Author:

Lee Hyunmin

Disclaimer:

All of the characters in this FF are belong to the GOD, THEIR PARENTS, SMENT, AND THEMSELF

Pair:

KyuMin

Other supporting couple

Genre:

Romance, BoyXBoy— If you don't like, so don't read. If you like, ofcourse you must read! :D

Rate:

T+

Warning:

Yaoi, BoyXBoy, EYD tidak baku, dan masih banyak kesalahan lain! NO BASHING HERE! You can give me some criticism, but please do not bash, ok?

Annyeong! Udah sampe Chapter 2 nih! Banyak yang komen, katanya chapter 1-nya kependekan. Sekarang chapter 2-nya udah lumayan panjang loh! :D Jangan lupa review-nya ya, readers yang baik hati.

PS: Kita anggap saja bahwa muka Donghae dan Kyuhyun itu mirip, oke?

Oke, tanpa membuang waktu lagi, silahkan baca fic karya saya ini! Happy Reading and Gamsahamnida! *bow*


Previous Chapter

Aku menengadahkan kepalaku, menatap namja yang dimaksud Siwon. "Annyeong haseyo Joneun—" kata-kataku terputus.

Kok sepertinya, wajah namja itu, mirip dengan wajah seseorang...


Chapter 2

-Sungmin POV-

"Donghae-ya?" aku menghampiri namja sinis disebelah Siwon lalu memeluknya erat.

"Bogoshipo... Kau sudah putus, ya dengan Eunhyuk? Kalau sudah, kembalilah padaku!" aku memeluknya makin erat. Namun sepertinya, si namja sinis meresponnya dengan respon negatif.

Si namja sinis tampak risih dengan perlakuanku yang mengira bahwa dia adalah Donghae. "YA! APA-APAAN INI? MAIN ASAL PELUK!" dia mendorong tubuhku.

Jduakk! Aku terjatuh, kepalaku membentur tembok, lumayan keras.

"Donghae-ya! Kok kasar gitu, sih?" aku mengusap-usap kepalaku yang membentur tembok.

"YA! AKU BUKAN DONGHAE! AKU KYUHYUN, CHO KYUHYUN!" dia mentapku aneh sambil membersihkan bajunya, seakan jijk aku peluk.

Aku memperhatikan wajahnya.. selama beberapa detik. Aigoo.. Ternyata dia memang bukan Donghae! Malunya aku!

"J...jeosong hamnida. Saya telah lancang. Hajiman, wajah anda memang mirip dengan mantan pacar saya... sangat mirip!" aku membungkukkan badanku hingga 90o, berkali-kali.

"Ne, ne. Kyuhyun pasti memaafkanmu. Walaupun wajahnya sinis begini, tapi hatinya baik, loh," sambar Siwon sambil menepuk-nepuk pundak Kyuhyun.

"Hyung, kata-katamu menjijikkan!" Kyuhyun menepis tangan Siwon dengan tangan kanannya.

Lalu tangannya bergerak menuju saku celanya, mengambil sesuatu. Omona, sebuah PSP! Aku menginginkan benda itu sejak kecil, tapi eomma tak pernah mau membelikannya.

Dalam sekejap, perhatian Kyuhyun sudah tertuju pada benda itu.

Siwon kembali melanjutkan perbincangannya denganku. Menanyakan berbagai hal. Lama sekali, hingga aku pegal berdiri terus.

"Ng... mianhamnida, tapi saya harus pergi," potongku ketika Siwon hendak bertanya lagi.

"Ah, ne. Hajiman, mau pergi kemana? Biar kuantar saja," dengan baiknya, Siwon menawarkan.

"Tidak usah. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini, kok," jawabku.

Yah... sebenarnya sih, mau aja diantar. Hitung-hitung, pengiritan ongkos taksi. Tapi kalau aku jawab 'ya' sekarang, alangkah lancangnya aku. Akan kutunggu sampai dia memaksa, baru aku jawab 'ya'. Hehe...

"Ah, gwaenchana. Ayolah, aku juga ingin melihat rumahmu," Siwon mulai sedikit memaksa. Dia memegang tanganku erat, matanya yang cerah memancarkan isyarat penuh harap.

"Umm... baiklah," jawabku akhirnya, dengan SOK malu-malu.

Yes! Ongkos taksi yang diberikan Eomma bisa buat beli t-shirt pink yang sudah kuincar sejak lama! Thanks God !

"Kyu! Kau ikut?" Siwon berpaling ke arah Kyuhyun yang masih sibuk dengan PSP-nya.

Ctak, ctak, ctak!

Yang terdengan hanya suara jari Kyuhyun yang beradu dengan tombol PSP.

.

.

.

.

.

.

.

Krik... krik...

Entah budek atau apa, Kyuhyun sama sekali tidak menjawab. Wajah tampan Siwon terlihat kesal, namun hanya sesaat. Sepertinya Siwon sudah biasa dengan tingkah temannya yang satu ini.

"YA! CHO KYUHYUN!" teriak Siwon setelah sekian lama menahan amarah.

Kyuhyun terkejut. Setelah pulih dari keterkejutan, ibu jari tangan kanannya tampak menekan tombol pause.

"Ah, ne," dia menjawab tanpa menatap Siwon sedikit pun.

-End of Sungmin POV-


*Di perjalanan menuju rumah Sungmin*

-Siwon POV-

Entah mengapa, dari tadi aku tak bisa konsentrasi menyetir. Namja yang duduk disebelahku ini penyebabnya. Aigoo.. kenapa dia imut sekali!

"Sungmin-ah," aku mulai berbicara.

"Ne," Sungmin menoleh ke arahku. Wajah aegyo-nya langsung terlihat. Matanya yang bulat dan besar, bibirnya yang seksi itu, membuatku sangat ingin meng-kissu-nya. Aigoo...

"Apakah... sekarang ini... kau punya pacar?" tanyaku sedikit ragu. Ya Tuhan, semoga dia menjawab 'tidak'...

"Jigeum? Ani," dia menggeleng pelan, rambut hitamnya terkibas-kibas. Namun, beberapa saat kemudian dia terdiam.

Apakah pertanyaanku hadir di saat yang tidak tepat? Wajahnya yang aegyo itu langsung terlihat murung.

"Pacar terakhirku, Donghae, selingkuh dengan sahabat kami sendiri, Eunhyuk," dia menunduk sambil menutupi wajahnya. Sungmin-ah, jangan tutupi wajahmu yang imut itu.

"Ngg... mianhamnida jika pertanyaanku mengusikmu," aku jadi merasa tidak enak. Baru kenal sudah menanyakan hal seperti itu.

"Anio... lagipula, aku juga sudah tidak mencintainya lagi kok! Hehe..." dia tertawa lebar, menampakkan gigi kelincinya yang imut itu.

"Ah, jeongmal?" tanyaku untuk memastikan. Tuhan, semoga dia menjawab 'ne'...

"Hmmm... ne!" dia tertawa lagi. Omona, manisnya! Tuhan bagaimana bisa kau menciptakan makhluk seimut ini?

Hoho... ternyata dia sedang tidak punya pacar. Kenapa aku senang sekali ya? Aku mulai tertawa-tawa sendiri.

"Siwon hyung, kau seperti orang gila," kata Kyuhyun dari jok belakang. Matanya masih tertuju pada benda hitam yang ada di tangannya; PSP-nya.

"Ssshh! Diam kau Kyu!" aku menoleh sebentar ke jok belakang.

"Hajiman, kau benar juga, aku memang sedang sedikit gila," aku mulai tertawa-tawa lagi.

Kulihat Sungmin hanya menggelengkan kepala. Omona, jangan sampai aku dikira orang gila! Aku ingin sekali menghentikan tawaku, tapi SANGAT tidak bisa.

"Sebentar lagi belok kiri, ya. Rumahku ada di gang itu," kata Sungmin sambil menunjuk sebuah belokan yang ada di depan.

"Ah, ne," aku mulai menghentikan tawaku. Perlahan-lahan, tawaku mulai reda.

*Di Rumah Sungmin*

Ring Ding Dong ! Sungmin menekan bel rumahya. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita paruh baya, yang sepertinya adalah eomma-nya Sungmin. Wah, aku harus bersikap manis!

"Sungmin-ah, nuguyo?" tanya eomma Sungmin sambil memperhatikanku dan Kyuhyun.

"Chingu, eomma. Siwon dan Kyuhyun. Aku baru saja mengenal mereka, dan Siwon sudah berbaik hati mengantarku," Sungmin senyum-senyum tidak jelas. Tangannya seperti menyembunyikan sesuatu dibelakang punggungnya.

"Jeongmalyo? Kalau begitu, kembalikan ongkos taksi yang eomma berikan tadi pagi!" eomma Sungmin menadahkan tangannya didepan Sungmin.

"Andwae! Itu keuntunganku!" Sungmin langsung berlari masuk ke dalam rumah. Sepatu kets-nya ditinggalkan begitu saja didepan pintu.

"Aigoo... dasar anak itu!" eomma Sungmin menggelengkan kepalanya. Beliau lalu membalikkan badannya, menyaksikan anaknya berlari ke dalam rumah dengan imutnya.

"Oiya, Siwon-ssi ? Yang mana orangnya?" eomma Sungmin menaikkan salah satu alisnya.

"Naneun, ahjumma," jawabku pelan sambil mengangkat tangan kananku.

"Omona... Neomu haenseom! Gomapseumnida sudah mengantar anak saya. Hajiman, dia yang minta diantar atau kau yang menawarkan?" tanya eomma Sungmin.

"Ah, tentu saja saya yang menawarkan, ahjumma," aku tersenyum tipis.

Jamkkanman, tadi eomma-nya Sungmin bilang apa? Neomu haenseom? Aku? Sepertinya dia merestui jika aku menjadi namja chingu anaknya! Hehe...

"Jeongmalyo? Biasanya anak itu agak lancang dengan orang lain," eomma Sungmin membungkuk untuk mengambil sepatu kets Sungmin, yang Sungmin tinggalkan begitu saja di depan pintu rumah.

"Kalian mau masuk dulu?" tawarnya sambil menaruh sepatu Sungmin ke rak sepatu didekatnya.

"Tidak usah, ahjumma. Kami harus kembali ke kampus," tolakku dengan halus. Aku dan Kyuhyun memang harus kembali ke kampus, karena masih ada jadwal kuliah.

"Ah, ne. Sekali lagi, gomapseumnida sudah mengantar Sungmin," eomma Sungmin kembali berterima kasih. Dia sedikit membungkukkan badannya.

"Ne, ahjumma. Kalau begitu saya dan teman saya pamit pulang," aku membungkukkan badanku 90o. Lalu berjalan menuju mobil.

Kyuhyun yang masih sibuk dengan PSP-nya, juga ikut membungkuk, lalu dia mengikutiku menuju mobil.

Tak lama kemudian, mobilku bergerak perlahan meninggalkan rumah Sungmin. Kulihat eomma Sungmin melambai ke arahku. Aku balas melambai sambil tersenyum.

Hari ini aku bertemu dengan seseorang yang bernama Lee Sungmin, namja super aegyo yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku rasa, dia cocok menjadi pengganti Kibum, yang memutuskanku hanya karena dia tak sanggup dengan cinta jarak jauh. *Kibum sedang ada di Amerika, untuk menyelesaikan kuliahnya.*

-End of Siwon POV-


*Di kamar Sungmin*

-Sungmin POV-

"Aigoo... apa yang terjadi padaku? Kenapa wajah Kyuhyun terus terbayang-bayang?" kataku sambil memandangi ongkos taksi yang gagal eomma rampas.

Entah apa yang mendorongku, aku berjalan ke arah laci penyimpanan barang-barang berhargaku. Terdengar suara laci yang berderit agak keras—ani, sangat keras—ketika aku membukanya. Ketika laci sudah terbuka, terlihatlah sebuah album foto mini berwarna pink. Aku mengambilnya, lalu membukanya. Di halaman paling depan, terpampang fotoku bersama dengan Donghae dan Eunhyuk, saat itu kami masih SD. Donghae merangkulku dengan mesra, sementara Eunhyuk memasang ekspresi tidak suka.

Aku terus membolak-balik halaman album itu, sampai aku berhenti pada salah satu halaman. Di halaman itu, ada foto Donghae yang sedang memajukan mulutnya, seperti hendak meng-kissu.

Aigoo.. mengapa aku berpikir seperti ini? Lee Sungmin, mana mungkin Donghae akan menciummu! Aku lalu melempar album itu ke atas kasur dengan kesal. Lalu, aku membenamkan kepalaku ke bantal pink kesayanganku—yang baunya sudah tidak enak.

Wajah sinis Kyuhyun terbayang lagi. Namun kali ini, seperti ada suatu keinginan kuat, keinginan yang sangat kuat untuk bertemu dengan Kyuhyun. Apa-apaan kau ini Lee Sungmin?

"Aku harus bertemu dengannya!" aku bangkit dari kasur, lalu berjalan keluar kamar.

Diluar, aku bertemu eomma yang sedang makan bersama appa.

"Mau kemana kau?" tanya appa setelah menelan nasi.

"Ke kampus, appa," jawabku sekenanya.

Appa terdiam, itu tandanya aku boleh pergi. Tanpa menuggu lama, aku segera berlari menuju teras, memakai sepatu, lalu berjalan menuju jalan raya. Aku menyetop taksi berwarna kuning norak yang lewat.

Aku dan supir taksi pun melaju menuju kampus.

*20 menit kemudian*

Taksi itu berhenti di tempat parkir kampus SNUA. Aku lalu merogoh saku celanaku, mengambil uang untuk membayar taksi.

Astaga! Kenapa dompetku tidak ada? Aku lalu merogoh saku sebelahnya, dan.. TIDAK ADA JUGA! Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak membawa dompet? Keringat dingin mulai bercucuran.

"Mau turun tidak?" tanya si supir taksi judes, dia menoleh ke jok belakang tempat aku duduk.

"Ngg... mianhamnida ahjussi, bisakah ahjussi menunggu disini sebentar? Saya hendak mencari teman saya dulu..." kataku sedikit takut—ani, sangat takut. Wajah si supir taksi yang penuh brewok dan suaranya yang seram itulah penyebabnya.

"Bayar saja dulu, setelah itu baru turun dan mencari temanmu!" jawabnya makin ketus.

"Ngg... ha... hajiman ahjussi, saya tidak bisa membayar jika tidak bertemu teman saya..." kataku makin ciut.

"Hhh... kau tidak punya uang, maksudmu? Yasudah, cepat temui temanmu, awas kalau kau kabur!" ancamnya dengan death glare.

"Gamsahamnida ahjussi, saya berjanji tidak akan kabur!" aku langsung turun dari taksi itu.

Aku segera meninggalkan area parkir kampus, ke kelas Siwon tepatnya. Habis, hanya dia yang bisa dimintai bantuan. Selain kaya raya, dia juga baik hati. Hehe...

Namun, di tengah jalan menuju kelas Siwon, aku LAGI-LAGI MENABRAK orang. Aduh, sepertinya mataku sudah tidak beres!

"YA! BABO! TAK PUNYA MATA, YA? BAGAIMANA BISA KAU MENABRAKKU!" orang yang kutabrak mengomel tidak jelas. Aku seperti kenal suaranya, tapi siapa, ya?

Aku segera bangkit.

"Jeosong hamnida, jeosong hamnida. Saya sedang terburu-buru. Jeosong hamnida," aku membungkukkan badanku berkali-kali.

"YA! KENAPA CUMA MINTA MAAF? CEPAT BERESKAN BUKUKU YANG JATUH BERTEBARAN! PPALI !" bentaknya makin kencang, membuatku semakin malu. Siapa sih, orang ini? Kenapa galak sekali?

Aku lalu mendongakkan kepala, untuk melihat orang yang baru saja memarahiku. Astaga Tuhan! Itu... Cho Kyuhyun?

"K... Kyuhyun-ah?" tanyaku ragu-ragu. Kenapa aku bertemu dengannya secara tidak bagus?

"Cih! Ternyata kau lagi. Kenapa kau terus menabrak orang? Apa orang tuamu terlalu miskin untuk membelikanmu kacamata?" tanyanya sinis, seperti biasa.

"Kyuhyun-ah, bisakah aku minta tolong? Ini sangat darurat!" ucapku tanpa menghiraukan perkataannya barusan. Aku merapat ke sisi Kyuhyun, lalu memegang tangannya penuh harap.

"YA! Cepat bereskan bukuku dulu!" jawabnya tak peduli sambil menyingkirkan tanganku.

"Kyuhyun-ah, butakhaeyo..." aku makin memohon. Kuguncang-guncangkan tubuhnya sambil memasang wajah memelas dan puppy eyes—yang sangat ampuh untuk Donghae.

"Wae? Kau butuh apa?" katanya akhirnya. Matanya yang sipit menatapku suram.

Hihihi... ternyata dia luluh dengan puppy eyes-ku!

"Ngg... uang... untuk bayar ongkos taksi..." jawabku pelan.

"Dompetku ketinggalan di rumah..." tambahku. Sekarang, aku tak berani lagi menatapnya.

Kyuhyun terdiam, cukup lama. Dia memperhatikanku dari rambut hingga kaki.

"Ayolah... kasihan supir taksi itu menungguku..." aku memasang puppy eyes lagi, yang semoga dapat meluluhkan Kyuhyun lagi.

Dan... berhasil! Dia merogoh saku celana belakangya untuk mengambil dompet.

"Segini cukup?" katanya sambil menyodorkan sejumlah uang.

"Ah, gamsahamnida Kyuhyun-ah !" aku menerima uang itu. Tak lupa aku membungkukkan badan tanda berterima kasih.

Saat hendak berlari menuju tempat supir taksi tadi menungguku, entah mengapa, aku ingin sekali meng-kissu pipi Kyuhyun. Terlalu nekat, eh?

"Gomawo, Kyuhyun-ah..." aku meng-kissu kilat pipi Kyuhyun. Setelah itu, aku segera berlari secepat mungkin.

Aku tidak mendengar Kyuhyun berteriak protes. Hihihi... berarti dia menyukainya!

Hajiman, sejak kapan aku jadi orang nekat begini, ya? Apakah karena aku terlalu mencintai Kyuhyun?

-End of Sungmin POV-


-Kyuhyun POV-

"Apa-apan namja itu, main asal cium?" kataku sambil memegangi pipiku yang baru saja dia cium tanpa izin.

"Apakah dia tidak tahu kalau orang-orang sekitar melihatnya?" gerutuku.

"Dia tidak tahu predikatku sebagai murid teladan di kampus ini?"

Aku berjalan menuju kelasku. Perlukah kuceritakan ini pada Siwon?

-End of Kyuhyun POV-


-Sungmin POV-

"Ahjussi, ini uangnya," kataku sambil memberikan uang pemberian Kyuhyun kepada si supir taksi.

"Hhh... lama sekali kau mengambilnya, aku kira kau sudah kabur!" si supir taksi menyambar uang itu dari tanganku.

"Sudah sana, cepat turun! Lain kali jangan lupa bawa dompet lagi!" perintah si supir taksi. Dia lalu memasukkan uang itu kedalam saku kemejanya.

"Gamsahamnida ahjussi !" kataku sembari turun dari taksi. Lalu kututup pintu taksi itu, dan taksi itu segera meninggalkan tempat parkir SNUA.

"Aigoo... sekarang aku bingung. Mau apa aku disini? Aku sudah bertemu Kyuhyun, bahkan sudah kucium pipinya," aku berjalan menuju taman kampus, lalu duduk disalah satu kursi yang ada disana.

"Sungmin-ah!" sebuah suara memanggilku dari kejauhan.

Aku menoleh. Ternyata itu Siwon.

"Sedang apa kau disini?" tanya Siwon ramah.

"Sudah hampir malam, loh..." dia duduk di sebelahku.

"Ngg... hanya..." aku terdiam sejenak mencari alasan yang cocok mengapa aku disini, kan mana mungkin kalau aku bilang: 'Aku ingin mencium Kyuhyun'.

"Ah, sudahlah, tidak terlalu penting," kata Siwon, setelah cukup lama menunggu jawabanku.

"Mau jalan-jalan?" tawarnya. Terlihat dari tatapan matanya kalau dia sedang merasa bosan.

Mwo? Jalan-jalan? Boleh juga, daripada aku pulang ke rumah, eomma pasti akan seenaknya menyuruhku membantunya memasak makan malam.

"Jigeum?" tanyaku memastikan.

"Ne, setelah itu kita makan malam di restoran faforitku, Babtol's. Biar aku yang traktir," jawabnya penuh semangat.

"Ngg... boleh juga," jawabku SOK malu-malu. Ekspresi muka Siwon langsung berubah, matanya langsung tampak cerah.

"Kalau begitu, kaja!" kata Siwon sambil bangkit dari kursi. Dia menarik tanganku dan kami berjalan bersama menuju mobil Siwon.

*Di mall*

"Omo! Ini dia! Untung masih ada satu," kataku sambil menyambar sebuah t-shirt pink dari pajangan. Aku memang sudah lama mengincar t-shirt ini, namun aku baru punya uang sekarang untuk membelinya.

Siwon menatapku aneh. Alis sebelah kanannya naik. "Ngg... kamu, suka warna pink?"

"NE! Sangat suka!" aku memeluk t-shirt itu erat. Aku memang sangat suka dengan warna pink, tapi jangan anggap aku namja yang tidak normal. Menurutku, semua orang boleh suka warna pink, baik yeoja maupun namja.

"Kau mau t-shirt itu? Sini, biar aku yang bayar!" kata Siwon sambil mengambil t-shirt itu dari pelukanku.

"Anio.. aku ada uang kok," aku mencoba mengambil lagi t-shirt yang sudah ada ditangan kekar Siwon.

"Ah.. gwaenchana. Anggap sebagai hadiah karena kau sudah mau menemaniku jalan-jalan," Siwon sedikit memaksa. Dia mengangkat t-shirt itu lebih tinggi, sehingga aku yang lebih pendek darinya tak mampu menjangkaunya.

.

.

.

.

.

.

.

"Ah, sudahlah. Kaja, kita ke kasir!" Siwon menarik tanganku dengan tidak sabar, karena dari tadi aku hanya diam SOK malu.

"Semuanya 23000 won," kata penjaga kasir sambil memberikan plastik berisi t-shirt pink itu padaku. Aku langsung memeluknya erat, sangat senang.

"Ini," Siwon menyerahkan sejumlah uang pada si penjaga kasir.

"Siwon-ssi, gamsahamnida," ucapku saat kami sudah di dalam mobil.

"Ah... gwaenchana Sungmin-ah, tak perlu merasa tidak enak, kan sudah kubilang anggap saja hadiah karena kau sudah menemaniku jalan-jalan..." kata Siwon sambil menyetir.

"Ngg... hajiman, kau tidak membeli apa-apa, kan?" tanyaku. Siwon memang tidak membeli apa-apa, selama di mall tadi, dia hanya menemaniku berkeliling berburu barang-barang pink, mulai dari t-shirt, alroji, dan topi. Dan semuanya itu DIA YANG BAYAR!

"Ah... jeongmalyo? Tidak juga, kok. Aku tadi membeli hamburger," elak Siwon. Dia menatapku sesaat.

"Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja hadiah dariku," Siwon menatapku lagi. Tatapan matanya yang teduh membuatku merasa nyaman.

"Kalau kau ingin sesuatu dan tidak punya uang, kau boleh, kok, minta padaku. Kita, kan teman..." lanjutnya. Kata-katanya sangat manis, Donghae saja tidak pernah berkata semanis ini padaku.

Aduh, aku jadi mengantuk. Perlahan-lahan, mataku mulai terpejam. Aku pun tertidur...

-End of Sungmin POV-


-Siwon POV-

"Omona, dia tertidur!" kataku sambil membetulkan kepala Sungmin yang miring kesebelah kanan.

Ckiiit...! Aku menghentikan mobilku, didekat lampu jalanan.

Aku melepaskan seat belt yang kukenakan. Kutatap seluruh wajah aegyo Sungmin lekat-lekat—ani, lebih tepatnya, kutatap bibir seksi Sungmin lekat-lekat. Sudah lama aku ingin meng-kissu bibir seksi itu.

Perlahan, kudekatkan wajahku ke wajah Sungmin. Makin dekat... makin dekat... makin dekat... hingga akhirnya...

CUP !

Bibirku dan bibir Sungmin bersentuhan. Yap, akhirnya aku bisa meng-kissu bibir seksi milik namja berwajah aegyo satu ini. Rasanya lebih nikmat daripada mencium bibir Kibum. Hoho...

"Egghh..." Sungmin menggeliat.

Aku segera menghentikan ciumanku dengan Sungmin. Kukenakan kembali seat belt yang tadi kulepas, lalu kembali fokus pada setir mobil.

Semoga, Sungmin tidak akan sadar jika aku telah meng-kissu bibir seksinya tanpa izin.

-End of Siwon POV-


-Sungmin POV-

Byurrr! Sejumlah besar air membasahi wajahku—ani, tubuhku.

"YA! LEE SUNGMIN! SUDAH JAM BERAPA INI? CEPAT BANGUN DAN BANTU EOMMA MEMBERESKAN RUMAH!" bentak eomma sambil membanting ember kosong. Rambut beliau penuh dengan rol rambut.

Aku terlonjak. Bagaimana tidak, eomma berteriak tepat di telingaku.

"Ne, eomma, arasseo!" aku segera bangkit dari tempat tidur. Lalu berjalan menuju kamar mandi.

*15 menit kemudian, di ruang makan*

"Bagus, sudah mandi rupanya. Cepat sarapan, lalu bantu eomma!" perintah eomma yang sedang duduk di meja makan bersama appa.

"Andwae! Aku harus ke kampus untuk melihat pengumuman!" kataku sambil meminum susu yang sudah disediakan eomma di meja makan.

"Aku pergi dulu ya, eomma, appa!" aku langsung kabur tanpa menunggu persetujuan eomma dan appa.

*20 menit kemudian di kampus SNUA*

"Hore! Aku diterima!"

"Benarkah? Aku juga! Hore!"

"Aku tidak diterima! Eommaaa! Hueee..."

Banyak sekali calon murid baru yang mengerubungi papan pengumuman. Ada yang bahagia karena sukses diterima, ada juga yang kecewa karena tidak diterima. Aku diterima kah?

"Aduh, kalau penuh begini, bagaimana aku bisa melihat?" aku berjalan mundur menjauhi kerumunan. Sebaiknya tunggu sepi dulu, deh.

"Lee... Sungmin?" tanya seseorang sambil menepuk pundakku.

Aku menoleh. Rasanya aku kenal dengan wajah ini...

"Kamu... yang di wawancara itu?" tanyaku pada pemilik suara yang memanggilku barusan. Wajahnya bisa dibilang cantik untuk seorang namja, bibirnya tipis dan tubuhnya mungil, sangat imut!

"Ne, ini aku, Kim Ryeowook!" katanya ceria. Tangan sebelah kanannya digandeng oleh seorang namja.

"Oh... Ryeowook! Bangapseumnida!" aku membungkukkan badanku.

"Nuguyo?" tanyaku sambil memperhatikan namja yang menggandeng tangan Ryeowook. Matanya sangaaatt sipit! Tapi wajahnya tampan.

"Ngg... chingu! Ne, dia chingu-ku. Namanya Yesung," jawab Ryeowook sambil mengangkat tangan Yesung tinggi-tinggi.

"Annyeong haseyo, joneun Lee Sungmin imnida. Bangapseumnida!" aku membungkukkan badan ke arah Yesung.

"Ne, Kim Jongwoon imnida. Panggil saja Yesung!" dia balas membungkuk.

"Oiya Sungmin-ah, sudah lihat pengumuman belum? Kamu diterima, loh. Peringkat ke dua! Selamat, ya!" Ryeowook mengguncangkan-guncangkan tubuhku, terlihat dari tingkahnya kalau dia sedang merasa bahagia.

"Ah, jeongmalyo? Neomu haengbok handa! Gamsahamnida sudah memberitahu Ryeowook-ah!" aku memeluknya. Ya ampun, mungil sekali tubuhnya ini!

"Oke, untuk merayakannya, bagaimana kalau kita makan-makan? Aku yang traktir!" tawar Yesung sambil menarik Ryeowook dari pelukanku. Waeyo? Salahkah jika aku memeluknya?

"Ne, setuju!" jawabku dan Ryeowook bersamaan. Yesung hanya tersenyum.

*Di restoran*

"Bagaimana menunya Sungmin-ah?" tanya Yesung ramah. Yesung adalah pemilik restoran ini—ani, orang tua Yesung adalah pemilik restoran ini. Babtol's namanya. Kemarin Siwon tidak jadi mengajakku makan disini karena aku sudah keburu ketiduran di mobilnya.

"Hmm.. enak, Yesung-ssi! Sangat enak!" aku mengacungkan jempolku.

"Bagus kalau kau suka. Promosikan restoran orang tuaku ke teman-temanmu, ya! Hahaha..." candanya. Matanya yang sudah sipit menjadi tambah sipit ketika dia tertawa.

"Yesung-ssi, aaa..." tiba-tiba Ryeowook menyodorkan sendok berisi makanan kepada Yesung.

"Gomawo, Wookie-ya," Yesung mencubit pipi tirus Ryeowook dengan gemas.

"Sekarang gantian. Wookie-ya, aaa..." Yesung balik menyuapi Ryeowook.

Mereka berdua terus suap-suapan. Cukup , wah, pasti ada hubungan rahasia di antara mereka berdua.

Sudah 10 menit mereka suap-suapan. Huft... aku jadi seperti kambing congek disini! Mereka berdua suap-suapan dengan mesranya, sementara aku? Cho Kyuhyun, seandainya kamu ada disini... Hajiman, biarpun Kyuhyun disini, mana mungkin dia mau kusuapi, huuh...

"Sungmin-ah, kok cemberut? Ada masalah kah?" tanya Ryeowook setelah dia selesai suap-suapan dengan Yesung.

"Ngg... gwaenchana Ryeowook-ah. Hajiman, aku sepertinya harus pulang duluan, eomma sudah meng-sms-ku. Jeosong hamnida," aku berbohong. Daripada disini mengganggu kemesraan mereka berdua.

Aku membungkukkan badanku kepada mereka berdua, lalu meninggalkan restoran itu. Yah... pulang sendiri, pakai ongkos sendiri pula! Iiissh!


Aku berjalan menuju kampus. Hari ini adalah hari pertama aku masuk. Agak deg-degan, sih. Tapi aku selalu senang jika pergi ke kampus. You know why? Karena aku bisa bertemu Cho Kyuhyun! Hehe...

Oiya, aku heran, bagaimana bisa aku diterima di kampus ini ya, urutan kedua pula. Yang aku tahu, aku tidak seberapa pintar. Aku juga termasuk orang yang susah berkonsentrasi, kata eomma, ini karena aku punya penyakit anemia.

"Sekian penjelasan dari saya. Semuanya paham?" dosen kelasku berteriak. Aku lupa memberitahu, dosenku ini namanya Jung Yunho, orangnya, errr... agak galak.

"Ne, sonsaengnim," seisi kelas menjawab, kecuali aku. Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi. Aigoo... kenapa ya? BABO! Tidak usah ditanya juga kau sudah tau jawabannya, Lee Sungmin! Semua ini gara-gara Cho Kyuhyun!

"Yang tidak paham, harap menuju kelas sebelah. Disana ada seseorang yang akan menjelaskan ulang. SAYA BENCI MURID YANG LAMBAT DALAM MEMAHAMI PENJELASAN! PPALI!" perintahnya sambil menggebrak meja. Spidol yang ada di mejanya menggelinding hingga jatuh ke lantai.

Ternyata tidak ada yang keluar selain aku. Aigoo... sebegitu parahnya kah? Lee Sungmin, mengapa kau bertindak tidak wajar? Tapi yasudahlah...

Aku melangkah menuju kelas yang dimaksud Yunho sonsaengnim. Kuketuk pintunya perlahan.

Tok tok tok!

Pintu terbuka. Aku melangkah masuk. Ya Tuhan, semoga dosen yang ini lebih ramah daripada Yunho sonsaengnim...

"Kau lagi, cih! Mau apa kau disini?" kata seseorang di dalam kelas itu. Nada suaranya yang datar membuatku berpikiran tidak-tidak.

Astaga, itu... bukan dosen! Itu Kyuhyun! Tuhan memang adil, kalau sudah jodoh memang tidak akan kemana-mana. Tuhan akan mempertemukan kami bagaimana pun caranya.

"Kyuhyun-ah, mianhae. Tapi Yunho sonsaengnim yang menyuruhku menghadapmu," aku duduk di kursi yang ada di depan meja Kyuhyun.

"Oh, Yunho sonsaengnim. Biasanya murid yang dikirim beliau kesini adalah murid BABO," katanya, masih dengan nada datar. Dia menepak kepalaku pelan.

"Issh, Kyuhyun-ah ! Kau mau mengajariku tidak?" aku melipat tanganku di depan dada dengan kesal.

Kyuhyun tertawa geli sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. "Ajari apa Sungmin-ah?"

"Kau mau kuajari 'Cara Mencium Orang dengan Baik?' Habis ciumanmu waktu itu sungguh payah," kata Kyuhyun sembari bangkit dari kursinya. Dia berjalan mendekat ke arahku.

Jantungku berdegup kencang, karena Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya memejamkan mataku. Berharap dia akan benar-benar menciumku.

"Hahahaha HAHAHAHAHAHA!" tawa Kyuhyun mengisi seluruh ruangan kelas itu.

Aku membuka sebelah mataku.

"Ya, Lee Sungmin! Kau pikir aku akan benar-benar menciummu? BABOYA! Hahahaha!" dia mulai berjalan menjauh, menuju kursinya, lalu dia duduk kembali.

Iiissh! Apa maksud namja satu ini, sih? Kalau begini, kan aku jadi malu!

"Sudah cepat, mana pelajaran yang tidak kau pahami?" tanyanya sambil berusaha menahan tawa.

Cih, lebih baik aku pergi saja. Dia ini malah mempermainkanku! Aku bangkit dari kursi, berjalan menuju pintu. Ketika hendak membuka pintu, Kyuhyun malah memegang tangan kiriku.

"Mau kemana kau? Aku belum menjelaskan sama sekali! Yunho sonsaengnim bisa marah padaku!" katanya sambil terus mencengkram tanganku.

"Mau pergi dari kelas ini!" aku berusaha melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun. Namun saking kuatnya dia mencengkram, aku jadi tak mampu melepaskannya.

Jduakk! Dia menyudutkan tubuhku ke tembok. Dia hadapkan wajahnya ke arah wajahku. Aku memberontak, namun dia menahannya.

"Berhenti bertingkah menyebalkan, Kyuhyun-ah."

Aku berusaha mendorong tubuhnya. Namun tenagaku yang lemah membuatnya tetap pada posisi semula.

Kyuhyun mulai bernyanyi:

Dasi ireona...

Nal gidaryeojun geudael bogo shipeo...
Dasi doraga...

Hago sipeun mal, 'saranghamnida'...

Get up again
I want to see you who has waited for me
Go back again

I want to say 'I love you'

(Song: Love Again-Kyuhyun SM The Ballad's Solo—Chorus)

Perlahan-lahan, wajah Kyuhyun semakin dekat dengan wajahku.

CUP !

Aku dan Kyuhyun mulai terbawa suasana. Aku memejamkan mataku. Sepertinya, Kyuhyun juga memejamkan matanya.

Beberapa detik kemudian, Kyuhyun menghentikan ciuman itu.

"Ingatlah selalu kata-kata yang kukatakan barusan, Sungmin-ah," katanya dengan intonasi datar. Perlahan, dia berjalan menjauh, keluar dari kelas itu.

"Ne, Kyuhyun-ah. Aku akan selalu ingat perkataanmu, dan juga ciumanmu hari ini..." aku terduduk di sudut kelas.

TBC...

Jiah~ itu dia readers, Chapter 2-nya! Review-nya dong...

PS:

Big Thanks to A7X oppa/eonni yang sudah membuka mata saya yang tadinya buta akan cara menulis FF yang baik. Kritik anda sungguh membangun. Meskipun FF saya yang sekarang juga masih belum memuaskan. Sekali lagi, gamsahamnida. *bow*

Juga untuk eonni-ku tersayang; Hoshi no Akira, yang juga sudah mengajarkan saya cara menulis FF. Eonni baik, deh! *bow again*

And, jeongmal gamsahamnida untuk semua orang yang telah membaca dan me-review fic saya yang masih jauh dari kata memuaskan ini. *bow again and again*

-) YuyaLoveSungmin

-) I'am

-) kyuminnie

-) A7X

-) Chikyumin

-) Omona

-) kyuminkyumin

-) mechakucha no aoi neko

-) Ostreichweiz

-) Kang Min Hyun

-) Kazama Yume

-) Hoshi no Akira

-) dll.

Kalo fic nya masih kurang panjang, bilang, ya!

Saranghaeyo, All!~ 3