Thorn.
.
Chapter 2. Kakak dan Adik.
.
.
.
Jam hampir menunjukkan jam delapan malam ketika Thorn bersama dengan Blaze pulang kerumah.
"Kak Gem, kami pulang." Sahut Thorn sembari membuka pintu rumahnya. Memang semenjak SMA kelas dua, Thorn dan Blaze sudah dipercaya oleh ketiga kakaknya untuk membawa duplikat kunci rumah sendiri kalau-kalau mereka berdua pulang duluan ketika tidak ada giliran menjaga kedai. Atau ketika mereka pulang malam, dengan seijin Gempa tentunya.
Kakak mereka, Gempa nampak sedang berbaring santai di atas sofa sembari menonton acara televisi ketika menengok kearah kedua adiknya dan mengangguk. "Thorn, Blaze... Tumben pulang jam segini, biasanya nunggu mall tutup."
Blaze hanya mengeluh saja. Tidak biasanya ia pulang dengan berwajah datar sepulang dari jalan-jalan bersama Thorn atau teman-teman sekolahnya yang lain "Lagi ngga mood kak, lagian mall-nya sepi."
Mendengar jawaban Blaze, Gempa ikutan menghela napas. "Yah, memang tanggal tua, kedai pun sepi... Kalian mau makan dulu?" Sang kakak menawarkan sembari menarik dirinya bangun dari sofa. "Biar kupanaskan makanan."
Thorn menjawab dengan gelengan kepala sembari melepas sepatunya dan meletakannya diatas rak sepatu yang berada di dekat pintu depan. "Ngga kak... Aku ngga napsu makan."
Gempa hanya menatap heran kearah adiknya yang langsung berlalu menuju tangga rumah. Biasanya Thorn adalah yang paling antusias menikmati masakannya dan penolakannya kali ini membuat Gempa menjadi bertanya-tanya dalam hati.
Blaze pun ikutan menggelengkan kepala melihat adiknya itu yang melenggang pergi ke kamar tanpa banyak bicara.
"Kenapa Thorn?" Tanya Gempa sembari kembali duduk di atas sofa.
Blaze menghela napas panjang sembari melepaskan sepatunya dan menaruhnya disebelah sepatu milik Thorn. "Entah... Sudah berapa hari ini Thorn begitu..." Jawabnya sembari duduk di sofa yang bersebelahan dengan kakaknya.
"Aku jadi khawatir... Kamu yang sekamar sama dia masa ngga tahu, Blaze?".
"Dia selalu bilang ada masalah di sekolah," jawab Blaze sembari menaruh tangannya di atas pinggiran sofa itu sebelum meletakkan kepalanya di atas tangannya itu. "Tapi di sekolah juga aku lihat dia oke-oke saja. Ngga ada masalah, ngga pernah berantem, ngga pernah ada kasus koq."
"Ngga seperti kamu yang bolak-balik ngga ngerjain PR ya, Blaze?" Kali ini Gempa menatap tajam ke arah adiknya yang langsung terlihat gugup.
"Ah... Ehehehehe. Ya, begitu deh." Ujar Blaze sembari terkekeh dan menggaruk-garuk pipinya.
Gempa tidak terlalu menghiraukan Blaze yang mendadak gugup. Saat itu ia hanya memikirkan sikap Thorn yang berubah menjadi aneh akhir-akhir ini. "Coba kamu tanya gih... Aku jadi betulan khawatir."
"Itu perintah? Kak Gem?" Tanya Blaze sembari menaikkan sebelah alis matanya sedikit. "Aku ngga mau ikut campur urusan Thorn kelewat dalam...".
"Ngga Blaze, bukan perintah." Jawab Gempa sembari menggelengkan kepala dengan perlahan. "Tapi... Permintaan..."
Kali ini Blaze bisa menangkap kekhawatiran kakaknya dibalik permintaannya itu. ia sebetulnya tidak suka mencampuri urusan orang lain, bahkan urusan adiknya yang sekamar dengannya. Namun kali itu Gempa ada benarnya, perubahan sikap Thorn terlalu drastis dan bahkan mengkhawatirkan. "Oke, Kak Gem... Tapi..."
Gempa memutar bola matanya keatas. Ia sudah merasakan firasat yang tidak enak dari nada suara adiknya yang terdengar sedikit melagu. "Tapi apa?".
"Libur jaga kedai seminggu, ya?".
"Tiga hari!"
"Seminggu..."
"Tiga hari!"
"... Enam hari?"
"Tiga hari!"
"Alamak... Lima hari deh, pliss kak?"
Gempa menarik napas panjang "Empat... Kalau ngga mau ya sudah."
Sejenak Blaze berpikir sebelum senyuman lebar mengulas di wajahnya. "Deal, empat hari. Senang berbisnis dengan kakak."
"Sudah sana, kamu susul Thorn ke kamar... Coba kamu ajak ngobrol sebelum tidur." Gempa berpikir sejenak sebelum melanjutkan "Coba kamu perhatikan apa-apa saja yang diluar kebiasaannya."
"Oke kak Gem." Jawab Blaze sembari berdiri dan beranjak melangkah menuju dapur. Ia mengambil dua buah gelas plastik dan sebuah termos berisikan air es untuk dibawa ke kamarnya, yang berbagi dengan Thorn.
.
.
.
Thorn terlihat sudah berada di atas ranjangnya. Kedua kakinya terbujur lurus dibalik selimut yang menutupi sampai setengah badan. Kali ini Thorn mengenakan baju armless hitam. Sepertinya hasil guntingan sendiri dari bajunya yang belum terlihat usang dan masih nyaman dipakai. Kedua tangannya berada di belakang kepala yang memperlihatkan wajah Thorn yang datar dan tanpa ekspresi. Bahkan sorot matanya terlihat hampa, memandangi langit-langit kamarnya
Begitulah keadaannya ketika Blaze masuk ke dalam kamarnya. Setelah mendapat arahan dari Gempa barulah Blaze menyadari adanya perubahan pada Thorn.
"Thorn, tumben kamu pakai baju begitu?" Tanya Blaze sembari meletakkan termos dan kedua buah gelas yang dibawanya dari dapur.
Panggilan Blaze membuyarkan lamunan Thorn. "Oh? baju ini?" Thorn melirik ke arah badannya sendiri. "Yah, bagian keteknya sudah bolong jadi sekalian saja kugunting."
Blaze mengerenyitkan dahi mendengar jawaban adiknya itu. "Bukannya itu baju yang paling kamu suka? Mahal kan belinya? Kenapa ngga dijahit lagi bagian yang bolong?" Tanya si kakak sembari membuka lemari bajunya sendiri.
"Yaaah... Iya ya?" Thorn langsung muram mendengar komentar Blaze yang kini nampak sedang membelakanginya ketika si kakak membuka baju, celana panjang, dan celana dalamnya sebelum mengenakan sebuah tanktop merah dan celana pendek hitam. "Padahal ini baju kesayangankuuuu." Lirih Thorn yang terlihat menyesal karena sudah menyulap baju kesayangannya menjadi armless.
"Salahmu sendiri!" Blaze hanya cekikikan saja melihat adiknya yang terlihat cemberut merutuki hasil perbuatannya sendiri. "Lagian bukan minta ke aku... Bajuku yang armless atau tanktop kan banyak."
"Lupaaaa." Bibir Thorn yang dimonyongkan melengkapi rutukan dan gerutuannya. "Kamu lagi malah ngetawain!" Ketusnya sembari menatap sebal pada kakaknya.
"Lah koq ngomelnya ke aku... Kamu sendiri kan yang gunting bajumu itu." Ujar Blaze sembari mendekati ranjang adiknya itu sebelum ia duduk di tepian ranjang itu. "Kamu lagi kenapa sih, Thorn?" Tanya Blaze sembari menatap adiknya itu.
Thorn langsung mengalihkan pandangannya dan membuang muka. "Ngga ada apa-apa..."
"Thorn, kelakuanmu akhir-akhir ini membuatku khawatir... Jujur, aku malah takut melihatmu sekarang. Hawamu seperti Kak Hali, tahu?"
Kembali Thorn menggelengkan kepalanya. "Kan kubilang ngga ada apa-apa."
Blaze melirik ke arah adiknya yang masih berbaring dan mulai pundung dengan kedua tangan dibelakang kepalanya. Sebuah ide muncul di benak si kakak.
Thorn tidak sempat bereaksi ketika Blaze mendadak melompat dan mendarat di atas perutnya. Baru saja Thorn akan mendorong kakaknya itu ketika kedua tangannya langsung ditahan dengan kaki oleh Blaze.
"Hoee! Blaze! Turun!" Jerit Thorn yang berontak dibawah tindihan badan si kakak.
"Ayo mengaku, apa yang terjadi." Ancam Blaze sembari mendekatkan jarinya pada ketiak Thorn yang terbuka lebar. "Atau..."
Thorn meneguk ludahnya ketika ia melihat jari-jemari Blaze yang mendekati ketiaknya. Ia benar-benar menyesal sudah menyulap bajunya dan memakai baju sulapannya malam itu. "Ja... Jangan... Blaze, aku ngga tahan geliii" Lirih Thorn dengan memelas.
"Ayo mengaku kalau begitu." Blaze sebetulnya tidak tega melakukannya pada Thorn, tetapi ia penasaran juga dengan reaksi adiknya. Tanpa peringatan, Blaze menusukkan telunjuknya dan menarikan jari-jemarinya pada ketiak Thorm yang terbuka.
"HUAAA! AHAHAHAHAH! BLAZE! HIAAA! GELIIII!" Kontan Thorn menjerit dan menggeliutkan badan sejadi-jadinya, berusaha untuk menghindar dari serangan jari-jemari Blaze. "HOEEE AHHHHHAHAHAHA!STOP! AMPUN! SUDAH! AKU MENGAKUU!"
Blaze menyeringai lebar dan menghentikan serangannya. "Jadi? Ada apa denganmu?"
Thorn langsung terkapar dengan napas yang terengah-engah setelah dikelitiki Blaze. "Aku... Galau!" Ujarnya diantara tarikan napas.
Blaze melompat turun dari atas badan Thorn dan kembali duduk di tepi ranjang adiknya. "Galau kenapa kamu, Thorn? Bocah sepolos kamu bisa galau?"
Thorn langsung duduk di atas ranjangnya dengan tangan terlipat. "Aku bukan bocah ya, kita seumur!" Ketusnya dengan raut muka sebal karena masih kesal dikelitiki mendadak oleh kakaknya. "Aku galau, disekolah diledek melulu dikelas."
Raut wajah Blaze langsung menegang. Bahkan ia langsung menggeretakkan jari-jemarinya. "Katakan, siapa yang meledekmu... Biar kuhajar."
Sweatdrop langsung menitik di kepala Thorn ketika melihat reaksi kakaknya. "Ah bukan seperti itu!" Ujarnya dengan panik sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"Lalu?"
Thorn tertunduk lesu dan tidak berani menatap Blaze secara langsung. "Blaze... Pacaran itu apa sih?" Tanyanya dengan suara yang lembut.
-Deg!-
Jantung Blaze terasa berhenti mendadak ketika ia mendengar pertanyaan balik Thorn. 'Alamak... Harus kujawab apa nih? TOLOOONG!' Jerit Blaze dalam hatinya. "A...Apa?... Pacaran?" Tanya Blaze yang terbelalak dan terbengong mendengar pertanyaan adiknya yang tetkenal polos.
.
.
.
Bersambung.
