Yaeh!!! Akhirnya chapter 2!! XD

Sorry late update… -_-

Janjinya lgsg dua chapter, tp… being the TOLOL-est person I am, aku nggak tau cara upload chapter baru.

(silakan kalau mau ketawa)

TOLOL BGT gak sih??! DX

Untung Niku-san mau Bantu… kalau nggak, chapter ini mungkin selama2nya gak bakal dipost. Akhirnya aku udah bikin sampai chapter 3 deh. Langsung aku post kok. X)

Oke, buat reviewers: (Cuma tiga jugaan)

Black-Cat-Yoruichi : Shiro-chan bukannya jadi ada dua… maaf aku nulisnya membingungkan… -__- di chapter ini kamu bakal tau kok apa yang terjadi dengan dia. Thx 4 reviewing!! X) Ini updatenya! Maaf telat!

ArdhaN: Yuppie. Aku juga ngiler2 ngebayanginnya… Heehe. Shiro-chan sengaja aku buat jadi tinggi(tambah besar lah pokoknya), biar semuanya jadi lebih gampang. Nggak banget kan kalau OCnya lebih tinggi dari shiro-chan? (emang sih lucu, jadi OCku bisa gangguin shirochan terus… hehe) Tapi ntar adegan2 romantis dan segala rupa yang aku rencanakan nggak bakal bisa terjadi dong? X) . Hmmm...masalah pekerjaan, aku yakin jaditambah hancur!!! Bwahahahaha! XD

Masalah typos, aku berusaha buat ngurangin, tapi kalau masih ada, ya apa boleh buat… 'manusia gak da yang sempurna…' aku cum abisa blg gtu.

Thx 4 d review! Here's chappie 2! XD

..Vaizard: Niku-san, thx udah membantu masalah update ku!! XDD Aku sangat sangat sangat berterimakasih! X)

Oh yah, btw, kok kalau di komp-ku dan fic2 lain, gak pake spasi kok kalau habis tanda petik. Maksudnya Niku-san tu gini kan? [ " XXXXXXX." ]Tapi kalau di MS word disalahin nulis kayak gitu… jadi chapter ini gak kuperbaiki.

Nah, sekarang, selamat menikmati chapter 2, & REVIEW!!!! XDD Sorry for typos!


Wintry Weather Rumble – chapter 2. here goes the trouble!


Aku menatap diriku.

Rambut merah panjang yang halus. Aku benar-benar bangga dengan itu dan banyak yang iri padaku, aku tahu, walaupun warnanya sedikit agak terlalu mencolok. Lalu, kulit putih pucat dari lahir yang kontras dengan warna rambutku, yang tidak bisa diubah ke warna yang lebih sehat tidak peduli sekeras apapun aku mencobanya. Tubuh yang terlihat mungil dan agak rapuh, aku akui dengan sebal, tapi tersimpan kekuatan di sana. Aku sangat tahu tentang itu. Mata berwarna crimson dan tegas, kini memancarkan shock seperti aku juga.

Tapi aku yakin itu bukan aku.

Ya. Aku yakin.

Karena di skeitar sini tidak ada kaca, dan aku baru saja menabrak orang itu.

Aku tau, ini terdengar aneh. Tapi inilah yang ku alami.

Aku shock. Jelas.

Tidak ada satu bagian tubuhku-pun yang bergerak. Begitu juga pantulan sosok sempurna dari diriku itu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, ataupun bagaimana aku harus bereaksi. Apa aku harusnya bilang, "Oh! Kamu mirip banget sama aku! Eh, jangan-jangan kamu saudara kembarku yang terpisah?" atau "Siapa loe?! Berani-beraninya meniru style gue!" aku tidak tau mana yang lebih gila. Aku BENAR-BENAR tidak punya saudara kembar. Lagipula, selama ini aku tidak pernah melihat saudara kembar di soul society. Ironis sekali kalau kamu mati bersama kembaranmu.

Jadi kami terus terpaku dengan mulut yang agak mengangga selama satu menit yang lama, sampai aku memerhatikan matanya.

Ada bayangan putih yang terpantul di mata berwarna ruby itu.

Bayangan putih.

Aku, tanpa sadar, langsung mengangkat tangan dan memandang ke bawah dengan ekspresi lebih shock dari tadi.

Tanganku lebih besar dari yang aku bayangkan. Tapi juga lebih kurus.

Dan… aku melihat kain warna hitam di lenganku.

Mataku bergerak menelusuri lenganku, membolak-balikkannya. Dan akhirnya aku sadar aku mengenakan kimono hitam shinigami. Dan haori. Dan sandal shinigami. Aku memakai pakaian shinigami lengkap.

Seperti belum cukup mengagetkan, tiba-tiba aku menyadari ada rambut putih menggelantung yang mengganggu pandangan.

Aku memekik kecil kaget dan langsung menengadahkan kepala. Tidak ada apa-apa. Tidak ada hantu dengan rambut putih panjang seperti yang aku bayangkan(ya, aku tau agak memalukan berpikir seperti itu di SoulSociety a.k.a surga, tapi aku memang takut dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis/horror). Jadi aku menunduk lagi, dan rambut putih itu muncul lagi di pandanganku. Aku hampir memekik lagi saat akhirnya aku menyadari itu bukan milik siapa-siapa, tapi itu milikku. Itu menempel di kepalaku.

Aku langsung melayangkan kedua tanganku ke atas kepalaku. Mungkin aku terlihat bodoh, tapi siapa peduli? Aku hanya tidak mau mendapati rambutku yang berwarna merah yang dari dulu aku panjangkan itu berubah warna jadi putih. Setidaknya jangan putih! Karena rambut putih itu uban. Dan aku belum cukup tua untuk punya uban!

Aku menjepit rambutku di sela-sela jari, dan menariknya sampai ke mukaku.

OH, GREAT! Bahkan sekarang rambutku tidak sepanjang tadi, baru saja, sebelum aku jatuh, sampai aku tidak bisa melihatnya di depan mataku!

Frustasi, aku melihat ke arah sosok tadi. Dan dia sedang menatap rambut merah panjang di tangannya dengan shock. Sepertinya dia di keadaan yang sama denganku.

Tapi. Tunggu dulu. Kami tidak mungkin—nggak! Nggak mungkin! Ini bukan salah satu cerita manga cewek di dunia manusia! Ini soul society! Lagipula, bagaimana jiwa kami bisa tertukar kalau kami memang sudah jiwa itu sendiri? Nggak! Mustahil!

Makin frustasi, aku mencari-cari ke sekeliling. Akhirnya aku menemukan kolam di kiri koridor ini. Tanpa berpikir aku setengah berlari ke sana, menatap pantulan bayangan dalam kolam.

Wajah putih pucat dan shock tergambarkan dengan jelas, alis terangkat naik karena terkejut, rambut putih spiky—oh my god…—, dan yang paling aneh, mata yang melebar kaget berwarna campuran sedikit biru dan hijau emerald yang indah. Seluruh garis wajahnya tegas dan serius, terlepas dari shock yang tergambarkan jelas. Mungkin aku akan diam terpesona kalau aku melihat seseorang sesempurna dan semempesona ini. Tapi tidak kalau aku melihat orang itu sebagai bayangan diriku sendiri.

Nggak. Nggak. Aku pasti bermimpi. Atau ini salah satu trik Kido dari Netsumi atau mungkin, Ren. Aku tahu trik Kido untuk mengubah tampilan seperti ini level tinggi, but, who knows? Tidak ada yang bisa menebak sejauh apa level mereka melesat melihat perkembangan mereka selama ini.

"Hey," sebuah suara, seperti suara lonceng yang berdentang nyaring namun lembut, suara perempuan, berbicara ragu.

Sebuah suara yang biasa aku dengar dari mulutku sendiri.

-

-

-

Hitsugaya's POV

Aku makin kaget mendengar suara dari tenggorokanku. Otomatis tanganku mencari leherku, seakan ingin memastikan apakah tenggorokanku baik-baik saja. Atau mungkin itu hanya reaksi reflex kalau suara yang kamu keluarkan tidak sama. Aku rasa keduanya.

Aku menyadari, rambutku tidak lagi rambut putih, pendek dan walau apapun yang kulakukan, selalu berdiri ke atas. Tidak. Rambut putih itu berganti dengan rambut merah panjang, halus bagai sutra. Dan aku tidak lagi memakai baju shinigami dan haoriku. Aku memakai kimono putih dan bawahan merah, seragam murid akademi shinigami perempuan. Perempuan. Ya, perempuan. Cewek. Gadis. Wanita. Terserah kamu mau menyebutnya apa. Dan aku juga menyadari kenapa aku merasa bagian tubuh atasku agak aneh. Karena aku mempunyai… oh, well… aku sebut saja, 'asset' milik Matsumoto yang menjadi kebanggaannya. Tapi, tentu saja, tidak… sebesar Matsumoto. Tapi, tetap saja.

Setelah beberapa detik menghilangkan sedikit rasa shock-ku, aku menyadari bahwa orang yang tadi aku tabrak telah berjalan ke luar koridor kayu ini, ke taman, tepatnya ke kolam. Jadi aku mengikutinya dengan ragu-ragu dan tanpa aku sadari. Kakiku melangkah ke sana tanpa kuperintahkan.

Belum sampai kakiku melangkah ke tanah, aku mulai shock lagi.

Itu benar-benar aku.

Walaupun aku tidak pernah melihat sosokku sendiri dari belakang, aku tahu itu aku. Siapa lagi yang mempunyai rambut putih yang seperti itu? Dan siapa lagi yang mengenakan haori putih kapten bertuliskan angka sepuluh di punggungnya?

Aku semakin shock ketika dia berbalik. Walaupun tadi aku sudah melihatnya, tapi tetap saja. Aku tidak terbiasa melihat diriku sendiri memandang ke arahku dengan ekspresi shock di luar cermin. Terlepas fakta aku baru dua kali melihatnya.

"…a…" Aku membuka mulut, dan tampak terkejut dengan suara yang keluar, sama seperti aku tadi. Mataku membelalak lagi mendengar suara yang keluar.

"Tidak…" aku bergumam, lagi-lagi terkaget dengan suara lembut yang keluar. Bukannya suara itu jelek, sumbang atau bagaimana. Malah aku merasa suara itu merdu, hanya saja aku tidak memiliki suara seperti itu. "tidak mungkin." perlahan aku menggelengkan kepala, frustasi.

Sosok yang sangat mirip denganku itu juga terbelalak. Perlahan dia maju selangkah, dan begitu juga aku, tanpa aku sadari.

"Mustahil." kataku dengan suara lembut itu, tidak percaya.

"…si-siapa kamu?" Suara yang dulunya adalah milikku bertanya dengan nada yang sama, dan dia terdengar tidak nyaman dengan suara barunya.

"…mustahil…" daripada menjawab pertanyaannya, aku tetap bergumam pada diriku sendiri. Perlahan aku mundur sambil menggelengkan kepala, seakan tidak mau menerima kenyataan ini. Bahwa sosok di depanku itu aku. Tubuhku.

Lalu, siapa aku ini? Dan bagaimana—

Click.

Aku merasa mendengar suara 'click' sungguhan. Tiba-tiba pikiranku jernih.

Ini pasti karena tabrakan itu(well, sebenarnya pikiran yang sangat simple, tapi mengubah segalanya)

Mungkin memang mustahil, tapi itu satu-satunya yang bisa kupikirkan. Dan hanya satu orang yang bisa menjelaskan ini dan tidak akan tertawa mendengar ceritaku.

Aku langsung meraih tangan sosok di depanku dan menariknya sambil berlari.

"He-hei! Ap—" dia terdengar bingung, tapi dia setidaknya tidak melepaskan peganganku di lengannya yang(tidak kusangka)lebih besar dan hanya bisa ikut berlari denganku.

"Unohana-taicho!" teriakku begitu masuk ke divisi ke-4. Semua orang di divisi saat itu menoleh ke arahku—kami. Nafasku agak terengah. Mataku mencari ke seluruh ruangan.

Akhirnya mataku menangkap sosoknya. Dia terpaku dengan mata yang agak terbelalak dan tampaknya tadi dia sedang memberi perintah pada Isane-fukutaicho. Aku mendekatinya, tidak mempedulikan pandangan orang-orang.

"Maaf, tapi bisakah kita bicara sebentar? Ini hal penting," Aku merasa aneh mendengar suaraku seperti ini. Rasanya semuanya salah.

Unohana terdiam sebentar dan matanyatiba-tiba beralih ke tanganku. Kemudian ekspresinya berubah lembut, seperti biasa. Aku menarik nafas lega, dalam hati. Aku masih belum bisa lega sebelum tahu apa yang terjadi.

"Tentu saja. Ikuti aku," katanya dengan suara lembut khasnya. Unohana melewati Isane dan menuju ke suatu ruangan, ruangannya.

Aku mengikutinya, dan sekilas melihat ada cermin di samping ruangan. Mataku tanpa sadar memerhatikan sosok di cermin itu.

Di cermin itu, ada seorang perempuan berambut merah darah yang sangat panjang memandang ke arahku. Matanya yang berwarna merah crimson agak melebar kaget. Dan di belakang perempuan itu, ada diriku.

Aku menelan ludah susah payah. Tidak ada gunanya terkaget-kaget terus. Unohana pasti tahu apa yang terjadi denganku, dengan kami.

Unohana membiarkan pintu terbuka dan aku melangkah masuk ke dalam, tanganku tidak lepas dari lengannya,takut ia akan kabur walaupun sebenarnya tidak perlu. Dia pasti juga ingin mengetahui tentang ini. Kemudian Unohana menutup pintu untuk memberikan privasi dari bawahannya. Baru setelah itu aku melepaskan peganganku.

"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan, Hitsugaya-taich—"

"Aku butuh bantuanmu," selaku. Unohana terlihat terkejut. Oh. Mungkin memang aneh kalau ada murid akademi shinigami yang berani menyela omongan seorang kapten seperti itu. Yah, setidaknya, orang yang terlihat seperti dan memakai pakaian murid akademi shinigami.

Karena itu, aku tidak berbasa-basi lagi dan menceritakan apa yang terjadi.

-

-

-

"Mungkin… jiwa kalian memang tertukar." kata Unohana akhirnya. Aku membelalak.

"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana—?" tanyaku tidak percaya.

"Tapi, kami memang 'jiwa', kan?" 'Dia' bertanya. Lagi-lagi aku merasakan sensasi aneh di perut mendengar suaraku sendiri.

"Mungkin… tidak benar-benar bertukar 'jiwa'," Unohana terlihat berpikir. Pandangannya terfokus pada mejanya. Kemudian dia memandang kami lagi.

"Menurutku, fisik kalian tertukar." katanya dengan nada serius. Aku menaikkan satu alis.

"Maksudmu?" tanyaku.

"Wujud fisik di SoulSoceity tercipta karena reiatsu pemiliknya yang divisualisasikan dan dipadatkan. Setiap soul di sini pasti memiliki reiatsu, walaupun yang paling lemah sekalipun. Hanya saja shinigami atau calon yang dididik untuk menjadi shinigami memiliki reiatsu yang lebih bisa dirasakan dan lebih besar daripada yang lainnya." Unohana mulai mejelaskan.

"Kemungkinan, wujud reiatsu kalian tertukar." Unohana terlihat ragu-ragu di akhir kalimat.

"Tapi… bagaimana?" tanyaku, masih tidak percaya.

"Aku tidak tahu. Tidak pernah ada kasus ini sebelumnya. Atau…" Unohana terlihat berpikir lagi, kali ini tangannya di dagunya dan fokusnya kembali ke meja.

Aku menanti kata-katanya.

"Atau mungkin cuma ingatan kalian saja yang tertukar." kata Unohana akhirnya, kembali memandang kami. Aku mengerutkan kening.

"Mungkin ingatan kalian tertukar akibat tubrukan itu, padahal sebenarnya kalian tetap diri kalian sendiri." Unohana menjelaskan ragu-ragu. Keningku makin berkerut.

"Itu lebih terdengar aneh," kataku. Unohana mengernyitkan alis.

"AKU BILANG aku tidak tahu. Itu hanya tebakan" kata Unohana, terlihat agak kesal sekarang. Setelah itu aku menutup rapat mulutku. Satu pengalaman melihat Unohana marah sudah cukup untuk mmbuatku tahu kapan harus berhenti membantahnya.

"Hmm… lalu, siapa namamu?" Unohana menatap sosokku. Oh ya. Aku bahkan tidak tahu namanya. Dari tadi dia jarang berbicara dan menanggapi perkataan Unohana. Aku hampir lupa dia ada, terlepas fakta dialah salah satu faktor yang menyebabkan kebingungan ini. Masalah ini terlalu membingungkan.

"Eh—mm… Na-Nana." pipinya agak merona malu, dan suaranya juga terdengar malu-malu.

OMG(hey, aku tidak pernah menggunakan singkatan seperti itu seperti cewek-cewek lemah pecicilan di dunia manusia sana!). Aneh sekali melihat sosokmu sendiri malu-malu dan suaramu bernada seperti itu. Membuatmu ingin muntah dan marah. AKU tidak seharusnya malu-malu seperti itu!

"Ok, Nana. Nana, kamu pelajar di akademi shinigami, benar?" tanya Unohana, tersenyum lembut.

Nana—well, di dalam tubuhku, sosokku, mengangguk pelan dan pipinya agak memerah lagi.

Aku menggeram dalam hati. Apa dia tidak bisa berhenti blushing seperti itu?! Itu membuatku merasa aneh! AKU tidak pernah MERONA malu seperti itu. Oke, setidaknya, aku tidak segampang itu MALU.

"Dan… berapa tahun kamu sudah belajar di sana?" tanya Unohana lagi. Nana, aku, yang mana sajalah, terlihat ragu ragu sebelum menjawab,

"Se-sekitar 11 bulan,"

Aku berdeham.

Keduanya menoleh padaku.

"Bisakah—bisa kau hentikan cara bicaramu itu?" kataku tidak tahan lagi. Lama-lama aku benar-benar bisa muntah. Memang sih, tampangku terlihat agak imut seperti it—TUNGGU! NO! NGGAKnggaknggaknggak!! Aku tidak pernah mengatakan itu. Aku tidak pernah memuji diri sendiri imut! TIDAK PERNAH. Pasti tubuh ini yang menyebabkan pikiran dan pembendaharaan kataku kacau.

Sosokku—bagaimana kalau kita mulai memanggilnya Nana saja? Itu lebih mudah dan tidak membuatku merasa aneh. Oke. Jadi, Nana memandangku, bingung.

"Maksudmu?" tanyanya. Dan perlu aku tekankan sekali lagi, dia memakai suaraku. Dan suaraku seharusnya tidak pernah terdengar sebingung, seekspresif itu.

"Maksudku, berhenti bertingkah seperti itu. Itu wujudku. Aneh sekali melihat sosokmu sendiri melakukan hal yang tidak biasa kamu lakukan," kataku sinis sambil melipat tangan, mengalihkan pandangan.

Dan tampaknya dia kesal?

"Kalau begitu kenapa kamu tidak berhenti melakukan itu?" tanyanya sinis(itu baru terdengar seperti aku yang bicara). Aku menoleh.

"Apa?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alis.

"Sikap sinismu itu! Aku juga tidak biasa bersinis-ria seperti itu!"

"Apa?! Tapi ini aku!"

"Jadi bagaimana denganku? Aku juga aku! Terserah dengan wujud apa, aku tetap akan bertingkah seperti aku!"

Oke, aku mulai tidak menyukainya.

"Tapi kamu mempermalukan diriku, merusak imageku, kalau kau melakukannya dengan wujudku!" aku melawan dan berdiri di hadapannya. Biasanya suhu ruangan akan turun beberapa derajat, tapi sekarang aku merasakan ruangan ini panas.

"WELL, kamu tidak bisa menyalahkan aku kalau kita secara tidak sengaja bertukar tubuh—wujud!" Dia ikut berdiri. Karena aku sudah bertumbuh, dia jadi sedikit lebih tinggi dari badanku yang sekarang, jadi aku agak mendongak untuk bisa menatap mata hijaunya. Aku tidak pernah memerhatikan, warna mataku ternyata bisa terlihat seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Tapi… argh. Aku malas mengucapkannya, tapi… oke… untuk mempermudah kalian mengerti, aku akui, terlihat indah. Bukan karena itu milikku, atau aku mau memuji diri sendiri. Tapi, really. Memandang tepat ke mata itu membuat jantungku berdetak lebih kencang—

TIDAK, tidak lagi. Semua hal ini membuatku kacau dan aneh. Tidak, tidak. Aku tidak terpesona karena melihat mataku sendiri. Aku bukan Yumichika. Dan lagi, aku tidak mungkin terpesona dengan laki-laki, khususnya diriku sendiri!

Atau ini karena tubuh ini? Tubuhku yang bereaksi seperti itu? Bukan aku?

Rasanya itu lebih masuk akal. Tapi… kalau begitu, bisa dibilang aku mengakui… aku… mempesona bagi perempuan?

NO!! Hell no!

"Kenapa diam? Tidak bisa membalas? Aku benar kan?" Suaraku sendiri membangunkan aku dari lamunan dan pikiran sesat.

Aku merasa wajahku agak memanas karena amarah dan malu(kan tadi aku sudah bilang aku cuma tidak semudah itu malu atau merona, aku biasanya memerah.). Bagaimana bisa seorang murid di akademi shinigami berbicara seperti itu padaku? Aku ini kapten divisi ke-10!

"Kau…! Beraninya kamu berbicara seperti itu pada seorang kapten…!" desisku. Dia malah mendengus dan melipat tangan.

"Hah. Mestinya kamu lihat siapa yang memakai haori sekarang," balasnya sombong, dan dia tersenyum menyebalkan sambil mengangkat kain haori putih di pundaknya.

Cukup.

"Kenapa tidak sekalian saja kita buktikan, siapa yang memiliki kekuatan seorang kapten?" kataku dingin, tersenyum sinis dan mencondongkan badanku ke dia. Dia melakukan hal yang sama.

"Siapa—"

"DIAM!"

Brukk

Untuk yang kedua kalinya hari ini, aku jatuh ke lantai.

"U-unohana taicho?" tanyaku ragu sambil melihat ke atas, tahu bahwa dia satu-satunya yang ada di ruangan ini selain kami dan yang bisa mendorong kami(yah, Nana memang tidak, tapi) terjatuh. Tubuh ini jelas lebihlemah dan keseimbangannya kurang dari tubuhku.

"Tidak akan ada bertandingan, dan tidak akan ada lagi pertengkaran, atau adu mulut" Unohana bergumam dingin.

Itu bukan permintaan, tapi pernyataan. Dari Unohana Retsu sendiri.

"H-hai," kataku dan Nana bersamaan. Kami berdua sama-sama agak takut melihat sosok Unohana yang kini seperti dikelilingi dark aura.

"Jadi," Unohana menatap Nana. Nana agak tersentak kaget.

"Apa kamu sudah mengetahui nama Zanpakutou-mu?" tanya Unohana, kembali ke nada bicaranya yang lembut.

Oh, benar. Zanpakutou. Selama ini aku melupakan itu.

Aku melirik pinggangku, tempat aku merasakan sesuatu seperti pedang terikat. Dan aku benar. Di obi kimono yang aku pakai terdapat pedang yang diselipkan. Pedang itu bergagang warna merah. Sarung pedangnya hitam gelap, tapi aku tahu itu merah yang terlalu gelap sampai-sampai terlihat seperti hitam. Sepertinya semua hal tentang cewek ini berhubungan dengan merah.

"Be-belum…". Aku mendengar suaranya.

Bagus. Baguuus sekali. Bahkan cewek ini belum tahu nama Zanpakutou-nya dan sudah berani menantangku?

Tunggu. Kalau begitu, Hyourinmaru?

"Hitsugaya-taicho, apa Hyourinmaru bersamamu?" tanya Unohana bersamaan dengan pikiranku. Aku segera berkonsentrasi memasuki batinku.

Hyourinmaru? Apa kau di sana? Jawab aku, aku berbicara dalam mentalku.

Tidak ada jawaban.

HYOURINMARU?? Bangun!

Masih tidak ada jawaban.

Jangan bermain denganku, Hyourinmaru. Aku perlu tau kamu ada di sana.

Masih tidak ada jawaban lagi.

Oh tidak.

"Nana? Bisa kamu cek keberadaannya?" Unohana berpaling ke Nana begitu melihat ekspresiku. Aku juga berpaling padanya. "cukup fokuskan saja pikiranmu dan berbicaralah dalam hati." jelas Unohana kemudian. Nana memejamkan mata.

"Ya. Ada sesuatu. Dia berbicara padaku, dan bertanya siapa aku," kata Nana sambil perlahan membuka matanya. Aku mendesis.

"Hyourinmaru bukan sesuatu. Dia itu naga. Zanpakutou-ku." kataku marah. Nana hanya memandangku tajam.

"Oke, maaf, aku ulangi. Hoyurinmaru memang ada di dalam sini." ulangnya dengan nada datar. Oh yeah. Sekarang baru itu terdengar seperti aku.

"Apa yang dia bilang sekarang?" tanyaku. Nana menutup matanya sekali lagi.

"Dia bertanya, di mana…Toushiro?" Nana membuka matanya dan menelengkan kepala bingung.

"Siapa itu Toushiro?" tanyanya polos. Aku menggeram. Dia bahkan tidak tahu namaku.

"Itu aku." kataku kasar. Nana hanya memandangku kesal karena nada bicaraku. Tapi aku tidak peduli.

Aku benar-benar frustasi sekarang. Tidak hanya aku terperangkap dalam wujud menyusahkan, sekarang Hyourinmaru juga tidak ada. Baru kali ini aku dan Hyourinmaru terpisah. Aku merasa ada sedikit kekosongan di dalam diriku.

Ada aku kok.

Aku berkedip. Darimana datangnya suara yang riang itu?

Aku di sini.

Lagi. Di mana dia? Aku menoleh ke kanan dan kiri, membuat Unohana dan Nana melihatku dengan kebingungan.

Hei hei. Aku di sini. Bukan di luar sana.

Apa?

"Nana," Untuk pertama kalinya, aku memanggil namanya. Sebenarnya, namanya simple sekali. Memberi kesan manis. Tapi aku rasa nama itu kurang cocok dengannya. Karena dia lebih terlihat sadis dengan warna merah di seluruh tubuhnya dibandingkan manis. Walaupun sebenarnya wajahnya mani—

—S – T – O – P. Aku bukan Renji, Ikkaku, Ichigo atau siapapun yang suka memerhatikan cewek dan menggoda cewek. Aku tidak pernah memuji cewek demi mendapatkan perhatian mereka, atau mengomentari wajah mereka.

Masalah ini benar-benar membuatku kacau, atau mungkin gila.

Haha. Jangan berlebihan. Masterku memang manis kok.

"Tadi kamu bilang Zanpakutou-mu belum bangkit?" tanyaku tidak mempedulikan suara yang berdengung di telingaku.

"Iya." katanya tegas. Matanya menatapku bingung—namun sinis—seperti juga Unohana.

"Kalau begitu kenapa dia berbicara denganku?" tanyaku menatap Nana tepat di matanya.

Nana menarik nafas tertahan.

"No way…" katanya pelan.

Oh, biar kujelaskan. Aku terpancing keluar karena reiatsumu yang tinggi—

"Sebenarnya, dia mulai mengganggu." kataku lagi.

HEY!

"Tapi… tidak pernah ada yang bicara denganku," kata Nana masih tidak percaya. Tampang shocknya yang terlihat jelas itu membuatku berpaling dari wajahnya. Masa aku harus membiasakan diri melihat diriku sendiri begitu ekspresif?

"Yang penting sekarang dia bicara." kataku dingin.

HALOOO?? Bisa dengarkan aku sebentar? Aku benci dicuekin!

Benar-benar Zanpakutou yang menyebalkan.

Aku dengar itu!

Oke, aku berbicara dalam batinku. Kau mau menjelaskan ini?

Ya, tapi aku tidak bisa.

Aku menaikkan alis secara nyata.

Apa??

Aku bilang aku tidak bisa.

Kenapa? Tanyaku kesal. Terdengar gerutuan.

Karena aku tidak tahu apa yang terjad, bodoh. Baru saja aku terbangun akibat reiatsu-mu.

Siapa namamu? tanyaku.

Mestinya kamu tau sendiri. Aku menggeram.

Bilang saja namamu. Perintahku dingin.

Nggak mau.

Apa?! Beraninya kamu menolak perintah—

Kamu bukan masterku, jangan lupa itu.

Aku menggeram lagi. Unohana dan Nana masih menatapku bingung. Tapi tampaknya mereka tahu aku sedang melakukan 'percakapan' dengan Zanpakutou ini.

Ya, makanya aku tidak perlu mencari tau siapa namamu. Just say it, kataku kesal.

Masterku atau bukan, tetap saja kamu harus mencari nama itu sendiri. Aku bisa mendengar dia mendengus dan melihatnya melipat tangan, secara mental. Aku menggeram lagi. Kali ini lebih keras.

"Jadi, siapa namanya?" tanya Unohana.

"Dia tidak mau bilang," kataku menggerutu.

"Hah?" mereka berdua bertanya bersamaan.

"Dia tidak mau bilang," ulangku dengan lebih banyak penekanan.

"Kenapa?" tanya Nana. Aku BENAR-BENAR tidak tahan melihat wajahku sendiri seperti itu.

Terlalu banyak ekspresi. Kalaupun kebingungan, aku tidak akan terlihat seperti itu.

"Siapa yang tahu? Dia bilang aku harus mencari sendiri." kataku masih dingin. Dan aku tidak mau memandang wajahnya.

"Well, cari tahu dong." katanya kesal. HAH. Santai sekali dia. Memangnya ini Zanpakutou siapa?

"Kalau semudah itu mencarinya, aku pasti sudah tahu dari tadi!" desisku kesal dari balik gigi yang tertutup rapat. Aku melipat tangan. Tapi tidak jadi karena aku merasakan dua benjolan. Aku berganti bertopang dagu di meja.

Nana sepertinya mau melawan lagi, tapi dia tidak bicara apapun. Tanpa melihat, aku tahu Unohana sedang memandang Nana tajam.

"Kita tunda dulu masalah Zanpakutou ini. Sekarang," kata Unohana terputus yang membuatku menoleh ke arahnya malas-malasan.

"Apa yang akan kalian lakukan?" tanyanya tepat memandang ke arahku, seperti meminta keputusan dariku.

Tunggu sebentar.

-

-

-

WAAAW! Ending chapter yang sangat tidak bagus! XD

Lol. hehehe…

Mengenai judul, aku jga ngrasa itu nggak kreatif bgt kok. Tp pa blh buat. Mls mikir. Jd yang keluar di otak aja. Jaid nggak kreatip dan jayus gitu deh. Sudahlah. Judul chapter doang. Ngmg2 nih judul fic juga asal lho. makanya jadi kayak gak da artiny agitu. maaf ya kalau nanti akhirnya gak nyambung sam ajudul… duh maapmaapmaap,,, X[

Di chapter dua(satu) ini banyak bgt italic. Untuk membuat penekanan. hehehe… X] Dan mengenai POVnya, aku sengaja nggak nulis nama Nana di awal cerita. Biar namanya bener2 baru keluar pas ditanya Unohana itu. Rasanya lebih gimanaaa gitu…

N, buat chapter ini, nggak bgtu seperti yg aku mau(duh bhs ga jls lg). Lgan, Hitsu OOC bgt!! AGAK kayak jadi cewek gitu deh! Apa mungkin kepengaruh karena wujudny audah cewek ya? XS

Chapter ini memang membosankan dan aneh. Dah gitu bertele-tele. Membingungkan pula bagain penjelasan nggak jelasnya. Tp… jamin deh chapter brikutnya lebih bgs dan lucu(bikin ktawa)!! XD –aku usahakan loh ya kalau jyus ya maap—

so, sgini dulu dah. X)

chappie 3 segera datang.

Cherrylime XD