Park Chanyeol
Kata Mama Chanyeol, Chanyeol itu anak yang manis. Wajahnya di atas rata-rata sebuah ketampanan, tubuhnya benar-benar proporsional, dan berkepribadian menyenangkan. Meski telinganya lebar, tapi itu sebanding dengan senyum dirinya yang mengembang penuh ketulusan. Oleh karena itu, Mama Chanyeol selalu membanggakan Chanyeol ke semua teman arisan sebagai calon pemimpin rumah tangga idaman.
Semua itu tentu berakibat, tak sedikit dari teman arisan Mama Chanyeol itu yang berburu antri untuk menjadikan Chanyeol menantu. Bahkan beberapa di antara mereka yang masih memiliki anak kelas 6 SD juga ikut serta mengambil nomor antrian untuk menjadikan Chanyeol menantunya.
Chanyeol tak ambil pusing, karena pesonanya memang sejak lahir sudah sedemikian besar jadi ketika ada antrian seperti itu, dia biasa saja. Hidupnya selalu ia buat santai, tak perlu mempersulit sesuatu jika ada cara yang lebih mudah. Seperti contohnya menikmati eksistensinya sebagai si telinga lebar dengan aura kelelakian yang menggoda.
Chanyeol percaya, tiap langkah yang ia buat akan mencetak sejarah keberadaan, dimana dia akan di eluh-eluhkan dalam sebuah seruan serupa, 'WOW! Tuhan benar-benar memilih semua yang terbaik untuk Chanyeol!' . Termasuk saat dia baru pertama kali menjadi siswa tahun pertama di Chungju High School. Tidak ada langkah gentar meski terkadang ia mendapat tatapan sinis karena senyumnya terlalu lebar. Oh ya, sebenarnya itu masih menjadi satu pertanyaan besar untuk Chanyeol. Mengapa orang-orang kebanyakan merasa kesal dengan senyumnya yang lebar itu? Padahal itu senyum terbaik, dan siapapun yang melihat tidak akan pernah mendapat pungutan biaya apapun.
Ah, sudahlah. Tidak perlu di pikirkan terlalu jauh. Mari kembali pada kehidupan Chanyeol sebagai siswa tahun pertama di Chungju High School.
Masa awal sekolah Chanyeol lewati biasa saja. Dia tidak berprestasi tapi juga tidak mengalami penurunan fungsi otak untuk pelajaran sekolah. Katakan saja dia berada di atas rata-rata, paling tidak 5 sampai 8 angka di atas nilai minimum yang di tetapkan. Chanyeol juga aktif di ekstrakulikuler bulutangkis dan band. Dan omong-omong, Chanyeol itu sebenarnya cukup lihai dalam dunia musik. Dia bisa memainkan hampir semua alat musik dan itu bisa di katakan lumayan untuk di jadikan sebuah tonjolan. Mari beri tepuk tangan dua jari untuk hal ini.
Kehidupan tahun pertamanya di sekolah memang biasa—dalam hal akademik dan non akademik. Tapi kehidupan asmaranya bisa di bilang cukup memiliki pengalaman karena dia berhasil mengencani sang ketua osis setelah masa orientasi selesai.
Namanya Wendy Son, gadis mungil bersuara emas. Entah fetish apa yang Chanyeol gunakan, dalam satu minggu Wendy kehilangan kesadaran hatinya dan jatuh dalam pesona Park Chanyeol. Tapi sayangnya hubungan itu hanya berjalan satu bulan, Wendy yang memberi keputusan pertama untuk berpisah karena Chanyeol lebih mementingkan bermain bulutangkis daripada menemaninya membeli pasir untuk tempat buang air besar kucing kesayangannya.
Prinsip Chanyeol, mati satu tumbuh berjuta-juta. Dan dia bukan penganut ajaran Cinta lama belum selesai, jika suda mengatakan perpisahan maka berpisah. Bahkan saat Wendy meminta kembali dan mengatakan jika dia masih menyukai Chanyeol, jawaban si tinggi itu tetap; "Siapa yang minta putus dan siapa yang sekarang mengemis untuk kembali? Sudah ku bilang, berhati-hatilah dengan ucapanmu jika berbicara denganku."
Perdebatan selesai dan Chanyeol sudah menemukan mangsa baru.
Bukan, Chanyeol tidak playboy, dia hanya tau bagaimana cara cepat mendapat kekasih hanya dengan sekejap mata. Bahkan Luhan, yang saat itu berada dua tingkat di atasnya dan terkenal seperti anjing jantan liar, bisa menjadi bayi lucu yang merengek di lengan Chanyeol dalam waktu singkat.
Anak itu benar-benar sinting. Tapi sudahlah, toh Chanyeol melakukan sebagaimana lelaki menebar pesona, tidak melalui cara magis.
Kali ini kisahnya Luhan lebih lama, hubungan mereka bertahan hampir 3 bulan. Jika saja Luhan tak memiliki niatan main belakang dengan Kris, si tiang listrik yang sudah menjadi alumni, mungkin Chanyeol bisa menambah kadar sukanya pada Luhan. Tapi sayang seribu sayang, mendua itu bukan pilihan yang tepat apapun alasannya. Jadilah dia memutuskan hubungan dengan Luhan dan kembali bebas dalam status single.
Patah hati bukan sesuatu yang patut di jadikan acuan saat putus hubungan sudah terjadi. Dunia tidak akan terbalik ketika pacarmu berselingkuh. Maka dari itu Chanyeol bersikap biasa saja. Dia tidak akan heboh, dia akan bertingkah sewajarnya sampai sesuatu membuatnya bisa berputar arah dari jalannya yang sudah ia tetapkan akan lurus sebagai single.
"Oh, sial! Siapa dia?"
Seharusnya Chanyeol berbelok ke kanan, ke arah lapangan untuk memulai latihan bulutangkis, bukan ke kiri yang menuju ke perpustakaan sekolah. Langkah kaki dan cara kerja otaknya benar-benar tidak sinkron dengan tujuan awal untuk latihan. Dia berdiri di ambang pintu perpustakaan, melihat seseorang yang menjadi kiblat langkah kakinya itu sudah duduk di salah satu bangku perpustakaan bersama suatu buku berwarna merah—Chanyeol kurang tau apa itu.
"Kemana saja aku selama ini? Kenapa baru melihatnya sekarang?"
Tubuhnya mungil, hampir seperti Luhan tapi yang ini lebih berisi. Matanya memiliki penggambaran yang unik, seperti seseorang yang terlihat polos dari segala sisi. Caranya tersenyum juga menarik, pipinya menggumpal seperti mochi dan mendesak sehingga memperkecil garis matanya.
Sejak saat itu Chanyeol mulai memiliki sebuah kegiatan baru, menunggu di depan gerbang dan mencari tau siapa gerangan yang sore itu membuatnya bolos latihan bulutangkis karena bertandang di depan pintu perpustakaan. Dan, ketemu.
Name tag-nya bertuliskan Byun Baekhyun, kelas 2-3. Satu tingkat di atas Chanyeol.
Chanyeol masih melihat senyum yang sama. Dan saat itu dia juga mendengar suara si kakak kelas yang cukup gurih. Caranya menyapa juga menyenangkan, selalu ada imbuhan tawa kecil yang menenangkan jiwa dan diam-diam membuat tarikan halus dari sudut bibir Chanyeol.
Rasanya seperti cinta pada pandangan pertama. Dan sepertinya memang ini cinta yang sesungguhnya, benar-benar pertama kali membuat Chanyeol berubah haluan dan memikirkannya sepanjang malam. Sialnya, Chanyeol belum memiliki langkah maju. Dia tidak seperti biasanya, kali ini dia ingin berhati-hati agar setiap pendekatannya akan terjalin dengan mulus.
Hingga di suatu hari, saat itu Chanyeol sedang menikmati ice cream di Pos Satpam sekolah, dia harus menelan pahit-pahit bagaimana rasanya patah hati. Mungkin ini yang Wendy rasakan, rasanya benar-benar menyesakkan.
Baekhyun, si kakak kelas mungil yang ia taksir itu mendapat satu ciuman kecil di atas dahi oleh Choi Minho, ketua klub bulutangkis yang selalu Chanyeol jadikan panutan.
Chanyeol memiliki hati yang patah, bahkan nyaris remuk jika saja ia tak menguatkan diri untuk bertindak jantan dengan berkata jodoh tak akan kemana. Baekhyun boleh saja kali ini berkencan dengan Minho, tapi belum tentu juga Minho akan menjadi jodoh masa depannya.
Bisa saja Chanyeol, kan? Peluangnya memang kecil, tapi setidaknya Chanyeol masih memiliki harapan dari peluang itu.
Lagipula mereka hanya pacaran, suatu saat pasti akan putus dan Chanyeol jadi rajin berdoa sebelum tidur untuk mendoakan akhir hubungan mereka. Dia benar-benar jatuh cinta pada Baekhyun, nyaris kehilangan akal dan kenyamanan tidur malam hanya karena sosok si marga Byun itu.
"Aku akan menunggunya, sampai kapanpun!" Chanyeol menegaskan diri, dia bisa menunggu Baekhyun mendapat status single karena jika dia harus merusak hubungan Baekhyun dengan Minho saat ini, hal itu benar-benar tidak keren. Jadi Chanyeol akan menunggu, sampai kapanpun itu.
Kekuatan doa memang tidak bisa diragukan, Tuhan benar-benar sekali lagi menunjukkan kebaikan dengan sebuah kabar baik yang ia dapat saat selesai latihan bulutangkis di sebuah sore.
"Baekhyun putus dengan Minho!" begitu kata salah seorang teman latihan dan Chanyeol diam-diam mengulum senyum senang. Itu artinya dia bisa bertindak, dia akan mengambil start lebih awal untuk menggencerkan sebuah pendekatan pada Baekhyun.
Butuh waktu hampir satu tahun untuk menunggu momen ini setelah ia melihat kecupan di dahi yang menandai sebuah kepemilikan. Jadi, saat Chanyeol melihat celah yang pas, dia akan mengambil langkah maju dengan strategi yang lebih tertata agar peluang keberhasilannya besar. Mungkin bisa ia mulai dengan meletakkan setangkai mawar di meja Baekhyun beserta tulisan, 'Aku sudah menghitung kelopaknya yang berjumlah 10 dalam waktu 10 detik. Cepat, kan? Tapi kenapa aku butuh waktu lama untuk menghitung rasa sukaku padamu, Baekhyun?'
.
.
TBC
Basyot : gataulah ini apa wkwkwk.. selamat malam dan selamat istirahat, kesayangan Chanbaek.
