Dulceaţă.
Free! Eternal Summer © Kyoto Animation
Dulceaţă © OrdinaryFujoshi
Cover © JOHANNDRO
.
Selamat Membaca!
Dua : Hilang
Ketika orang-orang menyebut sesuatu yang memiliki makna sial atau tidak beruntung, pasti tidak lama akan menyebut namaku. Terbukti sudah bahwa ramalan Yamazaki Juniichiro benar-benar akurat—kata mereka. Kelahiranku membawa kesialan yang bertubi-tubi bagi keluarga Yamazaki. Tiga anak perempuan, bisnis yang gulung tikar, masih ditambah dengan wabah serangga yang merusak ladang gandum warga Selatan.
Rasanya aku ingin menangis karena tertawa. Aku ingin puas menertawakan betapa kosong otak orang-orang yang mempercayai ramalan yang tidak jelas benar atau tidak—begitulah kira-kira dalam pemikiranku—itu.
Tidak logis menyalahkan seorang anak yang bahkan saat itu belum ada dalam rencana orangtuanya, atas kelahiran tiga anak pertama yang semuanya perempuan di sebuah keluarga. Bisnis yang menemui kebangkrutan menurutku hanya efek stress yang dialami Ayah akibat tekanan batin—salah Ayah sendiri yang terlalu percaya ramalan itu sehingga tiga anak perempuan dan perkara penerus keluarga menjadi tekanan batin baginya. Sedangkan wabah serangga sama tak logisnya dengan kelahiran tiga kakak perempuanku. Sama sekali tak ada koneksi antara kelahiran anak keempat dengan serangga perusak, bukan?
Yang aku tahu, pada waktu itu keluarga Yamazaki dipercaya Raja sebagai koordinator utama daerah Selatan, dan hal itu menjelaskan mengapa Ayah merasa sangat tertekan dan sibuk bukan kepalang. Pengiriman gandum dari daerah Timur—yang selalu melimpah hasilnya karena gembur tanahnya—harus lancar demi mempertahankan kesejahteraan rakyat. Wabah harus dibasmi. Bisnis industri tekstil harus mampu memberikan keuntungan agar keluarga Yamazaki tidak besar pasak daripada tiang. Keluarga harus tetap diperhatikan, terutama Ibu yang tengah berbadan dua, mengandung anak keempat mereka, aku
Fakta lain yang kuketahui adalah susah hati Ibu ketika mengandung. Bagaimana tidak susah hati? Ibu seakan-akan dipaksa mendengar berbagai cercaan dan makian Ayah terhadap janin yang berkembang dalam rahimnya. Bagi seorang ibu, tentu saja hal itu sangat melukai hatinya. Aku tahu, karena semuanya tercatat lengkap di dalam buku harian Ibu. Segala yang terjadi selama empat puluh minggu beliau mengandungku, semua tertera mendetail di dalam sebuah buku berwarna cokelat tua. Segala keluh kesah hati Ibu, segala curahan hati, kepedihan, maupun segelintir kebahagiaan yang sempat ia rasakan saat mengandungku, semuanya jelas.
'Aku yakin, di balik pandangan sinis mereka pada anakku nanti, ada sirat kekaguman. Di balik cibiran mereka, ada pujian. Tak ada yang sanggup menyakiti putraku. Dia Yamazaki, tak ada yang bisa menghalanginya.'
Maknanya terasa begitu dalam. Gabungan antara cinta yang murni, semangat yang tinggi, dan harapan sebulat hati, semuanya Ibu percayakan padaku.
Sekarang ini aku hanya bisa melihat potret wanita cantik bermanik hijau kebiruan yang selalu kusimpan rapi di antara halaman-halaman buku hariannya. Aku tidak dapat lagi merasakan pelukan hangatnya, kecupan tulusnya, panggilan sayangnya, seluruhnya.
Karena Ibu telah tiada.
Tidak lama setelah kedatanganku ke dunia, Ibu memenuhi panggilan Tuhan untuk kembali. Berat hati pasti ia rasakan ketika ia harus meninggalkan keluarga yang amat dicintainya. Tetapi, ketika Tuhan sudah berkehendak, tak ada satu pun yang berhak menolak.
Dan lagi-lagi aku harus menelan segala kalimat dari mulut Ayah yang terus menyalahkanku atas kepergian Ibu.
...
Sebagai seorang anak yang hidup di tengah sebuah keluarga, waktu-waktu yang kulewati jauh dari kata sempurna dan bahagia. Kehilangan seorang ibu, sosok yang selalu kubayangkan penuh cinta dan hangat, seperti tertulis dalam buku hariannya. Kehilangan cinta dan perhatian seorang ayah, sebaliknya malah aku menjadi yang selalu disalahkan dan disingkirkan. Kehilangan kebahagiaan sebagai seorang adik, karena ketiga saudariku semuanya memilih untuk menghindar, menjauh dari adik kandung mereka sendiri.
Aku tahu tidak seharusnya aku merutuk leluhurku sendiri, tapi aku selalu membayangkan, andai saja ramalan itu tidak pernah ada. Aku akan lebih bahagia, hidup bersama keluargaku seperti keluarga-keluarga lain pada umumnya. Bukan seperti ini, dimana aku lebih banyak bersama pelayan-pelayan yang 'setia' daripada bersama keluargaku sendiri. Aku tahu Ayah membayar lebih orang-orang itu agar mau merawatku.
Nama sebagai Yang Tersial seakan-akan membuatku terlihat menyerupai monster daripada seorang anak laki-laki biasa di mata orang lain. Aku muak melihat tatapan kasihan bercampur jijik yang lebih terlihat seperti celaan dari para butler dan maid itu. Aku tidak tahan dengan senyum palsu yang dipasang setiap orang setiap kali melihatku. Tidak ada yang benar-benar asli di dalam hidupku kecuali hinaan, makian, dan cercaan.
Aku hanya bisa berharap tiap untai doa dan paragraf yang ditulis Ibu memang akan terjadi. Suatu saat di mana tatapan sinis orang-orang padaku menjadi kekaguman, keadaan di mana cibiran berubah menjadi pujian tulus. Hidupku seakan-akan bergantung pada hal-hal sederhana seperti itu, hal-hal kecil yang membuatku terus percaya keberadaanku mempunyai arti untuk seseorang, entah siapa pun dia.
...
Keluarga Yamazaki terisi dengan orang-orang yang luar biasa berbakat di segala bidang. Menghabiskan waktu dengan membaca buku, berlatih polo, serta memanah jadi kegiatan sehari-hari. Tidak ada salahnya 'memanfaatkan' darah Yamazaki yang mengalir di nadiku, bukan? Toh, tiap Yamazaki terlahir jenius. Sekejap, pengajar di Puri Yamazaki kehabisan materi untuk kupelajari. Selalu sendirian membuatku punya lebih banyak waktu untuk berpikir dan belajar, menurutku. Aku mampu merasakan perbedaannya. Aku bisa menjadi lebih hebat, lebih kuat, lebih pandai, tanpa ada yang bisa menghalangi.
Buktinya telak. Latihan polo ketat membuat namaku bukan hanya terkenal sebagai Yang Tersial, tetapi juga sebagai Polo Slayer, kartu as dari regu polo—dimana sering ditandingkan antar keluarga bangsawan sampai antar kerajaan. Setiap permainan kumenangkan dengan selisih angka yang cukup tinggi dengan lawanku, tidak ada pukulan yang meleset. Dari pelosok Timur sampai ke pesisir Barat, dari perbukitan di Utara sampai Selatan, tidak ada yang mampu menyaingi. Prestasi yang gemilang mengantarkanku kepada sebuah gala di puri keluarga Matsuoka di ujung kota sebelah barat—secara khusus sang tuan rumah mengundang Ayah dan aku untuk datang.
Lagi, topeng-topeng senyuman menempel lekat di setiap wajah tamu. Ayah juga sama saja. Ia memperkenalkanku pada kolega-koleganya, dengan pola kalimat seperti cetakan saja. Dimulai dengan basa-basi singkat 'Malam yang indah bukan?', dilanjut dengan 'ah, ini putraku, Yamazaki Sousuke.' Koleganya pun tidak berbeda. Menjawab dengan pola yang serupa, 'Inikah sang Polo Slayer? Luar biasa. Kelak ia pasti menjadi pemuda yang gagah dan begitu membanggakan,' ditambah dengan berbagai bumbu-bumbu pujian palsu lainnya. Setelah itu, pasti antara Ayah dan koleganya akan berbincang soal bisnis, politik, dan berbagai hal lain—aku tak punya cukup kesabaran untuk mendengar sampai tuntas pembicaraan semacam itu.
Aku lebih memilih meninggalkan Ayah sembari berjalan ke arah balkon, menyambar segelas cocktail yang dibawa oleh seorang pelayan di atas nampan perak. Menikmati udara malam yang dingin menerpa wajahku, meniup-niup surai hitam eboni khas Yamazaki. Sendirian, ditemani angin malam dan langit cerah tak berawan tak berbintang, dengan bulan purnama yang bersinar temaram. Kedua mataku kupejamkan, aku merasuk dalam suasana tenang dan dingin seperti malam ini. Entah mengapa, rasanya begitu dekat dan begitu lekat dengan hatiku. Dengan jiwa serta perasaanku.
"Kau tak suka pestanya?" suara seseorang mengejutkanku. Segera aku menoleh ke belakang, ingin tahu siapa yang mengajakku bicara. Seorang anak lelaki dengan manik rubi berdiri di ambang pintu yang membatasi daerah balkon dan aula gala. Ia tidak sendirian, seorang anak lelaki sebaya dengan ekspresi datar dipadu mata sebiru lautan berdiri juga tak jauh dari pintu.
"Ah, tidak," jawabku singkat. "Aku hanya menikmati udara luar. Rasanya menenangkan." Ujung bibir yang ditarik sedikit, cukup untuk membentuk sebuah senyuman kecil. Kuharap dua anak lelaki di depanku melihat senyum yang agak dipaksa muncul ini sebagai senyum yang bersahabat.
Ekspresi yang bermanik rubi berubah. "Beritahu aku kalau kau merasa tak nyaman, kalau kau tak keberatan. Sudah kewajibanku sebagai tuan rumah memastikan semua tamuku terlayani dengan baik dan merasa nyaman dengan suasana Puri Matsuoka," senyum yang tulus terbentuk di wajahnya. Aura yang hangat dan membuat hatiku terasa lumer. "Matsuoka Rin. Senang berjumpa dengan—?" Ia menungguku membalas jabat tangannya.
Aku sedikit ragu. Matsuoka Rin masih menatapku dengan senyum di bibirnya, tangan kanannya masih terulur, menunggu balasan. "Y-Yamazaki Sousuke.." Dengan sedikit terbata aku menyebut nama lengkapku.
Terdengar dua tarikan nafas pendek, dibarengi dengan dua pasang netra berbeda warna membulat secara relfeks. Reaksi yang sudah bisa kutebak—mereka terkejut—lalu tak lama pasti akan dilanjutkan dengan senyum palsu dan tatapan kasihan seperti yang selalu kutemui pada orang lain.
Tapi keduanya hanya terkejut.
Tidak ada senyum palsu, tatapan mengasihani, atau cibiran, atau gestur yang menunjukkan mereka tak nyaman bicara denganku dan ingin cepat-cepat pergi dari hadapanku. Sebaliknya, reaksi mereka sangat berbeda dengan reaksi orang-orang kebanyakan.
Yah, paling tidak, salah satunya, karena yang bersurai raven kemudian kembali datar-datar saja.
Matsuoka tanpa ragu menggenggam tangan kananku dengan kedua belah tangannya, menjabat tanganku dengan bersemangat. "Ah! Yamazaki Sousuke! Aku sudah banyak dengar tentangmu. Aku menonton pertandingan polo yang diadakan kerajaan bulan lalu, aku melihatmu bermain di final! Kau luar biasa! Skor tertinggi sepanjang duabelas tahun terakhir!" Senyuman Matsuoka tidak memudar, malah senyumnya menjadi semakin hangat. Pujian yang meluncur dari bibirnya tak ada satupun yang terdengar palsu. Tiap kalimatnya sangat berbeda. Lebih berwarna, terdengar begitu menyejukkan.
"Terima..kasih..?" jawabku.
"Ya, aku juga sudah dengar tentangmu," anak lelaki yang lain, yang sedari tadi hanya terdiam tanpa ekspresi, akhirnya angkat bicara. "Aku tahu tentangmu, Yamazaki," ulangnya. "Yang Tersial dari keluarga Yamazaki, kalau aku tak salah?" nada-nadanya dingin dan nyaris monoton. Cukup menusuk meskipun aku terbiasa mendapat tanggapan demikian.
"Haru!" tegur anak lelaki yang lain. "Tidak sopan mengatakan hal semacam itu pada orang yang pertama kali kau temui!" lengan yang bernetra biru laut didorong pelan oleh yang bermanik rubi. Adu mulut berlangsung. Tidak lama, hanya sekian detik saja. Tetapi sudah cukup untuk menyulut emosiku yang mendengar perdebatan singkat mereka. Cih, rupanya si manik rubi ini tahu siapa aku.
"M-Maaf, Yamazaki," seakan membaca pikiranku, yang bernama Matsuoka sedikit membungkukkan badannya. "Bukannya aku bermaksud memberimu pujian yang tidak tulus—"
"Nanase Haruka," potong yang dipanggil 'Haru'. Tangan kanannya terulur ke arahku, tetapi matanya lebih suka memandang ukiran di tembok balkon.
"—percayalah kami tidak bermaksud demikian," Matsuoka menyelesaikan kalimatnya. " Bukankah begitu, Haru?" tanya Matsuoka pada rekannya.
Anggukan pelan jadi jawaban atas pertanyaan Matsuoka.
Aku masih agak tidak percaya pada dua anak lelaki di hadapanku. Tetapi mata berbinar dan senyum gembira si merah membuat hatiku sedikit terketuk. Si surai raven yang sedikit lebih kecil dari kawannya tidak memberikan komplimen yang terlalu berarti, tetapi sempat kulihat sekilas ia melirikku. Matanya, meskipun terkesan seperti laut di musim dingin, seakan memberi isyarat bahwa aku tak perlu ragu dan takut.
Aku membalas tangan kanan Nanase.
"Nah, Yamazaki! Ayo masuk dan nikmati gala malam ini! Aku pasti menemanimu kalau-kalau kau merasa kesepian," Matsuoka menarik pergelanganku dan pergelangan Nanase yang masih saling berjabat tangan.
"Tapi—"
"Ikut saja, Yamazaki," Nanase memotong lagi. Masih tetap dingin, tetapi kali ini ia benar-benar melihat ke arahku. Senyum kecil menghiasi wajah anak lelaki itu, secercah binar melintas di mata birunya.
Aku hanya tersenyum simpul, mengikuti langkah kedua teman pertamaku masuk kembali ke aula tempat gala berlangsung.
...
Tidak sulit untuk akrab dengan salah satu dari mereka. Tentu saja yang kumaksud di sini adalah Matsuoka Rin. Bukannya aku tidak menyukai Nanase, hanya saja kami lebih sering bertengkar satu sama lain daripada akur seperti antara aku dan Rin serta Rin dan Nanase. Aku merasa agak tidak cocok saja dengannya, aku merasa lebih pas dengan Rin.
"Mau bertaruh, Rin?"
"Hah?"
Setelah mengenal keluarga Matsuoka cukup baik, aku dan Rin menjadi sahabat dekat. Keluarga Matsuoka sangat ramah, kunjungan-kunjunganku berikutnya hanya untuk menemui Rin dan sekadar mengobrol tetap disambut dengan hangat.
Dan di sinilah kami berdua sekarang, di atas kuda masing-masing, di tengah lapangan beralas rumput hijau yang selalu dirawat dengan baik. Hanya aku dan Rin, dua ekor kuda, beberapa bola kayu, dan sebuah mallet—tongkat khusus untuk bermain polo—dalam genggaman masing-masing. Polo memang olahraga beregu, tetapi bukannya tidak jarang aku dan Rin hanya latihan memukul bola berdua saja seperti ini.
Aku mengarahkan kudaku menjauh dari tempat kuda Rin berdiri.
"Kemarilah, Rin!" seruku padanya. "Kita akan berlatih memukul bola dari sini!"
"Yang benar saja, Sousuke!" Rin berseru balik padaku. "Batas enam puluh yard sudah jauh sekali di sana! Untuk apa kita berlatih sampai—seratus yard?!" Rin terdengar semakin kesal ketika melihatku menghentikan laju kuda yang kutunggangi di dekat batas enam puluh yard dari sisi lapangan yang lain.
"Kau takut, Rin?" seringai yang terkesan mengejek sengaja kubuat-buat untuk memancing Rin.
Rin memalingkan wajah. Aku tahu isi pikirannya: ia ingin mengatakan padaku ia sama sekali tidak takut dengan tantangan itu. Namun logika memaksa Rin untuk menolak karena faktanya, pukulan sejauh seratus yard bukan sesuatu yang bisa dilakukan semua orang dalam satu kali mencoba.
"Tiga pukulan," aku mencoba membuat Rin berpikir tantangan ini lebih mudah. "Tiga pukulan untuk memasukkan bola ini ke gawang. Bagaimana menurutmu?"
Ekspresi Rin langsung berubah. "Kukira kau akan tetap jadi irasional dan keras kepala seperti biasanya, Sousuke," gigi-gigi Rin—yang entah bagaimana bisa terlihat begitu tajam—sedikit terekspos di balik celah bibirnya yang membentuk seringai. "Kuterima tantanganmu. Apa taruhannya?"
"Yang kalah harus memenuhi permintaan pemenangnya. Apa pun yang diminta sang pemenang."
"Setuju."
"Aku tahu kau pasti ingin mencoba lebih dulu. Jadi, silakan."
"Cih. Ini tantanganmu, seharusnya kau lebih dulu," keluh Rin. "Tetapi tentu saja aku tidak menolak kesempatan lebih dulu yang kau berikan, Sousuke."
Dari posisi bola kayu yang tergeletak di tanah, Rin mengambil jarak beberapa yard untuk ancang-ancang memukul bola. Kuda abu-abu Rin berlari mengikuti perintah tuannya. Sekuat tenaga, Rin mengayunkan mallet-nya ke arah bola.
Pukulannya agak sedikit terlalu ke kanan dan jauh terlalu ke bawah, karena setelah ujung mallet membentur bola, sphere kayu itu melambung sangat tinggi—menurut perhitungan polo, tentu saja—dan condong ke kiri cukup jauh dari arah yang seharusnya.
"Pukulan bagus, Rin."
"Tolonglah, Sousuke. Sekali ini saja, berhenti menggodaku."
Meskipun sangat ingin, aku tetap tidak ingin menyinggung perasaan Rin. Tawa yang sudah berada di ujung bibir sebisa mungkin kutahan, tetapi gagal dan berakhir dengan batuk-batuk hebat.
"Aku—uhuk—tidak bercanda—uhuk huk—Rin. Paling tidak—huk—pukulanmu lebih bertenaga—uhuk—dari biasanya."
Rin tak terlalu mengacuhkanku, ia sedang berkonsentrasi pada kesempatan keduanya, ia memukul dari posisi terakhir bolanya berhenti. Kali ini arah bolanya tepat, bola kayu itu berhenti menggelinding tidak terlalu jauh dari gawang polo.
"Jangan menangis kalau kau kalah nanti, Sousuke!" Rin memacu kudanya sedikit lebih cepat untuk mendekati posisi bola. Rin mengayunkan mallet perlahan. Aku tersenyum pasti. Bidikan asal seperti itu hanya bisa masuk dengan sedikit keajaiban.
Aku mendekati posisi Rin, melihat apakah Rin berhasil memukul bola masuk ke gawang atau tidak. Kudaku kuhentikan jalannya setelah berada tepat di samping kuda Rin.
Bola kayu bergerak perlahan di atas rumput. Tuk. Bola berhenti setelah membentur gawang perlahan, gagal mencetak angka.
Rin menghela nafas panjang. "Andai kita bertaruh panahan hari ini," ujar Rin sambil mengusap tengkuk dengan telapak tangannya. "Aku takkan meleset barang satu anak panah pun."
"Sayangnya kita tidak sedang latihan panahan hari ini," aku melirik Rin yang masih tampak kesal karena meleset. "Jangan menangis kalau kau kalah nanti, Rin," aku membeo pewaris keluarga Matsuoka yang dijawab dengan raut mengejek. "Percayalah, kau lebih baik daripada saat kita pertama bermain tiga tahun yang lalu, Rinrin."
"Hentikan panggilan itu, Sousuke. Aku tahu namaku seperti nama perempuan, dan kau tak berhak membuatnya terdengar semakin feminin," gerutu pemuda yang helaian rambutnya cukup panjang itu.
Kami kembali ke titik awal, seratus yard dari gawang. Sama seperti Rin sebelumnya, aku pun mengambil beberapa yard untuk ancang-ancang. Dengan kecepatan cukup tinggi, kupacu kuda hitam kesayanganku, Kagehiro. Bola kayu bertumbukan dengan mallet andalanku, mallet berbahan dasar kayu eik buatan tangan pengrajin di daerah Utara.
Pukulan pertama, bola menuju arah yang kuharapkan. Pukulan kedua tidak sekeras yang pertama, hanya untuk memotong jarak agar bola lebih dekat dengan gawang saja. Pukulan ketiga mungkin bisa kulakukan dengan mata tertutup. Dengan bola tegak lurus dengan gawang, hanya perlu satu pukulan lurus saja. Bola bergulir mulus melalui bagian antara dua logam gawang polo. Aku memalingkan wajah, mencari pemuda dengan rambut merah, penasaran soal ekspresi apa yang akan dibuatnya.
"Sombong sekali kau, Sousuke. Kau menginginkan pujian dengan cara yang tak adil, Kawan," seru Rin dari kejauhan. Mengagumkan, ia tahu aku berhasil bahkan dari jarak belasan meter, semua berkat latihan panahan yang dijalaninya. "Bukankah sudah terlalu sering kubilang padamu kau memang lebih hebat? Perlu berapa kali lagi kau inginkan aku mengakui hal itu?"
"Hei, hei. Tenang, Rinrin. Aku bahkan tidak bilang apa-apa, kau sendiri yang bilang begitu," aku terkekeh. Lucu sekali ekspresi Rin sekarang ini. Bibirnya sedikit dimajukan, membentuk wajah cemberut yang terlihat sangat kontras dengan figur wajahnya yang sangat laki-laki.
Rin mulai bergerak mendekati posisiku saat ini.
"Ah, apa yang akan kuminta, ya?" tanyaku pada langit biru jauh di atas kepalaku.
"S-Sousuke!" Rin tiba-tiba berteriak padaku. Aku melihat Rin dengan cepat memacu kudanya dengan wajah panik. Kudanya bergerak ke arahku dengan membabi-buta. Kuda Rin lepas kendali.
Mengumpat memang sangat tidak sesuai dengan tata krama kebangsawanan. Tetapi kali ini lain soal, aku benar-benar butuh mengumpat.
Aku selalu lupa mengatakan pada Rin kalau Kagehiro sangat mudah terkejut. Dan datang tiba-tiba menuju ke arahnya sama sekali bukan hal yang bagus.
Setelah beberapa derap sepatu kuda, suara ringkikan yang memekakkan telinga, suara benda tertabrak, dan sebuah suara meneriakkan namaku, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
.
.
.
to be continued
.
Hi coretgayscoret guys. Saya Ordinary (panggil Cal aja juga boleh), lagi main ke fandom lama~
Fanfic ini sebenernya fanfic lama, udah 2 taun :') Tapi 2 taun itu dalam versi bahasa Inggris (read : versi amburadul) yang saya pos di AO3 dengan judul The Unluckiest. Lumayan banyak perbedaan antara The Unluckiest dan Dulceaţă ini. Yang penasaran sama kelanjutan cerita ini bisa baca sopiler di AO3, tapi yang di sana udah nggak di update lagi.
Ide fanfic ini dari mana-mana—dari author lain, dari buku, dari fanart, dari manga—saya bukannya hanya comot lalu langsung masukkan ke sini kok. Kalau ada mirip dengan karya beberapa orang, semata-mata karena saya mengagumi karya mereka, tetapi namanya nggak bisa saya sebutkan di sini karena bisa-bisa jadi lebih panjang dari fanfic ini sendiri ('/v/') Tapi salah satunya (atau salah duanya) yang bisa saya sebut sangat menginspirasi saya adalah karya-karya Supreme_Thunder dari AO3 dan fanart dari JOHANNDRO. Heuheu.
But still, I hope you enjoy this fanfiction. Semua kritik dan saran—jangan flame ya :')—bisa dituangkan di kolom review. Terimakasih!
