Suara teriakan seketika mendominasi di dalam sana. Beberapa botol minuman yang seharusnya disajikan kepada pelanggan seketika hancur karena jatuh ke lantai. Diterobos begitu saja oleh dua orang pria bertubuh besar seperti body guard. Beberapa orang ikut tersenggol, ada yang terjatuh bahkan tak sengaja terkena pukulan karena tak mau memberi jalan.

"Hei, apa yang terjadi?"

Suara husky milik Jaehyun mulai terdengar, mungkin tak sebanding dengan kerasnya musik EDM yang masih menggema sekalipun bar yang mereka tempati sudah terlihat seperti kapal pecah.

"Johnny Hyung! Kau mau kemana?"

Teriakan Jaehyun kembali terdengar setelah netra hitamnya tak sengaja menangkap sosok tinggi yang sekilas menyerupai Johnny bersama seorang pria di dalam gendongannya. Jangan lupakan dua pria besar di belakang sana yang nampaknya tengah memburu keduanya. Sepasang kaki panjang Jaehyun seketika mengambil langkah lebar, berlari menerobos keramaian meski sempat tersandung kabel yang melintang di tengah jalan.

"Hyung! Hei kenapa kalian mengejarnya?! Hei tunggu aku!"

Perhatian orang-orang di luar bar langsung tertuju ke arah keributan yang terjadi di halaman parkir. Seolah-olah ada tontonan gratis yang sayang untuk dilewatkan meski hanya satu detik saja. Dua pria itu menggedor kaca jendela dengan membabi buta, tapi Johnny tetap melenggang pergi meski sempat menyerempet beberapa kendaraan yang masih terparkir.

"Hei jangan lari!"

"Hei apa yang kau lakukan?!"

BUGHH!

Salah seorang pria besar itu sedikit terhuyung saat bogeman mentah mendarat di wajah kusamnya. Satu pria yang lain nyaris memberikan balasan jika saja Jaehyun tak segera mengambil sesuatu dari saku jaket kulitnya.

"Aku Jung Jaehyun dari Kepolisian Metropolitan Seoul."


Johnny masih fokus menyetir kendaraan meski napasnya masih terputus karena aksi kejar-kejaran dengan beberapa body guard di bar. Dirinya bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengambil keputusan dengan membawa kabur pria yang bahkan tak dikenalnya. Sambil melirik, Johnny berdehem pelan, berusaha menegur sang pria pendek yang nampaknya masih mengalami shock.

"Tidak ingin mengatakan sesuatu setelah membawaku ke dalam permainan?"

"U-uh?! Maafkan aku. Terima kasih juga omong-omong."

Helaan napas Johnny lagi-lagi terdengar di antara keduanya.

"Kemana?"

"Apa?"

"Kau mau kemana?"

"Bisa kau antarkan aku ke Jongno? Di Cheonggyecheon ada Starbucks. Turunkan aku sekitar beberapa sepuluh meter dari sana."

"Dekat Jonggak Station YMCA?"

"I-iya."

"Penjelasanmu itu agak membingungkan. Kenapa tidak langsung ke intinya saja?"

Lelaki manis itu langsung menelan ludah. Jari jemarinya mulai bergerak risau dengan mencengkeram tongkat lipat yang di genggamnya.

"Bisa ceritakan kenapa kau bisa ada disana?"

"A-aku.."

"Bisakah kau bicara dengan santai? Tidak perlu terbata-bata. Aku bukan bajingan. Paham?"

"Aku cuma ingin cari pekerjaan. Tapi mereka malah membawaku ke sana."

"Pekerjaan macam apa? Apakah ada orang yang mau menerima seorang tunanetra sepertimu?"

Perkataan Johnny jelas-jelas menusuk, bahkan orang normal sekalipun bisa merasa sakit hati. Senyuman getir yang Ten berikan seakan menjeda obrolan mereka. Ia terdiam cukup lama, membiarkan Johnny menunggu respons yang akan diberikan sang pria pendek.

"Maaf. Harusnya aku bisa mengontrol perkataanku." kata Johnny sembari melirik ke arah spion yang tergantung di bagian atas.

"Benar, aku tidak bisa melihat, tidak seharusnya aku berkeliaran sendiri di tengah keramaian. Tapi jika aku hanya duduk di kamarku setiap hari, aku mungkin akan mati kelaparan. Orang-orang juga akan menganggapku anti sosial. Padahal mereka sendiri yang tidak mau menerimaku."

"Paling tidak minta bantuan orang lain, jangan pergi sendiri. Oke, kita sudah sampai di depan Starbucks. Kemana sekarang?"


Tatapan mata Jaehyun sesekali memicing ke arah dua orang yang terpaksa ia gelandang ke kantor polisi tempatnya bertugas seperti biasa. Keduanya tengah berhadapan dengan salah satu rekan kerja Jaehyun selama hampir tiga tahun lamanya.

"Jadi apa masalahnya?"

Lelaki dengan name tag "Kim Mingyu" itu langsung melirik ke arah Jaehyun dan dua pria besar itu secara bergantian.

"Kenapa diam saja? Dan kau, Jung. Bukankah kau sedang mengambil cuti selama tiga hari? Kenapa tidak kau nikmati saja waktu yang tersisa? Kenapa mengurus para berandalan ini?"

"Kami bukan berandalan. Pria ini yang tiba-tiba memukul kami."

"Eyyy shit! Siapa yang kau sebut pria ini huh? Dengar, kenapa kalian mengejar sepupuku? Ada masalah apa huh?!"

"Apa pria yang menculik salah satu pekerja kami adalah sepupumu?"

Dengan begitu, baik Jaehyun maupun Mingyu sama-sama mengernyit tak mengerti. Lelaki berkulit tan itu melipat tangan di depan dada, menatap kedua orang itu secara bergantian kemudian menyikut perut Jaehyun secara asal.

"Tanyakan pada sepupumu."

"Hei. Dia tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan. Kalaupun ada, itu pasti karena pekerja kalian kan? Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Apa kalian mempekerjakan orang secara paksa?"

Pertanyaan yang Jaehyun ajukan sontak membuat lidah kedua terasa kelu. Tak ada yang bisa menjawab, sekalipun ada, hanya sekedar mengulang-ulang satu kata saja.

"Memperkerjakan seseorang secara paksa masuk dalam undang-undang perbudakan. Ancaman penjara paling sedikit tiga tahun, atau paling lama lima belas tahun. Pilih mana?"

"Bukan kami. Bos kami yang mengendalikan semuanya. Ku mohon lepaskan kami. Kami tidak akan bekerja di sana lagi. Kami juga tidak akan mengganggu mereka berdua. Aku punya dua orang anak, istrinya juga sedang hamil anak pertama. Apa yang harus mereka lakukan jika kami mendekam dipenjara?"

"Kalau tidak mau dipenjara ya jangan jadi penjahat. Bagaimana Kim? Haruskah?"

Keduanya saling bertukar pandang satu sama lain sekitar dua menit, lalu di akhiri dengan sebuah kedipan mata sebagai jawaban yang Mingyu berikan.

"Karena aku sedang baik sekalipun kalian mengacaukan hari liburku, paling tidak menginaplah di hotel prodeo selama satu hari. Lalu tepati semua ucapan kalian. Jika kami melihat kalian lagi..." kemudian Jaehyun membuat gesture seolah-olah tengah menggorok lehernya sendiri sehingga membuat keduanya memasang wajah masam.

"Kalian belum makan malam kan? Masuklah, kami akan memberikan menu spesial."


Johnny kurang bisa percaya dengan apa yang tengah ia lihat sekarang. Maksudnya, bagaimana bisa orang-orang seperti Ten tinggal di tempat yang kecil dan juga kumuh? Johnny bahkan baru tahu kalau ada tempat semacam ini di tengah-tengah Seoul.

"Apa kau terkejut?"

"Kira-kira begitu."

"Meskipun aku tidak bisa melihat, tapi dari suasananya saja aku yakin kalau tempat ini tidak layak untuk dihuni. Tapi ya mau bagaimana lagi? Beginilah kerasnya hidup untuk para pecundang seperti kami."

Johnny tidak mengiyakan dalam hati. Ada banyak orang yang lebih pantas disebut pecundang ketimbang warga miskin seperti pria cantik di depannya ini.

Begitu pintu terbuka, atensi Johnny yang semula tertuju pada lingkungan sekitar langsung berpindah ke tempat Ten berada. Saat pria itu sudah masuk ke dalam, Johnny hanya sekedar mengintip dari luar.

"Tidak mau masuk?"

"Aku masuk."

Senyuman tipis Ten menyambut pria jangkung itu dengan sangat manis. Yang lebih pendek kembali menapakkan tongkatnya ke lantai dengan tangan yang meraba-raba seperti orang buta biasanya.

Namun belum sampai satu meter, pergelangan tangannya digenggam Johnny dengan erat, di tambah tangan satunya yang mendarat di atas pundak.

"Mau kemana?"

"Bisa antar aku ke kamar? Cukup jalan lurus, setelah itu ada satu ruangan di sebelah kanan."

Sebuah kamar yang hanya sekita meter dengan satu ranjang kecil dan juga lemari pakaian yang sudah usang. Meski begitu kamar kecil ini lebih rapi dari kamar luas milik Johnny yang seperti kandang babi.

"Kamar sekecil ini apa tidak masalah?"

"Justru aku bersyukur, aku hanya perlu membersihkan dalam waktu singkat."

"Tapi kau tidak bisa melihat."

"Kalau kau sudah terbiasa, maka satu kekurangan saja tidak akan menyusahkanmu."

Helaan napas Johnny terdengar jelas di dalam ruangan kecil dengan sedikit perabotan di dalamnya. Bibir tebalnya bergerak secara acak, bingung harus tersenyum atau tidak karena jawaban dewasa yang diberikan sang tuan rumah.

"Kau tidak ingin tahu siapa namaku?"

"Apa kita belum berkenalan?"

"Menurutmu bagaimana? Namaku Johnny. Johnny Seo."

"Kau bisa memanggilku Ten. Tidak usah tanya siapa nama panjangku, aku tidak mau membuat lidahmu kusut. Apa kau ingin minum sesuatu?"

"Tidak, mungkin aku akan pulang sekarang. Kau bisa jaga diri, kan?" lalu dijawab dengan sebuah anggukan pelan.

Awalnya Johnny hampir saja akan pergi dari dalam ruangan itu jika saja ia tak teringat akan sesuatu.

"Jika mau keluar, pakai sesuatu yang bisa menutupi lehermu. Ada banyak gigitan serangga disana."

"Ah terima kasih."

"Sampai jumpa."

"Memangnya kita akan bertemu lagi?"

"Ibuku bilang, jangan ucapkan selamat tinggal. Kita tidak tahu kapan akan bertemu lagi kan?"


"Aha! Darimana saja kau?!"

Teriakan Jaehyun langsung menyambut kepulangan Johnny yang bahkan baru akan menekan bel pintu apartemen miliknya. Pria berkulit putih itu menyemprotnya dengan beragam pertanyaan seperti seorang bintang yang tengah kontroversial dikalangan masyarakat.

"Kau itu tuli apa bagaimana? Beraninya kau meninggalkan aku disana? Kau mengacaukan cuti tiga hariku Hyung. Kau-"

BRUKK!

Terhentinya langkah Johnny berhasil membuat Jaehyun menabrak tubuh tingginya dengan sedikit keras. Sosok yang lebih tua itu menjambak sedikit rambutnya sambil menghadap ke arah Jaehyun.

"Apa kau tidak tahu bagaimana lelahnya aku sekarang? Aku sudah bilang tidak mau ke bar itu, tapi kau masih saja melakukannya. Salah siapa? Apa salahku?! Salahku?!"

"Kalian sama-sama salah, tapi setidaknya jawab pertanyaanku. Apa Johnny Hyung menculik salah satu pekerja bar itu?"

Pertanyaan yang tiba-tiba di ajukan oleh seorang lelaki bersurai hitam itu membuat alis Johnny saling bertautan.

"Kau- Aku- apa? Kau bilang menculik? Hei dengarkan aku Mark, berikan gelar penculik itu pada mereka. Mereka menculik seorang pria buta dan menjadikannya pekerja seks. Mereka mengikatnya, memaksanya, me-"

"Tapi bukannya itu bar untuk orang normal? Kenapa harus ada pekerja seks laki-laki? Heol! Apa disana menyediakan jasa untuk orang-orang yang menyimpang? Kalau aku tahu, aku bisa-"

"Aku bisa menelepon Taeyong Hyung sekarang." lalu dihadiahi dengan umpatan dalan hati yang ditujukan untuk Mark.

Di sisi lain Johnny nampak tak tertarik dengan beragam opini yang tengah Mark dan Jaehyun keluarkan di ruang tengah. Nyatanya Johnny lebih suka masuk ke dalam kamarnya untuk melepas lelah setelah kejadian kurang mengenakan hari ini.

Pakaiannya telah ditanggalkan dari seluruh tubuh atletis miliknya, selanjutnya ia masuk ke dalam bath up berisi air hangat untuk membuat tubuhnya rileks.

Dengan menutup mata seharusnya Johnny bisa mengosongkan pikirannya sejenak. Tapi pikiran tentang bagaimana Ten bisa hidup sendirian di tengah kerasnya kehidupan terus muncul di kepalanya.

Jika Johnny yang sempurna saja masih membutuhkan bantuan orang untuk sebuah hal sederhana, bagaimana dengan pria pendek itu?

"Dunia ini memang kejam, sekali kau terpeleset, mungkin masih ada yang mau menolongmu. Tapi sekali kau jatuh ke jurang, belum tentu ada yang mau menolongmu."


TBC

.

.

Tau ah gelap.