Sasuke duduk, meluruskan kakinya dan menyiram wajahnya dengan air mineral yang ia ambil dari tas sebelum ia mengambil handuk dan mengelap wajah dan rambutnya. Dia menunduk menatap bajunya yang basah oleh keringat dan mengernyit, lalu ia memutuskan untuk melepas kaos olahraganya dan mengelap tubuhnya dengan handuk sementara teman-temannya yang lain masih heboh berebut bola di lapangan basket, sedangkan siswa perempuan hanya duduk sambil mengobrol di tengah lapangan, beberapa—atau hampir semuanya—langsung berteriak histeris melihatnya bertelanjang dada. Sasuke mendongak mendengar teriakan Lee, ia mengarahkan tatapannya pada bola tepat saat bola itu menghantam kaki Naruto yang tengah duduk di lantai bersandar pada dinding sambil membaca sebuah buku.
"Naruto, kau tidak apa-apa?!" Saat Lee berteriak, Naruto mengalihkan perhatiannya dari bukunya dan mendongak menatap mereka. Sesaat ia terlihat seperti sangat kesal dan ingin mengatakan sesuatu, namun ia hanya diam, berdiri menyeret tasnya dan berjalan menuju pintu keluar gedung olahraga. Beberapa orang terlihat mengumpat dengan kesal sementara Kiba berlari mengambil bola dan membawanya kembali ke lapangan.
Jika praktik wajib yang diawasi oleh guru olahraga, Naruto akan berpartisipasi, melakukan apapun yang diinstruksikan tanpa mempertanyakan sedikit pun, dan ia selalu melakukannya dengan baik. Namun saat waktu praktik habis dan mereka dibiarkan bebas bermain hingga pergantian jam pelajaran, ia hanya akan duduk di kursi penonton atau di lantai dengan kesibukannya sendiri, sebelum ia terganggu oleh sesuatu—seperti yang baru saja terjadi—dan dengan diam meninggalkan tempat itu.
Sasuke mengacak rambutnya dan mengangkat alisnya pada Shikamaru yang duduk di sampingnya sambil minum.
"Kupikir kau akan tertidur di tengah lapangan."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Siapa?"
"Siapa lagi?"
Sasuke hanya mengangkat bahu.
Shikamaru mengelap wajahnya dan menghela napas dalam. "Aku sering melihatnya bersama Sai, apa mereka teman?"
"Hmm."
"Kau melaporkannya?"
"Hell no."
"Dia tidak seperti yang terlihat."
"Hn."
"Kau harus berusaha lebih keras."
"..."
"Jangan jatuh cinta padaku."
Sasuke memasang ekspresi jijik itu lagi saat menatap Shikamaru yang berjalan menjauh sambil melambai dengan malas.
.
"Hanya kau yang belum mengumpulkan survei karir yang diminta Kakashi," Sasuke mengetukkan sepatunya dengan kesal ke lantai sambil menyilangkan kedua tangannya, sementara Naruto mengabaikannya dan meneruskan menulis sesuatu di buku catatannya. Dengan segala tugas-tugas yang merepotkan, Sasuke jadi berpikir untuk meminta Neji saja menggantikannya.
"Apa kau dengar yang kukatakan, idiot?"
Sasuke membersut saat Naruto mendongak menatapnya, namun tidak mengatakan apapun. Jika ada orang yang bertanya apa yang sedang dilakukannya, otak jenius Sasuke mungkin tidak akan mampu menjawabnya. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa yang merasukinya, membuatnya masih saja bersabar menghadapi makhluk aneh, absurd, menyebalkan, yang ada di depannya ini, yang menatapnya seolah ia adalah alien dari planet lain. Dia hanya tetap meyakinkan diri ini hanya rasa penasaran yang tidak dapat dihindari karena Naruto berada dalam jarak pandangnya.
"Jawab saat orang lain berbicara padamu."
"Aku akan mengumpulkannya sendiri nanti."
Suasana kelas hening seketika, gadis-gadis yang tadinya ribut menggosip menatap ke arah mereka berdua—atau tepatnya ke arah Naruto—dengan ekspresi aneh, Kiba berhenti memainkan PSP-nya, Chouji hampir saja menjatuhkan rotinya, Shikamaru menggeliat, dan Neji hanya memasang pokerface seperti biasa.
"Oh, Naruto masih bisa berbicara!"
"Jeez, aku rindu mendengar suaranya."
"Apa tenggorokannya tidak sakit tidak pernah digunakan."
"Dia kadang berbicara dengan anak kelas 2-C itu."
"Kekasihnya Ino?"
"What? Ada yang mau pacaran dengan makhluk semacam Ino?!"
Saat Naruto tak memberikan reaksi apapun, bahkan tak tertarik untuk menatap teman-teman sekelasnya yang melakukan perdebatan tidak jelas, Sasuke hanya berjalan kembali ke tempat duduknya, menyangga dagu dengan tangan dan menatap ke luar jendela.
"Sasuke, kau tidak ingin baikan dengan Sakura? Dia masih sering menanyakanmu."
Sasuke menghentikan lamunannya dan menatap ke arah Ino yang sedang tersenyum padanya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena—"
"Karena Sasuke sudah tidak mencintai Sakura, ada orang lain yang lebih menarik perhatiannya."
Sasuke menatap datar ke arah Shikamaru yang dengan seenaknya berkomentar.
"Eeeh?! Siapa siapa?!" Ino menarik kursinya agar menghadap ke samping—ke arahnya—dengan ekspresi penasaran yang luar biasa. "Kelas ini? Apa dia cantik? Pintar? Katakan padaku dan aku akan membantu!"
"Coba tebak. Tidak akan terpikirkan oleh siapa pun."
Shikamaru hanya menyeringai sambil menegakkan tubuhnya untuk menghindari tangan Sasuke yang hendak menjambak rambutnya.
"Sasuke, kembalilah ke jalan yang benar," Neji menatapnya sambil menggelengkan kepala.
Bahkan Neji. "Go fuck yourselves."
.
Sudah hampir dua bulan semester dimulai, Sasuke sudah terbiasa pada tugas-tugas merepotkan yang datang tanpa henti setiap harinya, membuatnya kadang sampai di rumah pada malam hari dan itu membuatnya sedikit lelah. Tapi lebih dari itu, ia sudah terbiasa pada dirinya sendiri yang selalu menatap ke arah Naruto saat anak itu sedang melamun, yang rela menghabiskan waktunya secara percuma untuk mencoba mengajak Naruto berbicara saat ia mengajukan diri untuk menjadi partner Naruto dalam membuat esai yang harus dilakukan secara berpasangan. Terkadang Naruto menjawabnya, meski hanya dengan anggukan atau gelengan, atau terkadang dengan satu kalimat singkat yang sangat jarang terdengar. Hingga Sasuke merasa bahwa ia yang sekarang bukanlah dirinya.
"Apa aku terlihat aneh?"
"Bukankah dari dulu?" Sasuke menggulung sebuah kertas tidak terpakai dan melemparkannya ke arah Shikamaru yang sedang berbaring di sofa yang ada di ruang OSIS sore itu. "Sasuke, cinta dapat mengubah sifat seseorang."
"Aku tidak jatuh cinta."
"Kau sering memerhatikannya bahkan sejak tahun pertama kita. Bukankah itu alasanmu memutuskan Sakura?"
"…"
"Kau bahkan tersenyum di dalam hati setiap kali ia menyapamu."
"Jangan mengarang cerita."
"Kita tidak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta, hal itu terjadi begitu saja tanpa bisa dihindari."
Sasuke membaringkan kepalanya di meja beralaskan kedua tangannya dan menghela napas pelan.
"Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti itu, tapi dia terlihat kesepian. Dulu ia sering membuatmu tersenyum, kurasa sekarang giliranmu untuk berusaha."
Setiap kali ia merasa bodoh karena melakukan sesuatu yang di luar kendalinya, semua kata-kata Shikamaru terbayang-bayang di otaknya.
Sasuke meletakkan nampan makan siangnya dan duduk. Kantin tidak terlalu ramai siang ini sehingga ada banyak meja yang kosong, namun Sasuke memutuskan untuk duduk di sini dari semua tempat yang ada, membuat beberapa orang menatapnya dengan heran.
Saat Naruto menghentikan makannya dan menatapnya dengan tidak suka, Sasuke hanya mengangkat alisnya sekilas sebelum ia memulai makannya.
"Tempat ini bukan milikmu. Seingatku siswa bebas memilih tempat untuk duduk."
Saat Naruto meletakkan sendoknya dan memundurkan kursi untuk beranjak pergi, Sasuke mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Naruto. Sejenak ia tersentak merasakan betapa dingin tangan yang disentuhnya, dan ia memutuskan untuk menggenggamnya lebih erat agar Naruto tidak menariknya lepas.
"Apa kau sudah mengerjakan tugas Matematika?"
Naruto menatapnya selama beberapa saat sebelum ia mengangguk, namun Sasuke masih belum melepaskan tangannya. Tidak peduli ada banyak orang yang melihat.
"Tidak baik menyisakan makanan," sesaat ia berpikir untuk terus menggenggam tangan itu, untuk menyalurkan sedikit suhu tubuhnya, namun ia sadar sedang berada di mana dan dengan perlahan menarik tangannya lalu melanjutkan makan.
.
"Apa kau mau bolos lagi?" Sasuke membungkukkan tubuhnya di atas kepala Naruto yang sedang berbaring memejamkan mata di atap sekolah. "Kakashi ingin bertemu denganmu di ruang konseling jam istirahat kedua nanti."
Saat Naruto membuka matanya dan menegakkan tubuhnya untuk duduk, Sasuke memundurkan tubuhnya dan menatap Naruto yang sedang mengusap wajahnya dengan tangan.
"Sudah makan siang?"
Naruto mendongak menatapnya dan menggeleng.
"Aku juga belum," Sasuke mengulurkan tangan kanannya pada Naruto. "Kantin sepi di jam pelajaran."
Naruto tampak ragu, namun pada akhirnya menerima uluran tangannya dan Sasuke segera menarik Naruto untuk berdiri. "Apa kau akan membuat alasan kau ikut ketiduran di atap kali ini?"
Sasuke menahan senyumnya agar tak terlihat, bergumam pelan dan berjalan duluan menuju pintu dengan Naruto mengikuti di belakangnya. "Akan kupikirkan itu nanti."
.
"Kau suka menggambar?"
Sasuke mendudukkan diri di samping Naruto setelah guru olahraga meninggalkan tempat itu, teman-temannya yang lain bermain voli dan beberapa hanya melihat dari tepi lapangan. Sasuke berpikir bahwa Naruto mungkin tidak tertarik untuk menjawabnya karena ia hanya diam bahkan setelah beberapa menit berlalu dan hanya fokus pada pensil dan buku sketsanya.
"Sai yang mengajariku."
Sasuke hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, hanya diam memerhatikan tangan Naruto yang sedang menggambar sebuah perapian yang menyala dengan satu kursi kosong berada di sisi. Hingga terasa sangat lama mereka berada dalam keheningan, meskipun suara-suara ribut ada di sekeliling mereka.
"Apa kau pernah menggambar makhluk hidup?"
Naruto menggeleng.
"Kenapa?"
Naruto menarik napas pelan dan hendak mengatakan sesuatu, sebelum sebuah suara menginterupsinya.
"Curang! Kenapa cuma pada Sai dan Sasuke Naruto mau bicara. Aku juga mau," Ino cemberut dan duduk di depan mereka berdua, sebelum ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi bahagia. "Eeh, jadi Naruto juga suka menggambar?"
Saat kedua pemuda di depannya hanya diam tanpa menjawab, Ino menoleh pada Sasuke yang sedang menatapnya kesal. "Apa? Memangnya cuma kau yang boleh bicara dengan Naruto?" Membuat Sasuke semakin kesal saat Ino memeletkan lidahnya.
"Ah, kalau sekali-sekali Naruto bisa ikut hang out bersama kami pasti seru."
Ino tersenyum saat Naruto menatapnya. "Pasti bosan 'kan setiap hari melihat wajah Sasuke?"
Sasuke memukul kepala Ino dengan botol air mineral kosong, dan Ino menendang sepatunya sambil merengut. Sesaat Naruto hanya menatap mereka berdua dalam diam, sebelum kalimatnya menarik perhatian kedua orang di dekatnya itu.
"Wajah Sasuke tidak membosankan untuk dilihat."
.
Sasuke facepalm dan menghela napasnya pelan entah untuk yang keberapa kali. Ia melihat jam dan rasanya ingin sekali nanti menendang wajah wali kelasnya saat sudah datang. Ia melihat ke samping, ke arah Naruto yang sedang menunduk menatap kedua tangannya. Ia tidak tahu bagaimana kronologis kejadiannya ia bisa berada di sini, yah mungkin tahu sih, hanya ia tidak ingin mengingat-ingat kebodohannya lagi.
"Apa wali kalian akan datang?" Sasuke mengalihkan pandangannya pada seorang polisi yang sedang tersenyum sambil menatap ke arah mereka.
"Mungkin sebentar lagi." Tapi ini sudah hampir dua jam!
Jika bukan karena makhluk aneh menyebalkan di sampingnya, Sasuke tidak akan berada di sini, di kantor polisi saat hampir menjelang tengah malam. Ponselnya bahkan sudah bergetar berkali-kali tapi ia tidak mengangkatnya karena belum memiliki alasan yang bagus untuk dikatakan pada ibunya. Ia bersyukur wajah cakepnya tidak menjadi korban.
"Yo. Menunggu lama?"
Sasuke mendongak menatap Kakashi yang sedang tersenyum sambil mengangkat satu tangannya, dan keinginannya untuk mengarahkan kakinya ke wajah yang sok innocent itu kembali lagi namun Sasuke hanya memasang wajah datar tanpa mengatakan apapun meski saat wali kelasnya itu berjalan menjauh untuk berbicara pada polisi.
"Di mana siswa yang lain?" Sasuke berjalan mengikuti Kakashi di belakang dengan Naruto berjalan diam di sampingnya.
"Mereka dari sekolah lain. Tentu saja sudah pulang sejak dua tahun yang lalu. Kau pikir sekarang jam berapa."
"Ck ck. Tidak sopan berbicara seperti itu pada gurumu, Sasuke-kun. Saat aku sudah berbaik hati menjemput kalian." Saat Kakashi membuka pintu mobilnya, langkah Naruto terhenti dan Sasuke menoleh ke arahnya.
"Aku akan mengantarkan kalian pulang."
"Kenapa?"
"… Aku akan berjalan kaki saja." Naruto melangkah mundur dan menunduk sekilas sebelum ia berjalan menjauh.
"Aku juga," Sasuke membungkuk sekilas dan berlari mengejar Naruto yang semakin menjauh, membuat Kakashi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum di balik maskernya.
"Apa rumahmu dekat?"
Naruto mengangguk dan menghentikan langkahnya untuk menatapnya, membuat Sasuke mengernyit. Naruto mengeluarkan bungkus rokok, mengambil satu dan menyelipkan di antara bibirnya lalu menyalakannya sebelum ia menyodorkan pada Sasuke.
Sejenak ia terlihat ragu, ia ingin mengatakan kalau ia tidak merokok namun akhirnya ia mengambilnya dan menyelipkan di bibirnya. Saat Naruto memajukan langkahnya, memiringkan kepala dan mendekatkan wajah padanya untuk menyalurkan nyala rokoknya pada miliknya, Sasuke hanya diam menatap wajah Naruto yang begitu dekat, ia menatap ke arah rokok di depannya tapi Sasuke masih dapat melihat betapa indah warna mata yang dimiliki Naruto tersoroti oleh lampu jalan di sekitar mereka.
Beberapa saat kemudian Naruto menarik tubuhnya mundur, Sasuke mengulurkan tangannya tanpa sadar untuk menyentuh wajah Naruto yang sedikit memar dan memerah di beberapa tempat. Saat ia menyadari apa yang ia lakukan, ia segera menarik tangannya, namun Naruto menatapnya sambil menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Terima kasih."
"Aku tidak melakukan apapun," karena pada kenyataannya ia memang tidak melakukan apapun selain memanggil polisi untuk datang karena mungkin tidak akan ada banyak kesempatan untuk menarik Naruto pergi saat ada lima orang lain yang mengejar mereka. "Kau harus segera mengobati wajahmu."
"Sudah tengah malam. Apa kau mau ke rumahku?"
Sasuke memasukkan kedua tangannya ke kantong jaketnya sambil berjalan. Mengejutkan mendengar Naruto mengatakannya, dan rasanya tidak apa-apa jika ia menerima tawaran itu karena besok hari Minggu dan ia juga ingin tahu di mana Naruto tinggal. Ia hanya perlu menelepon ibunya dan mencari alasan yang bagus untuk dikatakan.
"Hn." Sasuke menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan langsung terbatuk-batuk beberapa kali, membuat Naruto di sampingnya tertawa, meski hanya tawa pelan tanpa suara, sambil menepuk-nepuk punggungnya. Sasuke menutup mulutnya sejenak saat batuknya terhenti dan berusaha untuk menghilangkan senyumnya, berusaha agar tidak terlihat heran dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Ia tak pernah berpikir ia akan melakukan hal-hal absurd yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, namun saat ia melihat Naruto berjalan di sampingnya dengan ekspresi yang belum pernah ia lihat selama beberapa bulan ini, semua pikiran itu menjadi tak bermakna. Membuat angin yang berhembus cukup kencang di sekitarnya sama sekali tidak terasa dingin.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
[TBC]
Maaf kalau chapter ini pendek dan agak gaje, diketik di tengah2 UAS orz;; Saya bersyukur saya masih bisa ngetik lurus (?) dengan tugas akhir sebanyak ini. Maaf juga kalau apdetnya lama, kuliah padat bikin males mau ngapa-ngapain ;;u;; /ngeles
Seminggu lagi saya mau libur UAS lebih dari sebulan, doakan saya dapat banyak inspirasi dan bisa ngetik ffic yg banyak. *kisses everyone*
