"Hyung! Kau lihat apa?" ujar Changmin yang tiba-tiba saja wajahnya berada didepan Jaejoong. Membuat namja cantik itu hampir terjungkal saking kagetnya akibat ulah gila sahabatnya itu kalau ia tidak cepat-cepat memegang meja.

"Gyaaaa! Shim Changmin! Bisakah kau tidak mengusiliku sehari saja?! Bagaimana kalau aku jatuh dan gegar otak, bodoh?!" omel Jaejoong yang langsung mengepalkan tinjunya saking kesalnya.

"Ya, makanya cepat beritahu aku siapa yang kau lihat, heum?" goda Changmin sambil menyikut pinggang hyung cantiknya.

"Bukan siapa-siapa" ujar Jaejoong yang langsung meneruskan acara makannya yang sempat tertunda karena terlalu asik menonton seseorang.

"Ayolah hyung, beri tahu aku. Aku janji tidak akan menggodamu setelah ini" ujar Changmin ngotot.

"Tidak mau" ujar Jaejoong acuh tak acuh sembari menyuapkan nasi dan cumi goreng pedas ke mulutnya dan menghiraukan Changmin yang terus mengoceh tak jelas. Sementara itu, Junsu terlihat masa bodoh dengan kelakuan Changmin. Namja itu memilih menekuni Shakespearenya dari pada mendengarkan rengekan Changmin.

Diam-diam, Jaejoong kembali melayangkan pandangannya ke arah pemuda yang duduk tak jauh dari bangku kantin tempat ia duduk sekarang. Dipandangnya namja tampan yang tengah sibuk bersendau gurau dengan ketiga temannya, namja bernama Jung Yunho yang dua minggu lalu Jaejoong selamatkan nyawanya tanpa sengaja.

Ya…..dua minggu telah berlalu begitu saja. Yunho mungkin tak akan tau jika penyelamat nyawanya adalah Jaejoong, tapi jauh didalam lubuk hati namja cantik itu, telah tertanam benih cinta yang membuatnya ingin memiliki Yunho. Namun….sepertinya itu hanya mimpi bagi Jaejoong. Yah, karena dia yakin Yunho tidak akan pernah mengetahui kalau penyelamat nyawanya adalah Jaejoong.

XoXoXoXo

Waktu menunjukkan pukul tiga sore, ketika seorang namja cantik terlihat tengah bersandar dibawah pohon eik sembari menikmati hembusan angina sore, ditemani sebuah buku dongeng dipangkuannya dan secangkir kopi. Sebuah buku berjudul Little Mermaid, yang yah tanpa kujelaskan untuk kedua kalinya kalian pasti sudah tau bagaimana isinya.

"Bolehkah aku duduk disini?" ujar seorang namja yang langsung mendudukkan dirinya bahkan tanpa persetujuan dari Jaejoong.

"Ne" ujar Jaejoong tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca.

Lama kedua orang itu terdiam dalam kegiatan masing-masing. Namja tadi yang tak lain adalah Jung Yunho tengah berdiam diri sambil memandang lurus ke depan, ke arah tepi hutan yang ditumbuhi ilalang lebat dan bunga-bunga liar yang berada di belakang kampus mereka. Sedangkan Jaejoong tetap asyik dengan kegiatan membacanya tanpa bergeming sedikit pun, meski sebenarnya ia sudah berkali-kali membaca dongeng tersebut namun entah kenapa dongeng tentang Little Mermaid alias Putri Duyung selalu menarik dimatanya dan tak pernah membuatnya bosan. Bahkan jika harus disuruh membaca novel romance atau dongeng ini, sepertinya Jaejoong akan tetap memilih untuk membaca dongeng ini.

Lain Jaejoong, lain lagi dengan Yunho yang mulai sedikit jengah dan tak tau harus berbuat apa. Dia sendiri juga sebenarnya tak tau kenapa dia bisa tiba-tiba pergi ke tempat ini. Padahal tadi niatnya dia ingin langsung pulang karena sudah mengantuk namun entah bagaimana jadinya ia bisa sampai kesini. Sesekali, ia melirik Jaejoong yang duduk disampingnya persis. Sebenarnya Yunho ingin sekali menyapa dan berkenalan dengan Jaejoong, tapi melihat betapa seriusnya namja cantik itu membaca bukunya membuat Yunho berpikir dua kali untuk mengajak bicara orang di sebelahnya karena takut mengganggu konsentrasinya. Tapi tidak mungkin jika Yunho pergi begitu saja dari sana. Itu akan terlihat aneh.

"Ehem…." Yunho berdehem pelan, mencoba mengalihkan perhatian namja cantik disebelahnya.

KLAP

Otomatis Yunho kaget seketika saat namja cantik disampingnya menutup bukunya dengan keras. Dia mulai berpikir jangan-jangan orang disebelahnya marah gara-gara dia mengganggu acara membacanya.

"Mianhe. Bukan maksudku untuk mengganggu acara membaca bukumu, tadi itu aku…."

Dan perkataan Yunho terputus begitu saja ketika melihat namja cantik disampingnya mulai melepas kacamata bacanya dan malah tersenyum manis ke arahnya.

"Gwenchana. Tidak usah panik begitu, aku menutup bukuku karena aku sudah selesai membaca. Harusnya aku yang meminta maaf karena menutup buku terlalu keras. Kau pasti kaget. Itu memang kebiasaanku jika sudah selesai membaca buku yang menurutku bagus" cerocos Jaejoong panjang lebar dengan santainya, mengabaikan Yunho yang terbengong sendiri karena tingkahnya. Nampaknya namja cantik ini belum sadar siapa yang tengah berada didepannya. "Kau baik-baik sa….ja?" suara Jaejoong perlahan melambat saat ia menolehkan wajahnya dan menyadari jika yang ada didepannya adalah Jung Yunho, pemuda yang waktu itu pernah ditolongnya.

DEG….DEG….DEG….DEG….

Secara otomatis, jantungnya berdebar kencang saat sepasang mata musang itu menatap langsung ke manik matanya. Dan Jaejoong sendiri sudah tak sadar jika sedari tadi ia sudah menahan nafasnya saat melihat wajah Yunho.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yunho sembari melambaikan tangannya didepan wajah Jaejoong yang membeku seketika.

PLUK

Yunho menepuk pelan pundak Jaejoong ketika namja cantik didepannnya itu tak juga sadar dari lamunannya. "Kau baik-baik saja?" tanya Yunho sekali lagi.

Dan saat itu juga Jaejoong sadar dari lamunannya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "N–ne, aku baik-baik saja" jawab Jaejoong. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya dari wajah Yunho. Matanya melirik kesana-kemari sebelum ia menjatuhkan pandangannya pada tasnya yang lusuh yang berada tak jauh didepannya. Jaejoong berani bersumpah kalau mukanya saat ini pasti memerah, mengalahkan warna buah cherry. Aigooo….bagaimana bisa aku melamun? Benar-benar memalukan! Pabbo!, rutuk Jaejoong pada dirinya sendiri.

Yunho yang tadinya hendak mengajak kenalan namja didepannya itu pun mendadak menjadi ragu. Dia mulai bertanya-tanya, jangan-jangan memang benar jika dirinya mengganggu keasyikan namja tadi. Huft. Kalau begini lebih baik Yunho pamit saja.

"Eung….kalau begitu….aku pamit pulang saja. Sepertinya aku mengganggu waktu luangmu" ujar Yunho yang kini mulai berdiri dan merapikan celananya yang sedikit kotor.

Namun baru saja ia hendak melangkah...

"Tunggu!" tiba-tiba sebuah tangan mulus nan ramping sudah melingkar dipergelangan tangan kanannya.

Baik Yunho mau pun Jaejoong kini sama-sama freeze. Terlebih Jaejoong yang kembali merutuki dirinya. Aish! Kenapa tingkahku jadi benar-benar memalukan seperti ini?, umpat Jaejoong dalam hati.

"Ne?"

"K –kau sama sekali tak menggangguku. Jadi….kau boleh tinggal disini" ujar Jaejoong tanpa berani memandang wajah Yunho sedikit pun. Dia merasa harga dirinya sudah benar-benar hancur sekarang. Seumur hidup baru kali ini Jaejoong bersikap err….manja? Dan parahnya lagi pada orang yang tidak ia kenal!

"Ah, terima kasih kalau begitu" ujar Yunho yang kini mulai kembali mendudukkan dirinya direrumputan lembab disamping Jaejoong. "Kenalkan, aku Yunho. Jung Yunho" ujar Yunho sembari mengulurkan tangannya pada Jaejoong.

"Jaejoong. Kim Jaejoong" balas Jaejoong, menjabat tangan Yunho tanpa menatap Yunho. Namja cantik itu masih betah memalingkan mukanya dari Yunho.

Dan sontak saja sikap itu membuat Yunho bertanya-tanya. Mungkinkah namja cantik didepannya ini membencinya? Perasaan Yunho baru pertama bertemu dengan Jaejoong. Jadi bagaimana mungkin dia bisa melakukan sesuatu yang menyebalkan yang membuat Jaejoong sakit hati?

"Apa ada yang salah denganku? Kau dari tadi terus memalingkan wajahmu dariku. Tenang saja, aku tidak akan berbuat jahat padamu" ujar Yunho. "Tapi ngomong-ngomong sampai kapan kau akan terus memegangi tanganku? Apa tanganku sebegitu berharganya hingga kau tak mau melepasnya?" goda Yunho memandang tautan tangan mereka sembari tersenyum jail.

Tanpa menunggu lebih lama, Jaejoong pun langsung melepaskan tangannya dari tangan Yunho.

1 menit

5 menit

10 menit….

Hingga akhirnya…..20 menit berlalu. 20 menit sudah mereka kembali berdiam diri tanpa kata. Yunho merasa sudah kehabisan akal untuk mengajak bicara namja didepannya ini. Sementara Jaejoong masih berusaha menetralkan jantungnya yang masih berdebar tak karuan setiap kali ia dan Yunho tak sengaja bertemu pandang. Alhasil, Jaejoong hanya berani mencuri pandang Yunho dari ekor matanya sembari mencabuti rerumputan didepannya.

"Sepertinya kau sangat suka membaca" ujar Yunho tiba-tiba memecah kesunyian.

Jaejoong menatapnya dengan pandangan tak mengerti.

Yunho mengedikkan kepalanya ke buku dongeng Little Mermaid yang berada dipangkuan Jaejoong. Jaejoong mengangguk paham sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Ani, dibanding membaca, aku lebih suka menyanyi dan bermain music" ujar Jaejoong.

"Kalau begitu pastilah kau mahasiswa jurusan seni music" tebak Yunho yang dibalas senyuman kecut oleh Jaejoong.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jaejoong terperangah.

Yunho mengedikkan matanya sekali lagi ke tas usang Jaejoong yang menampakkan sebagian isinya, salah satunya adalah buku dengan desain note balok yang menghiasi sampulnya yang mengintip keluar dari tas itu.

"Oh…." Jaejoong hanya membulatkan mulutnya sembari ber-ooh ria.

"Dan suaramu pastilah sangat merdu saat bernyanyi" lanjut Yunho kemudian.

"Kau terlalu banyak menggombal" balas Jaejoong sembari tertawa renyah.

Yunho cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Ani. Aku jujur. Saat bicara saja suaramu sangat indah, apalagi jika sedang bernyanyi" ujarnya.

"Ngomong-ngomong, apa kau mahasiswa seni juga?" Jaejoong balik bertanya pada Yunho. Ia memiringkan kepalanya sedikit sembari menunggu jawaban Yunho.

Dan pose Jaejoong yang seperti itu dimata Yunho sangatlah cute. "Ani. Aku mahasiswa jurusan Bisnis & Manajemen" jawab Yunho sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur saja, entah mengapa saat Jaejoong memandanginya dengan pose tadi Yunho jadi sedikit….gugup? Oke, Yunho! Tenanglah sedikit, tenang, batin Yunho mengkomando dirinya sendiri.

"Ngomong-ngomong, berapa umurmu?" tanya Jaejoong lagi.

"22. Kau sendiri?" Yunho balik bertanya.

"22 juga" jawab Jaejoong.

"Kita seumuran" ujar mereka berdua, nyaris bersamaan, kemudian keduanya pun tertawa, menertawakan ketidaksengajaan yang menurut mereka sedikit konyol sebelum akhirnya mereka kembali terdiam. Sebenarnya bisa dibilang suasana saat ini sangatlah romantis, mengingat dihadapan mereka sekarang tersaji pemandangan sunset yang sangat indah. Ditambah lagi dengan angin sore yang berhembus pelan, meniupkan serbuk sari bunga dandelion yang berwarna putih yang berada diantara lebatnya ilalang. Suasana yang sangat romantis jika saja kedua namja ini tak hanya berdiam diri tanpa tau harus mengatakan apa.

"Suasana yang indah kan?" ujar Yunho sembari memandang kea rah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan dengan serbuk putih bunga dandelion yang beterbangan menghiasi pemandangan didepannya.

"Ne" ujar Jaejoong yang entah sejak kapan sudah mulai memeluk kedua lututnya dan menumpukan dagunya diatas lutut sembari tangannya yang satunya ia tengadahkan ke udara, menangkap beberapa serbuk bunga dandelion yang jatuh ke telapak tangannya. "Sayangnya tidak semua keindahan bertahan lama, karena ini bukan dunia dongeng dimana keindahan akan bertahan abadi" lanjutnya kemudian. Ia tak sadar jika Yunho yang berada disampingnya sudah mengerutkan dahinya bingung.

"Nde?"

"Ani. Lupakan saja. Aku hanya asal bicara" jawabnya tanpa memandang wajah Yunho meski sebenarnya ia sangat ingin memandang wajah lawan bicaranya. Tapi bisa-bisa muka Jaejoong berubah sewarna kepiting rebus seketika hanya karena memandang wajah Yunho. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pulang dan malah kemari? Ah, jangan tersinggung. Aku hanya ingin tau dan tak berniat mengusirmu" ujar Jaejoong cepat-cepat ketika ia melirik ekspresi terkejut Yunho dari ekor matanya.

Yunho menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tidak mungkinkan ia menjawab 'aku datang kemari karena tak sengaja? Jawaban konyol macam apa itu?! Bisa-bisa Jaejoong menganggapnya orang tak waras. "Aku…." Ujar Yunho, entah mengapa lidahnya mendadak kelu. Breathe, Yunho, breathe, ujarnya pada diri sendiri saat ia menyadari jantungnya bertalu dengan kencang dan nafasnya seolah tercekat saat sepasang doe eyes didepannya memandangi wajahnya dengan intens, menunggu jawabannya tentu saja. Padahal mudah saja baginya untuk mengarang alasan." Sebenarnya aku tadi ada janji dengan temanku didekat sini, tapi karena dia tak kunjung datang jadi akhirnya aku memutuskan untuk kesini sebentar dan ternyata aku tak sengaja bertemu denganmu" ujar Yunho kemudian, tentunya setelah ia berhasil bernafas dengan normal dan berhasil memutus kontak mata dari sepasang doe eyes yang memabukkan itu. "Kau sendiri?" tanyanya kemudian.

"Aku kesini karena kelasku bubar lebih awal. Karena tak ada kerjaan jadi aku memutuskan untuk bersantai sambil membaca buku" ujar Jaejoong sembari mengangkat buku dongeng bergambar berjudul Little Mermaid.

Sedetik kemudian, Yunho langsung membungkam mulutnya untuk menahan tawa. Yang benar saja! 22 tahun dan masih suka membaca dongeng Little Mermaid? Oh. Itu kan dongeng untuk anak-anak!

"Aku tahu, mungkin bagimu ini sangatlah lucu. Namun ini adalah dongeng terakhir peninggalan ibuku sebelum ia menghilang entah kemana 15 tahun yang lalu, saat aku berusia 7 tahun" ujar Jaejoong. Bagaimana pun meski dia tertarik dengan Yunho, ah maksudnya jatuh cinta pada namja bermata musang itu, Jaejoong tetap lah tidak bisa menghilangkan perasaan tidak sukanya pada siapa pun yang berani mengejek dongeng kesukaannya.

Dan perkataan namja cantik itu sukses membungkam tawa Yunho. Ah, ani, tepatnya menghilangkan tawa diwajah Yunho karena saat itu juga perasaan bersalah langsung menyergapi hati Yunho. Seketika, dadanya langsung terasa sesak. Seolah ada batu besar tak nampak yang menghantam dadanya. "Maafkan aku. Aku benar-benar tak tau kalau dongeng itu sangat berharga bagimu" ujar Yunho sepenuh hati.

"Gwenchanayo. Sudah hal biasa jika orang-orang menganggap dongeng Little Mermaid itu untuk anak-anak. Lagi pula memang sudah sewajarnya namja seusiaku tak lagi membaca dongeng anak-anak" ujar Jaejoong sembari tersenyum menatap wajah Yunho. Yang entah mengapa, senyuman itu makin membuat Yunho tak enak hati. Padahal bukan itu maksud Yunho tadi.

"Ani. Itu selera setiap orang untuk membaca apa pun yang mereka sukai. Dan kita tidak bisa memaksakan kehendak orang, kan?" ujar Yunho kemudian, berusaha memerbaiki keadaan.

Jaejoong mengangguk pelan. "Ne, kita tidak bisa memaksakan kehendak orang" ujarnya sengaja mengulangi perkataan Yunho. Diliriknya jam tangan kulit berwarna cokelat yang terpasang manis di lengannya, jam tangan tahun 1970-an milik ayahnya semasa muda yang tetap awet hingga sekarang. Sudah pukul enam sore, batin Jaejoong.

Jaejoong pun kemudian memberesi bawaannya dan bangkit dari tempatnya duduk. Dan hal itu menarik perhatian Yunho. "Hei, kau mau kemana?" tanya Yunho saat Jaejoong tengah menyampirkan tasnya.

"Aku harus pulang sekarang. Rumahku tidak ada yang jaga. Mianhe" ujar Jaejoong sembari membungkuk sopan kea rah Yunho. Yunho tersenyum ramah sebagai tanda setuju. "Sampai jumpa lain waktu" lanjut Jaejoong sebelum melangkah pergi meninggalkan Yunho.

"Sampai jumpa lain waktu! Hati-hati dijalan!" teriak Yunho ketika Jaejoong sudah beberapa langkah dari tempatnya. Sampai jumpa lain waktu, Jaejoongie. Karena sampai kapan pun aku akan tetap menunggumu, ujar Yunho sembari menatap punggung Jaejoong yang semakin lama semakin mengecil sebelum akhirnya hilang dari pandangan matanya sepenuhnya.

TBC

Maaf readers, baru bisa lanjut dan sedikit pula. Saya benar-benar susah mencari waktu luang.

Gak banyak bicara deh, minta koreksi dan ketersediaan readers aja untuk review, ne? Yah, semacam support lah untuk saya Xd

Sign

Kim Fabia