PLASTIC LOVE!

Chapter 2

Author : Anchovyyimutt a.k.a Shin Min Ni

Disclaimer : Eunhyuk dan Donghae punya diri mereka masing-masing (dan saling memiliki juga), tapi cerita ini murni punya saya, maaf kalau ada kesamaan judul maupun isi karna ketidaksengajaan

Rating : T

Genre : Drama / romance / slight!Fluff / slight! Angst(?)

Warning : BL, YAOI, boyxboy, typos di mana-mana, EYD kacau, alur gaje, isi gak nyambung dengan judul, DLDR, dll. Mungkin nanti juga bakalan ada slight! Genderswitch(?)

Pairing(s) : HaeHyuk,WonHyuk, Kyuhyuk, JinHae, HaeEun, slight!YoonHae, slight!Haesica

Main Cast : Lee Hyukjae, Lee Donghae

Other Cast : Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Haejin, Seo Eunseo, SNSD's Yoona, SNSD's Jessica

.

.

.

November, 18 2012

.

.

.

Anchovyyimutt presents

.

.

.

PLASTIC LOVE! © Anchovyyimutt

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ

.

.

.

I'VE WARNED YOU!

.

.

.

Seoul, April 2007, Seoul National University

Taman Seoul National University…sungguh tempat yang menenangkan untuk bersantai. Di tengah taman yang asri tersebut tampak bertengger (?) sebuah kursi taman yang indah. Tentu saja, dengan seseorang yang tengah duduk di atasnya, seraya membaca sebuah buku. Kacamatanya tampak sedikit melorot saking seriusnya ia membaca. Kerah kemeja kotak-kotak biru yang dikancing sampai atas, rambut merah yang disisir rapi ke samping serta tebalnya buku yang ia baca semakin menambah kesan culunnya.

"Hai…kau, Lee Hyukjae kan?", Hyukjae terkaget dari acara mari-membaca-buku tebalnya saat tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang.

Saat ia berbalik, sungguh! rasanya seperti bunga matahari bermekaran di dadanya.

Di sana, tepat di depannya, dengan jarak kurang dari dua meter darinya, berdiri sang pangeran penyelamatnya, Lee Donghae.

Ya, Lee Donghae, orang yang sudah Hyukjae anggap sebagai belahan jiwanya.

"N-ne…?", Hyukjae berusaha menghilangkan rasa gugupnya dan memperbaiki letak kacamatanya yang melorot.

Ia kedipkan matanya beberapa kali, masih tak percaya bahwa Lee Donghae kini berada tepat di depan matanya dengan senyum cerah.

Lee Donghae, orang yang membuatnya harus berjuang keras agar bisa masuk ke jurusan business di Seoul University. Lee Donghae, sang penyelamat jiwanya, pangeran impiannya sejak kecil.

"Begini, Hyukkie. Sebenarnya, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.", jelas Donghae seraya duduk di sebelah Hyukjae.

DEG

Jantung Hyukjae semakin berdegup tak karuan.

'Ohhh…akhirnya! Setelah penantianku selama bertahun-tahun, akhirnya Donghae mengajakku bicara! Omo, ia bahkan ingat namaku! Dan memanggilku Hyukkie! Hahahaha berarti usahaku untuk masuk jurusan yang sama dengannya tidak sia-sia!'

Begitulah kira-kira isi pikiran Hyukjae.

"Ne, apa yang perlu kau bicarakan?", ia berusaha membuat nada suaranya setenang mungkin. Padahal, saat ini jantungnya sedang berdangdut ria dalam dadanya.

"Begini, sebenarnya…aku ingin mengajakmu belajar bersama nanti malam….bagaimana?"

Eh?

'Oh Tuhan…apakah ini mimpi? Apakah sekarang aku tengah tertidur di taman dan memimpikan Donghae? Ya Tuhan, ini….ini tidak mungkin nyata!'

'L-Lee Donghae…baru saja mengajakku b-belajar bersama?!'

Belum selesai jantungnya berdangdut ria, sepertinya sekarang ada kembang api meletus di perutnya. Wajar saja, setelah penantian bertahun-tahun dalam diam, akhirnya Lee Donghae mengajaknya bicara untuk pertama kalinya.

"Hei, apa kau baik-baik saja?", Donghae melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hyukjae.

'Ya Tuhan…tumben sekali kau memberiku mimpi seindah ini….'

Hyukjae masih sibuk dengan pikirannya, sementara lawan bicaranya hanya dapat memandangnya keheranan. Tiba-tiba saja, senyum bodoh terukir di wajah Hyukjae.

"Pfftt, Pwahahahahaha! Omo, ini sungguh sangat lucu! Astaga, mimpiku kali ini benar-benar sangat indah! Aish, perutku sakit! Hahahahaha!", Hyukjae terus tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, membuat orang di sebelahnya semakin memandangnya tak mengerti.

'Apa dia sudah gila?', pikir Donghae.

Nyuuttt

Donghae makin terkejut, saat tiba-tiba saja Hyukjae mencubit pipinya keras.

"Aww, itu sakit!", Donghae berusaha protes, namun sepertinya Hyukjae terlalu sibuk tertawa untuk peduli.

"Waahhh, bahkan pipinya juga terasa nyata! Imajinasiku benar-benar hebat!"

Donghae semakin terlihat bingung.

"Hei Lee Hyukjae. Apa maksudmu dengan imajinasi? Dan kenapa kau mencubit pipiku?!"

Sekali lagi, Hyukjae hanya terkikik geli. Ia mendudukkan dirinya lagi di sebelah Donghae dan meraih pundaknya.

"Yah Lee Donghae, karna sekarang kau sedang berada dalam mimpiku, jadi kau tak boleh protes jika kuapa-apakan, okey?", kata Hyukjae seraya mengacak rambut Donghae.

Sementara Donghae? Ya, ia tidak tahan untuk tidak terkikik geli melihat kepolosan makhluk di depannya ini.

'Aigo, ternyata benar! Anak ini benar-benar polos…', ucapnya dalam hati.

"Hei, Lee Donghae dalam mimpiku! Kenapa kau malah diam?", Hyukjae memasang pose ngambek yang terlihat aneh di mata Donghae.

'Jadi dia benar-benar mengira aku ini hanya mimpi? Aigoo…benar-benar lucu!', Donghae masih asyik bercakap dengan batinnya.

"Yah~, di dunia nyata kau boleh cuek padaku…tapi ini kan dunia mimpiku, jadi kau harus bertingkah sesuai kemauanku, mengerti kan?", Hyukjae masih bergumul dengan keyakinannya bahwa Donghae yang saat ini berada di sebelahnya hanyalah 'mimpi'.

"Ne, arrasso…", sial bagi Hyukjae, Donghae malah menanggapi kekonyolannya. Ia sebenarnya tidak tahan untuk tertawa terbahak-bahak saat ini juga.

'Benar-benar namja yang polos…aku ingin tau, bagaimana reaksinya kalau tau aku ini nyata nanti? Kekeke', begitulah kira-kira isi pikiran jahil Donghae.

Hyukjae yang melihat anggukan Donghae disertai senyuman angelicnya hanya bisa menyunggingkan gummy smile tercintanya.

Poor Hyukjae, sepertinya ia masih belum sadar akan situasi getirnya saat ini.

"Good boy…", Hyukjae mengelus rambut Donghae lembut seolah ia sedang mengelus anjing kesayangannya, Choco. –mian Donghae oppa,kau kusamain sama anjingT.T-

"Emm….baiklah kalau begitu. Keinginan pertamaku padamu, Donghae-dalam-mimpiku…adalah agar kau menciumku…ne?", Hyukjae tersenyum dengan polosnya sambil memanyunkan bibirnya, sementara saat ini Donghae tengah bersweatdrop ria mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan Hyukjae.

"M-mencium….mu?"

"Ne, menciumku. Kalau Donghae dunia nyata tidak akan pernah melakukan itu padaku…kenal saja tidak. Tapi karna sekarang kau itu adalah mimpiku, jadi aku bisa melakukan apa saja yang aku mau….benar kan?", Hyukjae tersenyum makin lebar, mempertontonkan lebih banyak gummy smile-nya.

'Baiklah, ini benar-benar mulai aneh. Menciumnya?! Mana mungkin aku akan menciumnya?! Aish…anak ini benar-benar aneh, aku ini kan masih normal!'

Donghae yang merasa 'kepolosan' Hyukjae ini sudah agak keterlaluan, memutuskan untuk mengklarifikasi semuanya. "Begini Hyukkie….sebenarnya aku-"

"OPPA!"

belum sempat Donghae menyelesaikan kata-katanya, tedengar suara seseorang dari kejauhan yang sepertinya sangat ia kenal. Suara yeoja tepatnya.

"Aish, oppa, kau di sini rupanya! Tadi aku mencarimu kemana-mana, tapi kau malah asyik bersantai di taman. Ayo, Jung seongsaengnim mencarimu…"

Belum sempat Donghae menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, lengannya sudah lebih dulu ditarik paksa. Tapi Donghae kenal betul suara siapa ini.

"Ne, Yoona ah, tunggu sebentar…aku pamit pada Hyukjae dulu…", Donghae menahan yeoja yang ternyata adalah Im Yoona, yeoja yang kepopulerannya tidak diragukan lagi di Seoul University, yang tentu saja merupakan kekasih si pangeran kampus Donghae. Terlihat ekspresi kesal di wajah Yoona tepat saat Donghae mengucapkan nama Hyukjae.

"Ne, tapi jangan terlalu lama. Kutunggu di sini."

Donghae hanya membalas perkataan Yoona dengan senyuman, sementara ia segera melangkah kembali ke arah Hyukjae yang saat ini tengah berdiri tertegun beberapa meter darinya.

"Yah Hyukkie-ah, aku pergi dulu, ne? nanti sepulang kuliah aku akan menemuimu…kita jadi belajar bersama kan?", Donghae menyunggingkan senyum manisnya, yang sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh Hyukjae, karna sekarang ia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Hyukkie? Gwaenchana?", Donghae mengayun-ayunkan telapak tangannya di depan wajah Hyukjae, namun tidak mendapatkan respon yang berarti. Hyukjae tengah sibuk melotot dalam diam saat ini.

"Hyuk?", Donghae mulai terlihat kesal.

"HYUKKIE!", akhirnya, Donghae memutuskan untuk setengah berteriak tepat di telinga Hyukjae, membuat Hyukjae tersadar seketika.

Hyukjae yang tadinya sibuk dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di otaknya tepat setelah kedatangan Yoona, kini makin terlihat shock karna wajah Donghae hanya berjarak beberapa centimeter darinya.

"T-tunggu dulu….k-kenapa Im Yoona bisa muncul dalam mimpiku?", entah pertanyaan itu ia lontarkan untuk Donghae atau untuk dirinya sendiri, yang pasti hal itu sukses membuat Donghae terkikik geli.

"K-kenapa kau malah tertawa? Aku kan tidak menyuruhmu untuk tertawa!", Hyukjae mengerucutkan bibirnya, kesal.

"Kau tau kenapa aku bisa tertawa sesukaku, bahkan sebelum kau perintahkan? Atau bagaimana mungkin Yoona masuk dalam mimpimu padahal kau tidak menginginkannya?"

"Eh? Umm….a-ani?", Hyukjae bertanya polos.

Donghae menyeringai sesaat, sebelum akhirnya ia berbisik di telinga Hyukjae, membuat jantung Hyukjae serasa mau copot seketika.

"Itu…karna aku ini nyata, Hyukkie. Dan soal ciuman itu…aku rasa kita harus menundanya untuk lain waktu. Annyeong…"

Tepat setelah mengatakan itu, Donghae berlalu pergi, beranjak ke tempat Yoona dan menggandeng tangannya, meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri terpaku sendirian di taman.

"Nya-nyata….?", Hyukjae bergumam pada dirinya sendiri.

"I-itu berarti…tadi saat dia mengajakku untuk belajar bersama, saat aku mencubit pipinya….d-dan….saat aku memintanya untuk menciumku….", Hyukjae tertegun. Detik berikutnya, seolah ia baru saja tersengat listrik berkekuatan 1000 volt, nafasnya langsung tercekat di tenggorokan. "INI NYATA! AN-ANDWAE! LEE DONGHAE YANG AKU AJAK BICARA TADI, NYATAA!"

Hyukjae berteriak-teriak sendiri seperti orang gila, mengacak-acak rambutnya frustasi.

"OMO! Jeongmal pabboya! Apa yang aku katakan padanya tadi?! Cium?! CIUM?! Aish! Donghae pasti menganggapku aneh sekarang! Anniyaaaa!", Hyukjae masih sibuk dengan penyesalannya sendiri, tidak sadar bahwa tiga orang manusia(?) kini tengah mengawasinya dari balik pohon yang berada beberapa meter di depan Hyukjae.

"Bagaimana? Kau sudah percaya kan sekarang? Apa aku lolos?"

"Eh? Lolos apanya? Bahkan dimulai saja belum."

"Aish, kau ini sungguh merepotkan. Baiklah, kalau begitu akan sekalian kutunjukkan padamu. Aku, tidak pernah gagal mendapatkan yang aku mau..mengerti kan?"

"Ne ne, buktikan saja dulu, baru aku percaya."

"Yah, kalian berdua, tidak bisakah kita akhiri percakapan konyol ini? Aku sudah sangat lapar~"

"Ne, baby. Ayo, kita makan sekarang. Akan kubelikan kau apapun yang kau mau…"

"Tunggu dulu."

"Aish, apa lagi?!"

"apa menurutmu…ini tidak keterlaluan?"

"Keterlaluan apanya? Sudahlah, kau terlalu banyak berpikir. Bukankah kau sendiri yang memberikan syarat ini?"

"itu memang benar, tapi-"

"Aish sudahlah tidak usah dipikirkan! Ayo kita makan saja!"

-PlasticLove!-

A month later

"Hyukkie! Maaf ya membuatmu menunggu lama…", Donghae melambaikan tangannya sambil berlari kecil menghampiri Hyukjae yang tengah berdiri di samping pintu masuk kampus.

Hyukjae yang tadinya cemberut langsung berubah cerah. Ia sunggingkan senyum manisnya sambil menatap Donghae yang makin lama berlari makin mendekatinya.

'Aigo~ kami seperti pasangan kekasih yang sedang kencan saja! Hae berlari menghampiriku, aku menyambutnya dengan senyum cerah, lalu selanjutnya kami akan duduk berdampingan di dalam bus- ah anni! kami akan berdiri sambil berpelukan di dalam bus karna kondisi bus yang terlalu penuh…OMO! Sungguh romantis! Kekeke! Lalu Hae akan mengantarku pulang sampai rumah, mencium keningku, mengucapkan-AISH! Lagi-lagi aku memikirkan hal yang tidak-tidak. Sadarlah Lee Hyukjae!'

Hyukjae sibuk berkomat kamit ria akan khayalannya yang semakin liar bersama Donghae sambil memandangi Donghae yang semakin mendekat.

Jika kalian bertanya, bagaimana Hyukjae bisa memiliki pikiran seliar itu? Yah, sebenarnya jawabannya simple saja. Sudah sebulan ini ia dan Donghae menghabiskan waktu bersama –tidak, tentu saja bukan untuk berkencan. Itu terlalu cepat- untuk belajar bersama. Lambat laun mereka jadi semakin akrab, dan Donghae memaksa Hyukjae untuk memanggilnya Hae sebagai bukti pertemanan mereka.

"Aish…kau ini darimana saja sih? Lama sekali!", Hyukjae memanyunkan bibirnya lucu sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Hehe mian, tadi Yoona mengajakku makan sebentar di kantin, mana bisa aku menolaknya…", ucap Donghae sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

DEG

Seketika jantung Hyukjae seraya dihujam peluru bertubi-tubi. Selalu saja seperti ini…Biar sekeras apapun usaha Hyukjae untuk bisa lebih dekat dengan Donghae, tetap saja…ia akan selalu kalah oleh pacar tersayang Donghae, Im Yoona.

'Yah biar bagaimanapun, peluangku memang kecil. Dulu saat sekolah ada Jessica, sekarang saat kuliah juga ada Yoona. Mungkin memang aku tidak ditakdirkan memiliki' hubungan seperti itu' dengan Donghae. Bisa berteman dengannya saja sudah seperti mimpi bagiku. Mana mungkin aku harus berharap lebih lagi…', batin Hyukjae dalam hati.

"Yah Hyukkie, kau selalu saja melamun! Kajja, kita pergi!"

Donghae merangkul pundak Hyukjae dan menariknya keluar gerbang kampus, sementara Hyukjae hanya menanggapinya dengan menggangguk lesu.

Hah…, Lee Hyukjae, sungguh malang nasibmu. Untuk bisa mendapatkan hati Lee Donghae saja kau harus jungkir balik seperti ini. Bahkan kau sampai nekat ikut ujian masuk universitas diam-diam dulu.

Tapi…seperti kata pepatah, berjuanglah sampai titik darah penghabisan…benar bukan? Lagipula, masih ada 2 tahun lagi sebelum kelulusan. Siapa tau, Donghae yang sekarang hanya menganggapmu teman, langsung berubah pikiran setelah tau lebih jauh tentangmu…ne?

Benarkan, Lee Hyukjae?

-PlasticLove!-

Seoul, tahun 2009, semester akhir Hyukjae di Seoul National University

"ARGHH! INI MEMBUATKU GILA!", terlihat seorang namja tampan yang tengah mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya tak jelas.

Sementara, namja berpenampilan culun yang duduk di sampingnya hanya bisa terkikik geli melihat tingkah laku sahabat sekaligus cinta dalam hatinya ini.

Apa kalian sudah bisa menebak siapa dua orang ini?

Ya, benar sekali…siapa lagi kalau bukan Lee Hyukjae dan Lee Donghae, dua orang teman yang dipertemukan secara tidaksengaja –menurut pemikiran Hyukjae-. Ah tidak, teman bukan kata yang tepat. Sahabat karib…mungkin itu terdengar lebih cocok. Karna biar bagaimanapun, mereka ini seperti saudara kembar yang tidak terpisahkan.

Ya, aneh memang. Awalnya Hyukjae juga tidak menyangka bahwa dia akan bisa duduk sedekat ini dengan Donghae, mengobrol santai dengannya di atap kampus sambil memandang langit siang yang cerah. Sungguh seperti mimpi. Hyukjae, yang notabene adalah seorang kutu buku tingkat akut di kampus, bersahabat dengan Donghae, yang merupakan pangeran impian tiap gadis di seantero Seoul National University.

Jika kalian bertanya, apa yang sudah Hyukjae lakukan hingga membuat Donghae selengket ini padanya?

Jawabannya, tidak ada.

Ya, karna memang bukan Hyukjaelah yang mengejar-ngejar Donghae untuk terus bersamanya. Biarpun ia sangat menyukai Donghae, namun ia juga terlalu pemalu untuk melakukan hal itu. Donghaelah yang lebih sering menempel pada Hyukjae, mengikuti kemanapun Hyukjae pergi, bahkan tidak jarang Donghae juga menginap di rumah Hyukjae dan berangkat ke kampus bersama keesokan harinya.

Ini…seperti mimpi yang jadi nyata bukan? Hyukjae tidak perlu bersusah payah untuk berusaha dekat dengan Donghae lagi, karna Donghae sendirilah yang melemparkan(?) dirinya pada Hyukjae.

"Yah, Lee Donghae. Sudahlah, daripada kau mengeluh seperti itu, bukankah akan lebih baik jika kau gunakan waktumu untuk mulai menuliskan isi tugas akhirmu nanti? Sidang tinggal 4 bulan lagi, dan kau bahkan belum menulis satu katapun!", Hyukjae meninju pundak Donghae pelan, memasang ekspresi kesal yang dibuat-buat.

"Aish, Hyukkie. Kau tidak tau bagaimana perasaanku sih!", Donghae mengacak rambut Hyukjae gemas, kebiasaan yang tidak pernah ia lupakan selama dua tahun ini. Dan reaksi yang Hyukjae berikan akan selalu sama, ekspresi yang selalu bisa membuatnya tertawa.

"Aaaahh Lee Donghae! Kau sangat menyebalkan! Tatanan rambutku jadi rusak!"

Detik berikutnya, Hyukjae langsung berkacak pinggang sambil merogoh sesuatu di saku celananya, dan menyisirkan benda itu pada rambutnya hingga tatanan rambutnya kembali seperti semula, belah tengah dengan poni disisir ke samping.

Dan Donghae selalu berusaha keras untuk menahan tawanya.

"Pfftt, ayolah Hyukkie…kau ini yang benar saja! Apa kau tidak ingin merubah penampilanmu sedikit? Kau itu manis, aku yakin kalau kau berdandan sedikit lebih 'anak muda', akan banyak yang kagum dan menyukaimu!"

Hyukjae hanya bisa ber-blushing ria mendengar kata-kata Donghae. Ini baru pertama kalinya Donghae memujinya manis, dan entah kenapa, Hyukjae seperti melayang di langit ketujuh saat mendengarnya.

"aih, aih, kau tersipu Hyukkie! Haha sungguh sangat lucu! Kurasa kau ini benar-benar suka padaku ya! Hahaha!", Donghae terus saja menertawakannya, sementara Hyukjae kini tengah tertunduk malu.

'Aish, Hae, kau ini sungguh tidak peka! Bagaimana mungkin kau masih bisa tertawa sambil menganggap itu lelucon! Jika kau tau kalau sebenarnya itu benar…pasti kau akan langsung terdiam', gumam Hyukjae pada dirinya sendiri,

DRRTT DRRTT

Ponsel Donghae yang ia letakkan di atas sofa tempat ia dan Hyukjae duduk bergetar, membuat pandangan keduanya tertuju pada sang objek.

'Yoong Baby'

Sekilas Hyukjae dapat melihat caller ID sang penelpon. Seperti biasa, entah kenapa setiap Yoona mulai menghubungi Donghae, mood Hyukjae akan langsung berubah seketika. Ia yang tadinya ceria akan langsung mengatupkan bibirnya rapat sambil bergumam tidak jelas, seolah anak TK yang ngambek minta dibelikan permen oleh ibunya.

"Yeoboseyo…?"

'Here we go…', gumam Hyukjae.

Jika sudah seperti ini,ia tau bahwa ia cuma akan jadi obat nyamuk di sebelah Donghae.

"…."

"Ne, tentu saja bisa. Apapun untukmu sayang…"

Hyukjae serasa mau muntah mendengarnya.

"…."

"Ne, aku akan segera ke sana. Miss you too~ muach!"

KLIK

Donghae mengakhiri sambungan telponnya dengan 'Muach' yang cukup membuat Hyukjae harus menahan diri mati-matian untuk tidak muntah.

"Kau mau pergi?", Hyukjae bertanya to the point.

"Ne, kau tidak apa-apakan kutinggal sendiri? Yoona bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting. Nanti akan kuhubungi lagi…"

Donghae segera beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ke pintu tangga sambil melambaikan tangannya riang ke arah Hyukjae.

Sementara Hyukjae? Ia hanya dapat menggigit bibir bawahnya, menahan amarah.

"Aish..apa-apaan sih yeoja itu. Apa dia tidak tau kalau Donghae butuh konsentrasi penuh saat ini? Kenapa malah diajak pacaran terus-terusan?! Seharusnya jika ia memang menyayangi Donghae, dia akan memberikan Hae semangat untuk bisa menyelesaikan tugas akhirnya dengan baik bukan?"

Hyukjae mengoceh tidak jelas tepat setelah Donghae menutup pintu atap, mungkin lebih seperti meratapi dirinya sendiri yang tidak mampu menjadi orang se-special Yoona di mata Donghae.

-PlasticLove!-

"Eh? Ternyata kau di sini juga, bocah?"

"Tentu saja. Hal ini jadi semakin menarik dan aku penasaran. Ingat, deadlinemu semakin dekat. Aku cuma ingin melihat ekspresi kesalmu saat kau gagal nanti. Dan hei! Apa-apaan kau memanggilku bocah?! Umur kita cuma beda satu tahun!"

"Aish, kau masih belum mengerti juga ya? Aku ini tidak pernah gagal mendapatkan sesuatu yang kumau!"

"Blab bla bla, terserah kau saja. Jika kau belum punya bukti, jangan banyak mulut."

"Dasar menyebalkan."

"Aku anggap itu pujian."

"Bocah setan."

"Bicara tentang setan, kurasa kau lebih parah."

"Yah! Mana sopan santun-"

"Baby, sudahlah. Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini? Lagipula, aku heran padamu. Jika kau memang ingin menjadi artis terkenal, kau bisa gunakan kekuasaan ayahmu bukan? Untuk apa bersusah payah sampai seperti ini? Apa kau tidak takut terkena karma nanti?"

"Tidak bisa baby…kau tau sendiri kan, bagaimana ayahku? Ia sangat ingin aku menjadi seorang businessman sepertinya. Benar-benar membosankan. Aku yakin, jika aku mengatakan keinginanku yang paling tidak ia sukai, aku pasti akan langsung ditendang dari rumah! Bisa-bisa aku tidak dapat warisan nanti…"

"Ckckck, di saat seperti ini, kau masih juga memikirkan warisan? Benar-benar setan…"

"Yah, kau diam saja! Cukup siapkan dirimu. Ingat, jika aku menang, kau harus mengorbitkanku jadi artis di perusahaan milik keluargamu. Heran, kalian berdua ini sepupu, tapi tingkah laku kalian sangat berbeda. Babyku jelas lebih manis daripada dirimu."

"Ya ya, terserah kau saja. Lebih baik sekarang aku pergi dari sini, aku tidak mau jadi obat nyamuk kalian."

"Ne…belajarlah dengan rajin…"

"Pasti, sepupuku tersayang."

"Oi! Apa-apaan kau main mata dengan babyku seperti itu? Sudahlah, cepat pergi sana!"

"Jangan suka marah-marah, nanti kau akan cepat tua."

":YAH!"

"Sudahlah, baby. Kau tau kan dia tidak serius mengatakan itu, lebih baik sekarang kau makan dulu…biar aku suapi. Aaaa…."

Terlihat, sepasang kekasih itu asyik dengan dunia suap-menyuapi mereka sendiri, di salah satu sudut kantin kampus, tanpa sadar bahwa sepasang mata tengah mengawasi mereka intens semenjak tadi, dan lebih buruk lagi, mencuri dengar percakapan mereka.

"Sepertinya…dugaanku selama ini memang benar. Sekarang, tinggal menunggu waktu yang tepat. Dan selanjutnya, tinggal tunggu giliranku untuk maju…kekekeke", ia terkekeh pelan, lebih seperti menyeringai. Wajah cantiknya terlihat kontras dengan seringai mengerikan yang terukir dari bibirnya.

-PlasticLove!-

Keesokan harinya…

"Aish, Donghae…kemana dia seharian ini? Kenapa tidak mengikuti kuliah? Perasaanku tidak enak…", telihat Hyukjae duduk gelisah, tidak focus mendengarkan penjelasan dosen di depan kelas.

Memang, sejak pagi ia tiba di kampus, hingga beranjak sore seperti ini, ia sama sekali tidak menemukan sosok Donghae berkeliaran(?). Terakhir kali ia bertemu dengannya, tentu saja saat Yoona menelpon kemarin.

'Apa…terjadi sesuatu antara dia dengan Yoona?'

Tak bisa dipungkiri, kalau saat ini Hyukjae merasa sangat gelisah. Tidak biasanya Donghae menghilang tanpa kabar seperti ini.

Drrt drrt drrtt

Baru saja Hyukjae akan mengambil ponsel dari saku celananya –bermaksud mengirim pesan pada Donghae- ponselnya sudah lebih dulu bergetar, menandakan ada pesan masuk.

My Fishy Prince –nama ID kontak Donghae di ponsel Hyukjae-

'Kutunggu kau di atap sekolah. Aku membutuhkanmu bersamaku sekarang. Tolong aku Hyuk. Aku…benar-benar merasa kesepian. Rasanya seperti ingin mati.'

DEG

Hati Hyukjae langsung mencelos begitu membaca pesan singkat dari Donghae.

'Apa yang terjadi padanya?'

Drrt drrtt drrttt

Belum hilang rasa kaget Hyukjae, ponselnya kembali berdering.

'Apa kau keberatan membelikanku pil penenang? Punyaku sudah kuhabiskan satu botol. Tolong, aku butuh pil itu.'

'OMO! Apa maksudnya ini?! Pil penenang?! Untuk apa ia meminum pil sebanyak itu?!'

Perasaan Hyukjae semakin tak karuan. Dan sebelum ia sadari, ia sudah berdiri dari tempat duduknya dan berlari menuju pintu keluar, membuat seisi kelas kaget dengan reaksi tiba-tibanya. Jangan lupakan dosennya yang tidak kalah kagetnya karna sesi mengajarnya tiba-tiba disela.

"seongsaengnim! Maaf, saya ada keperluan mendadak, saya harus pergi sekarang!"

Dan sebelum dosennya sempat menjawab, ia sudah lebih dulu keluar kelas, berlari secepat yang ia bisa menuju atap kampus. Perasaannya campur aduk saat ini.

'Apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae? Kenapa ia membuatku khawatir seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Im Yoona itu? Karna jika ia, akan kupastikan yeoja itu meminta maaf telah membuatnya seperti ini!'

Beribu pemikiran melintas di otaknya, jantungnya terpacu makin cepat seiring langkahnya yang semakin cepat berlari.

BRAKKK

Hyukjae membuka pintu atap dengan kasar, menimbulkan suara gaduh.

"HAEE!"

Matanya menelusuri setiap area atap tempat ia biasanya menghabiskan waktu dengan Donghae. Ia coba mencari sosok Donghae, namun tak terlihat juga.

"HAE! DI MANA KAU?!", Hyukjae kembali berteriak, kini ia berlari ke sisi lain atap, tempat tumpukan bangku-bangku tak terpakai diletakkan.

BRAKKK PRANNGG BRAAKK PYARRR

Dan benar saja, baru setengah jalan ia berlari, ia dapat mendengar suara menyeramkan itu berasal dari sisi lain atap kampus.

"HAE!"

Betapa kagetnya Hyukjae saat ia menemukan Donghae tengah membanting benda-benda di sekitarnya seperti orang hilang akal. Jangan lupakan penampilannya yang terlihat sangat berantakan.

Segera dihampirinya Donghae yang tengah kalang kabut. Tanpa ragu, Hyukjae segera memeluk Donghae erat dari belakang, bermaksud untuk menenangkannya.

"Lepaskan! Aku belum selesai!", Donghae mencoba melepaskan pelukan Hyukjae.

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti dirimu sendiri! Hentikan! Apa yang kau lakukan hah?! Kau bau alcohol! Apa kau minum?!"

"Biarkan saja! Aku tidak peduli! Aku hancur Hyukkie, aku hancur!"

"Hae, kumuhon, jangan sakiti dirimu sendiri! Kita bicarakan ini bersama-sama!", terlihat, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Hyukjae.

Bagaimana tidak? Melihat orang yang ia sukai seperti ini, hatinya pasti ikut merasa sakit.

"Ini semua sudah tidak ada artinya! Dia meninggalkanku Hyukkie! Yoona meninggalkanku! Dia meninggalkanku demi laki-laki lain! AAAA!"

PRANNGG BRAAKKK PYAARRR

"Hae, kumohon henti- Ouch!"

Hyukjae tersungkur jatuh, sementara Donghae masih terus membanting apapun yang bisa dipegangnya, termasuk botol-botol alcohol kosong yang masih tersisa.

"HAE, BERHENTILAH BERTINDAK BODOH!"

PLAKK

Hening. Itulah yang terjadi saat ini. Tepat setelah Hyukjae menampar Donghae keras, Donghae langsung terdiam, begitu pula Hyukjae. Terlihat, kini pipinya sudah dibasahi airmata. Sementara Donghae, ia terlihat sangat hancur. Wajah tampannya Nampak sangat kusut, bercampur ekspresi kaget sekaligus sakit.

Sejenak mereka hanya saling berpandangan, tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.

"Hyukkie….", Donghae memecah keheningan, mulai berjalan perlahan mendekati Hyukjae, tentu masih dengan ekspresi yang sama.

Sementara Hyukjae, ia hanya terpaku di tempatnya berdiri, tangisnya makin menjadi. Anggap saja ia cengeng, tapi sungguh, melihat Donghae seperti ini membuat hatinya sakit.

GREPP

Tanpa aba-aba, Donghae memeluk Hyukjae, erat, membuat Hyukjae membeku seketika.

"Hyukkie…tolong aku. Aku…sangat membutuhkanmu di sisiku saat ini."

Dan detik berikutnya, Hyukjae merasakan sesuatu yang hangat membasahi bahunya.

'Donghae….ia menangis.'

Ini, adalah pertama kalinya Hyukjae melihat Donghae menangis sejak mereka menjadi sahabat. Dan entah kenapa, satu-satunya hal yang ingin dilakukan Hyukjae saat ini adalah memberikan kehangatan pada tubuh Donghae yang terasa sangat dingin. Dan akhirnya, Hyukjae membalas pelukan Donghae tidak kalah eratnya, mencurahkah semua perasaannya saat ini.

"Menangislah Hae…menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Aku akan di sini menemanimu…"

"Aish, apa-apaan itu? Beradegan pelukan seperti itu? Memangnya ini film drama? Sungguh berlebihan."

"Yah, sudahlah. Lebih baik kita pergi sekarang. Kau tidak mau kan, dipergoki oleh mereka sedang mengintip saat-saat romantis itu?"

"Terserah kau saja…kajja."

-PlasticLove!-