Do You Remember?
Disclaimer: I only own the plot
Pair: Kai/Kyungsoo
Length: Chapters
Genre: Angst/Hurt/Comfort
Warning: Typos. Krystal as the cameo.
If you don't like then just go back and don't read
Summary: Because we are just meant to be. Do you remember?
Part 2 – Darkness
"Jadi sudah berapa lama kau tinggal disini?" Tanya Kyungsoo sambil berjalan disamping Jongin, tangan mereka penuh dengan barang bawaan Kyungsoo.
"Setahun." Jawab Jongin singkat tanpa menoleh sedikit pun.
Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya dan terus berjalan, agak sulit baginya menyelaraskan langkah dengan Jongin yang kakinya lebih panjang.
Jongin menyadari Kyungsoo yang agak tertinggal jauh di belakangnya. Ia menghentikan langkahnya
"Aku berjalan terlalu cepat?"
"A-ah tidak. Kakiku hanya sedikit sakit hehehe." Kyungsoo berbohong. Ia hanya merasa tak enak, tentu saja. Ia sudah dibantu lelaki berkulit sedikit gelap itu dan tak mau menyusahkannya lebih lagi.
Jongin meletakkan barang-barang bawaannya dan menghampiri Kyungsoo
"Mana kunci apartemenmu?"
"Eh? Untuk apa?"
"Sudah, kemarikan saja."
Kyungsoo mengeluarkan kunci miliknya dan memberikannya pada Jongin.
"Tunggu disini."
Jongin berjalan dengan barang-barang bawaannya tanpa memberikan penjelasan pada Kyungsoo, tak berapa lama ia kembali lagi, mengambil barang-barang yang Kyungsoo bawa
"Tu-tunggu! Kau mau kemana?" Tanya Kyungsoo bingung sekaligus merasa tak enak.
"Tunggu saja disitu. Kakimu sakit kan?"
"Y-ya."
Jongin mengangguk singkat dan segera menghilang dari hadapan Kyungsoo (lagi) dan ia pun kembali lagi. Tapi kali ini ia membelakangi Kyungsoo dan berjongkok sambil tetap membelakanginya
"Naiklah, daripada kau harus berjalan dan menyakiti kakimu itu."
"Tapi…"
"Naiklah."
Entah bagaimana, Kyungsoo hanya mengangguk dan menuruti permintaan atau bahkan perintah Jongin.
"Pegangan oke? Kau itu ringan sekali ya." Ucap Jongin sambil menggendong Kyungsoo yang berpegangan pada pundaknya.
"Mwo?"
"Aku bilang kau itu…. ringan sekali."
"Aku anggap itu sebagai pujian." Jawab Kyungsoo dan tak ada lagi percakapan diantara mereka.
Begitu sampai, Jongin mendudukan Kyungsoo di sofa dan ia pun duduk di samping lelaki bermata besar itu.
"Kau mau minum? Aku rasa aku membeli beberapa minuman dingin."
Kyungsoo bertanya sembari berdiri dan mengacak-acak plastik-plastik bawaannya.
"Kau bilang kakimu sakit?" Tanya Jongin sambil bermuka datar.
"Aku memang bilang sakit, tapi aku tak bilang aku tak bisa berjalan kan?" Jawab Kyungsoo santai sambil melemparkan sekaleng minuman dan ditangkap oleh Jongin dengan cepat.
"Gomawo"
"Sama-sama Jongin."
###
Hari demi hari terus berlalu, Jongin dan Kyungsoo semakin sering bertemu. Tentu saja hal ini karena kamar mereka yang bersebelahan, tapi lebih dari itu. Semenjak bertemu Kyungsoo, ia lebih sering menunjukkan berbagai macam ekspresi. Jongin pun semakin sering tersenyum.
Sama seperti hari ini, Jongin sedang tersenyum sambil merapikan rambutnya yang sudah rapi bahkan lebih dari satu jam yang lalu, but he keeps changing the style and say "will Kyungsoo like this? Or this? Or this one?" namun pada akhirnya ia hanya membiarkan rambutnya seperti itu adanya. Sekali lagi, ia menatap dirinya di cermin dan tersenyum puas.
"Kau tampan Kim Jongin. Sangat tampan." Ucapnya penuh keyakinan
"Berhentilah memuji dirimu sendiri eoh."
Jongin menoleh ke belakang dan menemukan Kyungsoo sudah berdiri dengan manis.
"A-ah Kyungsoo!"
"Yaaa aku lebih tua darimu."
Benar. Kyungsoo memang lebih tua dari Jongin tapi sejak awal mereka saling kenal tak pernah sekalipun lelaki berkulit sedikit gelap itu memanggilnya 'hyung'.
"Kyungsoo…" Panggil Jongin.
Kyungsoo memutar kedua bola matanya dan hendak berjalan mendahului Jongin.
"Kyungsoo…." Panggil Jongin untuk kedua kalinya.
"Do Kyungsoo… Yaaah Kyungsoo…" Lagi dan lagi, Jongin terus memanggilnya namun namja itu tak bergeming.
"Hyung." Panggil Jongin pada akhirnya membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Apa?"
"YAAAA! Kau baru menjawab saat aku memanggilmu dengan hyung?!"
Jongin pura-pura memasang muka kesal dan menghampiri Kyungsoo. Dia mempoutkan bibirnya, membuat sebuah senyum terukir jelas di wajah Kyungsoo.
"Hahaha aku hanya bercanda. Panggil aku sesukamu."
"Sesukaku?"
"Se su ka mu."
"Baiklah…. Kyungie?"
Diam. Kyungsoo membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"K-KYUNGIE? PUAHAHAHAHA KIM JONGIN NAMA MACAM APA ITU?" Ucap Kyungsoo sambil tertawa keras.
"YAAAA! Kau bilang panggil sesukaku"
Kyungsoo mendekati Jongin dan menggandeng tangan Jongin.
"Bercanda. Panggil aku sesukamu. Asalkan itu kamu, aku tidak apa-apa."
Seketika itu juga, untuk kesekian kalinya Jongin merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Ia… ia menyukai Kyungsoo. Ia tahu itu.
###
"Jadi film mana yang kita tonton?" Tanya Kyungsoo sambil menatap judul-judul film yang terpampang dihadapan mereka. Mereka sedang ehem berkencan (baiklah sebut saja jalan-jalan bersama) di bioskop
"Terserah kau." Ucap Jongin singkat.
"Aku sebenarnya ingin menghabiskan waktu dirumah saja."
Jongin menatap Kyungsoo. Rumah? Mungkin maksudnya apartemen. Itulah yang ada di benak Jongin.
"Kau ingin pulang?"
"Kalau kau mau…"
Jongin mengangguk dan segera menggandeng tangan Kyungsoo. Ia bisa merasakan panas tubuh Kyungsoo yang tak normal. Kyungsoo pun terlihat pucat.
"Kau sakit?" Tanya Jongin cemas.
"Hm? Tidak. Hanya sedikit pusing."
Jongin menghela nafas dan segera mengajak Kyungsoo untuk segera pergi dari tempat itu. mereka harus kembali ke apartemen. Jongin tak mau Kyungsoo semakin sakit.
###
Jongin memainkan jemarinya di atas remote tv sedari tadi. Ia terus menerus mengganti acara tv. Sementara itu, Kyungsoo sedang tertidur. Tertidur dengan sangat damainya sambil bersender di dada bidang milik Jongin. Jongin merangkul pundak kecil itu, sesekali menatap lelaki cute disampingnya dan tersenyum.
Untung saja mereka sudah berada di dalam apartemen Kyungsoo, kalau tidak mereka pasti sekarang harus berurusan dengan hujan deras diluar sana dan tentu hal itu bisa membuat Kyungsoo semakin sakit.
Jongin kembali menyibukkan dirinya dengan tv, ia bosan. Sangat bosan. Pada akhirnya ia ikut tertidur sambil terus merangkul Kyungsoo.
"Hiks…" Isak tangis terdengar, membuat Jongin terbangun dan membuka matanya. Tapi tunggu…. Gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa.
"MWO?! Kenapa gelap sekali?!" Ucapnya kaget, dengan sedikit berteriak.
"Jo-Jongin—" Ucap sebuah suara dengan serak. Jongin tahu pasti itu suara Kyungsoo.
"Hyung? Kau… dimana? Aish. Sepertinya mati listrik. Aku tak bisa melihatmu."
"Jongin…. Aku takut….. Jongin…." Ucap Kyungsoo dengan lemah.
Jongin segera berdiri dan mencari sumber suara. Langkahnya terhenti begitu ia merasakan sebuah tangan menggenggam bagian bawah jeansnya. Jongin berjongkok dan menggenggam tangan-tangan mungil milik Kyungsoo.
"Hyung. Tenanglah. Ada apa?" Ucap Jongin sambil perlahan menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya.
Sekali ini, sekali ini ia mendengar isak tangis seorang Do Kyungsoo.
"Gelap…. Aku… Aku takut gelap."
Jongin semakin mengeratkan pelukannya. Gelap, ia juga dulu takut gelap tapi entah sejak kapan ia tak pernah merasa takut lagi.
"Sssh, tenanglah. Aku bersamamu. Aku disini. Jangan takut lagi hyung." Ucapnya sambil berbisik pada Kyungsoo.
Tak berapa lama, listrik pun kembali menyala. Jongin masih memeluk Kyungsoo. Lelaki mungil itu masih ketakutan.
"Haaaah akhirnyaaaa." Ucap Jongin sambil merenggangkan pelukannya.
Ia bisa melihat jelas jejak-jejak air mata di pipi mulus Kyungsoo. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Kyungsoo.
"Jangan menangis lagi. Jebal…."
Kyungsoo mengangguk dalam isaknya. Ia mengatur nafasnya. Sepersekian detik, kalimat itu terucap
"Jangan pernah meninggalkanku sendiri…"
Sekali dalam hidupnya, Kim Jongin berjanji pada seseorang. Ia mengangguk dan memeluk Kyungsoo erat.
"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Baik dalam gelap maupun terang. Tidak akan pernah hyung."
"The darkness may scare me but your appearance always be the brightest light of my life."
