"Kafe yang bagus, ya." Dazai menyapa pelan. Dia menikmati ekspresi terkejut Fyodor kala menyadari keberadaannya. Tidak butuh waktu lama sampai para anak buah Ango mengepung mereka dengan seragam yang biasa digunakan untuk menjinakkan bom.

"Angkat tanganmu." Ango maju dengan borgol di tangannya, berniat memasangkan itu ke Fyodor.

"Tunggu, Ango, jangan menyentuhnya!" Dazai mendadak merasakan kengerian tak berdasar.

Peringatannya terlambat. Hari itu lagi-lagi dia melihat sahabatnya sesama pelanggan bar Lupin tergeletak di lantai berlumuran darah.

Jadi, antar chapter gak saling berhubungan kok.