detestation © illustrations
assassination classroom © matsui yuusei || kuroko no basuke © fujimaki tadatoshi

.

.

.

(chapter 2: aura)

.

Presensi Akashi Seijuurou di Kunugagioka Junior High School merupakan suatu fenomena unik tersendiri, mengingat bagaimana pancaran dirinya hampir setara—menyamai—orang nomor satu di sekolah ini, Asano Gakushuu.

Belum sampai satu jam pelajaran sang pemuda berambut merah memperkenalkan diri di depan kelas, atensi penuh sudah ditunjukkan kepada Akashi dan Asano secara bergantian. Saling bersaing merebut posisi puncak. Yang satu terus-menerus mempertahankan tampuknya di ujung sana, yang satu menunjukkan taringnya kepada warga sekolah bahwa ia mampu menyaingi seorang Asano Gakushuu.

Terdapat konversasi yang menarik antara kedua pemuda ini ketika pelajaran favorit mereka namun neraka bagi kebanyakan orang, matematika. Guru matematika mereka meminta salah satu untuk maju ke depan, menerangkan cara yang paling efektif dan efisien untuk kawan-kawan mereka yang, well, masih agak lamban dalam mencerna materi yang satu ini, walaupun seharusnya anak-anak di kelas A mempunyai kemampuan menyerap pelajaran di atas rata-rata dibandingkan anak-anak yang lain.

"... Sensei, kurasa aku punya cara yang kau maksud itu." Senyum kamil terukir di wajah menawannya. Punggung ditegakkan. Dikatakannya kalimat tersebut dengan nada persuasi—tak menuntut, hanya memanipulasi orang-orang untuk menjadi percaya bahwa dia lebih benar dari yang lainnya.

"Oh! Ya! Asano-kun. Kau bisa maju—"

"Maaf, Sensei." Dua patah kata menginterupsi kalimat guru yang belum selesai, "Aku bisa maju ke depan sekarang dengan mengerjakan soal-soal darimu. Tak hanya satu, lebih dari itu pun bisa." Senyum angkuh terpatri. Tak seperti bujukan samar yang dilakukan Asano, anak baru ini lebih memilih menggunakan nada absolut dan order yang tak bisa dibantah. "... Bagaimana?"

Guru mereka pun bingung. Ia garuk-garuk leher. "Oh, Akashi juga bisa ya—"

Asano menelengkan kepalanya sedikit, menemukan pandang dengan orang yang baru saja cari gara-gara dengannya karena saling unjuk gigi. Akashi balas menatap. Terdapat aura kemerahan yang membura dari kedua tubuh mereka. Bahkan empat orang lainnya dari Five Virtuoso tak ikut andil dalam permasalahan kali ini.

Yah, itu pun kalau bisa dibilang permasalahan karena sebab guru mereka menjadi bingung begini adalah hal yang sangat sepele, jikalau salah satu dari mereka mau mengalah.

Di sisi lain dia tahu kemampuan Asano Gakushuu dibandingkan siapa pun. Bertahun-tahun mengajar di sini dan menransferkan ilmunya ke pemuda yang satu itu semudah membalikkan telapak tangan. Ia ingin memberikan kesempatan untuk ajang pamer pada Akashi Seijuurou, anak baru yang konon mempunyai aura setara dengan Asano. Apalagi dengan tatapan menantang dan wajah pongah yang selalu ditunjukkannya.

Tapi, menantang langsung anak dari atasannya sendiri? Itu bukan keputusan yang mudah untuk diambil.

Kedua matanya berputar-putar dari Asano lalu kembali ke Akashi. Keduanya sama sempurnanya, sama dominannya.

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, keduanya bersamaan bangkit berdiri untuk maju ke depan kelas. Semua mata terpaku pada punggung mereka berdua.

... dan kemudian bel istirahat berbunyi.

Dua pasang kaki yang sudah bergerak ke depan terhenti dengan sinkron.

Sang guru matematika menghela napas lega dan mengambil perlengkapan-perlengkapan mengajarnya untuk keluar dari sana.

(Tak sekarang, mungkin lain kali.
Tatapan tajam beradu dengan sudut-sudut pikiran yang mulai menyalurkan kebencian.)

.

a/n: saya putuskan satu chapter akan singkat-singkat aja seperti ini, jadi seperti kehidupan sehari-hari Akashi bertemu Asano dan persaingan-persaingan mereka dsb. terima kasih yang sudah menyempatkan membaca dan memberi feedback!