Disclaimer: Kubo Tite
Back to Moon Chapter 2: Sunshine & Little Black Dress
.
.
.
Tidak ada mimpi kali ini, hanya tidur yang nyenyak. Ulquiorra bersyukur hari ini ia bisa tidur dengan tenang tanpa ada tumpukan kasus yang akan membuatnya lembur semalaman. Ulquiorra bangun sesaat sebelum alarm diponsel pintarnya berdering, selekas itu ia memilih bangun dan membasuh tubuhnya dengan mandi pagi.
Butiran air yang mengucur deras dari dalam shower menyegegarkan penatnya, mengguyur keseluruh tubuh Ulquiorra, hari ini terasa benar-benar berbeda, hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya, seperti ada hal atau sesuatu yang baru muncul, 'Hal yang baru?', iya, ada hal yang baru saja muncul.
Kemarin
Kemarin sore
Saat Senja
"Nona?",saat itu dia segera menyelesaikan mandi paginya.
.
.
Telah memakai setelan kemeja berwarna peach-nya, Ulquiorra menghampiri ranjang, disana masih ada Orihime yang tak kunjung terbangun dari tidurnya, masih dengan selimut tebal yang membungkusnya dalam tidur nyenyak, Orihime terlihat sangat menikmatinya, namun bagi Ulquiorra itu sangatlah tidak adil, ini apartement-nya dan ini adalah ranjangnya, namun apa yang terjadi? Semalaman ia tidur disofa dan gadis itu tidur diatas ranjangnya yang nyaman.
Menggoncang tubuh Orihime, Ulquiorra bermangsud membangunkannya "Nona".
Orihime menggeliat pelan.
"Nona"
Masih saja nyaman dengan mata terpejamnya.
"Nona"
"Hnggg, aku masih ingin tidur"
"Dan aku masih ingin menjadi jaksa, jadi cepatlah bangun, nona"
Tapi Orihime tidak kunjung membuka matanya yang terpejam.
"Nona!" sedikit menyerukan suaranya, Ulquiorra lagi-lagi dibuat kesal olehnya.
Melangkah menuju jendela kaca lebar yang tepat berada diatas ranjang, Ulquiorra menyibakkannya, saat itulah sinar mentari pagi menyirami ruangan apartement yang bernuansa hitam putih milik Ulquiorra, menyirami tubuh Orihime, dan Orihime membuka mata-nya. Seperti efek magis yang datang dari sinar mentari, Ulquiorra menjadi takjub pada efeknya bagi gadis ini.
"Tuan? Aku masih mengantuk, kenapa Tuan membangunkanku?" sambil mengucek matanya yang masih terasa berat.
Orihime merasa kesal.
Ulquiorra masih takjub.
Orihime bersinar.
Ulquiorra belum berkedip
Matahari yang bersinar diluar jendela kaca, memberi efek menakjubkan pada gadis dihadapan Ulquiorra ini, Orihime bagaikan putri tidur yang baru bangun dari tidur panjangnya, masih menggunakan one piece kuning gadingnya yang sudah berkerut tak karuan dan mata lelah khas bangun tidur, ia bangun dari tidurnya.
Masih terduduk diatas ranjang yang tak ingin ia tinggalkan, Orihime bertanya pada Ulquiorra kenapa ia harus dibangunkan, ia masih mengantuk.
Entah bagaimana ini bisa terjadi, setiap kali gadis ini terbangun dari tidurnya ada saja efek aneh yang mengelilinginya, Ulquiorra heran kenapa hal tersebut bisa terjadi pada gadis ini, "Kali ini ikutlah denganku, barangkali orang-orang kantor dapat membantumu kembali pada Keluargamu"
"Apa?..."
"… jadi Tuan tidak peduli lagi padaku?, bukannya Tuan yang menemukanku dan membawaku kemari, dan Tuan memilih menyerahkanku pada orang lain, benar-benar tidak bertanggung jawab!"
"Tidak ada waktu untuk mem-pidatoiku, Nona, secepatnya kau harus kembali pada keluargamu, kau masih muda dan masih menjadi seorang siswi yang harus memenuhi absensi harianmu"
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan…" belum sempat melengkapi kata-katanya Ulquiorra memotongnya.
"Aku sudah menyiapkan airnya, segeralah mandi dan rapikan dirimu dulu, Kantor jaksa hanya menerima orang-orang berpakaian rapi" sambil menyerahkan paket pakaian yang kemarin ia terima dari Unohana.
"Baiklah kalau begitu" dengan malas Orihime membebaskan dirinya dari hangatnya ranjang yang baru semalam ini ia nikmati dan mengiyakan perintah Ulquiorra, sedangkan Ulquiorra akan menyiapkan roti panggang untuk menu sarapannya kali ini, atau lebih tepatnya, sarapan mereka berdua.
.
.
Tidak memakan waktu lama untuk Orihime menyelesaikan mandinya, sudah mengganti bajunya dengan yang baru, Orihime berdiri didepan pintu kamar mandi masih dengan rambut lembabnya, ia bisa melihat Ulquiorra yang sedang bergelut dengan menu sarapan yang ia siapkan.
"Kau sudah selesai?" masih tidak melepaskan perhatiannya pada roti panggang yang ia coba susun diatas piring, Ulquiorra menyadari kehadiran Orihime.
"Iya".
"Aku sudah menyiapkan sarapannya"
Saat itu mata Ulquiorra menemukan hal yang menakjubkan sekali lagi.
Orihime dengan dress hitam yang baru ia ganti, rambut orange-nya yang masih basah, untuk sekali lagi Ulquiorra membenci dirinya sendiri, karena terlalu mudah terpesona pada penampilan gadis ini.
"Wah!" Orihime berbinar, dan berlari menuju meja makan. "Apa Tuan yang membuat semua ini?"
Memalingkan wajahnya dari Orihime, Ulquiorra tak mau berlama-lama menunjukkan ekspresi takjub –yang baginya konyol itu pada gadis dihadapannya, meskipun gadis ini –Orihime Inoue menyadarinya atau tidak , itu sama saja. Siapa dirinya dan siapa gadis ini? Tidak ada hubungan bukan?, tidak ada ikatan apapun, hanya respon kemanusiaan Ulquiorra yang berusaha menolong Orihime dari keadaan yang cukup sulit.
"Cepat habiskan dan kita akan berangkat kekantor".
.
.
.
.
"Yare…yare, mau sampai kapan kau akan memandangi barang itu, Byakuya-sama?" Gin Ichimaru datang dengan penampilan baru.
"Daripada kau terus termenung begitu, ubahlah penampilanmu itu. Kita sudah di Osaka, didunia para Manusia, saatnya mencari tunanganmu, Byakuya-sama?" dengan mencoba memakai coat berwarna langit malam, Gin Ichimaru memberi tahu agar Byakuya bergegas memulai misi.
'Aku mohon jangan melakukan hal yang aku takutkan, Orihime' memandangi Pondant berwarna keemasan yang ada digenggamannya, Byakuya mengharapkan misinya kali ini benar-benar diselesaikan sesuai harapan.
"Kau ingat perkataan Jendral Yamamoto?, jika kita tidak menyelesaikan ini, Dunia Roh dan Dunia Manusia tidak akan berjalan dengan normal"
"Aku mengerti"
Ilalang-ilalang bergoyang seiring angin berhembus dari arah barat, bunga dandelion melepaskan benihnya yang lembut ke udara, menuntunya pada sinar keemasan mentari pagi, ditimur, Matahari sudah cukup tinggi bersinar, musim panas sudah lama berjalan, musim gugur akan segera masuk. September, bulan yang paling Byakuya ingat sebagai bulan dimana Orihime melakukan Reinkarnasi-nya, ini sudah 5 September, kemarin lusa Orihime mengambil Kehendak Bulan dan memilih melakukan Reinkarnasi lebih cepat, sedari tadi hal ini yang membuat Byakuya merutuk, Kenapa ia tidak bisa mejadi orang yang jauh lebih baik?.
Kenapa Orihime tidak bisa menunggu?
Padahal sedikit lagi Byakuya bisa melakukannya, ia berharap dengan menjadikan Orihime tunangannya, Orihime akan melupakan kehidupannya didunia manusia yang menyedihkan.
Empat tahun lalu Orihime kembali, dengan hasil yang sama, akhir yang sedih tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya, Bagian Penghakiman memutuskan untuk menghentikan Reinkarnasi berikutnya untuk Orihime, dan menjadikannya sebagai pemegang tanggung jawab Kehendak Bulan dan mengurusi bagian Reinkarnasi, maka dari itu Byakuya bersedia melatihnya kembali, Pemangku Bulan –Tsukiko no Aki adalah gelar yang diberikan oleh Dewan pada Orihime.
Namun, tak ada angin dan petir tiba-tiba Orihime menghilang dari Paviliun, setelah lima hari Byakuya menjadikan Orihime sebagai tunangannya, dan bola Kristal Kehendak Bulan menghilang bersama dengan menghilangnya Orihime, Dewan sepakat bahwa Orihime –Pemangku Bulan adalah dalang dari semua ini, Taman Jiwa Tenang menjadi gempar, para dewa semua menjadi kebingungan, ini adalah masalah besar.
Dan sekarang sudah menjadi tugas Byakuya untuk membawa kembali pulang Orihime. Dan alasan kenapa Orihime dengan nekad mengambil Kehendak Bulan, sudah bulat dikepala Byakuya, tentunya dengan alasan yang sama –bahwa Orihime ingin menemukan seseorang yang belum ia temukan selama ia hidup menjadi manusia biasa.
Sebelum ia menjadi Pemangku Bulan.
Sebelum ia menjadi tunangan Byakuya,
Dikehidupan sebelumnya, Orihime bahkan belum melihat seperti apa wajah orang itu, seperti apa suaranya, seperti apakah kalau ia tersenyum, dan seperti apakah dia disaat ia bersedih?
Byakuya tidak bisa merasakan betapa sedih dan perihnya perasaan Orihime menjalani kehidupannya dengan takdir yang sama.
Kosong.
Hitam.
Tak berwarna.
Dan tidak memberikan hatinya pada siapapun.
"Aku sudah siap". Kini Byakuya sudah siap dengan misinya, sudah siap dengan apa yang dihadapi nantinya, ia sama sekali tidak keberatan kalau Orihime tidak menaruh hati padanya, ia tidak keberatan jika nantinya Orihime merasa tidak bahagia dengannya.
Asalkan Orihime tidak menyakiti hatinya sendiri dengan usahanya yang sia-sia ini –mengambil Kehendak Bulan demi manusia yang sama sekali tidak Orihime kenal.
"Baiklah, Pencarian Kehendak Bulan dan Penjemputan Tsukiko no Aki sudah dimulai" ujar Gin dengan semangat.
Dan satu kata dari Orihime yang masih sangat diingat Byakuya, 'Aku masih tidak bisa memberikan hatiku pada siapapun…'
'…termasuk kepada anda, Kuchiki-sensei…'
'Maaf…'
Orihime meminta maaf.
Itu membuatnya sakit hati, dimalam saat keduanya resmi menjadi sepasang kekasih dalam tali pertunangan, kelopak sakura berguguran satu demi satu, keindahannya seolah tak mempedulikan bagaimana perihnya hati Byakuya. Lalu Orihime memilih meninggalkan Byakuya dibilik Paviliun , sendirian. Makan malam yang seharusnya berjalan dengan romantis sirna begitu saja seiring gesekan kimono megah Orihime menghilang dari udara.
Sebesar apakah keinginannya untuk bertemu dengan manusia itu?, pertanyaan itu menyangkut dikepala Byakuya terus menerus, mulai malam itu.
"Oho, aku sangat tidak sabar , aku ingin bertemu dengan Orihime, seperti apakah saat dia menjadi manusia?" dengan seringai rubahnya Gin mencoba mengajak berinteraksi dengan Byakuya yang sedari tadi hanya diam dan terlihat berpikir.
"Pasti sangat manis, benarkan Byakuya sama?"
"Hentikan celotehanmu itu, dimana kewibawaanmu sebagai Kepala Bagian Penghukuman, Gin Icimaru?, tenang dan mulailah misinya". Byakuya memilih melangkah menjauh.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk mendapatkan Kehendak Bulannya…" seringaiannya semakin menyeramkan.
"…benar-benar tidak sabar".
.
.
.
Ulquiorra mendorong pintu kaca kantor Kejaksaan, langkah pertama tak terjadi apa-apa
Namun saat langkahnya diikuti makhluk yang bernama Orihime Inoue, suara-suara bisikan staff wanita memenuhi lobby kantor Kejaksaan.
Ulquiorra tetap melangkah.
Dan dibelakangnya Orihime mengikuti, dengan langkah kaki tanpa alas.
'Psst…siapa gadis dibelakang Kepala Jaksa?'
'Entahlah…'
'Tidak biasanya Cifer-sama datang dengan hanya memakai kemeja'
'Bodoh!, apa kau tidak bisa melihatnya, Jasnya dipakaikan kepada gadis itu'
'Ahhh…aku sangat iri, kenapa lelaki sedingin Kepala Jaksa mau melepaskan Jasnya untuk gadis itu seorang'
Ulquiorra lebih memilih terus melanjutkan jalannya daripada harus berlama-lama mendengar para staff-nya membicarakannya diam-diam karena dia membawa seorang gadis.
"Tu-tuan, tunggu… kau melangkah terlalu cepat"
'Dia memanggil Kepala Jaksa dengan sebutan Tuan'
'Manisnya…'
Namun Ulquiorra terus melangkah.
Orihime coba mengikuti langkah Ulquiorra yang lebar.
"Tuan…" Tapi,
"Kyaa…"
'Dia terjatuh'
Orihime tersungkur dilantai, ia bisa merasakan betapa dinginnya lantai marmer yang menempel didahinya.
"Apa kau bisa bersikap tidak ceroboh, nona?" Ulquiorra hanya memandangi Orihime yang tersungkur dan tidak kunjung terbangun dari posisinya.
'Kau lihat itu… sikap dinginnya sama sekali tidak berubah, padahal ada gadis manis yang sedang tersungkur didepannya'
'benar-benar pria sedingin balok es' Dua staff perempuan dikantor Kejaksaan masih saja betah mengomentari tindakan orang didepannya –meskipun itu adalah atasannya sendiri.
"Hhhh…" tidak tahan dengan celotehan yang terdengar menyindir bagi Ulquiorra, ia mengeluarkan tangannya dari saku dan memilih memberikan sedikit bantuan pada Orihime.
"Bangunlah, ini tempat umum, jangan bersikap seolah-olah kau ini baru lahir kemarin…"
"…kau akan mengotori jas-ku. "
Orihime menerimnya.
Deg.
Deg.
Saat Orihime meraih tangan Ulquiorra, jantung Ulquiorra berpacu lebih cepat, ia bahkan dapat mendengar betapa keras jantungnya berdegup.
Orihime berdiri, dan Ulquiorra buru-buru menarik tangannya kembali kedalam sakunya, dan masih memasang wajah datarnya.
'Apa itu tadi?' batin Ulquiorra
"Ahahhh…tas kelincinya, nanti akan jadi kotor!" Orihime merasa jengkel, membersihkan tas mungil kelincinya yang menurutnya sudah terlanjur kotor.
"Sudahlah, kau sudah mengulur banyak waktu, nona" melangkah meninggalkan Orihime yang tengah memarahi dirinya sendiri.
"Hei…tuan tu-tunggu…" Orihime menyusul Ulquiorra yang berjalan cukup jauh darinya.
.
.
.
.
Cukup ramai saat pagi menjelang, lalu lalang sudah dimulai ditengah kota, pejalan kaki sudah menyebar dimana-mana.
Trafel light tak henti-hentinya berganti warna, suara klakson mobil saling sahut menyahut, dan derap kaki para pejalan yang sibuk sudah menjadi pemandangan yang umum, namun baru dimata Byakuya dan Gin.
"Satu hari untuk mencari Orihime pasti tidak akan cukup…"
"Lihatlah kota ini"
Osaka, Seharian tidak akan cukup untuk menjelajahi-nya, bagi seorang manusia biasa, apalah arti kota ini bagi kedua dewa ini.
"Ah, aku berharap Jendral mengijinkan kita menggunakan kekuatan" Gin mengeluh.
"Kita dilarang menggunakan kekuatan demi keselamatan dan keamanan manusia, jadi ikuti saja 'aturannya', Ichimaru-san".
"Ho, kau memanggilku dengan panggilan baru, Byakuya sama? Aku sangat terharu"
"Aku memanggilmu dengan nama belakang untuk mematuhi peraturan dan formalitas karena situasinya berbeda kali ini…"
"Ya, ya aku tahu" Ungkap Gin karena merasa aneh kalu terus menerus mendengarkan penjalasan yang kelewat logis dari Byakuya.
"Apa kita akan berdiri disini terus?..." Gin menyadari orang-orang yang berjalan dikanan-kirinya terus memperhatikan mereka berdua. Tentu, penampilan mereka diatas rata-rata, pakaian mantel yang mereka gunakan, wajah mereka. Memang jauh diatas rata-rata.
"…para manusia ini, sepertinya mereka melihat ada hal aneh yang menempel pada kita" Gin menaikkan kerah coat-nya, "Dan disini cukup dingin."
.
.
.
.
'diperkirakan suhu didaerah Utara Jepang akan menurun secara drastis hingga mencapai 9 derajat, dan musim gugur datang lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya…' Suara dari pembawa acara perkiraan cuaca ditelevisi menjadi perhatian utama orang-orang yang ada didalam ruangan tersebut.
"Ya ampun, musim gugur sudah datang, pantas saja pagi ini anginnya kencang sekali…" salah seorang wanita berkomentar.
"…aku sudah tidak sabar untuk mengambil liburan musim gugur dari Kepala, pasti sangat menyenangkan bisa libur selama musim gugur." Lanjutnya sekali lagi.
"Hei, Matsumoto apa kau tidak ingat, kau itu asisten seorang jaksa, tidak ada kata libur dikamus para jaksa" orang lain menanggapi perkataan wanita bernama Matsumoto itu.
"Apa maksudmu Ise-san?, benar kita seorang penegak hukum tapi kita juga hanya seorang manusia, liburan adalah hal yang perlu dilakukan juga" timpal Matsumoto lagi.
"Hah…benar kata Matsumoto-san, belakangan ini kita hanya menangani kasus sepele, tidak ada kasus yang serius, tidak ada penyelidikan, ini benar-benar membosankan, benarkan detektif?" ucap seorang perempuan berpostur mungil yang sedang menyangga dagu bosan. "Detektif?" ia memanggil lagi, dan menengok kearah orang yang ia panggil tadi.
"Apa Hitsugaya tidur lagi, Hinamori?" Tanya Matsumoto yang menyadari lelaki disamping gadis bernama Hinamori sedang tertidur pulas dengan menyembunyikan kepala dikedua lengannya tersebut.
"Dia terlalu sombong karena belakangan ini tidak melakukan penyelidikan, dasar bocah!" mengambil Binder yang ada diatas mejanya, Ise Nanao bangkit dari kursinya.
"Dasar bocah!" mengetuk kepala Hitsugaya dengan binder bersampul keras miliknya "apa kau tidak melihatnya, ini bukan kasur yang nyaman ini adalah kantor kejaksaan, hei bocah!..."
Merasa tidurnya diganggu, Hitsugaya membuka matanya "…hei bocah, kau bisa mendengarku?" memukul kepala Hitsugaya sedikit lebih keras.
"Nanao-chan, hentikan itu…kasihan detektif." Hinamori merengek.
"He-hei, Baa-san, berhenti memukuli kepalaku…" rengut Hitsugaya dan memegangi kepalanya agar tidak dipukuli lagi.
"Baa-san katamu?!..." bermaksud akan mencibir telinga bocah didepannya –Hitsugaya, sebuah suara keburu menginterupsi Nanao.
"Hentikan semua itu, Ise-san" Ulquiorra datang, semua yang ada diruangan menjadi gelagapan –khususnya Nanao
"Kepala Jaksa sudah datang rupanya" Matsumoto berkata begitu agar Nanao yang masih memegang binder dikepala Hitsugaya mau kembali lagi kemeja-nya.
Nanao membungkuk, kembali lagi kemeja-nya, dan terus merutuki dirinya sendiri.
"Anda terlambat, Cifer-sama" Ujar Matsumoto melihat sang atasan yang datang tidak seperti biasanya.
"Dan dimana jas Anda, Cifer-sama?" Hinamori bertanya dari balik mejanya
"A-apa kita sudah sampai…Tuan?" dari luar Orihime datang dengan terengah-engah.
Hitsugaya, Rangiku, Hinamori, Nanao tekejut, dan menyimpan pertanyaan dikepala mereka masing-masing 'Siapa gadis ini?'.
"Aku ingin meminta tolong kepada kalian, cari tahu siapa sebenarnya gadis ini."
"Apa artinya kita akan menangani kasus yang tidak sepele lagi?" Hinamori merasa antusias "benar 'kan, detektif?" menyenggol Hitsugaya yang berkebalikan sikap dengannya –menyangga dagu dengan muka malas.
"Apa kau punya bukti yang mendukung?" Tanya Hitsugaya pada Ulquiorra.
"Tentu saja…" Ulquiorra melangkahkan kaki menuju kursi-nya, dan memilih posisi yang lebih nyaman dengan duduk.
"…aku menemukannya ditrotoar kemarin sore, dan dia sama sekali tidak mengingat apapun…siapa namanya, dimana dia tinggal, dia tidak mengingatnya sama sekali, tapi aku menemukan sebuah kartu identitas didalam tas yang ia bawa, namanya adalah Orihime Inoue, siswi Kara Kura High School." Menyerahkan kartu identitas Orihime pada Hitsugaya, lalu Hitsugaya menerimanya.
"Kara Kura? Tidak ada nama sekolah seperti itu di Osaka." Rangiku mendekat dan mengambil kursi disamping Hitsugaya
"Mungkin saja dia dari luar kota." sahut Nanao.
"Itu mungkin saja, tapi bagaimana gadis ini mendapatkan 'Amnesia'-nya?..." wajah malas Hitsugaya berubah seratus delapan puluh derajat, berganti serius dan berwibawa, "…itu harus diselidiki".
Sedangkan para orang bertampang serius berdiskusi, Hinamori memilih memberikan sedikit pertolongan pada Orihime yang sedang terganggu akibat suhu musim gugur yang dingin.
"Aku sangat jarang melihat Cifer-sama membawa seseorang, apalagi kalau itu seorang gadis" menyerahkan mug yang berisi kopi hangat pada Orihime.
"Terim kasih"
"Namaku Hinamori Momo, aku asisten detektif di tim Cifer-sama" Hinamori menawarkan tangan sebagai perkenalan diri, namun Orihime masih tak begitu mengerti apa maksudnya itu.
"O-oh…kata Tuan, namaku Orihime Inoue", tak kunjung menerima tangannya, Hinamori merebut tangan kanan Orihime yang tengah memegang mug.
"A-ah, aku tau…Orihime-nee-san, senang berkenalan denganmu" Hinamori tersenyum lembut, membuat Orihime melupakan dingin disekitarnya.
"Wah…kau tahu nee-san, kau sangat manis, tidak salah Cifer-sama mau membawa nee-san kemari…" sifat Hinamori yang kekanakan dan ceria ia keluarkan sebagai tanda perkanalannya, awal yang baik.
"…jika nee-san tak tahu, Cifer-sama adalah pria yang paling ditakuti di kantor, dia itu dingin, tanpa ekspresi, dan tanpa ampun semua orang takut dan menghormatinya." Hinamori mengatakan dengan gamblang, walaupun posisinya salah dalam mengatakan itu –diruang pertemuan tim dan didalamnya ada orang yang ia bicarakan. Dan Orihime hanya bisa tersenyum dan menahan tawanya saat mendengarkan cerita dari Hinamori tentang Tuan Tanpa Senyum.
"Ehm…" dari belakang Hitsugaya berdiri denan menyilangkan kedua lengannya.
"Hinamori, kembalilah kekursimu, Ulquiorra menyuruh kita untuk menangani berkas yang diserahkan oleh client…dan biarkan nona ini menikmati kopi-nya tanpa tersedak karena lawakan-mu" perintah Hitsugaya pada Hinamori.
"Ini tidak adil, selalu saja mengurusi kertas-kertas itu, tak ada penyelidikan, ini membuang mood saja" sambil menggembungkan pipinya, Hinamori meninggalkan Orihime. "nanti kita akan mengobrol lagi, Orihime-nee-san"
"Maaf, nona…apakah kau bisa menunggu?, kita ada sedikit pekerjaan disini" Hitsugaya memperhatikan Orihime dari atas kepala hingga ujung kaki Orihime.
"I-iya" ucap Orihime.
"Dimana alas kaki-mu, nona?"
"Itu…aku tidak mempunyainya."
.
.
.
.
Sebelum berangkat kerumah sakit, Unohana memilih menyempatkan mampir ke toko swalayan untuk membeli bahan-bahan untuk makan malam nanti dirumah Ulquiorra, mengingat ada seorang gadis unik yang tinggal bersama-nya. Ia berpikir dengan sering-sering mengunjungi apartemen Ulquiorra ia bisa bertemu dengan Orihime dan memantau perkembangan kesehatannya, itu cukup logis untuk dijadikan alasan jika nanti Ulquiorra bertanya.
Membawa kantong belanja yang membuat tangannya penuh, Unohana menjadi kesulitan memperhatikan jalan dan tidak memperhatikan sekitarnya, dan yang terjadi adalah…
BUKH!
Unohana menabrak seseorang, barang belanjaannya menjadi tercecer ditrotoar, ceroboh sekali.
Memilih memunguti sendiri barang belanjaanya, setelah menyadari bahwa orang ditabraknya tadi tidak berinisiatif unruk membantunya.
"Maafkan saya, saya ceroboh" sambil berjongkok memunguti paprika dan beberapa buah jeruk yang masih tercecer.
Tidak ada jawaban saat Unohana meminta maaf pada orang yang ditabraknya tadi.
"Ada apa, Byakuya-sama? Kau menabrak seseorang?"
Unohana melebarkan matanya.
Suara itu
Ia mengenal suara itu
Unohana berdiri dan menemukan dua orang lelaki yang berbeda warna rambut, memakai setelan musim gugur berwarna gelap, ia tidak mengenal pria berambut panjang itu, tapi orang dibelakangnya…
'G-Gin?'
"Gin Ichimaru?" Unohana terkejut, tangannya bergetar, ia terkejut.
Dan Gin hanya bisa menyunggingkan senyum khas-nya, "Wah…wah, apa ini kebetulan? Apa kita baru saja bertemu dengan orang dari dunia roh secara tidak sengaja?"
"Apa yang kau lakukan didunia manusia?, Ichimaru Gin?"
"Kau masih bisa mengingat namaku, Retsu-san? Itu menakjubkan"
"…padahal sudah sembilan tahun lebih kita tidak bertemu, benarkan Retsu-san?..."
" Mantan Pemangku Bulan yang bijaksana, Toshiko no Yuu Unohana Retsu"
.
.
.
.
"Kau sudah lihat?" Ulquiorra bertanya pada Hitsugaya yang sedang sibuk membc berkas pengajuan dari client.
"Dia gadis yang berbeda." Singkat, Hitsugaya menjawabnya.
"Bagaimana?"
"Tentu saja aku akan melakukannya, aku adalah anggota tim-mu, Ulquiorra, mana mungkin aku akan mengabaikan permintaan ketua tim dan Jaksa Kepala"
"Terima kasih, kalau begitu"
"Dan sebelum itu, belikanlah dia sepatu…aku kasihan dengan gadis itu, kakinya gemetar kedinginan"
Ulquiorra mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang menumpuk dimejanya pada gadis yang sedang tertawa gembira bersama Hinamori disudut ruangan, dia belum melihatnya tertawa seperti itu, sejak kemarin sore, sejak dia bangun tidur dengan disinari matahari dipagi musim gugur yang datang lebih awal, ia belum melihat garis yang melengkung sempurna yang terlukis dibibirnya dan terkadang melepaskan tawa renyah saat Hinamori mengeluarkan cerita paling lucu miliknya, dia terlihat lebih normal dengan tawanya,
Terlihat lebih seperti gadis yang biasa daripada gadis aneh yang ia kenal dihari pertama ia menemukannya.
Terlihat lebih anggun dari dress hitam yang ia gunakan.
Ia teringat saat Orihime yang memeluk dirinya sendiri karena angin musim gugur berhembus melewati pundaknya yang kosong tanpa perlindungan, dan saat itu ia memutuskan untuk melepaskan jas miliknya untuk Orihime.
Ulquiorra merasa gadis ini mulai mengisi waktunya yang ia lewati sedatar lantai, membuat sedikit riak yang perlahan mulai menyebar dikehidupannya.
-Orihime gadis yang datang di musim gugur yang datang lebih awal-kedatangannya tiba-tiba seperti angin- Senyumnya sehangat Matahari diawal pagi- Suara tawanya selembut air yang mengalir-
=To Be Continued=
Thank's for reading. Review Please. Saran dan kritik masih sangat diperlukan.
-Don't be a Silent Reader, Review Please!-
-PooCha-chan-
