A Prequel Fic from "Because of YOU"

Lost in Love
by.alwaysrisha

"Where are You? What are You doing now?."


Chapter 1 : First Meet

Musim Gugur, 2004

Angin musim gugur berhembus cukup kencang tahun ini. Menerbangkan cukup banyak benda mati cokelat kering dan tipis ringan yang bernama 'daun', menyapa trotoar pejalan kaki. Bunga-bunga pun kelihatannya layu dan tampak tak berdaya untuk mekar kembali. Suara patahan daun-daun yang terinjak oleh manusia tampak menjadi sebuah nada alunan yang menjadi ke-khas-an musim ini.

Meskipun begitu, orang-orang masih saja sibuk dengan urusan dunianya. Tak jauh beda dengan musim sebelumnya, musim semi. Terlihat tak peduli dengan panas terik sinar sang surya yang serasa menusuk dan membakar kulit secara bersamaan. Kota masih padat, seperti biasa. Bunyi klakson mobil dan dentuman kendaraan lain seakan berirama dan itu sudah biasa terjadi siang maupun malam hari.

Suara itu bahkan sampai terdengar oleh sang Gadis Kecil itu. Padahal rumahnya terletak di sebuah komplek perumahan elit yang sedikit agak jauh dari Pusat Kota. Suara itu terdengar samar-samar tak jelas.

Tapi rupanya kita harus berterimakasih pada suara itu. Karena hal itulah yang mampu menghidupkan suasana komplek perumahan elit ini menjadi tak sepi layaknya tanah kosong dengan beberapa bangunan kosong di dalamnya.

Asal tahu saja, hubungan satu keluarga dengan keluarga yang lain di komplek perumahan elit ini terkesan sangat canggung. Semua sibuk dengan urusannya, sampai-sampai tak ada waktu sama sekali untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Maklum, mereka adalah pejabat tinggi dan bangsawan ternama. Jadi mereka menyampingkan bersosialisasi dan membuat 'Pekerjaan' sebagai sebuah prioritas utama.

Kini Gadis itu tengah melamun di atas sebuah ayunan yang tak bergerak di tengah-tengah hamparan tanah hijau yang dihiasi taman bermain anak-anak, sepasang kursi panjang kayu yang bergagang besi berwarna cokelat senada, dan beberapa pohon yang salah satu diantaranya adalah pohon bunga sakura. Ya, tepatnya di sebuah Taman di depan rumahnya. Taman itu cukup luas, kira-kira ukurannya dua kali lapangan basket.

Daun pohon bunga sakura itu tertiup semeliwir angin, menimbulkan refleksi yang jelas. Daun itu mengikuti alur arah angin, melewati sang Gadis yang tengah menatap jauh ke arah langit sore. Warna langit terasa senja. Menguning, memerah dan menghitam dalam waktu yang bersamaan. Cahayanya cukup terang, terpancar keluar. Membuat daun bunga sakura berkilauan bak berlian, meskipun tak sekilau berlian.

Angin sore menerpa wajah mungilnya. Menerbangkan helai demi helai rambut cokelat kehitaman sebahu miliknya. Bulu mata yang cukup panjang dan bola mata yang berwarna cokelat muda kontras dan pupil hitam itu makin menambah kesan 'manis'.

Perlahan Gadis kecil itu mulai menikmati hembusan angin itu dan memejamkan matanya sembari melukiskan ukiran senyum terbaiknya. Sekarang, Ia benar-benar tampak seperti malaikat yang manis.

Semanis madu.
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat membuat Gadis kecil itu buyar lamunannya, reflek melirik ke arah sumber suara itu. Kini suara langkah kaki itu terganti dengan isak tangis seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengannya. Terlihat seorang anak laki-laki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Surai merah terlihat dari kejauhan.

Gadis kecil itu segera beranjak dari ayunannya, menghampiri anak itu sambil meremas ujung rok sebawah lutut berwarna peach berenda miliknya. Berpikir bahwa mungkin Ia bisa menolong anak yang kira-kira seusia dengannya, 6 tahun.

Tanpa disadari Gadis itu sudah duduk dengan manisnya tepat di sebelah anak laki-laki itu, menatap bingung anak itu. Dengan penuh keberanian Ia pun menepuk bahu kiri anak itu.

"Hey." Sapa Gadis kecil itu pada anak itu. Anak itu menoleh, seraya menyingkirkan kedua telapak tangannya dari wajahnya. Beberapa detik, waktu terasa berhenti ketika iris heterochrome itu bertemu dengan cokelat muda. Hanya angin sore yang berbicara kala itu.

"Apa ?." Timpalnya dingin. Terselip nada sedih di antara kalimatnya. Anak lelaki itu mengalihkan pandangannya, mengacuhkan wajah bingung yang ditampilkan oleh Gadis yang ada disampingnya.
Sang Gadis kecil tidak menyerah, untuk mengetahui apa yang terjadi dengan lawan bicaranya.

"Kamu kenapa?." Tatapan ingin tahu pun terpancar, sepasang mata cokelat muda itu berusaha melihat wajah lawan bicaranya. Semakin Gadis itu berusaha untuk melihat, semakin pula Anak itu menghindar.

"Kamu tidak perlu tahu ada apa denganku, karena itu bukan urusanmu." Timpalnya acuh. Gadis itu hampir kehabisan kata-kata untuk melawan Anak keras kepala yang satu ini. Pendiriannya saat ini tetap, Ia harus bisa mengetahui apa yang terjadi dan setidaknya Ia bisa membantu.

Mungkin.

"Aku harus tahu! Aku ini temanmu!." Ucap Gadis itu dengan lantang.

Kedua iris merah darah milik Anak laki-laki itu membulat sempurna. Bagaimana tidak? Gadis asing ini menganggapnya 'teman' padahal Ia sama sekali tidak mengenalnya. Yang Ia tahu adalah Gadis aneh ini datang dan duduk disebelahnya, kemudian memaksa untuk memberitahu tentang apa yang terjadi pada dirinya.

Sikapnya cukup aneh untuk seorang Gadis. Apa Ia tak punya rasa malu?

"Kamu pasti berpikir bahwa aku adalah Gadis aneh yang tak tahu malu, iya kan?."

DEG

Nafas anak laki-laki itu tercekat. Perlahan kedua bola mata heterochrome miliknya melirik ke samping, tepat dimana Gadis itu duduk sekarang. Sepersekian detik kemudian Ia terkejut, melihat pemandangan yang kini tepat ada di depan matanya. Gadis itu menundukkan wajahnya, mengalihkan pandangan yang sedari tadi terus melihatnya. Tangan kecilnya bergetar, sampai-sampai jelas terlihat.
Tatapannya berubah menjadi kosong melompong.
Seribu satu pertanyaan tertulis dan terukir di dalam pikirannya. Beberapa menit dilalui dengan keheningan total antara mereka. Tak ada yang mau berbicara duluan, bahkan tak tahu apa yang harus dibicarakan lagi. Hanya angin sore, suara jangkrik berbunyi dan ilalang bergoyang tertiup angin yang berusaha memecah keheningan.

"Ya. Itulah yang aku sedang pikirkan sekarang."

Gadis itu mengangkat kepalanya dan segera menoleh menuju Anak laki-laki itu. Tatapan bingung, tatapan itulah yang kini hanya bisa dibalas olehnya. Ia mengerenyit pelan ketika mengulang-ulang kalimat itu seperti film di dalam otaknya.

"Kau aneh. Tak punya rasa malu, dan Aku hanya menganggapmu sebagai Orang Asing." Tambah sang Anak laki-laki itu dengan sinis dan ekspresi datar. Mungkin Ia rasa ini jalan terbaik agar Gadis ini pergi jauh dari kehidupannya dan tidak mengganggunya lagi.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

"Hahahaha~ Kamu lucu sekali!." Tawa Gadis kecil itu menggema. Sang Gadis itu tidak bisa menahan tawanya, walaupun Ia sudah memegangi perutnya yang tiba-tiba merasakan geli ketika mendengarnya. Anak laki-laki itu larut dalam keheingan. Menarik alisnya dalam-dalam, dan tanda siku-siku mulai bermunculan di dahinya.

"Kamu menganggap aku aneh , tak punya rasa malu dan aku hanya dianggap orang asing bagimu. Agar aku tidak dianggap orang asing, aku akan memperkenalkan diriku!. Dan berjanjilah setelah ini kamu jangan menanggapku orang asing lagi, oke?." Celetuknya sambil menyodorkan tangan kanannya, mengajak bersalaman.

"Mizano okinara-desu! Kamu bisa panggil aku Nara~ Yoroshiku~!." Sambutan tangan kecil kini ada di depan matanya. Anak laki-laki itu diam, tak ada niat dan tidak tertarik untuk membalas sambutan tangan itu. Kini tangan itu hanya tergantung di depannya, mengeluarkan aura canggung diantara keduanya. Hingga akhirnya Gadis itu menarik tangannya kembali menuju tempat semula, dengan siku-siku tertanda di pelipisnya.

"Tak perlu jabat tangan." Sahut Anak laki-laki itu dingin. "Itu menjijikan."

Gadis itu mulai menggerutu terhadap sikap anak laki-laki yang satu ini. "Aku tak butuh dengan komentarmu~ Yok, sekarang cepat perkenalkan dirimu!."

"Aku tak mau, apa urusanmu?." Sahutnya datar. Sangat sangat sangat datar.
"Aku harus tahu namamu! Karena aku telah memperkenalkan diri, kamu juga harus!." Gadis itu membela dirinya, dengan memberi penekanan nada di kara 'Harus'. Ia seolah-olah tak peduli dengan apa ekspresi dan mimik muka yang ditampilkan lawan bicaranya saat ini.

Dia mencoba untuk tidak peduli.

"Cih." Remehnya. "Tidak ada yang bisa memaksaku untuk melakukan sesuatu, aku selalu benar dalam segala hal. Jangan pernah untuk menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang kamu kehendaki. Meskipun itu harus berhadapan dengan orang tuaku sendiri. Camkan itu, Gadis Asing!." Jari telunjuknya Ia gunakan untuk mengancam Gadis ini agar Ia mengerti tentang apa yang Ia ucapkan tadi. Tepat di depan matanya, sangat dekat.

Namun tak ada respon apapun yang keluar dari bibir sang Gadis.

Anak itu segera beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Gadis itu sendirian. Langkah demi langkah sudah Ia lewati, mencoba untuk semakin jauh dari jarak pandang Gadis itu. Ia tak peduli apakah Gadis itu akan mengejarnya atau tidak. Itu sama sekali bukan urusannya.

Setelah Ia tepat berada di samping sebuah Pohon Sakura, Ia berhenti melangkah. Sedetik kemudian tangan kecil itu menggenggam pergelangan tangan kirinya. Ia menyeringai, Ia sudah tahu sejak lama ini akan terjadi. Daun bunga sakura yang berwarna pink cerah itu menghujani mereka, lalu tertiup angin senja. Sebelah iris mata heterochrome itu melirik ke arah belakang, dengan tatapan tajam seperti biasa.

Ternyata Gadis itu lagi.

"Aku tak peduli dengan tanggapan dan opinimu tentang diriku! Yang jelas, beritahu aku namamu!."
Semakin lama genggaman itu semakin kencang. Anak laki-laki itu sudah mencoba untuk melonggarkan genggaman itu, tapi kali ini Ia tak bisa untuk melonggarkannya.

Gadis ini tampaknya serius

Dengan sekali hentakan, tangan mungil itu terlepas dari tangan anak laki-laki itu. Ia berdiri terdiam di depan Gadis itu, membelakanginya. Ia melirik lagi Gadis itu dengan sebelah matanya yang berwarna kuning.

"Seijuro Akashi." Ucapnya sambil langsung pergi melangkah menjauhi Gadis itu. Gadis itu terdiam menatap punggung Anak Lelaki itu yang semakin jauh dari pandangannya. Semakin jauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi bayangannya.

Gadis itu tersenyum simpul bersama dengan Angin senja yang menghampiri raganya. Ia menghembuskan nafas lega. Helai-helai rambut miliknya kembali tertiup angin, berkilauan terkena sinar senja. Mendongakkan kepalanya menghadap langit dan mengambil nafas lega.

Ia pun meninggalkan tempat itu. Taman ini akan selalu Ia ingat dalam hati maupun pikirannya.

Akhirnya aku mengetahui dirimu. Akhirnya aku dapat bertatap langsung denganmu. Akhirnya aku tahu bahwa kamulah yang berada di dekat jendela besar sambil bermain piano, Seijuro Akashi.

To Be Continue

Hola~ Author kembali lagi dengan fic aneh dan absurd ini! *tepuksebelahtangan Ini benar-benar chapter yang pendek pemirsahh #muncrat hanya dengan 1.500+ words pemirsahh #muncratlagi.
Author usahakan Chapter berikutnya akan lebih panjang lagi ya! Kekeke :D
Ohya, sebelumnya mohon maaf bila agak gaje, OOC Akashi dan Gak nyambung toh masih amatiran kekekeke :D *ditimpukgunting

Satu lagi.

Boleh minta sesuatu engga?

Boleh ya?

RnR please~!