Asari Family
—drabbles collection—
[ chapter 02 : study, stu'dying', stu'died' ]
.
.
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
This fic and Gokudera Hayato © Kazue Ichimaru
(Kapan Amano-sensei bakalan nyerahin Gokudera ke saya? /jder/)
.
Rate T for colorful language
Warning for the MPREG, AU, OOC, sho-ai, typos, jayus, etc!
U02? Definitely. 8059? It depend on readers thought. Kufufufu
.
.
Enjoy!
"Kamu ini bego, tolol, atau idiot tingkat akut, sih?!" Hayato mendecak kesal. Dihentakkannya pensil ke atas meja kecil di ruang keluarga. Membuat suara gaduh 'bruk' dan membuat buku-buku yang berserakan di atasnya bergeser sedikit.
Yang dihina malah tertawa bodoh sambil mengusap tengkuknya, "Maa maa, Hayato, maaf kalau aku tidak mengerti-ngerti…"
"MASALAHNYA AKU SUDAH MENJELASKAN INI BERPULUH-PULUH KALI PADAMU DAN KAMU MASIH TIDAK MENGERTIIIIII!"
Sekali lagi, yang diteriaki malah tertawa bodoh.
Eh, ini nggak kebalik apa malah adiknya yang ngajarin kakaknya?
Sudahlah. Lupakan saja.
"Hayato, tidak sopan memanggil kakakmu dengan 'kamu'." Ugetsu yang baru saja masuk ke ruang keluarga menegur anak bungsunya.
"Tapi ayaaaah dia benar-benar menyebalkan. Mana menyebalkan, bego pula!" bocah kecil itu merajuk; menggembungkan pipi putih chubby-nya.
Sang ayah malah ikut-ikutan tertawa, bedanya ini tertawa miris. Memang tidak bisa dipungkiri kalau Takeshi itu 'kurang pintar' dari adiknya. Eh, tapi dia nggak bego-bego amat, kok! Buktinya, anak sulungnya itu jago sekali di bidang olahraga apalagi baseball. Yah, yang namanya manusia itu tidak sempurna, kawan.
Takeshi itu seperti copycat dari ayahnya, yang membedakan paling hanya warna iris mata dan bakat mereka berdua; tapi secara keseluruhan sempurna. Hayato juga seperti copycat dari papanya, hanya warna iris dan rambut yang membedakan; tapi lagi-lagi secara keseluruhan sempurna.
Dan sempurna itu juga sudah termasuk dengan sifat mereka. Hayato temperamen, G juga temperamen. Takeshi baik hati, Ugetsu juga baik hati. Hayato pintar, G juga pintar. Takeshi bego, Ugetsu…. err, ia tidak mau mengakuinya, ya.
"Yasudah, kalau begitu biar ayah saja yang mengajari." Ugetsu menghampiri lalu duduk di samping bocah berambut raven, "yang mana yang tidak mengerti, Takeshi?"
Takeshi nampak berpikir sejenak, "yang ini, yah…" lalu menunjuk sebuah soal hitung-hitungan di bukunya.
"Oh yang ini…" ucap Ugetsu. Hayato menatap penasaran ayahnya yang sekarang sedang memegang buku. "Budi menyimpan 5 buah apel di atas meja. Jika ibu Budi mengambil sebuah apel, teman Budi mencuri sebuah apel, kucing Budi menyenggol sebuah apel hingga terjatuh, dan Budi menjual dua apel yang lain… berapa jumlah apel yang ada sekarang?"
Takeshi memasang tampang sedang berpikir. Lama. Lama, lama, lama, lama, lama… "Jawabannya… masih ada 5!"
BRAK. Hayato headbang ke meja.
Ugetsu mengernyit. Bocah bersurai perak itu menyusul memasang wajah sudah-kubilang-dia-itu-bego-akut. "Apa alasan sehingga kau menjawab seperti itu, Takeshi?"
"Kan begini, ibu Budi kan mengambil sebuah apel, berarti apel itu masih ada di ibunya. Teman Budi nyuri sebuah apel, apelnya juga masih ada di teman Budi. Kucing Budi nyenggol apel, tapi apelnya masih ada di bawah meja. Budi menjual kedua apel, tapi apelnya belum laku jadi masih ada. Jadi jawabannya… apelnya masih ada 5!"
PLAK. Karena headbang ke meja lumayan sakit, kali ini Hayato menepuk jidatnya capek.
Ugetsu hanya bergeming menatap Takeshi yang sedang menatapnya dengan binar-binar menghiasi iris auburn-nya.
"Sudah kubilang dia itu bego aku—"
"Hebat kamu, Takeshi!"
"—HA?" Iris emerald Hayato melebar begitu mendengar pujian yang terlontar dari mulut sang ayah.
"Aku bahkan tidak memikirkan alasan seperti itu! Kau hebat!" Ugetsu balik menatap anak sulungnya dengan iris mata biru gelapnya berbinar-binar. Yang dipuji kembali tertawa bodoh.
"A-ano, ayah, apa tidak salah tuh? Harusnya jawabannya 0, lho…" Bocah bersurai perak itu agak menarik baju ayahnya.
"Tapi alasan yang tadi itu benar-benar masuk akal, Hayato!" jawab Ugetsu riang.
'DARIMANANYA YANG MASUK AKAL COBAA?!' jerit Hayato dalam hati frustasi. Ingin berteriak, tapi dirinya tidak bisa. Bisa-bisa ia dihukum cuci piring kalau meneriaki Ugetsu.
"Ugetsu…" sebuah suara dengan nada rendah terdengar dibalik punggung mereka berdua. Hayato yang kebetulan duduk berseberangan sehingga dapat melihat orang yang menghasilkan suara itu langsung kaku seketika.
"Ah! G, kau sudah pulang? Selamat datang!" Ugetsu menyapa uke-nya itu riang. Membalikkan badan dan mendapati G berada di belakangnya. Hei, Ugetsu, apakah kamu tidak melihat aura G sudah seperti beruang yang akan mengamuk?
"Kau ajarkan apa pada Takeshi…"
"Aku mengajarinya berhitung. Hebat lho dia, hahaha!"
"KAU MENGAJARKANNYA DENGAN CARA YANG SALAH DASAR BODOH!" G tiba-tiba menjewer kedua telinga Ugetsu.
"Aw, aw, aw! Sakit G!"
"KAU INI TIDAK PERNAH LULUS TK ATAU APA HAH? MASA BEGITU SAJA TIDAK BISA!" Pria bersurai magenta itu semakin menjewer telinga Ugetsu keras, "dan Takeshi…"
Yang dipanggil menegakkan duduk lalu meneguk ludah, "i-iya, papa?"
"Setelah aku memarahi ayahmu kau akan kuajari semalaman karena jawabanmu yang super ngaco itu. Ingat, semalaman," ucap G dengan tatapan menyeramkan. Entah kenapa Takeshi melihat tanduk setan imajiner tumbuh di kepala papanya.
"Ba-baiklah, papa." Sumpah, ia sebenarnya ogah banget. Takeshi lebih memilih diajari semalaman oleh adiknya yang super bawel daripada oleh papanya yang super galak. Bisa-bisa mati saja dia diajari hitung-hitungan oleh G. Semalaman lagi. Aduh, apes banget.
Dan Hayato hanya bisa tertawa puas dalam hati bagaikan peran antagonis. Menertawai nasib kakak dan ayahnya yang sama-sama bego. Duh, jangan berbahagia di atas penderitaan orang lain dong, Hayato.
.
.
.
end of chapter 2
A/N :
/headbang headbang headbang/ ya ampun ini apaaaaaaan? Gatau gatau, ini bener-bener nggak jelas banget ficnya. Iya, saya mohon kritik dan sarannya ya biar fanfic ini nggak ancur-ancur amat /bow/
Ngomong-ngomong saya mau promosi sebentar. Apakah readers adalah seorang otaku yang berdomisili di Jawa Barat khususnya di Bandung? Kalau iya... datanglah ke acara TAMAGOCHI 5: Niji Iro No Tanjoubi yang diadakan oleh siswa siswi SMAN 5 Bandung. Tanggal 17-18 Mei 2014. Tertarik? kunjungi profile saya untuk informasi yang lebih lanjut :D Sekali lagi, maaf promosi /deep bows/
Dan terimakasih bagi para readers yang sudah bersedia memberi review, fave, dan follow (Silent readers juga terimakasih banyak! XD). Saya terharu ternyata ada yang membaca fanfic ancur ini sampai akhir :") . Dan…
Mind to RnR? ;)
