Zitao memasuki rumahnya dengan berbagai pemikiran tentang Kris yang berputar-putar dikepalanya. Kris sekarat. Dan menjadi semakin parah ketika Kris terikat perjanjian dengannya. Dia juga tidak meminta hal ini terjadi. Dalam hitungan hari, ia sudah mengalami berbagai kejadian tak wajar. Dan ini semua karena ulah dari Deal Breaker kurang ajar yang membuatnya terikat dengan Kris tanpa persetujuannya.
Zitao memasuki kamarnya dan terkejut saat mendapati ada seseorang disana, setengah berbaring diranjangnya sambil membaca novel koleksinya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Kau sendiri? Kenapa baru sampai sekarang?"
"Aku bertanya duluan,"
"Menunggumu," jawab Kris.
"Untuk apa?"
"Jawab pertanyaanku dulu, baru ajukan pertanyaan baru,"
"Aku mampir ke suatu tempat tadi. Rumah temanku,"
"Apa yang kau lakukan disana? Apa kau menceritakan semuanya pada temanmu itu?"
"Tidak. Aku hanya ingin bertemu dengannya saja,"
Kris menatap Zitao dengan tatapan mengintimidasi selama beberapa waktu, membuat Zitao yang ditatapi seperti itu merasa risih. Kris menggedikkan bahunya sekali dan meletakkan kembali novel milik Zitao ketempatnya semula lalu keluar dari kamar tersebut.
"Aku akan berada dibawah jika kau membutuhkanku," ujarnya sebelum benar-benar keluar dari kamar Zitao.
"Kau tidak pulang?"
"Tidak. Aku akan disini selama kita masih terikat perjanjian. Bukan masalah, 'kan? Lagipula kau tinggal sendiri dirumah sebesar ini,"
"I-iya. Tapi…"
"Lebih baik kau mandi sekarang. Bersihkan dirimu. aku masih bisa mencium bau darah dari tubuhmu,"
Setelah Kris pergi, Zitao mengendus tubuhnya sendiri kemudian memasang ekspresi bingung, "Aku tidak mencium bau apapun…"
Title : IT FOLLOWS
Author : V.D_Cho
Cast : Tao, Yifan (Kris) dan teman-teman ^^
Genre : Fantasy, Thriller
Type : YAOI
Rate : T+
Warning : It's a YAOI fanfict. As you see in other ff. DLDR. Don't be a plagiator, make your own story don't take my idea or any plot in this ff. This is all pure my own imagination. Please appreciate my hard work. Take with full credit. ^^
This ff is dedicated for #PANDANETESDAY event, semua penghuni grup KTHS tercinta, terutama Kuro-neechan dan juga untuk para reader tercinta. Wkwk :v
V.D Entertainment
.
.
Proudly Present
.
.
:::IT FOLLOWS CHAPTER II:::
.
.
.
"Byun Baekhyun!"
"Baekhyun, tunggu!"
"Baek!"
"Astaga, berhenti berlari, Baekhyun!"
Lelaki yang namanya telah diteriakkan beberapa kali oleh lelaki lainnya tampak tidak memiliki atensi sedikitpun untuk memperlambat laju larinya. Malah, ia semakin mempercepatnya. Sesekali ia menoleh kebelakang dan mendapati bahwa Chanyeol masih mengejarnya.
'Hollow itu kenapa mengikutku terus, sih?' pikirnya dalam hati.
"Byun Baekhyun, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Berhentilah sebentar!"
"Ck!" Baekhyun berdecak lalu menghentikan larinya dengan cara yang cukup dramatis, dan nyaris saja terjatuh karena salju yang menutupi jalanan jika saja ia tidak memiliki keseimbangan yang baik.
"Apa!?" tanyanya dengan nada kesal.
Chanyeol menatapnya dengan garang dan langsung memanggul tubuhnya di bahu tanpa aba-aba. Membuat Baekhyun kaget dan meronta untuk dilepaskan.
"Hei! Apa-apaan ini? Turunkan aku!"
"Tidak. Nanti kau kabur lagi," balas Chanyeol.
"Tidak akan. Turunkan aku sekarang. Kau membuatku malu, orang-orang melihat kearah kita,"
"Abaikan saja,"
Dan akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Baekhyun hanyalah diam dan pasrah dengan posisinya saat ini. Chanyeol baru menurunkannya saat mereka tiba di sebuah kelab mewah yang diketahui Baekhyun menjadi sarang para Hollow.
"Ini masih pagi dan kau membawaku ketempat ini. Ada apa?"
"Ini soal Kris,"
"Kris? Dia kenapa?"
"Dia sedang terikat perjanjian dengan seseorang dan itu membuatnya harus membagi setengah energinya yang tersisa untuk Dealer-nya,"
"Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya dia tidak terikat dengan siapapun?"
"Itu dia. Kami tidak bisa menolak jika ada yang membuat perjanjian, kau tahu itu 'kan?"
Baekhyun mengangguk, "Seorang Deal Breaker memanfaatkan Zitao yang sedang mabuk waktu itu dan membuatnya terikat dengan Kris yang saat itu sedang berada disekitar mereka,"
"Zitao? Huang Zitao?"
"Kau mengenalnya?"
"Dia juniorku di kampus,"
"Dunia sempit sekali…" gumam Chanyeol.
"Apa yang kau ingin aku lakukan dengan Kris?" tanya Baekhyun kemudian.
"Putuskan perjanjiannya dengan Zitao, apa kau bisa?"
Baekhyun menjatuhkan dirinya kesalah satu sofa yang ada disana.
"Kau tahu hanya Deal Breaker yang membantunya membuat perjanjian lah yang bisa memutuskan perjanjiannya. Jika kau meminta aku yang melakukannya, sama saja kau menginginkan Zitao mati…"
.
"ARGHHH!"
Erangan serupa terdengar beberapa kali dari dalam ruang laboraturium sebelum akhirnya suasana kembali sunyi senyap. Beberapa orang yang mengenakan pakaian serba putih dilengkapi dengan jas laboraturium tampak hilir-mudik, berulang kali memeriksa keadaan seseorang yang berada di dalam sebuah tabung kaca besar dan sebuah pedang berwarna hitam kelam secara bergantian.
"Sudah semuanya?"
"Ya, semua energi sudah dikeluarkan,"
"Kalau begitu kita mulai proses pemindahan energinya ke dalam pedang sekarang,"
Dengan sebuah alat berwujud seperti bola besi dengan banyak kabel yang mengelilinginya, energi yang tadinya telah dikeluarkan dari tubuh sang Dealer kini dialirkan kedalam pedang berwarna hitam tadi. Memerlukan waktu sekitar satu jam agar proses transfer-nya berjalan sempurna dan setelah selesai, pedang tersebut diberi label, K-02.
"Bagaimana pedangnya?"
"Ini masih belum sempurna karena mereka berhasil memutuskan perjanjian sebelum kita sempat menyegel semua energi yang berada pada Dealer waktu itu. Tapi jika hanya untuk melukai Kris, pedang ini akan dapat melakukannya dengan baik,"
"Baiklah. Yin, panggil Kai kemari,"
"Baik, Tuan,"
Tak lama, sekretaris bernama Yin tersebut kembali bersama dengan seorang lelaki disisinya.
"Ada apa memanggilku?" tanya Kai.
"Berikan pedang itu padanya," perintah Tuan Wang.
"Bagaimana, kau menyukainya?" tanyanya pada Kai.
Kai memutar pedang tersebut beberapa kali, mengayunkannya sebelum akhirnya mengarahkan ujung pedang tersebut tepat didepan wajah Tuan Wang dengan tampang menyebalkannya.
"Cukup bagus. Tapi ini belum sempurna jika kau ingin membunuh Kris,"
"Aku tahu. Kami sedang mencoba untuk mendapatkan Dealer barunya. Tunggulah sebentar lagi dan kami akan menyempurnakan pedang itu,"
"Dealer barunya Kris? Siapa?"
"Namanya Huang Zitao. Dia seorang mahasiswa dan –"
"Aku tahu," Kai memotong perkataan Yin, "Aku mengenal Huang Zitao. Serahkan dia padaku," ujar Kai dengan seringaian diwajahnya.
.
Saat Zitao terbangun, dia hampir saja berteriak ketika melihat Kris yang tidur disebelahnya. Tapi dibatalkannya saat melihat wajah Kris yang sedang tertidur tersebut. Ia perlahan keluar dari selimutnya, dan hampir berteriak untuk kedua kalinya saat menyadari bahwa Kris tidak mengenakan baju atasannya. Tapi lagi-lagi batal saat Zitao melihat Stigma yang menutupi hampir seluruh punggung Kris. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Stigma tersebut, tapi Kris menghentikannya.
"Jangan disentuh!"
"O-oh… maaf,"
"Kau bisa tertular jika menyentuhnya. Jadi, jangan disentuh," ujar Kris dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Apa itu sakit?"
"Ya,"
"Kalau begitu, lanjutkan saja tidurmu. Aku akan membuatkan sarapan dan berisap-siap untuk kuliah,"
"Zitao," panggil Kris bersamaan dengan tangannya yang menarik Zitao untuk kembali keatas tempat tidur. Posisi saat ini adalah Zitao yang berada dibawah kungkungan kedua tangan dan lutut Kris. Tubuh bagian atas Kris terekspos sepenuhnya dihadapan Zitao. Untuk beberapa saat, lelaki berambut perak tersebut hanya diam dengan matanya menatap lurus pada mata milik Zitao.
"Apa kau suka tidur larut malam?" tanya Kris.
"Huh?"
"Lingkaran hitam dimatamu itu…"
"O-oh… sejak lahir mataku memang seperti ini,"
"Zitao…" Kris memanggil namanya sekali lagi.
"Y-ya?"
"Jika suatu saat terjadi sesuatu padaku, apa kau akan menangis untukku?"
"Maksudmu?"
Kris tidak menjawab lagi. Dia berguling kesebelah Zitao, "Lupakan saja,"
Zitao bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar, "Aku akan memanggilmu setelah selesai membuat sarapan,"
"Hm,"
.
Hari ini ada yang berbeda dikantin jurusan matematika, ada sebuah gerombolan, gerombolan perempuan-perempuan dari berbagai jurusan disekitar jurusan matematika yang mengerubungi satu objek. Seorang lelaki, yang biasanya dijuluki 'Prince' oleh setiap perempuan di Universitas Seoul. Kai.
Sekumpulan wanita tersebut secara kompak menolehkan kepala mereka kesatu titik saat Kai melambaikan tangannya pada seseorang. Huang Zitao. Zitao terlihat kaget saat merasakan aura hitam yang tertuju padanya. Ia melihat Kai yang melambai padanya, tapi alih-alih menuju ke Kai, Zitao malah memutar balik arahnya. Ia masih ingin hidup dengan tenang, jika dia menghampiri Kai, maka bisa dipastikan bahwa perempuan-perempuan tersebut pasti akan menghabisinya. Padahal mereka hanya berteman, tetapi kenapa para predator –penggemarnya Kai– selalu menatapnya dengan tatapan membunuh?
Melihat Zitao yang memutar balik arahnya, Kai beranjak dari mejanya dan mengejar Zitao.
"Tao! Hei, Tao!"
"Jangan panggil aku!"
"Tao, tunggu!"
"Aku masih ingin hidup,"
"Memangnya siapa yang membunuhmu?"
"Perempuan-perempuan yang menjadi penggemarmu itu!"
"Hei, berhenti! Mereka sudah tidak ada,"
Zitao berhenti dan menatap kebelakang, tempat dimana Kai berada dan langsung melanjutkan langkahnya lagi saat melihat perempuan-perempuan penggemar Kai berada tepat dibelakang lelaki berkulit tan tersebut.
"Mereka masih berada disana! Jangan panggil aku!"
Kai mulai kesal dengan tingkah Zitao, membuatnya mempercepatkan langkahnya dan menangkap tangan Zitao, kemudian menariknya menuju ke sebuah ruang kelas yang kosong.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu," ujar Kai.
"Apa?"
"Apa kau sedang dekat dengan seseorang yang bernama Kris?"
"Kris? Siapa?"
Zitao berbohong dengan mudahnya. Ia sudah mempersiapkan diri sejak dia keluar dari rumahnya tadi pagi. Karena ia baru dalam dunia ini dan tidak mengetahui siapa kawan dan siapa lawan, maka dirinya sebisa mungkin menekan kemungkinan bahwa Kris sedang terikat perjanjian dengannya. Hal ini juga dilakukannya atas saran dari Chanyeol tadi malam. Sampai saat ini, ia baru mengenal Kris, Chanyeol, seorang lelaki berkulit pucat bernama Sehun dan seorang lainnya yang dipanggil Suho.
"Kau berbohong," sergah Kai. Zitao menatap Kai dengan pandangan bingung, "Aku memang tidak tahu siapa itu Kris. Lagipula, mengapa kau menanyakan hal ini padaku?"
Kai terlihat sangat ingin mengatakan sesuatu, Zitao menunggu balasan darinya dengan sabar dan kembali memasang tampang bingungnya saat Kai pergi meninggalkan dirinya tanpa mengatakan apapun padanya.
"Dasar aneh," gumam Zitao.
'Tapi bagaimana Kai bisa mengenal Kris?' sambungnya dalam hati.
.
Seperti biasa, begitu selesai dengan semua kelasnya, Zitao akan pergi ke perpustakaan kota, entah untuk mengerjakan tugasnya atau sekedar membaca buku-buku disana dan baru akan pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Zitao mengeratkan mantel yang dipakainya karena udara malam yang cukup menusuk hari ini. Ia berjalan menuju halte bis dan duduk disana. Setengah jam berlalu, tapi Zitao tak melihat satupun bis lewat dihadapannya. Jalanan disekitarnya juga agak sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat berjalan di tepi trotoar dan ia hanya sesekali melihat kendaraan lain melaju dijalan raya. Ini aneh, seharusnya situasinya tidak sesunyi ini. Zitao mengedarkan pandangannya kesekeliling saat merasakan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya dan ia menemukan Kris sedang berdiri di seberang jalan, seperti biasa dengan pakaian serba hitamnya. Karena jarak yang cukup jauh, Zitao tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan oleh Kris dari seberang jalan, maka dari itu, Zitao mencoba untuk membaca gerak bibir Kris.
"Per-gi-da-ri-sa-na?"
Sebelum Zitao sempat melakukan hal yang diperintahkan oleh Kris, tubuhnya telah terlebih dahulu di kepung oleh 3 orang Hunter. Salah seorang dari Hunter tersebut mencoba untuk menyuntikkan sesuatu pada Zitao, namun gagal karena Kris yang muncul dihadapan Zitao.
Dengan kecepatan yang mengagumkan, dikeluarkannya salah satu pedang miliknya dan menebas tangan Hunter yang ingin menyuntik Zitao tadi. Hunter tersebut mengerang kesakitan saat melihat tangannya yang putus tergeletak di jalanan. Kris tidak menunggu lama untuk melayangkan sebuah tendangan ke masing-masing Hunter yang berada dihadapannya, membuat keduanya terlempar ke jalanan. Kris memanfaatkan keadaan tersebut untuk membawa Zitao pergi dari tempat itu.
Zitao tidak tahu bagaimana caranya dia dan Kris bisa tiba secepat itu di rumahnya, padahal jarak antara rumah dan halte bis tempatnya menunggu tadi cukup jauh. Begitu sampai dirumah, Zitao langsung membukakan pintu. Ia berbalik saat merasa bahwa Kris tidak mengikutinya masuk.
"Kris, apa kau…"
BRUKK…
Kris terjatuh dalam pelukan Zitao, "Kris?"
–dan pingsan…
.
Zitao membaringkan tubuh Kris diatas tempat tidur. Ia meraba dahi lelaki tersebut, tetapi tidak merasakan apapun selain dingin. Zitao pikir, karena Kris sedikit banyak memiliki kebiasaan seperti manusia biasa, seperti tidur dan bisa memakan makanan manusia, maka Kris juga bisa demam. Tapi dia bahkan tidak tahu apakah saat ini Kris demam atau tidak.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungi Chanyeol…"
"Apa yang harus kulakukan?"
Disaat dirinya sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya pada Kris, Zitao merasakan seperti ada sesuatu yang menyengat bahunya. Tepat dibagian segelnya berada. Rasa sakitnya menusuk hingga ke tulang dan Zitao meringis karenanya.
"Karena jika itu sudah terasa sakit, maka kita harus mengakhiri perjanjian ini sebelum kau ikut mati bersamaku,"
Zitao kembali teringat dengan perkataan Kris tempo hari. Dia ingin membebaskan diri dari perjanjian itu. Tapi entah kenapa, semakin ia memikirkan hal tersebut, semakin dirinya merasa kalau dirinya bersikap egois karena membiarkan Kris menahan sakitnya sendiri. Tapi, jika dia tidak melepaskan perjanjian mereka, Kris juga akan semakin melemah. Dan lagi, ia tidak bisa mengingat bagaimana rupa Deal Breaker yang membuatnya sampai terlibat dalam hal semcam ini. Zitao sungguh membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apapun disaat seperti ini.
"Kau tidak perlu melakukan apapun…" suara Kris terdengar lirih. Zitao menoleh kearah Kris, "Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?"
"Semakin buruk, kurasa,"
"Aku akan secepatnya menemukan Deal Breaker itu dan mengembalikan energi Hollow-mu padamu,"
"Zitao…"
"Ya?"
"Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"
"Kenapa tiba-tiba…"
Dalam sekejap, Kris telah berada tepat dihadapan Zitao. Berbisik dengan pelan ditelinga Zitao, "Maafkan aku…"
"Huh?"
Dan pada detik berikutnya, Kris mencium Zitao, tepat di bibirnya. Zitao yang kaget tidak memberikan reaksi apapun saat Kris menciumnya. Bahkan setelah Kris melepaskannya dan terkekeh melihat wajah emotionless-nya, Zitao masih terdiam ditempatnya.
"Apa itu tadi?"
"Semacam transfer energi. Sepertinya aku kelelahan setelah penyerangan tadi dan harus membawamu secepat mungkin pergi dari tempat tadi,"
"Kau bisa menyerap energimu dariku?"
Kris mengangguk, "Tapi tidak bisa kulakukan setiap saat,"
"Kenapa?"
"Karena nyawamu bisa berada dalam bahaya. Aku hanya bisa melakukannya sesekali. Kau tidak keberatan, 'kan jika aku melakukannya lagi?"
Melakukannya lagi. Itu artinya Kris akan menciumnya lagi?!
"Ya. Hanya itu caranya,"
"Apa?"
"Transfer energi dilakukan melalui ciuman,"
"Ka-kau membaca pikiranku?"
"Kau juga bisa melakukan itu padaku jika kau mau, Zi. Selama perjanjian itu ada, kita akan selalu terhubung,"
"Benarkah?" Zitao berujar tak percaya. Zitao menatap Kris sejenak, kemudian ia mendengar sesuatu.
'Boleh aku menciummu lagi?'
Zitao menatap Kris dengan tajam, kemudian meraih sebuah bantal dan melemparkannya pada Kris, "Tidak boleh!"
Lalu Zitao keluar dari kamar dengan wajah memerah sementara Kris tertawa di tempatnya.
.
Sementara itu, baik Kris maupun Zitao, keduanya tak ada yang menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikan mereka dari jarak yang cukup jauh dan melihat mereka berciuman. Kai mengepalkan tangannya saat melihat hal itu dan menggeram kesal.
"Aku akan membunuhmu, Kris…"
.
Tiga hari telah berlalu semenjak Kris mengatakan bahwa dirinya akan tinggal bersama dengan Zitao sampai mereka berhasil menemukan Deal Breaker mereka. Zitao sudah mulai terbiasa terbangun dengan Kris di sampingnya atau dengan Kris yang tiba-tiba menciumnya. Kadang Zitao bingung, Kris memang menciumnya karena kebutuhan energi nya atau dia sengaja melakukannya? Karena, Kris pernah berkata bahwa nyawanya akan berada dalam bahaya jika Kris melakukannya terlalu sering. Tapi, terhitung dari ciuman pertama mereka di malam itu, saat ini mungkin Kris sudah menciumnya sebanyak hampir 20 kali.
"Hei…"
"Apa?"
"Kau sengaja, ya, menciumku?" tanya Zitao sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Kris.
"Itu memang disengaja," jawab Kris, "Aku melakukannya untuk mengembalikan energiku yang terkuras,"
Zitao mendengus, "Bukan itu maksudku. Katamu aku bisa mati jika kau terlalu sering melakukannya,"
"Oh, itu. Aku bisa memilih ketika menciummu, aku akan menyerap energimu atau tidak,"
Kris menggunakan kedua tangannya untuk merapikan rambutnya, kebiasaannya jika sednag gugup, "Err… sebenarnya, aku hanya menyerap energimu sebanyak empat kali,"
"Lalu sisanya?"
"Aku hanya ingin menciummu,"
"A-apa?" wajah Zitao sontak bersemu karena malu dan geram.
"Zi-Zitao… jangan marah…" Kris beranjak dari kursinya saat melihat Zitao mengacungkan spatula padanya.
"Kau mau mati?"
"Aku bahkan tidak 'hidup', Zi" balas Kris dengan polosnya. Kris itu adalah Hollow terkuat, dia tidak takut dengan apapun karena jika ada yang menyerangnya, ia tinggal menebasnya dengan pedangnya, tapi entah kenapa, saat ia melihat Zitao dengan spatulanya, ia merasa takut.
"Kemari kau! Seenaknya menciumku dengan modus seperti itu!"
Mungkin selama eksistensinya, ini adalah hal terkonyol yang pernah dilakukan oleh Kris. Berlarian mengelilingi rumah dengan Zitao yang mengejarnya. Untuk apa juga dia menghindar? Seharusnya dia tidak takut dengan Zitao yang seperti ini. Tapi disatu sisi, dia merasa senang karena bisa menggoda Zitao sampai seperti ini. Zitao terlihat manis saat marah.
–Eh, Apa?
Tiba-tiba saja Kris menghentikan larinya dan berbalik kearah Zitao. Membuat lelaki bermata bak panda yang mengejarnya tersebut mengerem mendadak dan berakibat pada hilangnya keseimbangan dirinya sehingga dia jatuh menimpa Kris. Kris dan Zitao sama-sama mengerang kesakitan, terlebih Kris yang punggungnya langsung menghantam lantai dengan kuat.
"Astaga, Kris, maafkan aku…"
Zitao buru-buru bangkit tapi Kris menariknya dan membuatnya kembali jatuh menimpa tubuh Kris.
"Kris?"
"Apa aku pernah bilang kalau aku menyukaimu?"
"Pernah,"
"Lalu bagaimana denganmu?"
Zitao tidak menjawab. Ditatapnya mata Kris dengan intens, kemudian, tiba-tiba saja dia mengecup bibir Kris. Bangkit dengan cepat dari atas tubuh Kris dan berlari ke kamarnya yang terletak di lantai dua seraya berkata, "Aku sudah menjawabmu,"
"Kau mau kemana, Zi? Tidak mau memperpanjang durasi ciumanmu tadi?"
"Tidak! Aku mau kuliah!"
"Ini hari sabtu. Kau tidak ada kelas," jawab Kris kalem.
BRAKK…
Kris bisa mendengar suara pintu kamar yang dibanting oleh Zitao, lalu terkekeh ditempatnya. Zitao's cute, indeed…
Sementara itu, Zitao menjatuhkan dirinya ke kasur dengan wajah mencium bantal. Gila! Apa yang tadi dilakukannya? Ia jadi terlihat seperti remaja putri yang sedang kasmaran. Itu memalukan! Lagipula, perasaan apa itu? Setelah dipikir lagi, ini konyol. Bisa-bisanya dia menyukai Kris yang baru dikenalnya kurang dari seminggu dan menciumnya seperti tadi. Astaga…
"Arghh!" Zitao mengeluarkan teriakan frustrasinya yang teredam oleh bantal. Kemudian terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk.
"Zi, buka pintunya…" Kris mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Dia hanya ingin menggoda Zitao lagi, sih, sebenarnya. Tapi Kris mulai merasa aneh saat Zitao tak kunjung membalas panggilannya. Terlebih saat mendengar suara gaduh dari dalam kamar, Kris langsung mendobrak pintu tersebut dan melihat bahwa ada seseorang yang baru saja membawa Zitao keluar melalui jendela. Kris mencoba mengejarnya, tapi orang tersebut lebih cepat.
Kris kemudian kembali lagi ke rumah Zitao untuk mengambil semua perlengkapannya lalu bergegas menuju ke tempat teman-temannya berada. Meskipun sekilas, tapi Kris dapat melihat wajah orang yang menculik Zitao tadi. Dia adalah orang yang paling bersemangat untuk membunuhnya. Kai.
.
To Be Continued…
Author's Note:
Chapter depan adalah chapter terakhir dari IF. Dan lebih panjang dari ini. Kalau ga ada halangan, tanggal 10 atau 11 chapter 3 aka chapter terakhirnya bakalan Grey update. See ya (:
P.s: ada typo? Maklumi saja. Typo itu manusiawi. wkwk
