Kingdom Hearts belongs to Square Enix

.

.

PIPIP

PIPIP

PIPIP

Cklak.

Jemari tirus Naminé dengan malas mematikan alarm di sebelah futonnya. Ingin rasanya ia mengubur kepalanya ke dalam bantal empuknya dan dibuai kembali oleh mimpinya. Tapi rasa tegang pada perutnya mencegahnya untuk kembali tidur.

Setidaknya ia tidak ingin telat pada hari pertamanya di SMA.

Dengan enggan ia melempar selimutnya dari tubuhnya. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah shoji menyambut tubuh kecilnya yang hanya terbalut piyama tipis. Dengan sedikit gemetar, ia beranjak keluar dari kamarnya, menyambar handuk putihnya dari jemuran, kemudian bergegas menuju kamar mandi.

Setelah merasa cukup membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk. Dengan rumah yang lapang dan hanya dihuni dua orang, ia tidak takut terintip orang. Dengan udara dingin yang mengancam, Ia berjingkrak cepat menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, ia dengan cepat membuka lemari bajunya, dan mengambil seragam sekolah yang telah disetrikakan neneknya kemarin.

Ia mengenakan atasan seragamnya yang terdiri atas kemeja putih polos, dan dengan cekatan mengancingkannya, menyisakan kancing paling atas terbuka. Kemudian ia memasukan tubuhnya ke dalam seragam rok biru kotak-kotaknya. Tentu saja seragam ukuran small itu dengan pas melekat pada tubuhnya.

Beberapa detik kedepannya dihabiskan dengan mengikat dasi biru kotak-kotak ke lehernya, dan berusaha menarik tinggi-tinggi kaos kaki hitamnya.

Setelah merasa cukup, ia pergi mematut dirinya di depan cermin di pojok kamarnya.

Ia terlihat...rapih.

Hanya rapih.

Naminé memutar bola matanya, aku tidak punya waktu untuk ini! Ia menyambar tas tangan vanillanya dari lantai dan menderap keluar dari kamar.

Di dapur, Nenek telah memasakkan sarapan untuk Naminé, dan sekarang tengah menyiapkan bekalnya.

"Selamat pagi." Naminé menyapanya seraya menghempaskan dirinya ke salah satu kursi meja makan, kemudian mulai memakan nasi karinya.

Setelah meraup sendok terakhir makanannya, Naminé mengirim piring kotornya ke dalam bak cucian, meminum segelas air kemudian melangkah menuju pintu depan.

"Naminé, ini bekalmu." Nenek menyodorkan bekalnya, yang terbungkus kain biru muda dengan rapih, selagi Naminé berjuang memasukan kedua kakinya ke dalam sepatu hitamnya, "Dimakan habis ya."

"Terima kasih nek!" Naminé bangkit untuk mengambilnya. Kemudian, dengan senyum, mengucap pamit kepada neneknya.

"Hati-hati di jalan, Naminé!"

Craak

Pintu dibuka lebar, memperlihatkan langit yang masih gelap. Cuping hidungnya menghirup dalam-dalam udara segar desa pinggir kota tersebut. Kemudian dengan satu hembusan nafas, kepulan uap hangat terbentuk di udara.

Naminé memaksakan senyum tipis, merasakan mukanya tertarik kaku.

Ini dia. Semangat Naminé!

Naminé melangkah ke samping rumah, kemudian kembali dengan sebuah sepeda biru tua dengan keranjang yang telah dipenuhi dengan tas dan kotak bekalnya di depannya. Cat sepeda tersebut sudah mengelupas dan rantainya sudah berkarat. Meskipun begitu, itu adalah sepeda favorit Naminé.

Ia menaikkan tubuhnya ke atas dudukan sepeda tersebut, ketika tiba-tiba terdengar gonggongan anjing dari belakangnya.

Hachi, Akita emas-putih milik nenek, terlihat berlari ke arahnya lewat jalan samping rumah. Lidahnya terjulur semangat, tiap langkahnya berdebum di bawah telapak kaki nya yang kuat. Gonggongannya terdengar seperti, 'Nami-chan! bawa aku, bawa aku! Aku juga ingin ikut jalan-jalan!'

Uh-oh!

Naminé segera mengayuh sepedanya kencang-kencang, langsung melesat meninggalkan halaman depan rumahnya menuju jalan kecil di depan. Tali rantai di leher Hachi mencegahnya untuk pergi terlalu jauh dari kediaman Misaki tersebut. Gonggongan kembali terdengar dari mulut Hachi, seolah mengiringi kepergiannya.

Bukannya tidak suka dengan Hachi, tapi Naminé hanya tidak dapat membayangkan dirinya terhempas ke tanah dan ditindih oleh akita terbesar yang pernah ia temui. Ia tidak dapat membayangkan menit-menit yang berharga harus terbuang demi melepaskan diri dari bawah tubuh Hachi. Hanya itu. Mungkin ia harus mengajaknya jalan-jalan sore sebagai permintaan maaf.

Rumahnya terletak di desa pinggir Twilight Town, berjarak lumayan jauh dari sekolahnya, Twilight High. Ia perlu mengayuh sepedanya selama 45 menit, sebelum memarkirkannya di pelataran setasiun kereta Sunset Station. Kemudian ia harus menaiki kereta yang melewati Central Station di Twilight Town. Setelah sampai Central Station pun, ia masih harus berjalan kaki sebelum akhirnya sampai di sekolahnya.

Perjalanan panjang menuntut ilmu itu harus Naminé rasakan, karena di desa sekitarnya tidak terdapat SMA yang cukup edukatif. Nenek bersikeras untuk memberikan pendidikan terbaik bagi Naminé. Dan Twilight High merupakan SMA terdekat yang memenuhi kriteria SMA unggulan, menurut nenek. Maka Naminé hanya dapat mengangguk kecil, mengikuti saja keputusan walinya.

Naminé melangkah keluar dari Central Station di Twilight Town dengan grogi. Akhirnya sampai juga ia di kota kecil tersebut. Tadi ia tidak kesulitan mendapatkan tempat duduk di kereta, karena saat itu hari masih teramat pagi. Tapi sekarang di Central Station, orang-orang mulai berdatangan. Stasiun sudah hidup. Naminé pun menuruni undakan luar stasiun, menuju sekolahnya.

x-x-x

Naminé berbaris dengan teman sekelasnya di gedung aula Twilight High, mengikuti upacara pembukaan tahun ajaran baru. Kepala sekolah mereka tengah menyampaikan pidato panjangnya, ketika rasa kantuk menyerang Naminé. Tangannya ia angkat dalam usaha untuk menutupi mulutnya yang menguap lebar. Sambil membayangkan selimut yang hangat di atas kasur di rumahnya, ia hanya ingin upacara ini cepat selesai...

x-x-x

Kelas berlangsung dengan lambat hari itu. Rasanya sudah sepuluh jam berlalu, ketika akhirnya bel istirahat berbunyi.

Ini dia. Waktu istirahat biasanya digunakan untuk membuat teman. Dan hingga detik ini Naminé belum berteman dengan siapapun di kelasnya. Ia duduk di pojok belakang kelas, sehingga dapat menatapi seisi kelasnya tanpa dipergoki. Tapi sejak awal masuk ke kelas ini, hatinya sudah kecewa.

Murid-murid perempuannya banyak yang sudah bergerombol dan berkumpul dalam kelompoknya sendiri. Naminé sudah setengah memperkirakan ini. Ia berpikir, pasti mereka berasal dari SMP yang sama. Sementara ia sendiri, tidak mengenal siapapun di sini. Sifat pemalunya memperburuk keadaannya yang sudah cukup buruk.

Ia beranjak dari kursinya sambil mengeluarkan bekalnya dari laci meja. Sepertinya menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah bukanlah hal yang terlalu buruk sekarang.

Ia melangkah melewati sekumpulan gadis yang tengah mengobrol sambil sesekali cekikikan. Mereka telah menyatukan beberapa meja agar dapat memakan bekal mereka bersama-sama. Tentu saja akan sangat canggung jika Naminé tiba-tiba datang dan meminta bergabung dalam kelompok mereka. Lagi pula mereka terlihat tidak peduli dengan dirinya.

Naminé melangkah keluar kelas, tanpa menyadari tatapan seorang gadis melekat padanya.

x-x-x

Jemarinya meraih kenop pintu tersebut, dan mendorongnya ke luar dengan susah payah. Seketika angin segar berhembus masuk lewat celah pintu yang terbuka, menyibakkan surai pirangnya ke belakang. Naminé tersenyum. Atap sekolah ternyata memang sama sekali bukan tempat yang buruk.

Ia memperhatikan sekelilingnya. Langit tanpa batas menaungi dirinya. Pagar kawat tipis mengelilingi atap tersebut. Mata birunya dapat melihat rumah-rumah dalam kejauhan. Semuanya terasa kecil dan ia terasa besar. Ia merasa terbebas dari keresahan untuk menemukan teman dalam hatinya. Tidak apa-apa, pikirnya, melewatkan seorang teman demi ini...

Ia memilih tempat untuknya duduk dan kemudian menyantap makanannya dalam diam.


Dazzling Flame di sinii,

Pertama-tama Flame ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada KuroMaki RoXora dan Hikari Shourai untuk reviewnyaa :D

Kedua, karena cerita ini berjalan lambat, jadi masih belum banyak konflik di chapter ini, jadi maafkan Flame kalau chapter ini terkesan datar ._.

Terakhir, habis baca jangan lupa kasih kritik, saran, pesan, dan kesannya yaaak, terima kasiih

Salam Dazzling Flame :3