LIFE OF SAKURA
Chapter 2
Author : Sakura
Main Cast : Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
Cast : Sasori Haruno, Itachi Uciha,Yamanaka Ino, silakan cari sendiri...
OC's :
Genre : Romance, friendship, AT (Alternate Timeline), AU, OOC
Type : Chapter
Rating : PG-13, T
Disclamer : Naruto adalah milik Masashi Kishimoto. Sedangkan cerita, setting, alur adalah milik author. Ini merupakan cerita berdasarkan khayalan author yang nggak akan terwujud di dunia nyata. Jangan anggap terlalu serius cerita ini. Nikmati saja ceritanya, jika tak suka dengan cerita yang author buat sebaiknya tidak usah dibaca. Kalau ada kesamaan ide sama author lain itu benar-benar tak disengaja...
Raut wajah Sakura berubah terkejut, bagaimana tidak? Kakaknya seorang Sasori Haruno tiba-tiba memberi perintah tentang sebuah pernikahan. Baginya ini seperti terkena bom nuklir dari Korea Selatan. Ok Sakura mulai berlebihan. Tetap saja hal ini tak bisa diterima. Sejak kapan Onii-chan nya mengurusi atau bisa dibilang ikut campur dengan urusan asrama yang termasuk dalam masalah pribadinya.
" Onii-chan bercanda kan? Menikah? Itu tak mungkin," ucapnya masih dengan tatapan tak percaya ke arah kakaknya.
" Maaf Imouto, Onii-chan sama sekali tak bercanda. Kau harus menikah akhir bulan ini," titahnya dengan sikap angkuhnya, bahkan atmosfir tegang mereka dapat dirasakan Hana, istri Sasori. Tentu saja dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dalam hal ini sang suami telah membuat keputusan besar terkait adik iparnya.
" Kakak tahu sendiri aku tak suka jika orang lain mencampuri urusan privasiku," ucapnya dengan nada tajam, ia memandang tak suka bila kakaknya mulai seenaknya.
" Sakura aku kakakmu bukan orang lain... Dan hal ini keputusan mutlak tak bisa dibantah!" Sasori sedikit meninggikan suaranya tampak ada nada ketegasan dalam ucapannya. Ia melengos pergi tanpa memberikan penjelasan lengkap pada sang adik...
Aisshh.. kenapa kakaknya tiba-tiba jadi menyebalkan seperti ini huh? Menyebalkan! Astaga, aku sudah berumur 25 tahun, bukan anak kecil lagi.. Hah sebenarnya apa sih yang dipikirkan kakaknya... batin nya sebal.
" Sakura, kakakmu punya alasannya. Sebaiknya nanti kau makan malam di rumah utama," suara lembut kakak iparnya menyadarkannya dari gerutuan tak jelas di dalam hatinya. Ia menghela napas kasar.
" Hai wakarimashita Hana nee-chan. Arigatou," ia kembali menatap butiran kristal bening tanpa warna melalui jendela berkaca.
" Nee-chan pergi dulu. Sampai bertemu nanti malam!" Sakura hanya membalas dengan gumaman saja. Tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari objek yang diamatinya.
# UCHIHA MANSION
Suasana hening dan sepi menyelimuti bangunan besar berasitektur Europe-Classic. Tak ada sedikitpun kegiatan di sana. Mungkin jika kalian lebih dekat lagi, ada suara keributan dari Manshion besar milki keluarga Uchiha itu. Suara helaan napas frustai, suara tegas tanpa dibantah, dan kesunyian beberapa orang. Madara Uchiha, pemilik kerajaan Uchiha duduk angkuh dan dengan wibawanya mengumpulkan seluruh anggota keluarganya. Ia menatap tajam sesosok pemuda berambut raven beriris onyx.
" Nani? Apa maksud Ojii-san?" suaranya tampak frustasi. Ia memandang tak percaya ke arah kakeknya sang penguasa Uchiha Kingdom.
" Kau akan menikah akhir bulan ini, Harus!" ultimatum besar menimpa Sasuke Uchiha anak ke dua dari pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Adik dari Uchiha Itachi itu menatap geram sang kakek. Kenapa kakeknya harus mencampuri hubungan asmaranya... batinnya diliputi kekesalan.
" Sasuke kau harus mematuhinya. Kakek adalah orang terpenting dalam hidup kita," Itachi menatap tajam adiknya, kali ini dia tak dapat membantu karena hal ini merupakan permintaan sang kakek.
" Kanapa tidak Itachi-nii saja? Dia juga cucu Ojii-san. Kenapa harus aku?" ia memasang wajah stoick meski sebenarnya tidak bisa menutupi kekesalannya, tangan mengepal, dan raut wajahnya terpaksa dibuat sedatar mungkin.
" Sasuke, kakakmu telah memiliki tunangan, kau ingat? Dan aku tak ingin mendengar penolakanmu lagi!" sang kakek meninggalkan ruangan dan membuat si bungsu Uchiha semakin geram.
" Gomen ne, kami harap kau menuruti keinginan kakekmu," Uchiha Mikoto menghela napas dia juga tak mampu berbuat apapun. Sasuke pun memilih meninggalkan mansion Uchiha dan pergi mengendarai ferrarinya.
" Otou-san, Okaa-san apakah ini akan baik-baik saja?" gumam Itachi dia juga pasrah melihat kakek dan sang adik sama-sama keras kepala.
" Entahlah.. tapi Kaa-san berharap perempuan yang dijodohkan oleh kakekmu dapat merubahnya kembali seperti semula," ucap Mikoto sang ibu penuh pengharapan.
At night
" Hah.. ini sulit. Sasori-nii kali ini benar-benar serius. Apa aku terima saja pejodohan ini? Lagipula mungkin hanya ini yang dapat aku lakukan untuk Onii-chan. Tapi aku masih..." Sakura mondar-mandir di apartemen minimalisnya, dia telah meminta izin pulang cepat. Ia pun mengambil ponsel Samsung Galaxy X4nya dan mengirim pesan kepada sahabat-sahabatnya.
" Forehead!" suara panggilan atau lebih seperti lengkingan itu menyeruak disela-sela lantunan suara DJ Starlight Club. Gadis bernampilan cukup seksi dengan belahan dada cukup rendah diikuti gadis bersurai indigo mengenakan pakaian yang bisa dibilang jauh kata seksi –anggun-.
"Huft... Ino pig, Hinata-chan. Aku disini," Sakura berkata cukup keras karena dia menyadari sekarang ia berada di klub malam dan ditengah-tengahnya suara lagu dan permainan DJ sangat ramai dan banyak pengunjung yang menggila di sana. Ia juga berda di lantai ke dua. Ino dan Hinata melangkah ke lantai atas.
" Kau kenapa forehead?" seraya mendudukan patatnya manisnya di dekat Sakura. Hinata heran, setahu dia Sakura palin tidak suka jika dia harus berurusan yang namanya klub malam dan entah mengapa malam ini sahabatnya itu meminta dia dan Ino untuk pergi ke sini.
" Sakura-chan tak biasanya kau kemari," bertender menawarkan minuman dan pilihan mereka hanya pinot girigo, anggur yang punya kadar alkohol rendah.
" Aku dijodohkan!" teriakan frustasi Sakura menggema di telinga mereka. Mereka tercengang, seorang Sakura Haruno dijodohkan. Wah ini adalah hal yang langka. Tapi saat mereka fokus dengan ucapan Sakura, saat itu mereka tersadar...
" Nani?Dijodohkan?" ucap mereka serentak, menatap tak percaya sahabat mereka. Ino dan Hinata beribu pertanyaaan masuk ke pikiran masing-masing
" Hah... begitulah. Aku masih bingung apakah aku akan menuruti Saso-nii atau menolaknya? Kalian tahu sendiri Saso-nii kakakku yang amat aku sayangi," ia menegak pinot girigo dengan anggun. Keheningan menyelimuti kediaman mereka.
" Sebaiknya kau menerimanya Sakura-chan," tiba-tiba Hinata memecah kesunyian dengan jawaban spontan tapi terdengar tegas.
" ? " Ino dan Sakura sama – sama terkejut dan menolehkan pandangan mereka meuju Hinata . Hinata yang menyadari tengah ditatap hanya merona malu, untung saja klub malam ini gelap jadi dapat menutupi rona wajahnya.
" Ah..i-tu maksud-ku. Sasari-nii adalah seseorang yang selalu mementingkan Sakura dalam hidupnya. Dan menurut-ku Sakura harus menerima patuh perjodo-han i-ni," Hinata menghembuskan napas setelah berbicara mengenai perjodohan itu.
" Yah kupikir begitu, arigatou ne Hinata-chan. Aku akan ke lantai bawah," ia berjalan menuju lantai bawah. Lantai yang lebih ramai, lantai ke dua cenderung untuk bersantai dan mengobrol bersama teman-teman.
Sakura berjalan menuju tempat bertender dan meminta satu botol wine sejenis pinot girigo. Ia duduk dibangku tinggi yang ada di meja bar sambil menunggu. Sakura sesekali menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan lagu yang berbunyi di klub malam itu. Beberapa orang di lantai dansa tengah berjoget ria mengiringi alunan musik beat dari DJ.
" Menyebalkan, seharusnya aku tidak pergi ke sini. Lebih baik ke Museum of Konoha Art," ia sedikit mengeluhkan keputusannya datang ke klub. Well apa boleh buat yang terjadi biarlah terjadi.
" Sialan! Ojii-san benar-benar membuatku gila!"
Kepala Sakura berputar cepat ke arah seruan di sampingnya. Tampaknya ada seseorang yang sedang mengumpat. Ia sepertinya mabuk, rambut ravennya tampak berantakan karena beberapa kali diacak-acak sendiri oleh tangannya. Dan di tangannya ada segelas minuman red wina berkadar alkohol tinggi. Tanpa sadar Sakura terus memperhatikannya. Wajahnya tidak terlihat karena rambut raven yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Yang jelas dia laki-laki yang tampan. Kepalanya pun menunduk seperti hendak terjatuh. Oh astaga, dia memang hendak tetapi benar-benar akan jatuh!
" Ahh.. untunglah. Dia berat," dengan gerakan gesit Sakura segera menahan bahu pria itu yang hampir saja tersungkur di lantai. Sakura dengan sekuat tenaga menempatkan tubuh pria itu hingga kepalanya tersandar di meja.
" Astaga.. dasar pria! Suka sekali mabuk tidak jelas di klub..." Sakura mencoba melihat wajah si pria, saat dia menatap wajahnya. Saat itu juga ia tersentak, dia mengenal pria ini..
Oh no, Sasuke Uchiha! Ah ini bercanda kan?
" Chotto apakah kau tahu dia di sini dengan siapa?" bertender melirik pria yang ditunjuk Sakura, yang tengah tak sadarkan diri.
" Biasanya dia bersama teman-temannya. Tapi sepertinya kali ini dia datang sendiri."
" Setelah sekian lama tidak bertemu kau berubah banyak ya Sasu-chan," gumam Sakura tanpa sadar susdut bibirnya melengkungkan senyuman manis tipis. Sakura membenarkan rambut Sasuke yang berantakan. Ternyata teman kecilnya bertambah tampan ah bukan bertambah lagi tapi semakin tampan.
" Kenapa kau bisa mabuk seperti ini Sasu-chan?" bertender itu mengeryit bingung. Karena tak ada sekalipun gadis yang berani memanggil Sasuke, anak bungsu Uchiha Kingdom dengan nama kecilnya diberi surffix –chan.
" Maaf kamu... Juugo-san dapatkah kamu membantuku ke salah satu ruangan khusus di klub ini?" tanya Sakura sedikit membaca name tag bertender itu. Sakura membaringkan Sasuke di sofa di salah satu ruangan khusus dibantu bertender yang ternyata bernama Juugo.
" Arigatou ne," Sakura membuka beberapa kancing bagian atas kemeja yang dipakai Sasuke agar ia tidak sesak. Ia tampat gelisah dan wajahnya penuh dengan keringat.
Sepertinya kau mimpi buruk ya Sasu-chan...
Sakura mengambil tissue yang tersedia di atas meja dan mengelap peluh di pelipis pria itu. Sesekali Sakura termangu menatapi wajah tampan pria itu, meskipun raut wajahnya tidak tenang tapi dia masih terlihat mempesona.
Sasu-chan kau semakin mempesona kau tahu? Yah , mungkin dulu kau tak terlalu mengenalku, tapi satu hal yang ku ingat waktu itu ketika kita masih satu sekolah adalah suatu hari nanti aku dapat menjadi pengantin wanitamu. Mimpi konyol, kuanggap begitu, karena kau tak pernah sedetik pun menganggapku ada. Seperti bayangan dalam cahaya keemasan, yang akan selalu meliputi tanpa bisa menyentuh cahaya itu...
Sakura tersenyum sendiri mengingat mimpi waktu masa kecilnya. Ah lama sekali ia tidak tersenyum seperti ini.
Bertemu denganmu membuatku banyak tersenyum Sasu-chan aku harap kebetulan selanjutnya kau dapat membuatku tersenyum... Lagi..
Ia menggelengkan kepala cepat, terlalu bermimpi takutnya ketika nanti jatuh kau akan merasa sakit.
" Ah aku ingat Sai-nii, bukankah dia sepupu Sasuke?" ia lalu mengambil ponsel Sasuke dan mencari nomor Sai. Setelah menemukannya ia menelponnya.
" Halo... Sai di sini," seseorang di ujung sana menjawabnya. Namun belum Sakura membuka mulutnya pria yang mengangkat ponsel itu, menerjangnya dengan rentetan kata-kata panjang.
Sai-nii ternyata masih seperti dulu ya.. Terlalu khawatir dengan seseorang...
"...astaga kau di mana? Itachi-nii mencarimu bodoh. Segeralah pulang kalau ada masalah bilang saja padaku. Sekarang pulanglah Sasuke Uchiha!"
" Sai-nii berisik! Nggak berubah ya kamu Sai nii," ucap Sakura sambil mengamati wajah tampan Sasuke.
" Tunggu! Sai-nii! Suara ini? Ah.. Sakura?" Sai agak tersentak pasalnya ia telah lama sekali tidak berbicara apalagi bertemu setelah Sasori dan Sakura pindah. Dan paling yang membuatnya terkejut adalah fakta tentang Sasuke, sepupunya sedang bersama Sakura. Uwwaaah.. Ini hebat pikirnya.
" Iya Sai-nii. Aku Sakura. Onii-chan bisakah kau menjemput Sasu-ch..maksudku Sasuke di Starlight Club? Dia kutemukan pingsan di sini," ia sedikit gugup hampir saja ia menyebut Sasuke dengan Sasu-chan.
" Nani? Okay aku segera menjemputnya. By the way, kenapa kau bersama Sasuke?"
" Hanya saja aku kebetulan sedang hang out bersama teman-teman."
" Oh gitu, tunggu sebentar aku akan ke sana. Senang berjumpa kembali denganmu Saku-chan."
" Hai, Sai-nii. Domo.." Sakura bermaksud pergi, tiba-tiba tangan Sasuke menahannya dengan menggenggam erat oergelangan tangannya. Sakura kaget, secepat mungkin ia menoleh. Dia kira Sasuke siuman, ternyata tidak. Matanya tetap tertutup. Tapi kenapa Sasuke bisa menahan tangannya?
" Jangan pergi..." lirihnya dengan suara pelan, mirip igauan. Ia memang mengigau, berbicara tidak jelas, matanya tertutup, dan alisnya bertautan seperti kebingungan. Sakura kembali duduk, ia cemas akan keadaan Sasuke.
" Sasu-chan. Aku takkan pergi, tenanglah hm?" Sakura berbisik di telinga Sasuke dengan suara lembut, dan Sasuke pun perlahan-lahan lebih tenang. Tak lama terdengar suara pintu terbuka dengan satu sentakan cepat hingga menimbulkan suara gaduh.
" Mana Sasuke..." teriaknya kencang. Sakura sampai terperanjat dan cepat berdiri.
" Sai-nii, bisakah kau kecilkan volume suaramu?" Sakura seraya memapah Sasuke untuk diambil alih oleh Sai.
" Gomen...gomen.. Dia pasti ada masalah lagi. Arigatou ne Sakura sudah menolongnya. Kau tambah semakin cantik dan lebih terkesan anggun."
" Arigatou atas pujiannya.. Aku pergi dulu Sai-nii.." Sakura buru-buru pergi meninggalkan dua orang pria itu. Ia harus menemui Ino dan Hinata, mereka pasti khawatir.
" Em.. Jaa mata ne..."
" Ino! Hinata!" teriaknya seraya mendekati mereka di kursi merah maroon yang mencerminkan klub itu.
" Kau ke mana saja? Kami kelimpungan mencarimu," omel Ino agak berlebihan. Ia memandang sebal Sakura.
" Gomen...gomen..." tiba-tiba ponsel Sakura bergetar.
From : Hana-nee
Sakura kau di mana? Cepatlah pulang
" Dari siapa?" tanya Hinata sibuk menjelajahi orang-orang di lantai dansa.
" Hana-nee. Come on Girls! We go home."
" Of course..." Ino dan Sakura meninggalkan bangku tersebut, tapi mereka tersadar bahwa Hinata tak ada. Mereka menoleh ke belakang dan menatap Hinata yang masih belum beranjak dari bangku, dan sibuk memandang kumpulan orang berdansa di lantai dansa.
" Naruto-kun kau berubah ya," gumamnya memandangi seorang pria berambut pirang di lantai dansa. Yang kini tengah berdansa atau lebih tepatnya sedang menari erotis dengan seorang wanita berpakaian seksi. Ia memandang sendu pemandangan di sana.
Kenapa kau berubah, Naruto-kun?
******TSUZUKU******
Kalau sudah dibaca tolong tinggalkan kritikan dan pesan yang membangun dan maaf kalau banyak typosnya. Aku masih penulis amatir dan jika feelnya kurang dapet maaf ya.
