DESCLAIMER : BTS Taehyung and Jungkook is belongs to God, Their parents, And Agency.

.

.


Jungkook tahu, tidak seharusnya ia berada di sini. Jangan salahkan ia yang malah berakhir berada di dalam ruangan ini. salahkan kedua kakinya yang seenaknya melangkah tanpa di perintah itu. 'apa yang kulakukan di sini?' batinnya bertanya, ketika menyadari dirinya kini telah berada di ruangan yang begitu ia kenal. Namun sebenarnya tak seharusnya ia bisa berada di sini, karena ia sangat tahu sang empunya ruangan sedang tidak berada di dalamnya. Namun kenapa pintu nya tidak di kunci? Batinnya kembali bertanya.

Karena sudah kepalang basah, Jungkook memutuskan untuk melanjutkan melangkahkan kakinya menuju lebih dalam ke ruangan itu. Semuanya nampak begitu gelap, dikarenakan sang empunya ruangan sudah meninggalkan tempat ini cukup lama. Jungkook melangkah sambil kedua onyxnya tak henti menatap ke sekeliling ruangan itu. Begitu rapih, namun terasa kosong juga hampa. Dan lagi, hatinya kembali merasakan kegetiran itu, lalu ia kembali bertanya, 'bagaimana bisa aku berada di tempat ini?'

Jungkook tidak tahu mana ruangan yang sebenarnya ingin ia datangi, tetapi ia dapat melihat satu-satunya penerangan yang menyala di tempat ini dari salah satu celah pintu. Sebenarnya ia ragu untuk masuk ke dalam sana, karena ia tahu persis ruangan apa yang akan ia lihat nantinya. Tetapi rasa penasarannya yang begitu mendalam membuat Jungkook memutuskan untuk mendorong pintu itu, dan setelahnya kedua netra kembar miliknya dapat melihat sebuah ruangan pribadi milik seseorang yang begitu ia rindukan.

Jungkook kembali meragu, sedikit rasa takut juga hinggap di hatinya. Namun jika boleh jujur, sebenarnya Jungkook begitu merindukan untuk berada di tempat ini. jungkook merindukan ketika sang pemilik kamar mengajaknya untuk masuk ke ruangan ini. Jungkook begitu merindukan aroma yang menguar di ruangan ini, begitu sama persis seperti pemiliknya.

'Aku merindukanmu, hyung.' Batinnya sedih.

Jungkook berjalan ke sebuah meja, yang mana terdapat satu buah bingkai foto di atasnya. Ia mengambil bingkai foto itu, kemudian tersenyum ketika mendapati wajah hyungnya menyapa langsung kedua netranya dengan berbagai jenis senyum yang berbeda. Jungkook meniti satu persatu wajah hyungnya, sampai kemudian matanya terkunci pada salah satu pemuda yang nampak sedang tersenyum tanpa dosa. Tangannya dengan reflek meraba permukaan wajah sang pemuda di dalam foto, kembali ia tersenyum ketika mendapati dirinya sendiri juga berada di sana, di dalam rangkulan pemuda yang tersenyum tanpa dosa itu.

'Taehyung, hyung.' Gumamnya.

Setelahnya Jungkook menaruh kembali bingkai itu pada tempatnya. Dan netranya beralih menatap ranjang berukuran sedang yang berada di tengah ruangan. Matanya membulat kaget, membuat mulutnya tanpa sadar terbuka, efek keterkejutan.

Di sana, di atas ranjang beralas putih itu, Jungkook dapat melihatnya. Orang yang ia rindukan, duduk terdiam sembari menunduk. Tak menyadari kehadirannya yang memang tidak menimbulkan sedikitpun suara sejak ia menginjakkan kaki ke sini.

"Hyung.." Ia memanggil, dengan suara yang begitu kecil dan lirih. Namun masih dapat didengaroleh seseorang yang tengah menunduk itu, karena yang Jungkook dapati setelah suara kecilnya yang mengalun itu adalah ekspresi wajah yang penuh dengan keterkejutan, menatapnya tak percaya.

"Ju-Ju-Jungkook.."

Jungkook tak tahu apa yang harus ia lakukan, di satu sisi ia memang begitu merindukan Taehyung. Namun di sisi lainnya Jungkook tahu bahwa ini semua tidaklah nyata. Taehyung yang berada di depannya ini pasti tidak nyata. Namun kenapa Jungkook malah melangkah mendekati Taehyung? mendudukan dirinya bersimpuh tepat di depan Taehyung yang kini menatapnya sambil menangis.

"Taehyungie-hyung.." Isaknya, Jungkook menunduk tak berani untuk menyentuh Taehyung. Ia hanya menangis, terisak di depan Taehyung yang menurutnya tidak nyata itu.

Namun ketidaknyataan yang Jungkook yakini nyatanya lenyap begitu saja ketika ia merasakan tangan itu menyentuhnya. Mengangkat wajahnya yang basah dan mengusap pipinya lembut dengan jari-jarinanya yang panjang. Taehyung menghapus air matanya sambil tersenyum, menenangkan Jungkook untuk berhenti menangis.

"Hyung.." Ia menatap penuh kasih Taehyung yang tersenyum, melingkupi tangan yang lebih besar itu dengan jari-jarinya. Menggenggamnya erat dan membawanya ke depan dada. Merasakan betapa hangat telapak tangan Taehyung yang begitu ia rindukan.

"A-a-aku merindukan mu, hyung."

Dapat dilihatnya Taehyung yang mengangguk, senyum hangat tak pernah Taehyung lepaskan dari wajah, meski buliran air sesekali menetes dari matanya, Taehyung tetap tersenyum menanggapu Jungkook.

"Aku juga merindukanmu, Jungkook-ah."

Bahkan suaranya masih terdengar sama. Suara berat yang begitu menenangkan, betapa rindunya Jungkook dengan Taehyung, sehingga membuatnya kembali menangis hanya karena mendengar suara Taehyungnya.

"Jangan menangis Jungkook-ah."

Taehyung mengusap lagi lelehan air mata di pipi Jungkook, menyuruh yang lebih muda untuk berhenti menangis, melupakan fakta bahwa dirinya sendiri pun tidak dapat menghentikan air mata yang terus menetes melewati pipinya.

"Kenapa?"

"Kenapa kau kembali? Kenapa hyung, ke-kenapa kau berada di sini? Ke-ke-kena kau kembali seperti ini?" Jungkook masih terus terisak, netranya menatap Taehyung tepat di kedua matanya.

"A-a-aku tidak tahu, Jungkook-ah." Taehyung melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Jungkook, menggeleng putus asa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Beringsut menjauhi Jungkook sembari menangis. Taehyung di depannya menangis, meraung, berteriak penuh pilu. Membuat Jungkook tak tahan dan segera memeluknya. Rasanya sama, tubuh Taehyung masih terasa begitu sama seperti dulu.

"Pergilah, hyung." Jungkook berkata, mengusap punggung Taehyung dengan sayang. Menenangkan Taehyung agar yang lebih tua merasa sedikit tenang.

"Apa?"

"Pergilah,"

"Apakah hanya itu yang terbaik bagiku, Jungkook?"

"Ya, aku tidak ingin kau terus menderita, hyung."

"Kenapa mudah sekali kau mengatakan itu, menyuruhku untuk pergi?"

"Karena hanya itu yang terbaik."

Mereka bertatapan dengan netra yang sama-sama berderai air mata. Jungkook begitu merindukan Jungkook, pun sama sebaliknya. Tetapi mereka berdua tahu, bukan pertemuan seperti ini yang mereka berdua inginkan. Jungkook meyakini Taehyung di depannya ini memanglah nyata, meski ia tahu dengan benar bahwa Taehyung yang sebenarnya kini tengah berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jungkook tahu dan paham, pun sama halnya dengan Taehyung. Maka dari itu, keduanya bahkan tidak bisa untuk sekedar menghentikan air mata yang bederai itu untuk behenti barang sejenak.

"Aku pasti sedang bermimpi." Jungkook berkata.

"Kau tidak."

"Maafkan aku, hyung."

Yang lebih muda bangkit, berdiri tegap di depan Taehyung yang terlihat begitu rapuh duduk di atas ranjang.

"Hyung, ku mohon jangan membebani dirimu sendiri. Aku tahu ini begitu sulit, bagimu, telebih untuk diriku sendiri yang begitu merindukanmu. Tetapi kau harus pergi, karena dengan begitu kau tidak akan menderita lagi, hyung."

"Apakah dengan begitu, kau tidak akan menderita?"

"A-a-aku tidak tahu.."

"Kau menyuruhku pergi agar aku tidak menderita, tetapi kau bahkan tidak tahu bagaimana nasibmu sendiri ketika aku pergi. Bodoh."

"Ku mohon, Jangan menyiksa dirimu sendiri.. Taehyungie hyung.." Dan setelahnya Jungkook berbalik pergi meninggalkan Taehyung begitu saja tanpa memperdulikan Taehyung yang kini menatapnya begitu sendu.

.

.

.


.

.

.

Jungkook menatap apa yang berada tepat di depannya tanpa ekspresi yang berarti. Matanya terlihat begitu bengkak karena saking lamanya ia menangis. Ia masih menatapnya dengan pandangan yang kosong. Tubuhnya terasa begitu lemas, padahal yang ia lakukan selama beberapa jam hingga beberapa detik yang lalu hanya menangis, tetapi Jungkook merasa begitu lemas dan lelah. Jungkook ingin kembali ke rumahnya untuk menghempaskan dirinya di ranjangnya yang empuk. Namun Jungkook tidak bisa, ia tidak bisa meninggalkan tempat ini. Ia tidak bisa meninggalkan dia di sini.

"Jungkook."

Sebuah tepukan samar mendarat di bahunya, membuatnya menoleh dan mendapati orang yang begitu ia kenal menatapnya khawatir. Jungkook kemudian tersenyum, untuk sekedar membalas panggilan orang itu.

"Ayo pulang." Orang itu berkata dengan lembut sembari mengusap puncak kepalanya dengan sayang.

"Hyung, benarkan ini adalah yang terbaik untuknya?" Jungkook bertanya, masih dengan pandangan kosong yang terpancar di kedua netranya.

"Ya, Jungkook-ah, ini adalah satu-satunya yang tebaik untuk Taehyung."

"Dia tidak akan menderita lagi kan, hyung?"

"Ne, Jungkook."

"Apa tidak apa kalau aku pergi meninggalkannya?"

"Tentu, Taehyung pasti sudah sangat tenang sekarang."

Jungkook kembali menatap ke depan dengan datar, di mana sebuah pusara yang masih basah terletak menampakkan nisan bertuliskan Kim Taehyung di atasnya.

"Baiklah, Jiminie hyung. Ayo kita pulang."

Lalu dua pasang kaki itu melangkah pergi menjauhi pusara yang kini tergeletak dengan sebuah jasad yang terkubur dengan damai berada jauh di dalamnya.

.

.

.


.

.

.

Jungkook membuka pintu kamarnya dengan lemas, seperti seluruh energi yang dimilikinya terkuras habis hanya karena kelelahan menangis. Perutnya begitu kosong tetapi ia sama sekali tidak lapar. Yang ia ingin lakukan saat ini hanya meringkuk di atas ranjangnya yang empuk. Kemudian bermimpi bertemu Taehyung.

Bunyi 'cklek' terdengar menandakan kunci yang sudah terbuka, Jungkook langsung menarik kenop pintu kamarnya, dan langsung melangkah memasuki ruangan pribadi miliknya untuk segera menidurkan dirinya di atas ranjang.

Jungkook tidak dapat menahan senyumnya, Jungkook begitu senang sampai gigi kelinci yang dimilikinya terlihat ketika ia tersenyum,sampai kemudian terdengar kekehan kecil keluar dari mulutnya, Jungkook tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa karena saking senangnya.

Jungkook senang sekal. Ia tidak perlu tidur untuk bisa bermimpi bertemu Taehyung.

Karena yang tengah ia lihat saat ini adalah Kim Taehyung, tengah duduk di pinggir ranjangnya, menatapnya sembari tersenyum penuh arti menyambut kedatangannya.

END.