Chapter 2 updated! See how the new team heading to Sunagakure! Seperti biasa, aku selalu menantikan review-review dari kalian semua yang udah lebih senior dari aku jadi bisa selalu memperbagus karya-karyaku ini. Bagi senpai-senpai yang sudah memberikan daku review tengkyu ya, I really appreciate it. Enjoy! Now the real "romance" part begins.

THE CONFESSION

"Baiklah! Ittekimas!!" kata Naruto lantang pada para pengantar rombongannya di depan gerbang Konoha; Kiba, Shino, Sakura dan Sai.

"Hei, Naruto! Jaga Hinata baik-baik, ya! Jangan sampai karena kecerobohanmu, dia sampai repot!" Kata Kiba keras. Tapi yang dikasih pesan malah lagi sibuk sama Sakura,

"Nah, Sakura-chan, aku pergi dulu ya. Biarpun perjalanan kali ini gak bareng kamu dan Sasuke, tapi ini tetap tugas," ungkap Naruto. Kiba yang kesel karena dicuekkin mencekik leher Naruto sambil berkata, "Perhatikan kalau orang sedang bicara, bodoh!"

Dan kedua makhluk bodoh itu bertengkar seru dengan Sakura terjebak di dalamnya. Sai—yang selalu datar-datar saja—hanya bisa melihat dan tersenyum aneh. Di sela-selanya bertengkar, Kiba menjerit, "Hati-hati ya, Hinata!"

Hinata mengangguk senang. Teman-teman satu timnya mau berbaik hati menyempatkan diri mengantarnya pergi dalam misi yang dianggapnya penting ini. Penting, karena ini diberikan langsung oleh Hokage-sama. Penting, karena dia akan pergi dengan Naruto.

Ketika mereka akan berangkat, tiba-tiba Sakura berlari mendekati Hinata dan berbisik, "Sukses dengan Naruto ya, Hinata-chan!" Kontan saja itu bikin muka Hinata merah padam. Kalau saja dia tidak bisa menahan diri, mungkin saat itu juga dia akan langsung pingsan.

Dan dengan sekali lagi lambaian keras dan iringan perkataan "Itterasyai!" dari para pengantar—yang gak bisa lama-lama karena punya agenda masing-masing— maka mereka pun berangkat ke Sunagakure.

--

Mereka masih berada di hutan wilayah Negara Hi. Tapi rasanya sudah jauh dari rumah. Itulah perasaan orang yang akan pergi jauh dan lama dari kampung halaman sendiri. Kakashi memimpin jalan di depan, sementara Naruto berjalan di belakangnya. Hinata? Yaah, dia juga jalan di belakang Kakashi, tapi tidak tepat di samping Naruto. Agak kebelakang lagi.

"Maaf, ya, Hinata. Kau mesti menyesuaikan diri kalau berpergian dengan Naruto. Dia ini agak merepotkan soalnya," Kata Kakashi membuka pembicaraan.

"Hey! Sensei ini jangan menjelek-jelekkan aku begitu, dong! Aku tidak sebegitunya kok. Lagipula, ini bukan kali pertama Hinata ada misi denganku. Kau juga pernah menjalankan misi bersamaku saat mencari kumbang legendaris Bikachou, kan?" Naruto menoleh ke Hinata.

Hinata yang gak siap untuk ditatap langsung secara tiba-tiba sama Naruto menangguk-angguk spontan sampai lehernya terasa sakit.

"Nah kan!" seru Naruto penuh nada kemenangan. "Aku ini tidak seburuk yang sensei pikirkan!"

"Tapi lebih parah dari yang kupikirkan," gumam Kakashi.

Perjalanan berlangsung damai sampai tiba-tiba…

"Tunggu," kata Kakashi sambil merentangkan tangannya untuk menghentikan kedua muridnya.

"Eh? Kenapa lagi sih Kakashi-sensei? Tadi kan kita sudah berhenti buat pipis. Masa sensei mau pipis lagi?" Naruto yang masih belum tahu masalahnya ngomong seenaknya.

"Hinata, gunakan Byakkugan milik klanmu. Kurasa kita diintai. Dan Naruto, siapkan dirimu, kalau-kalau kita diserang. Biarpun sebenarnya kuharap tidak perlu bertarung di sini sekarang," Kakashi memberikan perintah.

Naruto mempersiapkan kuda-kuda, sementara Hinata mulai menggunakan Byakkugan dan meneliti sekitarnya. Ketemu…

"Kakashi-sensei, ada sekitar tiga sampai empat orang dibelakang kita," bisik Hinata.

"Tahu di mana tepatnya? Apakah dekat sekali?" tanya Kakashi lagi.

"Tidak, cukup jauh malah sebenarnya. Setidaknya tidak dalam jarak mereka bisa mendengar apa yang kita bicarakan sama sekali. Kita dalam jarak aman, sensei," papar Hinata jelas.

"Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan saja. Selama mereka tidak menyerang kita, itu tidak masalah. Hinata, bisakah kau mengecek mereka dengan Byakkugan-mu setiap sejam sekali?"

Hinata mengangguk singkat. Naruto melepaskan kuda-kudanya. Raut mukanya sedikit kecewa karena tidak bisa bertarung. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesuai instruksi Kakashi, Hinata selalu mengecek keadaan pengintai mereka setiap sejam sekali.

Para pengintai itu selalu menjaga jarak yang sama dan tidak pernah melakukan apapun kecuali diam dan mengawasi. Sepertinya mereka juga belum tahu kalau keberadaan mereka sudah terungkap. Sebenarnya Hinata sudah mulai merasa risih dengan para pengintai yang selalu mengikuti, tapi Kakashi-sensei bilang tidak akan apa-apa selama para pengintai itu tidak menyerang. Dan lagi, ada yang aneh dengan aliran cakra di tubuh para pengintai itu. Terlihat… berantakan.

Saat malam, mereka sudah berada di perbatasaan wilayah Negara Hi. Mereka menggelar kemah dan api unggun. Setiap orang berjaga selama 3 jam bergantian. Karena terlalu sering menggunakan Byakkugan membuat Hinata menjadi sangat lelah dan langsung tertidur.

--

Hinata tertidur cukup lama. Setidaknya cukup untuk menghilangkan lelah karena Byakkugan. Ketika terbangun, Naruto yang sedang berjaga dan Kakashi-sensei tertidur. Naruto sedang menatap api unggun.

"Nnn…" Hinata mencoba memanggil. "Nnn… Na-naruto-kun?"

Naruto tersentak sedikit, menyadari kalau Hinata sudah bangun. "Eh, sudah bangun ya? Tenang, giliranmu jaga masih lama."

Hinata bangun dan menyesuaikan posisi duduknya. Dia dan Naruto duduk dalam satu garis lurus. Yang memisahkannya hanyalah api unggun. Sesaat yang terdengar hanyalah derik api unggun, masing-masing larut dalam pikiran.

Naruto kembali melanjutkan aktivitasnya menatap api unggun, sementara Hinata hanya menatap tanah, gak tahu mau ngomong apa. Sesekali Hinata mencuri pandang ke Naruto. Wajah Naruto terlihat muram, ada apa ya?

Naruto-kun sedang mikirin apa ya? Kenapa wajahnya seperti itu?

"Hei, Hinata," panggil Naruto tiba-tiba.

"E-eh, iya? Ada apa?"

"Gadis-gadis itu sebenarnya senang diperlakukan seperti apa sih?"

Perlu beberapa detik untuk Hinata mencerna pertanyaan yang Naruto lontarkan. "Me-memang ada apa Naruto-kun bertanya seperti itu?" Hinata malah balik bertanya. Naruto menghela nafas dan menengadahkan kepalanya menatap bintang-bintang. Untuk sesaat dia hanya diam menatap langit kemudian menatap Hinata lagi sambil bertanya, "Aku tidak boleh tahu, ya?"

Hinata menggeleng, "Bukan begitu, aku kaget saja Naruto-kun tiba-tiba bertanya seperti itu. Seperti… bukan Naruto-kun saja…"

"Oh," Naruto menjawab pendek. Kembali menatap api unggun dengan wajah muram. Sesaat semuanya kembali diam. "Aku menyukai seorang gadis" papar Naruto,

Deg! Hinata serasa melewati satu degupan jantung. Dia langsung menyimak semua perkataan Naruto. Si bocah serigala itu masih melanjutkan ceritanya, "Aku sudah lama kenal dengannya. Padahal rasanya semua sudah kulakukan unuknya. Tapi sepertinya semua yang kulakukan salah dan dia masih belum menyadari kalau aku ini ada…"

Hinata ingin sekali tahu siapa si gadis itu. Tapi ada ketakutan pula dalam hatinya, takut kalau gadis itu bukan dirinya dan dia kecewa. Naruto kembali melanjutkan, "Yah,bagaimana tidak, dia tertarik dengan orang yang lebih hebat daripada aku sih. Malah sudah jadian dengannya."

Deg! Lagi-lagi, Hinata serasa melewati satu degupan jantung. Jangan-jangan, gadis itu…

"Yah, Sakura-chan memang tinggi sih seleranya. Dia naksirnya Sasuke yang pintar dan populer itu," Naruto tersenyum memaksa.

Seluruh udara di sekitar Hinata serasa terenggut dan hilang begitu saja, membuat nafasnya tercekat. Dunia, entah kenapa, seakan menjadi lebih redup. Ingin rasanya Hinata menangis di sana, tapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga. Karena kalau air matanya tumpah sekarang, Naruto akan tahu perasaan yang dipendamnya selama ini, selama bertahun-tahun. Perasaan yang hancur dan dalam sekejap mata saja.

"Hei, Hinata, sebagai sahabat Sakura-chan, menurutmu aku masih boleh berharap tidak ya padanya? Cintaku sudah lama bertepuk sebelah tangan nih…" Naruto bertanya tanpa sadar bahwa lawan bicaranya sudah hampir meneteskan air mata. Hinata diam, tak mampu menjawab. Ia takut kalau ia bicara, air matanya tidak akan mampu lagi ia bendung. "Hinata?"

Hinata menarik napas dalam-dalam dan mulai mencoba bicara, "Me-menurutku, sah-sah saja kalau Naruto-kun masih ingin berharap padanya. Tapi, kalau sudah jadian begitu, apa Naruto-kun mau kalau hanya mencintai dalam hati?"

"Tidak masalah! Bagiku hanya ada Sakura-chan. Tidak ada gadis yang seperti dia di seluruh Konoha. Ah, tidak, di seluruh dunia!" Naruto membentangkan kedua tangannya selebar yang ia bisa dan kemudian tertawa lepas. "Haaah… Terima kasih ya, Hinata, rasanya hatiku legaan nih! Kau sendiri apa tidak ada laki-laki yang kau taksir? Kiba, ya?"

Hinata menggeleng pelan. "Kiba itu hanya sahabat satu timku saja. Dia dan Shino memang baik sekali padaku, tapi tidak pernah lebih dari itu. Tidak ada anak lelaki yang spesial di mataku, saat ini aku hanya ingin memusatkan diri pada sekolah saja," Hinata terpaksa berbohong. Ia kemudian bangkit. "Aku mau cuci muka dulu, rasanya mengantuk sekali." Kemudian dia pergi ke aliran sungai yang cukup jauh dari perkemahan.

Di sana Hinata menyegarkan pikiran. Dan tetap menahan-nahan air matanya. Kata-kata Naruto tadi masih bergaung di kepalanya.

Yah, Sakura-chan memang tinggi sih seleranya…

Bagiku hanya ada Sakura-chan…

Tidak ada gadis seperti dia di seluruh Konoha!

Sesaat dia menatap cerminannya di air sungai. Menatap rambut panjangnya yang hitam… Naruto-kun tidak akan suka hitam, terlalu muram. Mungkin merah muda memang lebih baik, Menatap matanya yang putih dan seakan kosong… Mata hijau memang lebih ceria, menatap wajahnya yang sekarang murung… bukan wajah ini yang disukainya, Sakura-chan memang cantik dan hebat. Tak salah Naruto-kun menyukainya lebih dari apapun…

"Payah!" maki Hinata pada cerminannya di air sungai. "Dasar Hinata bodoh! Berharap-harap sendiri. Seharusnya kau tahu kalau Naruto-kun tidak mungkin naksir gadis payah seperti kau. Dasar bodoh!"

Tes! Air matanya akhirnya jatuh ke sungai dan membut riak di bayangannya. Satu-dua tetes kembali jatuh… Dan tanpa bisa dicegahnya lagi, ia sudah menangis tersedu-sedu dalam diam. Yang menjadi temannya hanyalah aliran sungai di dekatnya…

--

Naruto kembali menatap langit. Bintang-bintangnya indah sekali… Bocah kyuubi itu menghela nafasnya, rasanya lega setelah bercerita pada Hinata. Gadis itu baik sekali mau mendengarkan. Heran, kenapa ya kok dia bisa semudah itu bicara dengan Hinata? Padahal kan dia tidak begitu dekat dengannya, ngobrol juga jarang.

Tapi semua itu langsung tumpah begitu saja, segala ganjalan mengenai Sakura, mengenai betapa ia menyukainya, mengenai mindernya dengan Sasuke, kekasih Sakura. Semuanya dengan mudah diceritakan. Dan Hinata, dengan sukses, sudah membuat hatinya plong. Membuat hatinya siap untuk menerima cintanya tak terbalaskan lagi.

Naruto merebahkan diri di tanah. Bintang-bintang semakin jelas terlihat. Arigatou, Hinata…

--

Hinata membasuh mukanya. Tidak boleh ada yang tahu kalau dia menangis, apalagi Naruto. Itu bisa menyusahkannya dan berimbas pada misi yang sedang dia jalani itu. Biar bagaimanapun juga, Hinata ingin professional dalam menjalankan tugas. Masalah pribadi dan misi, haruslah misi yang di kedepankan, itu yang dia pelajari dari Neji.

Esok, ia harus terlihat seakan tidak terjadi apa-apa. Memang tidak terjadi apa-apa kan? Yah setidaknya untuk Naruto dan Kakashi-sensei. Setelah dipikir-pikir, menjadi sekedar sahabat dengan Naruto juga tidak buruk. Yang penting adalah melihat orang disukai bahagia kan? Pikiran Hinata sekarang menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Ia hanya emosi sesaat saja.

"Yosh!" Ucap Hinata sambil mengepalkan kedua tangannya, "Sekarang yang harus kulakukan hanyalah…"

Sebelum Hinata sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah kunai melesat ke arahnya. Berkat refleksnya yang terlatih, Hinata langsung meloncat ke samping dan menghindari kunai tersebut. Dia kemudian menggunakan Byakkugan untuk mencari orang gendeng yang tidak tahu adat itu.

Tapi ternyata sudah tidak ada siapapun di sekitarnya. Cepat sekali hilangnya… Hinata mengamati kunai tadi yang sekarang menancap kuat di tanah. Hei, ada pesan yang terikat di ujung kunai itu! Hinata mencabut kunai dari tanah dan membaca isinya:

Shinobi Konohagakure,

Kalau kalian pintar, maka tinggalkan misi ke Suna! Hanya kematian yang akan menjemput,

Kalau kalian keras kepala dan membantah ancaman ini.

Pasirnya tidak akan bertahan lama, bahkan kalian pun tak'kan bisa menghentikannya

"Pasirnya tidak akan bertahan lama… Apa maksudnya ini?" Hinata punya perasaan tidak enak mengenai ini. Buru-buru ia langsung kembali ke perkemahan.

"Kakashi-sensei! Naruto-kun! Gawat! Ini gawat sekali!" Hinata berteriak histeris sambil berlari-lari menuju perkemahan. Kakashi yang kaget langsung terbangun, tapi dasar orang yang baru melek, dia malah bergumam bego, "Hah? Hah? Apa? Apa Icha-Icha yang baru sudah keluar? Kok heboh sekali sih?"(Begini nih yang dulu jadi anbu itu?)

Naruto—yang emang gak tidur dari tadi—langsung sigap bangun. "Ada apa, hinata? Apa ada binatang buas?"

"Tidak, bukan itu. Lihat ini! Ada ancaman!" Hinata menyerahkan kunai beserta lembaran kertas ancaman itu kepada Naruto. Bocah itu membacanya dengan seksama. "Pasirnya tidak akan bertahan lama? Apa maksudnya?" pertanyaan yang sama juga keluar dari mulut Naruto. "Sensei!" Naruto menoleh pada gurunya dan memberikan kunai itu.

Kakashi—yang sudah sepenuhnya sadar dari tidurnya—membaca ancaman itu. "Mungkin ini dari pengintai itu. Hinata, apa mereka masih di sekitar kita?"

Hinata menggeleng, "Sudah kulihat sekeliling dengan Byakkugan-ku tapi aku tidak menemukan orang-orang itu, sensei. Entah kenapa, mereka seperti menghilang begitu saja. Sebenarnya sensei, aku merasakan ada yang aneh dengan para pengintai itu sejak aku melihat mereka menggunakan Byakkugan."

"Kenapa tidak katakan sejak awal? Jadi apa keanehan yang kau lihat itu?"

"Gomen, sensei… aku merasa aliran cakra di tubuh mereka itu tidak, umm… normal. Aliran cakra mereka terlihat tidak teratur. Setiap saluran cakra tidak mengalir pada satu titik pusat. Bahkan pada kenyataannya mereka malah tidak memiliki titik pusat cakra," papar Hinata sambil mengingat-ingat bagaimana cakra yang ia lihat.

"Apa? Jadi seperti tidak punya jantung, begitu?" tanya Naruto.

"Ningyo…" Kakashi bergumam. "Itu namanya ningyo. Jutsu yang cukup sulit dan lumayan mengerikan."

"Ningyo? Aku belum pernah dengar," sahut Naruto.

"Secara singkatnya, jurus ini—sesuai namanya—membentuk sebuah boneka suruhan dari cakra yang bisa kita gunakan untuk apa saja. Bahkan membunuh seseorang tanpa harus mengotori tangan kita sendiri. Kita bisa menggunakan median air, tanah, daun, kayu, bahkan udara dan api untuk membuat ningyo. Setelah tugasnya selesai, ningyo akan musnah tanpa jejak.

Ningyo mirip sekali dengan manusia, hanya saja dia tidak bisa berbicara dan ya yang itu tadi, jika dilihat cakranya sangat awut-awutan."

Pantas, ternyata yang kulihat itu bukan manusia toh...

"Ningyo ditopang dengan kertas mantra. Kertas mantra itu berisi perintah yang harus dilakukan ningyo. Jika tugas ningyo sudah selesai, kertas mantra itu akan copot. Mungkin kita akan menemukannya. Di mana kau diserang, Hinata?"

"Di sungai. Lumayan jauh sih dari perkemahan ini, tapi jalan kaki beberapa menit juga sampai. Sensei mau menyelidiki tempat itu?"

"Ya, aku tak akan lama. Kalian berdua tunggulah di sini." Kemudan Hatake Kakashi pun melesat ke tempat yang dimaksud.

"Hei, Hinata, tadi kau benar-benar diserang sendirian? Kenapa tidak panggil aku?"

"Ah, gomen, Naruto-kun. Hanya dilempar kunai saja kok. Kalau hanya itu aku bisa mengatasinya. Lagipula, tidak ada serangan lebih lanjut kan? Jadi tidak apa-apa…"

"Ya memang untung hanya seperti itu saja. Tapi bagaimana kalau kau disergap. Kan gawat juga. Bikin orang khawatir saja," Naruto kemudian duduk lagi di dekat api unggun.

Hinata merasa tidak enak. Wajah Naruto tampak seperti kesal. Dia langsung duduk juga dan berkata, "A-aku bikin Naruto-kun marah ya? Go-gomenasai, ya… aku tidak bermaksud untuk—"

"Untuk bikin aku cemas begitu? Hanya saja, Hinata, kita ini sekarang satu tim, jangan bergerak sendiri begitu. Bahaya!" kata Naruto dengan nada tinggi. Hinata menunduk dan mengangguk pelan. Kemudian mereka berdua diam.

Naruto-kun mencemaskanku… tapi dia mungkin merasa begitu sebatas untuk teman satu tim saja. Ingat, Hinata, kau sudah dengar sendiri pengakuannya. Bukan dirimu yang dia pilih. Ingat misimu, misimu…

Walaupun Hinata beranggapan begitu, tetap saja sulit untuk menghilangkan perasaan melayang saat Naruto bilang kalau dia itu mencemaskannya dan marah karena itu. Rasa suka yang sudah lama terpendam memang tidak semudah itu untuk hilang. Keheningan yang amat sangat tidak mengenakkan menyelimuti sekeliling Hinata dan Naruto. Sampai akhirnya Kakashi-sensei datang menyelamatkan,

"Hah, ternyata sulit juga mencari kertas mantranya. Maaf ya sudah lama menunggu! Ini dia sudah kutemukan sumber masalahnya. Kertasnya tepat ada empat lembar," kata Kakashi sambil menunjukan empat kertas lembar berisi goresan-goresan dari darah yang merupakan mantranya.

"Jadi memang para penguntit kita itu semuanya ningyo?" kata Hinata sambil bangkit. Kakashi mengangguk dan kemudian berkata,

"Yang jelas sekarang kita harus lebih berhati-hati. Lawan kita ini mungkin orang dalam Sunagakure. Kemungkinan itu ada sekitar 50. Karena mereka tahu kalau kita akan ke Suna. 50 yang lain adalah, mungkin pelakunya orang dalam Konoha sendiri. Sebab mereka tahu misi kita ke Suna. Padahal seharusnya semua misi, baik dari yang top secret sampai yang paling remeh sekalipun, harus dirahasiakan dari siapa pun. Tapi tetap saja, mungkin ada pihak yang lain."

"Aaaah!! Mau orang dalam Suna atau orang Konoha sekalipun, tidak akan kuberi ampun sudah melukai Gaara dan menyerang kita tengah malam begini . Biar mereka merasakan amukan Uzumaki Naruto!" Kata Naruto sambil pasang pose berkelahi.

"Haah, selalu saja berdarah panas. Baiklah, Naruto dan Hinata kalian boleh tidur lagi. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali. Hoahm… Aku masih mengantuk. Aku mau tidur lagi ya," Kata Kakashi dan kemudian langsung berbaring lalu berbalik membelakangi Hinata dan Naruto.

Tinggal Hinata dan Naruto saja berdua lagi.

"Gomenasai," Kata Naruto tiba-tiba.

"Eh? Untuk apa?"

"Yang tadi, aku membentakmu seperti itu. Tidak bermaksud kok," Naruto berkata pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang padahal sama sekali gak gatal.

Hinata menggeleng, "Justru akulah yang harusnya minta maaf. Memang aku yang terlalu arogan, menganggap bisa menyelesaikan semuanya sendirian. Padahal ada timku sendiri. Naruto-kun tidak salah."

"Yaah… tapi tetap saja rasanya… Yah, sudah berlalu kan? Yang penting kau tidak apa-apa. Maafkan ya kalau omonganku menyinggungmu. Tapi, kuakui, kau sudah lebih hebat sekarang. Sugoi, Hinata!" Naruto menepuk punggung Hinata.

Naruto kemudian berbaring di tanah, bersiap tidur. Sebelum itu, dia berkata lagi kepada Hinata, "Oya, bisa tolong kau yang berjaga kali ini? Aku mengantuk sekali." Hinata mengangguk. "Arigatou, ya, Hinata. Kau ini gadis yang baik sekali."

Hinata duduk kembali. Pikirannya diperas. Lagi-lagi, perasaan melayang itu timbul. Terutama saat Naruto menepuk punggungnya tadi dan memujinya. Benaknya berkecamuk antara konsentrasi dengan misi dan Naruto yang membuatnya heboh seperti ini. Haah… Neji-nii-san, kayaknya aku gak bisa seperti kamu yang bisa mendahulukan misi di atas segalanya… tolong aku, nii-san…

Dan malam pun semakin larut, Hinata hanya bisa memandang api unggun yang berderik untuk mengalihkan pikirannya dari hal-hal menyebalkan itu. Misi besok pasti akan penuh rintangan…

--

Jadi, maaf ya kalo jelek… aku ngerjain ini saat lagi banyak pikiran, jadi gga bisa sepenuhnya konsen. Udah gitu, saat finishingnya pun, aku sedang mengantuk bgd.. jadi maap-maap banged ya kalo gga memuaskan… but please keep giving me review!