Uchihamelia Presents a Story
Kimochi
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
I didn't receive any profits in writing this fanfiction
.
.
CHAPTER 2
.
Lelaki itu berdiri tegap mematung. Manik sehitam jelaganya memandang dinding kaca. Tangan kirinya menggenggam sebotol wine yang tinggal bersisa setengahnya lagi. Jasnya ia sampirkan diatas kursi. Sedang kemeja yang dikenakannya sudah tak beraturan dengan beberapa sudutnya yang juga telah keluar. Dasinya pun melonggar, melorot hingga pertengahan dada. Begitu pula dengan rambut ravennya yang juga berantakan.
Salju nampaknya turun membasahi bumi. Ini sudah hampir memasuki pagi lagi. Tidak. Lelaki ini bukan workaholic. Ini memang perusahaannya, ialah direkturnya. Tapi sekali lagi, lelaki ini bukan workaholic yang bekerja tanpa kenal waktu. Ia hanya tak punya alasan yang pasti kenapa ia mesti pulang ke apartemennya yang super mewah, jika diruangan kerjanya pun hampir terdapat fasilitas yang serupa. Terlebih, tidak ada seorangpun yang menunggu kepulangannya dirumah. Ia memang tinggal sendirian, sendirian. Di negara orang lain. Ia merasa terasing, juga diasingkan. Jadi, percuma saja kan, ia pulang.
Rahangnya mengeras. Giginya bergesekan, hingga menimbulkan suara gemelutuk dari dalam. Matanya bersorot marah, diiringi emosi yang bertambah-tambah, pun dengan cengkeraman tangannya pada botol wine yang semakin mengerat.
Ia memang selalu bereaksi seperti ini, ketika mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Kejadian tanpa permisi yang tak sengaja dilihatnya. Kejadian yang membekas hingga meninggalkan kenangan buruk dipikirannya. Dan kejadian itu juga mengacaukan rencana indah masa depan yang telah disusunnya. "Berengsek!" umpatnya dengan suara tertahan.
Ini sudah satu tahun berlalu. Tapi kejadian itu nampaknya benar-benar sangat sulit untuk ia lupakan. Kejadian itu seperti bayangan yang terus mengikuti langkahnya kemanapun ia pergi. Tangannya dengan gerakan cepat mengarahkan botol wine menuju lubang bibirnya. Menuangkan langsung seluruh isinya pada mulutnya dan meneguknya dalam sekali tenggak. "Arghh," teriaknya pelan seusai ia menelan habis wine didalam mulutnya itu.
Satu sudut bibirnya ia tarik keatas. Ia berseringai, menatap pantulan dirinya didepan dinding kaca yang sedikit berembun karena salju yang turun dari luar. Berantakan, itulah kesan yang ia tangkap saat ia melihat bayangannya sendiri.
Tokyo. Malam ini ia sungguh-sungguh merindukan kota kelahirannya itu. Ia benar-benar kesepian berada disini sendirian. Tapi ini juga adalah pilihannya sendiri. Ia benci karena terus mengingat kejadian satu tahun lalu yang sebenarnya ingin ia musnahkan itu. Karenanya ia memilih menghindar, dengan menerima tawaran ayahnya untuk mempimpin salah satu perusahaan Uchiha yang berada dikota London. Ia pergi jauh meninggalkan Tokyo untuk mencoba melupakan kenangan buruknya itu.
Dan kini, satu tahun sudah ia mencobanya. Tapi kejadian itu masih ia ingat dengan jelas. Kenangan itu masih menempel lekat dibenaknya. Dan sosok gadis berambut merah muda dengan iris emerald dikedua bola matanya kembali hadir menyambangi kepalanya. Seharusnya ia bisa bersama dengan gadis itu sekarang. Iya, kan? Bukan seperti ini— sendiri-sendiri dengan jarak benua yang memisahkan.
Kepalanya lalu menggeleng. Tidak sepatutnya ia mengingat gadis itu. Dan tidak sewajarnya pula ia mencoba untuk membenci gadis itu. Karena walau bagaimanapun, gadis itu tak bersalah. Gadis itu tak berdosa. Bukan gadis itu yang menyakitinya. Bukan. Ia hanya harus melupakannya tanpa perlu membencinya. Dadanya selalu bergemuruh seperti ini tiap kali ia mengingat gadis itu. Kenapa ini harus terjadi? ia membatin.
"Ini bukan salahmu, Sakura..." Ia berdesis dengan menahan emosi. Napasnya memburu, dengan matanya yang semakin berkilat tajam. "Sialan!" Ia meninju dinding kaca itu dengan kuat hingga tangannya sedikit memar dan mengeluarkan darah.
Dengan kesal ia kembali menduduki kursi putarnya. Ia menaruh botol wine yang sudah kosong itu dengan keras diatas mejanya hingga menimbulkan dengungan yang cukup memekakkan. Lalu tangannya dengan lihai membuka laci meja, dan mengeluarkan satu lembar foto dari dalamnya.
Kedua oniksnya dengan sinis menatap nyalang foto tersebut, seolah mengintimidasi. Pun dengan cengkeraman tangannya pada foto itu yang semakin kuat, dan dengan emosinya yang menggebu ia meremasnya hingga kusut. Ia lalu melemparkan kembali foto tersebut kedalam laci, dan menutupnya keras. "Bedebah!" makinya kesal.
.
To be continued—
.
.
A/N:
Story 600 words. Ini cerita ficlet bersambung. Jadi, chapter ini lanjutan dari cerita chapter 1. Oh ya, maaf. Rate-nya harus aku ganti dan naikin jadi M. Karena tema ceritanya lumayan berat. Jadi aku kasih M aja biar aman. Dan... summarynya juga aku ganti. Hehe
Berkenan Review?
Terimakasih sudah baca :)
Uchihamelia
