Kerajaan Whirlnds

Kalian tahu Kerajaan Whirlnds ? Itu adalah kerajaan yang didiami bangsa Polyp. Bangsa yang telah ada jauh sebelum manusia diturunkan ke muka bumi. Mereka bukanlah golongan malaikat, bukan pula Iblis jahat. Mereka hanyalah salah satu dari sekian banyak ragam makhluk ciptaan Tuhan yang berdiam pada tempat atas perintah Maha Kuasa. Dibekali kemampuan, kecerdikan, keramahan dan makhluk penuh kasih sayang.

Kehidupan bangsa Polyp tak ada bedanya dengan manusia biasa. Namun mereka memiliki sayap layaknya burung, dianugerahi kecantikan dan ketampanan yang tiada tara dibandingkan makhluk Tuhan yang lain, memiliki kekuatan elemen udara dan dapat berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Selain itu mereka juga memiliki kepandaian melebihi bangsa Tuhan lainnya. Sehingga negeri mereka berkembang pesat yang bahkan hampir tidak mungkin bagi bangsa lain untuk menyamainya.

Tanaman hijau terawat dengan baik, hewan – hewan ternak gemuk dan dikarenakan oleh rasa perduli tinggi atas sesama demi menjaga tanah kelahiran mereka, negeri ini di cap sebagai negeri terindah sepanjang masa.

Menarik bukan ?

Raja Kyuhyun, dikenal akan ketampanan dan penuh wibawa. Memerintah negeri dengan Ratu Sungmin disampingnya. Memiliki anak tunggal bernama Sehun, Pangeran Muda yang ketampanannya tersohor kesegala pelosok negeri.

Aura kebangsawanan dan kepemimpinannya begitu kental. Sehun ditempa dalam segala hal agar menjadi penerus Raja Kyuhyun kelak. Itulah mengapa Sehun sangat digilai banyak kalangan anak – anak perempuan karena ia memiliki kelebihan dari segala sisi. Tampan, cantik, lucu dan sempurna disaat bersamaan. Meski sisi kewibawaannya lebih mendominasi. Hanya saja Sehun sedikit dingin kepada orang lain yang bisa dibilang belum ia kenal baik.

Sehun sangat dekat dengan Jongin, sepupunya. Ayahnya bernama Siwon dan ibunya, Kibum juga sangat dekat dengan keluarga raja. Siwon, ayah Jong In merupakan penasehat istana. Sedangkan Sungmin tak jarang bercengkerama bersama Kibum di areal taman tak jauh dari istana sembari minum teh.

Yah, kehidupan yang damai. Namun setiap ada putih tentu ada hitam.

Bangsa negeri seberang selalu iri dengan segala pencapaian yang diraih oleh negeri Whirlnds. Mereka tak jauh berbeda dengan negeri yang ditinggali oleh Luhan, namun tingkat perkembangannya tidak sepesat Negeri Whirlnds. Sempat terdengar kabar bahwa Bangsa Yith berniat mengibarkan perang besar demi menguasai kekayaan alam atau seluruh isi Negeri Whirlnds itu. Namun segala bentuk pertemuan persahabatan selalu mereka coba lakukan meski berakhir gagal.

Hingga pada puncaknya, bangsa Yith menyerang negeri Whirlnds hingga tidak bersisa apapun.

.:0o0:.

Masa sekarang.

Musim gugur telah tiba. Daun – daun pohon Maple berguguran dan mendarat diatas tanah . Dari jendela kamar miliknya, Luhan memandang jemu dedaunan itu berguguran. Mengibaratkan dirinya seperti guguran daun Maple. Dingin, sunyi sekaligus gelap. Kehangatan yang dulu ada dihatinya kini tengah terperangkap antara hidup dan mati. Tanpa sadar Luhan melantunkan nada dalam puisinya. Mengenang masa dimana kesempurnaan menghampiri setiap waktunya hidup.

"Aku merindukanmu.." Luhan mengakhiri puisi-nya. Ia berbisik pada hembusan angin seolah ingin dunia luas tahu bahwa ia merindukan sosok penghangat jiwanya.

Senyum Luhan tersungging. Sepasang merpati tampak bertengger manis pada dahan pohon lebar. Salah satunya nampak memejamkan mata, sedangkan satunya lagi tengah menumpukan kepalanya diatas pucuk kepala pasangannya. Sesekali merpati yang terjaga mengedarkan pandangan ke segala penjuru lalu kembali mengusap paruhnya pada sisi wajah si betina.

"Wahai merpati jantan, kau membuatku iri."

Tanpa diduga, merpati jantan itu terbang menghampiri Luhan dan bertengger pada pinggir jendela. Kepalanya bergerak – gerak sembari mengeluarkan geramannya.

"Kenapa engkau iri padaku, wahai lelaki jelita?"

"Karena pasanganku tengah istirahat panjang yang entah kapan akan terbangun kembali," ujar Luhan dengan mimic sedih.

Lagi merpati itu menggerakkan kepalanya dan mematuk pelan jemari halus Luhan. Lelaki jelita itu memekik sedikit.

"Apa yang kau lakukan wahai merpati?"

"Untuk mengingatkanmu. Tuhan benar adanya dan percayalah. Suatu saat dirinya akan terbangun untukmu, Jelita."

Luhan memandang haru pada merpati bersayap seputih kapas itu. "Bisakah aku mempercayai saranmu, merpati baik hati?"

"Percaya pada hatimu. Bukan perkataanku."

Merpati itu lalu terbang kembali pada tempatnya semula bertengger. Si merpati betina masih lelap dan merpati jantan itu dengan setia menemani.

Luhan termangu beberapa saat sebelum kembali tersenyum. Entah apa hal merasukinya hingga bersemangat lagi. Ia menutup jendela kamar perlahan. Dan mengunci cepat. Satu hal yang memenuhi pikirannya saat ini adalah bertemu dengan pasangannya.

Langkah tenang Luhan nyaris tidak menggema. Luhan memasuki salah satu ruangan yang ada di mansion luas tempatnya tinggal.

Cklek

Seketika pemandangan lemari – lemari besar nan gagah berisi buku tebal menyapa penglihatannya. Luhan langsung mengunci kembali pintu besar itu takut – takut seseorang yang tidak diinginkan menguntit. Ia mendekati salah satu lemari besar disudut kanan yang tidak terlalu mencolok dibanding lemari lainnya. Telapak halus Luhan meraba permukaan dinding mencari 'sesuatu'. Tak berapa lama kemudian indera perabanya menemukan ukiran timbul yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Luhan menekannya tanpa ragu.

Srekk srekk

Luhan bergegas masuk. Sebuah ruang paling akhir dan satu – satunya dalam lorong itu. Luhan memperhatikan sekitarnya baru beralih memandang sebuah peti ukiran kayu kuno ditengah ruangan. Peti yang berisi tubuh kaku milik sang suami.

"Sayang, aku datang.."

Luhan mencium dahi tubuh kaku didalam peti. Menyingkirkan anak rambut yang sedikit memanjang. Dan menatap penuh wajah tampan itu.

"Sehun~ kapan kau bangun? Ahh.. apa kau mau aku buatkan sesuatu agar kau bangun hem?" monolog Luhan. Senyum masih terkembang dibibir ranum Luhan. Tapi tidak dengan mutiara bening bak air murni itu, memancarkan isi hati sebenarnya yang begitu rapuh.

Tes Tes Tes

Binar sendu itu berkaca – kaca. Sekali kedipan, kaca – kaca bening itu terpecah membentuk butiran kristal air. Tapi senyumnya tak pudar. Jemari halusnya senantiasa mengelus setiap jengkal wajah lelaki mempesona dalam peti.

" Aku sangat meridukanmu.. Hiks .. hiks .. Kumohon, bangunlah Sehun – ah ~"

Flashback On

" Sehun – ah ~" Luhan berlari kecil memanggil Sehun. Ia tak perduli prajurit penjaga disana terganggu dengan teriakannya.

Sehun menoleh. Dari kejauhan nampak lelaki jelitanya berlari dengan sepasang kaki mungil dan melambai padanya. Pasangannya ini tahu saja dirinya menyukai hal – hal berbau kekanakan. Tanpa segan Sehun merentangkan tangannya bersiap menangkap Luhan.

Hup!

Greep

Luhan meloncat (?) kedalam dekapan Sehun. Menikmati kehangatan yang ia nantikan sepanjang kepergian Sehun. " Hun~ Kali ini kau terlalu lama. Hi..hi..hi.." Luhan tertawa amat girang. Sehun berjanji akan pulang dari negeri tetangga kurang dari dua belas matahari terbit. Tapi nyatanya Sehun melewati matahari terbit lebih dari itu.

"Ya banyak yang harus kulakukan disana. Jadi apa yang harus kulakukan sebagai permintaan maaf?"

" Aku ingin ke Danau Heazert. Besok waktunya bunga – bunga Heazert mekar. Pasti indah sekali dan aku sungguh tidak sabar!"

Sehun tak sanggup untuk tidak terkekeh kecil melihat tingkah Luhan. Tanpa melepas dekapan ditubuh ramping Luhan, ia bergumam ditelinga Luhan.

"Apapun untukmu."

"Yeayy.. Terima kasih Sehun," Luhan tersenyum ceria. Ia memundurkan sedikit tubuhnya lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Sehun perlahan.

Chuu~

Sehun menangkap (?) bibir mungil Luhan dengan bibir miliknya. Melumat penuh kelembutan seolah bibir itu rapuh dan bisa saja terluka jika disentuh dengan kasar. Sehun menyesap, menggigit, dan mengulum bibir Luhan. Betapa Sehun begitu amat merindukan sosok jelita ini.

"Ngghh.."

Mendengar lenguhan pelan Luhan membuat Sehun bersemangat memagut bibir manis itu. Menghisap manisnya layak madu alami. Tanpa sadar paras molek Luhan memerah kehabisan nafas. Sehun baru melepas pagutannya saat kepalan mungil Luhan memukul kecil dada bidangnya. Menyisakan benang saliva tipis diantara bibir mereka.

"Aku sangat merindukanmu Lu," suara serak Sehun menggetarkan jantung Luhan. Wajah Luhan kembali memerah sempurna akibat ulah suaminya. "Ayo kuantar ke kamarmu.."

'Apa – apaan itu?' Luhan menggerutu sesudahnya. Sehun terlalu datar mengatakan itu. Terkadang Luhan heran kenapa ia bisa menaruh hati pada sosok Sehun yang seperti itu. Tapi toh ujung – ujungnya Luhan tidak perduli. Ia tersenyum senang dengan pelukan intim lengan kekar itu dipinggang rampingnya.

Flashback Off

Sekelebat bayangan masa lalu itu seolah membunuhnya. Luhan mulai terisak sampai bahunya berguncang hebat.

"Sayang, aku berjanji kita akan bersatu lagi. Maaf, aku tidak menurutimu. Aku pergi dulu, sayang. Chuup~" kecupan hangat Luhan beri. Sebentar Luhan menyempatkan diri untuk membenahi pakaian kebesaran yang masih melekat di tubuh Sehun. Barulah setelahnya beranjak pergi dari ruangan itu.

.:0o0:.

"Xiumin."

"Ya Yang Mulia~"

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Saat ini aku tidak ada bedanya dengan dirimu, sahabatku," ujar Luhan sambil tersenyum manis. Saat ini Xiumin tengah menemani Luhan ke Danau Heazert tak jauh dari tempat persembunyian mereka. "Bantu aku memetik bunga Heazert ini ya," pinta Luhan.

"Tentu saja, Lu."

Xiumin adalah satu – satunya teman Luhan. Dan Luhan bergantung banyak pada lelaki berpipi gemuk ini demi mencapai tujuannya.

Xiumin hanya mengangguk sembari tersenyum manis kepada Luhan. Menggunakan gunting, mereka memetik beberapa tangkai bunga Heazert. Bunga indah khas negeri mereka, Whirlnds. Setelah merasa cukup, Xiu menyerahkannya kepada Luhan. Tidak pernah berubah. Luhan masih dan akan tetap menyukai bunga Heazert. Bunga yang juga mempertemukan Luhan dengan Sehun.

Flashback On

"Nananana.." Luhan bersenandung kecil sambil memetik bunga yang ia temukan disekitar danau tengah hutan.

"Bunga yang indah, huummhh.." Luhan menyesap harum bunga itu. Cahaya matahari sore membias di wajah cantik Luhan. Seolah kecantikannya turut semakin bercahaya bersamaan sinar matahari. Luhan tak menyadari sepasang mata elang memandangnya tak berkedip dari balik pohon.

"Indah.." gumam sosok pemilik mata itu bergumam. Sudut bibirnya menyeringai melihat pemandangan tersebut. Perlahan ia mengendap keluar dari persembunyiannya hendak menghampiri sosok yang menarik mata.

Sreekk Sreekk

Langkah kaki teramat pelan itu tidak sampai membuat Luhan tersadar. Luhan masih asyik menyesapi bunga ditangannya sambil memejamkan mata. Sehun merunduk dekat pinggir danau dan memetik bunga yang ada terdekat. Ia lalu menghampiri Luhan sembari memutar tangkai pada bunga ditangannya. Bunga itu perlahan ia sisipkan ditelinga kiri Luhan. Luhan sontak membuka mata dan terkejut menemukan seseorang berdiri tepat dihadapannya.

Sosok itu amat gagah dalam balutan baju berburu. Tanpa bisa dicegah aliran darah Luhan mengumpul disekitar pipi.

Sehun memandang takjub wajah Luhan.

'Manis,' pikirnya. Mata bening itu mengerjap bingung, bentuk bibirnya mungil ranum berwarna pink lembut dan pipinya yang sedikit gemuk. Demi para dewa, Sehun tak pernah tahu ada makhluk seindah ini.

"S-siapa kau?" Luhan tergagap dengan mata mengerjap lucu memandang sosok namja didepannya. Luhan mundur beberapa langkah kebelakang saat lelaki itu mendekatinya juga. Tapi Luhan memuji habis – habisan sosok didepannya dalam hati.

'Tampan,' batin Luhan masih dengan pipi merona.

"Jangan takut." Sehun merasa sosok jelita dihadapnnya sedikit ketakutan. "Apa yang kau lakukan ditengah hutan begini?" tanya Sehun tanpa melepas pandangannya dari Luhan.

"Ah ini.. Luhan sedang memetik bunga Heazert."

"Namamu Luhan?"

"Ya tuan.." jawabnya sambil tersenyum manis.

"Nama yang indah. Aku Sehun, sosok buruk rupa yang bukan apa – apa dibandingkan dengan keindahanmu, Luhan," Sehun meraih jemari tangan kanan Luhan dan mengecup punggung tangannya penuh perasaan memuja. Luhan nyaris mati suri karena degupan jantungnya menggila meski hanya sentuhan kecil seperti itu.

Dan semenjak itu Luhan sering bertemu Sehun, lelaki yang ia temui di Danau Heazert (nama danau yang ia temukan ditengah hutan itu) setiap matahari terbit ketujuh. Luhan yang hidup sebatang kara, diboyong Sehun ke istana. Karena ia akui, ia telah jatuh dalam pesona seorang Luhan.

Flashback Off

Lagi – lagi Luhan menghempaskan dirinya akan kenangan lama saat pertama kali bertemu Sehun disini. Rasanya menyakitkan, namun Luhan merasa lega karena segala hal yang berhubungan dengan Sehun terekam jelas dalam benaknya.

Disini, tepat didekat danau ini. Luhan mematri kenangannya yang akan selalu menjadi bagian dari masa lalunya yang indah.

"Luhan, ayo kita pulang. Sudah sore."

"Ya Xiu.." agak berat karena kerinduannya begitu menjadi – jadi.

Sambil memandang kembali Danau Heazert, Luhan melangkah pergi bersama Xiumin. Ia sudah mendapatkan beberapa tangkai bunga yang diinginkan dan meletakkannya dalam keranjang. Sambil menggandeng tangan Xiumin, mereka melalui setapak disana menuju mansion.

Tanpa disadari Luhan, sebuah bayangan hitam berdiri angkuh diatas permukaan danau. Menatap tajam Luhan dengan seringai mengerikan.

"Aku menemukanmu, Luhan."

.:0o0:.

Keesokan harinya..

Luhan merapatkan baju tebal yang ia pakai serta penutup kepala dari wol. Saat ini ia tengah menyusuri jalan setapak yang menghubungkan tempat tinggalnya dengan pemukiman penduduk di kaki gunung. Beberapa langkah berjalan, angin dingin kerap kali bertiup menerpa sisi wajah Luhan yang tidak tertutup apapun.

Bukannya tidak mau menghalau, Luhan sedang tidak dalam kondisi bagus untuk menggunakan kemampuannya.

Luhan sengaja bangun lebih awal pagi ini. Ia berencana memasak makanan untuk disantap pagi bersama Xiumin. Jika biasanya Xiumin yang menyiapkannya, kali ini Luhan ingin melakukannya sebelum Xiumin bangun.

Selang beberapa menit kemudian, Luhan tiba di pasar tak jauh dari pemukiman penduduk. Namun semangatnya berganti menjadi bingung.

"Dimana aku bisa menemukannya ya?" pikirnya.

"Nak, apa yang kau sedang ingin kau cari?" sapa salah satu penjual disampingnya. Luhan lekas berbalik lalu membungkuk sopan.

"Bibi, aku mau membeli daging. Bisakah bibi memberitahuku dimana aku bisa menemukannya?" tanya Luhan penuh harap.

Wanita berumur itu tersenyum.

"Kau bisa menemukannya disebelah sana, nak," tunjuk bibi itu. Luhan mengikuti arah yang ditunjuk. Setelah mengucapkan terima kasih dengan segera Luhan bergegas ke sana.

Luhan menghabiskan waktu cukup lama untuk berbelanja. Banyak benda yang ingin ia beli apalagi ini kali pertama Luhan hanya seorang diri.

.:0o0:.

Sepulang berbelanja, Luhan berkutat dengan masakannya. Ini sudah harus ia selesaikan sebelum Xiumin terbangun sebentar lagi. Jemari terampilnya memotong wortel dan kentang.

"Lu~"

Seketika Luhan berjengit begitu mendengar suara Xiumin yang memanggilnya. Saat berbalik, tampak Xiumin mengucek mata sambil berjalan dan sesekali menguap.

"Xiumin.." lirihnya pelan. Luhan meletakkan pisau, memandang Xiumin gugup. Astaga dia ketahuan!

"Apa yang kau lakukan?" tanya Xiumin dengan kesadaran setengah – setengah. Ia duduk nyaman sementara matanya masih berusaha membuka tirai.

"A-aku membuat sup."

"Oh membuat sup."

Hening.

Xiumin menggosok wajahnya beberapa saat kemudian lalu matanya membuka lebar.

"SUP?!" ulang lelaki pipi gemuk itu.

Luhan mengangguk kaku. Tapi tanpa Luhan duga, Xiumin sudah berada disampingnya dengan kedua tangan berkacak pinggang. Bulatan itu seolah – olah menelanjangi Luhan. Ia hanya bisa menunduk dengan bibir mengerucut.

"Bagaimana bisa? Aku ingat sekali bahan makanan kita sedang habis dan aku berencana untuk berbelanja hari ini."

"T-tadi aku pergi membelinya," jawab Luhan bersamaan cengiran lucu. "Kau tidur nyenyak sekali jadi yaa aku pergi sendiri saja."

"OH ASTAGA!"

Demi para dewa, Luhan menyesal atas perbuatannya tadi. Xiumin benar – benar mengocehinya tak henti sampai sup yang ia buat matang. Sahabatnya ini sangat berlebihan sekali. Lagipula Luhan itu laki – laki dan bisa menjaga diri. Tapi Luhan tidak mengatakannya.

Ia tidak mau Xiumin memberi pukulan di kepalanya. Lagipula Luhan itu penurut. Tidak selalu juga sih!

"Aku mengerti.." dengus Luhan setelah rentetan panjang yang dilontarkan Xiumin berhenti.

'Selalu saja seperti ini.'

.:0o0:.

Waktu berlalu hingga Luhan merasa sampai pada keputusasaan. Mereka sempat hidup berpindah – pindah bersama Xiumin sambil tetap menyembunyikan tubuh Sehun mulai terasa berat baginya. Tapi Luhan menyemangati dirinya untuk tidak menyerah. Meski udara tempatnya tinggal terasa asing, Luhan mencoba untuk tidak mengeluh.

Hingga akhirnya Xiumin sudah kembali menemukan jejak peninggalan bangsa mereka yang sama sekali tidak berubah. Yaitu Danau Heazert dan menetap disana. Untuk berjaga – jaga, Xiumin sudah memasang semacam pelindung disekitar rumah ini. Bukan mustahil saat ini salah satu pesuruh bangsa Yith tengah berusaha mencari keberadaan mereka.

Lagipula status mereka adalah seorang pelarian.

Bangsa Polyp berhasil ditaklukan oleh bangsa Yith dalam suatu pertarungan besar dimana saat itu Sehun masih seorang raja muda dan pemerintahannya masih dibayangi oleh Kyuhyun, ayahnya.

Flashback on

"Kakak! Cepat bawa Luhan pergi!" seruan lantang Sehun menggema diantara bunyi ledakan – ledakan api. Sehun terbang rendah demi menghalau bara api besar yang mengarah pada Xiumin. Lelaki itu tengah menarik Luhan agar terhindar dari bola – bola api. Luhan sendiri memberontak dari genggaman Xiumin. Matanya berkaca – kaca saat Sehun mulai kepayahan.

"Lepaskan aku, Xiu!" teriak Luhan sekencang mungkin sembari menarik cekalan tangan sahabatnya itu.

"Tidak!" balas Xiumin tidak kalah kencang.

Luhan hendak memprotes kembali tapi Xiumin lebih kuat dari yang ia duga. Dibelakang sana, tampak Sehun yang sudah berhasil menyamai mereka berdua dan masuk ke dalam hutan Winds.

Mereka mendarat didekat pohon besar yang ada disana.

Luhan langsung menubruk tubuh Sehun. Tubuh lelaki itu penuh luka memar dan bekas terbakar. Baju kebesarannya hangus dibeberapa tempat. Sehun balas memeluk Luhan erat sembari menggumam kalimat penenang untuk pasangannya.

"Luhan, ikutlah bersama kakak. Aku akan mengirim kalian ke dunia manusia, nanti biar aku yang membuka jalan. Jangan khawatirkan aku," Sehun mengelus pucuk kepala Luhan dan mengecup dahinya lama.

Air mata Luhan menetes tanpa bisa dicegah. Kondisi Sehun sangat tidak baik – baik saja membuat dirinya memaksa untuk percaya.

"Tapi Sehun-"

"Kumohon kali ini saja, Lu. Demi kita semua harus ada yang selamat."

Luhan mengatup bibirnya rapat. Apalagi saat Sehun beranjak mendekati pohon besar itu. Sehun tampak memandang telapak tangannya yang mulai mengeluarkan sinar kebiruan. Ia arahkan sinar itu pada sisi batang pohon.

Xiumin menghampiri Luhan dan mengambil alih tugas Sehun guna menenangkan Luhan yang bergetar. Andai saja bisa, Luhan ingin berteriak lantang bahwa tidak ada yang baik sekarang.

Selang beberapa detik pada batang pohon terbentuk sebuah pusara besar dengan kilat – kilat menyambar. Luhan memandang tak percaya bahwa Sehun benar – benar melakukannya.

"Cepat masuk. Tidak ada waktu lagi!"

Xiumin lekas menarik Luhan untuk memasuki pusara itu. Karena dari kejauhan ia mendengar derap langkah berat Yi Fan, yang adalah pangeran dari bangsa Yith. Ia dikenal sangat kejam dan tak segan menghantam lawannya dengan bola api panas.

"Hahaha… Aku tidak akan melepaskan kalian! HYAAHH!"

Kobaran api besar siap menghantam Luhan dan Xiumin.

"Tidak akan kubiarkan!" Sehun menghalau serangan itu dengan mengibaskan angin dengan sayapnya.

WUUUSHH~

Api itu seketika berbalik arah dan siap menghantam Yi Fan. Namun dengan mudah pula Yi Fan menghindar.

"Woah ternyata kemampuanmu tidak bisa diremehkan eh, makhluk hina."

"Justru kaulah makhluk hina itu, Yi Fan. Kalian, makhluk pemakan daging mentah yang jauh lebih menyedihkan dibanding kami," balas Sehun tak terima.

Amarah Yi Fan meluap seketika mendengar hinaan tajam Sehun.

"Kau salah sudah berkata seperti itu mengenai bangsaku. Kalian kira apa yang bisa kalian lakukan sekarang? Kau bahkan sudah tidak berdaya. Lebih baik serahkan tahtamu dan aku akan melepaskan kalian."

"Aku menolak. Hyaaa!"

Hantaman dari dua elemen berbeda itu sangat dahsyat. Dari balik pohon, Luhan masih menolak untuk masuk. Ia ingin Sehun ikut serta bersamanya.

"Lu, ayo cepat!"

"Tidak! Sehun akan ikut bersama kita! Dia-"

Tanpa diduga, Sehun tiba – tiba menjadikan tubuhnya tameng saat sebongkah cahaya ungu melesat ke arah keduanya. Saat sinar itu menghantam tubuh Sehun, lelaki itu berteriak kencang hingga akhirnya jatuh terjerembab ditanah. Sayap Sehun beberapa hangus terbakar oleh api keunguan.

"Sehun!"

Yi Fan tertawa kencang pertanda puas dengan hasil kerjanya. Pandangan kejamnya melayang pada Luhan yang tampak marah dengan aura hitam kental.

"Kau. Tidak akan. Kumaafkan Yi Fan."

"Mau melawanku eh?"

"RASAKAN INI!"

SYUUUTT~

BRUAK!

Luhan mengibas tangan kanannya lurus kedepan hingga membentuk angin setajam anak panah tepat ke arah Yi Fan. Saking cepatnya Yi Fan sampai tidak sempat menghindar. Serangan Luhan tepat mengenai ulu hatinya.

Yi Fan terbatuk hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Matanya memandang sekitar tapi mereka sudah tidak ada lagi. Termasuk jasad Sehun.

"Mereka lolos!"

Mereka akhirnya keluar dari pusara itu dan mendarat di suatu tempat yang tidak Luhan maupun Xiumin kenal. Pada saat itu juga Luhan teringat akan Sehun yang sama sekali tidak membuka mata.

Dengan pelan Luhan mengguncang tubuh Sehun pelan.

"Bangun Sehun.."

Sehun tidak menjawab. Luhan menggosok lengan Sehun yang dingin seperti es.

"Sehun! Sehun!"

Diam. Sehun sama sekali tidak bergerak. Ia meraba hidung Sehun namun tidak ada hembusan nafas teratur.

Flashback Off

Luhan membuka matanya perlahan. Sebagian ingatannya sudah mulai mengabur. Kerap kali Luhan mencatatnya dalam buku kulit kayu. Terkadang ia menulisnya bersama Xiumin.

"Karena aku tidak boleh melupakan satu katapun yang bisa saja menutup jalanku untuk membebaskan Bangsa Polyp dari kekejaman Bangsa Yith."

.:TBC:.

Kebanyakan plesbek ya :D gaapalah aku yang bikin juga *plak* XD

Semoga chap ini tidak mengecewakan. Dan BIG THANK's buat yg koment di chap lalu. Aku bener2 ganyangka sama respon para reader yg terbilang bagus buat aku :3 Tolong beri saran jika bersedia untuk chapter selanjutnya XD