14 April 2017
Tembok beku yang sudah kokoh kubangun perlahan-lahan mencair karena senyum hangatnya. Jantungku bertalu-talu seperti hendak keluar dari rongga dada, aku tak tahu mengapa ia tak sinkron dengan pikiran jernihku. Ini adalah pertama kalinya aku merasa seperti ini. Apakah.. ini yang dinamakan rasa suka?
A Piece of Heart
By. Ciellalee
Chapter 2 : Setetes Tinta
Do Kyungsoo menatap lekat ke layar ct scan yang menampilkan seluruh kondisi pasiennya−Byun Baekhyun. Ia menatap tenang ke arah layar tersebut. Ditemani beberapa dokter mereka saling berdiskusi satu sama lain. Mereka saling berdiskusi satu sama lain, sembari menunjuk-nunjuk ke layar tersebut. Tangan mereka bergerak cepat menggesekkan pulpen ke kertas yang dijepit papan jalan.
Begitu ct scan selesai, Baekhyun dipersilahkan untuk keluar sementara Kyungsoo akan menganalisis lebih dalam mengenai kondisi tubuhnya. Dokter bermata bulat itu menyarankan dirinya untuk mulai berlatih meregangkan tangan-tangannya karena hal itu tentu akan sangat membantu pengobatannya.
Yunho yang menjadi pengganti wali Baekhyun mendegarkan dengan saksama, mengingat setiap perkataan dokter itu dan menyimpannya dalam memori otak. Setelah mendengar beberapa anjuran, ia mendorong pelan kursi roda yang Baekhyun duduki melewati lorong rumah sakit yang sepi.
Seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut merahnya yang nampak kontras muncul dari ujung lorong. Menyapa Baekhyun yang terduduk lesu.
Baekhyun hanya tersenyum lemah membalasnya. Hari ini moodnya tidak terlalu baik, mungkin karena berbagai proses pengobatan yang ia jalani cukup menguras tenaga. Hubungan yang mereka miliki memang hanyalah sebatas dokter dan pasien. Namun, yang Baekhyun rasakan adalah sikap Chanyeol terlalu penuh perhatian.
"Sudah melakukan ct scan dengan dokter Kyungsoo?" Tanyanya ramah sembari memberi salam kepada Yunho yang membalasnya dengan ramah.
"Iya." Pertanyaan itu mungkin hanyalah sekedar basa-basi, namun Baekhyun tak membenci itu.
"Kuharap hasilnya baik. Setelah mendapat laporan dari Kyungsoo kau akan mulai terapi denganku." Seulas senyum tipis terlukis di wajah tampannya. Baekhyun menganggukkan kepala lalu berlalu melewati Chanyeol begitu saja.
.
Suara kertas yang dihempas dengan keras begitu menggema di ruangan. Tatapan mata nyalang tergambar jelas dari kedua bola mata bulat milik Chanyeol. Hatinya bagai diremas sekuat tenaga hingga mengering, tak menyangka akan keadaan yang menimpa gadis mungil itu.
"Candaanmu sungguh tak lucu, Kyungsoo-ah."
Kyungsoo meraih kertas yang berhamburan di lantai menyusunnya kembali dengan tenang. Ia benarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot dari bingkaian matanya. Ia menyelipkan kertas tersebut ke dalam map kecoklatan untuk ia serahkan ke pasiennya tersebut.
"Seharusnya kau yang paling mengerti bahwa aku tidak suka bercanda." Balik menatapnya geram.
Chanyeol tak mengerti mengapa dirinya begitu tertarik dengan pasiennya –Byun Baekhyun. Namun begitu melihat hasil foto rontgent yang tengah Kyungsoo genggam menjadi jawaban pasti atas keraguannya selama ini.
"Chanyeol, jangan bilang kau−"
Chanyeol memotong ucapan Kyungsoo, segera ia balikkan badannya membanting kasar pintu ruangan Kyungsoo tak peduli sikapnya tersebut menimbulkan aura ketakutan di antara perawat yang sedang berlalu lalang.
"Bukan urusanmu."
.
Baekhyun merasa dunia kini hancur lebur tiada sisa. Bagai petir di siang hari. Jiwanya kini telah melayang tak tahu kemana begitu mendengar penuturan Kyungsoo−dokter yang bertanggung jawab atas hasil ct scannya. Tubuhnya bagai dihempas ke bumi terdalam lalu dihampas lagi menuju angkasa luar, mungkin sekiranya itulah yang dapat menggambarkan imajinasi Baekhyun saat ini.
Tubuh Baekhyun semakin merosot melemas menerima kenyataan yang ia dapatkan. Ia remat selimutnya kencang berusaha menegarkan diri meski ia tahu ia hanya akan sia-sia.
Bulir air mata telah menggantung di kedua sisi matanya, tinggal menunggu waktu saja hingga akhirnya menetes membasahi punggung tangannya. Yunho yang turut berada di ruangan membuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara, tak kuasa menahan kenyataan yang menamparnya begitu keras begitu pula dengan keponakannya.
"Seluruh tulang tangan Baekhyun hancur total. Beberapa saraf dan ligamenmu putus, ini.. kondisi yang sangat serius." Jelas Kyungsoo lugas tak ingin bertele-tele maupun menutup-nutupi. Tangannya yang membawa papan jalan yang mencapit foto ct scan sertas hasil analisanya tak tahunya menggenggam kuat.
"Kemungkinan untuk sembuh total pun hanya 5%, kau harus menjalani beberapa operasi dan terapi untuk menyambung sarafmu. Dan, hal ini tentu membutuhkan waktu yang panjang. Belum lagi terapi yang harus kau jalani." Kyungsoo menghela napas.
Chanyeol yang saat itu mendampingi Kyungsoo membawa hasil ct scannya menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melangkah cuek ke sisi ranjang Baekhyun kemudian mengelus punggung bergetar Baekhyun dengan lembut. Baekhyun yang sedari tadi hanya menunduk menatap kepalan tangannya−mendongak mengalihkan atensinya pada Chanyeol yang tiba-tiba membawanya dalam sebuah dekapan.
Yunho dan Kyungsoo tertegun menatap bagaimana Chanyeol dengan lembutnya membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Dagu Baekhyun bersandar pada pundak kokoh Chanyeol. Ia menggigit bibir dalamnya berusaha menahan isak tangis yang bisa pecah kapan saja.
"Tidak apa-apa."
Suara Chanyeol memecah ketegangan dalam ruangan tersebut. Kyungsoo yang merasa tugasnya telah selesai meninggalkan kedua insan yang tengah saling menguatkan tersebut diikuti Yunho di belakangnya. Sebelum benar-benar meninggalkan Baekhyun, Yunho menatap ke arah Chanyeol memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja jika bersama dirinya. Chanyeol yang menyadari akan hal itu menangguk mantap membuat Yunho menghembuskan napas berat menutup pintu dengan hati-hati.
Hanya Chanyeol yang kini dapat mengeluarkan suara. Ia begitu mengerti bahwa saat ini Baekhyun membutuhkan sandaran. Ia membutuhkan sesosok yang dapat menguatkannya saat ini. Harus ada orang yang dapat membuat Baekhyun merasa tenang saat ini. Dan Chanyeol dapat melakukan sandiwara dengan sangat baik untuk meredakan suasana.
"Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk operasi dan fisioterapimu. Aku akan mendampingimu hingga kau bisa pulih−hingga akhirnya kau bisa berdiri lagi di atas panggung lagi. Rumah sakit ini akan mengusahakan yang terbaik untukmu."
.
Setelah beberapa minggu menetap di rumah sakit, barulah Baekhyun mulai berani untuk berjalan-jalan sendiri di sekitar rumah sakit sambil menikmati suasana 'rumah keduanya' yang didesain apik dengan memadukan gaya arsitektur modern dan tua.
Baekhyun biasanya duduk berjam-jam di bangku panjang dekat bangsal anak-anak yang tertutup rimbunnya pohon maple. Hanya berusaha untuk menjernihkan pikirannya dari hal-hal pahit yang tak kunjung jera menimpanya.
Setiap pagi setelah melakukan beberapa terapi ringan dengan Chanyeol ia akan menenangkan pikirannya di taman rumah sakit. Di temani Yunho atau Luhan yang dengan setia mendorong kursi roda Baekhyun. Ia akan dengan betah berada di taman tersebut berjam-jam untuk memperhatikan anak-anak yang tengah bermain.
Sesekali ia akan tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan anak-anak yang turut menjadi pasien di rumah sakit tersebut. Terkadang tak kuasa hati Baekhyun melihat anak-anak seusia mereka yang seharusnya menghabiskan waktu dengan melakukan hal apapun yang mereka sukai, namun dibatasi oleh penyakit yang mereka derita.
Selama menghabiskan waktunya , ia lebih banyak diam. Baekhyun yang memang asal-muasalnya adalah sosok yang ceria, tak sungkan untuk melambai atau menyapa anak-anak yang terkadang menghampirinya penasaran. Bahkan beberapa anak yang kini telah menjadi dapat Baekhyun katakana sebagai−teman bermain tak sungkan untuk mencoret-coret gips yang dipakaikan pada tangannya.
Jika sudah begitu jadinya, Baekhyun hanya akan menggeleng maklum akan tingkah anak-anak yang begitu aktif. Karena sikap Baekhyun tersebut, ia menjadi tenar dikalangan pasien maupun perawat. Mereka akan dengan senang mengunjungi ruang rawat Baekhyun sambil membawa beberapa buah tangan untuknya.
Hari itu angin berhembus dengan sangat kencang. Yunho yang hafal betul jadwal menemani Baekhyun ke taman membatalkan hal tersebut dan menyuruhnya untuk beristirahat saja di kamar, tak ingin Baekhyun terserang flu.
Baekhyun hanya bisa mengangguk pasrah. Ia cari remote televisi guna menghidupkan benda persegi itu, untuk mengusir bosan tentu saja. Dengan kondisi tangan yang tak memungkinkan sungguh sulit hanya untuk menekan satu tombol merah saja. Namun Baekhyun tak ingin menyerah, sebulir keringat turun dari pelipisnya.
Yunho yang iba akan hal itu menawarkan diri membantu Baekhyun menghidupkan televisi, namun ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Ia ingin menguji seberapa besar kemampuan tangannya saat ini.
Setelah 10 menit bergulat dengan keinginannya akhirnya televisi itu dapat menyala meski tangan Baekhyun bergetar dengan hebat.
Ia jatuhkan tubuhnya untuk kembali berbaring ke ranjang lalu menatap malas ke arah televisi yang kebetulan menampilkan konser tunggalnya yang kebetulan diputar di tv. Biasanya ia akan merasa begitu bergairah begitu mendengar alunan gesekan biola, namun semenjak malapetaka yang menimpanya ia tanpa sadar kehilangan akan gairahnya tersebut.
Suara pintu terbuka mengalihkan atensi Baekhyun. Surai merah menyumbul keluar dari celah pintu kamar rawat Baekhyun. Sebuah senyuman kecil tercetak di wajahnya. Baekhyun menghela napasnya perlahan−saatnya terapi. Gumam Baekhyun dalam hati. Ia sibakkan selimut yang menutup kedua kakinya dengan sedikit kasar.
Ia benci terapi. Ia tak suka melakukan hal-hal yang sekiranya takkan terlalu memberi efek pada tubuhnya namun tetap harus dipaksakan. Terkadang ia sempat berpikir, apakah sebaiknya ia berhenti melakukan terapi saja? Toh jika ia rutin melakukannya kemungkinan untuk sembuh hanya 5% tak ada harapan.
"Kau belum menghabiskan makanmu?" Tanya Chanyeol. Sebuah mangkok berisi bubur tergeletak begitu saja di atas nakas yang bersebelahan dengan ranjang Baekhyun.
Baekhyun menggeleng. "Aku tak nafsu makan. Sudahlah berhenti berbasa-basi, ayo kita segera terapi." Jawab Baekhyun ketus.
Chanyeol mengernyitkan dahi. Tatapan matanya ia arahnya ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya –tanggal 27 Maret. Ini hari kamis. Chanyeol terkekeh kecil, lalu ia raih mangkuk bubur yang ditelantarkan Baekhyun.
"Bersemangat sekali untuk terapi eoh? Hari ini hari kamis. Kau tidak memiliki jadwal terapi."
Baekhyun yang mengetahui hal tersebut merona hebat karena merasa malu atas sifat pelupanya yang takkan pernah hilang. Ia berdehem pelan berusaha mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.
"Ya sudahlah. Kemari, habiskan makananmu Baekhyun. Ayolah aku akan menyuapimu." Tangan besar Chanyeol terulur menyodorkan sesendok bubur yang masih hangat ke depan bibir Baekhyun.
Baekhyun menatap bubur itu kosong tak bernafsu.
"Sudah kubilang aku tidak nafsu makan."
Chanyeol menurunkan tangannya. Matanya menatap lekat Baekhyun.
"Kau ingin sembuh bukan?"
Baekhyun menatap takut-takut kea rah Chanyeol. Entah mengapa ia merasa aura Chanyeol sedikit membuatnya sesak. Ia anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu habiskan makananmu."
Entah atas otoritas siapa, sifat Baekhyun yang tak ayal kurang ajar luar biasa dapat tunduk kepada Chanyeol. Suasana ruangan itu menjadi hening hingga bunyi denting sendok yang diletakkan ke dalam mangkuk bubur Baekhyun yang telah habis tak tersisa.
.
Tanggal 5 April, Baekhyun akan menjalani operasi untuk pemasangan pen pada kedua tangannya.
Bukan main takutnya Baekhyun hari ini. Yunho beserta sahabat Baekhyun turut datang ke rumah sakit untuk mendampingi Baekhyun dalam operasinya kali ini. Operasi yang hendak Baekhyun jalani bahkan sudah beberapa kali mengalami penundaan akibat tekanan darah Baekhyun yang terlalu tinggi akibat stress yang ia alami.
"Kau akan baik-baik saja Baekhyun-ah." Dokter itu mengusap lembut kepala Baekhyun.
"Dok..ter" Jawab Baekhyun lemah, dikarenakan efek obat bius yang mulai dirasakan Baekhyun.
Kyungsoo akan menjadi dokter bedah utama dalam operasi kali ini. Ia berusaha mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyembuhkan Baekhyun. Chanyeol yang nantinya akan menjadi terapis untuk Baekhyun turut menemani operasinya untuk menyemangati Baekhyun.
"Baik. Mari kita mulai operasinya." Ucap Kyungsoo mantap.
.
"K-Katakan dokter Park." Baekhyun berusaha meregangkan tangannya yang telah dipasangi beberapa alat terapi. Bulir-bulir keringat menetes deras dari pelipis Baekhyun. Ia menggeram, rasa sakit yang tak tertahankan akibat dirinya harus memaksa fungsi tubuhnya agar dapat kembali sempurna.
"Hm?" Chanyeol mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun yang tengah berjuang keras menggerakkan telapak tangannya.
"Berapa kemungkinan tangan sialan ini kembali pulih?" Pertanyaan itu diakhiri geraman keras oleh Baekhyun. Ia letakkan kedua telapak tangannya di atas meja, nampak bergetar.
"Ada 1 orang yang mampu sembuh total karena menjalani fisioterapi. Ia pemain basket, mengalami pemutusan saraf tendon. Tak ada kemungkinan pulih, namun ia punya tekad yang kuat." Chanyeol menjelaskan sembari mempersiapkan TENS untuk fisioterapi Baekhyun selanjutnya. Baekhyun menyimak dengan takzim, tak menyangka hal yang biasanya hanya ia dapat di film benar-benar ada nyatanya.
"Dan kau pun sama. Kau harus bisa sembuh dan menghadapi kenyataan, aku tahu kau bisa menghadapi ini." Ucap Chanyeol mantap.
TBC!
Yeayyyy! Chapter 2! Btw aku ini aku updatenya barengin sama pas publish chapter 1 soalnya di wattpad jg udah sampe chapter 2 heuheu. Semoga kalian suka sama ceritanya yaa. Bagi kalian yang udah baca ff ini makasih banget karena kalian bener-bener yang bikin aku semangat buat nulis! Jangan lupa review yapss makasih semuanya I love you!
