.

.

.

Ten Years Gone.

.

.

Pair: Haehyuk

Rate: T

Warning: BL/Romance/Three Shot

Summary: Hanya sekejap Hyukjae memejamkan mata tapi sepuluh tahun telah terlewat. Dan kenapa orang yang sama sekali tak mencintainya kini justru hidup bersamanya?

.

.

.

.

Pikirkan lagi saat kau ingin kabur dari rumah.

Atau setidaknnya buat persiapan yang matang dan cari informasi sebanyak-banyaknya. Apalagi jika kau adalah seseorang yang melewatkan sepuluh tahun keadaan dunia ini, itu akan semakin sulit.

Itulah yang Hyukjae pelajari saat ini.

"Sejak kapan rute jalan jadi serumit ini?"

Laki-laki itu melongo melihat peta kota dihalte bus tempat ia berdiri sekarang. Kepalanya semakin pusing saat melihat rute bus yang membingungkan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tak tahu harus ikut rute bus yang mana.

Kepala kecilnya celingukan melihat orang-orang disekitarnya sebelum dengan ragu dan malu-malu bertanya bus nomor berapa yang bisa membawanya sampai stasiun. Kebetulan bus baru datang ternyata adalah yang ia cari.

Hyukjae segera menyiapkan uang receh saat memasuki bus, namun saat akan membayar Hyukjae terdiam melihat orang-orang didepannya tak satupun yang mengeluarkan uang. Mereka justru menempelkan punggung ponsel mereka pada alat mirip kakulator tanpa tombol disamping supir. Setiap alat itu mengeluarkan bunyi pip, mereka segera duduk.

Mata Hyukjae mengerjap heran. Apa bus sekarang memang sudah gratis? Atau ini cara membayar model baru?

Dengan canggung Hyukjae menaruh uang di keranjang. Bibirnya cemberut. Entah kenapa ia merasa sangat kuno diantara semua orang. Hyukjae segera mencari tempat duduk, namun belum sempat ia melangkah lebih dalam supir bus memanggilnya.

"Uangnya kurang."

Hyukjae melongo, lalu cepat-cepat memberikan uang lagi. Tak peduli jika kelebihan karena ia terlanjur malu. Sisa perjalanan ia hanya duduk diam dibelakang pura-pura melihat pemandangan. Tak dipedulikannya tatapan aneh orang-orang padanya.

Hei, ia koma selama sepuluh tahun! Mana ia tahu tarif bus sudah naik!

Bus itu bergerak dengan kecepatan tetap membuat orang-orang didalamnya begitu tenang. Iris hitam itu melihat keluar jendela, pada gedung-gedung tinggi, layar-layar iklan raksasa, dan padatnya kota. Sudah sangat berbeda dari dulu yang Hyukjae ingat.

Hyukjae pernah sekali ke Seoul sebelum kecelakaan, tepat saat liburan musim panas tahun terakhirnya di SMA dengan Donghae. Tepat setahun mereka berpacaran. Setahun yang sulit ia percaya karena sudah jelas Donghae tak mencintainya.

Tentu perlu usaha dan bujukan tak terhitung sebelum akhirnya Donghae mau menemaninya. Hubungan mereka bukanlah hubungan dua arah. Bukan pasangan yang saling ingin membahagiakan. Sangat wajar jika Donghae enggan berlama-lama bersamanya.

Hyukjea segera menampik pikiran itu semua. Ia tidak mau memikirkan hal yang hanya akan menyakitinya saja. Kembali menyadarkannya bahwa hubungan mereka hanya bentuk keegoisannya saja. Bahwa Donghae bahkan tidak pernah mencintainya.

Bahwa hati laki-laki itu tak pernah untuknya.

Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya Hyukjae sampai ke stasiun. Ia sempat dibingungkan dengan mesin penjual tiket otomatis sebelum iris hitamnnya menemukan loket penjual tiket manual.

Setelah dikagetkan dengan harga tiket kereta, Hyukjae akhirnya berhasil duduk disalah satu gerbong dengan nyaman. Mengagumi interior canggih disekitarnya seperti orang bodoh. Bukan salah Hyukjae jika ia tertinggal sepuluh tahun dengan perkembangan dunia ini.

Suara pengumuman keberangkat kereta terdengar sebelum akhirnya kereta itu perlahan bergerak. Bergerak meninggalkan Seoul untuk membawa Hyukjae kembali. Kembali ketempat semua ini dimulai.

Kembali ke waktu sepuluh tahun yang lalu.

.

.

.

Tubuh lelah penuh peluh itu terkapar di bangku kayu tak berdaya. Nafas Hyukjae terengah dan wajahnya yang pucat berubah merah karena kepanasan. Iris hitamnya melihat jalan menanjak yang berhasil ia lewati dengan susah payah. Bahkan sekarang ia merasa akan pingsan.

Baru sekarang terasa dampak kecelakaan yang ia alami. Tubuhnya tak sekuat dulu, baru berjalan sedikit saja tubuhnya sudah kelelahan luar biasa. Padahal dulu Hyukjae termasuk orang yang selalu fit dan begitu jago olah raga. Ia juga memiliki sistem imun yang bagus sehingga jarang sekali sakit.

Seakan-akan tubuhnya yang sekarang tak ia kenali, sangat asing.

Sapuan angin menyadarkannya dengan sekitar. Iris hitamnya memandang jauh disekitarnya. Melihat garis laut diatas ketinggian. Merasakan bau laut yang begitu akrab diindera penciumannya.

Mokpo.

Ia kembali ditempat ia dilahirkan. Tempat ia dibesarkan. Tempat terakhir sebelum akhirnya tertidur hingga bertahun-tahun.

Kembali berdiri, Hyukjae melangkah menyusuri jalan yang dulu setiap hari ia lewati. Matanya mengedar melihat bangunan-bangunan baru yang hampir membuatnya tak mengenali daerah tempat tinggalnya ini. Untungnnya masih ada beberapa yang terlihat sama, seperti minimarket di persimpangan jalan atau taman kecil sebelum jalan menanjak.

Langkahnya terhenti tepat disalah satu rumah dengan pagar kayu yang catnya sudah mengelupas sebagian. Hyukjae hampir tak berkedip, ia terdiam tak bisa berkata-kata.

Masih sama. Rumahnya masih sama seperti yang terakhir kali Hyukjae ingat.

Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sebelum Hyukjae bisa berfikir. Seakan keadaan rumahnya yang masih sama adalah kepingan waktu sepuluh tahun silam yang masih tertinggal untuknya. Ia bahkan hampir berlari menuju pintu depan. Tangannya terulur menggenggam ganggang pintu siap memutar dan membukanya.

Krek Krek

Semua harapan Hyukjae luntur dalam sekejap saat menemukan jika pintunya tak bisa dibuka. Terkunci rapat.

"Mwoya?"

Ia kembali mencoba membukannya namun nihil. Hyukjae menghela nafas, bahunya turun sejurus dengan semangatnya yang mulai luntur. Ia perlahan berjongkok sembari merutuki kebodohannya sendiri.

Lee Hyukjae bodoh! Tentu saja terkunci, keluargamu tak lagi tinggal disini! Makinya pada diri sendiri.

Hal ini sama sekali tak terpikirkan. Yang Hyukjae tahu ia hanya ingin kembali ke rumah, rumah yang ia kenal tentu saja. Setidaknnya yang ada diingatannya. Yang tak asing untuknya. Tapi lihat sekarang, ia bahkan tak bisa masuk ke dalam rumah sendiri.

Satu lagi pelajaran yang bisa diambil untuk melakukan persiapan matang saat kabur dari rumah.

Hyukjae mendongak, melihat pintu kayu yang tertutup rapat dengan kokoh didepannya. Haruskah ia kembali ke Seoul? Tapi uangnya tak cukup untuk membeli tiket kereta lagi. Jadi ia harus bagaimana sekarang? Hyukjae ingin menangis memikirkan nasibnya.

"Chogiyo? Kau mencari seseorang?"

Suara itu mengejutkan Hyukjae. Ia segera berbalik untuk melihat seorang wanita, mungkin seumuran ibunya berdiri dari balik pagar. Hyukjae memincingkan matanya, rasanya ia pernah melihat wanita itu.

"Hyukjae?"

Hah? Orang ini mengenalnya?

Wanita itu membuka pagar sebelum berjalan menyusuri pekarangan rumah sebelum menghampiri Hyukjae yang perlahan berdiri. Hyukjae sangat terkejut saat wanita ini memeluknya erat.

"Astaga, kupikir siapa. Kenapa tak bilang jika ingin datang?"

Akhirnya Hyukjae bisa melihat dengan jelas paras wanita didepannya saat pelukannya terlepas. Hyukjae terkejut, meski keriput itu menutupinya tapi kini Hyukjae ingat siapa wanita ini.

"Bibi?"Tanyanya memastikan.

"Ne. Wae? Kau melupakanku?"

Kalau boleh Hyukjae jujur, iya. Tapi ini karena bibinya sudah banyak berubah, sangat berbeda dari yang Hyukjae ingat. Wanita ini adalah adik ayahnya yang tinggal tak jauh dari sini. Hyukjae ingat dulu ia sering menghabiskan waktu dengan bibinya saat masih anak-anak.

"Tentu saja aku ingat, aku hanya terkejut bibi tambah cantik saja."

"Aish kau ini, bisa saja!"

Keduanya tertawa. Membuat rasa hangat yang akrab menjalar di hati Hyukjae. Meski sejenak Hyukjae merasa seperti kembali ke waktu sebelum ia koma. Bibinya masih sama, meski fisiknya berubah tapi senyumnya masih sama. Wanita itu melihat sekitar seperti mencari seseorang.

"Dimana suamimu?"

Hyukjae yakin jika ia sedang makan sekarang maka akan langsung mati tersedak. Tentu saja bibinya juga tahu ia sudah menikah, jadi bagaimana sekarang? Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.

"I-itu... dia a-akan menusul nanti. Iya benar, dia akan menyusul."

Raut wajah bibinya berubah khawatir.

"Kau kemari sendiri? Kau kan baru keluar rumah sakit, bagimana-"

"Tidak! Tidak bibi!"

Hyukjae dengan cepat memotong perkataan bibinya. Ia tidak mau bibinya menelphon Donghae atau keluarganya di Seoul. Ia menelan ludah sembari memikirkan alasan terbaik. Berfikir Hyukjae! Berfikir!

"Donghae mengantarku tadi, tapi dia harus bertemu rekan kerjanya di kota jadi... jadi ia akan kembali nanti."

"Rekan kerja? Musisi juga?"

"Sepertinya."

"Kalau begitu kenapa kau malah kemari? Ayo kerumah bibi. Harusnya kau mengabari bibi jika akan datang kemari. Apalagi... "

Bibinya terus bicara sembari menggiringnya keluar pekarangan rumah menuju rumah bibinya yang hanya berjarak dua rumah dari sana. Melihat bagaimana rumah bibinya yang dulu kecil kini jadi lebih besar.

Seharian itu Hyukjae hanya menghabiskannya di rumah sang bibi. Mengobrol dengan pamannya, terkejut mendapati sepupunya yang sudah dewasa, atau bahkan tersenyum senang karena kembali merasakan masakan bibinya.

Tepat saat sore hari Hyukjae bisa keluar dari rumah bibinya. Tentu tidak dengan tangan kosong. Bibinya memberinya kunci rumahnya. Kata sang bibi rumahnya disewa sebuah keluarga kecil selama ini. Namun beberapa bulan yang lalu keluarga itu memutuskan pindah dan membuat rumahnya kembali kosong.

Ceklek.

Hyukjae terdiam, tepat saat pintu utama rumahnya terbuka. Kakinya melangkah masuk kedalam rumah sunyi yang kosong tanpa perabotan. Lantai kayunya memantulkan cahaya sore yang terbias dari jendela.

Apa benar ini rumahnya?

Kenapa begitu sunyi dan kosong?

Sedetik kemudian akal sehat Hyukjae kembali. Mengehela nafas, ia merutuki pikirannya sendiri. Keluarganya ada di Seoul sekarang, apa yang Hyukjae harapkan?

Segera melepas sepatunya, Hyukjae terkejut saat merasakan betapa bersih rumahnya meski tak ada perabotan. Sepertinya bibinya membersihkannya secara rutin. Dengan perlahan Hyukjae berjalan menuju ruang tengah, melihat ruang yang begitu akrab diingatannya. Seharusnya ada televisi besar disana dengan sofa hangat yang muat untuk empat orang. Ia sering menghabiskan waktu disana, entah untuk bermalas-malasan atau bercengkramah dengan keluarganya.

Iris hitamnnya mengedar ke sudut dapur tak jauh darinya. Tempat teritorial ibunya. Hyukjae masih ingat ia sering mengambil cemilan dikulkas tengah malam diam-diam. Atau saat kakaknya mengaguskan panci kesayangan ibunya secara tak sengaja. Semuanya masih terasa sama.

Hyukjae mendongak, melihat anak tangga didepannya. Perlahan ia melangkah menaikinya satu persatu hingga sampai dilantai dua. Mendekati salah satu pintu kayu yang sangat ia hafal sebelum membukanya perlahan.

Ia kembali terdiam saat berada didalam ruangan itu. Ruangan yang setiap hari ia tempati. Kamarnya. Terlihat begitu akrab namun asing disaat bersamaan. Dengan cat dinding yang tak lagi berwarna biru laut seperti yang ia ingat. Dengan kehampaan dingin yang begitu asing untuknya.

Bahkan jika Hyukjae kembali ketempatnya berasal, tak ada yang bisa menutupi waktu yang telah lama terlewat. Menghapus segala yang Hyukjae kenal. Menghapus sepuluh tahun waktu yang harusnya menjadi miliknya.

.

.

.

"Uggh!"

Erangan itu terdengar saat Hyukjae merenggangkan ototnya yang kaku. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum tersenyum lebar menyemangati diri sendiri. Mencoba berfikir positif. Mencoba melupakan segala permasalahannya. Pagi yang cerah dan ia tak ingin merusaknya dengan hal sia-sia.

Dengan semangat ia bangun dan melipat kasur serta selimut. Merapikannya di pinggir ruangan sebelum berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Semalam ia tidur dirumahnya. Berbekal kasur dan selimut lipat dari bibinya, Hyukjae tidur sendirian diruang tengah yang kosong tanpa perabotan.

Hyukjae enggan tidur dikamarnya, entahlah rasanya sangat asing baginya.

"Jadi apa yang akan kulakukan hari ini?" Gumannya sembari mulai menyikat giginya.

Ia berfikir sembari melihat bayangannya dicermin wastafel. Kemarin saja ia begitu semangat datang ke Mokpo untuk kembali ketempat yang ia kenal. Namun sekarang saat melihat keadaan yang jauh dari harapan membuatnya kini kebingungan tak tahu harus bagaimana.

Haruskah ia kembali ke Seoul?

"Aniya!"Seru Hyukjae menjawab pertanyaannya sendiri begitu keras hingga busa dimulutnya terciprat kemana-mana.

Dengan cepat ia berkumur lalu mencuci wajahnya. Setelah berganti baju Hyukjae memeriksa sisa uangnya yang tinggal sedikit. Tapi hal ini tak menyurutkan semangat Hyukjae. Jadi setelah mengamankan hartanya yang tak seberapa, Hyukjae segera beranjak keluar rumah. Tak lupa mengunci pintu sebelum berjalan menuju jalan utama.

Hyukjae akan berkeliling. Menjelajah daerah tempat tinggalnya. Dengan langkah ringan dan senyum cerah Hyukjae mulai menyusuri jalan-jalan yang selalu ia lewati setiap hari. Menyapa beberapa orang disekitar tak peduli dengan kernyitan heran orang-orang yang merasa tak Hyukjae tak peduli.

Ia tak peduli asalkan bisa menikmati sepotong dunianya, sepotong hidupnya seperti sepuluh tahun silam.

Hyukjae bermain-main sebentar di taman kompleks, membeli roti bakar untuk sarapan sebagai teman minum obat, bahkan berjalan-jalan kepantai melihat turis yang berlibur disekitar. Terlihat kurang kerjaan tapi Hyukjae memang selalu melakukan hal ini. Untuk menghibur diri biasanya.

Menghibur diri saat tiba-tiba saja Donghae membatalkan kecan mereka secara mendadak.

"Aish, kenapa aku malah memikirkannya."

Hyukjae memukul-mukul kepalanya ringan. Memperingatkan diri untuk melupakan rasa perih saat kekecewaan merampas harapannya. Secuil kasih sayang yang ia harapakan namun tak pernah dikabulkan. Alasannya sederhana karena orang yang ia cintai tak mencitainnya. Ia saja yang memaksa keadaan.

"Oh."

Langkah Hyukjae terhenti tepat didepan pagar besar didepannya. Dibaliknnya terlihat lapangan hijau yang luas serta gedung berlantai lima yang berdiri kokoh. Bahkan meski ada berubahan disana-sini, Hyukjae masih bisa mengenali tempat itu dengan jelas.

Sekolahnya. Tempat ia menghabiskan masa SMA-nya.

Terlepas dari beberapa rombakan dan pelebaran gedung, segalanya masih terlihat sama. Bahkan saat Hyukjea memasuki gedung dan melihat lorong sekolah yang akrab membuatnya tersenyum. Sayup-sayup ia bisa mendengar sura guru yang sedang menjelaskan, sepertinya ini masih jam pelajaran.

Untuk sejenak Hyukjae mengintip salah satu kelas, memergoki salah satu murid yang duduk di bangku belakang tertidur sebelum penggaris guru menghantam kepalanya membuatnya terlonjak. Jelas hal itu mengundang tawa anak-anak lain. Hyukjae juga terkekeh, mengingat ia juga pernah mengalaminya.

"Chogiyo."

Giliran Hyukjae yang terlonjak kaget saat tangan besar tiba-tiba saja memegang salah satu pundaknnya. Ia segera berbalik hanya untuk melihat petugas keamanan sekolah yang menatap curiga padanya. Tentu saja hal itu wajar melihat tampilannya yang jelas-jelas menunjukan bukan salah satu warga sekolah.

Dengan cepat Hyukjae menunduk sopan pada petugas di depannya. Dia semakin gelisah saat tatapan tak bersahabat yang diarahkan padanya sama sekali tak mengedur. Menelan ludah, Hyukjae mencoba tersenyum ramah dan menyapa.

"Se-selamat siang paman. Aku tidak bermaksud masuk tampa izin aku hanya-AAHH tunggu paman, lepaskan aku!"

Terlambat Hyukjae sudah keburu diseret dilorong sekolah. Sembari meronta-ronta Hyukjae coba menjelaskan. Tapi sekeras apapun ia mencoba toh ia masih diseret juga. Bahkan beberapa siswa terheran-heran melihatnya. Perlu dicatat, Hyukjae berteriak cukup keras.

"Ada apa ini?!

Cengkraman di kerah baju Hyukjae terlepas seiring dengan petugas kemananya yang membukuk pada seorang laki-laki berbaju rapi disepannya. Salah satu guru mungkin, pikir Hyukjae.

"Maafkan saya, tapi penyusup ini masuk ke area sekolah tanpa izin."

"Aku kan sudah jelaskan bukan maksudku masuk tanpa izin."Seru Hyukjae membela diri.

Sekilas ia melihat guru didepannya, terlihat masih muda mungkin seumurannya. Hyukjae mengernyit saat Guru itu terlihat terkejut melihatnya. Tiba-tiba erjalan mendekatinya dan seenaknya memegangi wajahnya dengan pandangan tak percaya.

"Ya Tuhan, Hyukjae?!"

Heh? Orang ini mengenalnya?

"Ne?"

Hyukjae menjawab dengan ragu sembari memperhatikan kembali wajah guru ini. Semakin ia lihat terasa semakin akrab. Melihat tingkah laku Hyukjae yang linglung sepertinya orang ini memahaminya. Dengan ramah ia tersenyum sembari memegangi tangan Hyukjae.

"Ini aku Junsu. Bagaimana bisa kau tidak mengenali sahabatmu sendiri."

Seketika mata Hyukjae melotot tak percaya.

"Junsu? Kim Junsu?"

.

.

.

Suara tawa Junsu menggema di kantin sekolah yang masih sepi karena belum waktunya istirahat. Mereka duduk disalah meja saling bertukar cerita. Membuat Hyukjae tahu bahwa sahabatnya semasa SMA ini kini menjadi salah satu pengajar di SMA mereka ini. Sedikit mengejutkan karena yang Hyukjae ingat Junsu ingin jadi pengusaha sukses dulu.

"Ya! Berhenti tertawa!"

"Tapi kau sangat lucu, Hyuk. Diseret keluar disekolah sendiri, astaga perutku!"

Decakan Hyukjae terdengar sejurus dengan bibirnya yang semakin maju, ia sebal ditertawakan seperti itu. Mana ia ingat dengan petugas kemanan sekolah!

"Aigo, kau benar-benar tak berubah, Hyuk."

Junsu mengusap air mata disudut mantanya karena terlalu banyak tertawa sebelum memandang Hyukjae sembari tersenyum penuh arti. Hal itu tentu membuat Hyukjae tak nyaman.

"Wae? Kenapa melihatku seperti itu?"

"Senang rasanya bisa bicara denganmu seperti ini lagi. Dulu setiap aku datang mengunjungimu kerumah sakit, yang kau lakukan hanya tidur saja."

Perkatan itu membuat Hyukjae termenung. Tentu Hyukjae mengerti maksud Junsu. Tentang dirinya yang tertidur terlalu lama. Tentang dirinya yang koma hampir sepuluh tahun silam. Perlahan kepala kecil itu menunduk sedih saat mengingatnya. Mengingat bahwa keadaanya membawa kesedihan untuk banyak orang.

"Maafkan aku."

"Hei hei, kenapa kau minta maaf. Yang penting sekarang kau sudah bangun. Sehat dan tak kurang satu apapun. Justru aku yang harus minta maaf, aku tak bisa segera mengunjungimu setelah mendengarmu bangun. Istriku sedang hamil tua dan aku tak bisa meninggalkannya sendirian."Sontak saja Hyukjae mendongak mendengarnya.

"Heh?! Kau sudah menikah?!"

"Ya, dua tahun lalu."

"Bagaimana bisa?!"

"Kenapa responmu seperti itu? Kau bahkan menikah duluan, Hyuk!"

Tiba-tiba saja Junsu memajukan tubuhnya mendekati Hyukjae.

"Bagaimana Lee Donghae pujaanmu itu? Apa dia perkasa?"Junsu tersenyum genit sembari menaik-turunkan alisnya.

Sontak saja Hyukjae mendorong wajah mesum sahabatnya itu. Perkasa? Aigo dari mana sahabatnya belajar kosa kata itu? Seingatnya Junsu adalah laki-laki paling polos yang pernah ia kenal. Waktu sepuluh tahun memang tak bisa diremehkan.

"Ngomong-ngomong kau datang sendirian? Dimana Donghae?"

Aish, kenapa harus pertanyaan itu lagi? Dengan tenang Hyukjae tentu saja menjawabnya dengan kebohongan.

"Dia sedang ada pekerjaan dikota, jadi dia tak bisa ikut berkunjung kemari."

Kebohongannya kembali sukses saat Junsu mengaguk mengerti sebelum kembali tersenyum padanya penuh arti. Ada apa dengan sahabatnya ini? Dari tadi tersenyum-senyum setiap melihatnya.

"Donghae benar-benar menjagamu dengan baik. Tak heran dulu kau tak pernah menyerah mengejarnya, Hyuk. Senang rasanya melihat kalian bahagia sekarang."

Bahagia?

Dia dan Donghae?

Iris hitam itu turun melihat meja didepannya. Ya Junsu benar, ia tak pernah menyerah mendapatkan hati Donghae sejak mereka di bangku sekolah. Mengejar laki-laki itu tak peduli apa. Tak peduli jika hati itu tengah dimiliki orang lain. Tak peduli bahwa sekeras apapun Hyukjae mencoba pada akhirnya Donghae tak pernah menjadi miliknya.

Tak peduli status kekasih yang ia sandang.

Tak peduli ikatan yang sekuat tenaga ia jaga.

Ia bahkan mencoba menulikan telingannya, membutakan matanya akan Donghae yang tak memiliki perasaan apapun padanya. Meski dilubuk hatinya yang paling dalam ia tahu Donghae menerima hatinya karena belas kasihan. Menerimanya sebagai pelarian. Tapi Hyukjae tak peduli saat itu.

Ia tak pernah ingin menyerah.

Setidaknnya hingga malam itu. Malan dimana Donghae memutus ikatan yang sudah payah Hyukjae jaga. Ikatan yang setengah mati Hyukjae pertahankan. Donghae yang pada akhirnya memunggunginya sebelum melangkah meninggalkannya. Meninggalkan hatinya yang rapuh.

Meninggalkan hatinya yang rusak.

"... hyuk, Hyukjae!"

Hyukjae terlonjak dan dengan bingung melihat sahabatnya. Sepertinya ia melamun tanpa sadar.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja."Hyukjae mencoba tersenyum

"Junsu-ah?"

"Ya?"

"Aku bisa minta tolong padamu?"

.

.

.

"Astaga kupikir kau ingin minta tolong apa."

Pintu geser itu terbuka tepat setelah Junsu membuka kuncinya. Hyukjae dengan cepat melangkah masuk. Kepalanya mendongak dan iris hitamnnya melihat sekitar dengan kekaguman luar biasa. Pada lantai kayu yang mengkilap, pada dinding kaca yang mematulkan bayangannya, dan pada suasana yang terasa begitu akrab.

"Studio ini tak pernah berubah! Masih sama!"

Junsu hanya tersenyum melihat sahabatnya yang seperti akan melonjak-lonjak saking girangnnya.

"Bulan ini akan direnofasi sebenarnya, tapi ditunda karena terbentur dengan jadwal perlombaan nasional. Kami tidak mungkin menyuruh anak-anak tari latihan ditempat lain untuk mempersiapkan kejuaraan."

"Kejuaran nasional? Kalian akan ikut kejuaran itu lagi?"

"Tentu saja!Kau bukan satu-satunya yang menyumbangkan piala Hyuk. Sekolah kita menjadi juara hampir lima tahun terakhir ini secara berturut-turut."

"Jinja?!"

"Untuk apa aku berbohong."

Hyukjae tak pernah berhenti terkagum-kagum. Tari adalah hobinya sejak kecil sehingga apapun yang berhubungan dengan itu akan membuat Hyukjae begitu tertarik. Dulu saat SMA ia adalah yang terbaik ditingkatnya. Hal yang selalu membuatnya semangat pergi kesekolah selain Donghae adalah studio tari ini. Dimana Hyukjae bisa dengan begitu bebas mengekspresikan diri.

Suara bel yang menggema membuat Junsu langsung beranjak karena ia harus mengajar di jam berikutnya. Meninggalkan Hyukjae yang kini berbaring dilantai kayu ditengah studio sendirian.

Rasanya menyenangkan. Selalu menyenangkan setiap Hyukjae datang ketempat ini. Dulu jika Hyukjae sedang dalam suasana hati yang buruk ia selalu datang ke tempat ini. Satu-satunya yang bisa menghiburnya dan juga membangun kembali semangatnya.

Tiba-tiba saja Hyukjae bangun terduduk saat teringat sesuatu. Dengan cepat ia beranjak sebelum melangkah mendekati salah satu ruangan disana. Hyukjae membuka pintunya, melihat jajaran loker diruang ganti khusus tari yang masih sama seperti yang ia ingat.

Perlahan ia mendekati jejeran loker-loker menuju yang ada di paling ujung ruangan. Hyukjae tersenyum saat sudah tepat didepannya. Lokernya dulu, tempat ia menyimpan hampir seluruh barang yang berarti untuknya. Entah siapa yang kini memakainya.

Jemari pucat itu menyusuri pintu loker kayu yang sudah usang kerena dibiarkan bertahun tahun. Ada beberapa coretan yang tak ia kenal hingga telunjuknya merasakan ukiran di ujung paling bawah.

Ukiran sederhana yang begitu Hyukjae kenal karena memang ia yang dulu membuatnya. Ukiran yang membentuk beberapa huruf sederhana namun terbaca dengan jelas.

Penari profesional Lee Hyukjae.

Sebuah janji yang ia buat dengan dirinya sendiri saat mengukirnya disini. Sebuah janji dimana ia akan meraih apa yang selalu ia impikan dan cita-citakan. Impian yang menjadi dasar kerja keras serta usahanya. Dan saat ini, sepuluh tahun kemudian masih tertulis jelas disana.

Hyukjae tersadar saat merasakan pipinya basah. Dengan cepat ia mengusapnnya, kebingungan saat air itu berasal dari matanya yang kini memerah.

"Aigo, aku ini kenapa? Kenapa malah menangis?"Gumannya masih mencoba menghapus air matanya meski percumah.

Perlahan tangannya melemas dan membiarkan air matanya mengalir. Isaknnya terdengar saat tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Tak bisa lagi mempertahankan tembok terakhir yang coba ia jaga. Potongan terakhir yang tersisa untuknya namun justru menyadarkannya bahwa sepuluh tahun telah terlewat.

Membuat impiannya telah lama terhapus.

Membuat cita-citanya tak akan pernah bisa ia genggam.

Masa depannya.

Sepuluh tahun yang terbuang sia-sia. Sepuluh tahun yang diambil darinya.

.

.

.

Langit senja membentang sejauh cakrawala. Membuat gradasi warna yang cantik saat siang akan berganti malam. Hyukjae melangkah pelan. Berbeda saat berangkat tadi pagi kali ini wajahnya terlihat murung. Ia bahkan tak berpamitan pada Junsu dan langsung pergi begitu saja.

Iris hitamnnya terlihat nyalang menatap jalanan sepi didepannya. Tubuhnya tak merespon angin dingin yang berhembus karena hampir menjelang malam. Tubuhnya memang disini namun pikiran Hyukjae terbang jauh entah kemana.

Kesadarannya kembali saat iris hitamnnya melihat Audi putih yang begitu ia kenal terparkir didepan rumahnnya. Dan sebelum nama pemiliknya muncul dipirannya, iris hitamnya melihat Donghae keluar dari dalam rumah dengan langkah cepat.

Laki-laki itu terkejut saat melihatnya sebelum raut wajahnya berubah serius. Dengan langkah cepat segera menghampirinya. Hyukjae dapat menangkap kemarahan di iris cokelat itu. Bagaimana Donghae bisa menemukannya disini?

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Hyuk! Pergi dari rumah tanpa memberitahu siapa pun! Apa kau tahu seberapa khawatirnya kami semua?!"

Tentu saja semua kata-kata itu Donghae ucapkan dengan emosi yang ia tahan sejak kemarin. Masih segar diingatannya saat tiba-tiba saja ibu mertuanya menelponnya dan mengatakan tak menemukan Hyukjae dimana pun. Semua orang kebingunan. Semua orang khawatir luar biasa.

Donghae membatalkan seluruh janjinya dan langsung pulang kerumah. Mencoba menghubungi siapapun yang ia tahu sebelum berkeliling kota mencari istrinya seharian. Seluruh skenario terburuk menghantuinya. Ia tak ingin terjadi hal yang buruk pada Hyukjae.

Tidak lagi.

Donghae hampir saja melaporkannya ke polisi, tepat sebelum bibi Hyukjae mengabari bahwa Hyukjae ada di Mokpo siang tadi. Membuat Donghae tanpa pikir panjang langsung menyusulnya. Dan disinilah dia sekarang, menemukan Hyukjae tepat didepan rumah istrinya dulu.

"Kau tidak bisa pergi dari rumah begitu saja. Tidak seharusnya kau datang kemari sendirian. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, Hyuk. Kau tidak seharusnya lari dari pengawasan."

"Lalu aku harus bagimana? Diam dirumah dan menuruti semua kata-katamu, begitu maksudmu?"

"Bukan itu maksudku, aku hanya-"

"Kau tidak merasakannya Donghae."Potong Hyukjae cepat.

"Kau bukanlah orang yang bangun setelah koma hampir sepuluh tahun. Kau bukan orang yang tak tahu apapun disekitarmu. Kau juga bukan orang yang bahkan tak mengenali bayanganmu sendiri saat melihat cermin. Kau tak mengerti! Kau tak merasakannya!"

Air mata itu mengalir saat Hyukjae tak bisa lagi menahan sesak didadanya. Rasa sesak yang menghimpitnya sejak ia terbangun dari koma. Rasa sesak sejak ia membuka matanya dan menemukan dunia asing didepannya.

"Aku hanya ingin kembali melihat apa yang memang kukenali. Aku hanya ingin... meski sebentar, kembali kewaktu dimana seharusnya aku berada."

Hyukjae tak ingin mempercayai bahwa sepuluh tahun telah terlewat.

Hyukjae tak bisa menerimanya.

Semua orang berjalan didepannya sedangkan ia jauh tertinggal dibelakang. Meninggalkannya tanpa mau menengok kearahnya.

Tangan pucat itu menangkup wajah kecilnya saat tangisannya semakin menjadi. Tangis karena rasa kecewanya. Tangis karena merasa ditinggalkan. Dan tangis karena kesepian. Tak ada satupun yang mengerti apa yang ia rasakan sekarang.

Tak satupun.

Ditengah luapan emosinya yang tak terbendung, perlahan rasa hangat mengelilingi tubuhnya. Merekuhnya erat menciptakan rasa hangat tanpa sadar. Bahkan tangan besar itu mengusap rambut dan punggungnya lembut. Menenangkannya.

"Sstt... tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja."

Bahkan suara Donghae terdengar begitu lembut ditelingan Hyukjae. Hilang sudah nada tegas penuh emosi yang sempat ia lontarkan tadi pada Hyukjae. Kali ini hanya ada kelembutan, membuat rasa aman itu tiba-tiba muncul ditengah keduanya. Donghae yang memeluknya erat. Donghae yang menenangkannya.

"Ada aku disini. Ada aku disisimu."

.

.

.

Diam.

Hyukjae hanya diam sepanjang sisa hari itu. Ia sangat capek, capek hati dan pikiran. Ia bahkan enggan menjawab apapun yang Donghae lontarkan kepadanya. Tapi Donghae tidak marah ataupun menuntut jawaban, laki-laki itu hanya membiarkannya.

Iris hitam itu melihat punggung kuat laki-laki yang menjadi suaminya. Melihat Donghae yang sibuk memindahkan makanan pesan antar ke piring dan mangkuk sembari berbicara serius ditelepon entah dengan siapa, Hyukjae tak peduli. Hyukjae hanya diam duduk dilantai ruang tengah rumahnya yang kosong tanpa perabotan. Hanya ada kasur dan selimut lipat disudut ruangan.

Lihat lelaki itu, sekilas terlihat dingin dan sulit didekati. Entah apa yang merasuki Hyukjae hingga bisa jatuh cinta padanya. Bisa begitu tergila-gila hingga melupakan akal sehat. Bahkan sampai sekarang Hyukjae tak tahu apa yang begitu menarik dari seorang Lee Donghae hingga ia rela hatinya dilukai berkali-kali. Rela menahan sakit hati karena kekecewaan yang selalu menanti.

Pikiran Hyukjae teralih saat semangkuk bubur tersaji dihadapannya. Bubur abalon dengan daging yang disuir lembut diatasnya.

"Makan dan minum obatmu setelahnya."Ucap Donghae sembari menyodorkan sendok di hadapannya. Entah kapan laki-laki ini sudah selesai menelpon.

Tak mendapatkan respon, Donghae kembali membujuk.

"Hyuk, kau harus makan."

Mata sendu itu, tatapan yang selalu membuat Hyukjae lumpuh tak berdaya. Seakan menjeratnya, membuatnya bertekuk lutut tak bisa melawan. Donghae yang menguasahi hatinya. Donghae yang memiliki hatinya namun tidak sebaliknya.

Menyedihkan.

Perlahan tangan pucat itu meraih sendok dari tangan Donghae. Laki-laki itu segera menyiapkan obat saat melihat Hyukjae mulai melahap buburnya. Ia bahkan membersihkan piring dan menyiapkan kasur untuk Hyukjae beristirahat setelahnya.

Waktu berikutnya Hyukjae sudah terbaring di kasur lipat dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Samar-samar ia bisa mendengar gemericik air dari kamar mandi tempat Donghae sedang membersihkan diri. Iris hitamnnya menatap langit-langit dengan pikiran kosong.

Hyukjae tak tahu apa yang ia pikirkan.

Tak tahu apa yang harus dilakukan.

Suara keran yang dimatikan dan pintu yang terbuka membuat Hyukjae secara reflek memiringkan tubuhnya menghadap tembok. Berpura-pura tidur saat langkah kaki Donghae terdengar semakin mendekat.

Hening sejenak sebelum Hyukjae merasakan tubuh hangat ikut berbaring disebelahnya. Berbagi selimut dengannya. Ia bahkan menahan nafasnya sejenak saat tangan Donghae merengkuh tubuhnya. Merasakan deru nafas Donghae di tengkuknya.

"Maafkan aku."

Mata Hyukjae terbuka saat bisikan itu terdengar.

Maaf? Kenapa Donghae meminta maaf?

Namun segala pemikiran Hyukjae terpotong saat sepasang bibir hangat menyapa kulit tengkuknya yang dingin. Membuat Hyukjae mematung.

Hyukjae tak mengerti dengan semua ini.

Perlahan tubuh kurus itu bergerak, berbalik membuat kini ia berhadapan dengan suaminya. Donghae tak terlihat terkejut, seakan ia tahu bahwa Hyukjae memang tak terlelap sejak tadi. Iris hitam itu menatap lurus pada iris cokelat yang begitu sendu dan memikat didepannya.

"Kenapa kau melakukan semua ini Donghae?"Pertanyaan itu terucap dikeheningan malam.

Pertanyaan dari Hyukjae yang kebingungan. Yang tak punya arah dan tak mengenali sekitarnya.

"Kenapa?"

.

.

.

TBC

Gimana? bingung? coba dibaca lagi hehehe

Hyukjae sama sekali enggak amnesia loh, dia murni memang baru bangun dari koma setelah 10 taon.

Wah gak nyangka cerita ini dapat sambutan baik, terima kasih untuk semuannya. next last chap ya, dan akan kejawab semua pertanyaan kalian.

Special thanks: tulangrusukjeno, Aura57, eunhaejunior55, jewel0404, Nadia, sareyerana, eunja, nadifarhhs, Aaa, donghyukbeby, isroie106, kartikawaii, Guest, LS-snowie, lovehyukkie19, Gues, Lusianti, KimziefaELF, KyungXe, Guest, HanRyeong, Shflynie, maria8, zephyrric, D HHS, meenserra, Arum Junnie, Jiae-haehyuk, elf forever, Nhac3ss