Black Pearl

[~~-**-~~]

Disclaimer : Swan Lake (Pyotr Ilyich Tchaikovsky) dan Kuroshitsuji (Yana Toboso).

Warning : Saya menggunakan tema cerita Swan Lake. FemCiel. OOC.

Enjoy reading!

[~~-**-~~]

Sebelumnya dalam Black Pearl,

Ciel, yang telah dikutuk menjadi angsa putih oleh Ash, memutuskan untuk menolong Hannah menghapuskan sihir hitam Ash yang mengutuk seluruh peri dan beberapa manusia menjadi hewan. Selain itu, bila Ciel telah menghapus kutukan tersebut, maka hutan Black Pearl akan terbebas. Dan, dia bisa pulang kerumahnya di Granada.

Part II

"Dengarkan ini baik–baik, Ciel! Keberhasilan rencana ini tergantung pada keberanianmu menghadapi Ash." Hannah menegaskan dengan suara lembut.

Ciel menatap Hannah dengan dan mengangguk pelan. Di sampingnya, Sebastian tersenyum miring, dan Claude memperhatikan tanpa terlihat acuh karena sedang membicarakan sesuatu dengan Alois.

"Harus kau ketahui bahwa Ash adalah saudara laki-lakiku. Ayahku adalah raja peri yang memimpin seluruh peri di hutan ini. Dan dia iri padaku yang naik tahta ratusan tahun yang lalu." Hannah berkata tanpa berekspresi.

"Sebelum penurunan tahta, ayahku menulis sebuah buku sihir. Semua jenis sihir dan cara menghapusnya tertulis di dalam buku tersebut. Ayahku menyimpannya di perpustakaan goblin di timur hutan Black Pearl. Perpustakaan tersebut dijaga dengan baik oleh goblin–goblin kepercayaan ayahku. Hanya Ash yang pernah berhasil menyusup dan mencuri perkamen mengenai sihir Oblivia Luna, kutukan yang sekarang bekerja padamu dan mereka semua."

Hannah menghentikan penjelasannya ketika melihat mata Ciel. Matanya menunjukkan dia mengerti tanpa harus dijelaskan selanjutnya.

"Jadi, aku harus mengambil buku tersebut dan melakukan yang diperintahkan dalam buku tersebut untuk menyelamatkan kita semua, itukah maksudmu? Tapi, apa nama buku tersebut? Dan apakah kau memiliki peta hutan ini, Hannah?" Ciel bertanya dengan wajah berspekulasi.

"Sudah kuduga! Dia jenius!" ujar Alois kepada Claude. Claude hanya membalas dengan senyum mengejek.

"Kau juga nanti harus sejenius dirinya agar tidak melakukan hal bodoh!" kekehnya. Alois memutar bola matanya mendengar ejekan dari orang yang dianggap sebagai kakak olehnya.

"Buku itu tidak bernama, tapi ayah menyebutnya sebagai Black Pearl's Corona. Dan kau benar mengenai hanya kau yang bisa melakukan perintah tersebut. Lalu, karena hutan ini tidak pernah dipetakan, kau akan ditemani Claude dan Sebastian dalam perjalanan. Claude mengenal hutan ini sama baiknya dengan Sebastian. Mereka akan melindungimu dari apapun itu yang membahayakanmu. Dan satu hal lagi." Hannah mendekati Ciel.

"Berikan ini pada goblin penjaga disana. Mereka akan mengenali simbolku." Hannah membuka telapak tangan Ciel dan meniupkan serbuk peri sehingga terbentuk sehelai daun Camellia yang berkilauan.

"Camellia leaf?" gumam Ciel.

"Ya, simbol kejernihan." jawab Hannah singkat dengan maksud tersirat. Ciel menatapnya tak percaya.

"Baiklah, aku mengerti. Sebastian, Claude, mari kita berangkat sekarang! Sebelum matahari muncul di timur dan aku akan sulit bergerak." perintah Ciel dengan suara penuh keyakinan.

Sebastian merunduk seraya mengucapkan, "Yes, my lady." dengan suara yang dalam. Sedangkan Claude tersenyum seperti biasa. Dan mereka bertiga beranjak pergi. Ciel diapit oleh Sebastian dan Claude.

"Hati – hati, Ciel!" pekik seluruh peri dan Alois yang berdiri mengapit Hannah dan melambaikan tangan kepada Ciel. Hannah tersenyum manis kepada Ciel yang masih menatapnya. Mereka menatap kepergian ketiga manusia tersebut dengan harapan agar para manusia tersebut mampu kembali dengan selamat.

Selama perjalanan yang cukup panjang, Claude bercerita mengenai para peri yang bersama Hannah kepada Ciel. Sedangkan Sebastian ikut memperhatikan ceritanya, hutan dan Ciel. Ciel mendengarkan dengan seksama dan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai hal–hal aneh yang tidak dimengerti olehnya.

"Jadi, Soma dan Agni itu peri yang berasal dari negeri lain? Bagaimana bisa mereka sampai kesini?" tanya Ciel.

"Ya, kau tahu Hindia? Anak dari benua Asia. Agni dan Soma adalah peri delegasi yang datang untuk menyaksikan penurunan tahta ke tangan Hannah. Mengenai bagaimana mereka kesini, tentu saja mereka menggunakan teleport. Dan sayangnya, ketika acara tersebut dimulai Ash muncul bersama Angela dan menyihir semua yang ada menjadi seperti sekarang. Serta membuat Black Pearl menjadi suram." Claude menjelaskan sambil membenahi letak kacamatanya.

"Hm, apakah akan berbeda jika aku berhasil menghancurkan sihirnya?" tanya Ciel dengan tatapan menerawang kedepannya.

"Entahlah, coba kau tanya saja Sebastian! Aku terjebak disini jauh setelah Sebastian." bisik Claude. Ciel memandang pria berambut hitam lurus belah tengah disamping kanannya dengan tatapan yang aneh.

Sebastian yang sadar sedang diperhatikan menatap balik. "Kenapa, Ciel?" tanya Sebastian dengan senyumnya. Ciel membuang mukanya kedepan dan melirik sedikit.

"Emm, Sebastian, berapa usiamu? Tadi Claude memberitahuku kalau kau sudah ada disini sejak bertahun–tahun yang lalu. Bagaimana keadaan Black Pearl saat itu? Dan bila kita berhasil, apakah akan ada perubahan?" tanya Ciel pelan. Sebastian terdiam sejenak, menimbang sesuatu.

"Usiaku secara fisik 20 tahun. Tapi, sebenarnya aku berusia lebih dari seratus tahun. Aku saja tidak ingat keluargaku, dimana aku tinggal, darimana aku berasal, bahkan aku tidak tahu siapa diriku." jawabnya lirih. Ciel menangkap kesedihan purba yang terdengar dari suara lirih Sebastian.

"Black Pearl pada masa itu, sangat indah! Bila sekarang kau berada di puncak Azura, kau akan dapat dengan jelas melihat betapa indahnya Black Pearl." jelas Sebastian mantap.

"Maaf? Apa itu Azura?" tanya Ciel, mulai tertarik dengan objek asing yang disebutkan Sebastian.

"Gunung bersalju yang bisa kita lihat dari danau Black Pearl. Ingat? Dan seandainya kau, kita berhasil. Hasilnya bukan hanya menghapus kutukan, tetapi mengembalikan Black Pearl kesediakala." jawab Sebastian. Ciel mengangguk.

"Nah, sekarang kita sampai diperbatasan hutan timur." ujar Sebastian.

Ciel dan Claude melihat dihadapannya terdapat dua buah pohon raksasa yang dahannya merunduk membentuk gerbang dengan pintu besar dihiasi surai – surai lumut hijau tebal. Sebuah cahaya kecil muncul dari atas pintu bersurai.

"Kau tidak akan bisa membuka pintunya jika tidak memiliki kuncinya." gumam Sebastian.

"Ciel, kau bawa daunnya kan?" tanya Sebastian.

"Ini?" Ciel menunjukkan sehelai daun Camellia yang diberikan oleh Hannah.

"Nah, sekarang majulah sampai tempat terang dan tunjukkan daun tersebut!" perintah Sebastian.

Ciel maju beberapa langkah dan menunjukkan daun di telapak tangannya di bawah cahaya pintu bersurai. Tidak beberapa lama, pintu bersurai tersebut terbuka dan membuka sebuah lorong panjang dari dahan pohon yang bersimpul satu sama lain menuju sebuah ruangan besar. Sebastian masuk ke dalam lorong lebih dahulu untuk memastikan tidak ada bahaya. Setelah itu, Ciel masuk tepat dibelakang Sebastian, lalu diikuti oleh Claude yang menjaga bagian belakang.

Sementara itu, di Granada…

Kepergian Ciel sebenarnya adalah hal biasa, tetapi, yang tidak biasa adalah waktu lamanya dia pergi. Biasanya dia akan pergi tidak lebih dari 2 jam. Lain hal dengan yang terjadi saat ini, sampai malampun Ciel tidak terlihat. Mereka tidak menyadari kemungkinan Ciel tidak akan pernah kembali lagi, selamanya.

"Haduh, Ciel kemana Lizzie? Kenapa dia belum pulang juga? Ini sudah mendekati jam 9 malam!" ujar panik seorang wanita berpakaian serba merah, Angelina Durless.

"Tadi siang dia izin kepadaku untuk membeli daging, untuk merayakan ulang tahun bibi malam ini." jawab Lizzie sambil menenangkan Angelina yang duduk dengan gelisah.

Lizzie berjalan menuju lemari dan mengambil sarung tangan hitam yang biasa digunakannya untuk berkuda. "Sayang, kau mau kemana?", tanya Angelina.

"Aku akan mencarinya di pelosok Granada, kalau perlu di setiap sudut Saville. Bibi bisa tunggu dirumah kan? Oh ya, tolong hubungi Tuan Aberline untuk membantu mencari Ciel, ya, Bi!" ujar Lizzie yang telah memakai mantel dan topinya.

Angelina mengangguk dan bergumam, "Hati – hatilah, Lizzie, dan temukan Cielku.".

Lizzie telah menghilang dibalik pintu dan pergi mencari Ciel dengan kuda kesayangannya, Phillip. Sedangkan kuda milik Ciel yang berwarna coklat tua, Kenneth, tetap di kandang. Dia akan dipakai Angelina bila terjadi sesuatu.

"Kemana kau, Ciel? Kuharap kau tidak terkena masalah besar." gumam Lizzie ketika kudanya melesat ke arah kastil besar, Istana Saville.

"Permisi! Apakah ada orang didalam?" ujar Ciel ketika sampai didalam ruangan besar yang penuh dengan tumpukan buku–buku. Disekeliling Ciel hanya terdapat buku–buku yang ditumpuk tinggi hingga menyentuh atap yang seperti kubah. Buku–buku yang ditumpuk tidak sebesar buku biasa, dan tebalnya pun bukan main.

Ciel yang biasa membaca 600 halaman dalam satu hari mungkin membutuhkan seminggu untuk membaca satu buku dari perpustakaan sihir tersebut. Dihadapan Ciel terdapat podium besar dan tinggi yang terbuat dari kayu oak. Sebastian dan Claude berpandangan karena menyadari kehadiran seseorang. Tiba–tiba sebuah suara menggelegar. Seperti suara troll hutan.

"SIAPA KALIAN? BERANI SEKALI DENGAN LANCANG MASUK KEDALAM TEMPAT INI!" geram suara tersebut.

Ciel gemetar karena terkejut, Sebastian pun berjalan mendekat dan memeluk bahunya. "Tenang Ciel, itu hanya suara buatan. Aku ada disini, jadi jangan takut." bisiknya dengan suara sepelan desiran angin. Ciel yang akhirnya bisa tenang, menarik napas panjang.

"Saya Ciel Phantomhive, dan Hannah mengutus saya untuk mengambil buku Black Pearl's Corona. Bila anda ingin bukti, saya memiliki Camellia dari Hannah." jawab Ciel dengan suara sedikit tegas.

"Huh? Hannah? Tunggulah ditempatmu berdiri, Ciel Phantomhive!" perintah suara yang terdengar sedikit lebih halus. Ciel menatap Claude dan Sebastian bergantian. Claude mengangkat bahu, dan Sebastian hanya tersenyum kecil.

Terdengar suara langkah kaki yang bersahut–sahutan. Dan terdengar seperti ada lebih dari dua orang menuruni tangga podium. Ciel hanya bisa terkejut melihat trio lelaki muda yang identik. Ketiganya memasang wajah datar, dan sangat mirip. Sebastian dan Claude mati-matian menahan tawa melihat wajah terkejut Ciel yang lebih imut dari Suri Cruise atau boneka porselen manapun.

"Eh-eh, kok bukan troll sih?" ujar Ciel dengan nada meninggi karena terkejut. Ketiga penjaga perpustakaan, Claude dan Sebastian tertawa.

"Kami penjaga perpustakaan goblin ini. Tapi, kami bukan sepenuhnya goblin." jawab seseorang yang berada di tengah dengan datar.

"Saya Timber" "Saya Cantebury" "Saya Thompson" ujar ketiganya berurutan dari kanan ke kiri.

"Oh! Hai Timber, Cantebury, Thompson." sapa Ciel gugup.

"Silahkan duduk, Ciel." ujar Thompson seraya membawa 6 kursi kayu dan sebuah meja bundar dibantu oleh Timber. Ciel, Claude dan Sebastian pun duduk berdampingan, begitu pula ketiga penjaga perpustakaan. Mereka melingkari meja bundar.

"Ada apa kalian kemari? Apakah Yang Mulia membutuhkan sesuatu?" tanya Cantebury.

"Kami mencari Black Pearl's Corona milik raja yang terdahulu." jawab Ciel singkat. Ketiga penjaga itu menatap Ciel dengan intens sehingga yang ditatap merasa risih.

"Astaga! Kaukah manusia itu?" pekik Timber karena melihat mahkota perak diatas kepala Ciel. Sebastian dan Claude mengangguk bersamaan.

"Yeah, itu memang dia. Selamat!", ejek Claude dan Sebastian memutar matanya.

"Baiklah, tunggu sebentar!" ketiga penjaga bangkit bersamaan dan dengan kecepatan angina ribut mencari Black Pearl's Corona bersamaan. Mereka menggeledah tumpukkan buku–buku sehingga perpustakaan tersebut berantakan.

"Sebastian, mungkin kita harus membantu." bisik Ciel. Sebastian mengangguk.

"Timber, buku itu seperti apa?" tanya Claude yang menghampiri penjaga yang sedang membawa buku–buku tebal ditangannya.

"Memiliki sebuah mutiara hitam besar ditengah, dan dikelilingi verde dan terdapat faustian di sampul belakangnya." jelas Timber. Sebastian menghampiri Claude, dan Claude menjelaskan ciri – ciri buku tersebut kepadanya. Ciel yang sedang duduk mendengarkan percakapan Claude, langsung bangkit dan ikut mencari di tumpukan buku yang belum tersentuh trio penjaga.

"Ciel, biar kubantu." tiba–tiba saja Sebastian berdiri disampingnya dan mengambil alih buku besar yang ada ditangan Ciel.

"Astaga, Sebastian! Kau ini, hobi ya mengagetkan orang?" pekik Ciel. Sebastian hanya tertawa.

"Tidak juga, kau saja yang tidak pernah memperhatikan sekelilingmu." gerutu Sebastian.

"Oh ya, Ciel, kenapa kau ingin sekali menyelesaikan semua ini? Kau tahu bahayanya kan?" tanya Sebastian, asal dan tanpa tujuan. Ciel menatapnya sejenak, dan menarik napas.

"Well. Sebastian, aku tidak ingin membuat bibiku dan sepupuku khawatir. Mereka satu – satunya keluarga yang kumiliki. Dan aku ingin mengembalikan semuanya kesediakala, seperti yang kau ceritakan tadi." jawab Ciel.

Sebastian menatap gadis kecil didepannya tanpa emosi, entah apa yang sedang dipikirkannya. "Hm, setelah itu, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya lagi, tanpa tujuan.

"Tidak tahu, mungkin ingin mempelajari lagi ilmu kedokteran, seperti bibiku." jawab Ciel. Sebastian tersenyum kecil.

"Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ciel balik.

"Aku ingin menyelidiki identitasku. Aku kan sudah menjadi sejarah saat ini." jawab Sebastian dengan tawa. Ciel ikut tertawa karena dia baru ingat Sebastian jauh lebih tua dibanding dirinya.

"Hey Ciel, Sebastian, kemari! Aku menemukan bukunya!" panggil Claude dari pojok ruangan dekat kaca dan cermin besar berdiri tegak disampingnya. Ciel dan Sebastian berjalan menuju tempat paling terang tersebut, begitu pula ketiga penjaga perpustakaan.

"Wah itu dia bukunya!" ujar Thompson. Claude menyerahkan buku itu kepada Ciel.

"Bagaimana membukanya?" tanya Ciel.

"Kau tempelkan saja Camellia ke mutiara tersebut." jawab Claude singkat.

Ciel mengambil daun tersebut dari saku gaunnya dan menempelkan daun tersebut di permukaan mutiara hitam besar yang ada di sampul buku. Camellia leaf tersebut berubah menjadi serbuk berkilauan dan menghilang ditelan mutiara hitam yang ikut berkilauan. Verde yang mengikat buku memilin dan buku terbuka. Ciel langsung mencari halaman mengenai cara menghapus kutukan Oblivia Luna.

"Nah, cara kutukan ini akan terhapus bila yang terpilih telah melengkapi jiwanya dan menemukan jiwa yang terpisah. Dan jiwa yang terpisah berikrar sumpah abadi." gumam Ciel. Semua yang mendengarkan merasa bingung termasuk yang membaca kalimat tersebut.

"Jiwa yang terpisah? Maksudnya?" tanya Claude.

"Aku tidak mengerti." jawab Ciel seraya mengangkat bahunya.

Tiba – tiba sang surya menunjukkan cahayanya dan mengubah Ciel, Claude dan Sebastian menjadi hewan.

"Oh, tidak lagi." lirih Ciel. Sebastian yang kembali menjadi raven hanya menatap angsa putih didepannya dengan sendu. Dan sang kuda hitam hanya menghela napas pasrah.

"Yah, mau bagaimana lagi? Mari kita selesaikan ini." gumam Claude.

Ciel mendesah, "Terima kasih untuk kalian yang telah membantu. Semoga kita bertemu lagi." ujar Ciel kepada trio penjaga.

"Maafkan kami tidak bisa membantu lebih banyak. Semoga kalian diberkati dan kutukan bisa musnah." ujar Cantebury. Sebastian, Ciel dan Claude pun meninggalkan perpustakaan. Mereka kembali ke danau untuk menemui Hannah.

"Ciel, kau tidak apa – apa?" tanya Sebastian ketika mereka terbang. Claude berlari dibawah mereka.

"Aku tidak apa, Sebastian. Hanya saja aku memikirkan bibiku. Pasti dia sudah melaporkan kehilanganku ke Tuan Aberline, dan seluruh knight mencariku. Tapi mereka tidak akan mencari sampai hutan ini." jawab Ciel.

"Kita pasti bisa menyelesaikannya, Ciel! Aku yakin itu. Percayalah! Kau hanya butuh semangat dan sedikit keberanian." ujar Sebastian dengan mata berkilat. Ciel menatap Sebastian dan tersenyum. "Trims, Sebastian." lirihnya.

Mendekati sore hari, mereka sampai di danau. Hannah sedang duduk diatas akar pohon besar sambil memegangi tongkat perinya.

"Ciel, Claude, Sebastian!" panggilnya. Tidak terlihat hewan–hewan disekitar Hannah, itu membuat Claude sedikit khawatir.

"Yang Mulia, kemana Alois dan yang lain?" tanya Claude seraya berhenti berlari.

"Mereka sedang mengawasi hutan barat. Kediaman Ash. Kurasa ada sesuatu." jawab Hannah.

"Sebastian, tolong panggilkan mereka!" ujar sang peri. Dan Sebastian pergi mencari teman–temannya.

"Ciel, bagaimana? Apakah kau telah menemukan caranya?" tanya Hannah. Ciel yang mendarat diatas danau menggelengkan kepala putihnya, mahkota dikepalanya berpendar indah.

"Aku tidak mengerti maksud buku itu, Hannah. Dia berkata kutukan akan berakhir jika aku melengkapkan jiwaku dan menemukan jiwa yang terpisah lalu aku harus membuat sumpah. Aku tidak mengerti." desah Ciel.

Hannah tersenyum, dan tertawa kecil. "Oh, anakku, kau benar–benar polos. Maksud buku itu adalah, kau harus menemukan cinta sejatimu. Atau belahan jiwamu. Dan bukan kau yang bersumpah, tetapi belahan jiwamu" jelas Hannah.

Ciel menatap tak percaya, selama ini dia tidak pernah memikirkan apapun mengenai hal tersebut.

"Um, aku memang tidak pernah memikirkan atau membayangkan hal tersebut.", gumam Ciel. Kalau dia sekarang dalam bentuk manusia, pipinya akan memerah seperti buah delima.

"Well, kurasa untuk hal tersebut, aku tidak bisa memaksakan. Tapi aku memiliki satu cara, bagaimana kalau kita menari saja? Kudengar di Saville akan dilaksanakan pesta ulang tahun raja. Aku ingin kau menghadirinya sehingga kau bisa bertemu bibimu. Kebetulan pestanya diadakan malam hari, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan kutukan tersebut." jelas Hannah.

Ciel menatapnya dengan mata membola, membuat Hannah ingin mencubit pipinya karena keimutan manusia didepannya.

"Hm, aku tidak bisa menari. Dan aku rasa aku butuh guru yang sabar." gumam Ciel malu. Ciel mengenang, selama ini dia menolak mempelajari tarian apapun karena menurutnya membuang waktu.

"Aku dan teman–temanmu akan membantumu, sekarang perhatikan ini!" perintah Hannah dengan suara lembut.

Hannah mengayunkan tongkat perinya kearah tubuhnya sendiri. Dan gaun ungu lavender yang digunakannya memendek diatas lututnya seperti tutu untuk penari balet, hanya saja tidak terlalu pendek. Dia memakai pointee shoe dan stocking putih. Hannah mengayunkan kembali tongkatnya kearah danau dan muncullah lempengan batu granit besar yang diatasnya terdapat alat musik lengkap yang bermain sendiri.

Musik tersebut mengalun, dan Hannah mulai menari tarian yang biasa ditarikan di Saville pada saat itu. Gerakan pertama terlihat mudah dan kemudian masuk ke gerakan kedua. Ketika akan memasuki gerakan ketiga, para hewan dan Sebastian telah kembali.

"Yang Mulia, memang penari yang hebat!" puji Maylene.

Finny menganggukkan kepalanya sehingga telinga kelincinya bergoyang. Ciel tersenyum mendengarnya. Memang baru kali ini dia melihat seseorang menari, dan betapa beruntungnya dia menyaksikan seorang penari solo terbaik menarikan sebuah tarian yang sangat indah.

"Swan Lake!" pekik Alois dengan ceria.

"Swan Lake?" tanya Ciel.

"Ya, tarian tradisi di Saville. Kau tidak tahu, Ciel? Yang Mulia memang berbakat dalam tarian, lho!" ujar Alois dengan semangat.

"Wah, hebat sekali." gumam Ciel.

Dia tidak menyadari sepasang mata berwarna liqorice menatapnya dari dahan pohon yang tinggi. Sebastian kembali dengan cepat karena dia berpapasan dengan teman–teman yang dicarinya

"Aku merasa bersalah berbohong padanya, padahal akulah* yang menciptakan tarian itu." gumam Sebastian. Claude yang mendengarnya melihat keatas.

"Well, kau ternyata sudah ingat?" tanya Claude.

"Ya, sangat jelas. Karena kehadirannya yang membangkitkan permata itu."

Flashback,

Sebastian's Past…

"Tuan Muda, anda ditunggu Yang Mulia di ruangannya!"

Kurasa Richard menepuk pundakku dan membangunkan tidur siangku. Aku menguap dan bangkit dari kursi kerjaku.

"Ada apa lagi? Aku kan baru pulang memanah. Masa harus melakukan hal–hal aneh lagi, sih?" gerutuku. Richard tertawa, "Kau ini tidak berubah deh, Tuan Muda!" ujar pembantu sekaligus sahabatku itu. "Ya deh!" desahku.

Ayahku, Gilbert Michaelis, raja Saville sedang duduk bersama ibuku, Carmen dan istrinya yang satu lagi, Ireane, ibu tiriku. Mereka sedang berdiskusi. "Ada apa, ayah?" tanyaku seraya memberi hormat bersamaan dengan Richard.

"Sebastian, ada hal yang harus ayah beritahu. Kumohon kau mengerti." ujar ayah dengan sendu. Aku mengangkat alis mataku, entah mengapa rasanya aura ruangan ini tidak enak sekali.

"Sebastian, pada awalnya, aku hendak menurunkan tahta padamu. Tapi, kakakmu, Xavier melarikan diri ke Black Pearl. Sehingga kita tidak bisa melakukan upacara penurunan tahta. Aku ingin kau mencarinya, bisakah? Karena aku sudah mengerahkan para knight untuk mencarinya." ujar ayah.

Aku terkejut karena sebelumnya aku berfikir tidak mungkin ayah memilihku. Selain aku anak kedua, aku juga terlalu muda. Aku saja belum berusia 20 tahun. Meski sebenarnya meneruskan tahta adalah hakku sebagai putera mahkota. Ya sudahlah, aku juga tidak ingin menyusahkan diriku, terima nasib saja. Aku merunduk dan berkata "Yes, my lord".

Kakakku, Xavier Michaelis lebih tua enam tahun dariku. Dia selalu disebut The prince of the light karena dia selalu memakai pakaian putih dan kuda putih. Berkebalikan denganku yang lebih menyukai warna hitam. Aku pun tidak suka berbaur dengan bangsawan, karena mereka aneh. Aku lebih suka bersama sahabat – sahabatku di daerah dan pembantuku yang lain, Richard juga salah satu sahabatku.

Aku sering dimarahi Xavier karena selalu kabur, menyelinap dan menyamar. Aku tidak suka diam saja dan dilayani. Aku lebih suka memantau, mengetahui, dan melayani orang. Dia selalu berkata bahwa sebagai pangeran kita tidak boleh bersikap seperti yang kulakukan, seperti pelayan. Dia sangat tidak suka padaku, kurasa. Tapi kenapa selama ini dia baik sekali?

Seingatku, meski dia benci sekali sifat pelayanku, dia sangat baik untuk mengajariku setiap hal yang harus dimiliki seorang putera mahkota. Dan dengan sangat cepat mampu kupelajari. Dia memang jarang bersikap nonformal, tetapi tetap saja, dia kakakku.

"Tuanku, kau yakin akan pergi ke Black Pearl?" tanya Richard.

"Aku harus bagaimana lagi? Ayah pasti khawatir sekali karena Xavier tidak pernah pergi kemanapun, apalagi ke dalam hutan itu untuk berburu. Jadi, kumohon kau jagalah ibuku dan ayahku. Aku akan kembali." Aku menjawab seadanya.

"Kau sahabat terbaikku, Richard. Dan aku percaya padamu." ujarku.

"Terima kasih dan hati - hatilah, Tuanku." jawabnya. Dia menyerahkan kekang kuda hitamku dan aku langsung melesat. Jubah hitamku terbang di udara Saville yang dingin dan pedang kesayanganku tetap ada di pinggangku. Sahabat mati sejak aku kecil.

Aku tidak pernah mempermasalahkan tahta. Asalkan aku tetap bisa melayani rakyatku dengan baik. Aku sebenarnya lebih suka kakakku saja yang duduk di singgasana dan aku tetap menjadi the dark prince. Apa sih yang dipikirkan para tetua aneh? Menyusahkan saja.

Hm, Black Pearl itu dekat dengan Granada seingatku. Dan aku jadi ingat sesuatu, Xavier memiliki tabiat aneh. Dia mengedarkan isu bahwa ada banyak penyihir dan hewan aneh di dalam hutan itu. Aneh juga, kenapa kakakku yang seperti itu mau susah–susah masuk kedalam hutan saat gelap sedangkan dia berusaha menyebarkan isu yang aneh?

Aku bergegas masuk kedalam hutan melalui gerbang batu hutan yang bisa dibuka. Aku terkejut karena ternyata bagian dalam hutan ini begitu terang dan indah, tidak seperti biasanya. Mungkin karena full moon. Dasar! Kakakku yang sedikit aneh itu menyebut ini menyeramkan? Astaga, dia sedang stress, mungkin.

Aku rasa aku melihat kuda putih kakakku. Nah, itu dia didekat pohon sequoia! Setelah aku dekati hewan itu, dia malah lari kearah… barat? Aku rasa lebih baik diikuti, mungkin akan membawaku ketempat Xavier.

"Jauh juga! Ah, menyusahkan saja dia!" gumamku. Kurasa aku akan mengajukan hukuman untuk Xavier, menemaniku keluar istana boleh juga. Dia akan sangat sangat merasa jengkel bila kuajak keluar kamarnya yang megah.

"Selamat datang, adikku sayang!" sapa Xavier.

"Hey, kenapa tumben sekali kau menggunakan bahasa nonformal, Xavier?" tanyaku bingung setelah turun dari kudaku.

"Wah, inikah adikmu itu, Tuanku Xavier?" ujar seseorang dibelakanganya. Aku tidak tahu kalau hutan ini berpenghuni dan aneh sekali Xavier berteman dengan orang dari hutan.

"Seperti yang kau lihat, Ash. Dialah calon raja Saville. Sebastian Michaelis!" ejek kakakku.

Tanpa aba – aba, Xavier menusukku dengan pisau perak. "Ugh!" darahku keluar dari luka itu. Sialan! Kenapa dia menusukku?

"Ke-kenapa?" tanyaku, kurasa aku merasakan darah yang keluar dari mulutku.

"Kenapa, kau bilang? Bodoh sekali kau, Sebastian!" ejek Xavier. Kenapa dia? Aneh sekali, seperti orang tidak waras.

"Tanyakan pada ayahmu yang bodoh itu! Tanyakan pada ibumu yang menyedihkan! Tanyakan pada ibuku yang lemah itu!" geramnya. Dia menarik pisau yang menancap perut kananku dan menusukkanya lagi lalu menariknya lagi. Beruntung dia tidak menghujam jantung. Matilah aku kalau begitu, tapi tetap saja sakit sekali.

"Kau-menginginkan-tahta." gumamku dengan napas yang pendek. Astaga, aku harap aku tidak akan mati disini.

"Ya! Mereka bodoh karena memilihmu yang tidak lebih dari anak kecil nakal dibandingkan aku! Hanya karena kau lebih bisa dekat dengan orang – orang di kerajaan kecil yang menyedihkan ini! Yang benar saja, hah! Aku lebih pantas daripada anak kecil sepertimu." jelasnya dengan amarah yang bisa kurasakan dari balik suara tenangnya. Dia pasti memang membenciku. Aku merasa kebas dan mataku tidak jelas lagi.

"Ambil saja tahta itu. Jangan kau lukai ibu dan ayah." lirihku.

"Menyedihkan sekali kau berharap seperti itu, Sebastian. Kau tahu mengapa aku datang ke hutan ini?" tanyanya seraya menarik rambutku. Sakit sekali. Kurasa, dia memang gila.

"Untuk membuatmu tidak bisa kembali ke Saville. Dan dengan begitu, aku akan bisa melanjutkan rencanaku. Aku akan membunuh mereka yang melawanku, termasuk keluargaku, bila itu memang harus. Dan akan kubuat Saville seperti kemauanku, tanpa orang – orang rendah. Kau mengerti adikku?" bisiknya.

Aku sebenarnya tidak merasa dia berbisik, kata–katanya lebih menyakitkan dibandingkan luka lebar yang dibuatnya di perut kananku. Setelah itu, Xavier menjauh dan aku tertidur didalam pusaran hitam.

Beberapa hari kemudian,

Aku membuka mataku dari mimpi yang menyeramkan. Argh! Perih sekali perutku, kurasa itu tadi bukan mimpi. "Ah, kau sudah bangun?". Suara siapa itu? Seperti suara ibuku tapi berbeda.

"Saya Hannah, kau siapa? Kenapa bisa tersesat didalam hutan, nak?" tanya wanita berkulit gelap disampingku.

"Saya Sebastian. Sebastian Michaelis. Maaf, ini dimana?", tanyaku setelah mataku bisa melihat jelas.

"Ah, anda The dark Prince dari Saville, bukan?". Dari mana dia tahu?

"Hannah, dimana kuda saya? Saya harus kembali, karena Xavier akan membunuh orang tua saya!" tanyaku dengan nada panik. Kenapa wanita ini menatapku dengan sedih?

"Anakku, semua telah terlambat. Kau pingsan berhari – hari. Saville sedang berperang. Dan kau… tidak mungkin kembali." jawabnya lirih. Hah? Apa maksudnya?

"Waaaaaaaaaaa!" kenapa tanganku jadi begini. Apa ini? Aku berlari kedekat cermin.

"Astaga!" pekikku. "Kenapa jadi begini?" teriakku histeris. Aku seekor raven hitam besar. Astaga. Mimpi buruk macam apa ini? Lelucon terkonyol dan paling absurd seumur hidupku, aku bersumpah!

"Kau telah dikutuk selamanya, Sebastian. Kutukan ini akan membekukanmu dalam usiamu. Tidak bertambah tua. Dengar, jangan panik. Bila kau keluar dari hutan ini, pesuruh kakakmu akan memburumu. Untuk sementara ini, jangan sampai kau terlihat manusia." ujar Hannah.

"Bagaimana bisa aku tenang! Dia akan membunuh orang tuaku! Kau ini mengerti tidak sih!" kurasa baru kali ini aku marah semarah ini.

"Dengar! Xavier bersama saudaraku Ash, berkomplot untuk menghancurkanmu dan tahta peri yang kupegang. Dia menyulut perang dengan kerajaan di utara, timur dan barat. Dia telah membunuh orang tuamu, dan merebut tahtamu. Dia bahkan memberitakan bahwa kau mati dibunuh oleh ratu penyihir, aku. Dan kau tidak ditemukan di dalam Black Pearl. Dia membuat segalanya bertambah parah. Para penyihir pun dikutuk dan beberapa berkhianat mengikuti Ash." jelas Hannah.

"Kau, ratu penyihir kenapa tidak bisa mencegah mereka?" tanyaku dengan suara berdesis.

"Aku tidak cukup kuat untuk melawan mereka semua." jawabnya lirih.

Sabar. Sabar. Pasti akan ada jalan keluar. Aku menarik napas untuk menguasai amarahku. "Bagaimana cara untuk menghapus kutukan ini?" tanyaku. Aku ingin sekali memencet hidungku untuk menenangkan diri. Tapi tanganku menjadi sayap, dan hidungku menyatu dengan paruh. Astaga.

"Hanya menunggu manusia masuk ke hutan dan mengambil batu safir dari Black Pearl." jawab Hannah dengan enteng.

"Apa? Itu pasti lama sekali! Orang – orang sudah terdoktrin tidak akan masuk ke hutan ini!" desisku.

"Justru itulah, kau harus bersabar." ujarnya tenang. Dia menerawang kelangit.

"Kau istirahat saja, Sebastian. Aku akan mengecek keadaan hutan dan para periku." perintahnya. Dia pun melayang pergi. Tidak mungkin aku diam saja. Bagaimana kalau mencoba terbang? Akan lebih cepat dari pada berlari bukan?

Aku keluar dari pondok dan berusaha terbang. Ternyata mudah saja, hanya dengan memanfaatkan sayap dan tekanan udara. Mekanika fluida yang diajarkan guru – guru dari Balkan** memang sangat berguna, tidak salah aku jadi anak nakal. Sangat mudah. Semudah bernapas. Tapi aku mau kemana? Bagaimana kalau memantau hutan barat tempat terakhir aku menjadi manusia? Baiklah.

Aku berpikir semoga ayahku dan kedua ibuku tenang di alam sana. Tapi mungkin juga tidak, karena kejahatan putera mereka yang berkhianat. Dan nasib putera yang satu lagi tidak jauh lebih buruk. Dikutuk menjadi raven selamanya dan membeku. Aku sudah merencanakan pesta ulang tahun ayahku dengan menyajikan tarian yang akan dibawakan penari terbaik di Saville. Selain itu, banyak sekali rencana–rencana yang belum kurealisasikan. Tapi, ya sudahlah! Lebih baik sekarang melakukan apa yang bisa kulakukan. Masa lalu tidak akan bisa diubah.

Setelah tujuh dekade berlalu,

Ini sudah beberapa dekade berlalu setelah aku dikutuk. Xavier sudah mati terbunuh pengikutnya sendiri sejak lama dan digantikan oleh putera Richard yang lebih baik darinya. Perang selesai. Ash kembali ke hutan bersama puterinya, Angela. Setelah itu, aku lupa tujuanku, aku lupa orangtuaku, aku lupa segalanya. Aku merasa sangat hampa.

Hannah menemukan orang–orang yang dikutuk selain diriku. Claude lalu Alois. Claude sangat baik dan Alois sangat periang. Tapi, aku tetap tidak bisa senang. Meski aku mendapat teman baik seperti Claude dan Alois. Tetap saja aku kehilangan segalanya.

Aku menjalani kehidupan manusia di malam hari. Dan sebagai raven di siang hari. Monoton. Aku bosan. Rasanya tiap detik rasa bosan itu terus bertambah.

Beberapa tahun kemudian,

Aku rasa, aku diikuti manusia dari gerbang batu. Dan, kenapa Claude berlari seperti itu? Lalu, kenapa dia memakai kalung tali? Oh, kurasa dia hampir tertangkap lagi. Dasar masokis. Ya sudahlah, lebih baik kutolong. Tapi, kenapa manusia itu mengikutinya?

"Hey, kenapa kau bisa tertangkap, bodoh? Susah pula melepas talinya!" gerutuku.

"Aku kan hanya ingin jalan – jalan, Michelis! Bosan tahu, menatap danau terus!" ejeknya.

"Diamlah! Tali ini tebal!" geramku.

Tiba – tiba Claude menggeram. Aku pun berkaok dan berusaha menenangkan sahabatku. Manusia itu mendekat.

"Tenang. Tenang. Aku hanya ingin membantumu." ujar manusia itu. Takut tetapi sangat lembut. Aku terbang keatas dahan dan mempersilahkan dia menolong Claude. Dan dia berjalan kearah safir itu. Dia mengambilnya! Astaga!

Kurasa mataku akan copot. Dan kepalaku seperti kolam kosong yang diisi air memori. Aku bisa dengan jelas mengingat hari dimana aku mati sebagai manusia. Aku bahkan mengingat setiap detil hidupku sebelum ini. Dan dia adalah manusia itu. Manusia yang akan membebaskan aku dari kutukan. Akhirnya!

Tapi, apa benar? Dia terlalu rapuh. Dan, entah apa ini? Aku khawatir kalau Ash tahu dia datang. Mengingat betapa liciknya Ash dalam satu abad ini, aku ingin agar bisa menyembunyikannya dari penyihir sialan itu. Dia tidak boleh terluka.

Setelah itu,

Tapi, kenapa dia malah ingin pergi? Tidak. Tidak. Tidak!

Aku tidak sadar aku telah dihadapannya lagi dan marah sekali. Aku sendiri tidak sadar apa yang kuucapkan sehingga dia ketakutan seperti itu. Lebih baik aku pergi. Bertengger di pohon tertinggi dekat hutan barat, dan menurunkan temperatur kepalaku. Argh!

"Sebastian? Kau dimana?" itu suara Agni.

"Kenapa mencariku? Manusia itu sudah pergi?" tanyaku acuh dari atas pohon.

"Sudah. Claude mengantarnya… Astaga!" pekik Agni tiba – tiba. Dia menggeram dan berlari menuju danau. Aku bingung, kenapa lagi ini? Tiba–tiba aku sadar, rumah Ash gelap. Sial! Aku harus ke danau.

Aku mendengar kekacauan dekat danau. Tidak jauh dari tempat Hannah, aku bertengger di atas dahan. Aku bingung melihat gumpalan cahaya temaram berwarna ungu muda yang mengambang di dekat pinggiran danau. Dan Ash menyerang cahaya itu. Dan setelah cahaya itu pecah bersamaan kalahnya sihir milik Ash, aku melihat angsa putih dengan mahkota perak dan batu permata Black Pearl padanya. Ciel.

Oh! Tidak! Dia dikutuk.

"Sebastian, aku tahu. Kau mungkin menyayangi manusia itu. Tapi, kenapa harus berbohong? Bukankah lebih baik kau bercerita padanya? Kuyakin Ciel orang yang pengertian. Dia sulit ditebak, memang. Tapi, kurasa dia sangat baik." ujar Claude.

Sebastian menatap angsa putih yang sedang memperhatikan tarian yang dibawakan Hannah. Dia terpaku dan pikirannya bercabang.

"Entahlah. Aku butuh waktu. Tidak mudah rasanya." gumam raven hitam. Matahari semakin condong dan seiring musik, matahari terbenam. Sihir hitam Ash luntur oleh bulan, dan para hewan menjadi manusia. Hannah pun telah selesai mendemonstrasikan tariannya.

"Bagaimana Ciel? Mudah kan?" tanya Hannah kepada gadis dihadapannya. Ciel menggigit bibirnya.

"Well, aku mampu mengingatnya, hanya tidak yakin bisa menarikannya." jawabnya.

"Bagaimana kalau kubantu, Ciel?" tanya Sebastian yang ternyata sudah berdiri disampingnya. Jubah hitamnya telah dilepas dan tersampir di lengannya. Pakaiannya yang berwarna hitam tidak bisa menutupi lekuk tubuhnya. Ciel bersemu merah karena menyadari betapa dekatnya dia dengan Sebastian.

"Bagaimana? Kenapa diam saja, Ciel?" tanya Sebastian lagi. Ciel semakin panas.

"Oke." jawabnya singkat. Para peri terkikik karena kegugupan Ciel, terutama Alois yang tertawa heboh.

"Wah, wah Ciel!" goda Alois. Ciel memelototinya.

"Sudah, sudah! Mari kita mulai!" ujar Hannah dengan senyum yang manis. Dia mengarahkan tongkatnya kearah Ciel. Ciel dikelilingi cahaya dan pakaiannya berubah menjadi gaun dengan warna ungu muda dan baby pink. Bentuk hiasan gaunnya seperti bulu angsa dan gaunnya memendek diatas lutut. Diapun telah memakai pointee shoe.

"May I?" tanya Sebastian seraya mengulurkan tangan kanannya kepada Ciel. Ciel menerima ajakan tersebut, meletakkan tangannya di atas tangan Sebastian dan musik dimulai.

"Jangan salahkan aku kalau kakimu terinjak." gerutu Ciel dengan wajah yang memerah. Sebastian tersenyum. Musik terus mengalun dan pasangan penari terus menarikan Swan Lake.

"Sebastian, kenapa kau bisa menarikan ini dengan baik sekali?" tanya Ciel saat mereka menari. Sebastian menatapnya dan menimbang sejenak.

"Karena akulah yang menciptakannya dan menunjukkannya serta mengajari Hannah." jawab Sebastian. Ciel terkejut. Karena wajah lucunya, Sebastian tertawa.

"Hahaha, wajahmu lucu sekali kalau terkejut!" ujar sang raven.

"Ta-tapi, seingatku tarian ini sudah menjadi tradisi sejak seabad yang lalu." bisik Ciel dengan suara sedikit tercekik.

"Ya, dan aku sudah kakek – kakek." ejek Sebastian.

"Wow! Aku seharusnya menolak ajakan kakek – kakek." Ciel terkikik geli.

"Ya, dan terima kasih kepada nona yang telah membangkitkan ingatanku." gumam Sebastian dengan tatapan meminta maaf.

"Wah! Kau sudah ingat?" tanya Ciel.

"Tentu, dan aku harap kau memaafkan aku karena berbohong aku tidak ingat." lirih Sebastian. Ciel menatap pria yang sedang sedih dihadapannya dengan seulas senyum.

"Kenapa aku harus marah? Bukannya bagus, kalau kau bisa mengingat semuanya lagi?" jawab Ciel. Sebastian menatapnya balik dan tersenyum.

"Terima kasih." ujarnya. Ciel terkejut karena Sebastian memeluknya dan membenamkan wajahnya di dalam rambut kelabu milik Ciel. Ciel menjadi bingung karena seingatnya, dalam tarian yang diajarkan Hannah, tidak ada acara berpelukan. Jadi, mereka berhenti sejenak dan Ciel menenangakan Sebastian.

'Dia pasti galau. Kasihan.' batin Ciel.

'Kenapa aku terus saja merona saat menatapnya. Seolah darahku menjadi listrik statis yang membuat jantungku berdegup kencang sekali. Dan hangat sekali dia. Seperti pelukan ayah dan ibu.' Ciel bermonolog dalam hatinya. Dia merasa telah kenal sekali pada orang yang memeluknya ini. Dan karena itu, dia mengangkat tangannya, berjinjit dan memeluk balik Sebastian.

"Kau galau ya?" tanya Ciel.

Sebastian mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Tidak." jawabnya singkat. Musik berhenti dan tarian selesai.

"Kau tidak terlalu buruk dalam menari kok! Hanya saja kakimu dua – duanya kiri." ejek Sebastian. Ciel merasa dahinya berkerut.

"Apa katamu?" tanyanya.

"Kau menginjakku terus tadi." gerutu Sebastian.

"Ih, itukan sudah kubilang, bodoh!" teriak Ciel. Sebastian tertawa karena pipi Ciel memerah lagi, kali ini karena marah. Ciel menatap pria yang tertawa di depannya, dan tersenyum. "Sial." gumamnya.

"Eh, kurasa aku harus menemui Hannah. Karena aku tidak bisa terus – terusan memakai pakaian ini!" ujar Ciel tiba – tiba sambil menatap gaunnya sekarang.

Sebastian tersenyum, "Silahkan, nona! Lewat sini." Sebastian menggandeng Ciel dan membawanya ke tempat Hannah, menghasilkan wajah Ciel memerah. Benar saja, Hannah sedang duduk diatas akar besar. "Ada apa, sayangku?" tanya Hannah dengan lembut.

"Ehm, Hannah, bisakah kau kembalikan pakaianku? Aku malu sekali memakai gaun tanpa lengan ini. Dan tidak mungkin aku tidak mengotori gaun cantik ini." gerutu Ciel.

Hannah tertawa kecil, Sebastian menggodanya "Padahal kau terlihat lebih baik dalam gaun itu, sayang. Lebih berbentuk karena kau kecil."

Hannah semakin geli mendengarnya ditambah Ciel yang tergagap lalu mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan keningnya. Membuat wajah imutnya semakin lucu.

"Diam saja kau." gerutu Ciel. Dia tidak terbiasa memakai gaun yang sedikit terbuka. Dan hal tersebut mengingatkannya kepada Lizzie dan Bibi Ann yang selalu berusaha membujuk Ciel memakai gaun glamour dan sedikit terbuka.

Menyadari perubahan suasana hati Ciel, Sebastian menjadi khawatir. "Hannah, lebih baik kau cepat mengubah pakaiannya, kurasa malam ini akan dingin" ucap Sebastian. Hannah menuruti kemauannya dan mengayunkan tongkatnya lalu mengembalikan pakaian Ciel yang sebelumnya. Gaun berwarna biru es yang lebih tertutup, dengan menambahkan kain penghangat yang terbuat dan afghan.

"Nah, dengan begini, kau tidak akan merasa dingin." ujar Hannah.

"Trims Hannah, Sebastian." jawab Ciel sambil memeluk kain biru tua hangat di bahunya. Malam semakin larut dan angin dingin mulai bertiup kencang.

"Ciel, Hannah, cepatlah masuk ke pondok. Aku dan Claude akan mengawasi hutan sebentar. Jangan lupa nyalakan pemanas ruangan." ujar Sebastian yang sedang memasang kembali jubah hitamnya.

"Tapi, kau akan kembalikan?" tanya Ciel yang merasa khawatir dengan efek cuaca dingin. Sebastian tersenyum, "Tentu, tentu."

Hannah membawa Ciel dan para peri masuk kedalam pondok besar yang berpintu masuk dari akar pohon sequoia besar. Pondok tersebut merupakan bagian dalam sebuah sequoia besar. Ciel duduk dekat jendela kecil yang membuatnya bisa melihat Sebastian dan Claude. Tetapi, matanya terfokus hanya pada Sebastian. Terlihat Sebastian dan Claude menghilang dibalik kabut yang mulai turun.

"Ciel, apa yang kau cari?" tanya Maylene yang membawa nampan dengan secangkir teh diatasnya.

"Eh! Iya? Kenapa Maylene?" tanya Ciel yang terkejut.

"Apa yang sedang kau cari diluar, Ciel?" tanya Maylene seraya menyerahkan teh kepada Ciel.

Ciel meminum tehnya sedikit, "Tidak, hanya mengkhawatirkan cuaca." jawabnya.

"O-Oke, kalau kau lapar, bilang padaku ya? Aku akan memasak makan malam." ujar wanita berkacamata dan berambut merah itu.

Ciel kembali menatapi danau dari jendela. Maylene telah pergi ke dapur, sedangkan Hannah dan peri–peri lainnya serta Alois berkumpul di meja besar di tengah ruangan. Danau yang tidak terlihat jelas dari pondok, membuat Ciel sedikit khawatir. Karena besok malam, dia akan pergi ke Istana Saville untuk bertemu bibinya serta sepupunya. Tiba–tiba rasa kantuk menyelimutinya dan dia tertidur di kursi.

Tidak terlalu lama berselang, Sebastian masuk kedalam pondok bersama Claude. "Hannah, keadaan sementara ini aman. Ash tetap di rumahnya dan tidak ada indikasi dia akan melakukan sesuatu." ucap Sebastian seraya membuka tudung jubahnya. Claude yang juga memakai jubah, menghampiri Alois dan Soma yang sedang bermain.

"Terima kasih, kuharap rencana kita bisa berhasil besok." jawab Hannah.

"Oh ya, Ciel kemana?" tanya Sebastian. Hannah tersenyum dan mengarahkan telunjuknya kearah gadis kecil yang tertidur di kursi yang menghadap jendela. Sebastian tersenyum setengah.

"Kurasa kau harus memindahkannya kedalam kamar. Ada kamar kosong disebelah kamar Maylene. Aku sudah merapikannya tadi, tetapi aku tidak berani membawanya." ujar sang peri di iringi tawa ringan. "Baiklah." jawab Sebastian dengan tawanya.

Sebastian mengangkat puteri tidur berambut kelabu dengan hati–hati dengan cara seorang pengantin pria membawa pasangannya. Sebastian mendekap Ciel sedikit erat dan melingkarkan lengan kecil gadis itu ke lehernya. Karena Ciel sangat ringan untuk ukuran gadis seusianya, Sebastian mampu membawanya dengan mudah. Hannah membantunya membukakan pintu kamar yang sekarang milik Ciel.

Dengan sangat hati–hati, Sebastian menaruh Ciel diatas kasur putih dan menyelimutinya dengan selimut wool. Hannah mengunci jendela yang mengarah ke danau, menutup tirai dan menyalakan lampu dengan sihirnya. Lampu buatannya bersumber dari cahaya kunang–kunang. Kunang–kunang berwarna biru langka, dimasukkannya kedalam tabung lampu kecil dengan ventilasi udara. Sehingga membiaskan cahaya biru keseluruh ruangan kamar.

Sebastian duduk di kursi dekat meja yang berseberangan dengan kasur. Menatapi wajah damai puteri tidur yang bergelung didalam kain afghan dan selimut wool.

"Sebastian, aku keluar untuk menemani Alois bermain." bisik Hannah dari pintu dan Sebastian mengangguk. Ratu peri itu mengetahui bahwa Sebastian sangat protektif dan menyayangi Ciel. Dia percaya Ciel aman bersama Sebastian.

"Selamat malam." ujar sang peri seraya menutup pintu. Malam dingin pun berlalu dengan angin kencang. Sang puteri tidur beruntung karena dia tetap hangat didalam selimutnya dan tetap aman karena seseorang menjaganya. Sang pangeran hitam tertidur dikursi karena malam mulai larut.

Di lain tempat, Lizzie pulang dengan tangan kosong. Bibi Ann menyambutnya dan memeluknya serta membuatkan cokelat panas untuknya. Lalu, mereka tidur di kamar masing–masing. Dengan hati yang terus mendoakan keselamatan Ciel. Masing–masing tertidur lelap tanpa mimpi, meski terlindung dari cuaca buruk diluar sana.

To be continued..

Appreciation : For readers, reviewers and those who marked my story. Especially,

Chlairine Lou, Aiko Enma, Arashiyama Misaki, Kuroschiffer Phantomcr, and KuroshitsujiLover234

I really appreciate you guys. Thank you very much and I'm open for reviews and critics! I'll be so delight if you can help me improving myself here.

Dan saya sangat amat berterima kasih kepada yang telah membaca dan mereview Untitled

Nekochan-lovers, Nirmala Azalea Maurish (huwaaa kakak aku kangen kamu!), dan Dimitri Light.

Entah saya harus bagaimana lagi. Takut banget ngelanjutin fic Untitled karena takut dikira copycat (kok kayak nama kloningan kucing =_=a). Menurut para pembaca, lebih baik dilanjutkan atau tidak ya? Huhuhuhuhu saya galau berminggu-minggu nih! *kebanyakan curhat*

Oh iya, kalau dicerita aslinya, Odette (The White Swan) itu finally bersama Pangeran Siegfried. Dan, Von Rothbart adalah ayah dari Odile (The Black Swan). Versi asli dengan cerita ini, jauh berbeda.

Hem, saya sebenarnya ingin melanjutkan Untitled, tetapi ada beberapa komplikasi. Huhuhuhu dan tanggal 11 saya mulai beraktivitas. Karena itu, saya mohon izin hiatus karena akan melaksanakan ujian nasional tahun 2012. Doakan saya bisa ikut undangan ke UI. Amin.^^v

Beberapa note :

Goblin : Makhluk kecil yang diceritakan dalam Harry Potter sebagai penjaga Bank Gringgots. Nah, kalau disini, The Triplets itu ceritanya keturunan dari makhluk imut imut yang namanya goblin~~ hihi

Oblivia Luna : Buatan saya sendiri itu. Awalnya dari kata Luna yang artinya bulan. Dan Obliviate yang artinya sama dengan menghilang. Jadi, arti keseluruhan adalah sihir yang akan hilang (sementara) karena bulan. *plak* *ngaco to the max ini*

Black Pearl's Corona : Maksudnya, karena buku ini semacam petunjuk. Corona itu kan sebenarnya bagian dari matahari yang hanya terlihat kalau terjadi gerhana matahari. Cantik deh~~

Camellia Leaf : Daun tanaman Camellia, bentuknya agak lebar dan memiliki manfaat bagi kecantikan.

Teleport : Fiksi ini. Cara perpindahan dengan instant. Tahu kan?

Azura : Biru

Kayu Oak : Sebenarnya hanya jenis tipe kayu saja, hahaha

Suri Cruise : Anaknya Tom Cruise yang imutnya bukan main. Meski masih kecil, dia stylish lho. Pasti tahu kan?

Verde : Istilah sendiri *dihajar orang2 bahasa*. Artinya, sulur – sulur dari akar pohon kayu hitam yang melilit buku.

Faustian : Simbol perjanjian dengan iblis. Berhubungan dengan orang yang pertama kali mengklasifikasikan iblis dan neraka, Sir Sebastian Michaels. *maaf kalo salah tulis namanya*

Tutu : Rok penari balet

Pointee Shoe : Sepatu penari balet. Nah yang dipakai Hannah dan Ciel yang punya tali lilitan sampai bawah lutut.

Musik : Swan Lake ciptaan Tchaikovsky

Tarian : Swan Lake versi balet

Liqorice : Merah api

* : Sebenarnya pencipta tarian Swan Lake adalah Marius Petipa dan Lev Ivanov. Mereka membuat tarian ini menjadi empat babak. Tapi yang dimaksud Sebastian disini, Cuma tarian yang ditarikan oleh Odette dalam Barbie of Swan Lake.

Prince of The Light and Dark : Perbedaan mendasar antara Xavier dan Sebastian. Tetapi tidak selamanya terang itu berarti baik, bukan? Oke, saya bercanda ^_^ ini hanya penampilan saja.

** : Balkan maksudnya itu, negeri semacam Arab Saudi, Irak, Iran dsb. Dari sejarah yang say abaca, Granada termasuk universitas yang tertua di Spanyol. Selain itu, banyak buku ilmu pengetahuan yang sebenarnya berasal dari ide – ide ilmuan muslim. Sumber : Majalah Scientia.

Mati : Maksudnya om tampan kita adalah tidak bertambah tua dan jalan ditempat. Ingatkah dengan pendapat Rosalie Hale mengenai dirinya menjadi vampire. Nah, saya meminjam pendapatnya untuk om kita yang tampan.

Gaun Ciel : Lihat lah Odette nya Barbie of Swan Lake. Itulah gaunnya.

Afghan : Bahan tekstil yang tebal. Selain wool, bisa digunakan sebagai selimut.

Sepertinya sekian dulu, see you soon! Awawaw, saya suka sekali Xavier Samuel, Skandar Keynes, Keanu Reeves dan pengisi suara Doraemon di Indonesia *ngakak*. Tapi yang sekarang saya mau tahu itu tokoh-tokoh di Ghost Rider, ada yang tahu?

Vi Ether Muneca

Masa kecil adalah masa dimana tidak ada kesedihan. Karena itu saya selalu ingin mengadopsi anak kecil dan membuat dia merasa beruntung telah hidup di dunia.