"Ada banyak hal yang mempengaruhi sifat dan daya beli konsumen. Salah satunya-"
Di dalam ruangan yang berukuran luas itu, suara dosen dan marker yang berdecit tiap kali bertemu dengan permukaan whiteboard saling bersaing mendominasi telinga para mahasiswa yang menatap lurus ke depan. Banyak yang mencatat, banyak pula yang hanya mendengarkan tanpa mau repot-repot beradu cepat dengan perkataan sang pengajar yang seakan tiada habisnya, tapi ada beberapa yang memiliki pemikiran lebih canggih, menggunakan smart phone sebagai alat perekam.
Ruang kelas AOMG university biasanya memiliki interior mirip dengan gedung bioskop. Memiliki tingkatan seperti tangga yang memungkinkan setiap anak bisa memperhatikan penjelasan dosen semaksimal mungkin. Perbedaanya dengan ruangan bioskop, tentu saja ruang kelas lebih terang, didominasi dengan cat putih di dindingnya dan meja berwarna abu-abu muda.
Pada salah satu tempat duduk di barisan tengah, Lee Hi atau Hayi sibuk mencatat dengan fokus. Cukup banyak yang dikatakan dosen yang menurutnya penting, tapi malah tidak dituliskan di papan tulis. Jadi gadis satu itu mendengarkan ucapan sang pengajar terlebih dahulu, baru mencatatnya dengan rapi di buku tulis. Hayi menyiapkan beberapa ballpoint warna yang berbeda-beda agar mudah membedakan antara catatan yang satu dengan lainnya.
"Aspek lainnya yang mempengaruhi konsumen adalah promosi atau program penjualan. Misalnya saja-"
"Oh shit..." gumam Hayi lirih, dirinya terlalu terpaku dalam menulis tambahan catatan di sana-sini sehingga tidak begitu mendengar apa yang dikatakan dosen di depan barusan. Secara refleks Hayi menyikut lengan Bobby yang duduk tepat di sebelah kanannya. "Jiwon, Mr. Park tadi ngomong apa?" tanya Hayi cepat.
"Hah-?! Kau bilang apa tadi?" ucap Bobby tampak berjengit kaget dari kursinya.
Hayi menatap Bobby dengan wajah keheranan. Jadi selama awal kelas tadi Bobby tidak mendengarkan sama sekali? Terlihat sekali dari wajah temannya itu yang murung dan tatapannya yang menerawang, meski melihat ke depan, Hayi yakin betul Bobby sedang tidak memperhatikan dosen.
Begitu Hayi tidak menjawab pertanyaannya, ekspresi wajah Bobby kembali murung. Pemuda itu tidak mau susah-susah menutupi emosinya saat ini. Lagipula dirinya yakin Hayi bukan tipe-tipe yang wanita yang cerewet dan menanyainya ini-itu hanya karena penasaran. Benar dugaannya, Hayi kembali sibuk mencatat penjelasan dari dosen yang masih sibuk menerangkan panjang-lebar di depan kelas. Bobby menghela napas pendek, memainkan pena di tangannya dengan asal.
.
.
L
.
Marshmallow95 Prasent
.
Disclaimer: Semua yang terdapat pada cerita hanya fiksional belaka.
.
Rate: T for this chapter
.
Pairing: Double B – Bobby/BI
Side Seungyoon/BI
.
Warning: Don't like? Don't read! Don't bash the cast. Don't bash author.
.
Last Chapter Summary: Bobby tidak sengaja menolak Hanbin-teman sejak kecilnya ketika upacara kelulusan. Tiga tahun sudah berlalu semenjak kelulusan sekolah. Hanbin memiliki kekasih, sedangkan Bobby nyaman dengan menjalani hidup tanpa hubungan cinta. Namun, Apa yang selanjutnya dilakukan Bobby ketika mengetahui bahwa kekasih Hanbin ternyata melakukan kekerasan pada sahabatnya itu?
.
Enjoy Yourself~
.
AOMG university merupakan kampus terkenal di Seoul bukan hanya karena kualitas pendidikannya yang bagus. Fasilitas dan akomodasi dalam bidang lainnya juga patut diacungi falkultas memiliki gedung, perpustakaan, lab, kantin dan taman sendiri. Sehingga tiap jurusannya memiliki letak yang agak berjauhan.
Taman jurusan komunikasi bisnis adalah yang kedua terbesar setelah taman yang ada di falkultas kesehatan. Taman ini bisa dibilang menakjubkan apabila dibandingkan dengan taman yang ada di universitas lain. Terdapat meja dan kursi yang terbuat dari bahan metal untuk para mahasiswa yang memilih mengerjakan tugas di luar ruangan, terdapat pula kursi dan meja kayu yang biasa digunakan untuk yang tidak kebagian kursi-meja di kantin.
Rerumputan dan tanaman-tanaman dirawat dengan baik oleh tukang kebun, selalu disirami sehari dua kali agar terjaga tetap segar. Beberapa pohon tumbuh lebat di dekat meja dan kursi taman untuk membuat para pengunjungnya merasa sejuk. Pada salah satu kursi yang agak menjauh dari segerombolan mahasiswa yang sedang mengobrol keras-keras, Bobby menyandarkan punggungnya. Dia menghela napas cukup keras, berusaha melepaskan beban yang dari tadi mengganggu benak pikirannya.
Bagaimana kabar Hanbin? Sudah seminggu ini sahabatnya itu tidak membalas telpon atau pun pesannya. Bobby ingin sekali pergi menuju apartemen Hanbin dan menghajar kekasih sahabatnya itu. Namun Bobby sangat hafal dengan sikap Hanbin apabila dirinya menonjok Kang Sungyoon habis-habisan, sahabatnya akan marah besar setelah itu dirinya akan masuk blacklist di kontak handphone Hanbin selamanya. Intinya, masalah tidak akan selesai hanya dengan menonjok wajah Sungyoon. Bobby mengacak-acak rambutnya dengan jeritan frustasi.
"AH!"
Bobby menjerit lagi, tapi kali ini bukan karena jengkel atau frustasi, tapi karena kaget. Sebuah benda dingin menyentuh tengkuknya dari belakang. Si pelaku tertawa kecil melihat tingkah Bobby yang terkaget-kaget dengan ulahnya.
"Nih, mangkanya jangan melamun." Ucap Hayi sambil memberikan cola dingin pada Bobby, masih dengan senyuman geli di wajahnya. Pemuda itu cemberut, tapi tetap mengambil cola yang disodorkan padanya tanpa berucap apa-apa. Hayi duduk di sebelah Bobby tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, dirinya tau bahwa Bobby tidak akan keberatan.
"Biar kutebak..." ucap wanita itu memecah keheningan saat Bobby masih sibuk menegak cola-nya sambil memerhatikan langit yang bersih tanpa awan. "Masalah sama Hanbin, atau tentang Hanbin?" lanjutnya lancar tanpa ragu.
Bobby terkejut, tapi sekaligus juga tidak terkejut. Dirinya terkejut karena ungkapan Hayi itu memang benar adanya. Namun Bobby tidak menyangka semudah itukah dirinya ditebak oleh Hayi? Atau wanita itu memang memiliki indra keenam karena bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Bobby. Hayi harusnya masuk jurusan psikologi dan menjadi psikiater.
"Ah!" Hayi menepuk tangan dengan cepat ketika melihat Bobby masih saja murung, bahkan setelah dirinya sudah berusaha menghibur temannya itu. "Aku punya kenalan di jurusan accounting yang tanya tentang kamu. Mau nggak kamu jalan sama dia?"
Bobby menoleh, menatap Hayi dengan malas. "Kau tau aku saat ini sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapa-siapa."
Hayi cemberut, "Ayolaaaahhhh~" ucapnya sambil menarik-narik lengan baju Bobby. "Sehui terus-terusan menanyakan kontakmu melalui aku. Kalau kau mau jalan dengannya kau akan sangat membantuku." Lanjut Hayi masih dengan nada memohon.
Sebenarnya cukup banyak teman-teman Hayi yang menanyakan mengenai Bobby. Ada yang menitipkan kotak makanan untuk Bobby, ada yang menanyakan ID Line atau Kakao nya, ada juga yang terang-terangan minta foto Bobby. Terkadang dirinya sampai pusing mencari-cari alasan untuk menolak permintaan teman-temannya.
"Lagipula kalau kau tidak menyukainya, kau tolak saja dia. Biar dia juga tidak menggangguku terus!" ucap Hayi masih berusaha memohon pada Bobby dengan wajah memelas. Mengeleminasi salah satu fan berat Bobby bisa cukup meringankan sedikit beban Hayi. Lagipula apabila wanita secantik Sehui nantinya ditolak oleh Bobby, dan berita mengenai hal ini menyebar luas, pasti akan banyak fans Bobby yang mundur untuk membuntuti Hayi.
Bobby berpikir sejenak, melihat Hayi yang masih memasang wajah memelas memohon padanya. Kalau dipikir-pikir dirinya sudah beberapa bulan tidak berinteraksi dengan wanita manapun. Ditambah lagi dirinya kini benar-benar membutuhkan sesuatu untuk menghibur diri. Setelah beberapa lama menimbang-nimbang Bobby menghela napas, "Awas kalau yeoja ini berisik dan cerewet."
Hayi menepuk punggung Bobby cukup keras sambil tersenyum lebar, "Nah itu baru namanya semangat. Kau bisa memegang kata-kataku kali ini. Sebentar..." Hayi merogoh tas nya, kemudian memberikan secarik kertas pada Bobby, "Itu tiket diskon 50% Seoul Grand Park. Aku dapat dari pusat perbelanjaan. Pakailah."
Bobby menatap Hayi dengan mata yang memancarkan ucapan sekaligus terimakasih yang dibuat-buat. "Terimakasih untuk kebaikan dan kerendahan hatimu Lee Hayi~"
Hayi tertawa keras kemudian memukul punggung Bobby dengan kasar, "Sialan. Jangan memasang tampang seperti itu! Menyebalkan tau!" ucap Hayi masih di sela dengan tawa renyah. Beberapa orang sampai memalingkan muka untuk mendengarkan tawa yang membahana itu, tapi Hayi sepertinya tidak peduli sama sekali mengenai apa yang orang pikirkan mengenai dirinya.
Bobby hanya geleng-geleng kepala terheran-heran dengan tingkah temannya itu. Bobby jadi heran apa ada pria yang mau menjadi kekasih Hayi.
.
.
.
Hari Sabtu datang dengan cepat. Bobby yang hanya bermalas-malas didepan televisi menghabiskan waktu dengan menekan tombol remote televisi, mengganti chanel demi chanel. Sudah merasa bosan, Bobby memeriksa handphone-nya untuk memeriksa jam (sekaligus memeriksa untuk yang sekian kalinya apakah Hanbin sudah membalas pesan darinya). Sudah waktunya untuk bersiap-siap bertemu dengan yeoja – siapa pun namanya itu – teman Hayi di Seoul Grand Park.
Bobby menyambar pakaian apa pun yang pertama dilihatnya dari lemari. Memakainya dengan cepat dan membubuhkan sedikit semprotan colonge di pakaiannya. Pilihan asal tanpa pikir panjang itu jatuh pada ripped Jeans, hoodie supreme, dan Snapback Adidas. Bobby tidak merapikan rambut secara khusus, hanya menyisirnya ke belakang kemudian ditutupi dengan sempurna oleh snapback yang digunakan secara terbalik.
Setelah mengenakan salah satu sepatu Nike airjordan yang biasa dikenakannya dikenakannya di kampus, Bobby melangkah keluar menuju apartement dengan santai, mematikan lampu dan mengunci pintu. Dirinya berjalan dengan santai menuju stasiun subway yang tidak jauh dari apartemennya.
Tidak sedikitpun dirinya berpikir bahwa hari ini dirinya akan berkencan dengan seorang wanita. Yang selama ini ada di benaknya adalah dirinya membutuhkan refreshing dan wanita yang akan ditemuinya ini hanyalah seorang teman yang menemaninya hari ini. Tidak lebih. Tidak ada bayangan mengenai kencan romantis ataupun kelanjutan hubungan dengan yang akan ditemuinya nanti.
Brengsek?
Iya, dirinya memang sudah di-tempeli tittle itu oleh para mantan kekasihnya semenjak dulu. Jadi dirinya tidak akan repot-repot berusaha merubahnya. Namun selama ini Bobby sudah berusaha memutuskan atau menolak semua wanita dengan cara baik-baik. Tetap saja ada yang membenci dan mencaci-maki dirinya. Bobby tidak bisa membuat atau memaksa semua orang untuk senang kan?
Sepuluh menit berjalan kaki, dirinya sudah memasuki area stasiun subway. Tidak banyak orang yang berpergian pada hari Sabtu terutama pada jam 10 pagi begini. Jadi Bobby bisa memilih tempat duduk dengan santai tanpa harus berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Tidak seperti pada hari-hari kerja yang biasanya dirinya harus berusaha sekuat tenaga tidak tergencet antara pintu dengan penumpang yang lain.
Bobby merogoh sakunya, mengeluarkan earphone kemudian memasanya pada Samsung Galaxy S6 Edge miliknya. Mencari-cari lagu yang sudah tertimbun jauh dari daftar playlistnya yang biasa diputarnya. Pilihannya jatuh pada salah satu lagu lagu milik Jeff Bernat – Be The One.
Intro lagu mengalun dengan indah dan menenangkan, mengingatkannya pada masa lama yang menyenangkan. Tanpa sadar mata Bobby terpejam dan bibirnya mengalunkan lirik lagu yang telah dihapalnya di luar kepala.
"From the day that you arrived.
I had no idea you'd be my life.
But When I looked into your eyes.
I know someday, you'd be my life."
Bobby menyanyikan lagu itu pelan dengan penuh kosentrasi seakan dirinya sudah tersedot masuk ke dalam lirik lagu yang dinyanyikannya. Kepalanya mengangguk pelan sedangkan sepatunya mengetuk lantai subway mengikuti irama.
"I know there's times when I am wrong
And you know there's times
When I am right.
Just as long as we both give it all we can
And for both to see that we try."
.
.
.
"You took my heart so unexpectedly
Who knew that you would be the one?
But I always knew that there was someting special about you
From the day you walked into my life."
"Bobby! Kau mendengarku?"
"Wahhh!" Bobby berjengit kaget saat Hanbin mencabut earphone nya tiba-tiba. Dirinya sama sekali tidak menyadari kehadiran temannya itu dari belakang.
Busan, 2012
(5 years Ago)
Hanbin mengintip layar handphone Bobby, melihat lagu yang didengarkan Bobby saat itu. "Wah, Jeff Bernat! Aku juga mendengarkannya di MelOn beberapa hari yang lalu." Ucap Hanbin bersemangat.
Bobby sama sekali tidak menyangka bahwa Hanbin akan memergokinya membolos jam pelajaran. Hanbin biasanya lebih memilih tetap tinggal di kelas hingga pelajaran usai atau jam makan siang, kemudian mencari Bobby untuk pulang atau makan bersama. Karena itulah Bobby cukup terkejut ketika sahabatnya itu ikut melanggar peraturan.
Meski bukan lagi rahasia di antara keduanya bahwa Bobby sering membolos dengan bermalas-malasan di atap sekolah. Kebiasaan Bobby yang sering membolos pelajaran sudah ada sejak masih tahun pertama sekolah, tapi dulu dirinya akan tidur di salah satu lorong perpustakaan yang sepi atau di UKS meski guru penjaga UKS dan perpustakaan sering menatap Bobby dengan pandangan curiga. Ketika tahun kedua, dirinya bisa memiliki kunci atap sekolah dengan cara menyelinap diam-diam di ruang OSIS dan menggandakannya tanpa ketahuan.
"Sedang apa kau disini, Hanbin? Bukannya sekarang masih jam pelajaran?" tanya Bobby heran, kembali mengenakan earphone untuk mendengarkan lagu yang terputar di mp3-nya, tapi tentu saja dengan mengecilkan volume agar dapat mendengar perkataan Hanbin.
"Aku melihatmu keluar kelas, tapi sudah tiga puluh menit kau tidak kembali juga. Jadi aku menyusulmu." Ucap Hanbin sambil duduk di sebelah Bobby. Dirinya menatap langit yang cerah berawan membuat sinar matahari siang itu tidak begitu panas. Berbeda dengan Bobby yang menyandarkan badannya pada dinding, Hanbin memilih untuk mebaringkan tubuhnya sepenuhnya pada lantai. Dia memejamkan matanya, merasakan angin sepoi-sepoi yang sejuk menggelitiki wajahnya dengan lembut.
Bobby melirik sahabatnya yang sedang berbaring santai, terlihat diam sejenak berpikir, kemudian mulai melepaskan kancingnya satu demi satu. Bobby mengenakan kaus di balik seragamnya sehingga urusan besar membuka kemeja sekolahnya. Dirinya melipat dengan rapi kemejanya kemudian memberikannya pada Hanbin.
"Tanganmu bisa capek kalau kau tidur begitu. Pakai kemejaku sebagai bantalmu." Ucap Bobby menyodorkan kemejanya di depan muka Hanbin.
"Eh, nanti kemejamu kusut!" tolak Hanbin buru-buru.
"Tidak masalah. Pakai saja!" Bobby masih memaksa.
"Tapi nanti-"
"Pakai!"
"Iya! Iya!" Hanbin menerima kemeja seragam Bobby dan menggunakannya sebagai bantal. Bobby tersenyum puas melihat sahabsatnya itu akhirnya menyerah juga untuk tidak keras kepala. Hanbin membalikkan badan yang tadinya terlentang menjadi menghadap Bobby.
"Kau tau..." ucap Hanbin pelan. "Seragam mu bau keringat." Lanjutnya sambil tertawa. Bobby meninju lengan Hanbin tentu saja tidak terlalu keras menunjukan rasa kesalnya. Namun dirinya tidak dapat menahan senyum juga pada akhirnya dan ikut tertawa bersama Hanbin.
.
Ketika bel jam makan siang sudah berdentang memekakan telinga, Hanbin dan Bobby memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil bekal kemudian memakannya bersama-sama di taman sekolah. Hanbin tidak menyukai kantin yang ramai, jadi lebih memilih makan di taman yang cenderung lebih sepi. Bobby sendiri tidak masalah dengan makan di kantin atau di taman.
Keduanya duduk di salah satu bangku yang tersedia. Meja dan bangku yang ada di taman biasanya digunakan oleh para siswa lain untuk berkumpul ketika jam pulang sekolah. Namun saat jam makan siang, lokasi ini kurang populer karena letaknya yang cukup jauh dari kantin. Hanya ada segelintir siswa angkatan ketiga di sana yang sedang mengobrol sambil melahap roti isi daging ditangannya.
Hanbin mengeluarkan bekalnya, Bobby sendiri sudah membawa bekal yang disiapkan oleh bibinya. Hari ini Hanbin tidak sempat membuatkan bekal untuk Bobby karena harus datang lebih pagi untuk piket kelas. Bobby agak sebal sebenarnya, tapi sudah terbayar lunas dengan Hanbin membawa bekal yang sedikit lebih banyak agar Bobby bisa ikut makan sedikit.
Bekal yang hari itu dibawa Hanbin adalah nakji bokkeum gurita yang dimasak dengan beberapa jenis potongan sayur dan disiram menggunakan saus cabai yang pedas. Di sisi lain, Bobby membawa bekal japchae bihun yang dimasak terlebih dahulu dengan soy sauce ditambah dengan potongan daging babi tipis-tipis dan wortel dan lobak yang dipotong menajang. Keduanya membuka tutup bekalnya dan menyisihkan sebagian porsi untuk dimakan bersama.
"Permisi..."
Suara itu membuat keduanya menghentikan kegiatannya masing-masing dan melihat kearah sumber suara. Seorang yeoja berparas manis berdiri di hadapan mereka sambil membawa bekal di tangan. Hanbin dan Bobby mengenal gadis ini, Ji Hayun adalah teman sekelas mereka. Hayun terkenal karena kecantikannya dan populer di kalangan murid pria di kelas karena mudah bergaul dan diajak mengobrol.
"Boleh aku bergabung?" ucap Hayun sambil menunjukan bekal di tangannya dan sekantung pelastik berisi minuman ringan.
Sudah beberapa kali ini Hayun bergabung dengan keduanya saat makan siang. Semua bermula ketika Hayun harus membantu seonsaengnim dan berakibat dirinya menuju ke kantin pada waktu kantin sangat ramai sehingga gadis itu tidak mendapatkan tempat duduk. Hayun kemudian mencari tempat lain untuk makan siang dan saat itulah pertama kali Hayun bergabung dengan Bobby dan Hanbin. Sejak saat itu Hayun tidak hanya bergabung saat makan siang, tapi terkadang juga ikut mengobrol dengan Hanbin dan Bobby di kelas.
"Silahkan saja." Jawab Hanbin membalas senyuman Hayun. Bobby mengangguk ikut-ikutan saja.
Hayun duduk di depan sehingga saling berhadapan dengan Hanbin dan Bobby yang posisinya bersebelahan. Gadis itu tersenyum berterimakasih karena keramahan keduanya. Hayun membuka kotak bekalnya yang berisi kimbab, menyodorkannya pada Hanbin dan Bobby. Namun belum sempat Hayun membuka mulut untuk menawarkan bekalnya...
"Jiwon! Makan sayurnya juga!" omel Hanbin sambil memukul punggung Bobby lumayan keras.
Bobby nyaris saja tersedak, tapi dirinya cepat mengendalikan diri dan kembali mengunyah makanannya, "Hiyaaa, berisshhik! (Iyaaa, berisik!)"
"Pfftt! Hahahaha! Aku tidak tahu kalau kalau Hanbin bisa jadi umma-nya Bobby" Ucap Hayun masih disela tawanya.
"Yah, sebenarnya kami berdua teman sejak kecil dan tetangga." Jawab Hanbin di sela mengunyah makanannya pelan. Selama ini ketiganya hanya mengobrol hal-hal ringan seputar pelajaran dan hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.
"Ahh! Begitu? Pantas saja!" ujar balas Hayun sambil mengangguk-angguk paham. "Oh iya, tadi aku sempat melihatmu beli minum di kantin Hanbin-ah. Mangkanya aku ikut kemari." Tambahnya menjelaskan.
Bobby mengangkat alis heran.
Hanbin-ah?
Jarang ada orang yang tidak begitu mengenal Hanbin langsung bersikap akrab dengannya, Hayun selama ini memanggil Hanbin dengan "Hanbin-ssi". Jadi Bobby sedikit heran dengan sahabatnya yang hanya mengangguk-angguk paham sambil melanjutkan memakan bekal makan siangnya. Hanbin dan Hayun mengobrol seolah Bobby tidak berada di sana. Bobby sendiri memakan bekal tanpa berusaha mendengarkan atau ikut bergabung dalam obrolan sama sekali.
"umm, Bobby-ah. Kau bergabung dengan klub basket kan?" ucap Hayun berusaha mengajak Bobby ikut membaur dalam obrolan ringan keduanya.
"Hm.. Hm..." Jawab Bobby seadanya, lebih memfokuskan diri mengunyah nakji bokkeum daripada menjawab pertanyaan Hayun. Gadis itu nampak sama sekali tidak tersinggung atau kesal dengan sikap Bobby yang acuh. Sebenarnya sikap Bobby memang seperti itu pada semua wanita dan dia tidak pernah ambil pusing mengenai sikapnya selama ini.
"Ah... Aku ada teman yang ikut klub basket dan katanya kau lumayan jago." Hayun kembali berusaha melanjutkan pembicaraan dengan Bobby. Makan siang hari itu terasa berlalu agak lama. Ketiganya (walaupun Bobby hanya beberapa kali membuka mulutnya untuk bersuara), mengobrol selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali menuju kelas bersama-sama.
Ketika pulang, Bobby dan Hanbin kembali menggunakan bus karena ingin mampir terlebih dahulu untuk membeli makanan kecil di Seven-Elleven. Keduanya mengobrol santai di perjalanan sambil menunjukan gambar-gambar lucu yang keduanya temukan di forum internet. Hanbin dan Bobby memiliki selera musik yang sama, sehingga mereka saling menunjukan video cover lagu yang masing-masing mereka temukan di youtube dan mendiskusikannya bersama-sama.
Saat sudah sampai di mini market tersebut, Bobby membeli banyak makanan kecil seperti Pringles dan seaweed. Hanbin sendiri mengambil dua cup mie instan rasa seafood pedas untuk dirinya sedangkan rasa beef soup untuk Bobby dan satu cup kecil chicken pop. Hanbin mengisi dua cup mie yang dibelinya dengan air panas yang tersedia kemudian membawanya menuju kasir. Usai membayar di kasir, keduanya menempati dengan nyaman di kursi dan meja yang sudah disediakan pihak minimarket.
Bobby membantu Hanbin membawa bawaannya dan meletakan makanan yang dibeli keduanya di atas meja. Ketika semua barang sudah diletakan, Bobby membuka kemasan sea weed, memotong tiap lembarnya menjadi dua, kemudian memasukannya pada cup mie yang dibeli Hanbin untuknya. Bobby memberikan separuh sea weed nya untuk sahabatnya itu.
Baik Bobby maupun Hanbin memakan makanannya dengan lahap, sesekali keduanya saling mencicipi mie milik yang lain sambil mengobrol mengenai apa yang akan mereka lakukan pada akhir pekan.
"Hanbin."
Tadinya Hanbin menunduk untuk melahap mie miliknya kini mendongak melihat Bobby saat namanya disebut.
"Kau..." Bobby menutup bibirnya sesaat, berusaha mencari kata-kata yang tepat, baru melanjutkan perkataannya. "Bagaimana menurutmu mengenai Hayun?'
Hanbin nampak terkejut. Selama beberapa detik mata sahabatnya itu membulat, tapi dengan cepat Hanbin kembali memasang ekspresi wajahnya yang biasa. "Kenapa? Kau suka Hayun?"
"Hah?" Bobby menelan mie instan yang barusan masih dikunyahnya. "Enggak, lah. Aku cuma mikir kalau Hayun menyukaimu." Lanjutnya. Hanbin diam selama beberapa saat, melihat Bobby masih mengunyah dan menyeduh mie nya.
"Aku rasa, Hayun nggak suka padaku." Balas Hanbin. Bobby melihat sahabatnya itu dengan dahi berkerut tanda bahwa dirinya tidak sependapat. "Aku rasa, dia suka kamu Jiwon."
Bobby menggeleng tidak percaya dengan ucapan Hanbin. Pembicaraan itu beralih dari Hayun ke gadis-gadis yang lainnya. Bobby selama ini tidak pernah melihat Hanbin memperhatikan atau berusaha menarik perhatian perempuan manapun di sekolah. Hal ini membuat Bobby penasaran. Apakah Hanbin lebih suka dengan wanita yang lebih dewasa?
"Apa yang akan kau lakukan kalau Hayun benar-benar 'menembak'mu?" tanya Hanbin sambil tersenyum kecil. Kembali ke pembicaraan pada topik awal.
Bobby berpikir sambil menopang dagunya, "tidak ada alasan untuk menolaknya, sih. Dia mudah diajak mengobrol, walaupun kadang cerewet. Badannya juga bagus." Jawab Bobby ringan tanpa pikir panjang. Hanbin mengangguk paham, sudah merupakan hal normal untuk seorang pria mempertimbangkan menarik-tidaknya seorang wanita dari tubuh dan penampilannya. Ketika cup mie keduanya sudah habis beberapa menit yang lalu, kini mereka beralih mengunyah keripik Pringles.
"Begitu kah? Berarti kau akan menerimanya?" tanya Hanbin karena Bobby masih memberikan jawaban yang mengambang. Suara gemelatuk saat memakan keripik kentang terdengar agak keras. Tidak perlu meributkan soal sopan-santun karena saat ini hanya ada mereka berdua di sana.
"Enggak, aku akan menolak Hayun."
"Hah? Kenapa?!" Hanbin bertanya dengan ekspresi kaget campur heran.
Bobby tersenyum lebar hingga matanya berbentuk seperti bulan sabit dan gigi kelincinya terlihat cukup jelas. "Kan aku punya kamu~" ucap Bobby dengan nada manja yang dibuat-buat. Setelah jawaban jahilnya, Bobby mendapatkan hadiah pukulan bertubi-tubi dari Hanbin.
"Sialan kau!" seru Hanbin keras. Namun, Bobby jelas tau kalau sahabatnya itu tertawa terpingkal-pingkal.
.
.
"Permisi."
!
Seoul, 2016
Current time
Bobby tersentak dari tempat duduknya, cukup terkejut melihat keadaan subway yang sudah mulai ramai. Orang yang memanggilnya tadi ternyata seorang pria tua yang meminta tolong Bobby untuk sedikit geser agar dia bisa duduk meski sedikit. Bobby tidak berpikir dua kali untuk berdiri dan menyerahkan jatah tempat duduknya pada pria tua yang terlihat kelelahan itu.
Bobby hanya tersenyum ramah ketika sang pria mengucapkan terimakasih dengan tulus padanya. Dia tidak keberatan sama sekali harus berdiri di dalam subway yang ramai. Lagipula dirinya sebentar lagi akan sampai di tempat tujuan. Pandangannya menuju ke arah jendela.
Akhir-akhir ini karena Hanbin tidak lagi menghubunginya membuat Bobby merasa frustasi dan banyak mengingat-ingat masa-masa SMA dulu ketika semua sedang baik-baik saja. Ketika Hanbin masih berbaikan dengan keluarganya. Ketika mereka berdua makan cup mie di seven-elleven atau bercanda di game center.
Namun pada akhir tahun kedua, apa yang dikatakan oleh Hanbin benar-benar menjadi kenyataan. Ketika dirinya, Hanbin, dan Hayun makan siang bersama, sahabatnya itu pergi sejenak untuk membeli minuman. Hayun awalnya mencoba mengajak Bobby pada obrolan ringan, tapi entah bagaimana gadis itu malah mengatakan bahwa dirinya memiliki perasaan suka pada Bobby. Seperti yang dikatakannya pada Hanbin, tidak ada alasan untuk menolak perasaan Hayun. Gadis itu cantik, menarik, dan mudah diajak mengobrol, Bobby tidak perlu susah-susah mencari topik pembicaraan atau semacamnya. Jadi dalam pernyataan cinta yang singkat itu, dirinya dan Hayun jadian.
Setelahnya, Hanbin kembali membawa minuman dingin di tangannya. Hayun mengatakan tentang hubungannya dengan Bobby, tentu saja dengan riang gembira. Hanbin tersenyum, memberikan minuman dingin yang dibelinya sebagai hadiah jadian Bobby dengan Hayun, Hanbin kemudian mengatakan harus mengatakan harus buru-buru mengembalikan buku teks yang dipinjamnya dari anak kelas sebelah. Hanbin kemudian berlari tanpa menoleh ke arah dirinya dan Hayun sama sekali.
"Perhatian pada para penumpang. Sebentar lagi akan mencapai setasiun Gwacheon."
Ucapan dari announcer subway membuyarkan Bobby dari lamunannya. Dirinya menghela napas karena apabila masalah Hanbin ini tidak segera terselesaikan, Bobby akan jadi gila, atau setidaknya Hanbin harus membalas telpon dan pesannya.
Bobby melepas earphone-nya, memasukannya secara asal ke dalam saku celananya yang longgar. Stasiun yang berikut adalah tempat pemberhentiannya menuju Seoul Grand Park.
Seoul Grand Park, ya... Benar-benar tipikal tempat kencan pertama. Pikir Bobby.
Seoul Grand Park adalah kebun binatang terlengkap se-Korea Selatan. Terdapat atraksi binatang dan taman bermain berwahana, bahkan ada musium dan gedung pameran yang selalu ramai. Dengan tempat yang begitu banyak fasilitas, tidak mungkin dirinya nanti bosan meskipun misalnya teman Hayi, si Sehui itu membosankan setengah mati.
Bobby mengirim e-mail pada Sehui, untuk menanyakan ciri-cirinya ketika dirinya sudah mendekati gerbang Seoul Grand Park. Bobby sempat menyesali keputusan buru-buru yang dilakukannya dengan menyetujui usulan Hayi. Sekarang dirinya jadi terjebak kencan buta dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya pada hari Sabtu di Seoul Grand Park. Sedikit memalukan karena Bobby merasa dirinya sudah bukan di umur mencari-cari wanita secara random melalui kencan buta. Namun bagaimana lagi, nasi sudah terlanjur basi. Jadi terima saja, sambil berharap bahwa teman Hayi tidak aneh atau membosankan.
Tidak lama setelah e-mail dikirim, Sehui membalas pesan dengan mengirimkan sebuah selca penampilannya hari itu. Kalau boleh dibilang, Bobby sangat bersyukur dengan pilihan Hayi mengenai wanita yang menjadi teman kencannya. Sehui sangat manis, bisa dipastikan penuh dengan aegyeo, memiliki rambut panjang berwarna cokelat, kulitnya sangat putih dan tubuhnya langsing. Hari itu Sehui mengenakan sweater berwarna abu-abu cerah dengan celana pendek berwarna cokelat dan boots sewarna. Casual, tidak berlebihan.
Bobby sudah mengetahui penampilan teman kencannya, jadi tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan gadis itu diantara sekian banyak orang yang ada di Seoul Grand Park. Sehui melambaikan tangan dengan tersenyum cerah, Bobby membalasnya dengan melambaikan tangan pula. Dirinya berjalan mendekat menujui sehui dengan santai.
"Halo, aku Shin Sehui." Ucap gadis itu malu-malu.
Bobby tersenyum ramah, "Halo, aku Kim Jiwon. Panggil aku Bobby saja, oke?"
"Aku senang sekali waktu Hayi-unnie mengatakan Bobby mau bertemu denganku."
Melihat Sehui yang nampak senang sekali karena bisa "jalan" dengannya hari itu membuat dirinya tidak tega bahwa sebenarnya Bobby hanya menginginkan hiburan untuk bersenang-senang saja tanpa ada embel-embel rencana hubungan yang lebih serius. Ya, Bobby tau kalau dirinya memang brengsek.
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam sekarang?"
"Ah iya." Sehui tertawa gugup, mengikuti langkah Bobby dari belakang dengan cepat.
Seperti yang Bobby prediksikan, Seoul Grand Park sangat ramai. Apalagi sekarang adalah hari libur, wajar saja kalau pengunjungnya lebih banyak dari hari biasa. Kebun binatang terbesar di Korea itu memiliki rute yang cukup banyak, hal ini untuk memudahkan pengunjung untuk memilih tempat yang akan dikunjungi.
Bobby menanyakan pada Sehui kemana gadis itu ingin kunjungi terlebih dahulu. Sehui milih untuk mengunjungi bagian binatang. Keduanya menikmati waktu bersama dengan mengobrol hal-hal ringan dan berkomentar mengenai binatang-binatang yang disiapkan oleh Seoul Grand Park. Keduanya tertawa saat melihat monyet-monyet dan orang utan, terkagum-kagum saat melihat singa dan kuda nil yang muncul dari dalam kubangan airnya.
Setelah melihat binatang, rute berikutnya menuju memberi makan hewan-hewan yang masih bayi. Bobby memotret sehui ketika menggendong anak singa yang masih berumur satu tahun. Bobby sendiri menggendeng anak orang utan dan berusaha meniru mimik wajah hewan tersebut, membuat Sehui dan si pawang hewan yang mengawasi menahan tawa karena geli.
Bobby sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya bisa rileks dan lumayan menikmati kencan buta ini. Namun tentu saja menikmati dalam arti Sehui sebetulnya sosok yang menyenangkan untuk dijadikan teman. Gadis itu memang malu-malu dan agak pasif, tapi sebenarnya dia memiliki sikap yang cukup peka dengan keadaan.
Biasanya wanita apabila kencan selalu memutuskan kemauannya sendiri, memaksa pria mengikuti keinginan si wanita. Namun, Sehui menunjukan sikap yang berbeda. Gadis itu menanyakan keinginan Bobby terlebih dahulu untuk memilih keduanya hendak kemana. Terlebih lagi, Sehui tidak berusaha ingin tahu mengenai kehidupan pribadinya, Bobby benar-benar bersyukur mengenai hal itu.
Hari semakin siang, pengunjung Seoul Grand Park semakin banyak dan ramai. Bobby perlu menunggu cukup lama untuk dapat membeli minuman dan makanan ringan untuk dirinya dan Sehui. Keduanya sudah berjalan-jalan cukup lama dan Bobby sudah mulai merasa harus mengganjal perutnya yang mulai terasa lapar. Sekarang belum sampai jam makan siang, jadi dirinya harus bersabar.
Sehui sendiri nampak senang dengan sikap ramah Bobby dan bersyukur karena dirinya memiliki harapan untuk kencan kedua kalinya. Meskipun sebenarnya dirinya salah besar karena Bobby tidak memiliki niat untuk serius sama sekali. Bobby kembali dengan membawa dua milkshake dan sebuah nachos, makanan ringan pengganjal perut yang bisa dimakan sambil berjalan santai.
"Mau kemana setelah ini?" tanya Bobby sambil membuka map kecil petunjuk arah Seoul Grand Park di tangannya.
Sehui melihat gambar-gambar yang tertera di dalam map sebentar, lalu menunjuk pada satu titik, "Bagaimana kalau kita ke pusat wahana?"
Bobby mengangguk setuju, "Boleh."
Perjalanan dari satu kategori area ke area yang lain tidak begitu jauh. Terdapat tanaman-tanaman semak hias yang teratur di antara kanan dan kiri jalan setapak yang digunakan pengunjung, selain semak terdapat pula kios-kios makanan ringan yang didesain menarik dipenuhi dengan gambar-gambar binatang. Anak-anak berlarian dan para orangtua sibuk berusaha agar buah hati mereka tidak menghilang di antara kerumunan orang asing. Sudah beberapa kali ada anak yang menabrak kaki atau tangan Bobby sejauh ini dan untung anak yang menabraknya itu tidak jatuh atau menangis.
Bobby dan Sehui memilih beberapa wahana yang akan dinaiki. Pertama adalah perahu angsa yang digunakan untuk mengitari danau buatan. Memang pemandangannya indah karena sambil menaiki perahu angsa, pengunjung dapat memberikan makan pada ikan atau melihat sekeliling danau. Hanya saja, perahu angsa itu lumayan berat dan ukuran danau buatannya sangat luas. Kaki Bobby agak kaku setelah keluar dari area wahana.
Wahana kedua yang mereka berdua pilih untuk nikmati adalah sebuah wahana anak-anak. Komedi putar. Bobby sebenarnya agak malu juga menaiki wahana itu, apalagi Seoul Grand Park lebih banyak pengunjung anak-anak dan keluarga daripada pengunjung pasangan kekasih. Namun, Bobby tidak tega menolak keinginan Sehui, jadi keduanya tetap naik wahana itu meski Bobby harus menahan malu.
"Boleh istirahat sebentar? Aku harus ke toilet." ucap Bobby ingin istirahat dan capek dalam artian sesungguhnya. Kakinya benar-benar bisa marah dan perotes apabila memiliki mulut sekarang. Ditambah lagi dirinya kebanyakan minum milkshake sehingga harus buang air kecil. Sehui mengangguk saja dengan tatapan bingung.
Bobby buru-buru menjauh dan mencari toilet terdekat. Karena peta yang menunjukan arah dan tempat-tempat di Seoul Grand Park dibawa oleh Sehui, dirinya jadi menebak-nebak jalan menuju ke toilet. Akhirnya setelah beberapa menit, Bobby menemukan toilet. Namun karena hari itu banyak sekali pengunjung, antrian toilet jadi begitu panjang. Dirinya memutuskan untuk mencari toilet lain.
Di dekat area wahana ada area gedung pameran dan musium yang lebih sepi peminat. Mungkin toilet di sana tdak memiliki banyak antrian. Begitulah pikir Bobby, jadi dengan asal dirinya mencari-cari jalan menuju toilet di area pameran. Dirinya melihat sekitar, menoleh ke kanan dan ke kiri karena tidak tahu arah.
Setelah berjalan beberapa saat, Bobby malah sampai ke area yang sepi. Tidak ada toilet. Dirinya melepas snapback lalu mengacak rambutnya kesal, kemudian kembali memakai snapback nya. Bobby meruntuki dirinya sendiri, mengapa tidak membawa map atau mengambil map lebih saat di gerbang depan. Sambil menggerutu, Bobby mulai berjalan menjauh dari titiknya semula.
"SUDAH KUBILANG BERAPA KALI! KAU MASIH MENEMUI DIA?!"
Bobby berjengit mendengar teriakan marah sekeras itu. Teriakan itu diikuti oleh suara pukulan dan hantaman keras. Memang itu bukan urusannya, tapi Bobby tidak bisa diam saja apabila ada orang tidak berdaya dihajar hanya karena melakukan kesalahan. Dirinya berjingkat pelan, mendekati sumber suara, berusaha mengintip dari balik pepohonan dan semak.
Namun apa yang kini dilihatnya sama sekali diluar pikiran terliarnya.
"HANBIN!"
Panggil Bobby sekeras-kerasnya saat melihat sahabatnya itu babak-belur dan terkapar di atas tanah. Bobby melihat ke arah sang pelaku yang tangannya bersimbah darah Hanbin dengan tatapan marah. Ini benar-benar sudah di luar batas!
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N:
Wohooooo~! Akhirnya chapter dua! *sebar confetti
Update chapter ini memang sengaja berbarengan sama rilisnya double single iKON! Woooow~ *dance Anthem*
Eniwei, bagi yang belum tau atau lupa, Hayun itu model untuk MV airplane yaaaa, kalau Sehui itu model untuk MV My type. Hehehehe
Chapter kali ini agak panjang ya? Dan di chapter depan sepertinya juga akan lebih panjang. Untuk para readers, apa nggak masalah dengan chapter yang lebih panjang dari ini? Hahahaha.
Mohon banyak keritik dan masukan mengenai chapter kali ini, apa terlalu banyak narasi dan bikin bosen? Atau alur ceritanya antara flashback dan kejadian nyata bikin bingung? Ceritakan aja semua keluhan dan unek-unek kalian, mau memberi saran buat cerita berikutnya juga boleh. ( O/v/O)b
.
.
.
.
Bobby: "Review Please!" ^^
