Siapa pun tidak akan pernah membayangkan bahwa ruang bawah tanah dengan desain urban itu adalah tempat berkumpul sekelompok siswa populer Golden Vam HS.
Sesungguhnya, pemandangan di hadapanmu sekarang adalah hal yang mustahil bagi seluruh penghuni sekolah itu. Bagi mereka rasanya sangat mustahil jika idola sekolah, panutan sekolah, da. ahli bahasa sekolah, bisa duduk dalam ruangan yang sama dengan siswa paling cerewet ditambah siswa pembuat onar. Intinya, perpaduan kelompok ini terlalu berlawanan.
"Kau kenapa Park Jihoon? wajahmu kusut sekali," ucap pemuda menyerupai syberian yang baru saja bergabung.
"Jangan diajak bicara Ong hyung. Dia sedang sangat sensitive," sosok bersurai silver meraih lengan sang pemuda untuk duduk di sisinya.
"Kan sudah ku bilang berhenti menyakiti siswa lain, hyung," Guanlin dengan lembutnya menatap wajah angkuh yang sedang diliputi amarah.
"Salahmu juga sih menyentuh staff dewan kesiswaan," sosok lain dengan gitar di pangkuannya menimpali.
"Aish kalian ini berisik sekali! Mau kubunuh satu per satu huh?!" Jihoon berteriak kesal melemparkan gelas kaca yang bisa ia raih.
"Wow wow slow down Jihoonie," Woojin buka suara setelah mengamankan pemuda dengan mahkota oranye dan papan nama Lee Daehwi dari gelas yang melayang.
"Woojin sini. Jelaskan padaku," Ong melambai mengundang kembaran muda itu.
"Aku sebenarnya tidak mengerti hyung. Tiba-tiba Jihoon berteriak kesakitan begitu saja."
"Yang kalian bully tidak bicara?"
"Tidak."
"Sebenarnya dewan kesiswaan yang mana yang jadi korban kalian kali ini?" Daniel mulai ikut terlibat dalam pembicaraan serius mereka.
"Hong Eunki"
UHUK
"Kalian sudah bosan hidup?"
"Memangnya kami hidup?" balas Woojin pada hyungnya yang sedari tadi hanya diam.
"Ada apa sebenarnya dengan hyung sok cantik itu?" Jihoon bertanya dengan wajah kesal.
"Dia harta berharga klan bangsawan. Kau tidak boleh menyentuhnya."
"Ah rumor kuno itu. Kalian semua ditipu, itu hanya karangan si Hong saja. Buktinya aku masih hidup sekarang."
"Kau pasti sudah mati kalau bukan karena Guanlin"
Serentak setiap mata yang ada mengarah pada sosok yang kehadirannya sama sekali tak mereka rasakan sebelumnya. Jinyoung dengan penciuman tertinggi pun tak menyadarinya.
"Ge.. gege..."
"Susah sekali menghubungimu di bawah sini. Semua gege mencarimu."
Tubuh Guanlin membantu. Wajahnya diliputi rasa takut.
"Tunggu!" Sang murid teladan berteriak lantang.
"Tidak usah khawatir. Kami sangat menyayangi Guanlin. Bahkan sampai rela tidak membunuh makhluk rendahan yang menyakiti tunangan Zheng Ting-ge," sosok pemuda lain tampak menghalangi beberapa dari mereka yang berusaha meraih Guanlin.
Guanlin sendiri tengah tersenyum samar ke arah Jihoon yang sekarang tak bergeming.
Siapa juga yang bisa bergerak mendengar fakta itu. Fakta bahwa Jihoon baru saja menyulut api dengan keluarga vampire nomor satu. Keluarga pemimpin kaum mereka. Vampire yang sesungguhnya.
Ruangan yang tadi ramai sekarang begitu hening. Tak ada yang berani bicara sampai Daniel melonggarkan cengkraman pada kotak camilan tak berdosa.
"Eunki hyung bagian dari Yuehua?"
"Sudah kubilang tadi."
"Kalian benar-benar salah perhitungan kali ini Park," sambung Seungwoon yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh Minhyun.
Apa yang Seungwoon katakan tentu akan disetujui oleh yang lain. Menyakiti bagian dari keluarga bangsawan itu memang suatu kesalahan. Keluarga itu punya deretan penerus dengan kemampuan jauh di atas siapa pun yang ada di sekolah itu.
Zhu Zheng Ting yang disebutkan tadi adalah kakak tertua dalam klan itu. Image bagaikan peri hanyalah tipuan. Ia punya kelenturan tubuh dan kemampuan mengendalikan orang lain. Hampir semua kekuatan ia kuasai lebih dari ahlinya.
Yang datang tanpa tanda kehadiran adalah pemeluk nama Fan Chengcheng. Chengcheng memang tercipta dengan kelebihan untuk tidak terdeteksi oleh vampire manapun. Ia juga mampu membunuh dengan satu jentikan.
Setelahnya ada Justin yang tadi menahan mereka. Ia punya kemampuan yang hanya dimiliki 10 vampire. Melihat masa depan.
Masih ada 7 vampire lagi. Tapi lebih baik kalian mengenalnya sendiri.
Pusat kediaman mereka ada di Cina. Dari sana juga Guanlin berasal. Jika ada vampire yang keluar masuk negara itu semua harus melewati persetujuan para penerus Yuehua. Inilah bagaimana Guanlin paham betul hirarki keluarga kerajaan tersebut.
"Eunki tidak mungkin mengadu. Bagaimana mereka bisa tahu?"
"Ada yang melihat kami. Tadi di lorong ada dua vampire. Yang satu aku tidak lihat karena membawa Eunki hyung pergi."
"Yang satu lagi... Ahn Hyeongseob?" Seungwoo membulatkan mata berharap perkataannya keliru.
"Tahu darimana hyung?"
"Awas saja a..."
"Kau sungguh akan mati jika menyentuhnya Jihoon. Dia bukan tandinganmu," potong Seungwoo cepat, "bukan tempatmu untuk menyentuh vampire itu"
Setelah Chengcheng dan Justin meninggalkannya di depan pintu besar sebuah ruangan, sekarang di sinilah Guanlin berada. Di dalam sebuah ruang putih dengan beberapa tabung kaca besar di sudut lain ruangan. Matanya menangkap sesosok vampire di dalam tabung terindah. Sosok yang namanya sukses membuat hyungnya, Hwang Minhyun, tersedak. Ya, sosok itu adalah Hong Eunki.
"Zhengting gege.. dui bu qi," ucap Guanlin lirih seraya membungkukan badannya dalam-dalam pada vampire lain di sisi tabung kaca sekretaris dewan kesiswaan.
Yang diajak bicara menghela nafas sesaat lalu menatap Guanlin lembut.
"Aku sudah berusaha mengingatkannya," pecah Guanlin lagi.
"Kau berhutang terima kasih pada Hyeongseob. Kalau dia tidak di sana dan menghentikan Park Jihoon sialan itu, aku pasti sudah membunuhnya," Zhengting menghempaskan diri di salah satu kursi besar di ruangan itu.
"Jika kau memang menyayanginya, hentikan dia. Sekali lagi kami mendapatkan mereka bertingkah, Hyeongseob sendiri yang akan mengakhiri semuanya," sambung pemuda ramping itu.
"Maafkan kami Guanlin, tapi vampire yang kau cintai itu sudah melewati batas. Kami tidak bisa terus diam melihat vampire lain mereka sakiti," kali ini sosok lain nan tampan bak model dan penuh wibawa berbicara.
"Aku mengerti Wenjun-ge."
"Ini, sampaikan pada dua bersaudara itu," Wenjun mengulurkan sehelai surat merah kepada Guanlin.
Guanlin mengenggam surat itu erat diliputi kecemasan. Oh dia cemas bukan hanya karena surat peringatan ini. Dia cemas mendengar bahwa Hyeongseob adalah eksekutor yang akan menangani vampire kesayangannya. Guanlin tahu dengan pasti, hyung yang mirip kelinci itu merupakan eksekutor paling mengerikan dalam sejarah vampire. Hyeongseob dan Chengcheng lebih tepatnya. Yang membuat mereka berbeda adalah Chengcheng mengeksekusi dengan sangat cepat, hingga kau tidak akan merasakan sakit sedetik pun, sedangkan Hyeongseob akan mengeksekusi secara perlahan dan sangat menyakitkan, membuat sosok vampire manapun lebih memilih mati daripada berhadapan dengan kelinci itu.
Sepanjang kelas berlangsung, Woojin sama sekali tak fokus dengan penjelasan pengajarnya. Matanya terus tertuju pada sosok vampire di sisi jendela yang belum lama menjadi penghuni kelasnya.
Sosok itu manis. Namun dingin. Terlihat rentan. Namun hawa mengintimidasinya sangat besar. Woojin tidak habis pikir bagaimana sosok yang terlihat seringkih Dongbin, target utama buliannya dan Jihoon, ternyata adalah eksekutor.
Apa yang Woojin lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang Woojin dengar.
"Berhenti memandang hyungku kalau kau masih ingin hidup."
Woojin tersentak. Tubuhnya kaku oleh hawa dingin yang tiba-tiba menggerayangi.
"Chengcheng," sosok lain di sudut ruangan menggumamkan sebuah nama pelan tapi sukses membuat Chengcheng menyingkir dari sisi Woojin sekaligus menyadarkan Woojin bahwa jam pelajaran telah berakhir.
Woojin bergerak meraih ransel putihnya, memasukan benda yang ada di meja. Tepat saat ia akan mengalungkan tas, ia terdiam. Suasana kelasnya seketika begitu tegang. Tapi ada satu sosok yang berjalan santai di depan kelas dengan ransel biru tua. Sekilas sosok itu menatap Woojin dan mengulas senyum yang sangat Woojin benci. Sebuah senyum meremehkan. Sama seperti senyum siang tadi.
Suasana semakin tegang ketika langkah sosok mengintimidasi tadi terhalang vampire lain. Woojin membulatkan mata sempurna melihat kembarannyalah yang berdiri di sana.
"Kau Ahn Hyeongseob? Kau yang mengadukanku pada klan Yuehua?" tanya Jihoon tajam lengkap dengan wajah angkuhnya.
Hyeongseob hanya menatap Jihoon datar, "Menyingkir dari hadapanku."
"Kau berani mengabaikanku hah?"
Jihoon baru saja mengangkat lengan, berniat meraih kerah seragam Ahn Hyeongseob ketika tangan kekarnya tak bisa ia gerakan.
Ia tahu siapa yang menghentikannya. Ia paham betul kekuatan siapa ini. Hanya saja ia tidak percaya kekuatan ini ditujukan padanya. Siapa lagi kalau bukan si kembaran, Park Woojin.
Hoonie jangan mengganggunya, aku punya firasat tidak baik.
Wajah Jihoon menekuk begitu menawan. Tidak biasanya sang adik menghalanginnya.
"Aku mau lewat. Lepaskan dia," ucap Hyeongseob datar pada Woojin di sudut ruangan.
Woojin melepaskan kekuatannya, membiarkan Jihoon bergerak. Namun sayang, Jihoon masih saja teguh dengan harga dirinya dan berniat melayangkan tinju ke wajah tampan di hadapannya.
"PAIN"
Jihoon seketika menjerit. Tubuhnya begitu panas. Ia tersungkur di lantai menahan rasa sakit tak tergambarkan.
Hyeongseob hanya menatap jengah sosok di bawah kakinya sebelum melangkah melewati Jihoon tanpa berniat mengakhiri penderitaan siswa itu sedikit pun.
"Tunggu.. lepaskan dulu kekuatanmu," Woojin berucap sambil memeluk tubuh kembarannya.
Hyeongseob tak menghiraukan suara rendah berlogat Busan yang mengalun di udara dan tetap melangkahkan kaki menjauh.
"Tu.."
BRUUK
Tubuh Woojin yang tinggal beberapa centimeter dari Hyeongseob kini berjarak belasan meter. Ia terbentur tembok putih dan kekuatannya seketika sirna, namun ia masih sanggup melihat Hyeongseob yang menatap sangat tajam. Mematikan keberaniannya untuk terus melihat sosok itu.
"Hyeongseob hyung berhenti. Kumohon."
Woojin memang tidak mampu bergerak sekarang, tapi mata elangnya bisa melihat seorang Lai Guanlin membungkuk sangat dalam dan bahkan bertumpu pada lututnya.
Hyeongseob berjalan mendekati Jihoon yang meringkuk lemah dan tengah mengatur nafas berat.
"Dengarkan teman-temanmu dan sadari posisimu Park Jihoon. Oh tunggu. Kau tidak pernah menganggap mereka teman, bukan?" Hyeongseob menatap Jihoon dengan tatapan merendahkan, "Seharusnya kau belajar dari kembaranmu. Setidaknya dia tahu kalian tidak akan hidup tanpa 9 vampire lain yang sedang menyaksikanmu menderita sekarang. Kau itu hanya makhluk rendahan."
•
•
TBC
•
•
Rurulala,
Karena ternyata ada 3 orang yg review, maka aku mencoba melanjutkan FF ini.
Satu review aja sangat berarti... Jadi Hamzzi meminta review kalian biar tulisan Hamzzi makin enak kalian baca.
Review jjuseyong~
