Title: This tale is the end of all our love story

-

Disclaimer: Masashi Kishimoto

-

Author: Dorky Angels

-

Rating: T

-

Warning: This story contains Yaoi no sex scenes. Not recommended for reading if you do not like.

Don't flame at me because the contents of this story. Please fill with you're comment this story.
Thanks
.

Love sometimes is a beginning of betrayal

The beginning of the injured person's heart

"Aku ingin mengakhiri semuanya, Dobe…" Sasuke memandang langit sambil mengatakan hal itu pada Naruto yang kini hanya termenung memandang sosok Sasuke —mahluk yang paling ia cintai—

Kemudian Naruto memalingkan pandangannya dari Sasuke. Memandang langit senja saat itu. Ia ingin menangis saat itu. Tapi dia adalah seorang lelaki. Ia mencoba bertahan dan berusaha mencari penjelasan dari Sasuke, orang pertama dan terakhir untuk hatinya.

"Tapi kenapa, Sasuke?" Naruto bertanya sambil memandang punggung lelaki yang berdiri di sampingnya itu. Sasuke tidak menjawab sampai beberapa menit. Naruto benar-benar terluka saat itu. Ia ingin berteriak. Meneriakkan nama Sasuke dan berharap cinta itu hilang seiring dengan menghilangnya suara cempreng dirinya.

"Karena aku ingin mengakhiri semua kisah palsu ini…" jawab Sasuke tanpa memandang pada lawan bicaranya. Sepertinya langit senja saat itu sangat indah dibanding dengan seseorang yang pernah memberikan seluruh hidupnya hanya untuknya.

"Kisah palsu…? Kau bercanda, Sasuke? Bahkan setelah aku memberikan semuanya padamu, kau membuang ku begitu saja?" kata Naruto lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis. Menangis tertahan karena ia tahu, walau sekeras apapun ia menangis, lelaki di sampingnya itu tidak akan memeluknya dan menenangkannya seperti dahulu.

"Hanya… Lupakan aku, Naruto. Aku akan bertunangan dengan Hinata, kau tahu itu?" kata Sasuke dingin. Sedingin angin senja saat itu. Naruto tidak bisa menahan tangisannya kini. Ia menangis. Menangis tersedu. Berharap saat itu tidak terjadi. Ia tersakiti. Sangat sakit. Ia merasa kembali seperti saat ia terbuang dulu. Tak ada seorang pun yang menginginkannya. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, berharap tubuhnya mendapatkan sedikit kehangatan saat itu.

"Aku harap kau dapat mengerti…" Sasuke melanjutkan perkataannya lalu berjalan meninggalkan Naruto yang masih berharap ia tidak meninggalkannya.

When all of the words 'love' is a beginning of the destruction of a loving relationship ...

Is there any love for him?

Naruto memandang langit dari jendela kamarnya. Masih memeluk tubuhnya, seakan ia tak ingin rohnya meninggalkan raganya itu. Sudah seminggu semenjak kejadian itu. Tapi bayang-bayang Sasuke yang berkata, "Karena aku ingin mengakhiri semua kisah palsu ini…" masih membekas di benaknya. Lagi-lagi air matanya menetes mengingat kejadian itu. Kejadian dimana ia harus merasakan sakit hati. Kejadian dimana ia harus merasakan kesendirian lagi.

TOK TOK…

Terdengar suara pintu diketok. Awal mulanya ia tidak menggubris panggilan itu, sampai dia lihat siapa yang membuka pintu itu. Naruto memandang mata itu dengan sangat dalam dengan mata birunya yang kini tampak tidak bercahaya seperti dulu.

"Naruto… Kau sudah 3 hari tidak makan, apakah kau baik-baik saja? Setidaknya makanlah roti yang aku buat ini…"

"Kenapa, Sakura… Kenapa ia harus meninggalkanku?" kata Naruto pada Sakura yang jelas membuat Sakura terdiam mematung disana. Kemudian ia mencoba mengatur raut wajahnya dengan wajar agar saat menghadap wajah Naruto ia tidak menunjukkan wajah dengan ekspresi ingin menangis.

"Kalau kau jodoh, mungkin kalian akan kembali bersama. Toh, jodoh juga tidak ke mana-mana…" kata Sakura sambil memasang topeng senyum pada Naruto.

"Kenapa? Kenapa harus begini?" Naruto menarik rambutnya dengan sangat keras hingga beberapa helai rambutnya jatuh secara paksa ke lantai berkeramik itu. Sakura mendatangi Naruto lalu memeluknya dengan sangat hangat. Berharap dapat menyembuhkan sedikit luka pemuda ini.

"Tenanglah, Naruto… Dia pasti mempunyai satu alasan…" kata Sakura lembut. Ia tak ingin kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi bom yang dapat menghancurkan pemuda rapuh itu.

"Kenapa? Kenapa ia harus menyakitiku? Aku tidak pernah mencoba untuk menyakitinya, walau aku tahu ia memilih perempuan itu…" Naruto menangis di pelukan Sakura. Sakura mengelus lembut rambut pirang Naruto.

"Sabar ya, Naruto… Semua pasti akan ada balasannya. Tidak terkecuali untuk Sasuke yang telah menyakitimu…" Sakura memeluk Naruto lalu menangis bersamanya hingga matahari terbenam hari itu.

When I want to believe this separation, all too late.
I really hate when the twilight sky comes

Dia benci langit senja. Ia benci suara burung yang tertawa ria seakan menertawakan di atas penderitaannya. Ia benci langit berwarna orange itu. Ia benci warna rambutnya yang berwarna pirang. Yang kata setiap orang warna itu sangat cocok di padukan dengan warna senja. Ia sangat benci. Benci akan langit yang seakan menggulung langit biru dan menghadirkan langit senja. Ia benci akan kehidupannya yang telah ditinggal mati. Ia merasa sekarang dirinya hanyalah raga kosong tanpa jiwa.

Sasuke…

Uchiha Sasuke…

Dialah yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Dialah yang merubah seorang Uzumaki Naruto yang biasanya secerah mentari dan seriang burung-burung yang tengah bermain di angkasa menjadi Naruto yang pendiam dan pemurung hanya dalam waktu 2 menit.

Dia tersenyum memandang wajahnya di cermin. Membasuh wajahnya dengan sedikit air. Memperhatikan tubuhnya yang mengurus drastis. Ia tersenyum, tersenyum berbeda dari yang biasanya. Ia tersenyum memaksa. Kemudian tangannya menyentuh tubuhnya.

"Kau itu sungguh jelek, Naruto. Pantas saja Sasuke tak suka lagi padamu…" katanya sambil memandang nanar wajah tirusnya.

"Harusnya aku mengikuti perkataan Sakura neesan… Kau memang pintar merayu, Sasuke… Apa—apa aku mati saja? Apa dengan aku mati dia akan kembali lagi padaku?" Naruto berkata pada dirinya sendiri. Kemudian dia berjalan ke arah shower lalu memutar keran nya. Ia Membasuh tubuhnya masih dengan menggunakan pakaian. Air dan tangisannya menyatu seakan sudah diciptakan bersama selamanya.

No more love for you ...
There was only the depth of the dark shadow

[Kediaman Uchiha]

"Hiashi Hyuga… Selamat datang di kediaman kami…" kata Fugaku seraya menyambut Hiashi

"Nee… Gashii… Uchiha Fugaku…" jawabnya lalu menarik simpul di kedua bibirnya

"Jadi… Bagaimana dengan perjodohan anak-anak kita?" Fugaku berkata pada Hiashi. Yang ditanya menandakan isyarat pada seseorang untuk mendekatinya. Kemudian munculah sosok tubuh semampai yang manis dengan mata berwarna lavender.

"Wah, Hinata. Tak disangka kau sudah sebesar ini…" Fugaku berkata sambil tersenyum pada Hinata. Hinata hanya tersenyum kecil memandang Fugaku. Hiashi melirik Hinata dan memberikan isyarat 'berikan senyum terbaik untuk calon mertuamu!'. Hinata terdiam sesaat lalu ia menghela nafas melihat tingkah ayahnya yang dianggap seperti anak kecil itu.

"Sasuke… Kemari, nak… Ada Hinata datang…" Fugaku memanggil Sasuke. Kemudian muncul sosok Sasuke yang mengenakan pakaian tuxedo berwarna hitam dengan jas yang tidak terkancing dan kemeja yang 2 kancing di atasnya dibiarkan terbuka yang menambah kesan 'jantan' bagi wanita yang melihatnya. Tapi Hinata sepertinya tidak terpengaruh dengan gaya terbaik Sasuke, sampai ia tersadar dari lamunannya ketika ayahnya menyenggolnya dan memberikan tanda 'temani Sasuke, dia adalah calon Suamimu! Camkan itu!'. Lagi-lagi Hinata hanya meng-Huuu ria karena sikap ayahnya.

"Ehem…" Sasuke berdeham ria saat Hinata mulai mendekatinya dan menggandeng tangannya yang sejak awal sudah disodorkan untuk Hinata. Hinata yang melihat itu hanya merasa ngeri sendiri. Ia menatap horor senyum Sasuke yang dianggapnya tidak normal itu.

"Bah, Hinata dan Sasuke… Silahkan ke taman dulu. Ayah dan paman Hiashi akan membicarakan tentang tanggal pertunangan kalian…" kata Fugaku lalu melambaikan tangan pada keduanya dan diikuti dengan hilangnya kedua sosok itu tepat di balik dinding.

What I do not deserve to be loved?
I was also human beings with many flaws ...
I'm not a perfect and I'm not an angel who always obeyed god orders

Hinata duduk di bangku taman di samping Sasuke. Taman yang sangat luas dan dihiasi berbagai macam bunga. Beberapa ekor kupu-kupu berkeliaran saling berlari mengejar satu dan yang lainnya. Hinata memandang kupu-kupu itu. Kupu-kupu berwarna orange dan bercorak kuning. Mengingatkannya dengan seseorang yang ia cintai sejak dulu. Lalu ia menghela nafas lagi.

"Kenapa sejak tadi aku lihat sepertinya kau hanya menghela nafas…" Sasuke berkata sambil mendengus. Hinata tidak menghiraukan perkataan Sasuke dan terus asyik bermain dengan alam imajinasinya.

"Hei, kau. Kalau kau ditanya orang, dijawab. Dasar…" Sasuke mendengus sekali lagi. Hinata menoleh padanya. Sasuke memandang mata lavender itu. Tidak ada cinta disana. Disana hanya ada kebencian dan kesepian.

"Kau tidak suka padaku?" tanya Sasuke pada Hinata

"Ya, aku sangat tidak suka denganmu!" Hinata berkata dengan lantangnya. Lalu ia memalingkan wajahnya ke arah kupu-kupu berwarna orange itu.

"Biarpun kau tak ingin bersama ku, itu juga percuma. Ayah kita telah menjodohkan kita. Kau tau itu?" kata Sasuke yang masih menatap wajah Hinata dengan seksama.

"Aku tau, idiot!" Hinata berkata dengan nada marah dan Sontak membuat Sasuke terkejut.

"Kau— " kata-kata Sasuke terhenti ketia ia mendengar keributan dari arah samping taman.

"Sasuke mana!? Aku ingin bertemu Sasuke! SASUKE!!!" terdengar suara cempreng dari sana memanggil nama Sasuke. Hinata yang mendengarnya langsung mendongak dan berlari ke arah asal suara itu.

"—Naruto!" teriak Hinata saat ia melihat Naruto yang gerakannya tengah di kunci oleh para bodyguard di rumah itu. Sasuke yang mengenal suara itu hanya mendengus kesal karena acarannya terganggu oleh mahluk yang tidak ingin dia temui.

"Apa-apaan ini? Lepaskan dia!" teriak Hinata. Para bodyguard yang mengerti perintah (calon) majikannya itu langsung melepaskan Naruto. Naruto terduduk di rumput sambil menundukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.

"Dobe… Kau itu mengganggu, TAU!" Sasuke berkata lalu menekankan nadanya pada akhir kalimatnya. Hinata langsung memberikan death glare-nya pada Sasuke yang hanya dibalas dengan lirikkan tidak penting dari Sasuke.

"Naruto…" Hinata berjalan mendekati Naruto lalu membantunya. Tiba-tiba saja tangan Hinata langsung di tepis Naruto dengan kasarnya.

"AU!" Hinata berteriak terkejut saat tangannya terkena pukulan.

"—KAU! Beraninya kau memukul Hinata! Rasakan ini!" kata Sasuke lalu mengepalkan tangannya dan memukul Naruto tepat di wajahnya. Naruto yang tanpa persiapan untuk bertahan akhirnya harus merasakan lagi tanah keluarga Uchiha.

"SASUKE HENTIKAN!" tariak Hinata pada Sasuke. Sasuke yang masih dalam keadaan marah tidak menghiraukan perkataan Hinata dan menendang Naruto dengan sangat keras di bagian dadanya. Naruto meng-aduh dengan sangat keras ketika dirasanya udara tidak bisa mensuplai lagi.

"SASUKE! BERANINYA KAU!"

PLAK!

Hinata memukul Sasuke dengan sangat keras. Sasuke langsung melotot seakan itu adalah tanda penolakannya atas perlakuan Hinata. Hinata tidak perduli dengan tatapan Sasuke kepadanya.

"Kalau kau berani menyakiti Naruto, aku tidak akan segan-segan membuatmu tersiksa! Kau mengerti itu, Uchiha Sasuke!" kata Hinata lalu berusaha kembali menolong Naruto. Lagi-lagi ditepis oleh Naruto.

"JANGAN SOK MENOLONGKU! KAU ITU MENUSUKKU DARI BELAKANG! KAU TAHU, PECUNDANG!" Naruto berteriak dengan tenaga terakhirnya. Hinata yang mendengar perkataan Naruto langsung berlari masuk ke dalam tanpa memperdulikan Sasuke yang memanggilnya sejak tadi. Akhirnya tanpa kata-kata perpisahan pada Naruto, Sasuke mulai beranjak dari sana. Belum sempai ia melangkahkan kakinya yang kedua, ia merasa seseorang menahan kaki kirinya.

"Sasuke… Aku mohon… Jangan tinggalkan aku…" Naruto berkata dengan nada yang sangat lemah. Ia menangis menatap wajah Sasuke yang menatapnya dengan pandangan dingin Sedingin es.

"Kau terlalu berisik, Dobe…" jawab Sasuke lalu mengibaskan kakinya untuk melepaskan tangan Naruto. Tapi tangan itu tidak kunjung terlepas, malah makin erat.

"Jangan tinggalkan aku, Sasuke. Karena aku akan mati tanpamu…" Naruto memandang mata onyx itu dengan pandangan nanar, seakan memohon untuk diampuni atas segala kesalahan yang ia lakukan. Sasuke yang melihat Naruto memohon padanya, hanya bisa memandang jijik pada Naruto.

"Cih… Pengawal, bawa dia keluar dari sini. Aku tak mau ada secuil debu darinya berterbangan bebas di ruangan ini. Karena itu sangat menjijikkan…" kata Sasuke. Para bodyguard itu mengangkat paksa tubuh rapuh Naruto. Naruto memberontak dengan sangat kuat. Ia mengangis menjerit. Tidak mengerti atas segala sikap Sasuke. Ia telah memberikan semuanya. Tubuhnya, cintanya dan perhatiannya. Tapi apa balasan Sasuke kepadanya? Dia bagaikan ampas yang sudah tidak manis lagi dan harus di buang.

"SASUKE! AKU MENCINTAIMU! JANGAN TINGGALKAN AKU! AKU BISA MATI TANPAMU! SASUKE!" kata-kata berakhir setelah gerbang tertutup rapat kembali.

I already guessed, this is only futile.
all the love that once you bring, now would just be a weapon to destroy me anytime you like ...
You understand ... Love?

Setelah insiden itu, Naruto kembali ke rumahnya. Ia berjalan bagai raga tak bernyawa. Terkadang ia menangis, terkadang ia tersenyum. Sakura yang melihat itu hanya bisa pasrah pada takdir yang telah merengut segalanya dari Naruto.

xxxXXXxxx

Naruto beranjak dari tempat tidurnya dengan gaya yang acak-acakkan. Ia tersenyum, tapi senyuman itu begitu pilu. Terkadang ia tersenyum sambil mengeluarkan air mata. Ia berjalan ke arah kamar mandi. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam sana. Tiba-tiba langkahnyaterhenti ketika ia melihat cermin didepannya.

"Siapa kau yang menatapku dengan wajah itu. Wajahmu itu sangat jelek dan bau tau! Kau itu tidak pantas hidup. Bahkan jika kau hidup pun, seekor kecoak akan mencelamu dengan bertubi-tubi. Orang hina sepertimu, harusnya mati… Kau tahu itu, Naruto?" katanya dengan senyum mengerikan. Kemudian matanya mencari-cari seisi ruangan itu. Lalu matanya menangkap sebuah silet cukut di dalam kotak.

"Ini akan mengakhiri penderitaanmu, mahluk jelek. Kalau kau mati, kau pasti akan bahagia bersana kaasan dan tousan. Tidak akan ada beban dan kau tidak perlu mengingat Sasuke-mu itu. Ya, kau pasti bahagia, Naruto…" katanya sambil tersenyum. Kemudian tangan kanannya yang menggenggam silet di arahkan ke pangkal tangan kirinya. Tepat di atas urat nadi. Lalu ia menorehkan sebuah garis dengan tekanan besar di sana. Darah mengucur dengan derasnya dari luka itu. Ia menangis. Tapi matanya seolah menggambarkan lain.

"Neechan… Jaga baik-baik dirimu… Hoaammm… Aku mengantuk sekali… Sayonara—neechan…" katanya. Lalu kegelapan mulai menyelimutinya. Ia tertidur. Tertidur sambil tersenyum. Senyum ketenangan dan melukiskan kebahagiaan. Naruto kini merasa semua beban telah hilang dari pundaknya. Ia merasa bebas. Dan harapan terakhirnya adalah semoga ia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya disana.

---TBC---

GREEKKK!!!

AKU DIHANTAM…

Aduh… Aku bener-bener tidak bisa buat cerita berating T… T3T

Sedihnya…

Jadi maaf ya kalau rada tidak nyambung…

But, R&R please…

*kalau ada masukan silahkan… Tapi jangan flame saya T.T itu akan membuat saya benar-benar merasa sebagai author yang sangat buruk T.T*

xxXXXxxx

Do not ever stop running when I chase ...
Because I was the predator in the night

xxxXXXxxx