"Kenapa kau bisa sampai disini, Taehyung? Bukankah Mesir berada amat jauh dari Kyoto?"

Gazebo di tepi kediaman keluarga Eikichi menjadi tujuan Haruki dan Sang Pharaoh setelah sedikit berkeliling daerah ini. Musim semi hampir habis, udara siang itu membuai mereka yang duduk berdampingan berdua.

"Aku ada urusan di Edo, Jimin. Untuk memberitahu Kaisar Meiji bahwa negara kami terbuka bagi mereka yang ingin menuntut ilmu. Selain itu, tujuan kami berlayar tiga tahun lalu sebenarnya adalah, ada satu dua hal yang aku urus di usia 17 tahun pada Dinasti Joseon."

Haruki melirik pemuda disebelah yang memandang pucuk dedaunan hijau. Netra cokelat terang Sang Pharaoh begitu bening, namun bisa Haruki rasa ada sesuatu yang hilang dari sana. "Kau tak apa, Tae?"

"Ya, Jimin." telapak tangannya diraih, Pharaoh mengangkat satu sejajar muka lalu diberi kecupan. "Hanya sedang memikirkan hak dan kewajiban yang aku emban sebagai salah satu keturunan Dinasti, meski aku tidak berdiam di Joseon lagi."

"Maksudmu?" Haruki balas menggamit tangan, kini ganti ia yang mengusapi.

"Aku hanya abdi negara, Jim, bahkan tahta ayahku tidak akan diturunkan kepadaku yang berdarah campuran ini. Sedang negara asal ibuku juga mewanti supaya aku tidak menuntut harta dan kuasa dari sana." Sang Pharaoh berdecak, Haruki tak habis pikir jalan hidup seperti apa yang Pharaoh miliki.

Selama ini dia selalu merasa sial atas nasibnya, tapi mendengar kisah Pharaoh membuat Haruki sadar kalau diatas langit, masih ada langit lagi. Yang dia alami tak sepelik apa yang Pharaoh hadapi. "Jadi, kau akan segera kembali ke Mesir lagi?" Haruki merasa sedikit iri. Yang membedakan dia dengan Sang Pharaoh adalah, Haruki akan terus terjebak dalam keluarga Eikichi. Mungkin sampai tua nanti dia akan terus mementaskan kabuki.

Satu sudut bibir Pharaoh naik, senyum timpang yang terbit itu membuat Haruki mengerutkan alis. "Tidak. Mungkin? Entahlah, Jim, aku masih harus mendatangi negara lain untuk menyebarluaskan kabar yang sama." punggung tangan Haruki dibubuhi kecupan sekali lagi. "Kalasiris dan klaft yang aku kenakan kemarin hanya simbolisme, sebagai salah satu contoh kebudayaan kami. Bukankah semalam, kau juga menunjukkan seni negara ini padaku?"

Pipi Haruki memanas sehabis Pharaoh beri kecupan disana. Ia bisu karena Pharaoh menyematkan tangan di sela jemarinya. "Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu, Jimin, satu bintang bersinar yang ternyata separuh Joseon juga sama sepertiku.

"Oleh karena itu, bersediakah kau jadi milikku, Jimin? Untuk berkelana ke negara-negara lain bersamaku, aku jamin kehidupanmu dengan darahku sendiri."

Haruki menutup semu dan sedikit tawa dengan sebelah tangan. "Jangan konyol, Kim Taehyung. Mungkin kita memiliki setengah darah dari keluarga yang sama."

"Tidak, Park Jimin, keluarga ibumu penasehat kerajaan, turun-temurun di Joseon sana. Satu-satunya hal konyol dalam hidupku adalah saat ayahku meminang seorang Puteri Joseon hanya karena saran dari peramal kerajaan kami."

Haruki balas menggenggam tangan Sang Pharaoh, hangatnya tautan mereka terasa sampai ke hati. "Jika ayahmu tidak melakukan hal yang kau bilang konyol itu, kita tidak akan bisa bertemu, Tae." kekehan tawa bariton Pharaoh lembut disapu udara.

"Benar juga." Haruki tak lepas menatap Pharaoh yang terus mengangguk kecil dengan senyum tipis.

"Omong-omong, terimakasih, kau bisa menebus aku dari keluarga ini." ucapannya membuat Pharaoh seketika berhenti, ganti menatap Haruki dengan manik membola kaget. "Aku bersedia, Kim Taehyung."

Pandangan Haruki menggelap karena Pharaoh mendekat, dahinya terasa hangat. "Tidak, Park Jimin," kecupan ia terima disana sekali lagi. "aku yang berterimakasih." Haruki tergelak saat Pharaoh menarik tangannya sambil tergesa kembali ke kediaman Eikichi.

"Tahun ini, Tiga Meiji, akan jadi tahun terbaik dalam hidupku, Taehyung. Jadi terimakasih."

-oOo-


Terimakasih sudah membaca ini.

FF ini memuat konten canon yang di modifikasi.

Tahun 3 Meiji (1870 M), Dinasti Joseon masih berdiri di Korea.

Sedang di Jepang sendiri, Masa Meiji (1867-1912M) adalah pembaharuan besar setelah keshogunan berakhir. Pemerintah melakukan banyak perubahan, termasuk di bidang pendidikan dan seni kebudayaan.

Ibukota kekaisaran dipindahkan dari Kyoto ke Edo (yang kemudian berganti nama jadi Tokyo) pada awal masa ini.

Jadi, Pharaoh Kim Taehyung memang sengaja datang ke Kyoto, karena dulunya pemerintahan dan kegiatan Jepang berpusat di daerah ini.

Semoga penjelasan singkat ini bisa sedikit membantu rasa penasaran kamu