It is Love

Chapter 2

Sore itu toko buku tempat Yukina bekerja masih sama ramainya dengan kemarin. Banyaknya orang yang memenuhi tiap lorong antar rak buku memberi keuntungan bagi Haruki dan Yumeka untuk bersembunyi dan mengawasi Sang Pangeran dari jurusan seni lukis itu.

"Dia di sebelah sana," bisik Haruki pada temannya.

Tanpa menggeser pandangannya dari rentetan buku tentang penangan limbah cair di hadapannya, Yumeka balas menggumam, "Aku tahu."

Ya. Tanpa Haruki sebutkan pun ia sudah sadar yang mana Yukina Kou yang sering diributkan temannya ini. Departemen Teknik dan Departemen Seni Rupa memang berjauhan jadi ia tak bisa begitu sering bertemu dengan pangeran itu, ia juga sebenarnya tak begitu hapal wajahnya. Akan tetapi, begitu masuk ke ruangan itu saja Yumeka langsung tahu yang mana orang yang dimaksud. Bagaimana tidak? Surai coklat berantakan itu begitu menonjol karena posturnya yang tinggi. Ditambah aura penuh bintang dan bunga yang terasa memenuhi tiap sudut toko buku itu. Pasti itulah orang bernama Yukina Kou. Yang kini sedang mengobrol dengan gadis-gadis yang berebut berada di dekatnya. Rasanya jadi melihat host yang tersesat.

Lewat ekor matanya, Yumeka menilai pemuda yang selama ini tak menjadi perhatiannya itu. Tubuh tinggi atletis yang terlihat menggoda bahkan meski ditutupi oleh kemeja putih dan apron biru yang sama sekali tak berkelas. Wajah tirus dengan rahang kuat dan tulang pipi yang tinggi terpahat begitu sempurna. Iris terang yang memancarkan binar riang diimbangi dengan senyum lebar yang begitu menyilaukan. Well, dengan sosok seperti itu, mana ada wanita yang mau membiarkannya sendirian?

Tapi, meski wajahnya bisa dibilang 'cantik', Yume rasa Yukina Kou tak mungkin jadi seorang uke... Ah – mungkin bisa saja sih jika semenya adalah tipe dingin yang bossy dan tak mau dibantah. Tapi, tetap saja, aura Sang Pangeran memang lembut tapi terasa... ingin mendominasi dan melindungi...

Jadi, yang cocok untuknya adalah tipe uke manis yang... rapuh? Seperti kelinci kecil yang membuat orang-orang ingin selalu memeluknya...

Seperti itu.

Pandangan gadis bernuansa gelap ini mendadak terfokus pada sesosok pemuda manis yang baru saja memasuki toko. Posturnya yang kecil dan pendek untuk ukuran laki-laki. Rambut hitam pendek yang terjatuh di wajah kecil dengan iris gelap yang besar. Sosok yang terlihat begitu rapuh...

Yumeka mengerutkan kening karena merasa pernah melihat sosok itu sebelumnya. Ia melirik Haruki yang masih mengawasi Yukina yang kini berjalan dengan cepat menghampiri sosok pemuda yang baru datang itu. Dan tahulah Yumeka bahwa dugaannya tepat. Sebelum sahabat sejak kecilnya itu mendekati dua pemuda yang berada di dekat kasir itu, Yumeka meraih lengannya.

"Coba kau perhatikan baik-baik wajah pemuda itu," ujarnya pada Haruki.

"Memang itu niatku," tukas gadis cantik itu sambil melepaskan diri dan bergegas mendekat. Tak sabar untuk melihat lebih jelas pemuda yang telah seenaknya merebut Kou darinya(?).

Dengan langkah menghentak lantai, Haruki menghampiri mereka. Masih berusaha sembunyi agar Yukina tak melihatnya. Emerald yang diwarnai api cemburu itu mengamati baik-baik lawan bicara Sang Pangeran. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas wajah itu, semakin jelas suatu memori terbentuk di benaknya.

"AAAAAAAAHHHHHHH! KAAAAUUUUU!" jerit gadis ini histeris sambil mengacungkan telunjuk ke arah lawan bicara Yukina. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Haruki meraih lengan besar Yukina dan entah dapat kekuatan darimana, gadis langsing itu menyeret Yukina hingga keluar toko. Saking tiba-tibanya tindakan itu, Yukina tak bisa melawan dan hanya membiarkan dirinya diseret dengan raut bingung.

"E-eh...? Ha-haruki-san? Ada apa?"

Yukina baru tersadar dari kekagetannya dan berusaha menghentikan teman kuliahnya itu. Mereka berdiri di trotoar dengan Haruki yang bernapas pendek-pendek. Sebelum mahasiswa seni lukis itu menyuarakan pertanyaan lagi, sebuah teriakan mendadak diterimanya.

"KAU HARUS JAUH-JAUH DARI DIA!" teriak Haruki sambil menunjuk ke arah toko.

Yukina menatapnya heran. "Maksudmu Kisa-san?"

"Iya, dia! Kisa Shouta! Dia itu player! Dia pernah mempermainkan kakakku dan mencampakkannya dengan kejam! Kau juga pasti bernasib sama! Dia pasti hanya main-main denganmu!" jerit gadis ini masih tak bisa menguasai emosinya. Ingatan-ingatan menyebalkan tentang kakak semata wayangnya membayang di pelupuk matanya.

Akan tetapi, pemuda di hadapannya ini malah tersenyum lembut. "Ah, kupikir soal apa. Kalau soal itu aku juga sudah tahu," ujar Yukina. Yang sukses membuat Haruki mengerutkan alis kaget dan tak mengerti.

"Kau... tahu soal itu dan... dan tetap... pergi dengannya?" tanya gadis ini, enggan menyebut langsung kata 'pacaran' atau 'kencan'. "Kau pasti dipermainkan olehnya! Kau hanya akan jadi mainannya yang berikutnya. Korbannya yang berikutnya!" Haruki menatap putus asa pada pria tampan di depannya. Tak mengerti dengan jalan pikiran Sang Pangeran.

Yukina menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tak ia sangka teman kuliahnya tahu soal masa lalu kelamnya Kisa-san dan... memandang negatif pada editor shoujo-manga itu. Yukina tahu ia harus menjelaskan banyak hal dan meluruskan pandangan negatif Haruki pada kekasihnya itu. Akan tetapi, bosnya di dalam toko sudah memanggil dan ia harus kembali bekerja. Karenanya, pemuda ini hanya meraih pundak Sang Gadis agar menatapnya lurus dan berujar perlahan tapi penuh keyakinan.

"Aku percaya pada Kisa-san."

Setelah berkata begitu, sosok jangkung itu kembali ke dalam toko. Meninggalkan Haruki termangu, kaku di tempat tak tahu harus merespon seperti apa. Kedua kakinya yang mendadak lemas membuatnya terjatuh dan terduduk di trotoar. Mengundang perhatian orang yang berlalu-lalang termasuk seorang pria yang menghampirinya dan berusaha menolongnya. Namun, gadis ini menyentakkan tangannya dan menyalak ketus. "Aku tidak ingin ditolong olehmu!" ujarnya. "Aku ingin Kou... Aku ingin... Huweeee... Kou-kun bodooooohh!" Sambil berkata begitu, tubuh jenjang itu mendadak berdiri dan berlari meninggalkan toko buku.

Tangisannya membuat dua orang bersurai kelam termenung menatap kepergiannya. Yumeka melirik orang di sebelahnya, pemuda manis yang menjadi pembicaraan Sang Pangeran dan Sang Bidadari di luar tadi. Sepasang iris hitam menatap lekat-lekat sosok yang masih bengong itu.

Karena merasa diperhatikan, Sang Pemuda akhirnya menoleh dan menatap heran pada Yumeka. "N-nani?" tanyanya dengan waspada.

"Kisa Shouta?" Gadis berparas dingin ini balik bertanya.

"H-hai."

"Kau benar-benar 30 tahun?"

Kisa membuang muka dan menunduk atas pertanyaan itu. "Memangnya kenapa?"

Yumeka mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh wajah Kisa. Mengangkatnya agar mata mereka kembali bertemu. Dengan tatapan lurus tanpa emosi, jemari panjang itu mengusap pipi lembut Sang Pemuda. Mencubit dan menarik daging kenyal itu perlahan. Seulas senyum tipis mendadak terukir di wajah kaku. "Kawaii," ujar gadis itu sebelum pergi begitu saja. Meninggalkan Kisa yang bengong dengan semburat merah di wajahnya.

Ia tak biasa dibilang seperti itu oleh seorang gadis...

~ # 0 # ~

"HUWAAAAAAA... KOU TERJERAT PERANGKAPNYAAAA! HUEEE..."

Seruan penuh air mata itu adalah yang pertama menyambut Yumeka begitu tiba di kamarnya. Gadis ini tak berkomentar apa-apa, hanya sudut bibirnya yang berkedut mendapati kasurnya telah dijarah oleh sosok cantik bersurai pirang yang kini make-upnya berantakan karena air mata.

"Apanya yang 'Aku percaya pada Kisa-san' ituuu!? Shouta sialan itu evil! Setan kecil berbulu kelinci! Kenapa Kou harus terjerat orang seperti itu siiih?! Huweeee... Kou-kuuuun... Kan masih ada akuuuuu... Kenapa harus pria pendek yang tak tumbuh ituuu!?"

Haruki terus berseru dan menjerit kesal sambil berguling-guling di atas kasur Yumeka dengan air mata berlinang. Sang pemilik rumah sendiri hanya duduk di kursi belajarnya dan membaca buku Pengolahan Sampah B3 yang baru dibelinya. Sama sekali tak menanggapi sobatnya yang sedang depresi dan patah hati itu. Karena apapun yang dikatakannya, Sang Tuan Puteri keluarga Kitayama itu tak akan mendengarkan sedikitpun. Jadi lebih baik biarkan saja, benar?

"Harusnya Prince Charming macam Kou itu bersandin dengan Bidadari elegan sepertikuu! Bukannya dengan chibi tua ituuuh! Kou... kou... Hikss.. KAU HARUS KEMBALI KE JALAN YANG BENAAAARRRR.. KOUUU...! Huweeee –"

Tangisan gadis itu mendadak terhenti. Tubuh yang masih berbalut mantel yang sedari tadi mengacak-acak sprei putih Yumeka mendadak terduduk. Paras cantiknya menyiratkan ide yang mendadak terlintas di benak pemiliknya. "Benar juga! Aku harus mengembalikan Kou ke jalan yang benar! Aku harus menunjukkan pada Kou kalau wanita itu lebih baik! Benar, kan, Yume?" ujarnya sambil menoleh pada pemilik rumah.

Yang ditanya hanya melirik tanpa kata. Bergumam tanpa kata yang jelas. Karena dalam hatinya ia merasa dua orang itu sudah sangat cocok. Akan tetapi, jika teringat kisah yang menimpa putra sulung keluarga Kitayama itu...

"Kau cari saja hal-hal apa yang hanya bisa dilakukan dan diberikan oleh wanita," ujarnya memberi saran pada Haruki – mendukung rencana sobatnya untuk mengembalikan Yukina Kou ke jalan yang benar itu.

Haruki mengerucutkan bibirnya tanda berpikir. "Ah! Aku tahu. Aku buatkan saja bento untuknya. Bento penuh cinta seperti yang biasa dibuatkan istri untuk suaminya bekerja! Dou?" Gadis bersurai pirang kembali meminta pendapat. Sebuah anggukan adalah tanggapan yang didapatnya.

"Tapi kau kan, tidak bisa masak," ujar Yumeka sejurus kemudian. Mematahkan gelora semangat yang baru saja berkobar di tubuh Sang Primadona.

Wajah cantik itu membeku dengan mulut terbuka. Baru ingat soal kemampuan memasaknya yang payah. Tapi, bukan Haruki namanya jika menyerah begitu saja. Meloncat turun dari kasur, ia kini memeluk Yumeka dari belakang. "Yume, buatkan untukku, ya? Yaa?" pintanya dengan nada manja di telinga gadis bersurai gelap itu.

"Bukan untukmu tapi untuk Yukina Kou, kan?"

"Iya, sih. Bento untuk Kou. Tapi kau mau melakukannya untukku, kan, Yume?" Haruki memasang wajah memelas andalannya. Yang membuat gadis dingin itu menghela napas pasrah.

"Kau buat menunya dan siapkan bahannya," sahut Yumeka sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Yaaaayy! Aku cinta Yumee!" Sebuah pelukan erat diterima gadis bernuansa suram itu. Tak mengerti dengan sahabatnya yang mood-nya gampang berubah dengan drastis ini.

Terserahlah.

...tapi, apa kau sadar dengan ucapanmu?

~ # 0 # ~

Ruangan yang cukup luas yang dipenuhi dengan kanvas, ember-ember cat dengan warna-warna yang tercecer di atas koran yang berserakan di lantai adalah pemandangan yang menyambut Haruki begitu tiba di studio lukis. Iris emerald-nya mencari-cari sosok Yukina di antara kepala-kepala yang tertunduk di depan proyek masing-masing itu. Tak butuh waktu lama sejak sosok bersurai coklat itu memang mencolok di tengah ruangan yang berantakan ini.

Begitu melihatnya, segera saja Haruki memanggilnya dengan suara lembut menggoda. "Kou~" ujarnya. Yang dengan sukses membuat seluruh kepala di ruangan itu menoleh ke arah pintu – ke tempatnya berdiri.

Senyum khas malaikatnya terpampang sempurna di wajah mungil itu menghadapi tatapan terpesona para mahasiswa dan pandangan penuh permusuhan yang dilemparkan para mahasiswi. Akan tetapi, fokus gadis ini hanya tertuju pada satu orang. Pada sesosok pemuda yang kini berdiri dan berjalan menghampirinya. "Haruki-san, ada perlu denganku?" tanya Yukina tetap ramah. Senyum cerahnya tetap mewarnai paras tampan itu. Sepertinya kejadian di toko buku kemarin tak mempengaruhi pemuda ini.

"Umm.. ini, aku membuatkan bento untukmu. Kau belum makan, kan? Bagaimana kalau kita makan siang?" sahutnya dengan wajah malu-malu yang direkayasa.

"Eh? Kau membuatkan bento untukku? Wah, terima kasih banyak. Tapi, aku juga sudah bawa bekalku sendiri..." Yukina tampak bimbang.

"Kumohon, Kou, tolong terima bento buatanku ini. Ini sebagai permintaan maaf atas... atas sikapku kemarin...," lirih suara Haruki saat mengatakan hal ini. Dengan kepala tertunduk seolah ia benar-benar menyesal dan malu atas apa yang dilakukannya.

Karena memang pada dasarnya Yukina adalah pemuda yang sangat baik, ia pun tersenyum dan menerima bento itu. Bahkan menyetujui untuk meninggalkan studio sebentar untuk makan siang bersama.

Mereka tak mengambil tempat terlalu jauh dari studio karena mahasiswa seni lukis ini masih di tengah pengerjaan proyeknya. Keduanya duduk di salah satu bangku beton yang ada di dekat taman yang dipenuhi berbagai patung karya mahasiswa jurusan Seni Patung. Sejak Yukina memiliki dua bento, pemuda itu memberikan miliknya pada Sang Gadis.

Haruki menatap lekat bento pemberian Sang Pangeran itu. Hatinya bergolak akan pemikiran pahit. "Apa... apa ini.. bento buatan Shouta-kun?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulutnya.

Yukina yang mulai memakan bento pemberian Haruki tertawa kecil. "Bukan. Itu buatanku," sahutnya. "Kisa-san tak jago masak," tambahnya dalam gumaman pelan.

"Ah, begitu?" Mengetahui bahwa itu adalah buatan pujaan hatinya, Haruki membuka kotak itu dengan penuh semangat dan memasukkan beef cutlet itu ke dalam mulutnya. Gadis ini syok mendapati rasanya sangat enak. "Uwaa! Kau jago masak, Kou-kun?" tanyanya dengan mata melebar.

"Tidak juga. Biasa saja," sahut pemuda jangkung ini sambil tertawa pelan.

"Tapi masakanmu enak sekali..." tukas Haruki. Keningnya berkerut. Ia baru tahu soal ini. Gawat sekali! Padahal kan ia bermaksud membuat Yukina menyadari betapa peran seorang wanita itu penting, salah satunya dengan membuatkan bento lezat yang penuh cinta. Tapi, jika Yukina sendiri jago masak... apa gunanya?

Gadis bersurai emas ini tertunduk dan memakan makanan di kotak itu dengan tak semangat. Suara indah Sang Pangeran lah yang kemudian membuatnya kembali mendongak.

"Membuat bento untuk seseorang itu... aneh kah?" tanya Yukina tiba-tiba.

"Hm? Menurutku tidak aneh. Apalagi jika membuatkan untuk orang yang kita sayangi. Romantis malah," sahut Haruki dengan wajah berseri. Kembali ingat untuk menebarkan pesonanya pada Sang Pangeran.

Tapi lagi-lagi pemuda itu tak terjerat taktiknya. Iris coklatnya malah kembali menerawang seolah memikirkan sesuatu. Bahkan, rangkaian kata yang kemudian terdengar dari mulut pemuda itu membuat Haruki semakin geram.

"Apa mulai besok kubuatkan bento untuk Kisa-san, ya?"

~ # 0 # ~

"Ternyata Kou jago masak, Yumeee! Ini benar-benar gawat! Rencanaku gagal! Masakannya benar-benar lezat!" seru Haruki sambil menjatuhkan diri di atas kasur empuknya.

Di dekat pintu, Yumeka melipat lengan dengan tampang datarnya. "Kou yang masak? Kupikir Shouta itu yang memasak," celetuknya. "Padahal kalau dia pakai celemek pasti manis," gumamnya pada diri sendiri sambil membayangkan sosok Kisa yang imut dalam balutan apron berenda warna biru cerah sambil menyodorkan bento penuh cinta dan tatapan seductive. Gadis berparas kaku ini menutup wajah dengan tangan dan menggelengkan kepala untuk membuang imajinasi liarnya – sebelum semakin liar dan mengarah ke *piiiip*

Mengembalikan aura tenangnya, Yumeka menatap Haruki dengan tatapan tanpa emosi. "Lalu? Kau memanggilku ke sini hanya untuk mengatakan itu?" Meski diucapkan dengan dingin kentara sekali ada nada kesal tersirat di sana. Namun, Putri bungsu keluarga Kitayama ini tak mendengarkan. Ia masih saja misuh-misuh soal pembicaraannya dengan Sang Pangeran tadi siang.

"Masa, dia bahkan malah berkata akan membuatkan bento untuk Shouta-shit itu! Fuahh! Tidak bisa begitu, kan?! Kenapa mereka seolah pasangan lovey dovey yang tak terpisahkan begitu, sih? Tidak bisaa! Yukina hanya pantas dengan gadis cantik sepertiku!" ujarnya sambil memukul-mukul bantal.

Tubuh jenjang itu mendadak berdiri. "Apa boleh buat. Aku harus menceritakan pada Kou apa yang terjadi pada kakak gara-gara setan kecil yang sok imut itu! Hahh! Kalau tahu kekejamannya, Kou pasti akan meninggalkan pria itu. Benar, kan Yume?"

Yumeka mengangkat bahu sebagai sahutan. "Coba saja," ujarnya.

"Kalau begitu kau harus menemaniku! Pokoknya, akan kuhancurkan hubungan mereka!"

~ # 0 # ~