.

.

"The Magic School – My Lovely, Scarlet"

Fairy Tail Fanfiction

By Karura-Clarera

...

Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama

Rated: T

Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action

Pairing: Jellal X Erza

Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo

.

A/N: Naah, akhirnya bisa update lagi. Semoga tidak membosankan dan tidak mengecewakan, ya. Hanya sekadar info, untuk MLF diusahakan besok update, ya. Hehe. Okeyy, HAPPY READING! ^^


CHAPTER 2

Kamar Baru, Teman Baru


PUKUL 05.00 AM

Sang penyihir S Class, berambut biru samudera membuka mata hazzle-nya di saat langit yang terlihat dari jendela yang ada di belakangnya itu masih gelap. Ia mengerjap beberapa kali, memandang langit-langit putih serta merasakan atmosfer kamar yang sedikit berbeda dari biasanya.

Perlahan ia meregangkan tubuhnya dengan menarik tangannya ke atas lalu menggulung tubuhnya lagi dengan bed cover putih yang menyelimutinya. Jellal memiringkan tubuhnya ke kiri dan ia hampir melompat begitu menyadari si Jet berubah jadi pemuda berambut merah dan berwajah mulus. Saking mulusnya sering ia bilang sebagai kategori cantik. Ah, ya, ia kan baru pindah kamar.

Mengingat itu, entah kenapa Jellal malah cengir-cengir sendiri. Berharap dunia sekolahnya jadi lebih baik dan berwarna dengan pindah kamar. Berganti teman sekamar, teman sekamarnya yang baru yakni Akaishi. Seseorang yang ia ketahui sebagai pria sampai saat ini. Meski sebenarnya Jellal sering ragu, sih.

Namun, tiba-tiba ia jadi teringat perkataan Gildarts-sensei yang selaku penanggung jawab asrama itu.

'Kau boleh pindah ke kamar Akaishi, asalkan kau dapat berteman baik dengannya. Jika kau berhasil bersahabat dengannya dalam satu bulan, maka kau boleh menetap di kamar itu.'

Ah, sial. Apa sih maksudnya perkataan Gildarts-sensei itu?

Lagian Jellal sudah malas melihat tampang si pencuri aka Jet itu, jadi Jellal 'iya-iya' saja waktu Gildarts-sensei memberi persyaratan tersebut.

Tapi, kalau dipikir-pikir, Gildarts-sensei dan Akaishi itu memang dekat, sih. Jangan-jangan mereka itu memiliki hubungan darah.

Tidak mungkin.

Jellal menggeleng-geleng pada bantal untuk mengenyahkan pikiran anehnya. Lagian Akaishi itu memang peringkat satu di kelas, selain itu kemampuan sihirnya tergolong unik dan hebat. Dulu sewaktu masih di kelas A, Akaishi adalah orang nomor satu di kelas yang sudah menemukan ciri khas sihirnya. Yaitu sihir mengganti-ganti pedang sesuai yang dia inginkan. Hm, Sword Skill-nya memang paling keren.

Hah, daripada terus berkutat pada Akaishi, mending mandi deh. Kebiasaan Jellal memang adalah mandi di pagi-pagi hari seperti ini. Paling siang ia mandi pukul enam pagi. Ckck.

Begitu menyibak bed cover, Jellal menurunkan kakinya dan ia sedikit heran karena ada sepatu selop yang telah disediakan di bawah kasur itu. Sekilas ia menyipitkan matanya pada Akaishi, mengecek apakah temannya itu telah bangun dari tidurnya. Akaishi masih begitu lelap dalam tidurnya. Matanya tertutup serapat-rapatnya. Jellal mendengus.

"Dasar kerbau." Dengusnya sambil bersungut-sungut. Betapa kesalnya Jellal atas apa yang telah diperbuat pemuda berambut merah itu selama ini. Sudah jutek, galak, ketus, dingin, kalau diajak makan bersama malah melengos, minta diajarin malah menutup wajah dengan buku, ih pokoknya menyebalkan deh. "kalau bukan karena masalah terhimpit, aku tidak akan mau sekamar denganmu, deh." Sungut Jellal yang kali ini sambil melancipkan bibirnya itu.

Pemuda berambut biru itu berjalan sempoyongan. Ia mengucek mata pelan lalu mencari koper dan tas ranselnya. Begitu menemukannya, Jellal segera menyeret kaki pada koper dan tas ranselnya serta membuka lemari pakaian di dekat koper. Lagi-lagi Jellal menoleh pada Akaishi yang tidur dengan damai itu. "Sial, walau menyebalkan, orang ini juga perhatian, ya." Komennya seraya membuka dua kopernya dan merapikan pakaiannya ke dalam lemari pakaian kosong.

Selesai membereskan baju-bajunya dengan cepat, Jellal mengambil handuk dan meluncur ke kamar mandi. Matanya benar-benar tercengang melihat pemandangan kamar mandi yang bersih dan wangi ini. Tidak seperti kamar mandi di kamar sebelumnya. Lantainya bersih dan tidak ada lumut sama sekali, mungkin Akaishi menyikat kamar mandi ini setiap hari, pikir Jellal yang mengedarkan matanya pada setiap sudut kamar mandi.

"Tolol, kagum pada kamar mandi!" maki Jellal pada diri sendiri. Ia langsung menyalakan shower dan menghangatkan tubuhnya dengan air hangat. Jellal memakai shampoo dan sabun milik Akaishi, sebab sabun dan shampoo Jellal juga hilang entah kemana.

Jellal sempat heran, sebab shampoo dan sabun itu memiliki aroma lembut. Jarang sekali laki-laki ketus sepertinya suka bau yang lembut. Pikir Jellal. Selesai mandi, Jellal langsung menyibak handuknya dan melilitkannya ke pinggangnya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.

Ia pun keluar begitu cueknya dengan bertelanjang dada tak menghiraukan Akaishi yang sudah terbangun. Jellal mengambil kaos oblong berwarna putih dengan celana pendeknya dari lemari. Begitu berbalik badan dari lemari, Jellal mendapati Akaishi yang sudah berdiri dari tempat tidur lalu ke kamar mandi untuk menyikat gigi itu.

"Ohayou!" sapa Jellal dari pinggir pintu kamar mandi.

Erza menoleh singkat. "Hn." Sahutnya yang berupa helaan napas.

Jellal bersungut-sungut mendapat balasan seperti itu. 'Lihat saja, tidak sampai sebulan aku akan membuatmu berkata "Selamat pagi, Jellal-kun. Lihat saja, Akaishi, LIHAT SAJA!"' batin Jellal.

Usai bersikat gigi, Erza mengambil pakaian gantinya di lemari lalu beranjak ke kamar mandi lagi. "Minggir, aku mau mandi!" ucapnya ketus pada Jellal yang masih bergeming di pinggir pintu kamar mandi. Erza langsung masuk menutup pintu dengan kasar dan menguncinya.

Diperlakukan seperti itu, Jellal kembali bersungut-sungut. Yah, daripada bergerumbul sendiri mending masak buat sarapan deh. Jellal memutuskan ke dapur mini dalam kamar dan memasak omelette dan memanggang roti dengan selai yang ada. Ah, sial, lagi-lagi Jellal geleng-geleng kagum melihat penataan dapur yang rapi dan sempurna itu. Berbagai toples selai dijajar dengan rapi di meja dekat kompor, ada juga toples berisi sereal. Begitu Jellal membuka kulkas, isinya pun lengkap dan ditata rapi. Bersih pula.

"Wahh, pacarmu pasti senang nih punya laki-laki yang rapi begini." Gumam Jellal di depan kulkas yang terbuka. Setelah mengambil dua butir telur dan sebotol susu, Jellal kembali menutup kulkas. Kemudian Jellal berputar-putar untuk mencari garam, kembali ke kulkas untuk mengambil bawang putih, paprika, dan keju.

Jellal langsung meracik bahan-bahan yang ia tahu itu dengan gaya ala chef. Memanaskan teflon lalu mengolesnya dengan minyak sedikit. Bunyi-bunyi yang menandakan kesibukannya di dapur pun mulai terdengar, membuatnya cecengiran hanya dengan membayangkan bagaimana Akaishi akan memuji masakannya. "Bahkan Jet ketagihan dengan masakanku, Akaishi. Lihat saja, kau pasti akan mengatakan 'Wah, enaknya, Chef Jellal. Kau yang terbaik!'" pikirnya sambil tertawa-tawa sendiri.

Begitu bunyi toaster otomatis terdengar, Jellal mematikan kompornya. Ia beranjak mengangkat roti panggangnya dan segera mengoleskan dengan salah satu selai dari toples-toples selai yang tersedia. Ada selai coklat, strawberry, nanas, kacang, dan anggur. Jellal memilih selai coklat. Ia mengoleskan dua tangkap roti sambil bersenandung ria. Selesai sibuk dengan roti, Jellal segera menaruh omellete-nya di piring lalu menuangkan saus tomat di pinggiran piring. Setelah itu, ia menata kedua piring itu di meja makan kecil dekat dapur tak lupa piring berisi roti panggang. Ia kembali membalik badannya ke dapur dan mengambil dua gelas berukuran sedang dan menuangkan susu yang ada di kulkas serta menatanya di sebelah piring tadi.

"Finished!" pekik Jellal dengan bahagianya.

Di saat itu juga, Akaishi keluar dari kamar mandi dengan memakai seragam lengkap. 'Heh, lama juga pemuda ini mandinya.' Pikir Jellal. "Ohayou, Akaishi!" sapa Jellal lagi dengan senyum dibuat-buat ceria.

Akaishi menjemur handuknya di gantungan dekat pintu kamar mandi lalu segera ke meja makan. "Tidak usah mengatakannya dua kali." Balasnya datar. Jellal melengos. Begitu Akaishi duduk di kursi, Jellal pun duduk. Akaishi mengambil garpu yang sudah ditata Jellal.

"Kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Erza usai mengedarkan matanya pada segelas susu, sepiring omellete dan sepiring roti panggang entah selai apa.

Jellal menyeringai. "Siapa lagi, baka?!" balas Jellal datar. Setelah itu ia mendongakkan kepalanya. "cepat makan, aku sudah menyiapkannya dengan susah payah." Ucap Jellal seraya mengambil roti panggang dan langsung menggigitnya.

Erza memotong-motong omellete jadi tiga bagian dan menusuknya dengan garpu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Jellal terfokus pada Erza yang kini sedang mengunyah omellete itu dalam diam namun dengan raut wajah yang aneh dan sulit ditebak.

"Bagaimana?" tanya Jellal sambil menelan rotinya.

Si lawan bicaranya menghentikan kegiatan mengunyahnya dan menatap Jellal. "Terlalu asin." Terang Erza dengan nada rendah.

Tidak terima, Jellal ikut mencicipi omellete buatannya dan... "Hiah, kau benar, terlalu asin." Jellal terbatuk-batuk jadinya karena memang sangat asin di tenggorokannya. Erza menuangkan segelas air putih lalu menyodorkan pada Jellal.

"Terima kasih." Tutur Jellal.

Erza hanya mengangguk. Ia melanjutkan makannya, kini ia beralih pada roti panggang. Erza mengunyah roti itu dengan perlahan, lagi-lagi Jellal memperhatikannya dengan menelan ludah. Begitu Erza berhenti mengunyah, Jellal juga berhenti berkedip. "Hm, untung rotinya tidak gosong." Komen Erza yang disambut helaan napas lega oleh Jellal.

Gadis itu menghabiskan rotinya sampai habis lalu menenggak susu plain-nya sampai habis pula. Suara gelas yang bersentuhan dengan meja terdengar mantap, seolah menjadi suara palu hakim di pengadilan.

"Dengar, kau boleh tinggal di kamar ini, tapi harus menaati peraturan yang telah kubuat." Cetus Erza datar.

Jellal menggendikkan bahunya saat masih menggigit roti panggang selai coklat. "Apa itu?" tanyanya.

"Pertama, kita membereskan kamar secara bergantian. Kedua, jika membuat sarapan harus yang layak dimakan dan jangan buat omellete yang asin seperti ini lagi. Ketiga, jangan membuat keributan. Keempat, jangan membuat kamar ini berantakan, begitupula kamar mandinya. Kelima, jangan mengganggu urusan pribadiku." Jelas Erza sambil menunjukkan jarinya satu per satu yang diperhatikan Jellal dengan acuh tak acuh.

"Kalau kau melanggar salah satunya, silakan keluar dari kamar ini." Tegas Erza penuh penekanan. Jellal menghembuskan napasnya lalu berdecak lidah.

"Apalagi?" tanyanya datar.

"kalau memakai barangku, harus ijin. Kau memakai sabun dan shampoo-ku, kan?!"

Jellal berdeham, "Oh ayolah, sabun dan shampoo-ku habis dicuri oleh Jet. Ah, bahkan mug dan celana pendekku juga diambil olehnya. Menggelikan." Terangnya sambil geleng-geleng.

Erza memasang wajah datar. "Itu saja, kuharap kau nyaman di kamar ini, Fernandes-san." Tutur Erza tidak menghiraukan perkataan Jellal sebelumnya. Ia langsung berdiri dan membereskan piring kotor. "aku yang akan mencuci piringnya, kau ganti seragam saja sana. Nanti telat sampai kelas." Sambung Erza dari tempat mencuci piring.

Jellal hanya mendengus dan beranjak untuk ganti baju.

.

.

Di kelas, Jellal menaruh wajahnya di atas meja dengan mata menatap pintu kelas yang terbuka lebar. Sudah jam istirahat dan perut Jellal sama sekali tidak merasa lapar, kenyang mendengar suara ketus Akaishi tadi pagi. Pandangan matanya hanya setengah jelas, mengingat ia sedang depresi saat ini. Dan beberapa saat kemudian, ketenangannya diganggu oleh wajah nyentrik temannya yang super heboh itu.

"Oi, Jellal!" seru Natsu yang memiringkan tubuhnya 90 derajat untuk mencapai wajahnya Jellal lurus-lurus.

Jellal yang kaget itu langsung menegakkan tubuhnya seraya mengusap-usap mata seolah kesakitan. Begitu ia menghela napas, ia memberengut pada keempat orang temannya yang sudah bergerombol itu.

"Yo, Jellal, kudengar kau pindah kamar?" tanya Gray yang menarik kursi ke dekat Jellal.

Jellal hanya mengangguk dengan mendengus.

Natsu ikut menarik kursi, Loke dan Gajeel demikian. Sehingga tercipta suasana konferensi meja bundar di sana *PLAK*.

"Wuaah, kenapa?" tanya Loke penasaran. Mulutnya sibuk memakan pudding rasa mangga yang ia beli di kantin. Berbeda dengan Gajeel yang berisik sekali makan keripik kentang.

"Aku muak bersama Jet." Ucap Jellal datar. Kemudian tangannya ikut menyomot keripik kentang milik Gajeel itu dan mengunyah keripik itu dengan wajah lelah.

Loke menatap Gray dengan tanda tanya besar.

"Ia yang mengambil barang-barangku ternyata." Tambah Jellal sebelum pada akhirnya Loke bertanya lagi.

Keempat temannya itu terdiam. Mulai serius mendengarkan cerita Jellal. "Kemarin aku melihatnya bertransaksi dengan siswi FIHS (komplotannya, Levy)."

Gray langsung berceloteh. "Heh, untuk apa barang-barang itu?" tanyanya sambil garuk-garuk kepala.

"Kudengar aku masuk sebagai penyihir tertampan nomor satu di majalah Sorcerer edisi terbaru." Terang Jellal dengan wajah malas. Ia kembali menyomot keripik kentang Gajeel, lalu memakannya dan kembali bercerita, "dan banyak fan-girl yang begitu mengidolakan barang-barang pribadi milikku."

"Gila!" komen Gajeel sambil geleng-geleng kepala. Gray, Natsu dan Loke pun demikian.

"Kenapa tidak kau labrak saja, Jellal?" tanya Natsu sambil mencondongkan tubuhnya mendekat pada Jellal. Menunjukkan keantusiasannya berbicara dengan Jellal, "bertarung saja dengan Jet! Lagipula kau tidak kalah lah jika diselesaikan dengan cara bertarung!" sambungnya dengan menggebu-gebu seperti biasanya.

Melihat Natsu, si Gajeel mendukungnya. Berbeda dengan Loke dan Gray yang hanya tersenyum aneh.

"Hah, sudahlah. Lagipula kurasa bertarung tidak akan menyelesaikan masalah ini. Lagian kudengar, barang-barang Hibiki juga banyak yang hilang dan si aktor pirang itu hanya biasa saja sepertinya, jadi ya aku juga biasa saja." Jelas Jellal dengan melipatkan tangannya di depan dada.

Natsu dan yang lain saling bertatapan satu sama lain, sedikit heran pada penjelasan Jellal itu. Tapi mereka manggut-manggut akhirnya.

"Sudahlah! Lagipula saatnya memberi pelajaran Akaishi! Dia sudah egois menguasai kamar seorang diri." Ucap Gajeel kemudian dengan suara khasnya. Natsu pun angguk-angguk mantap menyetujui.

Jellal menghela napas lelah setelahnya.

"Jellal, pasti sangat mengerikan, ya rasanya sekamar dengan Akaishi?" tanya Gray.

Jellal menghela napas lagi.

"Hm, tapi sepertinya Akaishi itu pendiam. Yang penting tidak mengganggumu, lah." Ucap Loke positif.

"Ya, Loke benar!" tambah Natsu sambil menunjuk Loke.

Jellal menghela napas pendek. "Ya, setidaknya ia tidak menggangguku." Sahut Jellal pada akhirnya.

"Sudahlah, daripada membicarakan Akaishi, lebih baik kita membicarakan gadis-gadis!" seru Natsu bersemangat. Kemudian disusul tawaan membahana yang mengisi seluruh kelas yang diisi oleh beberapa murid selain mereka juga. Hanya saja Akaishi tidak ada di dalam kelas.

"Oh, perfect, Natsu!" sahut Loke sambil mengacungkan ibu jarinya dengan wajah yang berseri-seri. Jellal hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua temannya itu.

Natsu kemudian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. "Lihat, lihat! Wah! Akhirnya aku mengetahui alamat email Lucy!" pekiknya sambil loncat-loncat.

"Wah, beruntung sekali!" sahut Loke dengan iri. Mereka berdua akhirnya berebut ponsel Natsu untuk melihat balasan pesan email dari Lucy yang dikirim Natsu semalam. Usai Natsu membalas pesan Lucy itu, ia menoleh pada Jellal.

"Eh, ya, Jellal. Omong-omong aku juga tak sengaja menemukan alamat email Erza, loh!" cetus Natsu lagi.

"Hey, kecilkan suaramu, bodoh!" tegur Gajeel yang menoleh ke sekeliling kelas yang mulai ikutan mendengar pembicaraan mereka itu.

Natsu menunduk malu, "Maaf-maaf, aku terlalu bersemangat." Ucapnya merasa bersalah. Akhirnya ia memutuskan untuk mencondongkan tubuhnya pada Jellal. "dengar, aku menemukan alamat email Erza, kau tertarik?" tanya Natsu sambil menyeringai.

Jellal terdiam dengan wajah sedikit memerah. "A-apa maksudmu? Kenapa bicaranya denganku?" tanyanya sambil memalingkan wajah. Salah tingkah.

"Bukannya kau tertarik pada Erza Dreyar yang ada di majalah waktu itu, Jellal?" cetus Loke dengan tertawa kecil melihat tingkah Jellal itu. "kan katamu gadis itu sek-..."

"Ya ya ya, aku ingat!" potong Jellal cepat. "itu kan hanya bercanda! Jangan dilebih-lebihkan!"

Gray mengangkat sebelah alisnya dan ikut condong pada Jellal dengan tatapan menyelidik. "Lihat wajahmu, Jellal! Seperti orang alergi strawberry yang makan strawberry.."

"Seperti orang makan besi yang baru saja ditempa." Tambah Gajeel tidak nyambung.

"Kau diam saja!" Gray menjitak kepala Gajeel.

Jellal memalingkan wajahnya lagi, "Jangan merajuk seperti itu, kalian! Itu hanya bercanda. BER-CAN-DA!" tambah Jellal dengan penekanan pada kata terakhir.

"Heh, kau akan menyesal seumur hidup karena menolak Erza, Jellal." sahut Natsu yang langsung mematikan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.

"Terserah." Sahut Jellal acuh tak acuh.

Gray berbisik pada Loke dan Natsu saat mereka berjalan kembali ke kursi masing-masing, "Kita lihat saja perkembangannya." Bisiknya dengan ekor mata tertuju pada Jellal. Ia tidak membisikkannya pada Gajeel, sebab pria satu itu sama sekali tidak tertarik dengan topik ini. Yah, namanya juga pria berhati besi.

"Tenang, aku sudah menulis alamat email Erza di buku Jellal diam-diam. Pasti ia akan mengirim pesan pada gadis itu." ucap Natsu sambil terkikik bersama Loke dan Gray. Gajeel yang merasa ditinggalkan kemudian mendekat, namun sayang pembicaraan mereka sudah selesai.

.

.

Hari ketiga berada dalam satu kamar dengan Akaishi alias Erza.

Menjadi sahabat karib Akaishi dalam waktu satu bulan..

Yang benar saja! Bahkan Jellal juga ga minat buat temenan sama tuh orang. Hish, siapa yang akan tahan pada keangkuhan dan kejutekan orang itu.

Jellal pun berani bertaruh, Natsu dan Gajeel yang berhati besi baja anti api pun tidak kuat berada satu hari penuh saja di sisi Akaishi.

Sial, pekik Jellal dalam hati. Berulang kali. Kenapa belakangan nasibnya jadi sial?

Selagi menyeret kaki menuju kelas, Jellal membaca majalah yang ia pinjam dari Loke . Jellal membuka halaman ramalan zodiak.

'Zodiak Jellal, Scorpio (buatan author)

Warna keberuntungan: Hijau Tosca

Keuangan: Mungkin akan mendapatkan penyusutan keuangan untuk bulan ini.

Hubungan Cinta: Pastikan cari yang setia.

Hubungan Teman: Jangan cari mati dengan teman sekamarmu!'

"Yang benar saja! Bahkan ramalan ini saja bilang jangan cari mati dengannya! Hebat, sungguh hebat! Memang aku benar-benar akan mati?!" sungut Jellal sepanjang perjalanan di lorong menuju kelasnya. Tanpa disadarinya, dua orang dragon slayer tengah ikut membaca majalah itu dari belakang bahunya.

"Pastikan cari yang setia, Jellal!" gumam Natsu dengan wajah datar dan tak berdosa.

"Oh, zodiak Jellal itu Scorpio, ya?" tambah Gajeel ikut-ikutan dengan tampang yang dipasang Natsu.

Menyadari dua orang yang menyadari apa yang tengah dilakukan Jellal, ia menutup majalah itu dan menjinjingnya. "Kalian berdua memang sukanya mengganggu suasana, ya." Tutur Jellal dengan helaan napas.

Natsu nyengir dan langsung merangkul Jellal. "Ohayou, Jellal-kun! Bagaimana kabarmu dengan si dia?!" tanya Natsu masih dengan cengiran lebar itu.

Kepala Jellal mulai berkedut-kedut kesal. "Baka, si dia siapa maksudmu?" tanyanya.

Gajeel terkekeh seperti biasanya, "Gehee, kau kurang tidur atau bagaimana? Kenapa dua hari ini sepertinya wajahmu kusut sekali?" tanyanya sambil memperhatikan wajah Jellal dengan intens.

Jellal mendengus. "Berhenti menatapku seperti itu, Gajeel. Aku hanya lelah karena kemarin harus bersih-bersih kamar, itu saja." Sahut Jellal seadanya.

Natsu dan rekan sekamarnya, Gajeel, itu saling menatap tidak mengerti. "Payah, untuk apa bersih-bersih?" tanya Gajeel dengan nada meremehkan.

"Akaishi itu tidak suka kotor, katanya juga dia alergi debu." Cetus Jellal datar.

"Berlebihan sekali si pahlawan pedang itu!" balas Natsu sambil tertawa. "kau belum menjawabku, bagaimana kabarmu dengan si dia?!" tanya Natsu lagi dengan mendekatkan kepalanya ke kepala Jellal.

Merasa begitu terhimpit oleh dua dragon slayer itu, Jellal mendorong jauh-jauh kedua muka dragon slayer hingga kedua orang tersebut tidak seimbang dan jatuh. Tanpa menunggu mereka berdiri lagi, Jellal langsung melesat pergi. Lagian muak juga ditanya 'si dia' 'si dia' oleh si Natsu. Lagipula siapa juga 'si dia' itu.

Sampai di kelas, Jellal berhenti sejenak di depan pintu lalu menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan dalam mata terkatupnya. "Ya Tuhan, berikan aku hari yang menyenangkan hari ini." Doanya dalam gumaman. Barulah ia masuk ke dalam kelas yang sudah cukup ramai. Akaishi sudah tiba terlebih dahulu, sebenarnya hari ini dia yang membuat sarapan. Setelah membuat sarapan, lalu makan cepat-cepat, ia langsung beranjak pergi ke sekolah tanpa menunggu Jellal. eh ya, benar juga, sebenarnya Akaishi yang memasak sarapan setiap pagi. Sebab ia tahu Jellal itu tidak bisa memasak dengan enak. Haha.

Loke dan Gray bersama Max juga sedang ngerumpi entah apa topiknya. Lalu ada Hibiki yang sedang berbicara dengan Ren dan Eve. Eh, tumben sekali ada mereka bertiga. Biasanya kan mereka sibuk dengan acara pemotretan, syuting apalah Jellal tidak mengerti.

"Ohayou." Sapa Jellal dengan singkat begitu memasuki kelas. Ia langsung menuju kursinya di baris paling depan dan duduk dengan melepas tas punggung hitamnya.

Seperti biasa, Loke dan Gray langsung pindah tempat ke tempat Jellal. Max ditinggalin begitu aja. Natsu dan Gajeel yang juga baru datang itu langsung melempar tas ke tempatnya dan segera ikut berkumpul di meja Jellal.

"Ramai sekali, sih." Komen Jellal dengan dahi berkerut.

"Oh, ayolah, Jellal. Jangan ketularan angkuh seperti Akaishi begitu!" ucap Loke yang sudah duduk dengan menyilangkan kaki di atas meja Jellal.

Jellal menoleh pada Akaishi yang sedang tenangnya tertidur dengan wajah dibenamkan di kedua tangannya yang terlipat di atas meja, lalu ia menghela napas dan menatap keempat temannya itu. "Dengar, semakin hari dia itu semakin me-nye-bal-kan!" kata Jellal dengan penuh penekanan di kata akhir.

Loke dan yang lainnya saling bertatapan satu sama lain dengan memiringkan kepala.

"Bayangkan saja! Masa kemarin aku bertanya tentang PR matematika untuk minggu depan padanya dan hanya dibalas 'kerjakan sebisamu, baka'. Hih, dia benar-benar monster." Terang Jellal lagi dengan dongkolnya.

Melihat ekspresi dongkol Jellal yang jarang terlihat itu, Loke dan kawan-kawan tertawa sampai terpingkal-pingkal. "Lihat! Siapa yang bisa mengeluarkan ekspresi lucu Jellal ini kalau bukan Akaishi?! Hahahahaha!" ucap Natsu dengan suara keras.

"Bodoh! Kau bisa membangunkannya, bodoh!" timpal Gajeel sambil menjitak kepala berambut sakura itu.

"Waktumu tinggal 27 hari lagi untuk menjadikannya sahabat, Jellal. Kami pasti akan membantumu semaksimal mungkin!" ucap Gray sambil menepuk-nepuk bahu Jellal.

Jellal mengusap pundaknya seolah membersihkannya dari tangan Gray. "Tidak perlu dibantu. Aku bisa sendiri." Sahutnya dengan datar. Gray hanya terkekeh.

"Tapi, aneh juga, ya, Jellal." kata Loke seraya menaruh tangannya di bawah dagu. "Gildarts-sensei kenapa memberi syarat seperti itu, ya.. Sepertinya dia memang tahu banyak tentang Akaishi, bahkan ia tahu Akaishi itu bukan sahabatmu." Sambungnya.

Pemuda berambut biru itu pun ikut berpikir. "Yah, kau benar. Awalnya Gildarts-sensei tidak menyetujui aku pindah kamar, tapi begitu aku memohon-mohon, ia memberikan syarat seperti itu." jelas Jellal.

"Ah, lagipula siapa yang mau menjadi sahabat Akaishi si pendekar pedang sakti itu, baka?!" cetus Natsu lagi dengan suara keras.

Kali ini Gray dan Gajeel yang menjitaknya. "Kau bisa membangunkannya, bodoh!"

"Aw, sakit, bodoh!" rintih Natsu.

"Hei, sudah-sudah! Kembali ke tempat duduk kalian! Kita mulai pelajarannya!" seru Gildarts-sensei yang tiba-tiba saja datang dan sudah ada di balik meja guru dekat papan tulis itu.

"Huaa, Gildarts!" pekik Natsu sambil berlari terbirit ke kursinya. Langsung di-crash sama Gildarts.

SKIP!

Gildarts berdiri di depan kelas seraya mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya pada papan tulis. "Dengar!" cetusnya dengan tegas. "hari ini kita akan ke Lapangan Satu dan akan latihan sihir masing-masing. Nanti ada saya, Precht-sensei, Ikaruga-sensei dan Ur-sensei yang akan melatih kalian. Mengerti?!"

"Mengerti, sensei.." balas kelas.

"Bagus! Cepat ganti baju kalian dan menuju Lapangan Satu!" ucap Gildarts yang kemudian berlalu pergi setelah menatap Akaishi yang mendengus itu. Sedangkan murid-murid kelas langsung beranjak untuk ganti baju.

Di lorong menuju lapangan, Gildarts menghela napas. "Hah, pasti Erza kesal deh karena aku memasukkan Jellal ke kamarnya. Tapi selama Erza menerima Jellal sebagai sahabatnya, itu bukan masalah." Tuturnya pelan seraya terkekeh.

Yap, benar. Gildarts salah satu sensei di sekolah ini yang sudah mengetahui identitas Akaishi sebenarnya. Awalnya banyak sensei termasuk dirinya yang menentang keinginan Erza, namun karena melihat kegigihan Erza, mereka akhirnya menerima Erza asal dengan syarat, Erza harus benar-benar bisa menjaga rahasianya. Dan untunglah selama setahun ini, Erza dapat menjaga rahasianya dengan baik.

.

.

Latihan Sihir hari ini berlangsung selama lima jam dengan dibagi jadi dua sesi. Di antara kedua sesi itu ada waktu untuk istirahat selama setengah jam. Di waktu lima jam itu, para murid berlatih dengan pelatih pembimbing mereka masing-masing sesuai jenis sihirnya. Erza dengan Ikaruga-sensei, karena menggunakan sihir pedang. Sedangkan Jellal dan Loke dengan Precht-sensei, Natsu dan Gajeel dengan Gildarts-sensei, Gray dengan Ur-sensei.

Selama latihan tentu saja mereka tidak main-main. Karena mereka benar-benar ingin menjadi penyihir handal.

Jellal memperhatikan Erza yang masih diketahuinya sebagai Akaishi itu selama ia masih latihan. Ikaruga-sensei memang terkenal mengajar dengan keras dan tanpa ampun. Jellal bisa melihat beberapa luka dari sayatan pedang sungguhan di lengan juga wajah Erza.

Melihat Erza yang masih gigih latihan padahal sudah memiliki luka seperti itu, Jellal menggeleng kepala karena kagum. Yah, padahal Jellal sendiri juga memiliki bekas luka sih akibat terserempet lapangan beberapa kali, meski sudah diobati.

Pelajaran untuk hari ini selesai. Murid-murid boleh kembali ke asrama. Ini hari Jumat, jadi jam pelajarannya singkat. Biasanya hanya berupa latihan sihir bersama seperti ini. Jellal dkk sedang membereskan barang-barang mereka karena akan kembali ke asrama. Begitu menggotong tasnya, Jellal menoleh pada Erza yang masih berlatih dengan Ikaruga itu. Bunyi desingan pedang yang beradu itu sedikit mengusik keibaan Jellal.

"Oi, Jellal, kau mau kembali ke asrama, tidak?" tanya Gray yang sudah mengenakan tas selempangnya.

Jellal tersentak dan langsung menghampiri Gray. "Hn." Sahut Jellal singkat.

"Eh, Jellal, habis ini kita pergi jalan-jalan ke cafe yang ada di sebelah FIHS itu, ya!" pinta Natsu dengan menggebu-gebu.

Jellal menganguk, "Hm, boleh." Sahutnnya singkat.

Latihan Erza dan beberapa temannya yang merupakan murid bimbingan Ikaruga selesai lima belas menit setelah Jellal kembali ke asrama. Seusai latihan, mereka diberikan beberapa petuah dari Ikaruga dan baru dipersilakan untuk pulang ke asrama.

Erza merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya. Perlahan ia mengusap darah kering yang ada di pipinya. Darah kering itulah yang menunjukkan bekas luka sayatan dari pedang. "Sial, perih." Gerutunya. Erza berjalan gontai ke toilet untuk mencuci wajahnya, setelah itu baru kembali ke asrama.

Sesampai di asrama, Erza merogoh tasnya untuk mengambil kunci untuk membuka kamarnya. Erza selalu mengatakan pada Jellal untuk selalu mengunci kamar baik jika ia di dalam kamar atau sedang di luar kamar. Oleh sebab itu, Erza dan Jellal mempunyai kunci masing-masing.

KLEK!

Begitu pintu terbuka, Erza masuk dan melepas sepatunya lalu menaruhnya di rak dekat pintu. Begitu menaruh sepatu, Erza menyadari sandal Jellal yang tidak ada, hanya ada sepatu sekolahnya saja. "Hm, baguslah pria itu pergi." Gumam Erza datar. Erza mengunci pintu kamarnya lagi dan langsung membuka seragamnya, menaruh di keranjang baju kotor lalu ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya yang dekil dan bau karena berlatih terlalu lama di lapangan.

Usai mandi, Erza mengobati lukanya dengan beberapa rintihan akibat perih. "Hah, tahan, Akaishi. Seorang pria itu harus tahan dengan hal seperti ini!" rutuk Erza untuk mengenyahkan rasa sakit, namun sia-sia.

Selesai mengobati luka-lukanya, Erza mengerjakan PR untuk minggu depan dengan tenang, meski beberapa kali hatinya sedikit merasa resah. "Hm, sepi juga, ya." desahnya.

Di lain sisi, Jellal dkk sudah berada di Exceed Cafe. Mereka berlima – Jellal, Loke, Gray, Natsu dan Gajeel – duduk bersama di sebuah meja panjang yang cukup untuk mereka berlima. Meski akhirnya beberapa orang meninggalkan meja itu.

Natsu sebenarnya ke sini hanya untuk bertemu gebetannya yang bernama Lucy dari FIHS. Loke ikut nimbrung bersama Lucy dan Natsu yang tengah mesra-mesraan itu. Haha.

Sedangkan Gray saat ini sedang didekati oleh seorang gadis berambut biru yang bernama Juvia.

"Ayolah, Gray-sama, besok kan hari libur.. ayo kita ke bioskop malam ini!" ajak Juvia yang sudah gelayutan pada Gray itu.

"Sudah kukatakan, sebenarnya kenapa kau bersikeras mengajakku ke bioskop, hah?" tanya Gray yang mulai kesal itu.

Juvia mengangkat tangannya seolah memperagakan sesuatu, "Itu, loh, ada film Fairy Tail the Movie! Juvia ingin menonton itu!" celoteh Juvia sambil mengguncang tubuh Gray. Yah, sesungguhnya ia sudah dekat dengan Gray sejak SD. Tepatnya mereka adalah teman sekelas saat SD dan Juvia sudah menyukai Gray sejak saat itu hingga sekarang. (Menyeramkan sekali! Kata Gray)

"Oh, Fairy Tail, ya. (Kok seperti nama sekolah kita) Eh, Jellal, Gajeel, mau ikut tidak?" ajak Gray pada dua temannya yang sedang asik minum sambil melamun itu.

Jellal mengibaskan tangannya. "Tidak. Ajak Natsu saja sana!" cetus Jellal.

Gray menghela napas. Lalu ia bertanya pada Natsu yang duduk di tempat lain bersama Lucy dan Loke itu. Natsu Loke pun menerima ajakan Gray.

"Kalau Salamander ikut, aku juga ikut." Ucap Gajeel.

"Hm, ya sudah," sahut Gray. Lalu pemuda es itu menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 04.00 PM. "berangkat sekarang saja, yuk. Nanti kemalaman pulangnya." Seru Gray.

"Ayo! Lets go!" pekik Natsu bersemangat. Ia langsung menggandeng Lucy dan berjalan bersama menuju bioskop. Berbeda dengan Juvia yang sedang berimajinasi sendiri sambil jingkrak-jingkrak.

Gray menghampiri Jellal sebentar."Kau yakin tidak ingin pergi bersama kita?" tanyanya lagi.

Jellal hanya mengangguk dengan wajah lelah. "Aku mengantuk." Tuturnya bohong.

"Hm, baiklah. Kalau begitu sampai jumpa, kawan!" sahut Gray yang kemudian berjalan menghampiri Natsu dll.

"Ya, hati-hati, kawan!" sahut Jellal.

Begitu gerombolan itu sudah menjauh, Jellal menghabiskan minumannya dan segera kembali ke asrama. Ia ingin tidur-tiduran di sofa sambil menonton tayangan berita sore. Lagipula, si Akaishi itu paling sudah tiba di kamar, jadi ia tidak merasa kesepian.

Tak lama Jellal sudah tiba di depan kamarnya lalu merogoh kunci dan membukanya. "Aku datang." Ucapnya begitu masuk, melepas sandal lalu menaruhnya di rak sepatu dekat pintu.

"Selamat datang." Sahut Erza dari meja belajarnya.

Jellal sedikit menyeringai tanpa sebab begitu mendengar jawaban dari Erza. Ah, akhirnya hati pemuda itu sedikit terbuka. Batin Jellal. Meja belajarnya dan Erza memang ditata berdekatan dengan disekat dua buah rak buku. Jadilah terbentuk seperti ruang belajar. Jellal masuk ke ruang belajar dan didapatinya Erza yang sedang mengerjakan sesuatu di atas mejanya itu. Beberapa tumpuk buku terlihat di sisi Erza. Begitu Jellal mendekat, ia baru menyadari bahwa Erza sedang mengerjakan PR-PR untuk minggu depan.

"Wah, kau rajin sekali, ya." Komen Jellal sambil berdecak lidah.

Erza menoleh pada Jellal dan mengedipkan matanya. "Aku menyimpan kemalasanku untuk esok hari." Jawabnya datar. Paling tidak, nada bicaranya tidak seketus sebelumnya.

"Apa maksudmu?" tanya Jellal tidak mengerti.

"Begini, aku mengerjakan semua PR untuk minggu depan. Jadi besok aku bisa bersantai, begitu." Terang Erza datar. Lalu ia kembali berkonsentrasi mengerjakan PR-nya.

Jellal takjub. "Wah, benar juga, ya. Ah, aku juga mau sepertimu!" Jellal langsung menarik kursinya dan duduk menghadap meja belajarnya sendiri lalu mengambil beberapa buku PR-nya dari laci mejanya. PR untuk minggu depan ada lima, masing-masing pelajaran Matematika (Jellal baru mengerjakannya setengah, karena susah, nanya Erza malah disuruh mengerjakan sebisanya), Fisika Sihir, Kimia Sihir, Ilmu Transformasi Sihir, dan Sihir Pembentukan. Meski mereka penyihir, mereka juga memiliki PR yang berhubungan dengan ilmu pasti. Alasannya mungkin agar lulus ujian Double-S Class. Karena ujian Double-S Class juga ada ujian tertulisnya.

Jellal mengerjakan dari Fisika, lalu Transformasi, Sihir Pembentukan, Kimia, baru kepada Matematika lagi. Kalau untuk Fisika, Kimia dan yang lain Jellal memang tidak perlu dipertanyakan. Ia memang menyukai semua pelajaran itu. Berbeda dengan matematika, ia sangat membenci matematika. Oleh sebab itu ia tidak bisa mengerjakan.

Satu jam terlewati dengan keheningan. Erza terlihat meregangkan tubuhnya lalu membereskan bukunya. Ia sudah selesai mengerjakan, mungkin, pikir Jellal.

Sedangkan Jellal sedang mencoret-coret kertas kosong berusaha mencari jawaban dari soal matematika. Erza berdiri dari kursinya dan menghampiri Jellal. Ia sedikit mendengus melihat Jellal yang mulai pusing mengerjakan matematika itu.

BRUK!

Erza menjatuhkan buku matematikanya yang terbuka."Lihat caranya, aku sudah mengerjakan. Kau tidak mengerti, bukan?" tanyanya.

Jellal mendongakkan kepalanya sedikit heran pada Akaishi. Bahkan Jellal sempat menyipitkan matanya lalu berkedip berkali-kali untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.

"Cepat lihat!" tegur Erza dengan nada pura-pura kesal. Jellal terkekeh dan langsung melihat cara mengerjakan soal matematika itu.

"Wahh, aku lupa sekali dengan yang ini!" ucap Jellal begitu mengerti dengan cara pengerjaannya. "terima kasih!" serunya lagi sambil mendongak pada Erza dan tersenyum manis.

Eh, kenapa Erza jadi gugup melihat senyum itu.

"Y-ya, sa-sama-sama." Balasnya singkat. Setelah itu berlalu meninggalkan Jellal. Entah kenapa ia sedikit kasihan melihat Jellal yang kesusahan mengerjakan soal matematika itu, makanya ia kasih lihat PR nya.

Lagipula sebenarnya Erza ingin sedikit lunak pada Jellal, agar pria itu tidak terlalu menyebalkan. Erza sempat berpikir, aneh rasanya jika bersikap dingin dengan teman sekamar.

Lagian Gildarts-sensei menceritakan bagaimana Jellal memohon-mohon pindah kamar padanya segala, sih. Gildarts juga kemarin bilang pada Erza, kalau Jellal berada di dunia yang tertekan. Sebenarnya kedua orang tuanya terus mengekangnya dan selalu mendambakan Jellal menjadi orang yang terbaik. Memang sih, kasihan juga.. Erza memahami itu.

Heh, tapi begitu melihat senyumnya tadi... Ah lupakan, lupakan!

Erza menggeleng untuk mengenyahkan pikirannya. Yang jelas, Erza merasa kasihan jika terus-terusan bersikap dingin pada Jellal. Titik.

Ia ke dapur untuk memasak ramen, sudah lapar. Lagian ini sudah jam setengah enam sore. "Hoi, Jellal, mau ramen tidak?!" sial kenapa aku jadi murah hati sama pemuda itu?!

"Ah, boleh boleh!" ucap Jellal dua kali. Nada suaranya terdengar senang bercampur heran.

"Oke." balas Erza singkat. Gadis berambut merah itu mengambil beberapa bungkus ramen dari rak dekat kompor lalu menaruh panci berisi air di atas kompor dan menyalakan api kompor.

Beberapa menit kemudian, ramen itu matang. Di saat Erza menuangkan ramen itu di mangkuk, Jellal keluar dari ruang belajar sambil menarik tangannya ke atas untuk meregangkan tubuhnya. Sesekali hidung pemuda itu mengendus bau sedap dari dapur.

"Wah, laparnya!" kata Jellal begitu sudah duduk di kursi di meja makan.

"Makanlah." Ucap Erza singkat. Ia merapikan panci lalu segera ke meja makan juga.

"Itadakimasu!" ucap Jellal seraya mengambil sumpit bambunya. Ia langsung melahap ramen instan yang diberi irisan daging sapi panggang itu dengan lahapnya.

"Itadakimasu." Ucap Erza juga. Ia memakan ramennya perlahan. Berbeda dengan Jellal yang sangat rakus itu.

Di tengah kerakusannya, Jellal menatap Akaishi dengan intens lalu memicingkan matanya. "Hei, kau tidak sedang meracuniku, kan?" tanya Jellal.

Erza menyeringai. "Entahlah." Sahut Erza singkat.

Jellal mendengus. Ia pun tidak peduli dan langsung menghabiskan ramen itu sampai tak bersisa. Begitu Erza selesai makan, ia yang mencuci piring. Selesai cuci piring, Erza mendapati Jellal yang sedang meratap pada ponselnya di ruang belajar.

Sepertinya ia sedang mendapat suatu pesan penting. Pikir Erza.

Benar, pemuda berambut biru itu mendapatkan pesan yang memuakkan baginya. 'Jellal, kau harus lolos di ajang Double-S Class Wizard tahun depan.' Begitulah isi pesan dari Ultear, ibunya itu.

Hah, Jellal muak. Yang jelas, ia hanya ingin menjadi penyihir, tidak perlu ada embel-embel SS Class dan menjadi dewan sihir segala. Ia muak hanya dengan mendengar gelar Dewan Sihir itu.

Di ruang belajar, Erza menaruh buku yang tadi dipinjam Jellal ke dalam laci mejanya. Begitu Erza berbalik, Jellal sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan raut wajah aneh. Meski demikian, pemuda itu langsung berdeham lalu menoleh pada Erza dengan datar."Kau mau melakukan apa habis ini?" tanyanya.

Erza memutar matanya sesaat. Lalu menggendikkan bahunya, "Bukan urusanmu kurasa." Setelah itu Erza pergi meninggalkan Jellal yang tengah menyeringai itu.

Jellal membuntuti Erza yang keluar dari ruang belajar dan sedang mengambil jaket tebal berwarna coklat dari lemarinya itu.

"Hei, kau mau pergi kemana?" tanya Jellal penasaran.

"Membeli kopi di Kedai Carla." Sahut Erza singkat.

"Oh. Aku ikut." Ucap Jellal yang langsung menyambar jaket dari lemari bajunya itu.

Erza mendengus. "Terserah." Jawabnya. Jellal tersenyum kecil entah kenapa melihat tingkah Akaishi itu. Pada akhirnya, Jellal membuntuti Akaishi alias Erza sampai kedai Carla.

Gadis itu memesan segelas Americano dan Jellal memesan Kiwi Latte hangat. Erza sedikit heran kenapa Jellal memesan kiwi.

"Aku suka kiwi, baka!" jawab Jellal singkat. Setelah mendapat pesanan mereka, Jellal dan Erza keluar kedai sambil meminum minuman mereka dengan sedotan.

"Omong-omong, Akaishi.." ucap Jellal begitu mereka berjalan balik ke asrama.

"Hm?"

"Mengapa kau ingin menjadi penyihir?" tanya Jellal.

Erza terhenyak karena teringat anikinya. "Hm, aku ingin menjadi penyihir kelas SS dan mengalahkan niisan-ku." Sahut Erza. Ah, sudah lama juga ya tidak bertemu kakaknya.

Mendengar itu, Jellal mengangkat sebelah alisnya. "Mengalahkan niisan-mu? Kenapa?" tanyanya lagi.

"Beberapa tahun yang lalu, ia menjadi penyihir kelas SS lalu diangkat sebagai penyihir dalam lingkup dewan sihir. Setelah itu ia tidak pernah kembali kepada aku dan kakekku sampai pada akhirnya kakekku meninggal." Terang Erza panjang lebar.

Jellal yang mendengarkan sedikit tidak enak jadinya. "Eh, maaf, Akaishi.."

"Tak apa. Lagian itu sudah beberapa tahun yang lalu." Sahut Erza singkat. "bagaimana denganmu?"

Jellal memutar-mutar gelas plastik Kiwi Latte-nya untuk memainkannya. Sebelum bercerita, ia menghela napas panjang. "Entah. Awalnya aku masuk ke Special Magic School, sekolah sihir dibawah naungan Dewan Sihir. Tapi aku tidak betah, sebab mereka menganggapku sebagai putra dari anggota Dewan Sihir dan membedakanku dengan yang lain. Oleh sebab itu aku pergi dari rumah dan memutuskan untuk bersekolah di Fairy Tail."

"Ayahmu seorang anggota dewan sihir?" tanya Erza penasaran.

Jellal mengangguk, "Benar, namanya Siegrain. Kau pasti tahu, kan? Ah, kuharap kau dapat menjaga rahasia ini, sebab hanya kau yang tahu tentang ini." Terang Jellal lagi.

"Hn, tenang saja." Sahut Erza menenangkan. "tapi, memangnya kau tidak ingin menjadi anggota Dewan Sihir seperti ayahmu?" tanya Erza kemudian.

Jellal menghentikan langkah kakinya dan termenung. "Tidak." ucapnya perlahan. "jika aku menjadi Dewan Sihir, itu hanya menguntungkan ayahku dan aku akan dijadikan boneka lagi olehnya." Terang Jellal.

"Bo-boneka?"

"Hn, ia suka mengekangku sejak kecil. Aku lelah dikekang seperti peliharaannya seperti itu." tambah pemuda berambut biru itu. "Lagipula ia sibuk dengan pekerjaannya, jadi untuk apa ia harus mengaturku."

Erza terdiam. Ia tahu bagaimana rasanya diatur dan dikekang oleh orang tuanya itu. Memang tidak enak menjalani suatu hal yang bukan berdasarkan kata hati sendiri.

"Sudahlah. Abaikan. Intinya aku tidak ingin menjadi Dewan Sihir dan ingin lulus sebagai penyihir biasa saja, titik." Putus Jellal dengan datar.

Sebenarnya memang ada dua cara untuk lulus menjadi penyihir resmi, pertama dengan naik ke peringkat Double-S lalu menjadi penyihir lingkup Dewan Sihir, cara yang kedua adalah dengan mengikuti pelajaran di kelas S selama 4 tahun. Setelah 4 tahun, mereka keluar sekolah dan bebas bergabung dengan guild sihir yang diminati.

Jellal memasukkan sebelah tangannya yang bebas di saku celana jeansnya dan kembali berjalan menyebelahi Erza.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah motor berkecepatan tinggi melesat dari belakang mereka. Erza yang berada lebih ke tengah jalan langsung ditarik lengannya oleh Jellal agar gadis itu tidak terserempet. Tak sengaja, Erza malah jadi menabrak tubuh Jellal dan tepat pada dada bidang pemuda itu.

Deg!

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat itu juga. Jellal juga demikian. Merasakan gejolak aneh itu, Jellal langsung mendorong Erza ke tempat semula.

"Hah, dasar motor gila itu!" rutuk Jellal pada motor yang ngebut tadi.

Erza entah kenapa merasakan panas di kedua pipinya, hingga menjadi kemerahan. Untung saja gelap, jadi Jellal tidak melihatnya. Erza buru-buru mengenyahkan perasaan anehnya itu. "Te-terima kasih." Gumamnya yang dapat didengar Jellal.

Pemuda berambut biru itu mengangguk. "Hah, sebaiknya cepat sedikit jalannya. Kalau tidak nanti pagarnya akan ditutup." Ucap Jellal yang disetujui oleh Erza.

CHAPTER 2 END!

Taraaa, begitulah. Silakan di-review! Hehe^^

BALASAN REVIEW CHAP 1

Chantal Queen = Sudah dilanjut, selamat membaca! ^^

tamiino = Okeey.. terima kasih sudah review! ^^

Titania Princess = Sudah dilanjut, ya.. Terima kasih sudah review! ^^

indah (Guest) = Ok, sudah dilanjut.. Terima kasih untuk reviewnya! ^^

Lulu (Guest) = Wahh, benarkah? Maaf, ya kalo di chap ini agak membosankan. Okey, pasti dilanjut sampai tamat! Makasih loh sudah review! ^^

.

Sampai bertemu di chapter berikutnya!

Chapter 3: Falling in Love! ~ (?)