A/N : Wow! Thanks for all positive reviews for this fict :) I've always have a draft for all of my story, but unfortunately I'd always got a writer block, so if I take too long for an update I really am sorry. And for lemons, it'll be come for a couple next chapter. And the last, I hope you get the answer for all of your question in this chapter or in the next. Btw, for your request about making a sequel for my last story (You're My Home) maybe I'll post after this story finished. So, I hope you enjoy this story first hehe (di lempar massa)

All of characters belong to JK. Rowling and several unknown character belong to me automatically hehe


Chapter 2

Mr. Know It All

Well you don't think you know it all

But you don't know a thing at all

Yeah baby you dont't know a thing about me

You don't know a thing about me

(Mr. Know It All – Kelly Clarkson)

"Me-me-menikah?" Hermione menjawab dengan terbata saat pria di hadapannya mengutarakan kalimat tersebut.

Draco hanya mengangguk pelan sambil menunggu respon selanjutnya dari Hermione "Kau gila, Malfoy!" Hermione nampak sangat terkejut "kita ini musuh selama bertahun-tahun dan sejak kapan kau menyukaiku?" nada penasaran kembali menghiasi nada bicara wanita berambut cokelat ini.

"Aku tak pernah menganggap kita musuh," jawab Draco "masalah menyukaimu, sejujurnya aku tak menyukaimu, Granger, tapi kau pasti membutuhkan pernikahan ini, bukan?" ujar Draco kembali sambil menyesap Jus Labu seperti tak ada apapun yang terjadi.

Hermione menatapnya bingung "Apa maksudmu dengan aku juga membutuhkan pernikahan ini?"

"Ooh shit! Apa kau tahu tentang masalah pendeportasianku?" tanyanya dengan raut wajah horor.

Draco menyeringai sekali lagi dan mengangguk untuk kesekian kalinya "Kau mengutarakannya dengan sangat jelas sekali tadi malam."

Hermione menyender lesu di kursinya. Dalam hati ia merutuki mulutnya yang berubah menjadi seperti pancuran air saat mabuk tadi malam. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bahkan seorang Malfoy mengetahui masalahnya. Tunggu, tapi buat apa pria ini rela untuk dinikahinya "Apa yang kau rencanakan sebenarnya?" tanya Hermione menatap Draco dengan tatapan menyelidik.

"Well, aku juga berada dalam kondisi yang hampir mirip denganmu. Tetapi, aku tak akan di keluarkan dari negara ini lebih tepatnya aku akan di keluarkan dari perusahaanku sendiri," ujarnya santai.

"Lalu kau memilihku?" tanya Hermione tak percaya.

"Benar sekali," jawabnya.

Hermione menghela napasnya "Kita sama sekali tak saling mencintai, bagaimana kita bisa menikah?"

Draco mengerucutkan bibirnya kemudian kembali berucap "Aku tak mengatakan pernikahan ini untuk selamanya, kita hanya butuh menikah kontrak. Setelah aku mendapatkan perusahaanku secara resmi dan kau mendapatkan kewarganegaraanmu kita akan berpisah dengan damai."

Seakan dikejutkan dengan kejutan listrik, Hermione menganga mendegarnya. Rahangnya seakan jatuh saat pria di hadapannya ini mengucapkan kata-kata tadi. 'Apa sebenarnya yang ada di otak si Pirang ini?' pikirnya.

"Menikah kontrak. Demi Merlin, Malfoy! Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bagaimana mungkin kau membuat ini terkesan sepele!" Hermione melotot padanya.

Dengan buru-buru ia mengambil tas tangannya "Aku rasa percakapan kita cukup sampai disini dan kau pasti tahu apa jawabanku," ujar Hermione.

"Aku tak menyuruhmu menjawabku sekarang, tapi kau harus memberitahuku secepatnya. Karena kau hanya memiliki waktu 2 minggu 6 hari lagi, kan?" Draco kembali meyeringai.

Hermione kembali terkejut "Kau memata-mataiku?"

"Hanya sekadar mencari tahu," balas Draco santai.

"Kau gila," ucap Hermione kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

"Kau tahu dimana kantorku kan, datanglah kesana secepatnya," Draco sedikit berteriak kemudian kembali menyesap Jus Labunya

Dia menatap kepada gelas yang masih berisi penuh dengan Butterbear dihadapannya. Dengan tersenyum dia juga ikut angkat kaki dari tempat itu.

ooo

Setelah pertemuan spektakuler dengan Draco tadi sore Hermione langsung kembali ke penthouse-nya. Dia terus mondar-mandir di depan perapian. Kepalanya dipenuhi dengan semua perkataan pria pirang tadi. Pernikahan kontrak. Hal itu sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya. Dia hanya menginginkan pernikahan yang sakral dan khidmat, namun sekarang seorang pria datang padanya untuk menawarkan pernikahan kontrak. Lelucon kembali datang di kehidupannya.

Tetapi, melihat dari keadaan sekarang, pernikahan inilah satu-satunya yang dapat menyelamatkan segalanya. Hermione beranjak ke dapur dan mengambil segelas air putih. Kembali lagi ia seperti seterika yang mondar-mondir tiada henti di depan perapian.

"Aaaaaaaaaarh," tiba-tiba dia berteriak tanpa tahu apa sebabnya.

Hermione akhirnya duduk di sofa putihnya. Dia masih tak habis pikir dengan kelakuan Malfoy yang menyelidiki kasus pendeportasiannya.

"Kenapa dia harus bertingkah seakan-akan paling memahami masalahku, huh?"

Hermione kembali frustrasi. Dengan segera dia berjalan ke kamar mandi. Berendam adalah pilihan paling tepat baginya saat ini untuk menghilangkan kepenatannya.

ooo

Ball Room sebuah gedung di Albert Road telah di penuhi oleh para penyihir-penyihir kelas atas. Mereka adalah para perancang, pengusaha, selebritis, model, dan para sosialita. Malam ini merupakan malam peluncuran tas tangan terbaru keluaran Stevie Saddie, jadi para kaum jetzet sihir tak akan mungkin melewatkannya.

Hermione baru saja menjejakan kakinya di tempat ini. Otomatis para wartawan langsung mengerubunginya. Topik yang dibahas tak lain dan tak bukan masih seputar rumor pendeportasian dirinya. Dengan anggun Hermione hanya berjalan tanpa menghiraukan satupun dari para juru warta itu. Dengan sedikit terburu-buru dia berjalan menuju belakang panggung untuk mengganti baju untuk kemudian berdanda, lalu berlenggok anggun di catwalk guna mempromosikan tas tangan terbaru itu.

Hermione menjadi model penutup pagelaran ini. Dialah ikon yang menjadi sorotan untuk malam ini. Dia memakai jumpsuit berbahan chiffon lembut bewarna hitam dengan tas tangan bewarna emas sebagai produk yang akan ia iklankan. Sorotan lampu semua telah ditujukan padanya. Dengan anggun dan penuh percaya diri dia mulai berjalan di catwalk dengan tas cantik bewarna emas di tangannya. Semua mata tampak langsung tertuju padanya. Setelah posenya yang pertama, Hermione kembali ke belakang panggung kemudian keluar bersama Fredericca Pirlo, sang perancang tas-tas yang diperagakan malam ini. Semua orang langsung berdiri dan bertepuk tangan. Baik untuk sang perancang dan sang model.

Setelah acara peluncuran tas tangan itu berlangsung, pesta akhirnya di mulai.

"Terima kasih, dear," ujar Fredericca sang perancang tas itu pada Hermione "kau sangat menawan malam ini," pujinya.

"Itu semua karena tas buatanmu memang pantas untuk kupromosikan," balas Hermione dengan senyum sumringah di wajahnya.

"Kau memang benar-benar model profesional."

"Terima kasih."

Setelah perbincangannya dengan Fredericca berakhir, dia mulai berjalan menuju meja minuman. Haus melanda kerongkongannya. Hampir satu jam dia berjalan ke kiri dan ke kanan untuk mengobrol dengan para pengusaha dan teman-teman seprofesinya. Dari kejauhan dia melihat Anthonny Goldstein. Yep, ini kesempatan bagus baginya. Dengan sedikit rayuan mungkin dia dapat menggaet pria itu lagi dan menikahinya dalam waktu 2 minggu lagi.

Jeez! Dia baru sadar waktunya tinggal 2 minggu lagi sebelum dia berhasil dideportasi. Baru saja ia ingin menghampiri mantan pacarnya itu, seorang wanita datang menghampiri Anthonny yang langsung disambut dengan pelukan dan kecupan hangat di bibirnya. Hermione langsung mematung di tempat. Pupus sudah harapannya.

"Goldstein sudah memiliki kekasih baru," bisik lelaki yang dia sudah kenal suaranya di telinganya.

Hermione langsung berbalik menghadapnya "Kenapa kau selalu muncul serperti hantu, Malfoy?" ungkapnya kesal.

Draco hanya melihatnya kemudian tersenyum tipis "Aku sudah berada di sini sejak tadi, hanya saja kau tidak menyadarinya karena sibuk mencari cara untuk menarik perhatian si Goldstein itu lagi kan?"

Dia melotot saat mendengarnya "Jangan berlagak sok tahu, Malfoy."

"Aku memang serba tahu, Granger."

Hermione kembali menatap kesal pada pria pirang di hadapannya "Kau menggunakan Occlumency padaku huh?" tuduhnya.

Bukannya langsung menjawab Draco tertawa terlebih dahulu "Apa yang lucu?" tanya Hermione kesal.

"Kau," jawabnya cepat.

"Pergilah dari sini," usir Hermione padanya.

"Aku ingin sekali, tapi sayangnya tak mungkin. Aku merupakan pemilik saham terbesar di brand yang mendapukmu sebagai modelnya," ujarnya enteng.

Gadis itu melotot untuk kesekian kalinya "Kau menyebalkan," Hermione mengerucutkan bibirnya kemudian pergi meninggalkannya.

Tidak menyerah, Draco berjalan mengikutinya. Hermione berhenti karena sadar Draco masih membututinya "Apa sebenarnya maumu, Malfoy?" emosinya mulai naik.

"Kau tahu apa mauku, Granger. Aku mau kau," ujarnya sambil menunjuk Hermione satu jari dengan santai "aku mau kita menikah, itu saja," dia kembali menyeringai.

"Kau tidak waras," dengan kesal Hermione kembali meninggalkannya.

"Segeralah datang ke kantorku, Miss Granger," teriak Draco puas.

Hermione hanya berjalan terus tanpa menghiraukannya lagi.

ooo

Beberapa hari kemudian Hermione mengunjungi Diagon Alley untuk membeli beberapa buku yang ia perlukan untuk merampungkan studinya di bidang hukum sihir. Walaupun kariernya sudah bersinar cemerlang di bidang modelling, namun ia tak meninggalkan studinya sama sekali. Dia masih terdaftar di sebuah kampus sihir Inggris sebagai mahasiswa jurusan hukum sihir. Hermione selalu berpikir kariernya tak akan bertahan sepanjang hidupnya, oleh sebab itu dia masih membutuhkan pendidikan formal untuk kehidupannya kelak.

Saat sedang asik melihat buku apa saja yang ia butuhkan, dia dikejutkan oleh sosok wanita yang menjadi momok menakutkan baginya belakangan ini. Dan benar saja, wanita separuh baya itu datang menghampirinya "Selamat siang, Miss Granger," sapa wanita itu.

Dengan senyum yang terpaksa Hermione balas menyapanya "Selamat siang, Mrs. Hilton."

"Apa kabarmu?" tanya Mrs. Hilton.

Dalam hati Hermione menggerutu pada petugas Kementerian yang siap mendeportasinya dari negara ini 'Kenapa dia mesti sok baik padaku?' pikirnya.

"Aku baik sekali," jawab Hermione yang terkesan sangat dibuat-buat di hadapannya.

"Syukurlah, lalu kau sudah siap untuk kembali ke negara asalmu? Atau kau sudah mempunyai calon pendampingmu?"

Seperti disiram dengan air yang diambil dari Alaska, Hermione membatu. Tak tahu apa yang harus diucapkannya. Tak mungkin ia mengatakan ia siap untuk dipulangkan ke Perancis. Di pulangkan ke Perancis dengan pencabutan visa kunjungan selama beberapa tahun kedepan ke Inggris itu sama saja seperti vonis mati baginya, namun ia juga tak mempunyai calon pendamping sekarang.

"Miss Granger," suara itu kembali menginterupsi pikiranya.

"Ooh yaa, aku tentu tak akan siap untuk dipulangkan ke Perancis secepatnya, Mrs. Hilton. Dan sepertinya aku akan mendapatkan kewarganegaraan itu secepatnya," ujar Hermione santai.

Mrs. Hilton mengerutkan dahinya "Maksudmu, kau akan menikah dalam waktu dekat?"

Hermione mengangguk pelan "Tepat sekali, kemungkinan akhir pekan ini."

Wajah terkejut tampak menghiasi manik wajah wanita paruh baya di hadapannya "Wow, selamat kalau begitu. Kita akan bertemu dengan suamimu secepat mungkin di sidang nanti."

"Yep."

"Aku pergi duluan, Miss Granger. Sampai jumpa," ujarnya lagi

"Sampai jumpa, Mrs. Hilton."

Saat Hermione melihat pintu toko ini menutup, dia menyender lemas di rak-rak buku itu. Dia memukul keningnya sendiri. Merutuki kebodohannya tadi. Mengapa ia harus mengatakan bahwa ia akan segera menikah? Dan Merlin! Dia mengatakan bahwa akan menikah akhir pekan ini. Dengan siapa? Pria mana yang mau ia nikahi secepat itu?

Malfoy.

Yaa, Draco Malfoy.

Hermione langsung keluar dari toko itu dengan tangan kosong. Lupa dengan tujuan awalnya, dia langsung ber-Apparate ke tempat harapannya yang terakhir.

ooo

Tok..tok..tok..

"Masuk," suara Draco terdengar dari ruangannya.

"Ada seseorang yang ingin menemuimu, Mr. Malfoy," ungkap Isobel, sekretarisnya.

Draco mengerutkna kening. Dia merasa tak ada janji bertemu dengan siapapun. Pikirannya langsung tertuju pada bibinya. Shitt! "Katakan aku tak bisa diganggu bila itu dari Victoria," ujar Draco santai.

Isobel mengelengkan kepalanya "Ini bukan Mrs. Malfoy, Sir."

"Lalu?"

"Miss Granger," jawabnya cepat.

Seulas senyum langsung muncul di wajah pria ini "Persilahkan dia masuk."

Hermone masuk ke ruangan super besar milik Draco Malfoy. Dia berdiri tepat di tengah ruangan itu sambil menatap nanar ke arah pria yang masih dengan santainya duduk di kursi itu "Ayo kita segera menikah," tanpa tedeng aling-aling ia mengatakan hal itu.

"Wow, wow kau tak sabaran sekali sepertinya," Draco menyeringai.

Gadis itu langsung duduk di hadapannya "Kita mau menikah kontrak? Baiklah, ayo kita buat perjanjiannya sekarang juga."

"Kau terburu-buru sekali tampaknya," kekeh Draco "kita masih bisa mempersiapkannya dengan matang, bukan?"

"Aku tak ada waktu lagi," jawab Hermione cepat.

Draco menatapnya curiga "Kau masih mempunyai waktu sekitar satu sentengah minggu lagi, kan?"

"Aku sudah berjanji akan menikah akhir minggu ini."

Rahang Draco seakan-akan jatuh. Terkejut dia dibuat oleh wanita gila di depannya. Baru beberapa hari yang lalu ia mengatakan tak mau menikah dengannya, namun sekarang dia datang padanya dan memintanya untuk menikah dalam minggu ini juga. Sakit jiwa.

"Kau benar-benar jadi tak waras," ujar Draco "bagaimana mungkin kita akan menggelar pernikahan hanya dalam hitungan beberapa hari ke depan?"

Hermione menarik kursinya agar lebih dekat dengan meja pria yang terkejut di hadapannya "Siapa bilang kita akan menggelar upacara pernikahan?"

Draco mengerutkan satu alisnya "Kita akan menikah di catatan sipil Kementerian, tanpa pendeta, tanpa upacara, tanpa gaun pengantin, tanpa kue, dan tanpa satupun tamu," cerocos Hermione.

"Tidak mungkin," bantah Draco "aku tak mungkin menilkah seperti itu, apa kata kolega-kolega bisnisku dan apa kata bibiku, dia pasti tak akan menyetujuinya," tambahnya lagi dengan sikap defensive.

"Demi merlin, Malfoy! Kita hanya menikah kontrak! Upacara pernikahan terlalu suci untuk mengikat kita. Lagipula menikah secara negara sudah lebih dari cukup untuk kita. Mendapat lisensi pernikahan dan voila kita sudah menjadi pasangan suami istri yang resmi dimata hukum dan masyarakat," Hermione kembali berargumen.

Draco tampak mempertimbangkan pendapat dari calon istrinya ini. Dia berpikir keras. Tetapi, tawarannya memang sangat menyenangkan. Dia tak perlu mengadakan pesta resepsi dan berpura-pura bahagia dihadapan semua tamu. Dengan selembar kertas lisensi pernikahan dari Kementerian dia akan menjadi pemilik sah dari Malfoy Coorps.

"Jadi?"

"Baiklah kita akan menikah Sabtu ini," jawab Draco enteng.

"Deal," Hermione menjawab dengan senyum terkembang di wajahnya "sekarang kita harus membuat kontrak pernikahan, aku minta perkamen dan tinta," ujarnya lagi.

Draco mengambil selembar perkamen kosong dari laci mejanya dan menyodorkan pena bulu lengkap dengan tintanya pada Hermione "Kita akan menikah selama satu tahun," gumamnya sambil terus menulis "bercerai dengan damai," sambungnya lagi.

"Tak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing," Draco menambahkan.

Hermione mengangguk kemudian menulisnya "Saling membantu untuk kasus masing-masing," Hermione kembali berujar.

"Apa maksudmu?"

"Bodoh, yaa kita harus saling membantu dalam kasus yang kita hadapi. Kau harus membantuku dalam menghadapi Kementerian mengenai kasus pendeportasianku dan aku akan membantumu menghadapi bibimu," jelasnya.

Draco mengangguk "Deal."

"Oia, satu lagi kita akan tinggal di penthousse-ku," tambah Hermione lagi.

Dengan wajah horor Draco menolaknya "Aku tidak mau, aku tak mau hidup di apartemen. Terlihat seperti burung yang bertengger di sangkarnya."

Hermione mendengus kesal saat mendengarnya. Bagaimana dia bisa menghina tempat yang sama sekali belum pernah ia kunjungi? Arogan!

"Penthouse-ku sama mewahnya dengan Manor-mu, Malfoy," ujarnya ketus.

"Aku tidak mengatakan bahwa penthouse milikmu tak layak kutempati, tapi aku tak mau hidup di apartemen. Lagipula penthouse-mu terletak di St. Martin Road yang notabene tempat para selebritis dan model sepertimu tinggal, aku tak akan sudi tinggal disana. Jadi, kita akan tetap tinggal di Manor-ku," Draco memberikan alasannya.

Hermione sudah abis akal menghadapi calon suaminya ini. Dia menghela napas dan duduk menyender di kursi itu "Aku juga tak mungkin sanggup tinggal di Manor," ucapnya pelan.

Draco memerhatikannya sambil mengerutkan dahinya "Kau masih trauma?" tanyanya hati-hati.

Hermione hanya mengangguk pelan. Setelah percakapan itu tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hermione masih beranggapan hanya penthouse-nyalah tempat yang paling ideal untuk mereka tempati nanti. Dia tak akan sanggup untuk menginjak Malfoy Manor kembali. Bayangan Bellatrix Lestrange saat menyiksanya pasti akan selalu menghantuinya. Sementara Draco juga mencari cara agar mereka mendapatkan tempat tinggal yang nyaman bagi mereka berdua setelah menikah nanti. Dan voila! Draco mendapatkan ide.

"Kita bisa tinggal di rumah pribadiku."

"Manor?" tanya Hermione penasaran.

Draco melotot padanya "Aku bilang rumah pribadiku, bukan Malfoy Manor."

Hermione mengerucutkan bibirnya "Dimana?"

"Waltham Forest," jawabnya enteng.

"Itu jauh dari London," dengus Hermione.

Draco menatap sebal padanya "Kau penyihir, tolol. Kita bisa ber-Apparate atau menggunakan jaringan Floo. Lagipula itu hanya di tenggara London."

"Tapi penthouse-ku berada di London-nya."

"Kau banyak sekali permintaan, Granger," Draco mulai kesal.

Hermione terkekeh melihat tingkah "Baiklah, deal," Hermione menjulurkan perkamen tersebut "tanda tangani," perintahnya.

Setelah Draco menandatanganinya , kini giliran Hermione yang menandatanganinya. Kemudian ia merapalkan mantra untuk menyalin isi perkamen tersebut di perkamen lain.

"Deal," ujar Draco tersenyum puas "kita butuh unbreakable vow?" tanya Draco.

Hermione melotot "Jangan bertingkah berlebihan seperti itu!"

"Yayaya baiklah, Granger."

"Panggil aku Hermione," Hermione menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Draco.

Pria itu menyambut dengan senyum tipis di bibirnya "Draco."

ooo

It's a beautiful night

We're looking for something dumb to do

Hey, baby I think I wanna marry you

(Marry You – Bruno Mars)

"Apakah kau Draco Lucius Malfoy bersedia menerima Hermione Jean Granger sebagai istrimu yang sah di mata Orde Merlin dan di mata hukum, serta saling menjaga satu sama lain sampai maut memisahkan?" tanya seorang pria pejabat pernikahan Kementerian Sihir.

Draco terdiam sesaat kemudian membuka suaranya "Yaa, aku bersedia."

"Apakah kau Hermione Jean Granger bersedia menerima Draco Lucius Malfoy sebagai suamimu yang sah di mata Orde Merlin dan di mata hukum, serta saling menjaga satu sama lain sampai maut memisahkan?" petugas itu kembali bertanya pada mempelai wanita.

Hermione hanya terdiam. Tiba-tiba saja perasaan ragu menyelubungi dirinya. Hal ini bukanlah hal yang ia inginkan di dalam hidupnya. Pernikahan itu adalah sesuatu yang suci dan kini dia baru saja akan memulai sandiwara terbesar dalam hidupnya.

"Eehm," Draco membuyarkan pikirannya.

"Hah," Hermione sedikit linglung.

"Jawab," bisik Draco sambil tetap tersenyum di hadapan petugas itu.

"Yaa, aku bersedia," jawab Hermione cepat.

Petugas itu akhirnya tersenyum "Atas nama Orde Merlin dan kekuatan hukum sihir Kementerian Sihir Inggris dengan ini saya menyatakan kalian sah menjadi pasangan suami dan istri."

Mereka berdua menghela napas lega "Kau boleh mencium mempelai wanitanya," ujar petugas itu lagi.

Aku terkejut. Aku melupakan bagian saat mempelai pria mencium pengantinnya. Dengan canggung Draco menghadap kepada Hermione "Jangan berpikir macam-macam," bisiknya padaku lalu langsung mengecup bibirku dengan cepat.

Setelah selesai mengucapkan janji pernikahan dan menandatangani beberapa dokumen pernikahan, mereka langsung berjalan keluar dari ruangan. Mereka benar-benar tidak terlihat seperti pasangan yang baru saja menikah. Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja menghadiri pemakaman. Hermione memakai dress selutut berbahan satin hitam dengan pita hitam di rambutnya dilengkapi stiletto bewarna merah, sedangkan Draco memakai jubah sutra bewarna hitam. Mereka benar-benar terlihat seperti meratapi nasib yang menimpa keduanya.

"Hallo Miss Granger," sapa Mrs. Hilton pada Hermione di lorong Department of Magical Law Enforcement.

Draco menatap wanita itu. Baru satu kali melihat dia langsung tak suka pada wanita paruh baya di hadapannya "Hallo Mrs. Hilton," sapa Hermione kembali.

"Ada sedikit koreksi disini, dia bukan lagi Miss Granger," ucap Draco enteng "panggil dia Mrs. Malfoy," tambahnya lagi.

Terkejut. Itulah ekspresi yang muncul di wajah Mrs. Hilton saat ini "Mrs. Malfoy?" tanyanya tak percaya.

Hermione tersenyum dan mengangguk "Kami baru saja menikah. Draco dan aku sekarang sudah menjadi pasangan suami istri," ucapnya dan tanpa tedeng aling-aling Draco melingkarkan tangannya di bahu istrinya itu.

Hermione sedikit terkejut dengan perlakuan dari Draco sekarang "Jadi, bila kau tidak keberatan kami permisi duluan," ucap Draco.

"Ooh tentu. Sekali lagi selamat buat kalian. Ooh yaa, Mr dan Mrs. Malfoy jangan lupa kalian akan menghadapi pertemuan denganku terkait dengan pembatalan pendeportasian Mrs. Malfoy," ujar Mrs. Hilton.

"Kami tak akan lupa itu," ucap Hermione.

Kemudian mereka berjalan meninggalkan wanita itu "Aku tak suka wanita tua itu," ucap Draco datar.

"Aku juga. Mengingatkanku pada Umbridge," balas Hermione.

"Tepat sekali."

ooo

Mereka langsung ber-Apparate ke rumah yang akan mereka tempati selama pernikahan mereka. Di luar dugaan Hermione, rumah milik Draco jauh dari bayangannya selama ini. Dia selalu membayangkan rumah itu akan bergaya Victiorian kuno khas para penyihir, tapi rumah pribadi milik Draco terlihat hangat dengan arstektur khas Mediteranian. Rumah itu terlihat megah dengan dua lantai. Ada empat kamar di rumah itu. Hal yang membuat Hermione terkejut adalah mereka akan tinggal dalam satu kamar. Tetapi, sebelum dia dapat memprotes Draco sudah menjelaskan bahwa ranjang mereka dapat di sihir menjadi dua, jadi saat tidur mereka tetap berada di ranjang yang terpisah. Hal ini ia lakukan untuk kepentinngan bersama. Akan sangat kacau apabila Victoria datang dan mendapati keponakannya memiliki kamar yang terpisah dengan istrinya sendiri. Lagipula ini juga untuk kepentingan Hermione, bila nanti petugas dari migrasi berkunjung ke rumah, mereka tak akan menaruh curiga pada pernikahan yang berlangsung secara terburu-buru ini.

"Kita harus menemui teman-temanku sekarang," ujar Hermione.

Draco menggeleng "Kita akan menemui Victoria lebih dahulu," balas Draco tak setuju.

Hermione menatap sebal pada suaminya "Temanku dulu."

"Bibiku dulu."

"Temanku!"

"Bibiku!"

"Temanku!"

"Kita undi saja," ucap Draco kesal.

Dia mengeluarkan kepingan galleon dari sakunya "Aku gambar, kau angka," ujarnya kemudian melemparkan kepingang galleon itu ke udara dan menangkapnya.

Dia membukanya dengan hati-hati "Yeaay!" Hermione bersorak riang saat angkalah yang muncul di hadapannya "Pakai jubahmu, kita ber-Apparete sekarang."

Tak lama kemudian mereka sampai di halaman kediaman keluarga Weasley.

"Selamat datang di The Burrow," ujar Hermione dengan suara yang tercekat saking groginya.

Draco hanya melihat kesekelilingnya kemudian mengernyitkan hidungnya. Hermione sadar akan hal itu "Bersikap sopanlah, kau suamiku sekarang," ujar Hermione.

"Kenapa mereka bisa hidup di tempat seperti ini?" nada jijik keluar dari suaranya.

"Jaga sikapmu Malfoy!"

"Kau sekarang juga seorang Malfoy, istriku," dia menekankan pada kata 'istriku' "apakah kau lupa itu?"

Hermione bergedik saat mendengarnya "Terserah! Ayo kita masuk."

Langkah Hermione terhenti di depan pintu The Burrow. Dia ragu untuk menemui mereka semua "Kau ragu?" tanya Draco.

"Tidak," jawabnya cepat kemudian langsung melangkah masuk ke dalam rumah itu.

Mereka langsug berjalan ke ruang tengah rumah ini. Hermione hapal betul dimana mereka akan berkumpul saat seperti ini. Sore hari di setiap akhir pekan para Weasley plus Harry pasti akan berkumpul untuk sekadar mengobrol atau makan malam bersama. Benar saja. Mereka semua terlihat bahagia dengan kesibukan masing-masing.

"Hey," sapa Hermione.

"Hey, Hermione," sapa Ron, Harry, Ginny, dan para Weasley lainnya.

"Draco," ucap Daphne dan Pansy terkejut saat melihat Draco berdiri tepat di belakang Hermione.

Draco hanya menyeringai kemudian melingkarkan tangannya di pinggul Hermione "Hallo semuanya," sapanya enteng namun terdengar sedikit canggung.

"Malfoy?" ujar Ron, Harry, dan Ginny secara bersamaan.

ooo