Naruto Masashi Kishimoto

This is (just) a non-profit fanfiction

.

.

.

Satu tahun bekerja di perusahaan keluarga cukup membuat Sasuke ingin mengajukan surat pengunduran diri. Kalau bukan karena desakan kakak dan ayahnya dia tidak akan mau menjabat salah satu posisi di tempat itu.

Dia akui dia punya minat yang lain. Sayangnya, kemampuannya berkata lain. Namun bukan berarti minatnya tidak didukung oleh kemampuannya. Singkat kata, Sasuke itu jenius. Dia sangat pandai dalam nyaris segala hal.

Bekerja di perusahaan berskala besar seperti Uchiha Corp. mungkin merupakan impian semua orang, namun Sasuke yang notabene seorang penerus merasa hal itu cukup membosankan. Dia menginginkan sesuatu yang menantang dan tidak monoton seperti mengawasi kinerja bawahan dan membuat laporan tahunan.

Sasuke ingin sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya. Sesuatu yang berbahaya dan menyenangkan di saat yang bersamaan. Bukannya mengubur diri di antara lautan kertas dan gerutuan para pegawai saat dirinya berlalu. Seperti sekarang.

Untuk mencapai ruangan pribadinya, Sasuke harus melewati beberapa cubical di divisi yang dia pimpin. Walau samar, dirinya bisa mendengar berbagai macam respon dari bawahannya saat dia berjalan menuju pintu di ujung ruangan. Baik itu decakan kagum, tarikan napas yang berlebihan, sampai gerutuan dari beberapa pegawai yang menjadi sasaran kekejamannya kemarin.

"Udon," panggilnya saat meraih gagang pintu.

Iya. Udon. Itu adalah salah satu nama paling konyol yang pernah Sasuke dengar.

Lima detik kemudian terdengar langkah yang terburu-buru dari arah belakangnya. Sasuke berputar dan menemui seorang pemuda kurus berkacamata bulat, pegawai magang sejak bulan lalu. "Ya, Uchiha-san." Jawab pemuda itu.

Sasuke ingin menyeringai mendengar nada ketakutan dari pemuda di hadapannya. Entah mengapa dia sangat menikmati membuat orang lain berlutut di hadapannya. Dia tidak perlu melihat untuk mengetahui kalau bawahannya yang lain mulai berbisik tentang hukuman apa yang akan di terima pemuda malang ini.

Sudut bibir Sasuke berkedut menahan seringai. Sekali lagi dia pandangi pemuda yang tertunduk di hadapannya. Dia bisa melihat tubuh kurus itu agak bergetar. "Di ruanganku, cari Ebisu. Lima menit." Titahnya.

Sebelum Udon sempat menjawab, Sasuke sudah membanting pintunya. Dia menghela napas saat mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Menyalakan laptop dan meraih sebuah dokumen yang berisi hal-hal monoton dan membosankan.

Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintunya. Sasuke tidak bisa tidak menyeringai. Sebentar lagi dia bisa memiliki sedikit kesempatan untuk bersenang-senang.

Bukan. Dia bukan tipikal atasan yang suka mempermainkan bawahannya.

Hanya saja, orang-orang itu memang butuh pelajaran. Dan Sasuke dengan senang hati akan memberikannya.

"Masuk," katanya sambil membalik lembar dokumen di tangan.

Mendengar pintu terbuka Sasuke menutup lembaran kertas itu dan berkata, "Aku sudah melihat hasil kerjamu. Lelucon macam apa yang..." kalimatnya menggantung di udara.

Bukan Udon dan Ebisu yang berdiri di depan pintu. Melainkan kakaknya, Itachi Uchiha.

Sasuke mendecak melihat senyuman kemenangan di wajah kakaknya. "Apa?" tuntutnya.

Itachi masih menyeringai saat menutup pintu dan mengisi tempat duduk di hadapannya. Mata hitamnya bergerak menelusuri setiap sudut ruangan Sasuke, bertingkah seperti ibu yang mencoba menebak di mana anaknya menyembunyikan majalah bersampul gadis telanjang, dia benci kalau Itachi sudah bersikap seperti itu.

Mungkin Itachi sudah melihat ekspresi tidak suka di wajahnya, tanda bahwa dia benci basa-basi kakaknya. Karena detik berikutnya seringai jahil itu menghilang, digantikan sebuah garis lurus di bibir dan tatapan yang menggelap.

Sasuke mencium bau masalah.

"Madara mencarimu,"

Dua kata yang sanggup mengirim sensasi dingin ke seluruh tubuh Sasuke.


-o-o-o-


Sasuke berdiri kaku di hadapan sebuah pintu berukiran rumit, walau samar dia bisa mendengar percakapan dari ruangan di baliknya.

Satu jam yang lalu Itachi mendatanginya langsung atas perintah orang di balik pintu itu. Dan Sasuke yang sudah bosan setengah hidup berharap dia bisa mendapatkan sebuah hiburan. Karena panggilan dari Madara berarti dua hal untuk Sasuke : masalah dan kesenangan.

Detik berikutnya pintu itu terbuka. Menampilkan wajah pucat sepupunya yang mengalahkan warna kertas. Bukan berarti dalam keadaan biasa wajah itu tidak berwarna demikian. Semua Uchiha diwarisi warna kulit seperti porselen dan Sasuke tidak tahu harus merasa bangga atau sebaliknya.

Tatapan mereka bertemu. Sai kemudian tersenyum, dia hanya mengangguk. Lelaki itu dua tahun lebih tua darinya, merupakan salah satu, dari sedikit, yang paling dipercayai Madara.

Meski tersenyum, Sasuke bisa melihat raut kelelahan dan ketakutan di wajah sepupunya. Dia tidak berani menebak kesalahan macam apa yang diperbuat oleh lelaki yang kini menuruni tangga itu. Sasuke menelan ludah dan mendorong pintu yang sengaja tidak dirapatkan oleh Sai.

Jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena cemas ataupun terlalu bersemangat, sekalipun dia tahu dia tidak punya kesalahan yang mampu membuatnya ditendang dari Uchiha. Dalam hati dia berharap kalau hal ini merupakan pertanda baik. Pekerjaan baru misalnya?

Bukan salah Sasuke kalau tubuhnya mampu merespon hal-hal berbahaya, atau yang meningkatkan adrenalin, di luar kendali.

Madara yang sedang menikmati kopi melirik saat dia menutup pintu. Dia menunduk sebagai bentuk penghormatan yang dibalas anggukan oleh lelaki yang notabene adalah kakek sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di Uchiha.

"Kudengar Anda mencariku," katanya sopan.

Kakeknya tertawa tanpa humor kemudian meletakkan cangkir putihnya di atas meja kaca. "Jangan kaku begitu, Nak. Santai saja," kata Madara sambil memberi gestur untuk menduduki sofa mahal di dekat tempatnya berdiri.

Bokongnya baru menyentuh permukaan sofa saat Madara melanjutkan kalimatnya, "Setidaknya aku yakin kau tidak akan gagal seperti kakak sepupumu," senyumnya hilang saat berkata, "anak itu membiarkan seorang saksi."

Oh. Sebuah kesalahan fatal.

Sasuke tidak heran kalau Madara sampai murka, namun dia memilih diam sambil mencoba mencari posisi nyaman di atas sofa merah mahal kakeknya. Walau sejujurnya dia penasaran tugas seperti apa yang dikerjakan oleh Sai sampai dia lupa memastikan keberadaan orang lain.

Madara mengibaskan tangannya di depan wajah. "Sudahlah, lupakan saja. Aku sudah memberinya waktu seminggu untuk mengurus masalah saksi itu," seringai kembali menghiasi wajah tuanya saat menatap Sasuke.

"Aku ingin kau mengurus tikus-tikus nakal."


-o-o-o-


Suara pertemuan sepatu dan lantai menggema di ruang tamu yang luas dan sepi. Sasuke Uchiha mendesis melihat beberapa bercak darah di lengan kanannya.

Bukan miliknya, namun milik kepala klan Fuuma.

Pekerjaannya berakhir cepat dan bersih. Dia tidak bisa menyembunyikan sudut bibirnya yang tertarik saat melewati mayat salah satu bodyguard di rumah itu. Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak membosankan.

Sasuke mendesah saat dirinya mencapai pintu yang terbuka. Semilir angin malam menerbangkan rambut hitamnya. Dia baru saja menghabisi tikus-tikus nakal yang mencoba kabur dari perjanjiannya dengan Uchiha.

Kedua kakinya berjalan santai di atas rumput mahal dan terawat di kediaman keluarga Fuuma menuju mobil yang dia parkir di sebuah gang tak jauh dari lokasinya saat ini.

Saat tiba di dalam mobil, Sasuke segera melepas baju hitamnya kemudian menggantinya dengan kemeja putih yang dia gunakan saat di kantor tadi. Sambil membunyikan mesin, Sasuke menyalakan layar ponsel pintarnya.

Sebuah seringai lagi-lagi bermain di bibirnya saat membaca email dari kotak masuknya.

From : Naruto Uzumaki

One's Club, jam 9 malam ini.

Sasuke melirik jam tangan mahal yang baru dia pasangkan di tangan kirinya. Kurang dari tiga puluh menit sebelum waktu yang ditentukan. Dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana kemudian menginjak pedal gas.


-o-o-o-


Saat tiba di kelab malam, yang sebenarnya tempat langganannya, Sasuke tidak kesulitan menemukan Naruto.

Rambut pirang yang menghantuinya tiga hari terakhir terlihat mencolok di bawah lampu temaram meja bartender. Mata biru jernih itu penuh determinasi saat membalas tatapannya dan Sasuke harus menahan diri agar tidak berlari ke arah lelaki yang sukses membuat celananya sesak di malam hari dan saat ini.

Naruto Uzumaki melempar senyum mataharinya pada Sasuke. Mencoba terlihat santai, Sasuke mebalasnya dengan anggukan.

Tanpa basa-basi dia memesan minuman kesukaannya dan duduk di sebelah Naruto. Kedua lutut meraka nyaris bersentuhan.

Setelah beberapa menit dalam keheningan, Naruto berdehem pelan. "Jadi, Sasuke aku... maaf tiba-tiba, tapi aku—" racauan Naruto terhenti dan Sasuke tahu kenapa.

Sebuah tangan putih halus dan terawat tiba-tiba mendarat di atas pahanya kirinya. Sasuke tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa pemilik tangan berhias kuku yang dicat merah muda itu.

"Sakura," desisnya.

Terdengar suara tawa renyah dari sebelah kiri disusul penampakan seorang wanita cantik berambut senada dengan cat kukunya.

Sasuke melirik wajah shock Naruto. Dia menyeringai sebelum kembali menatap prostitut di hadapan mereka. "Aku sedang ada urusan, Sakura."

Wanita itu mengangkat sebelah alis sempurnanya, "Oh? Benarkah? Maaf mengganggu, Sasuke-kun." Katanya tanpa rasa bersalah.

Sekali lagi Sasuke melirik Naruto yang terlihat semakin tidak nyaman di samping kanannya. Dia bisa melihat kedua mata lelaki itu mencoba mencari objek lain selain dia dan wanita di hadapannya.

"Sakura," kali ini suaranya terdengar lebih berat, berisi perintah. Dia berdecak melihat kilau godaan di mata hijau wanita itu.

"Fine. Aku menyerah," kata Sakura. Puas menggoda Sasuke. Wanita itu menatap Naruto yang juga menatapnya, "Selamat bersenang-senang, Sasuke-kun."

Sakura melempar satu kedipan ke arah Naruto dan senyuman menggoda untuk Sasuke sebelum tenggelam dalam lautan tubuh yang menari mengikuti hentakan musik.

"Kenalan," kata Sasuke kalem.

Naruto berdehem sekali lagi, "Err...itu soal undangan mendadak—"

"Aku tahu," Sasuke tidak merasa kasihan pada Naruto yang kalimatnya dipotong dua kali berturut-turut. Dia berusaha mengabaikan bibir merah muda yang mengerucut sebagai tanda protes. "Aku sudah bilang kan, aku benci basa-basi?" tanyanya.

Lelaki berambut pirang itu hanya mendengus kasar kemudian meraih gelas di atas meja dan menandaskan isinya.

Sasuke menyeringai tipis melihat setetes cairan dari gelas itu mengalir dari dagu menuju leher jenjang kecoklatan milik Naruto. Sesuatu di balik celananya berkedut tidak sabar.

Dia berdiri dan berjalan menembus tubuh lapar di sekitarnya menuju toilet khusus pria. Tanpa menoleh dia tahu Naruto mengikutinya.

"Tidakkah kau merasa de javu?" bisiknya saat mereka berada di dalam toilet. Suara musik tenggelam di balik pintu, sehingga Sasuke yakin lelaki di hadapannya mampu mendengar pertanyaannya.

Seringainya melebar melihat Naruto tersipu. Dia berjalan mendekat ke arah Naruto yang berakhir menempel di dinding. Celananya semakin menyempit melihat wajah menantang, bukan ketakutan, dari lelaki di hadapannya.

Tanpa aba-aba dia meraih bibir merah muda itu dalam sebuah ciuman kasar. Sasuke bersumpah bibir yang dia cium saat ini merupakan bibir paling lembut dan memabukkan di dunia.

Ciuman mereka memang jauh dari kata lembut dan penuh cinta, tapi Sasuke sangat menikmati sensasi bibir Naruto dan desahan halus yang tercipta saat lidahnya membelai milik Naruto.

Dia menyeringai saat merasakan dua buah lengan melingkari lehernya. Terbawa suasana, Sasuke meremas kuat pinggul kokoh di hadapannya kemudian merapatkan tubuh pada lelaki yang dia cumbu.

Sasuke tanpa sadar mendesah saat ereksi mereka bertabrakan akibat gerakan liar Naruto.

Dia menggeram sebelum memindahkan tangannya dari pinggul ke paha Naruto. Tanpa usaha yang berarti, dia mengangkat tubuh lelaki itu dan memaksanya menempel semakin erat ke dinding yang dingin kemudian memperdalam ciuman mereka. Sasuke tersenyum merasakan dua kaki jenjang melingkari pinggulnya.

Mereka sama sekali tidak peduli akan kemungkinan menjadi tontonan orang lain. Toh, dia dan Naruto sedang berada di salah satu kelab malam. Hal seperti ini sangatlah wajar dilakukan.

Kebutuhan oksigen memutus ciuman panjang mereka. Sasuke menarik diri terlebih dahulu, namun tidak memberi jarak berarti di antara bibir mereka.

Naruto menatapnya dengan mata biru yang tertutupi kabut nafsu. Lelaki itu mendesah sambil menggerakkan pinggulnya, mencoba mencari friksi yang menyenangkan saat milik Sasuke membentur miliknya. Kedua kakinya masih setia melingkari pinggul kuat milik Sasuke.

Sasuke yakin wajahnya akan pegal esok hari karena terlalu banyak menyeringai. Tapi dia tidak peduli, dia menyeringai lagi kemudian melesakkan kepalanya ke ceruk leher Naruto dan menghirup dalam-dalam aroma yang memabukkan itu. Kedua mata hitamnya terpejam saat memberikan ciuman lembut di leher lembab Naruto.

Seperti mendapat undian berhadiah, kesenangan tak hentinya mendatangi Sasuke hari ini. Dimulai dari pekerjaan baru, yang berakhir dengan kesuksesan, dan mencumbu lelaki yang berhasil meraih perhatiannya sejak pertama bertemu tiga hari yang lalu.

Siapa sangka lelaki dalam pelukannya juga memiliki hasrat yang sama denga dirinya?

Lagi-lagi Sasuke menggeram mendengar desahan halus Naruto. Dia sangat menyukai bagaimana suara serak itu terdengar begitu seksi saat mengeluarkan desahan. Karena ingin mendengarnya lagi, Sasuke pun menggigit leher jenjang itu kemudian menghisapnya kuat-kuat.

"Aghh! Sasuke—" desah Naruto.

Oh. Tidak.

Sasuke benar-benar butuh lelaki ini. Di bawahnya. Saat ini juga.

Tidak pernah dia menginginkan sesuatu sampai seperti ini.

Bibirnya bertemu milik Naruto untuk ke sekian kali dalam ciuman panas saat ponselnya bergetar. Sasuke menggeram dan memperdalam ciumannya, berharap panggilan itu segera berakhir.

Tapi tidak.

"Fuck," umpatnya.

Naruto yang terengah memandang penuh tanya padanya. Sasuke mencuri satu ciuman kilat sebelum menurunkan Naruto dan meraih ponselnya.

Wajah datarnya mengeras melihat nama Itachi. Dia menekan tombol hijau sambil berjalan menjauhi Naruto.

"Apa?" tuntutnya.

Dia tidak merasa harus menyembunyikan kekesalannya. Bagaimanapun Itachi telah merusak momen berharganya.

"Jangan kesal begitu. Aku punya alasan," kata suara di ujung telepon.

Sasuke hanya berdecak sebagai jawaban.

"Kau dimana?" tanya Itachi.

Dia menjawab ketus, "Bukan urusanmu." Kemudian melirik Naruto yang masih berusaha menetralkan napasnya. Dia melempar seringaian yang dibalas juluran lidah oleh lelaki itu.

Oh, betapa dewasanya.

Itachi menghela napas sebelum berkata, "Sebaiknya kau pulang. Ada masalah besar."

Sasuke memutar bola mata mendengar Itachi yang bertele-tele. "Apa? Cepat katakan, aku sedang sibuk."

Terdengar helaan napas lagi dan Sasuke berpikir berapa banyak kebahagiaan yang direnggut dari kakaknya karena terlalu sering menghela napas.

"Mereka mulai bergerak, sepertinya mereka tahu jenis senjata apa yang kau gunakan."


Tbc


Halloooo! Terima kasih untuk review-nya, ternyata banyak juga yang mau kalau cerita ini dilanjut :")

Sayangnya, chapter di atas (terlalu pendek) sepertinya belum bisa menjawab pertanyaan2 kalian xD maaf yaaa~ #plak anyway, sampai ketemu di chapter selanjutnya!

Regards,

Kitsune Haru hachi