Melody

ChanBaek, HunKai, little bit -SuDo.

School-life, Romance (maybe), Aneh

T

Cerita ini asli milik pemain cuma minjam imajinasi cerita keluar dari otak gila saya terima kritikan apabila ada salah kata, saya minta .

Warn: YAOI, TYPO, cerita abal-abal, dan efek samping yang lain.

Kalimat bergaris miring berarti pemikiran dari orang itu, oke?

.

.

.

.

-Melody-

.

.

.

.

'Park Chanyeol, sialan,'

Kyungsoo yang sejak tadi duduk disamping Baekhyun harus menundukkan kepalanya beberapa kali untuk meminta maaf karena sosok kakaknya yang sejak tadi mengeluarkan aura tidak mengenakan. Kyungsoo tahu bahwa ia akan mendapat amukan jika mengganggu Baekhyun yang sedang memiliki mood buruk. Namun ia juga harus menyadarkan kakak tirinya jika ia sudah mengganggu beberapa orang yang duduk di meja kantin sebelah mereka.

"Hyung, hentikan auramu. Kau membuatku malu," gumam Kyungsoo sambil menatap tajam kakak tirinya itu. Baekhyun yang sejak tadi hanya diam dengan pandangan dinginnya langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kyungsoo yang sedang mengerucutkan bibirnya sebal. Sungguh, seharusnya ia tidak melampiaskan perasaan kesalnya selama tiga hari ini karena ulah seorang Park cepat, Baekhyun mengatur nafasnya untuk mengendalikan diri dan langsung memandang Kyungsoo dengan pandangan menyesalnya. Membuat sang adik hanya bisa menghela nafasnya dan kembali memakan bekalnya. Sudah menjadi hal yang biasa jika Kyungsoo sangat sering membawa bekal ke sekolah dan selalu memakannya bersama Baekhyun.

"Apa ada yang mengganggumu. Hyung? Sungguh tiga hari ini kau jadi lebih pendiam dan gampang marah kalau disekolah,"

"Tidak ada. Hanya keisengan biasa yang aku dapat dan kali ini semua itu gara-gara Park Chanyeol sialan," jawab Baekhyun cepat membuat Kyungsoo menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia tidak tahu apa hubungan kakaknya dengan namja paling terkenal disekolahnya itu namun saat melihat raut wajah Baekhyun yang jengkel mampu membuat Kyungsoo terdiam. Ia mulai memikirkan sesuatu yang entah benar atau tidak dan ia ingin mendengar jawabannya dari sang kakak.

"Jadi maksud hyung, Park Chanyeol yang hyung maksud adalah Park Chanyeol namja paling populer di sekolah kita yang sekelas denganmu dan kini ia mulai menggangumu setelah ia melihat Baekhyun-hyung bermain piano sore itu?"

"Ya. Park Chanyeol yang populer itu mulai menggangguku sejak ia melihatku bermain piano-"

Baekhyun mendongak dan seketika ia menyesali keputusannya itu karena tatapan tajam yang diberikan oleh Kyungsoo. Ugh, sungguh tatapan Kyungsoo itu mampu membuat Baekhyun merinding dan ia selalu tidak tahan dengan tatapan tajam penuh selidik itu. Ia juga baru saja membuka sebuah rahasia yang seharusnya tidak ia beritahukan kepada Kyungsoo. Kyungsoo dengan segala kejeniusannya untuk membuat Baekhyun mengatakan rahasianya."Jadi, kau menyembunyikan fakta bahwa yang melihatmu adalah Park Chanyeol, siswa paling popular disekolah dan kau mengatakan kalau dia mengganggumu. Apa yang dilakukan Chanyeol-ssi padamu, Baekhyun-hyung?"

"Tidak ada. Ia hanya berpindah duduk disampingku dan menjadi teman sebangkuku,"

Tak ada yang bisa ia sembunyikan lagi dari Kyungsoo dan tak ada salahnya untuk mengatakan apa yang sedang mengganggunya. Toh ia yakin Kyungsoo takkan berani macam-macam karena ia tahu sikap Kyungsoo yang seperti itu adalah sikap peduli dan perhatian kepadanya, ia tahu jelas akan hal yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafasnya dan kembali memakan bekalnya begitu juga dengan Baekhyun. Ia tahu bahwa kakaknya ini pasti bisa mengatasi seorang Chanyeol walaupun ada keraguan namun Kyungsoo percaya kepada kakaknya itu.

"Aku tidak tahu harus bilang seperti apa tapi berjanjilah padaku satu hal, hyung. Berjanjilah untuk menjauh dari para fans fanatik Chanyeol-sunbae apalagi yeoja bernama Park Chorong itu,"Baekhyun mengarahkan pandangannya searah dengan telunjuk Kyungsoo yang mengarah kepada seorang yeoja populer dengan rambut panjang bergelombangnya. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan berbagai macam perawatan kecantikan di tubuhnya. Yeoja paling populer disekolahnya dan sudah menyukai Chanyeol sejak mereka kelas satu. Baekhyun menatap Kyungsoo kembali dan langsung menjatuhkan dahinya ke arah meja kantin.

"Hidupku..."

-Melody-

Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi ketika ia melihat sosok Sehun sedang berdiri menunggunya. Namja tinggi itu menatap Sehun sesaat sebelum berjalan mendekati namja yang berstatus sepupunya itu.

\

"Sehun-ah," panggil Chanyeol yang langsung mendapat perhatian Sehun. Namja itu segera menegakkan tubuhnya saat Chanyeol berdiri di sampingnya. "Ada apa?"

"Aku menunggumu hyung. Song-ssaem ingin kita pergi ke ruangannya sekarang."

Keduanya segera melangkahkan kakinya beriringan. Mereka melangkah menuju lantai pertama dan saat mereka menuruni tangga, keduanya bertemu dengan Jongin yang akan menaiki tangga. Namja tan itu sempat terdiam sebelum melangkahkan kakinya membiarkan kedua namja itu. Chanyeol yang melihat hal itu segera menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang menatap Jongin hingga siluetnya menghilang.

"Apa kau berbuat sesuatu hingga ia menghindarimu seperti itu? Ku kira kalian sudah berbaikan karena kau berangkat bersama pagi tadi," ucap Chanyeol heran. Ia tidak mengerti dengan hubungan yang sedang dijalin oleh sepupunya itu. Terkadang dalam satu detik, mereka bisa saling peduli satu sama lain dan satu detik kemudian mereka akan saling memaki. Mendengar hal itu membuat Sehun hanya mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya kembali.

"Sebenarnya itu usulan Tuan Kim dan Jongin sudah melarangku untuk datang tapi hyung tahu sendiri bagaimana orang tuaku. Jadi yah.." Sehun mengangkat bahunya tanda menyerah dan membiarkan segalanya saja. Ia tahu bahwa semua hal yang dijalaninya dengan Jongin adalah keinginan orang tua mereka. Dan ia tidak ingin terlalu memaksa Jongin di saat dirinyapun masih ragu.

"Sudahlah. Kau pasti bisa mendapatkan hatinya, Hun. Aku tahu itu." Ucap Chanyeol menyemangati Sehun dan membuat namja itu menyunggingkan senyum tipisnya. Keduanya melambatkan langkah mereka dan mengetuk pintu ruangan sang Guru. Saat izin masuk diberikan, Chanyeol membuka pintu itu dan masuk terlebih dahulu diikuti oleh Sehun. Keduanya mendudukkan dirinya di kursi saat sang guru mempersilahkan.

"Langsung saja aku tidak punya waktu lebih karena harus menghadiri sebuah seminar. Chanyeol aku ingin kau menjadi koordinator untuk acara musik pada acara tahunan akhir sekolah. Apa kau bersedia?" Tanya Song-ssaem yang memang bertugas untuk mengatur segala acara yang akan sekolah selenggarakan.

"Bukankah sudah ada panitia tersendiri dari OSIS, ssaem?" Tanya Chanyeol tidak mengerti. Setahunya, acara seperti ini akan diatur oleh seluruh anggota OSIS sebagai salah saru kegiatan mereka. "OSIS memang sedang mengatur semua perencanaan untuk acara akhir tahunan sekolah namun mereka membutuhkan seseorang yang mengetahui lebih banyak hal tentang musik dan segala jenis penampilannya. Karena itulah aku merekomendasikan dirimu karena kau adlaah salah satu siswa berbakat dalam bidang itu. Jadi apakah kau menerimanya?"

Hening sejenak sebelum Chanyeol menganggukkan kepalanya pasrah. Jika sudah seperti ini maka ia tidak akan bisa mengelak lagi dan Chanyeol lebih memilih untuk menurutinya, toh ia juga tidak sebegitu dirugikan dalam hal seperti ini. Melihat respon positif dari sang anak didik, kini sang guru mengalihkan perhatiannya sejenak ke arah Sehun sebelum mengatakan tujuannya.

"Sehun, aku tahu kau pasti akan menolak ini tapi ini adalah permintaan dari ayahmu, kepala donator tetap di sekolah kita. Ia ingin agar kau menjadi manager Kim Jongin untuk turnamen Nasional selama tiga bulan mendatang. Apa kau menerimanya?"

Sang guru tahu tentang hubungan pertunangan yang dialami oleh Sehun dan Jongin. Ia mengenal jelas bagaimana watak kedua orang tua Sehun dan Jongin karena mereka adalah teman seperjuangan. Namun dalam urusan hubungan mereka, Guru Song merasa bahwa tindakan kedua orang tua mereka sedikit berlebihan. Bahkan sekarang keduanya harus selalu di dekatkan dalam masalah apapun. Melihat reaksi Sehun yang hanya diam mampu membuat Chanyeol dan Guru Song gugup. Mereka tidak tahu reaksi apa yang akan di berikan Sehun namun mereka berharap bahwa Sehun menyetujuinya. Demi kebaikannya sendiri dan juga.. Jongin tentu saja.

"Baiklah, ssaem. Aku terima."sadar atau tidak, kedua namja berbeda usia itu langsung menghembuskan nafasnya lega mendengar jawaban Sehun. Walaupun Chanyeol merasa kasihan dengan sepupunya itu tapi ia yakin bahwa Sehun bisa melakukan semua tugas yang diberikan oleh Tuan Oh, ayah Sehun. Keduanya segera beranjak dari duduknya dan keluar sebelum sang guru memanggil Chanyeol dan membuatnya terdiam sebentar.

"Oh, Chanyeol-ah. Aku menunggu penampilanmu di acara akhir tahun sekolah nanti. Aku harap kau mempersiapkannya dengan baik besok."

Melihat sepupunya yang terdiam di depan pintu ruangan itu mampu membuatnya menghela nafas lelah. Segera saja namja itu menarik sepupunya menjauh dan menyeretnya kembali ke kelasnya karena bel baru saja berbunyi. Ia harus segera sampai ke kelasnya sebelum pelajaran Fisika yang diajar oleh Guru paling killer di sekolah memarahinya dan merusak moodnya lebih jauh. Namun sepupunya itu malah terbengong entah karena apa dan membuat Sehun kesal.

"Hyung, ayolah. Aku harus segera ke kelas."

"Ya, Sehun-ah. Ku kira aku tidak akan tampil lagi dalam acar tahunan dan itu membuatku senang tapi nyatanya-" ucap Chanyeol dengan nada shocknya membuat Sehun melepaskan genggamannya di lengan Chanyeol. "Lalu kenapa? Kau selalu menampilkan musikmu, hyung dan kami menyukainya karena itulah kau selalu tampil dalam pementasan akhir sekolah."

"Tapi aku sedang tidak memiliki ide Sehun. Sudah lima bulan ini aku tidak menyentuh musik apapun." Sanggah Chanyeol. Oh namja tinggi itu sedang dalam mode bingungnya dan kini Sehun kembali menghela nafasnya melihat tingkah sepupunya.

"Chanyeol-hyung, walaupun kau sudah tidak membuka buku nadamu atau apalah itu kau masih bisa bermain alat musik dengan balok-balok nada di otak cemerlangmu. Ayolah, ku kira ini hanya masalah sepele kenapa jadi dibesar-besarkan begitu."

Chanyeol yang mendengar penjelasan Sehun segera menatap namja albino itu lekat. Sepupunya itu benar bahwa ia masih bisa memainkan alat musik walaupun ia sudah lima bulan tidak bermain namun ia khawatir bahwa ia tidak akan sempat mendapat ide untuk menyusun nada-nada indah dalam pentansya nanti. Melihat sepupunya terdiam, Sehun hanya bisa menghela nafasnya entah untuk ke berapa kalinya dan menepuk pundak Chanyeol.

"Hyung, seperti yang biasa kau katakana kepadaku. Kau pasti bisa melakukannya dan pasti akan berakhir dengan memukau sesuai dengan apa yang selalu kau berikan dalam setiap penampilanmu. Kau hanya butuh inspirasi baru, mungkin kau harus pergi ke jalanan atau bertemu dengan seseorang yang mempunyai bakat tapi ia menyembunyikannya. Atau mungkin kau bisa…"

Suara Sehun bergema dalam kepala Chanyeol saat namja itu tiba-tiba mengingat sosok Baekhyun yang bermain piano sore itu. Entah kenapa ia merasa bahwa bakat Baekhyun harus ditunjukkan kepada semua orang. Namja itu seakan berniat menyembunyikan pesonanya dalam bermain piano dan akan sangat disayangkan jika bakat itu terkubur dalam.

"-yung. Chanyeol-hyung." Panggil Sehun yang langsung membuat namja tinggi itu menoleh kepadanya. Senyum lebar itu tampak dalam penglihatan Sehun dan ia bersyukur karena Chanyeol sudah dalam mode semangatnya.

"Terima kasih, Sehun-ah. Kau memang jenius."

"Ya-ya terserah. Yang jelas, sekarang kau harus mengantarku ke kelas karena kau membuatku telat pelajaran Fisika."

-Melody-

"Byun Baekhyun,"

Baekhyun yang namanya dipanggil langsung menoleh dan melihat sosok yang sangat ingin ia hindari itu berdiri disampingnya. Baekhyun yakin kalau Chanyeol sudah keluar terlebih dahulu setelah bel pulang sekolah berbunyi namun kini namja tinggi itu berdiri disampingnya."Bisa bicara sebentar, kan. Atap sekolah,"

Chanyeol tidak memberikan waktu bagi Baekhyun untuk mengucapkan sesuatu dan langsung meninggalkan kelas. Membuat alis Baekhyun mengerut bingung dan dengan terpaksa ia arahkan tujuannya ke atap sekolah. Namja manis itu menoleh ke sekitarnya dan langsung menaiki tangga menuju atap sekolah. Ia tidak ingin dirinya tertangkap basah sedang bersama Chanyeol oleh fans fanatiknya.

Namja manis itu langsung membuka pintu atap dan melihat Chanyeol sedang berdiri bersandar di tembok di depannya. Namja tinggi itu menatap Baekhyun serius dan hal itu mampu membuat Baekhyun merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan akan datang padanya sebentar melangkahkan kakinya mendekati Chanyeol namun ia berhenti saat jarak antara dirinya dan namja tinggi itu hanya berkisar sepuluh langkah. Baekhyun masih tidak ingin berdekatan dengan Chanyeol dan ia sangat ingin segera beranjak menuju ruang klub bernyanyi yang sedang diikuti Kyungsoo.

"Ada apa?"

"Bisakah kau menjanjikan kepadaku bahwa kau tidak akan marah,"Baekhyun menautkan alisnya bingung saat mendengar penuturan Chanyeol. Ia tidak mengerti maksud dari namja tinggi itu namun ia dapat menangkap adanya gelagat gelisah dalam manik mata Chanyeol. Manik mata yang entah kenapa mampu membuat Baekhyun ingin melihatnya terus menerus. Ia segera mengutuk dirinya sendiri dalam hati dan kembali melayangkan tatapan dinginnya kepada Chanyeol."Apa maksudmu?"

Hening sejenak setelah Baekhyun melayangkan pertanyaannya. Namja manis itu menunggu dengan sabar saat Chanyeol masih membungkam mulutnya untuk beberapa detik ke depan sebelum ia dapat mendengar helaan berat dari namja itu. Chanyeol jelas merencanakan sesuatu namun namja tinggi itu tiba-tiba merasa tidak yakin.

"Aku ingin kau menjadi pasangan duetku dalam pementasan akhir sekolah nanti,"

Hening sesaat sebelum tawa Baekhyun menggelegar di atap itu. ia tidak mempercayai bahwa seorang Park Chanyeol bisa membuat lelucon seperti itu. Namja tinggi itu tahu bahwa ia sedang ditertawakan namun tidak menutup kemungkinan besar Baekhyun akan menolaknya. Sungguh Chanyeol sedang tidak bercanda dan ia juga tidak ingin melepaskan kesempatan untuk bisa berduet dengan Baekhyun saat pementasan akhir sekolah.

Baekhyun berdehem sejenak untuk menatap Chanyeol yang terlihat santai menunggu jawabannya. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa Chanyeol meminta hal yang sangat sulit untuk ia lakukan. Sejak awal Baekhyun sudah yakin bahwa apa yang akan mereka ucapkan pasti tidak akan jauh dari pemainan piano-nya namun ia tak pernah menyangka bahwa Chanyeol dengan beraninya meminta berduet dengannya.

"Maaf, aku tidak bisa,"

"Kenapa?"Keduanya terdiam setelah menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Baekhyun mengalihka pandangannya mencoba mencari alasan lain untuk meyakinkan Chanyeol. Tidak mungkin dirinya mengatakan alasan dirinya tidak bisa melakukan itu karena ia tidak mau. Baekhyun sangat ingin sungguh namun mengingat ibunya yang tidak akan menyukai penampilannya akan membuatnya dalam masalah dan mungkin Kyungsoo juga akan mendapat masalah karenanya.

"Aku memang tidak bisa melakukannya dan kalaupun kau memaksa, aku tetap tidak bisa melakukannya,"

"Berikan aku alasan, Baekhyun. Alasan kuat kenapa kau tidak ingin menunjukkan bakatmu dan malah ingin menyembunyikannya dari semua orang. Kau tentu tahu bahwa semua itu tidak dapat selamanya kau sembunyikan. Waktu itu aku melihatmu bermain dan mungkin saja siswa lain melihatmu dan mengadukanmu kepada salah satu guru. Apa kau masih bisa mengelak jika semua kejadian itu terjadi?"

Chanyeol tahu bahwa apa yang ia lakukan akan membuat Baekhyun merasa tidak nyaman. Namun ia sungguh menyayangkan bahwa bakat Baekhyun sangatlah besar jika hanya disembunyikan dari semua orang. Ia yakin pasti ada sebuah alasan kuat kenapa ia tidak ingin menampilkan bakatnya dan memilih melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

"Dengar, Chanyeol. Aku tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa aku tidak ingin bermain piano dan menunjukkan bakatku kepada orang lain karena kau dan aku bukanlah teman. Kita tidak memiliki hubungan seperti itu dan aku juga tidak tertarik untuk menunjukkan bakatku kepada orang lain,"

Baekhyun mencoba menahan keinginannya dengan sekuat tenaga untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa ia tidak bisa melakukan hal itu. Namun dengan menjaga pikirannya untuk tetap tenang, Baekhyun yakin pasti ia mampu untuk membuat Chanyeol menyerah dan Baekhyun berharap lebih akan itu.

"Kalau begitu jadilah temanku dan ceritakan kepadaku apa alasan kau menolak permintaanku,"

Baekhyun terdiam mendengar ucapan Chanyeol yang tidak pernah ia prediksi. Ia tidak tahu apakah semua itu hanya bualan yang diucapkan namja tinggi itu namun saat matanya menatap balik tatapan Chanyeol yang meyakinkan dirinya bahwa ia bersungguh-sungguh mampu membuat Baekhyun menggigit bibirnya bimbang. Namja mungil itu mencoba untuk mengatakan sesuatu namun saat mulutnya terbuka, ia bingung harus mengatakan apa dan berakhir menutupnya kembali.

"Baekhyun, aku tahu apapun alasanmu itu pasti juga berdampak padamu dan menyiksamu. Kau tidak bisa melakukan apapun yang kau mau dengan bakat bermain piano dan bernyanyimu yang mengalahkan seorang profesional sekalipun. Apa kau tidak ingin membebaskan dirimu? Aku tahu aku tidak memiliki alasan untuk membuatmu menerimanya tapi lihat ke dalam hatimu apa yang kau mau bukan apa yang orang lain mau,"

Chanyeol yakin bahwa Baekhyun pasti memikirkan dengan baik perkataannya. Chanyeol tidak tahu apakah dirinya sangat kurang ajar sekarang dengan mengikutcmpurkan dirinya dengan urusan Baekhyun namun ia sangat yakin bahwa apa yang akan didapat Baekhyun dengan bakatnya akan menjadi sesuatu yang hebat.

Sedangkan Baekhyun kini mulai merasa bahwa ia ingin memberontak dan mengatakan apa yang ia inginkan karena ucapan Chanyeol sungguh menohok hatinya. Sudah sejak lama ia tidak pernah mendengar seseorang mengatakan kepadanya untuk menuruti apa kata hatinya dan Baekhyun semakin bimbang dengan semua itu. Disatu sisi, ia ingin menyetujui semua perkataan Chanyeol dan disisi lain ia tidak ingin membuat masalah besar dengan semua hal yang akan dilakukannya nanti.

"Baekhyun,"

Baekhyun yang sejak tadi terdiam memikirkan ucapan Chanyeol segera menatap namja tinggi itu. Ia hanya bisa terdiam saat Chanyeol melangkahkan mendekatinya dan berdiri tepat didepannya. Membuat Baekhyun harus mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Chanyeol."Berikan aku jawabannya besok sepulang sekolah. Jika kau bersedia untuk menerima permintaanku maka datanglah ke atap sekolah. Aku menunggumu,"

.

.

.

.

.

Next?

Aku tahu ini pendek banget karena itulah aku up sekarang. Sebenarnya aku pengen up hari kamis atau jumat dan berhubung aku gak bisa jadi sekalian aku up sekarang. Aku usahakan untuk chap depan bakal aku panjangin lagi hehee mohon bersabar ya dan maafkan saya kalo masih ada typo. Makasih juga buat yang udah mau fav/follow ceritaku, aku berterima kasih banget. Dan aku gak nyangka kalo bakal ada yang review hehehe makasih ya buat: HunHan for lyfe, RookiePeanutCookie, dan hysha04.

Oke sampai ketemu minggu depan ya… Bye.