Antagonist
…
Cast : Namikaze Naruto – Uchiha Sasuke
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Family
Rating : Mungkin T sampai M
…
Summary : Namikaze naruto adalah seorang psikiater yang jatuh cinta dengan pasiennya.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : Yaoi, BOY X BOY, NaruSasu, Disini Sasuke tetep cowok meskipun penggambaran character nya dia cewek. Aku buat seperti itu karena berhubungan dengan masa lalu sasuke.
…
Happy Reading ~
…
Kurasakan sinar matahari yang menembus kamar rawatku. Kukerjapkan mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam mataku. Kubuka tirai jendela untuk membiarkan semua cahaya masuk kedalam ruangan. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku serta mengganti piyama yang kupakai semalam dengan dress putih selutut. Kurapikan hilai rambutku yang panjang sepinggang dan mengikatnya ekor kuda. Kualihkan pandanganku ke pintu saat kedengar ketukan yang berasal dari sana.
"Masuk" kataku mengijinkan seseorang yang ada di balik pintu.
Kulihat seorang pemuda dengan surai pirang berantakan namun terkesan rapi menyembul dibalik pintu. Tubuhnya yang tegap mengenakan jas dokter yang terlihat sangat menawan di pakainya. Mata blue ocean yang tersembunyi di balik bingkai kacamatanya serta kulit tannya mampu membuat siapa saja terjerat oleh pesonanya.
'Tampan'.
"Ohayo. aku Namikaze Naruto, dokter baru yang akan menggantikan dokter Tsunade" katanya dengan senyum lima jari yang menawan. "Boleh aku tau siapa namamu, Princess?".
TWITCH
"Jangan pernah memanggilku Princess, DOBE" desisku tajam.
TWITCH
"Apa yang kau bilang TEME" katanya syarat akan kekesalan.
"Selain DOBE ternyata kau juga TULI ya" tekanku pada kata 'Dobe' dan 'Tuli'
"T.E.M.E" desisnya tajam.
TWITCH
"Ada apa D-O-B-E"
"Berhenti memanggilku Dobe, Teme"
"Kalau begitu jangan panggil aku princess dobe" dengusku kesal.
"Kau benar-benar wanita yang aneh teme".
TWITCH
"Seharusnya wanita itu akan senang bahkan tersipu saat ada seorang pria tampan sepertiku memanggilnya 'Princess' teme" katanya percaya diri.
TWITCH
Kurasakan urat kekesalankanku hampir putus mendengar ocehannya. Kutarik kembali kata 'tampan' yang sempat keluar dari mulutku, dokter baru ini benar-benar berisik serta menyebalkan.
"Bisa kau hentikan ocehanmu itu dobe, ocehanmu sungguh membuatku sakit kepala" kataku sambil memijat pelipisku.
"Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak memanggilku 'dobe' teme !" kau itu wanita tapi lidahmu benar-benar pedas ya…"katanya bersungut-sungut.
TWITCH
"Berhenti. Menyebutku. Wanita. Dobe, Aku. Ini. Pria" tekanku di setiap suku katanya.
"E-eh?" katanya tak percaya.
"Kau tak percaya dobe?" kataku sambil menarik tangannya menuju dadaku, kubiarkan tangannya meraba-raba dadaku.
"E-eeeeh!" katanya terlonjak.
"Kau masih tak percaya dobe? Apa perlu kubuktikan dengan hal lain?" dengusku sebal.
"T-ttidak perlu. I..it..tu benar-benar Er-rr..rata" tunjuknya padaku.
"Sekarang kau percaya kalau aku seorang pria" kataku datar.
"Y-ya, tapi kau menipuku" tuduhnya padaku.
"Bukannya aku bermaksud untuk menipumu. Tapi aku yakin. Karena ke DOBE-an mu itu kau belum membaca informasi yang diberikan wanita tua itu padamu" jawabku sakartik.
"Aku tertipu. Lagipula aku tidak sebodoh yang kau pikirkan, aku tidak membaca kertas-kertas itu karena pendekatan terbaik adalah bertanya langsung kepada pasien" katanya dengan senyum lima jari andalannya.
"Hn" aku hanya memutar bola mataku bosan.
"Mari kita mulai. Jadi, boleh kutahu apa keluhanmu princess?"
TWITCH
"Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak memanggilku 'PRINCESS'!
"Well itu akan terjadi jika kau juga sepakat untuk tidak memanggilku DOBE, Princess. Kenyataannya kau juga belum memberitahukan siapa namamu, princess"
"Uchiha Sasuke" kataku singkat.
"Jadi?"
"Jadi?" ulangku membeo.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, teme"
"Jika kau ingin tahu maka bacalah kertas-kertas itu. Pergilah. Saat ini aku tak membutuhkanmu, kau bisa mengurus pasienmu yang lain. DOBE" ucapku mengacuhkannya.
"Tap—" Jawabnya terputus saat seorang suster masuk kedalam ruang rawatku.
"Maafkan aku Namikaze-san, tapi ini sudah waktunya untuk mengganti perban Him— maksudku Sasuke-san" katanya terputus saat aku mendelik tajam kearahnya.
"Kau tak perlu seformal itu padaku, Hinata-Chan. Panggil saja Naruto seperti biasa" katanya sambil mengedipkan mata kearah suster bernama Hinata.
"Na-naruto-kun. Eum…bisakah kau keluar, Sasuke-san sangat tidak suka jika ada orang lain yang melihatnya saat perbannya di ganti" katanya gugup.
Aku hanya mengangkat sebelah alisku melihat adegan roman picisan yang di suguhkan di hadapanku ini.
"Well…Sampai bertemu lagi, Princess Sasu-Chan" katanya sambil menyeringai kearahku.
TWITCH. TWITCH. TWITCH.
Hawa gelap langsung saja mendominasi auraku. Cukup. Pria ini benar-benar ingin mati. Kuambil gunting yang di bawa Hinata, langsung saja kulemparkan gunting itu kearah kepala kuning dihadapanku.
'JLEB'
Nyaris saja benda tajam itu menancap pada si kepala kuning jika saja sang pemilik kepala tidak segera keluar dari ruangan.
"S-sas-sasuke-san, kau membuat luka jahitanmu terbuka" katanya takut-takut.
Tak kuhiraukan darah yang mengalir dari lukaku yang terbuka, pandanganku masih setia menatap tajam pada pintu yang menelan sosok si kepala kuning.
"Hari ini pun bertambah ya..." katanya sendu.
"…"
"Ne, sasuke-san apa perlu aku membiusmu ketika menjahit lukamu yang terbuka ini?" katanya sambil mengganti perbanku dengan yang baru.
"Tidak perlu, aku bisa menahannya" jawabku datar.
"Ba-baiklah, tolong katakanlah jika ada yang sakit maka aku akan menghentikannya" katanya canggung.
Kugigit bibirku saat kurasakan perih dan nyeri saat luka itu di jahit kembali oleh Hinata.
"Hinata" panggilku padanya.
"Ya Sasuke-san, apa ada yang sakit?" tanyanya khawatir.
"Tidak, bukan itu alasanku memanggilmu"
"Lalu?" tanyanya sambil menjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.
"Sepertinya, kau dekat sekali dengan dokter baru itu. Apakah kalian sepasang kekasih?" Tanyaku menyelidik.
"Ma-maksudmu Naruto-kun. Ti-dak kami bukan sepasang kekasih, kami hanya teman masa keci" katanya gugup.
"Hn" jawabku sekenanya.
"Naruto-kun adalah pemuda yang ramah dan hangat, aku yakin Naruto-kun bisa membantu untuk menyelesaikan masalah yang ditanggung Sasuke-san selama ini" ucapnya disertai dengan senyum penuh keyakinan.
"…"
"Sasuke-san boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanyanya takut-takut.
"Hn?"
"Kenapa kau selalu menahan rasa sakit itu sendiri?"
"Agar aku bisa merasakan sakit yang pernah dialaminya"
"Jika hal itu yang Sasuke-san inginkan maka aku tidak bisa melarangnya. Namun, sebagai temanmu aku tidak ingin Sasuke-san terus terbelenggu dalam masa lalu" ungkapnya sambil tersenyum lembut ke arahku.
"…"
"Nah…sudah selesai, jangan lupa makan dan minum obatmu. Tubuhmu masih lemah dan perlu banyak istirahat" pesannya sebelum pergi.
"Darah"
"Cairan merah pekat itu hampir mendominasi seluruh ruangan"
"—Hen…tikan. Kumo…hisk...hon…hisk…hen..ti…hisk…kan…"
"Kau tak perlu memaafkanku…UHUK….apapun yang akan kau lakukan…GOKH…aku akan tetap menyayangimu…"
"Bangun…"
"Jangan pergi…"
"Jangan tinggalkan aku sendiri…"
"Kumohon…"
"Aku menyayangimu Suke…"
'Ah…hanya mimpi' kuedarkan pandanganku kesekeliling ruangan. Tetap sama. Sepertinya aku tertidur karena tak kuasa menahan sakit di sekujur tubuhku. Kurenungkan kembali mimpi yang selalu menghantui tidurku, dan semua itu hanya tertuju pada satu pertanyaan 'Apakah salah jika aku menahannya sendiri dan terus terbelenggu dalam rantai masa lalu?'. Kulangkahkan kakiku menuju taman favoritku untuk menenangkan pikiranku yang berkecamuk penuh dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Namun, baru selangkah aku berjalan kurasakan seseorang yang menggenggam tanganku erat untuk mencegahku melangkah lebih jauh. Emosiku memuncak saat kulihat siapa orang yang berani menghentikan langkahku.
"Apa yang kau inginkan dobe?" tanyaku basa-basi.
"Jangan marah. Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, kudengar dari Hinata-chan kau belum menyentuh sarapan pagimu sama sekali" jawabnya sambil tersenyum menenangkan.
"Aku tidak lapar dobe" jawabku keras kepala.
"Apakah kau tidak lihat tubuh lemahmu ini? Ini membuktikan bahwa kau benar-benar membutuhkan asupan makanan teme" katanya menasehatiku.
"Aku tidak lemah dobe, Jadi lepaskan aku dan biarkan aku pergi" kataku semakin keras kepala.
"Tidak akan sebelum kau menerima tawaranku" desisnya tajam.
"Baiklah" kataku mengalah.
Kuputuskan untuk menyerah karena kurasa berdebat denganya akan memakan waktu yang lama serta hasil yang juga percuma.
"Oji-san aku ingin ramen miso dan ocha dua" pesannya kepada penjual di kantin rumah sakit tanpa persetujuan dariku.
"Aku tidak suka ramen dobe" kataku dingin.
"Kenapa? Apa kau sedang diet, princess? Tenang saja, satu ramen tidak akan membuat berat badanmu melonjak drastic" katanya penuh percaya diri.
"He..h" Aku hanya bisa menghela nafas pasrah untuk menanggapi pernyataannya.
"Kau benar-benar terlihat seperti mummy dengan balutan perban dimana-mana" dengusnya geli.
"Apa kau mengejekku dobe?"
"Tidak. Hanya saja aku sedang mencoba terbuka dengan salah satu pasienku. Apakah usaha berhasil?" tanyanya padaku.
"Dalam mimpimu Dobe" jawabku sakartik.
Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Pria kuning ini makan dengan lahapnya dan meninggalkanku sendirian yang masih menatapnya tak percaya. Kuputuskan untuk mengikutinya makan tapi kulihat bercak darah yang merembes dari telapak tanganku yang di perban. Gawat, sepertinya aku membuat luka jahitanku terbuka kembali saat kupaksa untuk menggunakan sumpit.
"Kenapa kau hanya memandangi makananmu?" tanyanya heran.
"Bukankah sudah kubilang bahwa aku benar-benar tidak lapar dan membenci ramen" kataku berbohong.
"Aku tahu kau berbohong, tak bisakah kau katakana sejujurnya?" desaknya.
"Aku tidak bohong dobe" elakku.
"Kau meragukanku sebagai psikiater?" tanyanya.
Aku benar-benar lupa bahwa dia seorang psikiater, jika seperti ini mengelakpun akan menjadi usaha yang sia-sia. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya tentang keadaanku.
"Apa kau lupa jika tanganku diperban? Bagaimana aku bisa makan dengan keadaan seperti ini?" ungkapku jujur sambil menyembunyikan lukaku darinya.
"Maafkan aku, aku lupa tentang hal itu. Sebagai permintaan maafku, aku akan menyuapimu. Sekarang buka mulutmu dan katakan 'aaa' !" katanya syarat akan penyesalan.
Makan siang itu berakhir dengan dia yang menyuapiku dengan lembut dan sangat berhati-hati, seolah-olah aku adalah boneka porselen yang mudah pecah. Aku benci keadaan seperti ini, aku bukan gadis lemah yang harus dilindung. Meskipun aku hanyalah manusia buatan, tapi aku juga seorang uchiha yang memiliki harga diri tinggi. Setelah makan siang selesai kuputuskan untuk melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda tadi. Tempat ini benar-benar tenang dan dapat menjernikan pikiranku. Kulangkahkan kakiku untuk memetik bunga mawar merah yang sedang mekar dengan indahnya. Belum sempat tanganku menyentuh tangkai berduri itu, tiba-tiba pandanganku mengablur.
'Merah….yang kulihat hanya warna merah'
"Dimana aku? Apakah ini mimpi?"
'Kubangkitkan tubuhku yang sempat terduduk saat pandanganku menganblur'
"Merah. Mengapa warna merah ini mengingatkanku pada darah?"
'Kulangkahkan terus kakiku untuk mencari jalan keluar. Namun, situasi berganti di ruangan dalam sebuah Manshion'.
"Bukankah ini…Tidak, tidak mungkin. Aku pasti berhalusinasi"
'Kulihat sebuah bayangan yang melintas di depanku. Karena penasaran, mau tak mau kuikuti bayangan itu. Aku merasa familiar akan sosok bayangan itu'
"Jangan-janga….Apaka itu kau…?"
"Tunggu…"
"Kumohon berhenti…"
'Sedikit lagi…ya…tinggal sedikit lagi aku bisa menggapainya'
"Akhirnya aku bisa menggapai—"
BYUURR
"—mu"
'Kurasakan tubuhku terhempas kedalam air. kubuka mataku dan kulihat bayangan matahari yang memantul kedalam air, kucoba untuk meraihnya namun semakin lama semakin jauh. Sesak, semakin banyak air yang mulai masuk kedalam paru-paruku'
"Apakah aku akan mati…."
TBC
Note:
Kalau masih ada yang penasaran sama penggambaran sasuke di ff ini, kalian bisa lihat avatarku soalnya rambutnya sasuke disini hampir mirip sama kayak di avatarku.
Makasih minna buat yang udah baca serta ngeriview sama nunggu ff ini.
: ini Narusasu bukan NarufemSasu, aku juga udah tulis di warning kalau ini itu boys love kok, Cuma penggambaran sasuke aja yang aku buat kayak cewek soalnya berhubungan sama masa lalunya.
Sibolis Nauli. Hrs / AyaKira SanOMaru / EthanXel : aku usahain cepet updatenya, ditunggu aja.
ClapJun / Naminamifrid : ini bukan fem sasu, ini yaoi kok
yassir2374 / fatayahn : kalian bener-bener bisa baca situasi dalam ceritanya.
