"Taika Sayang ... ayo makan ..."

Sang istri terdiam. Bahkan tidak repot-repot menatapnya.

"Taika ..."

Masih diam.

Daiki menghela napas lelah. Semangkuk bubur di tangannya berubah sensasi. Awalnya rasa panas yang menjalar dari mangkuk itu nyaris membuat tangannya mati rasa. Tapi kini ia sudah tidak tahu apakah tangannya yang benar-benar mati rasa atau bubur itu sudah dingin sepenuhnya.

"Sayang ..."

Sesendok bubur kini mendekati bibir pucat sang istri.

"Ayo makan, Sayang ... Abang capek ..."

Istrinya tidak menjawab, tapi malah menundukkan kepalanya dan menelusupkannya ke sela sempit di antara lututnya.

"Taika ... Abang capek maksa kamu terus. Kamu harus makan."

Kepala istrinya makin hilang di balik helaian rambut kusam dan tulang lututnya.

Daiki kembali menghela napas. Sendok itu dikembalikannya ke mangkuk. Daiki lalu mengangkat segelas bening air dan mendekatkannya ke arah istrinya.

"Kalau nggak mau makan, ya udah. Abang aja yang makan buburnya. Tapi kamu minum, ya?"

Hening. Istrinya tidak bereaksi.

"Taika ..."

Daiki kembali mendekatkan gelas itu pada istrinya.

Ketika sensasi dingin nan licin menyentuh kulitnya, Taika mengeluarkan lengking jeritnya.

Suaranya menyakitkan telinga, hingga Daiki mundur dan menjatuhkan mangkuk dan gelas di tangannya.

"NGGAAAK! JAUHKAN! JAUHKAN ITU! JAUHKAAAN!"

Daiki langsung maju dan memeluk Taika demi menenangkannya, namun yang terjadi malah sebaliknya. Istrinya makin meronta, seolah sentuhan Daiki membakar kulitnya hingga ia harus lepas darinya.

"LEPAAAS!"

Daiki berusaha mengeratkan pelukannya, walau jeritan Taika terasa makin kentara di telinganya.

"Taika! Tenang! Ini Abang!"

"LEPAAAS! PERGII!"

Pertahanan Daiki runtuh ketika Taika menendang selangkangannya. Ia jatuh terduduk, sementara Taika langsung berlari menuju pintu kamar.

Dengan panik Taika berusaha membuka pintu itu, namun sia-sia. Pintu itu terkunci, dan Taika tidak melihat jendela atau celah apapun yang bisa ia gunakan untuk kabur dari ruangan itu.

"No no no no! Open up!" jerit Taika panik.

Tidak tahan lagi dengan jeritan istrinya, Daiki memaksa dirinya berdiri, lalu berjalan mendekati Taika.

Kali ini ia tidak memeluknya, melainkan memegang kedua pundaknya dan berkata tegas, "Taika! Sadar! Ini Abang!"

Perlawanan Taika mulai melemah. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Daiki dengan tampang tak percaya.

"A ... bang ..."

"Iya Taika. Ini Abang. Kamu kenal, kan?"

Taika tidak menjawab. Raut wajahnya tak berubah banyak, namun menunjukkan campuran ekspresi tak percaya dan ... ketakutan ... entah pada apa. Daiki tidak akan mampu memahaminya.

"A ... bang ..."

"Iya, ini Abang ... kamu ingat nama Abang, kan?"

"Bang ... Ao ..."

"Iya. Tapi sekarang Taika juga Aomine. Taika istri Bang Ao, kan? Ingat?"

Taika terdiam, dan itu menimbulkan rasa sakit yang amat sangat di dada Daiki.

"Istri ... Bang Ao ..."

"Iya, Sayangku ..."

Perlawanan Taika meluruh seutuhnya. Ia menjatuhkan dirinya ke pelukan Daiki dan menangis keras. Daiki pun demikian. Ia ingin memeluk istrinya sekuat yang ia bisa. Namun ia takut istrinya yang rapuh akan kembali pecah.

Taika dengan kondisinya yang sekarang adalah fragmen yang Daiki kumpulkan dua tahun lamanya. Ia tidak ingin fragmen itu kembali terurai. Karena jika itu kembali terjadi ... jujur saja, Daiki tidak tahu apakah ia akan bisa menyatukannya kembali atau bahkan sekedar menemukan pecahannya.


a/n

Yo. Ini Haru Sammi, yang pertama kali muncul di layar kaca!

Ya ya, HS tahu ini sudah chap ke-2-nya "Corner" dan chap ke-2-nya "The Samurai and The Geisha", tapi maaf, memang ini author's note pertama HS, karena sejak dulu HS nggak pernah bikin author's note. Tapi HS rasa nggak pernah ada kata terlambat untuk memulai, kan? ^^

"Corner" berawal dari khayal malam HS, jadi kalau memang agak vague, mohon diterima karena jujur saja ini tanpa kerangka -dan satu kejujuran lagi, bahwa HS hampir tidak pernah menulis cerita dengan kerangka yang pasti.

Tapi HS sudah siapkan konflik -yang udah muncul sejak awal, duh~ - dan fondasi untuk jalannya plot ini.


Buat suira seans, Akhsanti523, sgiariza, adechusna, almalma, izannisa, dan Kurary, claps for you karena kalian udah bikin HS menjerit kesenangan karena mendapat respon berupa ripyuw yang lumayan hanya dalam jangka waktu kurang dari sehari.

Nah, supaya kalian paham, ikuti saja kelanjutan cerita ini.

Ingatlah anutan Taiga di chap dua "The Samurai and The Geisha", yaitu "bahwa dengan munculnya suatu asumsi, maka akan muncul pertanyaan lain" ;p

Jangan terlalu yakin dengan asumsi kalian, karena takutnya sajian plot dari HS akan membuat kalian kecewa.

Kalau itu terjadi, apalah artinya HS yang sekedar memuaskan kalian saja tidak bisa? /tsah