The Earth and The Moon; Behind The Moonlight
A Taekook fict feat Jikook
Genre : fantasy, vampire, romance, hurt, genderswitch
Rate : K
By Dlovkookie
Insipired by Twilight saga, Love yourself theory, ARMY, & EXO-L
Warning!
Sebagian fakta yang ada di fict hanya karangan author belaka. Jika ada kejanggalan atau apapun, itu bagian dari fantasi berlebihannya author. Thanks... J
Happy reading...
Italy,
Selasa, 13 September 2016 – Waxing Gibbous; iluminasi 82,6%
Kafetaria; tempat paling menyenangkan untuk mengistirahatkan otak sembari mengisi perut dan mendengar ocehan tentang pemuda tampan dari mulut manis temanku. Sebenarnya aku penasaran dengan isi kepala teman yang sedang mengunyah apel di meja seberangku ini. Ia dan bibir merah delimanya terus membicarakan orang yang tak ku kenali.
"Hei nona Foxes... Apakah membicarakan semua pemuda tampan di sekolah akan membantumu mengenyangkan perut?" Protesku.
"Luna... Bukan perutku yang kenyang, tapi mataku." Aku memutar mata dan menyandarkan punggung pada kursi. "Kau harus mengencani salah satu dari mereka jika ingin tahu bagaimana sensasinya." Salahkah aku jika satu buah sumpah serapah kulayangkan padanya?
Ia menyeringai. "Aku tidak mau."
"Kau tak sayang pada otakmu? Setiap hari kau hanya mengencani buku pelajaran. Biarkan mereka juga merasakan bagaimana indahnya memiliki seseorang yang kau pikirkan."
"Bukan aku yang seharusnya begitu. Tapi kau."
"Eumm.. Aku akan belajar setelah dia menjadi milikku."
"Dia? Siapa?" Ia menghela napas seolah jengah dengan kepura-puraanku. Well, aku memang tak tahu disini. Temanku yang satu ini, hampir setiap hari mengganti topik pemuda yang berbeda-beda. Dan sayangnya aku bukan perekam suara dengan simpanan memori ratusan gigabyte.
"Kau benar-benar-"
"-Oh dia yang kau maksud!" Jari ku menunjuk pada seorang pemuda coconut hair dengan kacamata bulat yang menutupi matanya. Dengan sekali lihat, aku yakin ia seorang nerd bersenjata buku tebal dan bermarkas di perpustakaan.
"Kau menunjuk V?"
"Hanya ada satu mahkluk berjenis laki-laki disana." Aku menunjuk ujung lorong yang mengarah ke kafetaria dimana pemuda itu berjalan menunduk.
"Ayolah Luna... Kau tega membiarkan teman baikmu ini menikmati rasa bosan di masa mudanya karena pemuda itu?"
Aku terkekeh. Dia benar. Aku tebak temanku ini akan mengalami penurunan berat badan secara drastis setelah berkencan dengannya.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Minggu, 23 Juli 2017 – New Moon ; iluminasi 0.0%
Aku tidak terlalu menyukai new moon. Selain malam yang meredup, ia juga memaksaku meraba hutan dengan kaki saat berburu. Menyebalkan.
Aku terlalu malas melangkah cepat dengan cahaya seminim ini. Setidaknya berdendang sembari menghindari semak dan pohon, lebih baik. Tak jauh dari kakiku menapak, telingaku mendengar gemerisik lain dan kupikir itu bukan angin. Ia memiliki aroma berbeda. Pergerakannya lebih cepat dari angin. Ia -seorang vampir. Ya, hanya vampir. Kuharap ia tak berniat jahat dan hanya berpapasan. Mungkin saling menyapa sebentar bukan hal yang buruk. Ya, jika waktu mengangguk dan takdir berkata 'silakan'.
Aku terus melanjutkan langkah hingga sebuah tangan mengunciku dengan kecepatannya. Ia bukan vampir murni. Tapi sosok itu cukup paham bagaimana menaklukkan kecepatan seorang vampir murni sepertiku.
Dengan gesit ia membuatku berlutut dalam keterkejutan. Selanjutnya aku merasakan hawa panas pada pipiku, disusul hembusan napas memburu di leherku. Aku memekik keras saat benda basah mengalir dipipiku. Rasa sakitnya beralih ke leher saat dia mengeluarkan gigi taringnya tepat dimana klan manusia memiliki arteri karotis disana.
Sakit, perih, dan tajam kurasakan dalam waktu bersamaan. Hingga untuk pertama kalinya aku melihat kegelapan yang tak kukehendaki.
Entah berapa lama waktu telah berjalan. Aku kembali menemukan kesadaranku. Nyeri itu menghilang. Dan aku terbangun ditempat yang asing. Ini terlihat seperti sebuah kamar berukuran sedang dengan dekorasi interior serba putih. Tak banyak perabot disini. Cahaya kamar hanya disinari lampu tidur yang minim penerangan.
Dimana aku?
Aku mencoba duduk saat seseorang membuka pintu kamar dan berjalan mendekat ke ranjang. Seorang lelaki dengan pakaian serba hitam. Dan ia seorang vampir.
"Aku berada dimana?" Aku tahu ini sebuah penculikan. Dan aku bukan vampir lemah dengan ketakutan yang melekat ditubuhku.
"Maafkan aku." Ia semakin mendekat. Aku tak paham arti permintaan maaf itu. Dibawah lampu temaram, ekspresi menyesalnya sangat terlihat. Mungkinkah dia yang beberapa saat lalu berusaha melukaiku?
"Apa yang kau lakukan?" Ia bergerak ke arah saklar. Bunyi saklar bergeser disusul silauan lampu membuat mataku mampu mendeskripsikan sosok itu. Pemuda bermata pure hazel dengan surai keabuan. Ia memiliki bibir yang tebal dan mata kecil. Serta pipi yang sedikit berisi. Aku yakin ia memiliki eyes smile yang manis. Jemari pendeknya menggantung di kedua sisi tubuhnya. Bukankah lelaki itu terlalu menggemaskan untuk mendapat predikat sebagai seorang penjahat?
Ia kembali berjalan ke samping ranjang yang ku tempati.
"Tidak seharusnya aku melibatkanmu dalam urusanku." Suaranya dipenuhi dengan penyesalan, tapi aku masih tak memahami inti perkataannya.
Aku terlalu bingung dengan pemikiranku, ingin rasanya aku menuntut penjelasan darinya. Seolah kita adalah teman lama yang berdebat soal hal kecil menjadi masalah besar. "Bicaralah yang jelas!"
"-Aku mengubahmu menjadi masterku!" Ia balas berteriak. "Secara tidak langsung kita terikat."
Aku sedikit tersentak. Ia seorang alter dan aku telah membantunya kembali menjadi slave tanpa persetujuan. Benar ia yang melukaiku.
Satu lagi, seharusnya seorang slave taat pada master. Bukan bersikap buruk seperti ini.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Aku tak ingin mati dengan rasa bersalah yang terlalu besar. Akan kujelaskan kenapa aku memilihmu." Ia mengubah nada bicaranya.
Aku terdiam. Aku tak tahu pasti mengapa membiarkan seorang penjahat yang baru saja mencuri di rumahku, menjelaskan letak kesalahannya.
Ia berjalan kearah jendela kamar sembari berkata, "seseorang membunuh masterku." Penjelasannya sempat terputus. Intonasi pemuda itu seolah menyiratkan kesedihan mendalam. Dan aku merasa mendapat percikan kesedihannya. Entahlah. "Tuan Park sudah kuanggap ayahku sendiri. Begitupun dia. Perlakuannya padaku tak seperti seorang master pada slave-nya. Dan aku dengan bodohnya lengah saat seseorang mengincarnya. Aku harus membuat perhitungan pada orang itu. Aku tak ingin mati sia-sia sebelum orang itu merasakan apa yang masterku rasakan."
Ia berbalik kearahku. Iris pure hazel miliknya berpendar marah. Namun, dalam hitungan detik manik indah itu berubah sendu. "Saat itu aku kalut. Yang ada dipikiranku hanya strategi untuk membunuh biadap itu. Hingga keberadaanmu di tempat dan waktu yang salah, menjadi korbannya. Aku tahu aku tak pantas meminta maaf padamu."
Ia melangkah ke dekat ranjangku, kemudian menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhku. "Pergilah. Maaf melibatkanmu dalam situasi yang buruk." Ia memaksaku berdiri -dengan lembut. Ini aneh. Tadi ia membentak, sekarang sikapnya jauh dari kata kasar.
Setelah siluetnya kupindai, aku berjalan menjauh dari rumah yang lumayan megah itu. Menginjak tumpukan daun-daun kering dibawah bulan yang mempersiapkan cahaya untuk waktu selanjutnya.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Senin, 24 Juli 2017 – Waxing Crescent ; iluminasi 0,5%
Dua puluh empat jam terlewati, tetapi pikiranku tak berjalan sesuai waktu. Semua memori yang mengarah ke pemuda itu terus menghantuiku. Aku tak mengerti kenapa ini terjadi.
Seolah aku mengkhawatirkannya.
Malam ini aku memutuskan berjalan-jalan di pusat kota Tuscany, berharap semua memori tentangnya berubah menjadi bayangan pemandangan kota Tuscany dimalam hari.
Namun harapanku tak terwujud setelah sesosok vampir berjalan tak jauh dari dihadapanku. "Pure hazel..." Ia menoleh ke arahku.
Secepat mungkin aku mendekat dan ia hampir menjauh sebelum jemariku mengunci pergelangan tangannya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau telah membunuhnya?"
Ia tidak menjawab dan hanya menatap tepat di mataku.
Selama beberapa menit kami tak bersuara.
"Jangan menumbuhkan hal negatif dalam pemikiranmu." Ia menarik tangannya.
Ia bisa membaca pikiran? "Aku tak memintanya."
"Hapuslah." Mengapa ia menyuruhku menghapusnya? "Kau tahu aku bukan orang yang baik."
"Jangan membiarkan kematian membawamu pergi." Aku kembali mengikat pergelangannya sebelum ia beralih dari hadapanku.
"Kau juga menyukaiku." Aku kembali berucap.
"Itu karena kita terhubung."
"Bukan."
Ia tertawa. Suara terindah yang pertama kali kudengar. Ia memiliki suara khas yang entah kenapa terdengar mengalun nyaring ditelingaku.
"Jika ini pertemuan terakhir kita, kuanggap kita tak saling menyukai." Perkataan yang tak sesuai dengan harapanku. Aku tak tahu mengapa ini bisa terjadi. Dia merupakan simbolis kebingunganku saat ini.
Dan benar saja. Malam itu bukan pertemuan terakhirku dengan Christian Park. Pemuda pure hazel yang sekarang resmi menjadi kekasihku.
Hubungan kami terbilang sangat baik, meski awalnya aku harus menyumbat telinganya dengan beberapa panah kepercayaan. Hubungan kami tidak seperti master-slave relationship yang cenderung dipenuhi perintah dan pengabdian. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu jika Christian kekasihku. Termasuk teman baikku sendiri. Entahlah. Aku hanya tak suka berkoar-koar soal kisah cinta.
Ia pemuda yang baik. Ia selalu melindungiku dari segala hal. Meskipun seorang slave lebih lemah dibanding origin, ia tetap berusaha menjauhkanku dari marabahaya sekecil apapun. Dan rasa sukaku berubah menjadi rasa sayang yang kupikir belum pernah kuberikan pada siapapun. Aku sangat menyayanginya.
Berbagi udara yang sama, terbang menembus langit tanpa batas, saling membagi apapun, dan masih banyak daftarnya. Dialah penyebab utama senyuman kebahagiaanku. Aku ingin ia tetap hidup.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Kamis, 28 September 2017 – First Quarter ; iluminasi 50%
"Althaea..."
"Luna, maafkan aku-"
Aku tak menduga jika seseorang telah menjadi saksi pertemuan buruk antara aku dan Christian.
"Aku mendengar ini beberapa menit yang lalu. Orang-orang Volterra akan segera menangkap Christian. Kalian harus melakukan sesuatu." Althaea menjelaskan diantara kekhawatirannya. Tidak biasanya ia terlihat khawatir. Althaea adalah bagian dari dewan Volterra yang kukenal. Dan ia telah mengetahui hubunganku dengan Christian melalui dewan Volterra.
Ini bukan berita bagus. Tepat disaat pengumuman kelulusanku terlewati, seberkas cahaya gelap muncul. Aku tak tahu-.
"Kau punya waktu sampai waxing gibbous moon berakhir."
Waxing gibbous moon akan berakhir dalam hitungan hari.
"Kau harus bersembunyi."
"TIDAK! Aku tidak akan meninggalkanmu."
"AKU MASTERMU!"
Ia diam. Aku tahu ini egois. Tapi aku tak ingin ia pergi untuk selamanya.
"Kumohon. Sembunyilah. Aku akan mencari cara agar kau terbebas." Ia membawaku ke dalam dekapannya. "Aku yakin ada banyak cara mengubah ini. Althaea akan membantuku. Dia juga yang akan melindungiku." Dari sekian banyak kebersamaanku dengannya, baru kali ini aku menggunakan kekuasaan seorang master pada slave. Sudah seharusnya seorang slave mengikuti perintah sang master. Tanpa bantahan.
Aku merenggangkan pelukannya. "Ini perintah."
Ia tersenyum. Jimin dengan senyumannya adalah obat penenang teradekuat yang pernah kutemui. Semoga senyuman itu tetap ada meskipun tindakan yang akan kuambil nanti berisiko pada sekelilingku.
Kemudian ia mengangguk dan mencium keningku selama beberapa menit. Beralih menyapu seluruh permukaan wajahku dengan bibirnya. "Kita terpisah hanya beberapa waktu. Akan kupastikan itu. Bersembunyilah dengan baik."
"Aku akan mencari bantuan dari anggota keluarga masterku. Kuharap ia bisa menolong." Setelah perdebatan singkat ia menyetujui perintahku.
"Jaga dirimu dengan baik, Jimin."
"Kau juga, Jungkook. Aku menyayangimu." Satu kecupan perpisahan mengawali langkahnya membuat jarak dariku.
Keadaan di Volterra tidak terlalu baik. Beberapa kali aku harus bergonta-ganti masuk ruangan untuk menyelesaikan kasus Jimin.
"Kau cukup pemberani, sayang." Suara berat ketua dewan selalu membawa suasana menegangkan di sekeliling ruangan.
"Terkadang keabadian seorang vampir tidak terlalu dibutuhkan. Mereka hanya membuat sesak klan." Ia terkekeh.
"Baiklah. Akan kupertimbangkan penawaranmu."
"Aku menunggu."
"Sampai jumpa di full moon, Luna."
"Terima kasih."
Ya. Menyerahkan keabadian demi kebahagian seseorang yang kau sayangi tak ada apa-apanya dibanding melihatnya tersiksa didepan mata.
Akhirnya kelegaan sedikit menggiring pergi angin khawatir dibenakku.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Selasa, 3 Oktober 2017 – Waxing Gibbous; iluminasi 91,1%
Hari ini adalah hari penyelenggaraan Prom night. Awalnya aku tak tertarik sama sekali dengan pesta, namun itu bukan gayaku, yang menghilang disaat yang lain menungguku dipesta dansa. Mungkin berbincang-bincang sedikit dengan salah satu teman di sekolah tidak buruk.
"Selanjutnya, Terra Kim. Peraih nilai tertinggi di kelas ekonomi, yang akan berpasangan dengan peraih nilai tertinggi di kelas biologi, −Luna Jeon." Yeah, setelah kuteliti, -ini terkesan berlebihan.
Aku mengikuti panduan mereka dengan berjalan sesuai alur hingga melihat penampakan pemuda tampan dari juara kelas ekonomi. -V Kim?
Bukankah ia pemuda yang tempo dulu aku-
Astaga... Benarkah?
Ia sangat-sangat berbeda. Kemeja kasual yang tertutupi tuksedo gelap. Dan kemana perginya si coconut hair?
Perbedaan Terra Kim membuatku sedikit goyah karenanya.
"Origin vampire?" Ia –pemuda Kim− berbisik lembut.
Bisikannya terkesan lembut diantara suara bass yang membuatku mencoret sebutan pemuda nerd untuknya. Aku tertawa kecil saat mendengar suaranya untuk pertama kali. Ia pemuda yang sangat lucu dibalik ketampanannya. Benar-benar jauh dari kata nerd.
Kau seharusnya menyesal nona Foxes.
Aku akan menertawai temanku jika bertemu dengannya. Well, kurasa tidak mungkin.
"Apakah kita pernah satu kelas?" Ia banyak membuka percakapan saat kami berdansa.
"Kurasa tidak. Dan... Mungkin memang tidak."
Dan ia juga suka bermain tebak-tebakan.
"Kau pasti sudah memiliki seorang kekasih."
Jimin. Satu nama yang kuingat setelah kata kekasih terucap dari bibirnya.
"Kalau itu,−" Ia tampak berpotensi menjadi teman bicara yang baik. Tapi, aku tidak bisa membongkar keberadaan Jimin disaat yang tidak tepat. "−Aku tidak memilikinya." Aku tersenyum padanya. Tetapi balasan kebingungan tercetak di ekspresi V Kim. Apa ia menyadari perubahanku?
Aku tahu, Jimin sangat mempengaruhi kehidupanku.
Maaf, karena kesan pertama kita kuawali dengan kebohongan, Terra Kim.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Kamis, 5 Oktober 2017 – Full Moon; iluminasi 100%
Tambahan daftar nama yang tak ingin kulihat hari ini selain Park Jimin. Kim Taehyung. Seorang origin vampire yang menemaniku melalui hari dengan gurauan kekanakan dan sikap konyolnya. Kebetulan ia kembali ke Korea hari ini. Entah kenapa sekarang aku merindukan gurauannya.
Saat memasuki podium pemutus keabadian, suara riuh akibat bisikan yang saling bertubrukan berubah menjadi hening yang entah kenapa seolah membawa hawa menakutkan. Sulit untukku mengabaikan bagaimana ekspresi mereka ketika melihat seorang sepertiku.
Kedua manikku menyisir sekilas pada lautan vampir yang berdiri di halaman kastil Volterra. Tepat pada sapuan pertama, pandanganku terkunci oleh kehadiran seseorang yang ada di black list-ku. Kim Taehyung.
Apakah ia kecewa?
Maafkan aku Taehyung. Selamat tinggal. Bahkan satu senyuman yang biasa aku layangkan dengan mudah, tak mampu aku lakukan untuknya.
Hukuman yang seharusnya menghentikan waktuku, tidak pernah terjadi. Taehyung menyeretku bersamanya disaat manikku menangkap kedatangan Jimin. Kegilaanku benar-benar diluar kontrol ketika lengan kekar Taehyung menahanku dengan bisikan penenang dari bibirnya. Aku tak mengerti, sihir apa yang ia rapalkan sehingga kemarahanku perlahan melebur bersama lelehan air mata.
Ia membawaku kembali ke kastil. Dan disitulah harapanku kembali. Berada dipelukan Jimin dan melihatnya terbebas dari hukuman.
Taehyung benar. Hukuman yang seharusnya diterima Jimin telah aku ganti dengan diriku, sebagian dewan tidak menyetujui usul itu. Hingga memutuskan jika ada seorang volunteer yang bersedia menjadi master Jimin, maka hukuman itu akan dipertimbangkan kembali.
Pembicaraan alot telah mereka lakukan.
Kasus Jimin mereka anggap sebagai penghianatan karena pembunuhan masternya. Bukan hal tabu bagi seorang slave yang kehilangan masternya akan menjadi lebih waras dari dugaan. Mereka cenderung memiliki emosi yang sangat buruk saat kehilangan sang master. Terutama pada Jimin yang begitu menyayangi masternya. Beruntung Jimin menghentikan niat untuk membunuh biadap itu. Semua penyebab masalah tersebut telah dilimpahkan pada biadap sial yang saat ini dalam pengejaran oleh dewan Volterra.
Jimin dibebaskan dengan master yang baru. Dia Min Yoonji. Gadis cantik asal Korea Selatan. Bertubuh ramping dengan wajah yang sangat manis. Apa aku terlihat cemburu?
Mungkin tidak.
Bukan itu yang seharusnya ku khawatirkan. Aku melupakan Taehyung saat melepas kerinduan bersama Jimin. Ia pergi tanpa pamit. Meninggalkan rasa rindu dan penyesalan yang tak pantas kurasakan saat Jimin telah kembali ke sisiku.
ꕥ
ꕥ ꕥ ꕥ
ꕥ
Korea Selatan,
Rabu, 17 Oktober 2018 – Waxing Gibbous; iluminasi 52,5%
Kerinduan yang kupikir akan menunggu lebih lama dan tak berujung, ternyata diluar dugaanku. Aku bertemu lagi dengannya. Terra Kim. Ia berpenampilan seperti Kim Taehyung, bukan V Kim lagi. Ia tidak lagi memakai kacamata bulatnya dan coconut hair. Ia juga mengajakku kerumahnya.
Seorang wanita muda menyambut kami saat sampai dikediaman keluarga Kim.
"Kim Taehyung, kau membawa lari anak siapa lagi?" Kupikir itu ibunya. Fakta baru yang kudapat saat bertemu keluarga Kim. Mereka sangat humoris.
"Mom, dia temanku. Namanya Luna. Kami satu sekolah saat di Italy."
Ibu Taehyung menangkup pipi berisiku sembari menyapa. "Hai Luna... Nama yang bagus." Ia juga menyubit hidungku.
"Apa kabar Nyonya Kim." Aku membungkuk singkat.
"Baek-" Kutebak pria yang memanggil ibu Taehyung adalah tuan Kim.
"Oh, kita punya tamu?" Ia berjalan mendekati kami dengan kemampuan vampirnya.
Apakah mereka melakukan ini saat teman manusia Taehyung kesini?
"Aku tahu kau seorang vampir. Tenanglah, -Luna Jeon?"
"Bagaimana kau tahu nama lengkapnya?" Ibu Taehyung protes dan melayangkan death glare pada suami dan anaknya. "Kalian bermain dibelakangku?!"
"Aku ingat gadis manis yang mempertaruhkan nyawanya di kastil Volterra."
"Chanyeol-"
"Apa sayang? Kau mau menghajarku lagi? Dia calon menantumu. Jangan membuat image buruk didepannya." Ayah Taehyung terlalu vulgar dengan mengucap sebutan calon menantu.
"Okay. Cukup bertengkarnya. Aku akan membawa Luna melihat pohon pinus dibelakang rumah." Tanpa menunggu sahutan, Taehyung menuntunku ke belakang rumahnya. Kediaman keluarga Kim lumayan jauh dari peradaban kota. Suasana sekeliling rumah megah ini sangat indah.
"Kau selalu tinggal disini? Bukankah jarak ke kota terlalu mengulur waktu?"
"Keluargaku memiliki apartemen di pusat kota. Ini hanya bagian lain dari sumber ketenangan kami."
Kami berjalan di tanah yang lembab. Menembus pepohonan yang tumbuh pasif. Menerjang angin yang berhembus lembut. Hingga menemukan titik dimana pohon satu dengan pohon lain tumbuh agak berjauhan. Menyisakan ruang di antara hijau rerumputan dengan satu batu besar tergeletak didekat pohon.
"Sejak kapan kau pindah ke Korea?"
"Beberapa minggu setelah kau meninggalkanku tanpa suara di Volterra."
"Ah, maaf."
Aku tertawa mendengar penyesalannya. "Tak apa, Taehyung. Aku yang seharusnya minta maaf. Mengabaikanmu dan tak mengucap terima kasih." Ucapku kemudian memberikan senyum padanya. "-Terima kasih Kim Taehyung."
Ia tersenyum lebar dan mengusap pipiku dengan jari panjangnya.
"Tunggu, kau sudah lama berada disini, kenapa tidak mencoba mencariku?"
"Untuk apa aku mencarimu?" Berpura-pura tak mengerti untuk sesekali tak apa 'kan?
Ia menyeringai dan menyatukan dahinya pada dahiku. Aku harus mengingat ini, -Kim Taehyung dengan sifat penggodanya.
"Kau bilang 'hati telah berubah'."
"Lalu?" Aku menjauh kemudian menduduki batu besar yang berukuran lebih kecil dari mobil.
"Ayolah Luna... Kau suka sekali menghindar."
Aku hanya terkikik pelan saat ia dengan malas menyusulku menaiki batu besar.
"Bukankah seharusnya kau yang mencariku? Setidaknya perjuangkanlah apa yang mestinya kau perjuangkan." Kupelankan suara dalam ucapan selanjutnya. "Kupikir kau melupakanku."
"Aku mencobanya. Tapi kau lebih sulit dihilangkan daripada menghapus tato permanen menggunakan sabun." Astaga. Aku lupa dia juga vampir. Mataku memicing kesal padanya.
"Apa?" Ia terkekeh puas. "Mau bertanding?"
"Bertanding?"
"Ya. Kita lihat siapa pelari tercepat."
"Jadi kau mau pengakuan. Baiklah." Jelas-jelas ia yang memiliki kemampuan lari cepat mengajakku bertanding. Apa dia berniat mengejek kemampuanku? Dasar Kim menyebalkan.
"Peraturannya, siapa yang sampai lebih dulu di tebing ujung sana. Dialah pemenangnya." Garis akhir yang ia maksud adalah sebuah tebing yang berjarak sekitar 1 km dari kami berdiri. Tak sulit bagi seorang vampir melihat dimana letak ujung tebing itu.
"Medan larinya aku akan memakai jalur yang berkelok, kau yang lurus, Luna."
"Kupikir kau akan bertindak curang sebelum permainan dimulai."
"No way. Ayo mulai." Ia menyeretku turun kemudian membuat garis acak untuk start berlari.
"Dalam hitungan ketiga?" Aku mengangguk antusias. Sepertinya akan menarik.
Taehyung mulai berhitung. Tepat pada angka ketiga kami berlari secepat mungkin. Sesekali aku melarikan manikku pada Taehyung. Ia tersenyum lebar diantara langkah cepatnya. Jalur yang kulewati cenderung lurus, sedangkan Taehyung harus beberapa kali menghindari pohon. Hal itu membuat posisi lariku dengannya hampir sama.
Sepanjang jalur berlari, ada satu titik dimana Taehyung dan aku berpotensi bertabrakan. Dan disitulah Taehyung menarikku sehingga langkah kami berhenti setelah satu putaran terlewat akibat kecepatan kami yang tak terkendali. Kedua tangannya menggenggam erat lengan atasku memaksa pusat perhatianku teralih pada dua iris biru safir yang entah berapa lama aku tak melihatnya berpendar bak cahaya bintang yang bertaburan.
"Bulan yang kupikir tak bisa kuraih kini berada dalam genggaman jariku. Aku tak bisa melihatmu dimanapun kau berada kecuali itu didekatku, Jungkook. Tapi... Ini aneh, aku mampu merasakan kehadiranmu disetiap tubuhku berproses. Aku selalu berharap dapat mencium kembali aroma almond dengan potongan seledri dengan mata tertutup."
"Waktu memang tak akan berputar dalam kondisi yang sama. Waxing gibbous, full moon, waning gibbous, last quarter, waning crescent, new moon, waxing crescent, first quarter, dan kembali pada waxing gibbous." Jemari panjangnya berganti mengelus tulang pipiku dengan lembut. Aku memejamkan kelopak mataku, menikmati setiap getaran halus yang menyenangkan mengaliri seluruh inci tubuhku.
"Fase bulan terus berulang. Tidak dengan perasaan kita." Suara Taehyung mengembalikan penglihatanku padanya. "Biarkan hanya aku yang menggenggam dan merasakan kulitmu seperti ini. Jangan pergi lagi. Kita tidak akan menemukan sebuah kisah cinta seperti ini, selamanya. Tatapanmu, kata-katamu, dan semuanya. Would you be mine?"
Tak perlu waktu lama membiarkannya sendiri dan kini aku membawanya dalam dekapan berbeda yang pernah ia dapatkan. "Tentu, Taehyung."
Penggambaran beberapa kupu-kupu terbang tak akan cukup mengungkapkan bagaimana perasaanku saat ini. Inilah hal paling membahagiakan dalam hidupku. Momen dimana hanya kuperoleh dari seorang Kim Taehyung. Bukan dari Jimin atau yang lain. Ia adalah sebuah perumpamaan yang berbeda. Ia juga berhak atas perlakuan yang berbeda pula.
Sekarang aku berani mengambil sebuah kesimpulan. 'Kau telah membuatku terjatuh padamu, Kim Taehyung.'
Mari membuat banyak tulisan dalam kertas kosong, kemudian menyatukannya dalam buku berjudul The Earth and The Moon; Terra and Luna Kim. Selamanya.
"Jalurnya tersisa 200 meter lagi. Kau mau kita berhenti dengan hasil seimbang atau melanjutkan?" Ia berkata tepat ditelingaku karena kita masih berpelukan.
Dan satu-satunya cara untuk mengalahkan Kim Taehyung, dengan mengambil start lebih dulu.
"Hei, itu curang."
"Bergeraklah jika ingin menang." Aku semakin mempercepat lariku. Ujung tebing mulai terlihat sangat jelas dimataku. Beberapa langkah kecil akan membawaku pada garis finish.
Taehyung's side
Sial. Jungkook menipuku. Aku berlari sekuat mungkin saat ia hampir mendekati finish. Namun, sebelum ia benar-benar meraih garis finish, sekilas bayangan menyeret tubuh Jungkook hingga menembus air laut.
'Origin vampire?'
"Jungkook!" Jejak mereka menghilang saat aku mengejar di kedalaman laut. Bau tubuh Jungkook juga tersamarkan. Apa yang sebenarnya terjadi?
END?
