Hahahahahaha… akhirnya selesai juga chapter 2 ini. Tsuki udah usaha untuk publish cerita ini. tapi berhubung Tsuki fokus sama skuel jadi tertinggal deh nih cerita. Tsuki yakin WAKTU adalah cerita yang Tsuki paling lama untuk update. Maafkan Tsuki. Tsuki akan lebih berusaha untuk memperbaiki masalah waktu. Dan maafkan Tsuki, kali ini Tsuki gak bisa merubah alurnya. Tsuki udah meneguhkan hati bahwa Naruto akan menjadi death chara disini. Maafkan Tsuki. saatnya balas review…

Naruto : aku yang review deh. Author duduk aja. Kasian, pasti capek.

Author Tsuki : Arigatou….. *Peluk Naruto sambil ngasih kupon makan gratis ramen.*

Naruto : oke. Aku yang balas review kali ini.

Nara Hikari : Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan. Sekarang Author update.

Fanny Amatir Author : haahahahahaha aku aja sampe pengen pingsan. Tapi Kyuubi itu orangnya baik kok. Cuma agak jail aja. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Yashina Uzumaki : iya nih. Author katanya sedang berusaha untuk angst nya. Ya begitulah. Author suka banget sama SasuFemNaru dan keromantisannya juga tentunya. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Mizu : Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan. Hahahahaha siapkan saja mungkin perlahan akan mulai terasa sadnya. Yupz, Tsuki sedang berusaha untuk membuatku mati. Ah… masalah bahasa, Author memang mengakuinya. Mau tahu? ini itu cerpen jadul Author. Alias cerpen yang sudah lama dibuat sama Author Tsuki. Tetapi dengan karakter yang berbeda. Dan karena ngeditnya kurang prefesioanal. Jadinya gini deh.

Queen The Reaper : Author minta maaf katanya. Keajaiban mungkin saja datang. Tetapi pikiran Author lagi mengarah pada saat- saat alur mati. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Imperiale Nazwa-chan : iya nih. Author suka banget aku menderita. Yupz, tebakannya benar. Author berharap chapter sekarang lebih angst. Hmm… diakhir cerita ini akhirnya aku akan menutup mata untuk selamanya. Hahahahaha, memang kasihan Sasuke. Tapi… tenang saja, aku hanya mati difanfic ini. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

via-SasuNaru : hehehehehehe. Author Tsuki katanya minta maaf, karena dia lagi pengen banget buat sad ending dengan death chara. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

devil eye's : eh? Author Tsuki kira itu belum terlalu sad. Hehehehehe wah, seru donk. Tapi jangan ikut terbawa galaunya juga ya. Ah…. Author Tsuki terbang tuh denger dipuji kayak gitu. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

fujiwara eimi : hahahahaha. Memang sudah berencana seperti itu. Tetapi, pada saat awal Author mau menampilkan pada saat beberapa saat sebelum stadium itu berubah menjadi stadium 4. Yupz akan sad ending. Aku yang akan mati. Gak gitu juga, 'readers is a queen and a king' itu yang Author katakan padaku. Ok. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Yuu-chan : yups, Author mengakuinya. Katanya mungkin karena fanfic ini sudah dibuat sejak dulu. dan pengeditan kurang prefesional jadinya begitu deh. Author minta maaf ya, hahahahaha iya nih. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Wulan-chan : itu karena Authornya suka sama detektif dan dia terlalu terinspirasu dari sana. Dan juga karena Authornya itu kurang kreatif. Kerjaannya mikir penyamaran terus udah yang selalu merahasiakan aku terus lagi. Author Tsuki mengatkan. arigatou, arigatou, arigatou sambil membungkukan badan.

Author Tsuki : Arigatou, Naruto-kun. Sepertinya para readers udah ga sabar baca. Ok. kita mulai saja.

Happy reading!

DON'T LIKE, DON'T READ!

Naruto punya Masashi Kishimoto. Bukan punyaku. Tapi kalo dikasih boleh juga. hahahahaha.*di amaterasu Itachi*

Pairing : SasuFemnaru

Death chara : Namikaze Naruto

Warning : TYPO dan OOC tingkat akut, pokoknya kesalahan ada dipenulis.

WAKTU

Naruto tertidur nyenyak di kamarnya. Dia sepertinya lupa bahwa dia memiliki janji dengan Sasuke untuk pergi ke rumah sakit.

"Naru." suara seseorang terdengar jelas di telinga Naruto.

"Ngh." Naruto berguling kesamping.

"Naru." lagi- lagi suara itu terdengar ditelinga Naruto. Tapi kali ini dia mengabaikannya dan hal itu membuat siku- siku di dahi seseorang itu berkedut.

"NARUTO….."

GUBRAK!

Naruto akhirnya jatuh dari kasurnya. Dia melihat kekiri dan kekanan. Mencari sumber suara yang telah membuatnya merasakan ciuman dari lantai kamarnya.

"SASUKE…." Naruto berteriak saat akhirnya dia menemukan siapa itu.

"Kau ingin cek up bukan? Ayo cepat bersiap. Aku akan dibawah, sarapan dengan semuanya." Sasuke mengacak rambut Naruto dan dia segera keluar dari kamar Naruto. Naruto menggaruk kepalanya dengan lemas dan dia segera masuk kedalam kamar mandi.

Sasuke adalah teman sejak kecil, mereka adalah sahabat yang abadi. Tetapi hubungan persahabatan mereka tidaklah putus walaupun mereka sekarang berpacaran. Tidak ada yang berubah setelah mereka menjadi sepasang kekasih. Sikap dan prilaku Sasuke tidak jauh berbeda dengan yang dulu, pada saat mereka masih menjadi sahabat. Sasuke keluar masuk rumah dan kamar Naruto seperti rumahnya sendiri. Begitu pula dengan Naruto yang sering keluar masuk kamar dan rumah Sasuke. Dan hal itu tidaklah membuat kedua keluarga itu merasa tidak nyaman.

~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~

Naruto melihat pantulan dirinya dicermin. Dia menggunakan jeans, kaos berwarna cream dan blazer berwarna coklat. Setelah itu dia turun kebawah setelah mengambil tasnya.

"Kau ini bagaimana, Naruto? kau ini membuat Sasuke menunggu." Kushina menatap Naruto.

"Iya, Kaa-san. Aku tahu." Naruto duduk disebelah Sasuke dan mengambil setangkup roti. Diolesinya roti itu dengan selai coklat lalu dimakannya roti itu. Naruto melihat kekanan kekiri. Tidak biasanya dia tidak melihat Kyuubi disana. Biasanya jika jam segini, Kyuubi masih berada di meja makan. Kusina yang melihat gerak gerik Naruto tersenyum. Dia mengerti arti dari gerak- gerik itu.

"Kyuubi ada urusan pagi ini, jadi dia berangkat lebih awal. Ini!" Kushina memberikan obat ditangan Naruto.

"Kau harus makan banyak dan minum obat dengan benar." Sasuke memberitahu. Walaupun Sasuke tidak mengetahui pasti penyakit Naruto. Naruto mengambil obat itu lalu dikunyahnya obat itu. Dia ingin merasakan bagaimana pahitnya obat itu. Dia ingin pahit yang dirasakannya sekarang tidak akan sepahit dengan apa yang akan dikatakan oleh dokter nanti.

Setelah sarapan mereka segera pergi menuju rumah sakit dimana Naruto akan cek up. Naruto melamun sepanjang jalan. Dia sangat berharap bahwa kabar yang akan diterimanya tidak akan merubah apapun Nanti.

"Dobe?" suara Sasuke membuyarkan lamunan Naruto.

"Eh? Ada apa?" Naruto menatap Sasuke.

"Ayo keluar. Kita sudah sampai." Sasuke tersenyum lembut kepada Naruto dan membuka tangannya untuk meraih tangan Naruto. Naruto yang melihat itu meraih tangan Sasuke, lalu dia keluar dari mobil.

Naruto dan Sasuke berjalan menuju ruangan dokter itu. Jantung Naruto tidak ada hentinya untuk berdetak kencang. Dan setelah didepan ruangan itu. Naruto menggenggam erat tangan Sasuke.

"Semua akan berjalan dengan baik." Sasuke menatap sendu Naruto lalu diciumnya dahi Naruto. Naruto tersenyum lalu masuk kedalam ruangan yang akan membuatnya sakit hati dan membuatnya frustasi setiap mengunjunginya

Naruto POV

Aku masuk kedalam ruangan itu. Ruangan yang sangat tidak ingin aku temui. Ruangan dimana aku difonis penyakit ini. Penyakit yang membuatku sakit, penyakit yang membuatku ingin mati dan penyakit yang membuatku menyesali mengapa aku dilahirkan di dunia ini.

Sempat aku berfikir, mengapa penyakit ini memilihku. Aku selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Kaa-san dan Tou-san. Aku bukanlah anak nakal, walaupun pernah beberapa kali nakal. Tapi, penyakit ini membuatku merasa bahwa Tuhan tidak adil denganku.

Aku melangkah lebih jauh dan terlihatlah seorang pria dengan rambut berwarna perak. Pria itu mendongak keatas dan tersenyum setelah melihatku.

"Ah… kau datang juga. Jika dalam waktu satu minggu kau tidak datang. Aku yang akan datang ke rumahmu, Nona Namikaze." Dokter itu tertawa kepaku setelah mengatakan itu dan menyuruhku untuk ke ruang periksanya. Dan aku mengganti pakaianku, hal yang harus pertama ku lakukan adalah memeriksa bagaimana kepalaku dan setelah itu baru pemeriksaan.

Waktu yang hanya 3 jam bagaikan satu tahun bagiku. Mungkin Sasuke sudah merasa bosan diluar. Tetapi, dia harus menerima itu. Bukankah dia memang sudah seperti biasa seperti itu. Mengingat dirinya membuatku ingin tertawa.

"Hasilnya sudah keluar." dokter itu memberitahu. Aku sudah mengganti pakaianku dan sekarang aku sedang duduk di kasur tempat dimana aku diperiksa tadi.

"Apa hasilnya baik, Dok?" aku tetap dikasur, entah mengapa aku tidak ingin keluar dari tempat ini.

"Hmmm…. Bisakah kau mengajak keluargamu besok? Aku akan memberitahu hasilnya besok." suara Dokter seperti tidak enak ditelingaku.

"Katakan saja, Dok! Aku tidak apa. Stadiumku bertambah, bukan?" ku meremas kasur itu. ke kencangkan remasanku untuk menetralkan diriku agar tidak terlalu shock.

"Seperti yang sudah diprediksi. Stadiummu memang bertambah, Naru. Tapi… bisakah kau memberitahu keluargamu untuk datang besok." Dokter itu memberitahu lagi.

Ku makin meremas kasur itu.

"Ya, aku akan membawa mereka besok." ku mencoba untuk berbicara senormal mungkin.

SREK!

Ku membuka tirai yang tadi memisahkan kami.

"Aku boleh pulang?" Naruto menatap Dokternya.

"Ya. Kau tidak apa Naru-chan? kau sangat pucat." Dokter itu terlihat sangat cemas. Aku yang ingin segera pergi membatalkan niatku dan duduk didepannya.

"Dok! Mengapa aku tidak merasakan apa- apa? Mengapa aku merasa bahwa aku baik- baik saja? tetapi mengapa hasilnya begini, Dok?" Naruto berbicara tanpa menatap Dokternya.

"Naru memang tidak merasakan apa- apa. Tapi tubuh Naru yang merasakannya. Tubuh Naru semakin lemah tanpa Naru sadari. Saya sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi tenang saja, saya tidak akan menyerah. Saya akan menjelaskan besok, kau mengerti." Dokter itu mencoba tersenyum kepadaku. Tetapi aku tahu itu senyum palsu. Aku membalas senyum itu dan keluar.

Ku memegang pegangan pintu dan keluar. Saat keluar yang pertama ku lihat adalah Sasuke.

"Sas-" ku memotong ucapanku karena kakiku mulai bergetar. Aku mengingat kembali apa yang dikatakan oleh dokter. Kakiku bergetar dengan hebat.

BRUK!

Aku terjatuh terduduk dan air mata tanpa sadar jatuh dari pipiku.

"Naruto!" ku mendengar suara Sasuke. Ku mendongak keatas dan melihatnya.

"Naruto!" Sasuke menatap cemas diriku. Dia berjongkok didepanku.

"Sasuke." kataku lemah lalu aku segera memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat.

"Ada apa?" Sasuke bertanya kepadaku. Dan aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Sasuke! jika kau bisa mendengar hatiku, katakan! Katakan! Katakan kau mendengarnya. Hatiku sekarang berbicara bahwa aku sangat tidak ingin kehilangan dirimu. Ayo Sasuke! katakan bahwa semua yang dikatakan oleh dokter itu hanyalah sebuah mimpi. Katakan padaku bahwa aku masih melamun di mobilmu sekarang. tolong! Tolong bangunkan aku!

Ku menangis dan terus menangis. Sasuke yang tidak bisa membaca hatiku hanya bersedia untuk meminjamkan kaosnya untuk aku basahi dengan air mataku. Dia dengan setia menungguku untuk puas menangis. Dia tidak banyak bertanya. Dia hanya mengelus punggungku dan sesekali mencium puncak kepalaku.

Setelah merasa puas. Aku mengusap air mata yang ada dipipiku dan menatapnya.

"Kau tahu? matamu sembab. Dan kau itu sangat terlihat jelek." Sasuke menjawil hidungku dan aku tertawa menanggapinya. Bahkan suaraku sudah tercekat- cekat sekarang.

"Kita jalan- jalan dulu yuk." Sasuke membangunkanku.

"Maafkan aku, Sasuke. Bisakah kau membawaku untuk segera pulang sekarang? aku sangat lelah sekali hari ini." Naruto meminta pengertian Sasuke.

"Ah, jika itu maumu." Sasuke mengacak rambut Naruto sayang, lalu digandengannya Naruto menuju parkir mobil. Mereka akan pulang sekarang.

~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~

Sesampainya di rumah Naruto disuruh untuk segera istirahat oleh Sasuke. Naruto langsung mengurung diri di kamar dan mengingat apa yang dikatakan oleh dokternya tadi.

'Seperti yang sudah diprediksi. Stadiummu memang bertambah, Naru. Tapi… bisakah kau memberitahu keluargamu untuk datang besok.'

Naruto berguling kesamping dan melihat dimana foto keluarganya berada.

"Apa yang ingin dibicarakan oleh dokter? Mengapa besok dokter ingin semua keluarga datang?." Diambilnya foto itu lalu diangakatnya tinggi- tinggi foto itu.

"Apa aku memang tidak boleh melihat kalian lebih lama lagi? Semuanya sekarang tampak tidak adil bagiku. Ah… mengapa aku begini." Naruto menjatuhkan foto itu di kasur dan dia menutup matanya.

Naruto POV end

~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~

"Tou-san, Kaa-san, Kyuu-Nii. Besok Dokter atau kita kenal Kakashi Ji-san ingin kalian datang ke rumah sakit." Naruto menyendokan nasi kedalam mulutnya.

"Untuk apa?" Kaa-san terlihat sangat khawatir.

"Entahlah. Mungkin ingin membicarakan tentang kanker otak ini yang sudah mencapai stadium 4." Naruto mengangkat bahunya.

Semua yang ada dimeja makan berhenti melakukan aktifitasnya kecuali Naruto. Suasana diruang makan itu mendadak menjadi hening. Semua menatap Naruto dengan pandangan kasihan. Naruto yang merasa diperhatikan secara berlebihan menghela napas. Dia benar- benar sangat tidak senang dengan tatapan itu.

"Berhenti melihatku seperti itu. Aku bukanlah orang yang harus dikasihani. Aku ini Naruto yang dulu, Naruto anak dan adik tecinta kalian. Aku bukanlah seseorang yang sangat menyedihkan yang membutuhkan rasa kasihan kalian." Naruto bangkit dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamar.

~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~

Esoknya seperti yang direncanakan. Naruto dan seluruh keluarga datang ke rumah sakit. Mereka benar- benar menjadi tidak tenang. Mereka berharap apa yang akan dikatakan oleh Kakashi nanti akan membuat mereka senang. Mereka tidak ingin mendengar kata- kata yang menyakitkan.

CKLEK

Naruto membuka pintu ruangan dokter Kakashi.

"Kalian datang juga. Silahkan duduk, aku sudah menyiapkan kursi untuk kalian." Kakashi berdiri dan menyuruh Naruto dan keluarganya untuk duduk di sofa barunya. Setelah mereka semua duduk. Kakashi ikut duduk dihadapan mereka dengan membawa kertas hasil pemeriksaan Naruto kemarin.

"Hmmm… aku tidak tahu harus memulainya dari mana." Kakashi memulai pembicaraan.

"Katakan saja apa yang harus dikatakan, Dok." Naruto menatap Kakashi lalu tersenyum. Kakashi yang melihat senyum tulus dari Naruto membalas tatapan sedih kepada Naruto.

"Sebenarnya… tentang hasil tes kemarin itu-" Kakashi memotong pembicaraannya dan melihat Naruto dan keluarganya secara bergantian. Kakashi mencoba untuk meneguhkan hatinya, dia harus mengatakannya sekarang.

"Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan kemarin. Tetapi berhubung yang datang hanya dirimu. Aku tidak jadi mengatakannya. Karena ini adalah hal yang sangat penting dan jika aku tidak mengatakannya. Aku takut aku akan menyesal. Tapi… aku takut kalian tidak bisa menerimanya." Kakashi akhirnya bisa menyelesaikan kalimat pembukanya. Dia sekarang akan mencoba untuk berbicara lebih lanjut. Kakashi menarik napas lalu membuangnya secara perlahan(?).Kakashi tampak begitu tidak baik sekarang. aku dapat merasakan bagaimana keadaannya. Aku merasakan bahwa dirinya memikul beban yang begitu berat. Ku melihat dirinya menghela napas setelah beberapa saat tadi menarik napas. Dan sepertinya sekarang dia akan mengatakannya.

Hening…

"Naruto, seperti yang ku katakana kemarin stadiummu bertambah menjadi stadium 4."

Hening…

Ku merasakan bahwa pandanganku memudar. Aku tidak tahu mengapa. Aku mencoba untuk tersenyum dan menatap semuanya. Tetapi aku tidak dapat menyangkal bahwa sebenarnya jantungku ini berdetak kencang. Dan aku memiliki firasat buruk dengan apa yang akan dikatakan oleh Kakashi Ji-san.

"Naruto. Kau harus tabah dan sabar mendengar apa yang akan ku beritahukan." Kakashi menatapku sendu. Tetapi itu bukanlah tatapan kasihan, melainkan tatapan yang mendorongku untuk bersiap dengan apapun yang akan diatakan oleh Ji-san.

"Naruto,dari hasil pemeriksaan kemarin aku menemukan bahwa stadiummu bertambah. Tetapi bukan hanya itu saja. Hal lain yang aku temukan adalah-" Kakashi memotong perkataannya

"Naruto, kau tidak akan hidup lama. Kira- kira… hanya beberapa bulan lagi."

BUGH!

Ku mendengar suara orang dipukul, ku segera mengalihkan pandanganku kearah suara. Ku melihat Kyuu-Nii yang sedang menarik kerah baju dokter itu.

"APA YANG KAU KATAKAN! APA YANG KAU KATAKAN, HAH!" Kyuu-Nii terlihat sangat marah.

"Kyuu…" ku mencoba untuk menenangkan Nii-chan.

"Kyuu-Nii… aku tidak apa-apa." Ku tersenyum kepadanya. Menunjukan senyum yang sangat tulus, tetapi tidak bisa kulakukan. Aku hanya bisa memperlihatkan senyum terpaksaku.

"Kyuu-Nii… ku mohon." Ku menatap sedih dirinya. Nii-chan memandangku sebentar. Dan kemudian dia melepaskan kerah baju dokter. Kyuu- Nii menatap ku kesal lalu pergi dari ruangan. Aku yang tidak bisa melihat itu langsung mengejar Nii-chan.

"Nii-chan, Nii-chan! tunggu aku!" ku berlari mengejarnya. Aku tetap mengejarnya walaupun Kyuu-Nii sudah jauh sekali denganku dan walaupun aku merasakan sakit yang sangat menyakitkan dikepalaku. Aku terus berlari hingga akhirnya aku bisa menemukannya yang sedang memukul salah satu pohon.

"Nii-chan." ku memanggil dirinya sambil mencoba untuk menetralkan kembali nafasku. Setelah yakin semuanya telah kembali seperti semula, ku memegang tangannya. Tapi Nii-chan dengan segera menampiknya.

"Nii-chan tidak boleh seperti ini. bukankah kita harus siap setiap saat. Nii-chan tidak boleh seperti ini. yang sakit itu aku, yang merasakannya itu aku dan yang akan pergi selamanya itu… aku." Ku mencoba untuk mangeluarkan suara yang seperti biasa. Walaupun aku tahu, suaraku sangat terdengar bergetar. Bukan hanya suaraku, tetapi tubuhku juga. Aku dapat merasakan itu.

GRAB!

Tiba- tiba Nii-chan memelukku erat.

"Berhenti mengatakan itu! aku ingin kau menangis! Jangan memaksakan diri. Menangislah." Kyuu-Nii memelukku sangat erat, lebih erat dari biasanya.

"Aku tidak apa-apa." Kataku menjauhkan tubuhnya.

"Kau bohong!" Kyuu-Nii menatapku tajam.

"Biarkan! Biarkan aku berbohong. Aku mohon! Biarkan aku seperti ini. Diwaktuku yang tidak lama ini. Aku ingin semua melihatku selalu ceria dan tidak akan ada yang melihatku-"

HUG!

Lagi- lagi Nii-chan memelukku.

"Harus ku katakan berapa kali! Aku menyuruhmu untuk menangis." Kyuu-Nii kembali mengeratkan pelukannya. Aku menghirup parfum yang digunakannya. Parfum yang sangat aku sukai. Aku suka parfum ini, apa aku bisa mencium wangi parfum ini? akankah aku akan terus melihat orang yang menggunakan parfum ini? dan akankah aku akan pergi dengan sebuah kenangan tentang parfum ini? tanpa terasa air mataku mengalir. Aku mengeratkan pelukanku. Aku tidak ingin semua pergi, aku masih ingin melihat semuanya. Aku masih ingin melihat Kaa-san, aku masih ingin melihat Tou-san, aku masih ingin melihat Kyuu-Nii dan aku masih ingin melihat Sasuke.

Apa yang akan terjadi jika semuanya hilang. Aku hanya akan sendiri tanpa mereka. Pada saat aku pergi akankah mereka merindukanku, akankah mereka tetap mengingatku, apa mereka akan sedih? Apa mereka akan cemas? Apa mereka akan mengunjungi makamku setiap hari?

Hidup bagaikan daun yang bisa jatuh kapan saja. Tidak ada yang tahu kapan daun itu akan jatuh. Walaupun aku adalah daun yang terlihat sehat, tetapi saat dilihat dari dekat, tangkai daunku itu sangatlah rapuh, terkena angin sedikit saja bisa membuatku jatuh. Dan jatuhnya diriku sudah ditentukan, itu akan terjadi beberapa bulan lagi.

"Nii-chan. Aku masih ingin melihatmu, aku masih ingin melihat kalian, aku masih ingin melihat pagi." aku semakin mengeratkan pelukanku dan air mataku mengalir dengan deras.

Naruto POV end

"Aku akan menjaminnya, kau tidak akan apa- apa. Mau seberepa banyak kau melihatku. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada untukmu. Kau ingin melihat pagi? Kau akan melihat pagi. Tenang saja. Jika pagi tidak mau datang padamu akan kubawa pagi untukmu. Akan ku bawakan pagi untukmu. Walaupun dokter saja tidak bisa membawakan pagi itu. Dia hanyalah dokter yang tidak berguna." Kyuubi memeluk erat Naruto. Dirinya mendongak keatas. Tidak akan diperlihakan bagaimana rapuhnya dirinya sekarang. Dia tidak akan rapuh didepan Naruto. Dia tidak akan kalah dengan Naruto. Dia akan selalu menjadi orang yang sangat tegar. Dia akan berjuang untuk Naruto. Apapun akan dilakukannya untuk membuat Naruto tidak lagi mengalami penderitaan.

Tetapi, semuanya runtuh. Air mata Kyuubi keluar. Dia semakin memeluk Naruto erat. Naruto merasakan bahwa sebenarnya Kyuubi merasakan sakit yang sama dengannya. Dia dapat meraskan bahwa Kyuubi berkata dengan sungguh- sungguh. Tetapi, yang Naruto ragukan adalah bahwa pagi memang sedang bermusuhan dengannya sekarang.

Dibawah pohon yang sedang menggugurkan daunnya mereka berdua menangis. Merasakan sakit yang amat dalam. Mencoba mengerti dan menyatukan hati masing- masing. Hembusan angin datang. Menerbangkan dan mengugurkan daun yang ada ditangkainya. Daun yang berterbangan sungguh sangat cocok dengan suasana sekarang.

"Kyuu-Nii, bisakah kau berjanji padaku? Hey! Kau menangis?" Naruto melepaskan pelukannya.

"Tidak. Aku hanya kelilipan." Kyuubi mengucek matanya. Naruto tahu bahwa Kyuubi berbohong.

"Kau akan berjanji padaku?" Naruto mengulang kembali pertanyaannya. Kyuubi menatap Naruto sayang dan mengangguk.

"Berjanjilah bahwa kau tidak akan mengatakan apapun kepada Sasuke." Naruto menatap Kyuubi.

"Aku tidak akan mengatakan apapun kepada Sasuke." Kyuubi mengulangi.

"Tidak boleh bersedih lagi dan menangis." Naruto memberitahu janji yang kedua.

"Hey! Siapa yang menangis?" Kyuubi menatap tidak suka Naruto. tetapi Naruto menyilangkan tangannya.

"Baik, baik, baik. Aku tidak akan bersedih lagi dan aku tidak akan menangis. Kau sudah puas!" Kyuubi mencondongkan mukanya kepada Naruto. Naruto menunduk kebawah.

"Dan yang terakhir. Berjanjilah bahwa Kyuu-Nii selau bahagia dan akan selalu menjaga…. " Naruto menggantungkan kalimatnya.

"Berjanjilah bahwa Kyuu-Nii akan selalu menjaga Kaa-san dan Tou-san setelah aku pergi." Naruto mendongakan kepalanya dan tersenyum melihat Kyuubi. Kyuubi yang mendengar hal itu menatap marah Naruto.

"KAU! Aku tidak akan berjanji seperti itu. Kau tidak boleh percaya dengan Dokter itu. Kau akan tetap hidup. Kau akan tetap menjaga Kaa-san dan Tou-san. Aku terlalu sibuk dan malas untuk mengurus mereka. Kau ingin aku menempatkan mereka dipanti jompo pada saat mereka tua!" Kyuubi sedikit membentak Naruto.

"Kyuu…" Naruto menunjukan jari kelingkingnya.

"Aku tidak mau!" Kyuubi menatap tajam Naruto.

"Kyuu-Nii… ayolah… setidaknya untuk kali ini buat diriku tenang. Janjimu akan menenangkanku." Naruto tersenyum manis kepada Kyuubi.

"Senyum itu selalu menjadi andalanmu." dan akhirnya Kyuubi mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Naruto.

"Kau Nii-chan yang baik hati, Kyuu. Aku akan meminta pertanggung jawabanmu nanti. Kau tidak boleh menghianatiku, Kyuu. Atau aku akan membencimu." Naruto menggembungkan pipinya.

Kyuubi tertawa melihat hal itu dan mereka akhirnya setelah tertawa bersama mereka segera masuk kembali kedalam ruangan dokter. Mereka telah siap dengan apa yang akan terjadi.

'Kyuu, aku sangat berterima kasih kepadamu. Kau adalah Nii-chan terbaikku. Aku yakin tidak ada yang bisa menggantikan dirimu. Kau adalah Nii-chan yang sangat aku sayanagi dan aku cintai. Maafkan aku membuatmu susah dengan janji itu. tapi…. Hanya satu yang aku inginkan. Aku ingin kau, Tou-san dan Kaa-san bahagia dengan ada atau tanpa diriku. Aku percayakan mereka kepadamu, Kyuu. Aku sangat percaya padamu.' batin Naruto saat melihat Kyuubi. Kyuubi yang merasa diperhatiakan menatap Naruto juga.

"Hey, hey, hey. Kau tidak perlu memuja ketampananku seperti itu. Aku tahu, aku sangat tampan. Tapi aku tidak menyangka bahwa Imoutoku ini juga ternyata mengangguminya." kata Kyuubi dengan bangganya.

TAK!
Naruto menjitak kepala Kyuubi dan berlari.

"Weee… kau ini terlalu berkhayal. Kau itu tidak ada tampan- tampannya sama sekali. Kau itu tidak tampan tapi kau itu adalah nampan. Tempat dimana semuanya ingin mengiris diatasnya. Siapa yang bilang dirimu tampan, HAH? Kau berkhayal. Weeee…" Naruto menjulurkan lidahnya dan menarik salah satu pipinya kebawah.

"Eh, eh, eh, eh. Awas ya... kau akan menerima balasanku. Jagan lari kau!" Kyuubi mengejar Naruto. dan acara kejar- kejaranpun terjadi disana, tentunya dengan banyaknya omelan yang keluar dari perawat disana. Tetapi mereka berdua sangat menikmati moment itu. Moment yang tidak akan terjadi lagi dilain waktu. Lebih tepatnya dilain hari.

To be continued

Bagaimana? Sudah sad kah? Sudah ada yang menangiskah? Tsuki merencanakan cerita ini akan dijadikan 5 atau dibawah 5 chapter. Tsuki gak mau banyak- banyak soalnya takut gak ada waktu untuk nulis cerita Chapter selanjutnya. Waktu baca lagi nih cerita untuk fix nya. Tsuki jujur agak tersentuh pada saat percakapan antara Naruto dan Kyuubi. Tsuki menangis. Hehehehehehe. Bagaimana dengan para readers? Tsuki tunggu reviewnya… ~(^0^~) ~(^0^)~ (~^0^)~