previously
"Benar kata Tetua, Al! Siapkan cinta hanya untuk satu orang!" Kyle terkikik geli. Carlos cuma mengaruk rambut hitam cepaknya. Tapi ya sudahlah, Alfred sama sekali tidak peduli. Hubungan satu malam dengan wanita-wanita lain di tenda malam tadi juga ia lalui tanpa cinta. Yang penting dia mendapatkan pasangan untuk melampiaskan hasrat manusianya, kan?
Jadilah dengan merutuki keputusan dadakan ayahnya, Alfred menuju ke daerah perairan di atas gunung. Daripada memancing, kalau begini kondisinya, lebih baik ia temui tempat untuk cari angin. Hanya saja ketika ia baru akan memutuskan menaiki sebuah tanjakan, Alfred menoleh. Anting bulu elang yang Alfred kenakan di telinga kirinya terayun pelan.
Lalu kedua matanya mengernyit saat dari ketinggian ini dapat ia saksikan kehadiran kapal besar yang baru saja memasuki daerah pesisir pantai. Itu kapal Inggris.
.
.
Asap putih yang mengepul di udara memunculkan pandangan heran dari penduduk suku Indian asli yang tinggal di lembah dekat pantai.
Heracles, sang tetua suku, Kyle dan Carlos—yang baru menaruh makanan buruannya—dan juga penduduk lain di sekitar mereka memperhatikan kepulan yang kian lama semakin mendekat. Bahkan ada yang memberitahu agar orang-orang di dalam tenda keluar dan melihat fenomena yang jarang terjadi itu. Norak memang, tapi hal itu wajar. Suku ini tak pernah melihat kapal berpolusi semencolok itu sebelumnya. Bahkan kapal Christoper Colombus dan antek-anteknya yang pertama kali datang ke benua ini pun tak begitu berasap. Kapal yang akan datang ini seolah kapal raksasa yang siap perang. Dari jauh saja penampilannya mengerikan.
Konon ada yang bilang orang-orang Inggris akan datang lagi untuk mengambil alih tambang di sini—toh, orang-orang suku pun tak juga membutuhkannya—tapi Heracles sendiri tak tau bahwa mereka akan datang sekarang.
"Sial. Orang-orang kulit putih itu akan datang lagi ke sini." Kyle, pria berambut merah itu berdecak kesal. "Mereka menyebalkan."
"Tak apa. Selama mereka tak mengganggu, kupikir tak apa membiarkan mereka mengambil hasil bumi dari sini." Carlos menghela nafas. "Daripada memikirkan kapal Inggris, lebih baik kita awetkan ikan-ikan tangkapan kita tadi dengan garam. Ayo."
Kyle mengangguk pasrah.
Sedangkan di kejauhan bukit, sudah ada Alfred yang berdiri tegak di atas bebatuan paling tinggi. Tak ia pedulikan sinar matahari mengguyur tubuh kekarnya. Ia bahkan rela berlama-lama di sini hanya untuk mengamati fisik kapal yang kian lama semakin tertebak akan berhenti di mana.
Sejam berselang, fix, kapal berbahan dasar metal kuat itu parkir di samping pantai. Satu per satu awak kapal turun dan Alfred pun mulai berdiri. Ia tepuk debu di celana kainnya dan kemudian beranjak pergi menuju pantai.
.
.
.
INDIGENOUS
Hetalia by Hidekazu Himaruya
AU—Alternate Universe
Pieree Presents...
(Alfred F. Jones—Arthur Kirkland)
.
.
two of six
-tersesat-
.
.
Dengan agak tertekuk Arthur Kirkland turun dari kapal.
Dia terlihat agak kecewa melihat pulau ini yang tak seperti bayangannya. Lihat saja di sini, tak ada satu pun orang pulau yang menyambut mereka. Jangankan itu, perumahan atau tempat tinggal saja tak ada yang kelihatan. Cuma ada pasir, batu karang, dan hutan yang mengelilingi pantai. Arthur mengusap keningnya yang agak pusing. Jangan bilang nanti mereka akan buat tenda di daerah hutan yang banyak nyamuk dan binatang buas—
"Arthur!" Scott yang baru turun ke pasir menepuk keras pundak sang adik. "Berbahagialah, kau sudah tak berada di atas air lagi."
Arthur menggumam malas. Ia sipitkan mata sembari memandang ke sekitar. "Lalu bagaimana dengan tempat tinggal kita? Aku ingin istirahat."
"Jangan malas. Kita akan berjalan ke tempat pertambangan terlebih dulu. Ayo, ikuti aku." Scott membenarkan arah caping topi hitamnya dan kemudian mengambil posisi terdepan untuk memandu jalan memasuki hutan. Kebetulan ini sudah ketiga kalinya Allistor 'Scott' Kirkland mendatangi Amerika, jadi wajar dia sudah tau rute yang harus dia lalui dan mana yang tidak.
Sebagai adik dan juga anak buah, Arthur dengan patuh menerima ajakannya. Ia masuk ke hutan mengikuti kru-kru kapal lainnya yang berada di depan. Pemilik alis yang cukup tebal itu memilih yang paling belakang saja. Selain dia tidak suka jalan terlalu cepat dia mau snack time sesaat. Kebetulan di saku kantong ada plastik kue yang belum ia makan tadi saat di kapal.
Hanya saja baru setengah perjalanan Arthur yang cukup kelelahan mencoba duduk sebentar di akar pohon yang lebih menyerupai bangku. Dia duduk dengan posisi membungkuk, lalu ia lirik ada seekor burung yang datang mendekat. Burung mungil dengan perpaduan warna hijau gelap dan warna-warni di sekitar lehernya. Di awal burung itu hinggap di dahan sebelah Arthur, tapi tiba-tiba dia terbang dan berani mendekatinya. Malah sampai diam di ujung sepatu botnya. Mahluk tanpa leher itu menoleh-noleh ringan dengan mata bulatnya yang polos.
Arthur tersenyum. Ia taruh remehan biskuit ke telapak tangan, lalu dia menyodorkannya ke si burung.
Burung bersuara merdu itu mencicit senang dan mematuk-matuk pelan makanan di tangan Arthur. Tak hanya itu, burung-burung sejenis pun mulai banyak mengelilinginya. Arthur yang sebelumnya merasa malas ke Amerika pun lama-kelamaan jadi senang sendiri. Senyum simpul ia ciptakan kalau saja tak ada sebuah kejutan yang Arthur sadari di detik ini.
Di balik pepohonan yang teduh, ia merasa seperti ada dua pasang mata yang mengawasinya.
"Ah."
Dia mendadak berdiri—burung-burung otomatis beterbangan menghindar.
Setelah ia sendiri barulah Arthur menoleh ke arah kanan—di mana kru kapalnya berjalan—dan menelan ludah. Tak ada orang lagi yang tersisa di ujung pandang. Dia berlari mengejar rombongannya yang telah meninggalkannya, tapi tak ada hasil. Dan di saat itulah Arthur memandang suram langit di atas sana. Selain agak gelap karena terhalang dedaunan pohon, tampaknya sore akan menjelang. Ia menggigit bibir dan meremas tangannya yang putih pucat. Ia cemas—teramat sangat cemas karena kini ia sedang tersesat.
Dan daripada itu... kalau dia belum menemukan Scott dan kawan-kawan sampai gelap, ada kemungkinan besar dia akan mati sendirian di sini.
.
.
in-di-ge-no-us—pi-e-ree
.
.
"Scott?"
Dengan suara serak pria bersurai pirang ikal itu menoleh ke kanan kiri, berharap ada siapa pun yang membalas.
"Thomas?"
Nama teman-teman satu krunya dia panggilkan.
"John?"
"Freddrick!"
"Elwood!"
Arthur menyerah. Sambil mendudukkan diri di atas tumpukan daun mati ia menjambak rambut dan menggeram dengan suara kecil. Keringat kini sudah menempel di seluruh tubuhnya. Perutnya yang rata pun sudah mulai mengeluarkan bebunyian yang cukup mencolok. Arthur menggelengkan kepala. Matahari akan terbenam, sedangkan dirinya, yang teramat sangat lapar, malah tersesat sendirian di dalam hutan yang gelap ini. Untung saat menjelajah tadi ia sempat mengumpulkan beberapa berry dan buah-buahan jatuh, setidaknya itu cukup untuk ganjal perut.
Usaha mencari jejak teman-temannya pun nihil. Suara yang dia dapatkan kembali hanya suara serangga-serangga dan juga tiupan angin menjelang malam. Pakaian tertutup yang membalut Arthur saja tidak cukup melindunginya dari suhu di luar. Tak tahan, Arthur yang malang memutuskan untuk duduk dan makan. Mungkin dia bisa pasrah dengan cara tidur di sini sampai bantuan datang—jika Scott menyadari kehilangannya—atau menunggu pagi agar bisa kembali berkeliling ulang. Namun ketika ia baru memutuskan untuk memejamkan mata di atas sebuah balok kayu yang bisa dijadikan meja atau alas tidur, tiba-tiba ada sesuatu gemerisik semak belukar yang membuat pria beralis tebal itu terlonjak kaget.
"Si-Siapa? Siapa di sana?"
Batang kayu nyaris dia ambil untuk dijadikan media perlawanan, namun sosok itu sudah terlebih dulu muncul dengan bulu hitam keabuannya. Ternyata cuma monyet. Kedua bahu Arthur yang lemas segera turun seketika. Dia kira hewan liar...
Namun karena monyet berukuran kecil itu semakin maju dan memandang buahnya dengan mata bulatnya yang berbinar, Arthur mencoba tersenyum di saat-saat genting seperti ini dan menawarkan kebaikan. Dia sodorkan sebuah apel kecil yang sempat dia ambil tadi ke si monyet. Monyet itu masih kebingungan dan karenanya Arthur menggelindingkannya agar buah itu mendekat. Hanya saja mungkin karena sudah kenyang, monyet itu hanya menendang apel itu menjauh dan lantas pergi tanpa suara lainnya.
Kecewa atas pemberiannya yang ditolak, Arthur segera berdiri dari tempat duduknya dan berniat mengambil apel itu. Tapi taunya sebelum dia berjongkok dan mengambil buah, perpaduan antaran sinar jingga dan biru di depannya ini menunjukkan sesosok manusia berkaki cokelat yang menginjak apel setengah busuk itu hingga remuk.
Arthur yang terkejut terlonjak ke belakang dan terjatuh. Mata emerald-nya di bawah sinar sunset teramat sangat terbelalak saat ia menemukan pria. Ya pria dengan baju yang bukan dipakai kru lautnya.
Dia hanya memakai kain seadanya yang menutupi dada dan pinggang ke lutut, dan telinganya dihiasi oleh sebuah bulu burung yang teramat sangat mencolok. Badannya juga terlihat kekar. Otot-ototnya sebagai bukti. Arthur pun memberanikan diri memandangnya yang terlihat tampan... dan berbahaya. Ya, dia tampan. Ras yang berbeda dan unik terukir sempurna di lekukan wajah pria itu.
Dilihat dari penampilannya, apa dia... suku asli indian di sini?
Set.
Pemuda Inggris tersebut kaku seketika. Jantungnya seperti berhenti. Terlebihnya saat Alfred menampilkan raut marah, dan tak tanggung-tanggung ujung runcing batu tajam yang dihubungkan dengan kayu—tombak buatan suku—yang ia pegang terarah persis ke leher Arthur, bahkan menyentuh kulit albino pria itu.
"Buat apa kalian ke sini lagi?"
Pita suara si bungsu Kirkland seolah tak berfungsi. Ia tak mampu menjawab.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, Arthur yakin nyawanya sudah di ujung tanduk.
.
.
see you
.
.
my note
Ada saran kalian yang kuambil. Terima kasih masukannya. Dan untuk inspirasi aku memang menggabungkan ide dari Tarzan dan Pocahontas haha :D
.
.
warm regards,
Pieree...
