hanya tersenyum memandang Sasuke. Tanpa berkata apapun lagi, dia langsung mendorong Sasuke ke dalam lingkaran yang dibuat oleh kumpulan anak-anak kecil. Sasuke terperangkap didalamnya dan dia hanya memandang bingung seorang anak perempuan yang memiliki gaya rambut berkuncir dua berwarna oranye. Anak itu mendekatinya sambil memperlihatkan kain berwarna hitam yang cukup panjang.

"Kakak, ayo bermain bersama kami," ajak anak perempuan itu.

Sasuke semakin bertambah bingung saat anak-anak lain mulai mengerubunginya layaknya semut, lalu menarik kedua tangannya sampai Sasuke berjongkok dihadapan mereka.

"Cepat pakaikan kain itu, Moegi!" teriak Naruto semangat. Bibirnya mengulum senyum jahil sebelum Moegi menutupi pandangan Sasuke dengan kain hitam itu.

"Hei, kalian mau apa?" Sasuke meraba-raba wajahnya dan hampir menarik lepas kain itu kalau serbuan tangan-tangan kecil tidak menahannya seperti ini.

"Kau tidak boleh curang, Sasuke. Aturan permainannya kau akan menjadi setan dengan mata tertutup dan harus bisa menangkap salah satu dari kami," jelas Naruto yang sudah mengkode semuanya untuk menjauhi Sasuke.

"Apa?"

"Ck, kau akan ikut bermain bersama kami, Teme. Apa kau tega mengecewakan anak-anak ini, huh?"

Sasuke perlahan berdiri, dia menghela napasnya sebelum mengangguk menyetujui ajakan permainan mereka. Dari kejauhan Sasuke mendengar sorakan bahagia anak-anak kecil itu dan diapun juga ikut tersenyum sambil berusaha berlari untuk menangkap salah satu dari mereka. Naruto tidak pernah menyangka bahwa Sasuke ternyata mudah mengakrabkan diri dengan anak-anak. Diam-diam dia memperhatikan Sasuke yang telah berhasil menangkap seorang anak laki-laki bernama Konohamaru dan memakaikan kain hitam itu untuk menutupi mata anak itu. Sekarang Konohamaru yang berjaga menggantikan Sasuke, dan Sasuke lekas ikut berbaur bersama anak-anak lain untuk mengelak dari serbuan Konohamaru yang berlarian tak beraturan kesana kemari karena matanya ditutup.

Naruto terus memperhatikan ekspresi ceria Sasuke. Memperhatikan senyuman yang terpapar di wajah porselen itu. Ia merasakan kehangatan dihatinya. Senyuman Sasuke begitu indah dan menenangkan. Tanpa sadar Naruto pun ikut tersenyum, dia sampai tidak melihat Konohamaru yang berjalan dengan tangan tergapai-gapai kearahnya. Alhasil setelah tersadar dari lamunan, Naruto sudah lebih dulu tertangkap dan ia pun berjaga menggantikan Konohamaru. Bocah itu memakaikan kain hitam disekitar mata Naruto dan dia ikut berlari saat Naruto mulai menggapai-gapai sekitar sembari berlarian tak tentu arah.

Anak-anak tertawa, begitu juga dengan Sasuke. Naruto baru saja menabrak tempat sampah lalu terjatuh dengan bodohnya. Tapi tak lama cowok blonde itu berdiri lagi dan lekas berlari kearah suara tawa anak-anak yang didengarnya dari arah utara. Anak-anak yang kaget cepat-cepat berpencar keberbagai arah yang berbeda hingga menyisakan Sasuke dan Moegi yang terlihat panik melihat kedatangan Naruto yang berlari kencang dengan mata tertutup. Keduanya juga ikut menghindar, tapi sebelum Sasuke berlari dua langkah, dua lengan kekar dan kuat sudah terlebih dahulu menangkap tubuhnya. Sasuke tersentak, ia menggeliat tapi tak sedikitpun tangan itu melonggarkan dekapannya. Debaran jantung Naruto dan sedikit keringat yang merembes pada permukaan baju depan Naruto terasa dipunggung belakang Sasuke. Aroma citrus yang bercampur dengan cologne memenuhi rongga hidung Sasuke dan membuat jantungnya berdebar tak menentu.

"Ehem! Cieeeeee…."

Sorakan anak-anak kembali meriuhkan suasana. Cepat-cepat Naruto membuka penutup matanya, dan dia sangat terkejut mendapati Sasuke yang sedang berada dalam dekapannya. Seharusnya ia sudah menduga kalau anak-anak tidak mungkin memiliki tubuh yang sedikit berisi juga tinggi. Seketika itu juga Naruto lekas melepaskan pelukannya dan ia menggaruk tengkuknya salah tingkah. Sial! Jantungnya jadi berdebar-debar tak karuan hanya karena ia tahu kalau dirinya baru saja memeluk Sasuke.

"Um, gomen ne," ucap Naruto gugup.

Sasuke hanya mengangguk dan sikapnya tak kalah gugup dari Naruto. Sementara anak-anak yang berada ditaman itu mulai cekikikan dan berbisik-bisik sesuatu sambil memperhatikan wajah Naruto yang merona merah. Seorang anak berkaca mata dan berambut hitam, mengambil selang air disudut taman kemudian menyemprotkan air itu kearah Sasuke dan Naruto yang sekarang terlihat memekik sambil melindungi sebagian tubuhnya yang lain agar tidak basah.

"O-Oii, Udon, hentikan!" Naruto menjerit sambil mengejar Udon yang ikut lari menghindar. Lagi-lagi semuanya hanya tertawa dan lekas berpencar saat Naruto berusaha membalas dengan menyemprot tubuh mereka dengan selang air. Sekarang incaran Naruto adalah Sasuke yang sedang berlari menghindar bersama Konohamaru. Bibir si blonde memunculkan seringai licik saat memperhatikan Sasuke, ia ingin menangkap dan mengguyur tubuh putih itu sepuas hati.

.

Tepat pukul 7 malam, mereka telah sampai di kediaman Namikaze yang bisa dibilang cukup luas, meskipun kediaman Uchiha berkali-kali lipat lebih luas dari rumah ini, tetapi Sasuke merasakan kenyamanan saat menjejakan kakinya di pintu rumah ini.

"Ayo masuklah… kau harus cepat-cepat mengganti bajumu atau kalau tidak nanti kau bisa sakit," ucap Naruto yang keadaannya tak kalah basah dari Sasuke.

Pemuda raven itu mencibir saat Naruto mengantarkannya ke kamar si blonde. "Salah siapa aku bisa seperti ini?" sindirnya yang hanya dibalas kekehan serak ala Naruto.

"Maaf," Naruto menjulurkan lidahnya, kemudian mendorong Sasuke masuk ke kamarnya. Dia langsung berjalan kearah lemari dan mengambil dua pasang pakaian lengkap dengan celananya. Naruto memberikan satu pasang pakaian itu kepada Sasuke, dan satunya lagi untuknya. "Ganti bajumu di kamar mandi itu," tunjuknya kearah pintu lain di ruangan itu. "Aku akan mengganti pakaianku di luar, sekalian aku akan menelpon Itachi untuk memberitahukan bahwa kau tidak bisa ikut makan malam dan akan makan malam di rumah ini bersamaku."

"Apa?"

Naruto mengulum senyum tipis dan segera menuju kearah pintu. Sebelum ia meninggalkan Sasuke dan menutup pintu itu, Naruto sempat menengok lagi kebelakang dan memandangi wajah bingung Sasuke dengan senyuman yang kian melebar. "Kau akan makan malam disini. Bersamaku. Aku tidak menerima penolakan. Lagi pula kalau kau pulang sekarang, kau akan sampai satu jam kemudian, dan acara makan malam di rumahmu sudah selesai."

Sasuke mendengus sembari mencibir sosok Naruto yang sudah menghilang dari balik pintu. Tapi ia tetap menurutinya juga karena apa yang dikatakan Naruto benar. Sasuke lekas mengganti pakaiannya yang basah, lalu mengenakan pakaian Naruto yang sedikit kebesaran ditubuhnya.

Berselang tiga menit setelah Sasuke mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian pinjaman dari Naruto, ia melangkah keluar kamar dan menghampiri sosok Naruto yang sedang berkutat di depan kompor.

"Aku sudah menelpon Itachi tadi, dia bilang aku harus mengantarkanmu pulang sebelum jam 9 malam."

Sasuke mendengus sembari menarik kursi dapur dan duduk menghadap Naruto di meja makan. "Kau berani jamin kalau masakanmu itu tidak akan membuatku keracunan?" sindir Sasuke sinis, dan perkataan itu menampar telak hati Naruto yang tiba-tiba saja merasa kesal hingga ingin melempar sendok sup yang sedang ia genggam.

"Astaga… mulutmu itu lebih panas dari kompor, Teme! Kau meragukan keahlianku, huh? Kakak-kakakmu saja mengakui masakanku itu tak kalah enak dari koki restauran di luar sana. Aku sudah terbiasa melakukan segala hal sendirian semenjak kedua orangtuaku meninggal, Kyuubi juga sama, bahkan dia yang mengajariku semua ini."

"Kyuubi?"

"Maksudku Kurama, orang-orang terdekatnya memang sering memanggilnya dengan sebutan Kyuubi, karena kalau dia sedang mengamuk mirip seperti siluman rubah yang ada di film-film."

Sasuke mendengus lagi, namun kali ini disertai dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia melihat Naruto yang cukup kesulitan memindahkan hasil masakannya di piring sementara masakannya yang hampir matang harus selalu ia aduk-aduk secara merata. Lama-lama ia bosan juga jika hanya duduk dan menunggu, lagi pula ketika masih di desa dulu terlebih saat mendiang ibunya masih hidup, Sasuke sering membantu beliau menyiapkan menu-menu sederhana diatas meja makan kecil di dapur rumahnya. Sasuke selalu suka menghirup aroma masakan yang dibuat sang ibu, dan sekarang ia merindukan semua hal itu karena ibu tercintanya telah tiada.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan, Teme? Daripada kau melamun tidak jelas disitu, lebih baik kau membantuku menata makanan-makanan ini diatas meja makan."

Suara cempreng Naruto mengembalikan kesadaran Sasuke ke alam nyata. Sasuke segera bangkit dari kursi dan melangkahkan kakinya hingga berdiri tepat disebelah Naruto. Ia dengan cekatan menata menu-menu makanan hasil karya Naruto diatas meja.

"Terima kasih, Sasuke. Biasanya ini tugas Kyuubi jika giliranku yang memasak, tapi karena dia tidak ada, kau ternyata cukup membantu juga."

"Kalian selalu bergantian mengerjakan tugas rumah?"

"Ya, tentu saja. Aku dan Kyu selalu menjadwalkan giliran masing-masing dan hal ini merupakan rutinitas kami selama bertahun-tahun. Kupikir saat kedua orangtua kami meninggal, dia takkan bisa menjadi figure seorang kakak yang baik, tapi ternyata aku salah. Kyuubi memang suka seenaknya, dan juga menyebalkan, namun dibalik sifat buruknya sebenarnya dia adalah kakak yang penuh tanggung jawab juga perhatian. Meskipun aku tak memiliki ayah dan ibu lagi, tapi rasanya Kyuubi saja sudah cukup untuk menggantikan sosok mereka berdua."

Sasuke memperhatikan wajah Naruto yang sedang tersenyum dari samping. Pemuda pirang itu masih sibuk mengurusi masakannya di dalam wajan, tapi tetap berceloteh tanpa merasa terganggu sama sekali.

"Dan aku yakin kaupun begitu. Aku tahu kau hidup sendirian di desa semenjak ibumu meninggal. Itachi sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi kau yang sekarang tidak lagi sendirian, kau memiliki tiga orang kakak dengan sifat dan watak yang berbeda-beda. Kau harus bisa memahami mereka dengan baik. Aku yakin kau pasti bisa. Ini hanya masalah waktu saja sampai kau bisa menerima semuanya."

"Aku tidak tahu kalau orang sepertimu bisa berpikir seluas itu," Sasuke mencibir, namum dalam hati ia membenarkan perkataan Naruto.

Mendengar nada menyebalkan yang keluar dari mulut pemuda raven itu, mau tak mau Naruto menjadi sebal juga. Niatnya baik, dia hanya ingin memberikan sedikit motivasi dan kekuatan ditengah masalah berat yang mungkin akan semakin bertambah berat selama ia tinggal di kota besar ini.

"Menyesal aku berbaik hati padamu, Teme. Ternyata kau memang orang yang benar-benar menyebalkan! Tidak ada manis-manisnya sama sekali!"

"Siapa yang kau bilang manis? Aku ini laki-laki dan aku harusnya tampan, Dobe."

Naruto mencibirnya dengan memahat senyuman sinis di sudut bibirnya. "Percaya diri sekali kau ini."

Sasuke melengos gusar, tak mau ambil pusing dengan ejekan Naruto yang tidak bermutu itu. Ia berniat kembali ke kursinya, tapi disaat yang bersamaan Naruto juga ikut bergerak untuk memindahkan tumisan dalam wajan ke atas piring besar. Dan Naruto tiba-tiba melakukan kecerobohan yang membuat langkah kakinya tergelincir karena terpeleset sisa minyak yang tercecer dipermukaan lantai. Kedua pemuda berbeda warna rambut itu sontak melebarkan matanya. Mereka tak sempat mengelak karena posisi keduanya yang nyaris berhimpitan. Alhasil wajan yang Naruto genggam terbanting kearah samping tubuhnya sementara dirinya malah menubruk tubuh kurus Sasuke yang juga ikut kehilangan keseimbangan.

Bruk. Keduanya jatuh dengan saling bertindihan. Naruto yang berada diatas tubuh Sasuke tak sempat menahan bobot tubuhnya yang berlebih menggunakan kedua siku tangannya, dan hal yang paling tak pernah terpikirkan akhirnya terjadi. Bibir keduanya bersentuhan, saling menempel akibat gerakan spontan mereka beberapa saat yang lalu. Kini Sasuke dan Naruto hanya diam membeku, berbeda dengan Naruto yang nampak shock, Sasuke justru terlihat sangat pucat.

"Me-menjauh…," cicit Sasuke dengan tekanan samar pada belah bibirnya yang masih bersentuhan dengan bibir Naruto. Tekanan itu sontak malah menciptakan rona merah pekat dikedua pipi pemuda berbeda usia itu.

"Ma-maaf…," Menyadari kesalahannya, Naruto buru-buru menopang berat tubuhnya menggunakan kedua siku tangannya yang mendadak terasa lemas. Tapi ia tidak membenahi dirinya melainkan hanya menarik bibirnya yang menubruk bibir ranum Sasuke beberapa inci. Naruto tidak tahu mengapa otaknya mendadak blank hanya karena melihat wajah porselen Sasuke dari jarak sedekat ini. Matanya, alisnya, bulu matanya yang lebat, warna pupil matanya yang sehitam jelaga, lalu kulitnya yang putih dan merona. Hal-hal menakjubkan yang baru pertama kali ia sadari semakin membuatnya gugup. Debaran jantungnya kian berdetak jelas dan Naruto justru menikmati hal itu.

Dia terdiam dengan mata birunya yang menjelajahi setiap detail polesan tuhan pada sebentuk wajah rupawan itu. Tak jauh berbeda dengan Naruto, Sasuke rupanya juga melakukan hal yang sama. Ia baru menyadari bahwa kedua pupil Naruto berwarna biru seperti langit musim panas yang sangat cerah dan indah. Sasuke juga memperhatikan tiga garis halus dimasing-masing pipi Naruto, merambat kebawah, ia meneguk ludahnya melihat garis rahang Naruto yang nampak tegas dan kokoh.

"Sasuke…," Suara desisan Naruto kembali menciptakan tekanan di bibir keduanya. Entah sengaja atau apa, Naruto justru menyentuhkan bibirnya lagi, meresapi kehangatan dan aroma mint manis yang menguar dari mulut Sasuke yang setengah terbuka.

"Mi-minggir… i-idiot," ucap Sasuke terbata. Jantungnya kian keras berdetak di dalam dadanya dan hal itu membuatnya semakin sesak ketika bernapas.

Naruto tersenyum miring, mendapati wajah bocah itu merona merah lebih pekat dari sebelumnya. Naruto memang pemuda yang jahil, suka mengusili siapapun yang menurutnya menarik untuk di goda, tetapi untuk kali ini ia merasa seratus kali lipat lebih tergoda oleh ekspresi menggemaskan Sasuke. Seolah-olah Sasuke telah menarik penuh seluruh kesadaran Naruto sehingga tak ada lagi dunia yang dapat ia pandang, karena kedua mata onyx kelam itu telah menyihirnya ke dasar semesta yang dalam.

Pelan-pelan Naruto memiringkan kepalanya, berniat mencuri bibir ranum itu sekali lagi, tapi kali ini bukan atas dasar ketidak sengajaan melainkan karena keinginannya sendiri. Naruto ingin merasakan bibir itu. Ia begitu penasaran, bagaimana rasanya dan bagaimana teksturnya. Dan ketika ia menjelajahi rongga lembab itu dengan lidahnya, Naruto segera terbius oleh rasa manis dan tekstur lembut nan kenyal dari kedua belah bibir ranum yang sedikit membuka karena shock.

Yang ia tahu, sejak awal ia memang telah terpikat oleh rupa malaikat pemuda raven ini, tapi Naruto tidak mudah untuk mengakuinya karena ia juga belum mengenal bahkan meyakinkan perasaannya sendiri. Apakah ini cinta atau hanya dasar kekaguman semata.

.

Keesokan harinya Sasuke merasa kesulitan untuk berkonsentrasi pada materi pelajaran yang ada di papan tulis. Pikirannya selalu terbayang dan mengulangi kejadian kemarin malam, kejadian pada saat Naruto menciumnya dengan sengaja. Lalu bodohnya Sasuke hanya diam seperti patung, ia terlalu shock, dan ketika sadar dirinya sudah mendorong dan meninju rahang Naruto hingga membiru. Ia malu dan juga marah, tetapi hatinya malah berdebar tak karuan. Debaran di jantungnya sangat cepat, seakan-akan dirinya menikmati ciuman memabukan Naruto tadi malam.

Pipinya yang putih tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Rasanya Sasuke ingin sekali mengalami lupa ingatan agar otaknya tak lagi terbayang-bayangi kejadian memalukan itu. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya dan membenturkan keningnya pada permukaan besi gerbang sekolahnya.

Saat ini Sasuke sedang menunggu supir pribadi nya yang belum juga datang menjemputnya. Itachi pernah mengatakan jika Genma belum datang, Sasuke dilarang untuk pulang atau pergi kemanapun sendirian. Di kota sangat keras dan berbahaya, apalagi untuk Sasuke yang belum lama ini mendapatkan pemberitaan negatif di seluruh media. Itachi hanya tak ingin Sasuke terluka, karena itulah putra sulung Uchiha itu bersikap sangat overprotective padanya.

Sebenarnya ia menunggu belum sampai 10 menit, tapi rasanya cukup bosan jika hanya berdiri seorang diri ditempat ini terlebih lagi jika kesunyian akan mengantarkannya pada memori memamalukan itu lagi. Ugh, lagi-lagi ia malah teringat akan hal itu.

Sasuke menghela nafasnya pelan-pelan. Karin, Suigetsu, dan Juugo sudah pulang sejak tadi, supir mereka tumben sekali menjemput tepat waktu dan sekarang malah penjemputnya yang terlambat. Sasuke menyentuhkan keningnya pada pagar gerbang sekolahnya. Kali ini tidak membenturkannya hanya menempelkannya saja. Ia sedang memikirkan sesuatu dan tidak sempat menyadari bahwa ada sebuah bola basket yang meluncur cepat dari belakang, tepat mengarah ke kepalanya. Sebelum Sasuke menyadarinya lalu berbalik badan, ia sudah dikejutkan oleh kedatangan seorang pemuda yang tiba-tiba saja meninju bola basket itu kuat-kuat hingga menciptakan suara pukulan yang sangat keras.

Bola itu lagi-lagi melayang di udara, kecepatan meluncurnya semakin kencang dan kembali pada si pelempar. Ketiga pemuda itu langsung panik, mereka tak sempat mengelak karena bola itu segera menghantam mereka sampai terjatuh ke tanah, dan Sasuke hanya mampu terdiam dengan mulut setengah membuka layaknya orang bodoh.

"Apa sih yang kau lakukan? Kalau bola itu sampai mengenai kepalamu kau pasti sudah masuk rumah sakit, Teme," dengus pemuda pirang yang tak lain adalah Naruto. Ia mengibaskan tangannya yang ia pakai untuk meninju bola. Terasa kebas. Sial. Ia meninju terlalu kuat sampai daya serangannya sedahsyat itu. Naruto menyeringai. Tapi… Serangan itu setimpal dan sangat cocok untuk membuat jera para pengganggu Sasuke yang masih meringkuk diatas tanah sambil mengaduh kesakitan.

"Hei bocah! Kalau kulihat kalian sekali lagi berniat menjahili Sasuke, maka bukan hanya bola itu yang menghantam kalian tapi juga tinjuku," Naruto berkata dengan raut sangar sembari memamerkan tinju padatnya yang nampak kokoh. Anak-anak itu lekas bergidik ketakutan dan lari begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Suara Sasuke merasuk ke dalam gendang telinganya. Naruto berbalik, memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dan menatap Sasuke dengan alis yang dinaikan sebelah. "Menurutmu apa?" Suaranya menyerupai dengusan. Mata biru itu menyorot intens sosoknya.

"Aku sedang menunggu," jawab Sasuke ketus. Ia merasa kesal melihat sikap menyebalkan Naruto. Apalagi tindakannya barusan yang berlagak seperti seorang pahlawan. Tetapi ia tak berani memandang balik ke lensa biru menawan itu, takut terhipnotis dan terbayang sesuatu yang ingin sekali ia lupakan.

"Ya, menungguku."

"A-Apa? Tidak! Aku menunggu Genma bukan kau!"

Naruto memutar bola matanya dan lekas menarik lengan Sasuke menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. "Genma sedang ada urusan. Jadi Itachi menyuruhku menjemputmu, mengerti, eh, anak pintar?"

Tepukan mengejek dipuncak kepalanya membuat Sasuke bertambah emosi. Sebelum ia memaki dan menyumpah serapahi Naruto, kedua bahunya sudah ditekan lalu di dorong memasuki kursi samping pengemudi. Naruto dengan cepat menutup pintunya dan tak lama ia juga ikut masuk ke dalam.

Sasuke hanya diam dan lagi-lagi mencibir tingkah menyebalkan Naruto. Ia duduk sembari menyilangkan tangannya di depan dada, sementara Naruto sibuk menyalakan mesin mobil lalu tak lama melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan gerbang sekolahnya yang besar.

.

Pertemuan Itachi dan Yahiko di sebuah cafe yang cukup terkenal akhirnya berlangsung. Itachi dan pegawai-pegawai yang lain termasuk Kisame, sudah berada di tempat itu. Ia masuk ke sebuah ruangan yang terpisah dari keramaian cafe. Itachi masuk sendiri tanpa ditemani Kisame. Matanya terpaku pada seseorang yang sedang duduk menghadap kaca, sambil membaca koran yang menutupi sebagian wajahnya. Perlahan Itachi melanjutkan langkah, ia melihat pemuda berambut oranye itu dengan sangat dekat, bahkan sekarang Itachi telah duduk di hadapannya.

"Apa kabar?" tanyanya lirih, kata-kata itu berusaha dia ucapkan meskipun ragu.

"Baik," Yahiko menutup korannya. Kini wajah pemuda itu terlihat amat jelas di mata Itachi. Dia menatap sang Uchiha yang tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Yahiko tak ambil pusing dan semakin menyamankan posisi duduknya di sofa cafe.

"Satu kehormatan bagi perusahaan saya bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda," Yahiko berucap dan menatap Itachi dengan tatapan yang tak biasa. Seolah-olah mereka memang tidak pernah saling mengenal dan baru pertama kali bertemu di tempat ini.

"Tak ada alasan untuk kami menolak kerja sama ini, lagipula produk-produk yang dikeluarkan Akatsuki inc. memiliki fashion yang terlaris saat ini," sahut Itachi tersenyum pahit.

"Anda tidak harus memuji seperti itu," Yahiko menyerahkan sebuah map yang berisi surat kontrak. "Ini surat kontrak yang harus Anda tanda tangani."

Itachi melirik surat itu. Ia mengambil pulpen yang ada di samping map tersebut dan segera menandatangani suratnya. Yahiko masih terlihat sangat dingin. Dia kembali mengambil surat itu.

"Senang bertemu dengan Anda. Saya harap kerja sama ini bisa menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Baiklah, jika tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi," Yahiko beranjak tanpa melihat Itachi yang masih terdiam.

"Yahiko," panggil Itachi lirih tanpa menatap Yahiko yang sudah memunggunginya. Yahiko yang baru akan melangkahkan kakinya seketika berhenti. "Haruskah seperti ini?" Itachi memalingkan wajahnya menatap Yahiko yang masih membelakangi dirinya. "Kita semua selalu menunggumu kembali," lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kita? Siapa kita?" Yahiko berbalik menatap Itachi. "Yahiko yang dulu sudah mati. Dan aku sudah melupakan masa lalu itu. Tak ada yang ku ingat sedikitpun. Sekarang, Yahiko yang ada di hadapanmu adalah Yahiko yang berbeda. Kau akan segera tahu, apa yang akan kulakukan," Yahiko menekankan suaranya sembari menatap Itachi. Ia kembali berbalik dan melangkah keluar, membuka pintu dengan cepat sehingga mengagetkan Kisame yang berada di luar. Mereka berdua bertatapan. Yahiko tak mengatakan apapun hanya memberikan tatapan dinginnya terhadap Kisame, dan setelah itu Yahiko bergegas pergi tanpa menghiraukan Kisame yang ikut terdiam seperti halnya Itachi.

Kisame membuyarkan lamunanya sendiri. Dia mengingat Itachi yang masih berada di dalam. Ia segera masuk, dan melihat Itachi yang masih duduk terdiam di sana. Perlahan dia mendekati Itachi lalu duduk di hadapannya.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Kisame khawatir.

"Tidak ada, semua baik-baik saja," dusta Itachi menutupi perasaannya sendiri.

"Kalian membicarakan apa saja?"

"Kami bertemu karena bisnis. Jadi tidak ada hal lain yang kami bicarakan."

Kisame mengangguk mengerti. "Itachi, Yahiko… dia terlihat begitu berbeda ya? Melihat dia hari ini, seperti baru pertama kali bertemu dengannya. Dia bukan Yahiko yang kita kenal dulu lagi," jelas Kisame mengungkapkan semuanya.

"Semuanya akan kembali sama. Yasudah kita pulang saja sekarang," Itachi beranjak dari sofa dan meninggalkan Kisame yang masih terdiam di tempatnya.

"Kau bohong Itachi. Kau berusaha menutupi perasaanmu sendiri,"ucap Kisame saat setelah Itachi pergi dari ruangan itu.

.

.

Tbc

.

.

Berhubung saya lagi hiatus. Jadi gapapa kan kalo saya publish ff ini aja dulu, soalnya kan ini udah di ketik sampe tamat jadi tinggal di publish aja minimal 2 hari sekali atau kalo sempet sehari sekali. Okok?

Maaf ya kalo fic awalnya kepanjangan, itu sebenernya 2 part sekaligus yang di gabung dalam 1 chapter. Untuk yang ini ga terlalu panjang dan ga akan bikin pusing. Hehe... Terus soal cinta segitiga Narusasusai ga akan serumit sinetron kok. Sai memang pasti bakalan cemburu tapi bagaimanapun walau dia egois dia masih punya perasaan yang dia pake di saat-saat penting. Jadi ga akan ribet kaya sinetron, atau mungkin sedikit, tergantung kalian aja sih menilainya gimana.

Intinya konflik puncak fic ini cuma ada di Madara aja, Kalo yang lain-lain kaya Yahiko dan Menma ga bakalan terlalu parah (mungkin).

Oh ya buat yang mau temenan sama Nagi di fb, search aja Nagisa Yuuki Hatsuki. Dijamin cuma satu orang yang punya nama itu. Wkwkwk...