Setelah kejadian dimana Yoongi merenggut keperjakaan Jimin. Mereka menjadi lebih dekat, sering tidur bersama, dan melakukan hal-hal romantis layaknya pasangan pada umumnya.
Kadang ia akan mengumpat saat fakta jika Jimin adalah adik angkatnya seakan menampar dirinya. Tapi tidak masalah kan?
Toh, dia hanya adik angkat dan tidak memiliki hubungan darah.
Dan sepertinya ia bisa membuat kedua orang tuanya dapat menerima hubungan mereka.
Karena sebenarnya dari awal.
Mereka itu dijodohkan.
Suara rintik Hujan membuat lamunan Namja yang berdiri dibalkon kamarnya buyar. Ia segera masuk ke dalam, wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun. Tangannya yang berbalut kulit pucat meraih sebuah ponsel yang ia letakkan diatas nakas tempat tidur.
Angin yang berhembus dingin lewat ventilasi udara membuatnya agak bergidik. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya setelah membuat panggilan dengan salah satu kontak.
"Jimin disini. Ada yang bisa saya bantu?!"
Sudut bibirnya terangkat.
"Ya... Bisa bantu aku? Datanglah ke kamarku." Suara seraknya menjawab dengan seringai kecil mendengar Jimin memekik dari sana.
"Yoongi Hyung! Kau ganti nomor?" Suara Jimin terdengar seperti lonceng dalam gendang telinga Yoongi.
"Hn." Yoongi bergumam ambigu dan merebahkan diri pada ranjang kingsize miliknya. "Cepatlah datang ke kamarku sebelum aku datang kesana dan menyapa hole sempitmu."
Dapat dibayangkan olehnya Jimin yang memerah menggemaskan. Ia tertawa tanpa suara memikirkannya.
"Y-Ya! Dasar mesum! Lagipula kau itu kurang kerjaan sekali sih Hyung sampai-sampai menelponku..."
Alis Yoongi terangkat.
Duk... Duk... Dukk...
"Kamarku kan ada disamping kamarmu!" Yoongi melirik sekilas dinding yang ia yakini diketuk-ketuk Jimin. Matanya terpejam malas, ia pun berujar.
"Hn. Lima..."
"Baiklah aku datang aku datang."
"Empat..."
"Hyung berhenti menghitung!"
"Tiga..."
"Ah, sial Hyung! Aku sedang berganti baju! Hitung ulang!"
"Dua..."
"Hyungieee..."
"Satu..."
"Aku kesana..."
BRAKK!
Yoongi membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur. Ia menatap wajah manis yang kesal itu, seringai melengkung sadis, "Kau terlambat..." bisiknya pada ponsel.
Jimin merengut dirangka pintu. "Kakek tua menyebalkan." Pipinya menggembung kesal, Jika ditanya apa yang sangat ingin Jimin lakukan saat ini? Pasti dia menjawab.
"Aku ingin mencincangmu Hyung."
"Cincang saja. Membunuh semut saja kau langsung menangis." Ejek Yoongi mendekatinya. Ponsel ia selipkan ke dalam saku jeans yang dikenakannya. Ia masih melangkah maju.
"Kau bukan semut. Aku tidak akan menangis jika membunuhmu." Mata Jimin menyipit dengan aura permusuhan yang bagi seorang Min Yoongi sangat menggairahkan.
"Kau itu yaa..." Yoongi memeluk pinggang Jimin. Kepalanya bersembunyi diantara perpotongan leher Namja bermarga Park itu, mengendusi dengan antusias aroma vanilla menggoda yang menguar dari sana.
"Apa hitunganku tadi terlalu cepat hn?" Suara seraknya terendam, membuat Jimin kegelian dibuatnya.
"Sampai-sampai kau lupa membenarkan resleting celanamu..."
Jimin berkedip-kedip perlahan. Ia tidak peduli pada bibir nakal yang menempel mulai bergerak di leher putihnya. "Ngomong-ngomong warna biru muda cocok untukmu. Terlihat Cute dan lezat."
Kedip
Kedip
Jimin terbelalak. "Yaa!" Jeritnya menahan malu. Berarti Yoongi melihatnya. Tangan mungilnya mendorong dada Yoongi menjauh, membuat sang Dominan berdecak pelan karena kegiatannya diganggu.
Wajahnya semerah kepiting rebus. Pipi chubbynya terasa panas, Jimin berbalik memunggungi Yoongi. Ia menunduk, benar saja resleting itu belum mencapai tempatnya. Lalu dengan malu yang tidak bisa ditahan Jimjn mencoba membenarkan resleting celananya.
Sulit, macet dijalan. Tangan Jimin bergetar, gugup karena ia sadar seseorang dibelakang menatap intens dirinya.
Ia tersentak kaget kala punggung mungilnya bertabrakan dengam sesuatu. Itu dada Yoongi!
Jimin menutup matanya dengan keras.
Tangan Yoongi merayap diatas punggung tangannya. Menyingkirkan tangan mungil itu dari sana, "Bukan begitu caranya, Dear..."
Jimin menggigit bibir bawahnya, suara Yoongi terdengar tersengal. Dan jika ia tidak salah, seperti menahan hasrat. Gairah.
"Jika kau melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Kau akan gagal." Bisikan Yoongi membuat akal sehat Jimin terbang entah kemana. Sesuatu yang basah bergerak ditelinga belakangnya. Kemudian lumatan pelan pun terasa.
"Ugh..."
Tubuh Yoongi makin menempel. Lidahnya bermain diarea sensitive Jimin, telinga Namja mungil itu memerah sama seperti Wajahnya.
Ia merasakan sesuatu bergerak dibawah, resletingnya naik. Itu tangan Yoongi, "Begini kan yang kau inginkan?"
Jimin menelan ludah dan mengangguk cepat-cepat.
"Tapi..."
Sreeettt..
Syuuuuutttt...
"Hyung!"
Yoongi berjongkok dibawahnya setelah ikut menarik turun celana Jimin lalu melepasnya. Ia mencium kedua belah bongkahan kenyal Jimin yang masih berbalut kain segitiga biru itu. Jimin menggeliat. "...ini yang ku inginkan."
Tangan Yoongi mengelus kedua kaki Jimin yang lemas bergetar lembut. Naik ke atas dan semakin ke atas, hingga mencapai paha dalam Jimin.
Yoongi berdiri. Kembali memeluk Jimin, tangannya menutup Pintu berwarna putih itu sebelum akhirnya menguncinya.
"Aku membutuhkan holemu Honey..."
Kedua tangan Hyungnya menyusup masuk ke dalam kaos hijau yang dikenakannya. Jimin menahan nafas, tangannya mencoba menahan kedua tangan Yoongi.
"H-Hyung... J-Jangan... Eunghh.." Jimin sedikit memberontak.
Dan sebelum dirinya sempat berkedip, Yoongi sudah membalikkan tubuhnya dan mendorongnya ke pintu. Wajah Namja itu mengeras. "Kenapa menolakku Jim?!" Nada suaranya meninggi marah.
Jimin takut jika Hyungnya salah sangka, ia memeluk leher Yoongi. "B-Bukannya begitu Hyung.." Ia menyembunyikan wajahnya yang merah dibalik leher pucat Yoongi. "Yang kemarin saja masih sakit Hyung..." bisiknya sedikit manja.
Tubuh Namja yang lebih tua bergetar, tergelak mendengar ucapan malu-malu sang adik. Salahnya juga sih kemarin meminta 6 ronde bagi Jimin yang termasuk pemula.
Ia mengangkat kedua kaki Jimin agar mengalungi pinggangnya. Yang lebih mungil bergidik saat angin menerpa tubuh bagian bawahnya yang saat ini terekspos. "Dingiiinn~"
"Dingin? Temani aku tidur." Yoongi melangkah ke ranjang dengan Jimin yang masih digendongnya.
Dan hari itu, kedua pasangan manis ini menghancurkan dinding sekali lagi dan bersembunyi dibalik selimut tebal dengan saling memeluk satu sama lain.
Yoongi mengecup bibir mungil Jimin lalu memberikan lumatan lembut beberapa saat. "Lain kali kau harus membayarnya dengan 10 ronde Chim."
"Hyung mesum. Diam dan tidur."
"Baik sayang..."
.
.
THE END
ini udah di benerin...
