...
.
Naruto menatap datar tempat tandus seakan tidak ada makhluk yang dapat hidup disana, tempat ini menjadi saksi semengerikan apa teknik yang Naruto dan Erza keluarkan. Pandangan permata birunya turun kebawah, dan mata yang awalnya dingin kini menjadi hangat.
Hal itu karena seorang gadis yang sekarang berada di gendongan nya, gadis yang saat ini tidur dengan damai nya. Wajah cantik Erza tertutup oleh beberapa helai surai merahnya, namun Naruto masih bisa melihat senyuman diwajah manisnya.
Erza tertidur karena kelelahan, Hal tersebut membuat armor miliknya menghilang karena tidak ada suplay energi. Karena Hal itulah saat ini tubuh Erza terekpose, hanya dua gunung kembar dan tempat suci dirinya lah yang masih terlindung.
Pikiran kotor tiba-tiba muncul dikepala, namun dirinya cepat-cepat menyingkirkan Pikiran tersebut. Dia harus bertahan, meski sekarang Dia dapat melihat tubuh seorang gadis. Tubuh yang memiliki kulit yang putih mulus dengan buah dada yang lumayan besar padat dan pasti kenyal saat_
Naruto menggelengkan kepalanya sebelum mengalihkan pandangan dari tubuh Erza, bisa gawat kalau dia tidak bisa menahan diri. Sesaat setelah itu dia berjalan perlahan, meninggalkan tempat bekas pertarungan nya. Namun untuk sesaat Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, saat itu hanya angin yang berhembus pelan yang Naruto rasakan.
Merasa tidak ada yang aneh, Naruto kembali melanjutkan langkahnya. Dan beberapa saat kemudian dia menghilang dengan cahaya lembut.
Tanpa Naruto sadari ditempat yang cukup jauh dari pertarungan Naruto dengan Jashin, kabut hitam muncul secara perlahan dan terus meningkat. Tak lama kemudian sesosok tubuh keluar dari kabut tersebut.
Kakuzu muncul dan menatap bekas pertarungan tadi dengan datar, namun dari tatapan nya tersebut tersirat sebuah kemarahan yang amat dalam.
Iblis itu... beraninya Iblis itu menghancurkan 'jantung-jantung' nya hingga hanya tinggal satu. Dan yang paling membuatnya marah... Ialah kekuatan Iblis kuning itu yang membuatnya harus melarikan diri dari sebuah pertarungan.
'Suatu saat nanti, akan ku ambil jantung mu.' Sumpah Kakuzu dalam hati.
Matanya Kakuzu melirik ketengah kawah, dimana disana terlihat pergerakan tanah yang aneh. Karena penasaran akhirnya dia berjalan mendekat dan tepat saat dia dihadapan nya sebuah tangan muncul dari dalam tanah. Awalnya dia waspada namun setelah sadar tangan siapa itu, dia menjadi tenang. Menunggu beberapa saat Tanpa berusaha membantu sang pemilik tangan, Kakuzu hanya diam menatap seorang pria yang keluar dari dalam tanah.
Kini seorang pria dengan rambut putih dan tubuh yang berwarna hitam dan putih tengah bersujud di hadapan Kakuzu. Pria itu nampak terengah-engah seperti orang yang kehabisan nafas, tubuhnya yang tidak ditutupi sehelai benang pun nampak bergetar pelan.
"Ku kira kau sudah mati, Hidan." Kakuzu bicara dengan datar meski ada nada ejekan di suaranya. Namun sesaat kemudian dirinya tersentak, tubuhnya menegang ketika aura hitam yang tak mengenakan menyesakan dadanya. Matanya bergetar saat bertatapan dengan mata yang sepenuhnya berwarna merah saat Hidan menatapnya. Dia menghela nafasnya. "Ternyata Hidan benar-benar sudah mati."
Sosok 'Hidan' itu bangkit dengan perlahan hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kakuzu, aura hitam menyeramkan masih menguar ditubuhnya dan itu diperparah dengan seringai lebar diwajahnya.
"Jadilah pengikut ku!"
..
.
Half-Devil: Namikaze Naruto
By:
Red Eyes B. Dragon
Desclaimer : Jelas bukan punya saya!...,
Pairing: Naruto x Erza, ...
Warning : Typo (s), Miss Typo (s), OOC, OC, Alternative Universe (AU) and Etc.
...
...
...
..
Mata coklat milik Erza menatap lembut langit cerah yang di penuhi awan putih indah, entah kenapa dia merasa sangat tenang melihat langit yang berwarna biru. Ketika melihat warna biru dia akan teringat dengan sepasang mata yang selalu memancarkan kehangatan, pemuda yang telah bersama nya dalam beberapa bulan ini.
Namikaze Naruto, seorang iblis yang sekarang menjadi tuan nya, raja nya. Pemuda yang telah merubah Erza menjadi iblis, dan yang telah menyelamatkan hidupnya. Dan yang lebih penting, iblis pirang itulah yang menyelamatkan desa nya.
Setelah pertarungan itu, Naruto dan dirinya kembali kedesa. Menceritakan semua apa yang terjadi pada penduduk yang tersisa dan mengatakan mereka semua telah bebas. Erza masih ingat betapa bahagia nya para penduduk hingga beberapa dari mereka sampai menangis, mereka berterimakasih pada Naruto bahkan sampai bersujud di hadapan pemuda itu.
Setelah itu para penduduk memutuskan pergi dari desa yang membuat mereka menderita, mereka memutuskan keluar dari hutan dan menetap di perkotaan. Sedangkan Erza memilih menerima tawaran Naruto dan mengubah dirinya menjadi iblis.
"Erza? "
Mata Erza berkedip sekali sebelum terbuka lebar, hal itu terjadi ketika dengan tiba-tiba wajah Naruto berada di depan wajahnya. Wajah Erza memerah ketika menatap mata biru yang selalu memancarkan kehangatan milik Naruto berada beberapa senti dari wajahnya, bahkan nafas hangat pemuda itu terasa dikulit wajahnya.
Dan satu-satunya respon yang di keluarkan Erza.
"Kyaa! "
Duak!
Naruto tersungkur dengan wajah yang tertempel di tanah, salah satu pipinya membiru karena pukulan maut Erza. "Ittei." Gumamnya penuh derita.
"Na-naruto." Erza menatap prihatin pada Naruto, rasa bersalah muncul di hati gadis bersurai merah itu karena memukul Naruto. Namun sedetik kemudian ekspresi bersalah di wajahnya berubah menjadi ekspresi kesal. "Itu salah mu karena mengagetkan ku! "
"Kaget sih kaget... " Naruto bangkit sambil mengusap pipinya yang kena pukul, pandangan kesal terlihat jelas di permata shappire milik pemuda pirang itu. "Tapi jangan main pukul begitu dong."
Erza memalingkan wajahnya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia terlihat kikuk namun dalam sekejap kembali menatap Naruto tajam. "Itu karena kamu muncul tiba-tiba."
"Kamu yang melamun aku yang di salahkan." Naruto tak mau kalah, dia membalas argumen Erza dengan argumen miliknya. "Asal kau tau saja, aku sudah memanggil mu lebih dari lima kali tadi."
"Eh..? " Erza memiringkan kepala nya. "Benarkah? "
"Jangan sok polos begitu, 'kau jadi terlihat imut' " Kata Naruto dengan sebal, tentu saja kalimat terakhir dia ucapkan didalam hati. Menghela nafasnya, pemuda yang sekarang menjadi King Erza itu kembali berkata. "Sudahlah... cepat berkemas, kita harus pergi."
"Pergi lagi?" Kedua mata Erza melebar terkejut yang kemudian berubah menjadi kesal. "Kita baru sebentar disini, kenapa kita harus pergi lagi. "
"Sudahlah jangan banyak protes." Naruto berdiri sambil membersikan debu yang menempel di celana nya, Erza yang berada di hadapan Naruto juga ikut berdiri. Pandangan pemuda pirang itu kembali kearah Erza. "Sebagai pelayan, kau seharusnya mengikuti raja mu."
Sebagai tambahan Naruto mengangkat tangan nya dan mengacak rambut merah Erza, tentu saja hal itu mendapat protes dari Erza namun Naruto hanya terkekeh kecil. "Wajah mu lucu kalau sedang kesal."
"Berhenti merusak rambut ku!" Erza menyingkirkan tangan Naruto dengan kasar, pipi menggembung dengan bibir mengkerucut serta jangan lupakan matanya yang tajam menatap Naruto dengan kesal.
Naruto kembali terkekeh tidak merasa terancam dengan tatapan Erza, malah sebaliknya dia merasa lucu. Sesaat kemudian dia mulai melangkahkan kakinya memulai perjalanan mereka.
Erza menyusul Naruto dengan berlari kecil, wajahnya masih terlihat kesal. Ketika dirinya sudah berada disamping Naruto, dia kembali bicara. "Sebenarnya kenapa kita harus pergi? Dari beberapa bulan terakhir kita terus berpindah-pindah."
Selama Erza ikut Naruto mereka tidak pernah menetap disuatu tempat cukup lama, paling lama mereka menetap adalah lima hari. Mereka terus berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, dari desa ke desa lain, dari kota ke kota lain. Selain itu kebanyakan waktu mereka di habiskan di hutan.
Kalau terus bersama Naruto mungkin Erza tak akan mengeluh, namun ketika mereka menetap di suatu desa atau kota Naruto selalu meninggalkan nya sendiri. Dan ketika Naruto kembali mereka akan pergi.
"Bukankah itu menyenangkan, pergi ke berbagai tempat di dunia ini." Naruto membalas sambil menengokan kepalanya kearah Erza, sebuah senyuman manis terlihat diwajah tampan nya.
"Tapi... " Erza mengalihkan tatapan dari mata biru indah milik Naruto, tidak sanggup menatap permata biru itu terlalu lama. Ketika dia melanjutkan ucapan nya, suara sangat pelan hampir seperti berbisik. "Kau selalu meninggalkan ku sendiri."
"Hoo Hoo. "
Erza langsung mengalihkan tatapan kearah Naruto ketika pemuda yang lebih tua darinya itu bersuara, Erza dapat melihat Naruto yang tersenyum aneh dengan alis naik turun.
"Kamu ingin terus bersama ku yaa. " Kata Naruto penuh percaya diri, dan hal itu sukses membuat wajah Erza memanas.
"Ba-baka! Itu mana mungkin!" Wajah Erza memerah lucu membuat Naruto tersenyum menahan tawa. Andai Erza bisa dia ingin sekali memukul wajah mengejek Naruto itu (walau tadi dia sudah melakukan nya), jadi saat ini dia hanya bisa melototi Naruto berharap iblis yang menjadi King nya itu takut.
Naruto tersenyum namun kali ini bukan senyuman mengejek melainkan senyuman lembut dan tulus, tangan kembali terangkat untuk mengusap rambut Erza. Hal tersebut membuat Erza merasakan perasaan aneh yang berbeda ketika Naruto mengacak rambutnya tadi.
Dia merasakan kelembutan dan kehangatan dari usapan tersebut.
"Aku meninggalkan mu karena aku peduli pada mu." Naruto menatap kedepan bersamaan dengan itu angin lembut membelai rambutnya. Erza menatap itu tanpa berkedip, dia mungkin telah terjebak dalam pesona iblis tampan bernama Naruto. "Ada berbeda hal yang harus ku lakukan sendiri, karena akan berbahaya kalau kau juga ikut. "
Naruto kemudian kembali menghadap Erza, mata Erza tak lepas dari mata biru indah Naruto yang menatapnya lembut. Dan ketika Naruto melanjutkan perkataan nya, entah mengapa hati gadis itu menghangat.
"Aku takut kalau kau sampai terluka. "
Erza kembali membuang wajah nya karena tidak tahan bila terus menatap Naruto, jantungnya berdetak kencang ketika tau Naruto mengkhawatirkan dirinya. Untuk beberapa saat Erza terdiam, dan Naruto sepertinya juga tidak ingin berbicara jadi mereka kembali berjalan dalam keheningan.
"Kalau begitu... " Setelah cukup lama diam akhirnya Erza kembali buka suara, gadis tersebut menatap Naruto dengan mata yang di penuhi tekad. "Latihlah diriku, agar nanti kau tidak mengkhawatirkan ku lagi." Suara Erza selanjutnya lebih pelan. "Dan aku bisa berada di samping mu."
Naruto dia, jujur dia cukup terkejut dengan perkataan Erza. Namun ketika melihat keyakinan mata gadis yang sekarang menjadi Knight nya, Naruto tidak punya pilihan. "Apa kau yakin ingin berlatih dengan ku?"
"Tentu saja. "
"Kau janji tidak akan mengeluh."
"Aku janji."
"Kau bersedia menuruti setiap perkataan ku."
"Y-ya aku bersedia."
Naruto tersenyum lebih tepatnya menyeringai, dan hal tersebut sukses membuat Erza merinding disco. Naruto hendak kembali berbicara namun getaran di saku celana nya membuat dia membatalkan nya.
Mengambil handphone dari saku nya Naruto menatap layar handphone menatap nama yang tertera disana. Ketika tau siapa yang memanggilnya, Naruto menghela nafas sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Halo... "
"..."
"Ya. Jadi bagaimana perkembangan nya?"
"..."
"Ya aku mengerti. Disini pun sama, masih tidak ada perkembangan."
Erza menatap Naruto yang masih terus mengobrol dengan seseorang di seberang sana, jujur dia penasaran dengan apa yang di bahas King nya dengan orang tersebut. Namun dia sadar dia tidak punya hak untuk tau.
Setau Erza, orang yang saat ini berbicara dengan Naruto adalah peerage pertama milik Naruto. Erza belum pernah melihatnya namun Naruto pernah menceritakan tentang dirinya. Seingatnya Naruto bilang peerage pertama nya itu adalah pria menyebalkan.
"Apa maksud mu dia menarik. "
"..."
"Apa kau yakin dia cocok."
"..."
"Baiklah. Bawa dia menemui ku nanti." Sambil terus mengangkat handphone nya, mata Naruto melirik Erza disamping nya. "Kita bertemu di L.A. "
Dan mata Erza melebar mendengar nama kota besar tersebut.
.
. . .
Red Eyes B. Dragon
. . .
.
Time Skip
Sudah satu tahun semenjak Erza ikut bersama Naruto, itu artinya dia juga sudah menjadi iblis selama itu.
Saat ini Erza berada di tempat tandus yang cukup panas, ia berdiri dengan nafas terengah- engah. Wajahnya nampak kotor karena debu yang menempel disana, sebuah luka sayatan dengan bekas dari yang mengering berada di pipi kanan nya.
Bukan hanya di wajah, beberapa luka sayatan juga terlihat di beberapa bagian tubuhnya yang tidak terlindungi armour yang terpasang di tubuhnya. Sebuah pedang type Long-Sword digenggam nya dengan erat di tangan kanan nya.
Pandangan nya sedikit kabur karena lelah, namun mata ber-iris coklat itu memantulkan bayangan seorang pemuda di depan nya. Seorang pemuda pirang yang berdiri dengan santai dengan sebuah pedang (katana) di tangan kanan nya.
Melihat kondisi pemuda tersebut, dia terlihat baik-baik saja. Dia nampak bugar dan bersih tanpa ada keringat pun di tubuh. Badan nya bersih tanpa satu pun luka bahkan untuk lecet sedikit pun. Mata birunya menatap datar Erza.
Erza tau kekuatan nya dengan Naruto berbeda jauh, dia seperti seekor kelinci di hadapan seekor harimau. Namun mengingat latihan keras nya selama enam bulan ini, Erza merasa kecewa karena perkembangan nya sangat lambat. Bahkan untuk memberikan luka pada Naruto saja dia tidak bisa.
Erza merasa tidak berkembang, namun pada kenyataan nya dia berkembang dengan sangat baik. Dan Naruto mengakui itu.
Selama ini Naruto hanya mengajarkan teknik berpedang dan membantu Erza menguatkan kekuatan fisiknya. Mengingat Naruto hanya tau teknik berpedang ala ninja (kenjutsu), dia hanya bisa mengajarkan dasarnya saja.
Namun Erza dapat mengembangkan nya bahkan menggabungkan nya dengan teknik pedang yang lain. Hal tersebut membuat Erza memiliki teknik berpedang yang kuat dan unik, hanya perlu di poles lebih baik lagi maka kemampuan Erza akan sangat sulit di kalahkan.
Karena pelatihan Naruto juga kekuatan fisik Erza meningkat, dan mengingat dia seorang Knight kecepatan Erza berkembang pesat. Dan semua itu hanya dilatih selama enam bulan.
Tapi, walaupun dengan perkembangan yang Erza dapatkan selama ini, dia masih belum bisa mendekati kekuatan Naruto meski Naruto tidak menggunakan kekuatan nya.
Hari ini merupakan hari yang di tetapkan Naruto sebagai evaluasi dari latihan Erza selama ini. Naruto ingin melihat sejauh mana perkembangan kemampuan berpedang Erza, oleh karena itu mereka melakukan sparing dengan pedang.
"Apa kau akan menyerah?" Untuk pertama kalinya dalam sparing ini Naruto membuka suara nya, nada suara nya begitu tenang dengan wajah tanpa ekspresi.
Menghela nafas untuk menormalkan detak jantungnya, Erza kembali memasang kuda-kuda bertarung. Pedangnya kembali ia angkat dan mengacungkan nya kearah Naruto. "Tak akan! "
Dan Erza kembali melesat maju.
"HIYAA! "
.
. .
.
Line break.
Saat Erza sadar hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan yang membuat dirinya nyaman, hal tersebut membuat dirinya enggan beranjak dari sana. Di tambah aroma citrus dan bau khas musim semi, Erza seperti menghirup aroma terapi yang membuat dirinya releks dan enggan membuka matanya. Tanpa sadar dia menghirup nafas panjang untuk terus menikmati nya.
Gadis bersurai merah terang bagai nyala api itu merasa sangat nyaman dan hangat, dia merasa seperti berbaring di tanah dengan rumput yang halus dengan langit cerah yang menaunginya serta hembusan angin sejuk menemaninya.
Dia merasa sangat tenang, dan dengan itu dia menggerakan tubuhnya untuk mencari posisi paling nyaman. Dan tanpa sadar dia semakin merapat pada sumber kenyamanan nya.
"Hhmm~ "
Namun kenyamanan Erza yang sejak tadi dia rasakan terusik ketika telinganya mendengar sebuah suara, tepatnya sebuah dengkuran. Tak lama setelah itu dia juga merasakan hembusan angin hangat yang menerpa wajahnya, meski merasa nyaman akan hal itu tapi tetap saja membuat dia semakin sadar.
Sesuatu tiba-tiba mendorong atau menarik punggung Erza membuat tubuhnya terasa terhempit sesuatu. Saat itulah kedua mata Erza terbuka, dan dia berani bersumpah bahwa dia menyesal melakukan itu.
Apa yang dia lihat sekarang adalah wajah seorang pemuda dengan surai pirang nya yang berantakan, wajah tegas berwarna eksotis yang terlihat tampan. Dan yang paling penting wajah tersebut hanya berjarak lima centi dari wajah Erza.
Erza dapat merasakan hembusan nafas Naruto, dia bisa merasakan pemuda itu memeluk punggung nya dengan erat dan sebaliknya Erza juga memeluk pinggang Naruto tak kalah eret. Dan terakhir Erza dapat merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Naruto yang menandakan tidak ada halangan antar kulit tersebut.
Dengan kata lain, mereka telanjang.
Seakan ada petir yang menyambar, kedua mata Erza membola shock hingga hampir keluar dari ronggga nya. Wajah hingga leher nya memerah sampai menyala dalam kegelapan, asap keluar dari atas kepalanya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah...
"KYAAA! "
Bruaak!
Dengan keras Erza mendorong Naruto melepaskan pelukan mereka, gadis yang menempati posisi Knight dalam peerage Naruto itu juga tanpa segan menendang Naruto hingga pemuda itu terlempar menabrak dinding kamar.
"Wadao! "
Tanpa peduli teriakan Naruto, Erza bangun dari posisi nya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Tatapan tajam dia tunjukan pada Naruto yang masih mengerang kesakitan, meskipun begitu wajahnya masih menyala merah.
"Apa yang kau lakukan." Naruto bangkit dengan tatapan kesal diwajah tampan nya, mata shappire miliknya sedikit memerah karena bangun dengan tiba-tiba. "Kenapa kau menendang ku? "
"K-kau yang apaan! Dasar kuning mesum, hentai!" Erza membalas dengan suara tinggi. "Apa yang kau lakukan pada diriku?! "
"Apa yang ku lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa. " Naruto berdiri dan menunjukan tubuhnya yang tertutup pada Erza, tentu saja Erza langsung memalingkan wajahnya.
"Kyaa! Dasar mesum! "
Naruto sweatdrop melihat tingkah Erza, sungguh dia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran gadis itu. Pagi-pagi sudah teriak-teriak dan menendang orang sembarangan, mana tendangan nya sakit lagi.
"Huhuhu... bagaimana ini, aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah bla bla bla... "
'Wanita memang aneh.' Keringat di kening Naruto semakin besar melihat Erza mulai bergumam tidak jelas, berjalan mendekat Naruto mencoba menyadarkan Erza dengan menyentuh bahu nya.
Erza terkejut dan dengan cepat menoleh kesamping, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Naruto...
... yang begitu dekat.
"Kyaa!"
Duak!
"Menjauh dari ku dasar iblis hentai! "
Naruto kembali tersungkur dengan pipi yang membiru. Namun seakan itu tidak pernah terjadi Naruto dalam kedipan mata sudah kembali berdiri. Wajahnya di penuhi ekspresi kekesalan dan dengan itu dia menunjuk wajah Erza. "Dasar cewek ganas! Kenapa kau memukul ku."
"Apa kau bilang." Erza ikutan kesal dan bangkit berdiri di atas kasur tanpa sadar kondisinya. Erza yang posisinya lebih tinggi dari Naruto ikut mangacungkan jari telunjuknya ke wajah pemuda yang merupakan King nya. "Kau sudah menodai ku, dan sekarang kau mengatai ku. Dasar pria brengsek!"
Naruto tidak menjawab dia hanya menatap Erza dengan tatapan datar. Kening Erza mengkerut namun tak lama kemudian matanya melihat arah tatapan Naruto, wajahnya kembali memerah dan yang selanjutnya terjadi adalah...
"Kyaa!"
Pagi yang indah.
-line break-
Erza berjalan dengan wajah yang cemberut, kejadian tadi pagi yang membuat mood nya buruk. Mata coklatnya kemudian melirik kesamping menatap seorang pemuda pirang memakai jaket kulit hitam yang berjalan di samping nya. Sesaat kemudian Naruto ikut melirik Erza membuat pandangan mereka bertemu, namun dalam sekejap Erza membuang wajahnya.
"Oh ayolah Erza, apa kau masih marah tentang kejadian tadi pagi." Naruto akhirnya buka suara. Jujur dia merasa tidak nyaman kalau tidak mengobrol dengan Knight cantik nya itu. "Bukankah sudah ku jelaskan bahwa tidak terjadi apa-apa di antara kita."
Erza masih mendiamkan Naruto, namun saat ini wajahnya sedikit memerah. Bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi, Naruto tidur disamping Erza untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita Erza saat sparring. Penyembuhan tersebut dilakukan dengan menyalurkan energi Naruto ke tubuh Erza, dan akan lebih efektif bila kulit mereka bersentuhan.
Namun meskipun begitu mereka berdua tidak sepenuhnya telanjang, Naruto masih menggunakan celana pendek dan Erza masih memakai cd dan bh. Namun tetap saja Erza merasa sangat malu kalau mengingat tentang itu.
"Atau jangan-jangan... " Erza tersadar ketika Naruto kembali bicara, ketika gadis dengan rambut merah panjang itu menatap Naruto dia mendapati pemuda kuning itu sedang menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kau memang ingin aku melakukan itu pada mu."
"Baka!" Bersamaan dengan itu kaki Erza mendarat dengan keras di kaki Naruto. Tidak peduli dengan Naruto yang berteriak kesakitan, Erza melanjutkan jalan nya mendahului Naruto.
"Hei tunggu!" Naruto melompat-lompat dengan sebelah kakinya sebelum berjongkok dan mengusap kaki yang sebelumnya di injak Erza. Sambil meringis menahan sakit Naruto menatap Erza yang mulai menjauh. "Kekuatan nya besar sekali."
Erza berhenti tepat di perempatan jalan, dia dan beberapa penduduk kota menunggu rambu lalulintas untuk pejalan yang saat ini berwarna merah. Saat ini dia berada di jalanan padat di kota L.A. Sebuah kota modern di negara Amerika.
Kota yang sangat bagus menurut Erza dan dia sungguh menikmati tinggal disini. Sudah cukup lama dia tinggal disini sekitar enam bulan lebih, waktu terlama dia tinggal disuatu tempat saat ikut Naruto.
Mungkin karena Naruto memutuskan untuk melatihnya membuat mereka tinggal lebih lama disini, akan sangat repot bagi Erza kalau harus berlatih saat mereka terus-terusan berpindah tempat.
Membicarakan soal latihan, Erza jadi teringat latihan dia kemarin. Kemarin dia melihat sisi lain dari seorang Namikaze Naruto. Hal yang paling dia ingat adalah tatapan pemuda itu, tidak ada lagi tatapan kehangatan yang selalu di pancarkan permata biru itu di gantikan dengan tatapan dingin sedingin glester.
Naruto dalam mode bertarung sungguh tidak ingin Erza lihat lagi, pemuda itu begitu kejam bagai iblis sesungguhnya. Bahkan di akhir sparring mereka Naruto tidak ragu menusukan katana miliknya yang sudah di lapisi energi kuning tipis namun padat ke perut Erza hingga tembus kebelakang.
Mata Erza kemudian melirik kesamping menatap Naruto yang sudah berdiri di samping nya, pemuda itu mengomel dengan wajah kesal. Namun Erza tau tidak ada sama sekali perasaan marah pada pemuda itu, terbukti dari Mata biru seindah langitnya yang memancarkan kehangatan.
Dalam benak Erza muncul pertanyaan, yang manakah sifat Naruto yang sebenarnya. Apakah petarung berdarah dingin yang tak segan-segan menusuknya, ataukah pemuda yang selama ini menemani hidupnya.
Lampu rambu untuk pejalan kaki sudah berwarna hijau, dengan begitu kerumunan orang segera berjalan keseberang jalan. Begitu pun Erza dan Naruto, ketika mereka berdua sudah di seberang jalan mereka memisahkan diri dengan kerumanan.
Tujuan mereka adalah sebuah Cafe Shop yang berada di ujung jalan. Ketika mereka telah sampai di cafe tersebut mereka memilih meja yang dengan dengan jendela, mereka memesan dua kopi hitam dan kue coklat.
"Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini." Sambil menungu pesanan mereka, Erza membuka percakapan dengan King nya. "Apa latihan lagi? "
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah selesai sarapan di cafe ini mereka berdua tepatnya Erza akan pergi ke tempat latihan. Namun mengingat kejadian kemarin, Erza ingin hari ini tidak ada latihan. Dia butuh refreshing.
Naruto meletakan jari telunjuknya di dagu dan melirikan matanya keatas, lama nya balasan dari Naruto membuat Erza penasaran namun ketika Naruto mengeluarkan suaranya Erza menjadi terkejut. "Tidak, hari ini kau bebas."
"Sungguh?" Erza berkata dengan nada tak percaya, namun Naruto membalasnya dengan senyuman hangat.
"Tentu saja." Kata Naruto tanpa menghilangkan senyuman nya. "Terlalu memaksakan diri berlatih itu tidak baik, sesekali kita harus refreshing kan."
Namun sesaat kemudian senyuman Naruto menghilang dan mata biru nya menatap tajam Erza. "Namun besok, kamu akan kembali berlatih. "
Erza meneguk ludah nya yang entah mengapa sangat berat.
-line Break-
Keesokan harinya, sesuai dengan perkataan Naruto mereka berdua kembali berlatih. Namun berbeda di hari sebelumnya, mereka berdua tidak ke tempat latihan namun ke tempat baru.
Mereka sekarang berada di tengah hutan, berjalan diantara lebatnya pepohonan. Naruto yang saat ini memakai baju santai berupa kaos hitam panjang dan celana jeans hitam berjalan di depan memimpin jalan, sedangkan Erza yang memekai baju putih tanpa lengan di lapisi dengan jaket merah serta di lengkapi dengan rok biru pendek dan sepatu bot hitam mengikuti Naruto di belakang.
"Sebenarnya kita mau kemana."
"Kau ingat tentang Sacred Gear?" Bukan nya menjawab Naruto malah bertanya balik yang membuat Erza bingung.
Sebelumnya Erza sudah mendapat penjelasan dari Naruto mengenai artefak yang di ciptakan Kami-sama untuk umat manusia tersebut. Jadi ketika memdengar Naruto membicarakan hal itu dengan tiba-tiba, Erza menjadi sedikit bingung.
"Tentu saja aku ingat, kau sudah menjelaskan itu beberapa kali." Erza menjawab setelah beberapa saat. "Namun itu tidak menjelaskan kenapa kita kesini?"
"Lalu menurutmu, apa kekuatan mu itu adalah Sacred Gear?" Sekali lagi Naruto tidak menjawab malah kembali bertanya. Hal itu tentu saja membuat Erza bingung, namun gadis dengan surai merah itu tetap menjawab.
"Tentu saja, memang apalagi."
Mendengar itu Naruto menggeleng membantah pernyataan Erza, kepalanya mengengok kebelakang dan menatap Erza dengan senyuman tipis. "Bagaimana kalau ku bilang itu bukan Sacred Gear. "
Kening Erza mengkerut mendengar pertanyaan Naruto, kebingungan di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Di tambah sekarang rasa penasaran muncul di hati nya. "Kalau bukan Sacred Gear, terus apa?"
Naruto mengangkat kedua bahunya. "Entahlah aku juga tidak tau. Tapi yang pasti itu bukan Sacred Gear. "
"Bagaimana kau bisa seyakin itu."
"Sacred Gear memiliki aura tersendiri, makhluk yang pernah merasakan aura tersebut akan langsung bisa mengenalinya." Mata biru milik Naruto sedikit bercahaya ketika kembali menatap Erza. "Dan aku tidak merasakan aura tersebut pada dirimu."
Naruto berhenti berjalan dan tak lama kemudian Erza berhenti di samping Naruto, Erza hanya bisa terperangah ketika tau dimana mereka sekarang. Mereka berdua sekarang berada di bibir jurang dengan dasar yang tak terlihat, Erza tidak tau seberapa dalam dasar jurang tersebut.
Erza meneguk ludahnya kasar sambil melihat ke bawah sebelum menengok kearah Naruto yang juga menatap kebawah, kemudian Erza kembali memandang ke dasar jurang. "Untuk apa kita kesini?"
"Aku sudah meneliti kekuatan mu selama tiga bulan terakhir." Naruto berbicara tanpa menatap wajah Erza. "Dan aku mengetahui bahwa baju (armor) yang selama ini kau pakai hanyalah salah satu kekuatan dari Regulus Infinity Power."
"Regulu Infinity Power?"
"Aku memberi nama kekuatan mu itu, bukankah itu keren." Naruto menengokan kepala nya kearah Erza dan tersenyum. "Regulus Infinity Power disingkat RIP."
'Singkatan nya tidak enak di dengar.' Batin Erza dengan keringat sebesar biji jagung di kepala. "Itu tidak menjawab kenapa kita disini."
"Aku ingin kau mengeluarkan Armor lainnya yang di miliki RIP. " Naruto mendekati Erza dengan sebuah senyum misterius. "Dan Armor tersebut hanya bisa muncul dalam kondisi tertentu."
Erza kembali meneguk ludahnya kasar, entah kenapa perasaan menjadi tidak enak. Dengan ragu dia kembali bertanya. "I-itu masih belum menjelaskan kenapa kita disini?"
"Itu mudah... " Tanpa peringatan Naruto menepuk pelan punggung Erza yang entah kenapa mendorong gadis tersebut kedepan dengan kencang. "Kalau kau tidak menggunakan Armor yang cocok, kau akan mati di dasar jurang ini."
"HUAA! DASAR IBLIS PIRANG BRENGSEK!"
Naruto hanya terkekeh mendengar teriakan Erza, mata seindah langitnya terus menatap Erza yang semakin mengecil sebelum menghilang di kegelapan dasar jurang. Beberapa menit kemudian terjadi keheningan, Naruto mulai mengkerutkan keningnya ketika tidak ada tanda-tanda dari peerage yang sudah setahun lebih bersama nya.
'Ayolah Erza, kau tidak mungkin mati kan.' Perasaan khawatir mulai muncul di perasaan Naruto, jantungnya entah kenapa berdetak lebih kencang.
Namun kekhawatiran Naruto sirna ketika dirinya melihat cahaya putih yang melesat cepat keatas. Senyuman lebar terlihat diwajah tampan pemuda pirang itu ketika hembusan angin kencang menerpa wajahnya saat cahaya tersebut melintas di depan nya.
Senyuman nya semakin lebar ketika melihat sosok Erza terbang diatasnya dengan mata melotot menatap kesal kearah Naruto. Satu hal yang berbeda dari sosok Erza saat ini, yaitu armor yang di pakai gadis tersebut.
itu adalah armor yang memiliki baju terbuka terbuat dari besi dengan hiasan bunga besi, rok mengepul dengan flat besi di daerah atasnya, dua pasang sayap yang terbuat dari mata pedang individu yang banyak dan disusun menjadi sayap. Ada juga sayap di antara kepalanya yang melekat di bundaran besi yang dipasang di kepala Erza, dan sepatu berhiaskan sayap di daerah belakang yang juga terbuat dari besi.
Dengan penampilan tersebut Erza terlihat sangat cantik (+ seksi) sekaligus elegan. Dan itu bertambah sempurna ketika cahaya matahari memantul di armor tersebut membuatnya nampak bersinar.
Naruto bersiul menggoda sebelum akhirnya berkomentar. "Penampilan mu saat ini sungguh sangat mengagumkan Erza. "
"Huh?" Erza melihat penampilan dirinya sendiri, dan saat itu matanya melebar. Perut putih mulusnya terlihat dan yang paling membuatnya shock adalah belahan dada nya terlihat. Dengan wajah merah Erza menatap Naruto, dan ketika melihat pemuda itu terkekeh Erza meledak.
"DASAR KUNING HENTAI!"
-Line Break-
Saat Erza bangun dia kembali mendapati dirinya dengan keadaan hampir bugil, menengokan kepalanya kesamping Erza bisa melihat Naruto tidur nyenyak dengan memeluk dirinya.
Erza sudah tidak lagi terkejut dengan keadaan ini, karena bagaimana pun dia telah sering terbangun dalam keadaan seperti ini. Semenjak Naruto meningkatkan latihan mereka, gadis bersurai merah itu selalu berakhir dengan keadaan sekarat dan selanjutnya terbangun dalam pelukan Naruto.
Melihat keadaan sekitar Erza yakin hari masih malam, tepatnya dini hari. Ini pertama kalinya dia terbangun secepat ini, biasanya dia selalu terbangun di pagi hari. Mencoba kembali tidur dengan menyamankan dirinya di pelukan Naruto, namun hal itu gagal. Matanya tidak bisa tertutup.
Tak ada pilihan akhirnya Erza bangkit, meski sebelumnya harus berusaha melepaskan pelukan Naruto. Ketika dia berhasil bangkit dan mendudukan dirinya di sisi ranjang, Erza merasakan nyeri yang amat sangat di bahu kirinya.
Mungkin karena dia bangun terlalu cepat, luka yang sebelumnya dia terima tidak sepenuhnya sembuh sehingga rasa sakit dari luka tersebut masih dirasakan Erza. Setelah terdiam untuk meredamkan rasa sakit nya, Erza akhirnya berdiri dan berjalan keluar.
Sekarang dia ingit keatap.
Ketika membuka pintu yang menghubungkan nya dari atap bangunan, Erza disambut dengan hembusan angin dingin yang cukup kencang. Erza yang hanya memakai satu set piyama berwarna biru muda langsung merasa kedinginan. Namun hal itu tidak menghentikan langkah kakinya untuk berjalan menuju sisi atap.
Tepat di depan pagar pembatas Erza berhenti melangkah, kedua tangannya dengan perlahan menyentuh pagar yang terbuat dari beton tersebut. Mata coklatnya kemudian memandang kesekeliling menatap pemandangan kota L.A dengan gemerlap lampunya yang bersinar terang.
Pandangan nya kemudian beralih keatas menatap bulan yang bersinar sempurna meski tidak di temani bintang-bintang yang akan menambah keindahan nya.
Erza kembali mengingat latihan nya selama ini, sudah empat bulan lebih semenjak dia berhasil mengeluarkan armor barunya. Dan semenjak itu Naruto melatihnya secara intensif. Dan berkat itu juga Sekarang Erza sudah mempunyai empat armor.
Setelah Reguler Armor yang dia namai Heart Kreuz Armor, Erza memiliki tiga armor lainnya yaitu; Sky Empress Armor (oleh Erza) atau Titania Queen Armor (oleh Naruto) sebagai armor kedua nya, Flame Empress Armor yang dia dapat ketika bertarung dengan Pion Naruto yang memiliki kekuatan api yang sangat hebat. Dan terakhir Sea Empress Armor yang di dapat Erza ketika berlatih bersama Naruto di tengah samudra.
"Udaranya dingin sekali ya."
Erza menoleh kesamping dengan cepat ketika mendengar suara yang sudah dia hapal diluar kepala, kedua mata coklatnya sedikit melebar ketika melihat Naruto sudah berada disamping nya. "K-kau... "
Naruto terkekeh sebelum menyentil dahi Erza yang masih terkejut, tentu saja perlakuan Naruto tersebut mendapatkan delikan tajam dari si gadis merah. Naruto terkekeh pelan. "Jangan terus melamunkan ku, nanti kemasukan setan lo."
"Siapa yang melamunkan mu." Erza membalas dengan kesal ucapan narsis Naruto. 'Dan apaan dengan perkataan nya dengan kemasukan setan. Bukankah kita ini setan.' Sambung nya dalam hati.
"Kenapa kau berada disini?" Naruto kembali bicara tanpa menggrubis ucapan Erza sebelumnya.
"Mencari udara segar." Jawab Erza singkat sambil kembali memandang bulan, saat itu hembusan angin datang cukup kencang membuatnya dengan refleks memeluk tubuhnya.
"Ini sih bukan udara segar tapi udara dingin." Naruto tertawa sesaat setelah mengatakan pendapatnya. Mata biru nya kemudian menatap Erza yang terlihat kedinginan, sebuah senyum terbentuk di wajahnya. "Kalau dingin seharusnya kau memakai jaket."
Erza menatap Naruto sesaat, melihat pemuda pirang itu memakai jaket hitam yang cukup tebal membuat Erza merasa bodoh. "Aku tidak memerlukan itu." Ucapnya acuh tak acuh.
Namun angin dingin kembali berhembus dengan kencang membuat Erza tanpa sadar menggigil. Naruto langsung tertawa mencoba mengejek keadaan Erza. Pemuda pirang itu pun mencubit hidung mungil Erza yang memerah.
"Apaan sih!" Erza menjauhkan tangan Naruto dan menatap Pemuda itu dengan tajam, kemudian dia membuang wajahnya tidak mau melihat Naruto.
"Kamu lucu." Naruto tertawa kecil sebelum tersenyum lembut kearah Erza, pemuda itu kemudian menurunkan resleting jaket membuat baju kaos putih di dalamnya terlihat. Naruto tau Erza meliriknya dan dia tau apa yang di pikirkan gadis tersebut, karena itu dia kembali tersenyum. "Apa? Kau kira aku akan memberikan jaket ku pada mu? Maaf saja tapi aku tidak ingin kedinginan."
"Si-siapa yang mau jaket mu." Erza membalas dengan sedikit gagap, dalam hati dia mengutuk dirinya karena berpikir iblis pirang itu akan melakukan tindakan romantis bernama 'memakai jaket disaat dingin'. "Dasar kuning baka... "
Umpatan yang terus Erza ucapkan terpaksa terhenti ketika sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang, sesuatu yang terasa hangat juga dia rasakan di punggung nya. Dan yang lebih penting sebuah nafas hangat berhembus di samping wajahnya, jantung Erza berdetak sangat keras seakan ingin melompat dari dalam tubuh.
"A-apa ya-yang Kau lakukan?" Erza mengutuk dirinya karena tidak bisa berbicara lancar, dia juga mengutuk Naruto untuk apa yang di lakukan Kuning Baka itu.
"Menurut mu." Naruto membalas dengan santai seakan apa yang dia lakukan sekarang bukan apa-apa. "Aku tidak ingin kedinginan tapi aku juga tidak bisa membiarkan kamu kedinginan, jadi kenapa kita tidak berbagi kehangatan saja."
"Aku tidak mau." Erza mencoba berontak meski di sisi lain dia ingin ini tetap berlanjut, namun apa mau dikata dia terlalu malu untuk ini. "Lepas!"
Namun bukannya melepaskan Naruto malah mengeratkan pelukan nya. "Selain itu, aku tau luka mu belum sembuh sepenuhnya. Jadi... "
Naruto mendekatkan wajahnya kewajah Erza membuat gadis yang menjadi 'pelayan' nya itu bisa merasakan hembusan nafasnya. Ketika dia mengeluarkan suaranya, suara tersebut terdengar sangat pelan bahkan menyerupai desahan. "Diam dan nikmati saja."
Tubuh Erza terlihat kaku sebelum akhirnya menjadi rileks dan beberapa saat kemudian dia mulai menyamankan tubuhnya dalam pelukan Naruto. Erza tidak bisa berbohong dia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat seorang iblis macam Naruto.
Namun seketika suasana tersebut berubah.
"Woi dua sejoli yang sedang bermesraan disana."
Ucapan seorang pria di belakang mereka merusak segalanya.
...
..
TBC
..
...
Yo kembali lagi dengan saya, author yang baru selesai hibernasi. Saya sungguh menyesal karena tidak bisa update cepat sesuai harapan kalian, mau bagaimana lagi duta lebih penting.
Chap ini hanya berisi pengembangkan kekuatan Erza dan hubungan dengan Naruto, saya harap tidak membosankan.
Kekuatan Erza bukan sebuah sacred Gear seperti yang sudah Naruto jelaskan diatas, kemampuan nya adalah mensummon Armor untuk Erza. Setiap Armor memiliki kekuatan masing-masing. Saat ini dia sudah bisa mensummon empat Armor berbeda seperti yang sudah di jelaskan diatas. Armor Erza disini sama dengan Armor nya dia anime aslinya hanya kekuatan dan (mungkin) nama nya yang saya ubah.
Seperti Sky Empress Armor, nama sebenarnya Armor ini adalah Heaven Wheel's Armor. Bisa kalian cek di google.
Oh ya saya minta saran. Ratu untuk Naruto adalah gadis rubah. Apakah saya harus memakai femkyubi atau oc.
Next Chap: Queen
