Tittle : Greyish chap 2
Cast : Suju, DBSK members
Genre : (mungkin) angst, sad
Rate : T ditambah M
Summary : Aku tahu diri. Mungkin bisa dibilang pengecut. Tapi aku tidak akan memulai sesuatu yang sudah kutahu seberapa pedih akhirnya
Mungkin (dan memang) karena aku stres ngurus skripsi, ditambah tontonan akhir-akhir ini so sad as hell, kemudian otak terkontaminasi sehingga menghasilkan genre begini.
(hope u) Enjoy it!
.
start!
"Waktu kulihat ia datang ke pernikahanku, kupikir ia bersamamu, ternyata dengan Yoochun"
Siwon menarik napas dalam, menggenggam jari tanganya sendiri. Tanggapan Hankyung, sepupunya terlalu santai mengenai Kibum yang sekarang terbaring di salah satu branker rumah sakit.
"Tidak kusangka ia begitu lemah" lirih Siwon
"Bukan lemah Siwon ah, justru ia sangat kuat" Hankyung meraih salah satu catatan kesehatan, menunjukanya pada Siwon "awalnya ia divonis tidak akan bertahan lebih dari setahun, tapi buktinya kau pun terkecoh"
"Dia terlalu pandai akting" ada nada penyesalan Siwon sampaikan. Terlalu sederhana malah jika hanya disebut penyesalan, karena nyatanya Siwon seakan ikut merasa hatinya mengalami kerusakan.
Hankyung tersenyum "Dengan fisik seperti itu, ditambah ia sebatang kara..."
"Apa keadaanya berhubungan dengan kecelakaan keluarganya?"
"Hm," Hankyung mengangguk "hatinya sudah ada kerusakan sebelumnya, kemudian diperparah dengan kecelakaan itu"
.
"Sudah bertemu Hankyung hyung?" tanya Kibum yang sedang membenahi kaosnya
Siwon mengangguk lalu duduk di samping branker Kibum. Memandang heran bagaimana bisa seorang pasien yang tergolong parah hanya mendapatkan perawatan selama 3 jam bahkan selang infusnya sudah lepas. Panggilan 'hyung' pada sepupu iparnya seolah menandakan seberapa sering Kibum ke sini.
Ponsel Kibum yang tergeletak di meja berdering beberapa kali tapi Kibum acuhkan. Siwon bisa membaca nama Kyuhyun tertera di layar kemudian berganti 14 panggilan tak terjawab saat ponsel itu tidak lagi berdering.
"Kenapa tidak diangkat?"
Kibum malah mengulurkan tangan "Pinjam ponselmu"
Siwon menyerahkan ponsel tanpa tahu maksud Kibum sebenarnya. Kibum menekan tombol panggil pada nomor yang baru ia masukkan.
"Kyuhyun ah, ini aku" Kibum bicara lewat ponsel. Siwon mengerutkan kening bingung.
"..."
"Maaf, ponselku mulai error sepertinya. Beberapa kali coba kuangkat panggilanmu tapi tidak bisa" ucap Kibum. Tapi bukan itu yang Siwon tahu
"..."
"Ponsel baru? Tidak usah..."
"..."
"Aku hanya..." Kibum menghela napas "aah, terserah kau saja. Kutolak pun percuma" ucapnya kesal
"..."
"Hm, ya sudahlah. Miss you too"
Ada perasaan benci saat Siwon mendengar Kibum mengatakan itu. Entah itu karena Kibum sedang berpura-pura dan membohongi orang lain, atau karena ia tahu Kibum membohongi dirinya sendiri.
Kibum mengakhiri pembicaraan lalu beralih memandang Siwon "Seberapa pun baiknya Hankyung hyung, biaya perawatan dan obat tetap tidak gratis"
"Aku tahu..." Siwon tersenyum memasukan ponsel ke dalam saku "dan pasti rumah sakit ini sengaja menaikan tarif untukmu" candanya
"Syukurlah kau bukan pemilik rumah sakit ini" Kibum cemberut mencibir "Hei, ini sudah jam 6 petang. Bukanya kau harus kerja sejak jam 4 tadi?" tanya Kibum heboh "ayo pulang"
Dan Siwon tidak bersuara ketika Kibum menyeretnya keluar dari rumah sakit. Ia bahkan tidak mengatakan bahwa sudah menelpon cafe tempatnya bekerja untuk ijin tidak masuk.
.
Malam masih ramai dengan latar lampu kendaraan.
"Maaf, tidak biasanya aku ambruk di depan orang lain" lirih Kibum. Jari tanganya menempel pada kaca bus
Siwon memandangi pantulan wajah Kibum di kaca bus. Masih belum mengerti apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang sosok itu.
"Tumor dan kerusakan pada hatiku" ucap Kibum masih menulisi embun di kaca "Hankyung hyung tidak memberitahumu kan?"
Siwon menggeleng "Bagaimana dengan Yoochun, Kyuhyun atau Donghae? Apa mereka tahu?"
Gantian Kibum yang menggeleng "Kau melupakan Changmin" candanya
"And you let me know" Siwon meluruskan pandangan pada tiang di belakang bangku supir "why?"
"Aku belum menemukan alasan yang cukup kuat" Kibum menggeleng "dan entah syukurnya atau sialnya, aku tidak pernah ambruk di depan kekasihku"
"Kau tidak sayang pada mereka? Em... salah satunya mungkin"
Kibum menerawang sekilas "Sayang. Tapi tidak, jika yang kau maksud lebih dari itu"
"Mereka tulus cinta padamu. Jelasnya Yoochun"
"Aku tahu diri Siwon ah" Kibum menunduk "mungkin bisa dibilang pengecut. Tapi aku tidak akan memulai sesuatu yang sudah kutahu seberapa pedih akhirnya"
"Mungkin itu alasanya kau tidak membiarkan mereka tahu"
Kibum tersenyum memandang Siwon "Seperti yang pernah kubilang. Aku main aman, tidak akan melibatkan hati"
Semoga
Siwon memandang Kibum lagi. Kaca di sebelah Kibum sudah dipenuhi coretan mirip gambar kebun binatang.
"Kenapa memandangiku terus?" tanya Kibum "jangan-jangan kau mulai tergoda olehku" Kibum tersenyum geli melirik Kibum
Siwon berdesis "Tidak akan" nyatanya Kibum masih tetap menyebalkan
Semoga
"Kau boleh menganggapku apapun, asal bukan kasihan" Kibum mengakhiri gambarnya, mengusap seluruhnya dengan telapak tangan.
휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색
.
Di pojok kantin kampus, seperti biasa, Siwon duduk di sana. Sendiri menikmati makan siang sambil mencuri waktu mengerjakan tugas. Tidak ada yang berniat duduk di meja yang sama denganya karena seluruh kampus tahu bahwa Choi Siwon tidak begitu menyenangkan diajak bicara.
Trak
Siwon mendongak, melihat Kibum duduk di hadapanya setelah meletakan nampan makan siangnya.
"Ada apa?"
"Ada telur gulung dan japchae. Kau mau?" jawab Kibum sambil membuka sumpit
Siwon mendengus "Maksudku kenapa kau ke sini?"
Tangan Kibum menunjuk area kantin "Penuh...gawat!" ia tiba-tiba merunduk menyembunyikan wajah di antara lengan "ada Zhoumi, padahal aku menunggu Donghae datang" bisiknya
Siwon kembali menyantap makan siangnya. Tidak peduli dengan kelakuan Kibum.
Jika saja sekarang Siwon bergembor bahwa kemarin Kibum dirawat di rumah sakit, pasti ia akan ditertawakan. Karena pada kenyataanya Kibum sedang makan di hadapanya dengan menghindari kemungkinan dilihat kekasihnya yang lain.
"Jangan bilang Zhoumi aku di sini..." bisik Kibum. Siwon masih tidak bereaksi karena nyatanya Zhoumi sudah meninggalkan kantin
"Kibum ah..."
Kibum mendongak dan...
"auh!" ucapnya mengusap pucuk kepala karena terbentur sikut Donghae.
Siwon hampir saja tertawa jika kejadian selanjutnya Donghae tidak cukup cekatan menahan nampanya tidak menumpahi Kibum. Namun sayang tangan Donghae cukup cekatan. Setidaknya Kibum tidak ditumpahi jus melon milik Donghae.
Donghae menaruh nampan di meja "Maaf maaf. Tidak apa-apa?" ikut mengusap usap kepala Kibum
"Tidak apa-apa" Kibum tersenyum lalu menggeleng ringan. Ia menegakan tubuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling baru merasa lega tidak mendapati Zhoumi lagi di sana "Duduk sini..." ia menepuk tempat di sebelahnya, memberikan ruang untuk Donghae duduk
"Halo Siwon" sapa Donghae tapi hanya mendapat balasan dehem dari Siwon, membuatnya meneruskan makan
Kibum mendengus melihat kelakuan tetangganya ini "Kau mau telurku?" mengangkat sepotong telur dengan sumpit lalu Donghae membuka mulut
"aaa" Donghae membuka mulut lebar "ah iya" ia mengeluarkan sebuah kotak dari tas "untukmu. Kemarin ayahku baru pulang dari Austria" memberikan kotak itu pada Kibum
"Wuah... terima kasih" Kibum membukanya, ternyata berisi jam tangan yang kelihatan mewah "ini pasti mahal" ucapnya dengan nada menyesal
"Tidak semahal itu" jawab Donghae kembali menyuap makan siang
Siwon meringis. 'Tidak semahal itu' artinya tetap saja tidak bisa Kibum beli sendiri. Dan jika Siwon menginginkanya, entah harus berapa lama ia menabungkan semua penghasilanya.
Tes
Siwon melihat sepercik warna merah menodai nampan Kibum. Ia yang akan meraih air minumnya beralih ke wajah Kibum. Darah mengalir dari hidung Kibum.
"Kibu...m..." belum sempat Donghae menyelesaikan ucapanya, tangan Siwon sudah lebih dulu terulur menyebrang meja untuk menutup hidung Kibum dengan sapu tanganya
"Kau pasti begadang main game lagi..." Siwon bangkit dari bangku, berdiri di samping Kibum untuk menahan kepalanya
"Kau tidak apa-apa?" tanya Donghae khawatir
Kibum menggeleng dalam diam, jujur Siwon menekan hidungnya terlalu kencang. Tapi memang tidak ada pilihan lain karena ia tahu ini bukan mimisan biasa.
"Siwon ah, biar aku..." ucap Donghae menyiapkan sapu tanganya sendiri, menggantikan sapu tangan Siwon yang tadinya berwarna biru muda.
Siwon terkesiap seolah sadar akan posisi. Ia mundur kembali ke bangkunya, membereskan buku lalu bangkit "Aku duluan, ada kelas" ucapnya berlalu. Hatinya terasa diiris saat menggenggam sapu tanganya yang basah dan merah, padahal baru beberapa menit lalu ia menahan tawa akibat ulah orang yang sama.
.
"Siwon!"
Siwon menghentikan langkah, berbalik badan ke sumber suara "Oh, Yoochun ah..."
"Kibum?"
Siwon berpikir sejenak. Tadi saat ia meninggalkan kantin, Kibum sedang ngobrol (ditambah berpengangan tangan dan saling suap) dengan Donghae. Hal ini membuat Siwon bingung bagaimana harus menjawab.
"Samcheonnim..."
Siwon yang tadinya memikirkan alasan paling masuk akal malah tersenyum sinis "Masih hidup dia?"
Yoochun hanya tersenyum miris "Kudengar kau dan Kibum ada projek ya?" menarik pertanyaanya tadi
"Begitulah..." Siwon melihat Kibum berjalan mendekat sendirian "itu Kibum. Aku pulang dulu" ia berbalik meninggalkan mereka berdua
"Kita pulang bersama saja..." ucap Kibum saat Siwon membalikan badan
Siwon hanya mengangkat tangan tanpa menoleh pada keduanya.
"Sudah makan siang?" tanya Yoochun mengelus pucak kepala Kibum
"Belum... eh sudah" jawab Kibum tanpa mengalihkan pandangan dari punggung kokoh yang menjauh darinya
"Kita jalan-jalan dulu bagaimana?"
Barulah Kibum memandang wajah Yoochun "Jalan-jalan?"
"Malam ini aku berangkat ke Jepang. Mungkin untuk 4 hari" Yoochun merangkul Kibum untuk berjalan bersama "berarti selama seminggu tidak akan bertemu denganmu.
Kibum tersenyum. Entah karena perlakuan manis Yoochun atau nama Zhoumi terlintas di otaknya. Atau mungkin karena ia melihat punggung kokoh tadi berhenti, berjongkok untuk mengikat tali sepatu.
휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색
.
Memento cafe
"Siwon ah, berikan ini pada meja 6" Sungmin menyerahkan nampan berisi 1 cokelat milkshake, 1 mocca latte dan 2 wafel
"Kau saja" jawab Siwon begitu melirik meja 6. Kibum dan Zhoumi duduk di sana
Sungmin mengalah. Walaupun Siwon tidak pernah menyombongkan status sebagai sepupu Heechul, pemilik cafe ini tapi tetap saja ia seniornya dalam hal menjadi waiter di sini.
"Emm, itu... aku ingin mengajakmu ke acara salah satu temanku nanti malam" ucap Zhoumi yang bisa Siwon dengar jelas karena jarak mereka hanya dibatasi 2 meja
Kibum menggeleng lemah "Tidak bisa"
"Kenapa?"
"Aku ada pekerjaan sebenarnya sore ini" jawaban Kibum membuat Siwon ingin melemparnya dengan cangkir kotor yang sedang dipegang
"Part time maksudmu?" tanya Zhoumi lagi dan Kibum mengangguk
"Aku butuh tambahan untuk uang kuliah semester ini" jawab Kibum lirih
Siwon berdesis. Seingatnya, Kibum tidak punya pekerjaan part time bentuk apapun. ya, kecuali jika menguras kantong pria kaya dianggapnya sebagai pekerjaan.
"Ini pesananya" Siwon meletakan 2 avocado latte di atas meja
"Terima kasih Siwon ah" senyum lebar Kibum hanya dibalas tipis oleh Siwon yang kemudian melangkah ke pantry
Ponsel Kibum dalam saku bergetar, namun tidak langsung diangkatnya. Terlalu beresiko jika ia sedang bersama salah satu 'kekasihnya'
"Zhoumi ya, aku ke toilet dulu" ucap Kibum lalu bangkit. Benar dugaanya, nama Yoochun terpampang di layar ponselnya
"Yoochun ah?" sapa Kibum yang bisa didengar Siwon karena bukanya ke toilet, Kibum malah berdiri di samping pintu dapur
"..."
"Mengecek saldoku? Kau mentransfer uang lagi?" Siwon menggeleng-gelengkan kepala mendengar nada sok kaget Kibum. Harus diakui kehebatan aktingnya.
"..."
"Kan sudah pernah kubilang, aku tidak butuh itu..." Kibum berdecak, namun bibirnya tersenyum "yang kubutuh hanya kau"
Kali ini, Siwon ingin melempar lap yang sedang dipegangnya. Yoochun sedang ada bisnis di Jepang dan Kibum berkata membutuhkanya di saat sedang berflirting ria dengan Zhoumi di sini? Gila
"Hm, ya sudahlah" ucap Kibum sebelum menutup panggilan kemudian berbalik "Ya!" racaunya mengelus dada begitu melihat Siwon "kau mengagetkanku..."
"Hanya ingin mengingatkan, toilet di ujung kiri, bukan di sini..." Siwon menunjuk pintu bergambar khas toilet.
Kibum tersenyum meledek lalu kembali melangkah masuk cafe. Siwon tidak melepaskan pandangan dari punggung Kibum yang menjauh kemudian tiba-tiba berhenti. Terlihat jelas bagaimana tangan kiri Kibum meremas dadanya sambil bertumpu pada salah satu meja.
Siwon meninggalkan pekerjaanya mengelap cangkir, menghampiri tubuh Kibum.
"Kau tidak apa-apa?" Siwon menyangga Kibum yang hampir ambruk
"sst..." bisik Kibum, dagunya menunjuk punggung Zhoumi yang berjarak 3 meja "aku tidak apa-apa" walau napasnya tersengal
"Aku tidak yakin"
"Percayalah" Kibum meringis, menarik napas dalam lalu memaksakan berdiri "aku tidak pernah ambruk di hadapan mereka" tangan Siwon langsung ia tepis begitu melihat Zhoumi menoleh
"Kibum ah? Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Tadi kami bertabrakan karena aku sibuk melihat layar ponsel" Kibum mendudukan diri di tempatnya. Sedikit ringisanya tidak Zhoumi sadari, tapi membuat Siwon hampir mendekatinya jika saja Kibum tidak mencegah dengan sedikir gerakan tangan.
Detik itu, baru Siwon menyetujui ucapan Hankyung bahwa Kibum memang kuat. Detik itu juga, Siwon menyadari betapa cepat perubahan dirinya jika saat berada di dekat Kibum.
Kibum bagai matahari yang menciptakan terang namun sekejap meredupkan cahaya, membuat Siwon meraba sekitarnya.
.
Hampir jam 12 malam dan Siwon masih duduk lesehan di ruang tengah rumah Kibum. sepulang dari bekerja ia memang tidak langsung ke rumah, tapi rumah yang tidak berbeda jauh dengan rumahnya, jika masih bisa disebut rumah. Mereka tinggal di bangunan kecil di gang teratas daerah pinggiran Seoul.
Siwon masih mengamati sudut ruang, seharusnya ada beberapa barang mewah di rumah Kibum mengingat ia dulu orang kaya, belum lagi seberapa royal kekasih-kekasihnya. Namun pada akhirnya Siwon paham ke mana barang-barang itu berpindah.
"Tidak seharusnya kau makan ramyeon..."
Kibum memandangi Siwon sambil terus menyesapi ramyeon di mangkuknya "Ti..dak sammpai semingguu sekali"
"Kau bisa sakit Kibum ah..."
Kibum diam sejenak menelan isi mulutnya "I'm sick anyway" ucapnya sambil tersenyum
Siwon terkesiap dan Kibum menyadari perubahan itu.
Kibum bangkit membawa mangkuknya yang sudah kosong "Tapi aku sedang merasa begitu sehat Choi Siwon..." ucapnya sambil terkekeh
Mata Siwon terus mengamati Kibum yang meminum obat seperti makan kacang. Sebutir dilempar, sedangkan 3 butir lainya lolos lewat kerongkongan dalam sekali teguk.
Tugas mereka baru dikerjakan 10 menit lalu, namun Kibum harus beranjak ke dapur untuk meminum obatnya. Dan... Siwon maklum itu.
Siwon kembali mengedarkan pandangan. Sebuah foto di atas meja menarik perhatian Siwon. Kibum dan seorang gadis yang mirip denganya "Kau punya adik?"
Kibum meletakkan dua mug di meja lalu duduk lesehan lagi di samping Siwon "Yes i had" menegaskan bahwa ia hidup sendiri "mirip ya?"
Kibum terlalu pandai berakting. Menyesal Siwon menanyakan hal itu di saat ia tahu bahwa Kibum tidak punya siapa-siapa lagi.
"Akan sama persis jika kau mengenakan wig" gumam Siwon
Kibum tersenyum mengangguk "Kau sendiri?" Siwon mengerutkan kening "Yoochun bilang setidaknya kau bukan yatim piatu sepertiku" lanjut Kibum
"Anggap saja aku sama denganmu"
Kibum memasang kacamata, kembali beralih pada layar laptop. Paham Siwon tidak ingin membicarakan keluarganya.
"Sudah berapa lama sebenarnya?"
Kibum menatap Siwon bingung "Apa?"
"Sakitmu" Siwon menggapai mug yang Kibum bawakan "Hankyung hyung bilang bukan karena kecelakaan itu"
"Oh..." Kibum membenahi kacamatanya yang melorot "dulu selalu kuacuhkan. Tapi saat pemeriksaan setelah kecelakaan baru ketahuan bahwa ada yang tidak beres dengan hatiku, dan... makin parah"
Nada bicara Kibum memang santai tapi masih belum mampu membuat hati Siwon berhenti bergejolak .
Kibum menyesap susu coklatnya sambil melirik isi mug di hadapan Siwon "Kopi, selalu mengingatkanku hari pertama pindah ke sini"
"Kopi?"
"Untuk advertasi harus lebih menarik" Kibum menunjuk layar laptop, tanpa berniat menjawab pertanyaan Siwon.
Siwon menapakan telapak tangan pada keyboard laptop. Gerakan tanganya yang sedang mendesain logo terhenti saat Kibum menumpukan dagu pada meja kemudian matanya terpejam. Mata Siwon beralih pada alis hitam dan bulu mata panjang di balik kacamata itu. Ia bahkan bisa merasakan hembus napas Kibum menyapu punggung tanganya.
"Harum..." gumam Kibum
"Apanya?"
"Tanganmu. Aroma kopi" jawab Kibum
"Aku tadi menggiling biji kopi di cafe..."
Kibum menegakan punggung "Begitu juga saat pertama aku..." apa yang akan diucapkanya lenyap begitu saja saat menatap wajah Siwon
Hening
Mereka hanya saling pandang. Tak ada suara.
Bahasa mereka diam yang sudah bisa menceritakan semua.
휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색휘색
.
Siwon baru akan memasukan kunci ke lubang pintu saat terdengar suara sepatu mendekat.
"Baru pulang?"
Siwon tersenyum menyambut Yoochun "Kapan datang dari Jepang?" lalu kembali ke knop pintu yang agak susah diputar
"Tadi sore. Aku baru kembali dari tempat Kibum"
Jeda sedetik. Baru kemudian Siwon kembali berusaha membuka pintunya dan berhasil.
Seharusnya Siwon tidak terkejut dengan ucapan Yoochun. Ia mengunjungi Kibum, kekasihnya setelah beberapa hari tidak bertemu. Itu memang hal yang wajar. Seharusnya...
"Masuklah" Siwon lebih dulu melangkah ke dalam rumah
"Oleh-oleh untukmu" Yoochun meletakan sebuah kantong di atas meja yang hanya dilirik Siwon "teh hijau asli Jepang" ia lalu duduk di sofa
"Mau langsung kusajikan?" tawar Siwon sambil melepas seragam kerjanya
"Untuk apa aku disajikan barang yang kuberikan untukmu?" Yoochun terkekeh sambil menyandarkan punggung "bagaimana Kibum selama aku di Jepang?"
Siwon menuangkan air dalam gelas sambil berpikir. Haruskah ia katakan bahwa Kibum sangat senang karena bisa bebas dengan Zhoumi, Kyuhyun atau Donghae? Atau ia harus menceritakan tentang Kibum yang hampir ambruk di cafe?
"Yang kulihat ia selalu bergerak ke sana kemari" pada akhirnya itu jawaban Siwon.
"Mungkin karena itu dia terlihat kelelahan ya..." gumam Yoochun
"Maksudmu?" Siwon meletakan segelas air di meja
"Dia terlihat lemas dan agak pucat"
Deg
Rasa ini datang lagi. Ia khawatir setengah mati. Hari ini Siwon memang tidak bertemu dengan Kibum karena tidak ada kelas yang sama. Dan Siwon baru saja pulang dari cafe.
"Ia tidak apa-apa kan?" tanya Siwon
"Ia jawab 'tidak apa-apa' saat kutanya tadi"
"Tidak batuk-batuk kan?"
Yoochun memandang Siwon sekilas dan Siwon menyadari pandangan curiga itu.
"Sedang musim flu di daerah sini..." ucap Siwon
"Aku hanya merasa..." Yoochun menarik napas "aku sangat mencintainya Siwon ah. Tapi aku punya firasat. Entah bagaimana menjelaskanya, tapi semoga firasatku salah" lalu bangkit "sudah larut, aku pulang"
Siwon diam mengantar Yoochun ke pintu. Pikiranya tidak bersamanya, tapi sudah melompat 2 rumah di sana. Berharap semua baik-baik saja.
Yoochun berbalik "Kibum, dia... kutitipkan padamu jika terjadi sesuatu"
Siwon mengangguk.
Begitu Yoochun berlalu dan sudah tidak terlihat, Siwon buru-buru berlari menuruni tangga menghampiri pintu bercat abu-abu itu. Lampu dalam rumah sudah padam, tanda penghuninya sudah istirahat atau... Siwon tidak berani berasumsi kedua
Tok tok tok
"Kibum ah..." panggil Siwon
Tidak ada jawaban
Tok tok tok
"Kibum! kau baik-baik saja kan?"
Terdengar suara langkah diseret kemudian pintu terbuka.
"Ada apa?" wajah kusut Kibum muncul
"Kau tidak apa-apa?" tanya Siwon
Kibum menggeleng
"Yoochun bilang kau pucat" dan memang Kibum terlihat pucat
"Tidak sampai muntah atau pingsan Siwon ah..." Kibum menggeser badan, mempersilakan Siwon masuk "kau baru pulang dari cafe?"
Siwon mengikuti langkah Kibum "Tadi Yoochun mampir ke rumah"
Kibum berbalik menghadap Siwon "Pinjam tanganmu"
Siwon mengulurkan tangan, tersentak saat Kibum menempelkannya pada wajah lalu menghirupnya dengan mata terpejam. Siwon bisa melihat pucuk kepala Kibum dengan jelas. Dan perasaan itu makin berlipat, mengaduk-aduk dadanya tanpa ampun.
"Kopi..." gumam Kibum
Hanya telapak tangan yang dihirup, namun Siwon bisa merasa hatinya ikut tersedot oleh indra penciuman Kibum.
"Sudah larut Kibum ah" Siwon balik menggenggam tangan Kibum "aku pulang"
Langkah Siwon bergetar karena takut. Ia benar-benar takut membenarkan perasaan. Ia takut atas apa yang sedang menekan hatinya begitu kuat. Karena ia tahu tidak akan bisa melawan dan ia tahu seberapa pedih akhirnya.
.
.
TBC
makasih bagi yang udah komen... maaf gabisa bales. yang nulis lagi mabok.
NB : Jangan panggil aku author
