"Storia d'amore"

Kuroko No Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Story by : Alice Klein and Suki Pie

.

.

Bevanda 2 : Hot Cocoa

Aomine Daiki x Kise Ryouta

.

"Dedicated for AoKise Week"

.

.

.


.

"Bahkan dingin pun enggan mendekat ketika aroma hot cocoa hadir di antara kami."

.

Pukul 3.00 sore.

Aomine Daiki menghela napas cepat begitu jam yang tersimpan di atas meja kerjanya terefleksi dengan jelas di sepasang iris biru tuanya. Menunjukan waktu tak akan pernah berhenti untuk berdetik. Namun karena fakta itulah, saat ini Aomine benar-benar dibuat bosan karenanya.

Masih ada 1 jam lagi, pikirnya frustasi. Dan selama satu jam yang terasa seperti satu abad baginya itu membuat Aomine kesal setengah mati.

'Daikicchi! Jemput aku tepat waktu, ya!'

Benar 'kan, lagi-lagi benaknya berputar pada suara si pirang yang nyaring. Memanggil namanya dengan panggilan unik dan senyum lebar—yang menurut Aomine—bodoh. Meski dalam hati Aomine mengaku kalau ia menyukainya. Sangat.

"Ck! Benar-benar menyebalkan!" Aomine mengerang pelan, memikirkan bagaimana paras si pirang yang selama ini memenuhi hidupnya terkadang membuat sang polisi itu tidak bisa konsentrasi akan pekerjaannya. Hell, yang benar saja! Title polisi yang melekat padanya tidak bisa dikatakan sebagai pekerjaan biasa. Seorang polisi harus sigap di setiap keadaan yang ada, waspada pada sekitarnya, namun tetap ramah untuk semua orang yang harus dilindunginya.

Seharusnya—benar-benar—seharusnya, Aomine tidak boleh membawa urusan pribadi termasuk perasaannya pada masalah pekerjaan. Misal seperti ia tidak bisa konsentrasi ketika bekerja gara-gara Kise, ia lebih banyak bertanya dalam benaknya apa yang dilakukan Kise di angkasa sana, seperti pertanyaan; apakah si berisik itu baik-baik saja? Apakah sang pilot sudah makan (Aomine tahu betul keadaan seorang Kise Ryouta yang sering melupakan jam makannya)? Atau—

Apakah perjalanan Kise baik-baik saja?

Aomine menggelengkan kepala cepat. Tidak, tidak. Setiap kali pikirannya kembali pada perjalanan mengelilingi dunia si pirang terkadang membuat hatinya dilanda rasa cemas yang besar. Karena untuk yang satu ini, Aomine benar-benar tidak bisa menjamin bagaimana keadaan Kise.

"Waktu cepatlah, aku benar-benar merindukan si bodoh itu, tahu," tak ada yang menggubris gerutuan Aomine kala itu. Hingga yang bisa dilakukannya hanyalah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menutup matanya sejenak, dan mulai kembali tebuai oleh segala kenangan cantiknya.

.

"Daikicchi! Lihat! Langit di sana indah, 'kan? Suatu hari nanti aku akan pergi ke sana, merasakan kanvas biru muda itu tanpa batas."

"Hm…"

"Langit biru itu seperti Kurokocchi, ya? Rasanya, aku jadi ingin cepat-cepat menyentuh angkasa di atas sana. Kalau bisa, mungkin."

"Hm…"

"Daikicchi? Kau mendengarku, tidak?"

"…"

"Astaga! Sejak kapan kau tertidur-ssu! Daikicchi menyebalkan!"

.

Cih!

Senyum terkulum manis di bibirnya. Akhir-akhir ini, setiap kali memori konyol itu melintas dalam benaknya, Aomine tidak bisa jika tidak tersenyum dibuatnya. Entah karena kekonyolan Kise, atau karena kebodohannya. Dan bukan berarti ia mengakui kalau dirinya itu bodoh. Setidaknya, jika si pirang itu senang, Aomine tidak akan merasa keberatan.

.

"Daikicchi! Aku benar-benar tidak mengerti dengan seleramu."

"Apalagi Kise? Kau ini berisik sekali!"

"Habisnya, mana ada orang yang mau membuat hot cocoa di musim panas seperti ini-ssu?"

"Tidak ada. Kecuali aku, tentunya."

"Daikicchi aneh!"

"Lalu kenapa kau menyukaiku?"

"…"

"Catch you, Kise!"

.

Pfftt—Aomine jadi ingin tertawa.

Ia ingat betul bagaimana kedua pipi Kise yang merona saat itu. Sepasang iris madunya yang gelagapan karena pertanyaan jahilnya. Sungguh, Aomine tak menyangka si pirang itu akan berekspresi aneh namun manis seperti itu.

.

"Lihat! Waktu itu kau mengomeliku, sekarang kau yang berubah menjadi maniak hot cocoa, Kise!"

"Aku kan lihat waktu! Lagipula sekarang ini musim dingin-ssu! Tidak ada salahnya,"

"Ck! Terserah kau saja. Mana hot cocoa bagianku?"

.

Dan hot cocoa.

Minuman berperisai manis juga berwarna cokelat itu sudah resmi menjadi minuman favorit mereka. Meski terkadang kebiasaan aneh Aomine yang bisa mengkonsumsi minuman itu ketika musim panas tiba. Aneh, memang.

Suara dering dari ponselnya membuyarkan lamunan Aomine. Dengan cepat punggungnya kembali tegak, sedangkan satu tangannya terjulur mengambil ponsel. Tepat di samping pigura foto yang memuat potret dirinya bersama Kise. Dengan latar bandara Narita, satu tangan Aomine yang melingkar di bahu Kise, sedangkan si pirang balas melingkarkan tangan. Senyum lebar menghiasi wajah mereka, padahal seragam pilot dan polisi masih melekat pada tubuh masing-masing. Melupakan waktu akan profesinya.

Iris biru tuanya sempat melirik angka jarum jam. Yang menunjukan bahwa tiga puluh menit lagi Aomine harus segera berangkat menuju bandara. Biasanya Kise akan memberinya pesan singkat perihal ketibaannya nanti. Namun saat ini, pesan yang diberikan Kise padanya lebih cepat dari Aomine duga.

Ponsel terbuka, sederet kalimat tertera di layar, dengan nama si pengirim di ujungnya.

Dan kening Aomine berkerut samar.

[Daikicchi, jangan menjemputku dulu.]

Aomine menoleh cepat, tepat ke arah kaca jendela besar kantornya. Langit berwarna kelabu saat ini.

Tidak cerah seperti biasanya.

Sang surai biru tua itu langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju pintu keluar kantornya. Tidak seperti biasa, perasaan Aomine menjadi kalang kabut saat membaca pesan singkat dari kekasihnya. Seolah pesan tersebut merupakan peringatan kalau keadaan si iris madu sedang dalam bahaya.

"Tch! Aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu, Ryouta,"

.

.


.

.

Aomine berlari sesaat setelah kakinya tiba di bandara. Langkahnya membawa ia ke terminal kedatangan yang biasa dilewati oleh penumpang serta kru pesawat yang telah tiba. Banyak orang berlalu lalang dan tubuhnya berusaha agar tidak menabrak kerumunan orang-orang tersebut.

Sesampainya di terminal kedatangan dan sambil mengatur napasnya yang terengah-engah akibat berlari tadi, Aomine mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kise dan iris sewarna sapphire-nya, tidak mampu menangkap subjek yang sangat familiar baginya. Nihil, kombinasi surai pirang dengan iris cokelat madu itu tidak dapat ia temukan di manapun.

Aomine berdecak kesal. Bukan karena marah, lebih tepatnya karena khawatir. Apakah sosok yang selalu tersenyum ceria itu baik-baik saja? Kalau memang begitu, mengapa sampai detik ini wajah riang itu belum muncul dihadapannya?

Pikiran si polisi itu mulai dipenuhi dengan bayangan-bayangan negatif. Bagaimana seandainya—

—jika ia tidak dapat bertemu dengan Kise lagi... untuk selama-lamanya?

Berusaha menenangkan diri, Aomine berinisiatif untuk melihat jadwal keberangkatan serta kedatangan pesawat. Setelah melihat dengan sangat teliti ternyata jadwal kedatangan pesawat yang dibawa Kise mengalami keterlambatan akibat cuaca buruk.

Aomine sedikit bernapas lega karena nyatanya Kise hanya mengalami keterlambatan biasa. Bukan keterlambatan akibat ada tindakan teror, bom atau apapunlah itu, yang kerap terjadi di film-film. Lagipula ini bukan dunia mimpi, jadi lain kali ingatkan Aomine kalau dia masih di bumi, masih di dunia nyata dan bukan di dunia khayalan tingkat tinggi yang jauh seperti di khayangan.

Namun, hey, keterlambatan akibat cuaca buruk itu bisa jadi lebih berbahaya dari ancaman teror! Aomine sadar akan hal itu dan membuat pikirannya makin berkecamuk akibat rasa khawatir yang menjadi-jadi. Bagaimana kalau ada petir yang menyambar dan pesawat Kise jadi pecah berkeping-keping? Atau tiba-tiba ada kesalahan mesin dan pesawat Kise terbakar habis menjadi abu? Oke, pikirannya semakin ngawur.

Ada peribahasa yang mengatakan kalau 'orang bodoh tidak akan pernah masuk angin'. Fine, dia mengakui kalau ia bodoh, tapi walaupun tidak bisa masuk angin—dan walaupun Aomine sendiri tahu itu hanya kiasan—, orang bodoh itu tetap bisa panik. Apalagi di saat-saat seperti ini. Di saat orang yang disayanginya harus berada dalam bahaya.

Sang pemuda berkulit tan itu duduk di sebuah bangku panjang. Sudah hampir satu jam ia menunggu dan si surai pirang itu tak kunjung menampakan diri. Apakah cuacanya sangat buruk sehingga keterlambatannya bisa jadi selama ini?

Makin khawatir, Aomine mengacak-acak rambutnya sambil mengerang frustasi. Persetan pada orang-orang yang melihatnya dengan pandangan ada-orang-kurang-waras-kabur-dari-rumah-sakit-jiwa. Persetan dengan semuanya! Kini pikirannya hanya terfokus pada kondisi sang pujaan hati, Kise Ryouta. Hanya enam kata yang terangkai menjadi satu kalimat yang terus membayangi dan terngiang berulang-ulang dipikirannya, 'apakah Kise Ryouta baik-baik saja?'.

Ia hanya ingin Kise Ryouta pulang dan kembali dengan selamat. Tanpa ada luka yang tergores maupun tanpa ada cacat yang membekas.

"Daikicchi,"

Suara itu berhasil menarik Aomine kembali ke dunia nyata. Suara yang—harus ia akui—telah membuatnya rindu.

Aomine segera menoleh ke sumber suara dan di sana terlihat si pirang tengah tersenyum dengan cengiran khas-nya. Wajah yang entah kenapa terlihat sangat polos di mata Aomine.

"Tadaima,"

Aomine bangkit dan refleks langsung mendekap tubuh sang pilot dengan erat, seolah enggan melepas dan membiarkan pemuda itu untuk pergi lagi.

"E-eh?! Daikicchi, kenap—"

"Kau sudah membuatku cemas, Kise Ryouta,"

Iris madu itu terbuka lebar saat mendegar pernyataan Aomine. Ia pun mulai tersenyum lembut sambil mengusap rambut dark blue milik Aomine.

"Maafkan aku. Tadi cuacanya benar-benar buruk dan aku sulit untuk mendaratkan pesawat di saat seperti itu," jawab Kise dengan nada menyesal.

Aomine tidak menanggapi perkataan Kise dan tetap memeluk tubuh yang lebih pendek dari tubuhnya tersebut. Merasakan kalau yang ia rasakan sekarang memang Kise dan bukan orang lain. Wangi lemon yang tercium membuat Aomine makin yakin kalau ini bukan sekadar bunga tidur. Ini kenyataaan dan kenyataan ini membuat Aomine dapat membuang segala prasangka negatifnya tadi.

"Bagaimana kalau sekarang kita minum hot cocoa dulu-ssu? Ng, hitung saja sebagai permintaan maafku karena sudah membuat Daikicchi khawatir," tawar pemuda blonde tersebut.

.

.


.

.

"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa isi pesan dari ponselmu seperti itu?"

Kise tertawa canggung. Pasalnya, kalimat yang dilontarkan Aomine saat ini padanya terdengar lebih menuntut, meminta penjelasan. Well, salahnya juga, sih. Mengirimi pria tan itu dengan pesan—lumayan—singkat mengenai perihal kepulangannya. Yang Kise tahu, Aomine itu orangnya mudah cemas—jika menyangkut dirinya. Hanya saja pria itu tak ingin mengungkapkannya secara gamblang.

"Ah, bagaimana ya…" Kise menggaruk tengkuk, canggung. Cangkir berisi hot cocoa yang mulai setengah di depannya terlupakan sejenak. Berbisik dalam hati bahwa suasana di kafetaria bandara sudah lumayan sepi. Hanya ada pekerja yang sibuk membersihkan beberapa meja, pelanggan yang tak jauh dari mereka berdua, dan tentu saja, sang pilot juga polisi.

"Hm?"

"Begini-ssu, karena aku tidak sempat mengirim pesan sebelum penerbangan menuju kemari, akhirnya aku memutuskan untuk mengirimnya ketika di pesawat,"

Kening Aomine berkerut samar.

"Di pesawat?" tanyanya, namun detik berikutnya ia mendengus. "Jangan katakan kalau kau ditegur oleh rekanmu yang lain, Ryouta."

Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang terlontar dari bibirnya. Satu alis Aomine menekuk, dan nada suaranya terdengar meremehkan—sedikit. Kise tersenyum, lebar. Tanpa dosa sama sekali. Raut wajah polos itu berseri-seri, meski rasa lelah terpancar di sepasang iris madunya. Dan Aomine cukup menyadarinya bahwa si pirang di depannya saat ini rindu akan keadaan rumah.

"Well, kau selamat sampai di sini sudah cukup bagiku," ada kelembutan di sana, terselip di antara rasa cemas sesaatnya. Cangkir berwarna cream yang dilupakannya tadi kembali Aomine angkat, setelah itu menyesapnya secara perlahan.

Manis dan pahit, hingga bercampur menjadi lembut.

Aomine menyukainya, begitu pula Kise.

Bagaimana pahitnya bubuk cocoa menjadi satu kesatuan dengan manisnya gula.

"Tak kusangka Daikicchi mengkhawatirkanku-ssu!" Kise tertawa renyah. Sepasang irisnya menyipit dikala deretan giginya terlihat, juga bahunya yang berguncang pelan. Membuat sang subjek yang disebut memicingkan matanya.

"Kau harus tahu aku berlari dari tempatku bekerja sampai bandara, bodoh," dengusan pelan terdengar, "Dan pesan singkatmu benar-benar membuatku kesal,"

"Begitukah?" Kise menyesap kembali hot cocoa, berjengit pelan ketika rasa pahit mendominasi sela saraf lidahnya. Namun begitu manis mengikutinya, ia tersenyum. "Dan hot cocoa di sini enak sekali-ssu!"

Lagi, Aomine mendengus. Meletakan cangkirnya dengan pelan, mengerling pada si pirang, setelah itu bangkit dari tempatnya dengan cepat. Membuat meja di antara mereka bergeser sedikit. Garis tipis di wajah Aomine menekuk geli ketika Kise menatapnya bingung.

"Daikicchi, ada—"

Kalimat itu tak selesai, untuk saat ini.

Tepat ketika Aomine mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu memberikan satu kecupan singkat di bibir sang pilot. Lembut, juga penuh dengan perasaan. Membuat rasa pahit dan manis yang berasal dari cairan cokelat tadi menjadi lebih pekat.

"Okaeri, Ryouta,"

—jangan lupakan hot cocoa menjadi saksi bisunya.

.

.

.

"Kau ada, kau selamat, kau sehat …

Dan aku pun akan baik-baik saja."

.

.

.

Bevanda 2 : Completato


A/N :

Alice & Suki : Halooo~~ kembali lagi dengan kamiiii X3

Cerita sedikit, awalnya chapter 2 ini buat pair lain, tapi karena sekarang AoKise Week, jadi AoKise dulu~~ hehe. Well, kami sangat berterima kasih bagi yang sudah membaca chapter sebelumnya XD Untuk review, fave dan follow-nya juga. Yang pakai akun sepertinya sudah dibalas sama Alice :3 Dan buat yang tidak pakai akun :

Guest : Hahahaha! Sepertinya kami tahu Anda siapa XD /plak/ Oke sip Neechan! Sankyuu atas reviewnya~~

kurokolovers : OwO! Makasih kalau sudah ikut terharuu~~ :3/nak/ Terima kasih atas reviewnya, ini sudah dilanjut XD

Nyaaann~~ Buat yang request, ditampung dulu ya :3 Kami lagi memikirkan minuman dan plot ceritanya, hehehe~~ terima kasih atas request-nya!

Dan seperti biasa,

Alice & Suki : Review please! X33