Note : tulisan yang di italic adalah percakapan lewat video call :3
Well, happy reading!
[ what shines above ]
.
"Kena kau, mampus!"
Bola itu sukses mengenai kepala kiper. Membuatnya terjungkal, sedetik kemudian suara tangis terdengar menggelegar. Hanji, yang tadi menendang bola, hanya bisa meneguk ludah.
"Hanji!" Mike berlari menghampirinya, "Kan, sudah kubilang. Kalau main bola, pelan-pelan. Apalagi, yang jadi kiper itu ..." pemuda lima belas tahun itu mengarahkan matanya, " Moblit Berner."
Hidung Hanji berkedut, "Memangnya kenapa kalau Moblit?"
Pemuda berambut pirang itu berdecak. Terkadang berkomunikasi dengan Hanji yang enam tahun lebih muda darinya ini bisa menguras emosi, "Begini, ya, Hanji Sayang,"
"Ew."
Mike melotot melihat ekspresi jijik Hanji, "Moblit Berner, temanmu yang sering nempel mirip perangko itu, adalah bocah tercengeng sepanjang masa. Satu-satunya cara supaya dia tidak mengirim sinyal pada alien adalah membuatnya diam."
"Alien?!"
Sial, Mike salah sebut.
"Kalau begitu, kita harus sering membuatnya menangis, Mike!"
Mike ingin melebur. Mike ingin angin meniupnya agar dia bersatu dengan debu kosmik. Mike ingin ketenangan, Mike ingin jauh-jauh dari teman kecilnya yang gila.
Sementara, Nanaba sibuk menghibur Moblit. Kalau dari sisi keibuan dan baik hati, Nanaba tidak bisa disandingkan dengan Hanji yang semberono. Dari sudut matanya, Mike dapat melihat bocah lelaki itu mulai berhenti menangis, tersenyum tipis pada Nanaba.
"Nah, sampai di mana kita tadi? Oh, ya. Hanji, kau—"
Hanji sudah tidak ada di sana.
"Sial, kemana dia?" Mike menghela napas kasar, "Kalau begini, kita harus mengatur ulang susunan tim."
.
.
[ what shines above ]
.
.
- chapter one -
[ a child ]
.
.
Hanji memang sering menghilang dan muncul tiba-tiba. Sebut dia hantu, tapi kebiasaan itu tidak pernah hilang sejak dulu. Apapun alasannya, bagaimana pun caranya, kebiasaan muncul-menghilang itu sudah mendarah-daging dalam dirinya.
Kali ini, alasannya adalah—
"ERWIIIIN!" sapanya dengan suara melengking.
—video call dari Erwin jauh di Kanada sana.
Pemuda pirang yang terpampang di layar laptop tersenyum tipis, "Halo Han—"
"AKU KANGEEN!"
Orangtua Hanji hanya bisa saling tatap, mendengus geli.
"Kau ..." Erwin memperhatikan wajah berkeringat Hanji, "Habis main di luar? Kau tampak lelah."
"Ah, iya," Hanji tertawa, melipat tangannya untuk meletakkan dagunya di atas, "Aku habis main bola. Tahu, tidak? Moblit menangis lagi!"
"Moblit? Anak berambut kecokelatan itu, kan?"
"Iya!" Hanji mengangguk antusias, "Bahkan, sampai sekarang, dia masih cengeng, lho, Erwin!"
"Ha, dua minggu lalu saja kau menangis saat ingin pulang," Erwin meledek. Sukses membuat Hanji mendengus kesal. Ayahnya Hanji tersedak kopi yang sedang diminumnya.
"Mr. Zoe kenapa?"
"Hng? Ayah?" Hanji menoleh ke belakang, mendapati Sang Ayah menyapu mulutnya dengan sapu tangan. Melempar senyum terbaiknya pada Hanji. "Lanjutkan, anggap saja Ayah dan Ibu tidak ada."
"Oke?" Hanji menatap heran, sebelum kembali menatap layar laptop. "Oh, iya, Erwin. Soal aku menangis itu, kan, bukan karena masalah sepele. Berpisah denganmu itu, rasanya berat sekali!"
Tersedak lagi.
"Serius, Mr. Zoe kenapa, sih?"
"Tidak tahu. Tapi kata Ayah pura-pura saja mereka tidak ada di sana."
"O ... ke?"
Hanji tersenyum, menatap Erwin lamat-lamat, "Kau tahu? Aku sering berharap kalau kau masih tinggal disini. Bersamaku, bersama kami semua. Aku mau memperkenalkanmu pada teman baru kita, namanya Nanaba. Dia cantik, lho. Mike yang terlihat apatis saja mengakuinya." Gadis bermanik sienna itu menghela napas, "Yah, tapi ..."
Erwin, di ujung sana, ikut menghela napas berat. Sebenarnya, dia juga begitu. Dia ingin tinggal di California bersama Hanji. Meski hamparan Kanada memabukkan, tapi tempat itu tidak sempurna. Belum, belum sempurna kalau tidak ada mereka bersamanya.
"Maaf."
"Kenapa kau minta maaf? Kan, bukan salahmu." Hanji tersenyum, matanya menyipit.
Ada hening sebentar, sebelum Erwin berseru, "Ah, ya. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Ini penting sekali."
Tersedak lagi, kali ini Mr. Zoe menatap penasaran dari sofa, sambil sesekali mendengus tidak suka. Mrs. Zoe ikut memasang telinga baik-baik, menatap putrinya yang tengah memunggungi mereka—asik bersitatap dengan Erwin dibalik layar.
"Seminggu setelah kau pulang, ayahku menemukan—"
"Alien?!"
Erwin tertawa pelan, "Bukan. Seorang anak."
Hanji mendesah kecewa.
"Dengar dulu, Hanji," membaca raut kecewa di wajah sahabatnya, Erwin segera meluruskan, "Anak ini sekarat. Kelaparan di hutan depan vila-ku. Berhari-hari hanya makan buah beri. Aku dan Ayah memutuskan untuk membawanya pulang untuk sementara waktu."
"Lho? Bukankah itu berbahaya?!" Hanji sewot, "Kau bahkan tidak mengenalnya, Erwin! Asal membawanya pulang seperti itu, bukannya ... tidak aman?"
"Yah, tapi bagaimana lagi? Dia kelaparan. Kami tidak bisa membiarkannya mati." Erwin meregangkan tangannya, "Kami bertanya apa yang dia lakukan disana, kenapa bisa terasingkan ke hutan, dimana orangtuanya."
"Lalu?"
"Dia bilang, orangtuanya sudah mati. Keluarganya tidak tersisa sedikit pun."
"Ya, ampun. Terus, bagaimana? Kan, tidak mungkin dia tinggal bersamamu terus-terusan, kan?"
Erwin mengangkat bahu, "Entahlah. Keputusan itu Ayah dan ibuku yang akan membuatnya. Kalau dia akan tinggal bersama kami, mungkin mereka akan menulis surat adopsi. Atau, hanya membiarkan mereka tinggal bersama kami tanpa mengangkatnya menjadi anak."
"Tapi, kan—" Hanji menahan napas. Dia masih belum bisa mencerna logika mereka, "—bahaya. Bagaimana kalau dia ternyata mata-mata, huh? Atau, alien. Kalau alien, bagus, lah. Selama mereka tidak bertujuan untuk menaklukkan bumi." Hanji mulai ngelantur.
Erwin terkekeh, "Bukan, Hanji. Bukan alien. Dia bisa berbicara bahasa manusia."
"Orangnya seperti apa, sih? Aku mau lihat!" Hanji berseru antusias.
"Sebaiknya, jangan. Dia tidak ramah sama sekali. Hanya bicara kalau perlu, pula. Tidak bisa diajak basa-basi."
"Apa dia menggigit?" Hanji tersenyum lebar, bercanda.
"Sekali. Saat baru terjaga. Dia hampir menggigit tangan ayahku."
Oh, ternyata betulan menggigit.
"Mungkin, dia anak yang dibesarkan hewan, Erwin! Kau pernah melihat dokumentasi semacam itu, kan?"
"Tentu saja aku pernah melihatnya. Tapi, tidak. Kau bisa melihat dari pakaiannya yang lengkap, meski usang." Erwin menanggapi, "Lagipula, tidak mungkin begitu, Hanji. Dari informasi yang dia berikan, tentang kematian orangtua dan keluarganya yang terserang penyakit, katanya."
"Lalu, gigitan itu?"
"Entahlah. Tapi—"
Ada sayup-sayup suara seseorang memanggil.
"Aku harus pergi. Dipanggil Ayah."
"Lho? O-oh, ta—"
"Dah, Hanji."
Koneksi diputus.
Hanji membeku. Mr. Zoe dan Mrs. Zoe saling tatap.
"Ayah," Hanji bersuara pada akhirnya.
"Hm?"
"Kapan kita ke Kanada lagi?"
"Mungkin," ayahnya menatap langit-langit ruangan, "Akhir liburan semestermu nanti. Lagipula, kita, kan, baru saja kembali dari Kanada."
"Kau sangat merindukan Erwin, ya?" Mrs. Zoe tertawa, menggoda puterinya. Candaan itu dibalas tatapan Mr. Zoe yang mendelik tajam.
"Iya."
Jawaban Hanji membuat pria hampir kepala empat itu meletakkan cangkirnya, dia paling tidak suka kalau anaknya dikaitkan dengan asmara ( padahal, siapa yang melakukannya? sejatinya, itu hanya prasangkanya saja ). "Hei, Hanji!"
"Aku mau ke kamar," Hanji bangkit berdiri setelah mematikan laptop, "Permisi, Yah, Bu."
...
Gadis itu membuka buku tulisnya, penuh coretan konstelasi yang tampak rapi ( hanya gambar konstelasi-lah yang tampak indah dibanding semua gambarnya. Gambar sketsa random lainnya mirip gumpalan asap ). Dia menghela napas, menyenderkan kepalanya di atas meja.
"Kenapa Erwin harus pindah," matanya panas. "Kenapa?"
Pada akhirnya, dia menangis. Menangis pelan, berharap orangtuanya tidak mendengar isaknya.
...
"Matamu sembap." Itu kata Nanaba ketika kakinya menapak kamar Hanji ( Hanji menelepon Nanaba lewat telepon rumah dan memintanya berkunjung ).
Hanji menyeka hidungnya.
"Biar kutebak. Ada hubungannya dengan Erwin yang sering kau bicarakan itu," Nanaba menyampirkan jaketnya, duduk di pinggir kasur Hanji.
Hanji membisu. Bocah sembilan tahun itu akhirnya mengangguk pelan.
"Duh, bagaimana, ya," Nanaba menggaruk kepalanya bingung. Kalau saja situasinya tidak begini, dia ingin saja melontarkan lelucon. Sekarang, pun, awalnya dia ingin menghibur dengan humor payahnya. Tapi melihat Hanji yang hanya menatap kakinya, Nanaba mengurungkan niatnya.
"Aku tidak pernah bertemu Erwin, aku hanya melihat fotonya yang kalian tunjukkan waktu itu," Nanaba mengusap punggung Hanji, "Aku juga hanya mendengar sedikit tentangnya. Tapi aku tahu dia orang yang baik."
Hanji masih terisak.
"Tapi, bagaimana pun juga, usia kau dan dia cukup jauh, Hanji. Kalau kau sudah SMP sekarang, masih ada harapan kau dan dia bisa bersama. Lagipula, Erwin itu tampan, kan? Aku yakin dia ditaksir banyak perempuan. Tapi—"
Hanji mengangkat kepalanya, menatap Nanaba dengan alis bertaut, "Bicara apa kau?"
"Lho? Kau sedang patah hati, kan? Erwin punya pacar, begitu, kan?" Nanaba mengerjapkan mata.
"Enggak!" Hanji menghentakkan kakinya, "Aku kangen dia Nanaba! Kangen! Aku merindukannya sebagai teman, dan aku tidak sedang patah hati!"
"O-oh," Nanaba tertawa canggung. "Maaf, maaf. Aku tidak tahu."
Hanji membanting tubuhnya ke kasur, membenamkan wajahnya di bantal.
"Hei, hei!" Nanaba bergerak mendekat, "Hanji, aku minta maaf!"
Nanaba bisa melihat bahu Hanji naik-turun. Dia masih terisak.
"Hei, Hanji," Nanaba mengusap punggung sahabatnya pelan, "Kalau kau diam, aku janji akan membelikanmu es krim."
Hanji merubah posisi kepalanya, menatap Nanaba dengan posisi tengkurapnya, "Es krim?"
"Iya! Asal kau janji akan berhenti menangis." Nanaba tersenyum semangat, "Sekarang, ayo duduk dan basuh wajahmu!"
Sudah dibilang, kan, kalau Nanaba itu keibuan? Terkadang dia bisa bersikap terlalu dewasa untuk anak seusianya.
...
"Ada apa, Ayah?" Erwin, anak laki-laki itu berjalan ke teras rumah. Mendapati ayahnya tengah duduk dengan anak misterius itu di sebelahnya.
"Ah, Erwin, duduklah." Sang Ayah tersenyum, mempersilahkan anaknya duduk di sebelahnya. Anak bersurai hitam kurus itu menatapnya dingin.
"Begini, karena kami belum memutuskan kemana kami akan membawa anak ini, untuk sementara waktu, dia akan tinggal bersama kita," Sang Ayah tersenyum, "Aku dan ibumu akan mendiskusikan bagaimana kedepannya nanti."
"Oh, oke. Baiklah."
"Nah, Erwin, berteman baiklah dengan Levi."
Erwin tersenyum tipis, menatap sosok bernama Levi itu ramah.
"Semoga sekarang dan seterusnya, kita akur, ya." Ujarnya, yang hanya dibalas dengan tatapan sendu Levi.
Dia akhirnya mengangguk pelan.
Erwin kembali tersenyum. Kalau waktunya tepat, mungkin suatu saat dia bisa mengenalkan Levi pada Hanji.
Mentari senja menerpa netra kelabu Levi.
Erwin melihatnya.
Hamparan galaksi dan ribuan konstelasi terpantul disana.
...
tbc
a/n : chapter ini masih pendek, ya? maaf
konfliknya belum ada, masih perkenalan. Masih stabil. Ehe. Lipainya juga baru muncul akhir-akhir, sebentar banget, lagi :p
Makasih yang sudah fav+follow, semoga suka! Terimakasih, aku sayang kalian! XD
Salam,
Ares
