Chapter 2.
Happy Reading!
.
.
The Truth ::::::::
Hiruk pikuk suasana pagi hari menyapa. Memberikan beberapa rasa untuk setiap insan yang ada di bumi. Masih seperti hari-hari yang lalu, kediaman keluarga Kim nampak sangat tenang pagi ini. Ya, dikarenakan ini masih terlalu pagi untuk menjalankan aktivitas. Maka, inilah yang terjadi. Keadaan rumah yang tenang dan damai, seolah-olah tak pernah ada perselisihan di dalamnya. Tak tahukah jika itu bukanlah yang sebenarnya?
Matahari berangsur-angsur mulai menampakkan diri dan mulai memijak pada pijakan yang lebih tinggi, itu menandakan setiap insan harus memulai aktivitasnya dan bangun dari tidur lelapnya.
Kediaman itu, nampak mulai terlihat ramai. Dengan dihiasi beberapa teriakan atau rengekan dari si bungsu keluarga tersebut; Kim Kyuhyun.
"Heechul Hyung, buatkan aku susu"
"Kibum Hyung, berhentilah bersikap dingin. Awali harimu dengan senyuman"
Begitulah Kyuhyun, selalu ingin mencari perhatian dari kedua Hyungnya. Berusaha sekuat tenaga merubah segalanya menjadi indah, bahkan sekalipun ia tak mampu, ia akan tetap mencoba.
Namun ada seseorang yang tak pernah Kyuhyun berbuat manja kepadanya, seorang Hyungnya yang lain. Hyung yang malah ingin selalu ia lindungi tak tahu mengapa. Terlalu begitu banyak hal sepertinya yang disembunyikan seorang Hyungnya tersebut darinya. Ingin membantu? Tapi apa yang bisa ia bantu. Maka inilah Kyuhyun, yang hanya melakukan apa yang ia pahami saja.
.
.
"Eomma… jangan tinggalkan Hae"
Sekelibat bayangan masa lalu melintas di memorinya, mengusik tidurnya dan mimpi indahnya. Maka inilah ia, bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Dengan dipenuhi keringat di dahinya, namja tersebut akhirnya berhasil membuka matanya dan terduduk di atas ranjangnya.
Rasa sakit seketika menyeruak masuk ke dalam kepalanya, saat serpihan demi serpihan kenangan itu muncul kembali. Namja tersebut hanya bisa menggenggam selimut yang tengah menutupi sebagian tubuhnya dengan erat, hanya untuk pelampiasan rasa sakit tersebut.
Ia sendirian…. sekalipun terdapat banyak orang di sekitarnya, ia tetap merasa kesepian. Entah kenapa….
Rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang, maka dengan segera namja tersebut turun dari ranjangnya dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah.
Setelah selesai membersihkan diri dan memakai seragam sekolahnya, namja tersebut pergi keluar dari kamarnya dengan maksud ingin menemui sang eomma sekalian ingin sarapan pagi dengan anggota keluarga lainnya.
Ia melangkah dengan perasaan ragu, berpikir tentang apalagi kini reaksi yang akan 'mereka' berikan jika melihat keadaan mukanya yang seperti ini. Marahkah? Khawatirkah? Atau justru tidak perduli? Entahlah, ia akan segera mengetahui jawabannya.
Namja tersebut melangkah melewati kamar si bungsu Kyuhyun, ya, memang kamarnya dengan kamar Kyuhyun bersebelahan; terletak di lantai 2. Namja tersebut berhenti sejenak di depan pintu kamar Kyuhyun. Ditatapnya nanar pintu kamar tersebut. Namun tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan menampilkan seseorang yang sudah ia kenal tentunya.
"Kibummie"
Satu panggilan ia berikan kepada orang tersebut, seseorang yang nyatanya adalah adiknya. Ia tersenyum begitu hangat kepada sosok yang ia panggil Kibummie tersebut, mungkin dengan harapan sosok tersebut membalas sapaannya. Namun semua itu mencelos dari harapannya, setelah melihatnya sekilas, sosok Kibum pergi berlalu dari hadapannya tanpa memberikan reaksi apapun.
"Kyuhyun, dimana buku matematikanya? Aku sudah mencari di kamarmu"
Ia melihat Kibum melangkah menuruni anak tangga, ia juga mendengar seruan Kibum kepada Kyuhyun.
'Sekali lagi ini yang aku dapat'
.
.
Nyonya Kim masih terlihat sibuk, berlalu lalang dari dapur-meja makan untuk menyiapkan sarapan putra-putranya sebelum mereka semua memulai aktivitasnya. Nampak sangat melelahkan, mengingat umurnya memang sudah tidaklah semuda dahulu. Namun dirinya sangat-sangat bahagia melakukan rutinitas ini setiap pagi, terlebih si bungsu Kyuhyun yang selalu membantunya menata makanan di atas meja atau sekedar menyomot beberapa bagian dari sarapan itu.
"Ya! Kyuhyunnie… itu sangat menjijikkan. Kau mengambil makanan secara bebas dengan tanganmu yang kotor itu eoh?"
"Apa? Kau bilang kotor Hyung? Kau bilang tanganku kotor? Kau mau tahu seperti apa keadaan tanganku jika benar-benar kotor eoh?"
Heechul, anak tertua sekaligus anggota keluarga yang paling suka kebersihan itu angkat bicara setelah ia sudah tidak tahan melihat adiknya; Kyuhyun, yang terus saja mengambil sarapan mereka pagi ini dengan tangan bebasnya itu. Tanpa menggunakan sendok, padahal sudah banyak sendok ada di sana. Namun tetap saja Kyuhyun tak mau menggunakannya.
Maka inilah Heechul yang berlarian kesana kemari mencoba menghindari kejaran Kyuhyun yang ingin berbuat usil kepadanya setelah ia menegur bocah itu.
"Ya! Shireo. Jauhkan tangan kotormu itu Kyu"
Kyuhyun terus saja mencoba menyentuh Hyungnya tersebut dengan tangan bekas ia mengambil makanan tadi, tanpa mencuci tangannya terlebih dahulu. Kyuhyun memang sengaja, ia ingin menunjukkan bagaimana keadaan tangannya yang kotor dalam arti sebenarnya.
"Kyuhyun, dimana buku matematikanya? Aku sudah mencari di kamarmu"
Sebuah suara lain masuk ke gendang telinga Kyuhyun, namun bagaimana reaksinya? Tidak perduli. Hingga suara lain pun datang, sebuah teguran dari eommanya.
"Kyuhyunnie, jangan mengganggu Hyungmu chagi."
Sang eomma hanya berdecak melihat anaknya yang satu itu, anak yang selalu bertingkah jahil dan manja diwaktu bersamaan walaupun dirinya sudah duduk di bangku SMA.
"Kim Kyuhyun, cuci dulu tanganmu sebelum menyentuhku. Kau tahu itu sangat kotor dan banyak bakterinya."
Panik menghinggapi wajah Heechul tatkala dirinya sudah merasa terpojok dan tak bisa berlari lagi sedangkan dilihatnya Kyuhyun yang semakin mendekat ke arahnya, tak lupa senyuman evil terpatri di wajah chubby dongsaengnya tersebut.
"Ayolah, tak seburuk itu Hyungiiee~"
Kyuhyun mengeluarkan nada manjanya namun di telinga Heechul itu terkesan seperti suara Dewa Iblis yang paling Evil. Hingga beberapa saat kembali suara eommanya masuk ke gendang telinganya.
"Donghae chagi, sini duduk. Mari kita makan bersama"
Setelah mendengar itu, tanpa angin dan tanpa hujan Kyuhyun segera berhambur kembali ke meja makan secepat mungkin dan menghentikan aksi jahilnya. Padahal Kyuhyun bukanlah tipe orang yang terbilang tidak-akan-berhenti-mengerjai-walau-sang-korban-nangis-darah-sekalipun. Hingga Heechul, Tak henti-hentinya bersyukur karena terbebas dari kejahilan sang pangeran Evil untuk kali ini.
"Pagi Hae Hyung…."
Senyuman manis ia berikan kepada Hyungnya tersebut dan kemudian ia jatuhkan tubuhnya di kursi tempatnya sendiri.
"Pagi Kyu…"
Donghae, juga ikut tersenyum mendapat sapaan dari dongsaengnya tersebut. Maka segeralah ia juga ikut terduduk di samping Kyuhyun lantaran semuanya juga sudah siap di tempat masing-masing; terkecuali Heechul, yang nampak berjalan menuju tempat duduknya.
"Hae Hyung, wae geurae? Apa yang terjadi dengan wajahmu eoh?"
Kyuhyun terkejut mendapati keadaan wajah salah satu Hyungnya tersebut dalam keadaan yang cukup memprihatinkan, beberapa luka lebam dan sobek menghiasi wajah tampan Hyungnya tersebut.
Seketika itu juga yang lain terkecuali Nyonya Kim, ikut memandang wajah Donghae setelah mendengar ucapan Kyuhyun. Hanya beberapa saat, kemudian keduanya –Heechul dan Kibum- acuh dan tak perduli.
Namun Kyuhyun masih menuntut jawaban dari sang Hyung, sedangkan Donghae sang pelaku utama, hanya diam dan menundukkan wajahnya; berusaha menyembunyikannya dari Kyuhyun. Hingga Kyuhyun tak sabar dan segera berdiri menghampiri Donghae. Ia tarik wajah sang Hyung agar menghadap ke arahnya.
"Nugunde?"
Donghae akhirnya menatap Kyuhyun.
"Maksudmu?"
"Siapa yang melakukannya Hyung?"
Kyuhyun kesal dan tak sengaja hampir memarahi Donghae. Sedangkan Donghae sendiri kembali memalingkan wajahnya dari sang dongsaeng. Kyuhyun hanya menatapnya, membuat Donghae semakin salah tingkah. Hingga selanjutnya sang eomma membuka suara dan mencairkan suasana tegang di sana.
"Sudahlah Kyu, cepat kembali duduk dan kita lanjutkan sarapan pagi kita. Nanti kau terlambat, terlebih Heechul hyungmu"
Teguran sang eomma mau tak mau membuat Kyuhyun kembali ke tempat duduknya. Sarapan pagi di keluarga Kim pun berlangsung dengan suasana canggung. Hingga tak lama Kim Heechul beranjak berdiri.
"Aku sudah selesai. Kibum, Kyu, cepat selesaikan makan kalian jika ingin menumpang di mobilku"
Heechul beranjak dari meja makan menuju kamar tidurnya untuk mengambil peralatan kerjanya. Kini ruangan itu hanya menyisakan 4 orang yang tetap masih berdiam diri satu sama lain. Nyonya Kim yang merasakan suasana seperti ini tidaklah nyaman kemudian membuka suaranya kembali.
"Hae… kau juga boleh ikut menumpang di mobil Hyungmu chagi bersama Kibum dan Kyuhyun. Kau jangan berkecil hati atas ucapan Hyungmu tadi."
Mendengar ucapan sang eomma tersebut. Kim Kibum, berdehem cukup keras. Seolah tak setuju dengan ucapan sang eomma. Donghae yang mendengar itu mengerti, dan angkat bicara.
"Ne eomma, arrayo. Tapi aku lebih suka naik bus eomma, lagipula ada seorang chingu yang sudah menungguku."
Donghae berbohong kepada eommanya. Setelah itu ia segera berdiri dan berpamitan kepada eommanya, juga ia segera mengambil tas punggungnya yang ia letakkan di atas kursi yang tadi ia duduki.
Donghae mengetahui jikalau Kyuhyun memandanginya mulai dari ia angkat bicara tadi sampai ia berpamitan kepada sang eomma. Bahkan saat ia berjalan menuju ambang pintu sekalipun, Kyuhyun masih memandanginya.
'Mianhae Kyu'
.
.
Tak ada yang ingin hidup sendiri di dunia ini, namun jika itu memungkinkan. Maka itulah memang seharusnya yang bisa kau pilih. Tak ada mereka, orang yang mempunyai ikatan darah denganmu bukanlah sebuah alasan yang membuatmu menjalani hidup dengan sia-sia. Masih banyak orang yang sebenarnya perduli namun tak menunjukkan kepeduliannya padamu secara gamblang.
Kembali, jalan yang sama seperti hari-hari sebelumnya ia lewati. Ia menarik nafasnya sesekali karena dirasanya luka di wajahnya masih sedikit sakit akibat kejadian kemarin.
"Huftt, ternyata sakit juga. Aku pikir tidak akan sesakit ini."
Ia sentuh beberapa bagian wajahnya yang terdapat luka tersebut.
"Lee Donghae chagi, maafkan eomma."
Ingatan itu kembali datang, menyerbu beberapa ruang di dalam otaknya. Ia pegang kepalanya yang entah mengapa selalu terasa sakit jikalau ingatan itu kembali datang.
Ia termenung, dan menghentikan langkahnya untuk ke halte bus.
"Mengapa peristiwa itu juga menyakitkan, bahkan lebih perih dari luka-luka di wajahku ini."
Ia menerawang jauh ke kejadian beberapa tahun silam. Kejadian yang tak akan mungkin bisa hilang dari ingatannya sekalipun ia menginginkannya.
Hingga tak dirasanya seseorang datang dari arah yang sama saat ia datang tadi.
"Kim Donghae!"
Dan dengan hitungan yang hanya diketahui oleh orang tersebut, orang tersebut mengejutkan Donghae yang terlihat sedang melamun.
"Aish Hyung! Bisa tidak kau tidak berbicara tepat di telingaku, itu sakit. Arrasseo?"
"Ne arra, mian"
Seorang namja bername tag Lee Sungmin tersebut hanya mengeluarkan sebuah cengiran kepada sahabat sekaligus hoobaenya di sekolahnya tersebut, yang hanya mendapat omelan dari sang korban.
"Mianhae, hae. Lagipula sedang apa kau melamun di pinggir jalan begini eoh? Ingin tebar pesona kepada para yeoja? Aigoo…"
Mereka berdua nampak melanjutkan perjalanan mereka untuk ke halte bus.
"Siapa yang sedang tebar pesona Hyung, kau jangan asal menuduh."
"Lalu apa hmm? Berpose cool di pinggir jalan, begitu?"
"Aish, nampaknya kepabboan Hyukjae sudah menular kepadamu Hyung. Ck ck ck."
"Aniya. Oh ya, ngomong-ngomong soal Hyukjae. Apa dia sudah memberi kabar tentang apa yang harus kita perbuat setelah kejadian kemarin?"
"Molla, sampai saat ini dia belum meneleponku. Mungkin dia masih menyusun strategi untuk tindakan balas dendam kita akibat kekalahan kita kemarin."
"Aku pikir juga begitu. Ah, apa lukamu sudah sembuh?"
Sungmin memandangi wajah Donghae.
"Lupakan, lagipula ini tak ada artinya jika dibandingkan dengan harga diri kelompok kita yang sudah di injak-injak kemarin. Kau sendiri bagaimana Hyung, apa sudah sembuh?"
"Pabbo, aku ini jago martial art. Walaupun kemarin kelompok kita kalah, namun aku tak mendapat luka sedikitpun di tubuhku."
"Sombong sekali."
"Haha, sudahlah ayo kita berangkat. Bus sudah datang, aku juga ingin melihat keadaan Hyukjae dan yang lain."
Donghae dan Sungmin akan segera menaiki bus mereka, namun handphone Donghae bergetar. Donghae pun mengangkatnya.
"Yeoboseyo?"
Seketika itu juga Donghae menghentikan langkahnya untuk menaiki bus, padahal kakinya sudah menginjak satu anak tangga bus. Entah kenapa raut wajah Donghae berubah menjadi tegang setelah mendapat panggilan tersebut. Hingga kemudian ia bergegas menaiki bus dan menghampiri Sungmin yang sudah terlebih dahulu duduk di dalam bus.
"Hyung, hari ini kita bolos. Ne?"
"Mwo?"
Sungmin mengkerutkan dahinya bingung dengan keputusan Donghae yang mengajaknya bolos sekolah hari ini. Pasti sesuatu telah terjadi, pikir Sungmin. Karena memang biasanya Donghae tak pernah membolos; walaupun ia bukanlah siswa yang rajin di sekolah, jika itu tidak menyangkut hal yang penting.
"A.. ada apa.."
Sungmin menjeda ucapannya.
"Dengan Hyukjae?" lanjut Sungmin kemudian.
Donghae hanya memandang Sungmin tanpa bersuara, hingga detik berikutnya Sungmin mendelikkan matanya seolah terkejut. Ia sudah tahu pasti apa yang terjadi walaupun hanya melihat tatapan Donghae.
"Yeoboseyo?"
"Donghae, ini gawat. Kelompok mereka menyerang Siwon petang tadi. Jadi kau dan Sungmin Hyung harus datang ke tempat kita sekarang. Kita susun strategi bersama untuk membalas perbuatan kelompok tersebut. Palli!"
^.To Be Continue.^
Muwehehe… I'm back Readersdeul *Keluar dari cangkang ddangkoma* #Abaikan
Bagaimana, apa chapter ini terlalu pendek? Apa membosankan? Aku harap engga sih #Plak.
Maaf untuk keterlambatan update, dikarenakan saya harus fokus dengan tugas dan ujian. *poor me*
Okeh saya gak mau banyak bicara cuman pengen mengucapkan terima kasih kepada yang udah Review di chapter sebelumnya :
~ Dazelf, nnaglow aka NaaFa-nnaglow, hwangkyu, Awaelfkyu13, erka, Secret, MingKyuMingKyu ~
Terima kasih juga untuk yang udah Fav dan Follow Fict ini *gamsahae ^^ *
Yang terakhir, sampai ketemu di chapter selanjutnya. Dan minta Reviewnya lagi boleh? ~^_^~
