Title:

I'M JUST THE BABYSITTER

Pairing:

SasuNaru and other.

Genre:

Romance, Family, Drama, Hurt/comfort and other

Warning:

HOMO, Fujoshi area, Mpreg, typo dan masih banyak lagi.

.

No PLAGIAT!!!

.

~HAPPY READING~

Matahari telah menyapa semua orang di kota. Sinar matahari menyelimuti kota sembari menandakan jika mereka harus melakukan rutinitas mereka hari ini. Kicauan burung saling bersahutan. Seharusnya terdengar indah, namun suara kendaraan lebih mendominasi dibandingkan kicauan burung-burung itu.

TIN.

TIN.

TIN.

Padahal waktu baru saja menunjukan pukul 7 pagi, tapi bising-bising kemacetan telah menghiasi kota. Membuat telinga siapapun sakit karena mendengar raungan klakson dari setiap mobil. Kemacetan yang merugikan para pekerja yang harus mendatangi tempat kerjanya tepat waktu.

"Maaf Sasuke- sama sepertinya kemacetan ini akan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit."

Tanpa berfikir panjang yang menjadi lawan bicara langsung berkata. "Ck, aku akan berjalan kaki saja."

Orang yang dipanggil Sasuke itu pun langsung keluar dari mobilnya dengan setelan jas hitam dan membawa tas laptop di tangan kanannya. Meninggalkan mobil hitamnya bersama sang supir.

Untungnya jarak antara daerah macet itu dengan perusahaannya tidak terlalu jauh. Ia tidak mempedulikan lagi tatapan memuja yang diberikan padanya setiap berpapasan dengan orang-orang.

'Wah dia tampan sekali~'

'Bukankah dia CEO dari Uchiha Corp. yang terkenal itu?! Kyaa tampan sekali.'

'Aku ingin punya kekasih seperti dia.'

Begitulah sebagian besar bisikan- bisikan dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia sudah terbiasa dengan itu semua, namun tidak pernah ia pedulikan. Seorang CEO yang memiliki hati sekeras batu dan sedingin es adalah jati dirinya. Tidak akan ada siapapun yang bisa merubahnya.

"hahahaha, itu tidak mungkin."

Langkah kakinya sedikit melambat, kepalanya menoleh ke asal suara. Entah mengapa suara itu begitu menarik untuk dilihat siapa pemiliknya. Ia pun tak tau kenapa hal itu bisa terjadi. Sekarang pandangannya terpaku pada pemuda berambut pirang yang terlihat lebih mencolok dibandingkan teman-teman nya.

Pemuda dengan senyum lebar itu terlihat cukup manis di mata nya. Suaranya pun terdengar merdu saat memasuki gendang telinga nya. Tanpa sadar ia terpesona pada sosok itu.

Buk.

Bahunya tak sengaja menyenggol seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan temannya dan itu membuat semua lamunannya tadi hilang seketika.

"Ouch, kalau jalan itu li-"

Gadis itu menarik kembali jari telunjuk yang sempat teracung untuk Sasuke, wajahnya memerah dengan mulut menganga. Ia sungguh tidak menyangka kalau yang baru saja menyenggolnya adalah sang pangeran impiannya.

"Hn." tanpa ada niatan untuk meminta maaf, Sasuke langsung meninggalkan gadis itu yang masih terpatung dengan wajah shocknya. Temannya kini sibuk menyadarkan gadis itu dari keterpakuannya.

Sasuke kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Pikirannya kembali melayang pada sosok pirang, manis dan menggemaskan yang baru saja ia temui tadi. Ia memikirkan pemuda itu tanpa mengetahui identitas si pemuda.

Di sebuah rumah minimalis, dua insan sedang disibukkan oleh urusan mereka masing masing. Wanita yang menjadi single parent selama 2 tahun itu sedang disibukkan oleh urusan dapur, sedangkan putra tunggalnya sedang menyiapkan keperluan kuliahnya.

"Naru-chan, sarapan sudah siap." wanita itu berujar dengan suara lantang.

"iya, iya, aku segera turun Kaa-chan." Sahut seseorang dari lantai atas.

Tak lama, seorang pemuda dengan kemeja orange dipadu kaos merah didalamnya dan ransel hijau yang menggantung manis di bahu kanannya datang dengan menuruni tangga. Surai pirang berantakan miliknya terkesan mempesona. Tiga garis di kedua pipi tannya membuatnya bertambah manis.

Wanita yang dipanggil Kaa-chan oleh pemuda bernama Naruto itu tersenyum. "ayo makan." Ujarnya sambil menduduki salah satu dari 4 kursi kosong yang ada di meja makan.

Naruto ikut menduduki kursi dihadapan Kaa-channya. Wajah cerianya berubah menjadi sendu. "Kaa-chan, kenapa tidak ada ramen?"

"tidak ada ramen untuk hari ini. Kau harus makan nasi dan sayur juga." Ujar Kushina –nama dari Kaa-chan Naruto- sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mendengar jawaban dari Kushina membuat Naruto mem-poutkan bibir ranumnya. Mau tak mau ia memakan apa yang telah dihidangkan oleh Kushina. Mengambil semangkuk nasi dan beberapa sendok sayur.

"Naru-chan, hari ini Kaa-chan akan berangkat menjenguk nenek mu di kampung"

"kenapa Kaa-chan harus pergi? Lagipula biaya menuju kesana tidaklah sedikit dan jika Kaa-chan kesana, Kaa-chan akan dimanfaatkan oleh Kuro Jii-chan." Naruto menghentikan suapan nasi ke mulutnya. Ekspresinya berubah menjadi serius. Namun matanya mengisyaratkan kepedulian pada Kushina.

"sayang~ nenek lebih membutuhkan kita sekarang ini. Untuk pamanmu, jangan terlalu pedulikan dia. Biarkan kami- sama yang membalas semua perbuatannya." Kushina menatap putranya sambil tersenyum. Sorot matanya mencoba meyakinkan anaknya bahwa dirinya akan baik- baik saja berada disana.

Naruto tidak menanggapi perkataan Kushina, ia malah menengguk air mineral dengan cepat. "terima kasih atas makanannya. Aku berangkat." Ia langsung bangkit dan keluar dengan cepat tanpa mempedulikan Kushina yang menatapnya sendu.

"hati-hati di jalan." Gumamnya sambil menampilkan senyum miris diwajahnya.'maafkan Kaa-chan, Naru. Kaa-chan harus berbohong padamu.'

"NARUTO."

Merasa namanya dipanggil, Naruto langsung memalingkan tubuhnya ke belakang. seyum di wajahnya mengembang seketika. Sekumpulan remaja dengan style yang tidak jauh berbeda dari Naruto, berjalan mendekati dirinya sambil membalas senyuman manis dari Naruto.

"Ohayou teman-teman~" sapa Naruto saat teman-temannya sudah berada di dekatnya. Salah satu dari mereka merangkul pundak Naruto dengan ekspresi ceria.

"Ohayou~ Naru-chan~" teman Naruto berujar dengan nada mendayu.

Raut wajah Naruto berubah menjadi cemberut. Kedua pipinya terdapat semburat merah karena menahan malu dan kesal. "mejauhlah dariku! Dasar baka." Naruto mendorong temannya dengan tenaga yang cukup kuat.

"Uhh, lutuna~." bukannya jera karena di dorong oleh Naruto, kelakuan temannya itu malah semakin menjadi-jadi dengan mencubit kedua pipi Naruto yang memerah hingga semakin merah.

"Eumm~ bewhwentwi~" tangan Naruto berusaha menarik tangan temannya agar ia melepaskan cubitan itu.

"Sakit tau." seru Naruto saat cubitan itu berhasil dilepas dari tempatnya. Tangannya mengusap pelan kedua pipinya yang menjadi korban bully temannya. Dan itu membuat semua teman-temannya tertawa maklum dengan tingkah Naruto jika sudah bertemu dengan sahabatnya.

Perjalanan mereka menuju kampus dipenuhi oleh canda tawa dan celotehan yang selalu dilemparkan oleh Naruto dan dibalas oleh sahabatnya yang bernama Kiba. Pemuda dengan rambut coklat dan tanda segitiga terbalik di kedua pipinya itu adalah orang paling cerewet kedua -setelah Naruto- diantara teman-temannya yang lain.

Naruto tertawa bahagia bersama teman-temannya, ia tidak menyadari jika saat ini ia sedang diperhatikan oleh seseorang.

Suasana kampus cukup ramai. Beberapa mahasiswa ada yang sibuk dengan urusannya di koridor, di kantin ,di taman dan sebagian besar sisanya mengikuti kelas mereka masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Naruto dan teman-temannya yang sudah mengikuti kelas mereka masing-masing.

Naruto memilih mengambil jurusan pendidikan guru sedangkan Kiba memilih jurusan kedokteran untuk hewan. Meskipun mereka berdua berbeda jurusan, kedekatan mereka tidak dapat diragukan lagi. Bahkan ada beberapa yang beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Aneh memang, tapi Naruto dan Kiba tidak pernah menganggap hal itu sebagai sesuatu yang harus dipedulikan. Yang harus mereka pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya lulus dengan nilai yang bagus dan mendapat pekerjaan yang layak.

Ya, pekerjaan yang dapat membantu ekonomi keluarga mereka. Terutama Naruto. Keluarga Naruto bukan lagi keluarga yang memiliki keadaan ekonomi yang tinggi semenjak kematian sang Ayah. Meskipun sang Ayah hanya seorang pegawai swasta, setidaknya mereka tidak pernah merasakan kekurangan. Sekarang tidak lagi, mereka hidup dalam kekurangan bahkan untuk makan pun sulit.

Namun mereka cukup bersyukur karena Naruto memiliki IQ cukup tinggi. Setidaknya ia mendapat potongan 50% untuk biaya kuliahnya. Hingga mereka tidak perlu lagi memusingkan biaya kuliah.

Saat ini Naruto telah memasuki semester ke 3, ia telah di tugaskan ke beberapa sekolah. Naruto diberi beberapa pilihan dan ia lebih memilih taman kanak-kanak sebagai tempat pelatihannya. Ia memilih taman kanak-kanak karena anak-anak adalah favorit nya sejak dulu.

Kini Naruto berjalan di koridor menuju kantin bersama Kiba. Kebetulan kelas mereka telah selesai beberapa menit lalu. Namun perjalanan mereka terganggu oleh gadis berkacamata bulat yang mendekati mereka berdua.

"Kau yang bernama Naruto?"

Naruto menatap polos gadis yang membawa sebuah amplop putih di tangannya.

"Iya, ada apa?" Naruto mengatakan itu sambil mengangguk.

"ini ada surat tugas untukmu dari dosen." ujar gadis itu sambil memberikan amplop putih yang di bawa nya pada Naruto.

Naruto langsung menerima amplop itu, lalu tersenyum manis pada sang gadis. "Terima kasih."

Wajah gadis itu tampak memerah. "A- ah i-iya" setelah mengatakan itu, sang gadis pun pergi meninggalkan Naruto.

Naruto memandang kepergian gadis itu dengan wajah polos. Apa yang terjadi dengannya?. Itulah yang ada dalam pikiran Naruto saat ini.

Sesaat kemudian ia mengangkat kedua bahunya acuh. Lalu membuka amplop putih yang tetutup rapat. Ia membacanya dengan seksama. Senyuman bahagianya mengembang setelah membaca isi dari amplop itu.

Ia ditugaskan mengajar di Uchiha Playgroup. Esok adalah hari pertamanya mengajar di sekolah itu. Menurut kabar yang ada, sekolah itu adalah sekolah paling terkenal dan mahal yang ada di Jepang. Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Naruto.

"KYAAA~~ aku ditugaskan mengajar di Uchiha Playgroup. Ini benar-benar keren." Naruto melompat-lompat kegirangan dengan tawa bahagia. Kedua tangannya bergerak mengguncang bahu Kiba. Ia tidak sadar jika perlakuannya itu membuat Kiba kurang nyaman.

"Ugh, ber-henti! Ka-u mem-buat ku pusing!" ujar Kiba.

Selang sedetik Naruto langsung melepaskan kedua tangannya. Senyum bahagia terpampang jelas di wajahnya. Hingga deretan gigi putihnya terlihat. "Gomen, aku terlalu senang."

Kiba ikut tersenyum melihatnya. Jika Naruto bahagia maka ia akan ikut bahagia. "Aku ikut senang Naru, selamat ya."

Naruto hanya membalasnya dengan senyuman. Ia merasa setelah ini kehidupannya akan berubah. Ya, benar-benar berubah.

Tanpa sadar matahari sudah tidak menampakkan wujudnya. Langit yang tadi berwarna biru terang berubah menjadi warna gelap yang hanya disinari oleh cahaya bulan dan miliyaran bintang yang bertabur indah di atas sana. Aktivitas di kota pun sudah merenggang, sebagian dari mereka kembali ke kediaman mereka masing-masing.

Begitupun denganku, kembali ke rumah dengan perasaan bahagia yang membuncah di hatiku. Berlari kegirangan sambil menenteng selembar kertas putih yang membuatku menjadi sebahagia ini.

Kertas berharga yang menyatakan bahwa aku ditugaskan di taman kanak-kanak yang selama ini menjadi impianku. Aku sunggu tak sabar melihat reaksi Kaa-chan nanti saat aku memberitahukannya hal ini.

Kini aku telah dekat dengan rumah yang kami tinggali, tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga. Rumah yang selama ini menjadi tempat kami berlindung dari panas matahari dan badai hujan. "Tadaima~" seruku saat memasuki rumah.

Namun setelah beberapa menit aku menyapa, tidak ada yang menyahutku dari dalam seperti hari-hari sebelumnya. Rumah pun tampak lebih gelap dan sepi.

"Naru-chan, hari ini Kaa-chan akan berangkat menjenguk nenekmu di kampung hari ini."

Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Kaa-chan tadi pagi. Entah mengapa hatiku mencelos seketika. Kaa-chan benar-benar pergi disaat putranya sendiri tidak mengizinkannya.

Kebahagiaan yang sempat kubawa tadi hilang entah kemana. Rasa kesal, kecewa, khawatir, semua itu bercampur aduk menjadi satu didalam hatikku.

Jika saja di rumah nenek tidak ada pamanku yang gila harta itu, perasaanku tidak akan sekalut ini. Aku takut disana Kaa-chan akan dimanfaatkan saja.

Ingatanku masih cukup bagus untuk mengingat betapa serakahnya pamanku itu. Tepatnya satu bulan setelah kematian Tou-chanku 'aku adalah orang yang mengurus ibumu disini. Jadi berikan aku uang satu juta yen perbulan atau aku tidak akan pernah mengurusnya lagi. Lagipula itu adalah uang yang sedikit untuk orang kota seperti kalian.' Begitulah katanya saat terakhir kali kami kerumah nenek.

Sejak saat itu kami terus membujuk nenek kami agar ia mau ikut kami ke kota, karena kami tidak bisa tinggal terlalu lama di tempat itu.

Namun ia terus menolak dengan alasan ia tidak suka dengan keadaan kota yang bising. Jadi mau tak mau kami harus membayar pamanku setiap bulannya agar ia mau mengurus nenek kami. Tak jarang juga, saat kami berkunjung kesana kami akan disuruh-suruh layaknya pembantu. Oleh karena itulah aku sangat tidak suka jika Kaa-chan kesana sendirian tanpaku, ia sudah sering sakit-sakitan, aku tak ingin terjadi sesuatu padanya.

Sekarang aku memutuskan untuk menghubungi Kaa-chan melalui ponsel jadul milikku. Aku menekan nomor Kaa-chan kemudian men-dialnya. Tak lama Kaa-chan mengangkat panggilanku.

"Moshi-moshi. Naru-chan, bagaimana kabarmu nak? Kamu sudah makan malam?"

Suara kaa-chan dari sebrang sana memasuki gendang telingaku. Nada cerianya membuatku sedikit lega akan keadaaannya saat ini. Aku asih terdiam, tak berniat menjawab sedikitpun pertanyaan Kaa-chan tadi.

Selang beberapa menit, suara Kaa-chan kembali terdengar, namun kini nadanya berubah dari sebelumnya. Nada cerianya tadi digantikan oleh nada khas kelembutan seorang ibu. "nak, kamu baik-baik saja? Jawab Kaa-chan sayang! Jangan buat Kaa-chan khaw-"

"Yang khawatir itu harusnya aku. Kaa-chan tiba-tiba pergi begitu saja, padahal aku tidak mengizinkannya." Candaku namun dengan nada kesal yang dibuat-buat agar Kaa-chan tidak terlalu banyak pikiran disana.

"maafkan Kaa-chan sayang, Kaa-chan berjanji akan kembali secepat mungkin."

Aku hanya mengangguk lalu terkekeh pelan. "Kaa-chan, kau tau tidak? A-"

"tidak sayang, kau kan belum memberi tau Kaa-chan"

"Aisss~ Kaa-chan, aku kan belum selesai bicara."

"hehehe, gomen gomen. Kamu ingin memberitahukan apa sayang? Sepertinya sebuah kabar gembira. Kaa-chan benar bukan, hm?"

"Kaa-chan benar. Aku bertugas di taman kanak-kanak Uchiha Playgorup."

Pekikkan bahagia terdengar dari sebrang sana. "benarkah? Uwah selamat sayang. Kaa-chan janji, saat Kaa-chan kembali akan ada ramen jumbo extra naruto di meja makan hanya untukmu."

"kalau begitu Kaa-chan cepatlah kembali, lalu buatkan aku ramennya hehehe."

"iya iya, jangan nakalnya selama Kaa-chan pergi. Kaa-chan sayang Naru."

"Naru juga sayang Kaa-chan. Dadah~" aku mengakhiri panggilanku setelah membuat suara kecupan untuk Kaa-chan.

Perasaanku telah kembali seperti semula, yah meskipun rasa kecewa belum sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya aku sudah bisa bernafas lega.

Hari semakin larut, aku harus segera istirahat untuk besok. Untung Kaa-chan telah menyimpan beberapa lauk untuk makan malam di kulkas, aku hanya tinggal memanaskannya saja. Setelahnya aku bisa langsung tidur.

Besok akan menjadi hari terbaik dalam hidupku. Awal dari kebahagiaan yang tak akan pernah aku lupakan.

Pagi kembali meyapa diriku dengan sinarnya. Namun tak seperti sebelumnnya, biasanya sinar matahari itu akan bertugas membangunkanku dari tidur, tapi sekarang dia bertugas memberitahukan bahwa aku harus segera berangkat ke tempat tugasku.

Jarak antara Uchiha Playgroup dengan rumahku terbilang cukup jauh, jadi aku harus berangkat lebih pagi.

Dengan kemeja putih lengan panjang dipadu dengan celana bahan hitam, membuatku tampil percaya diri pagi ini. Memberikan senyuman indah pada tetangga yang sempat ku temui dijalan dan memancarkan aura positif kepada semua orang.

Kini aku telah berdiri di sebuah bangunan indah yang selalu dipenuhi anak-anak kecil imut dan lucu setiap harinya. Sekolah termahal yang isinya adalah putra-puri dari orang orang terpandang di Jepang bahkan yang sudah mendunia. Ini seperti mimpi, tidak, ini adalah nyata. Oh Kami-sama ini sulit dipercaya.

Kakiku yang terbalut celana bahan hitam mulai melangkah masuk ke dalam kawasan sekolah para putri dan pangeran ini. Baru satu langkah berada di dalamnya, entah mengapa rasa percaya diriku sedikit memudar. Bagaimana tidak? Disini aku bagaikan kotoran diantara tumpukkan berlian. Aku hanyalah orang beruntung yang bisa memasuki sekolah indah nan megah ini.

Mataku bergulir ke kanan dan ke kiri mencari tiga kata yang terpasang di antara puluhan pintu disekolah ini. Kantor kepala sekolah, ruangan itulah yang sedang kucari saat ini. Ruangan yang akan menuntunku ke kelas yang akan menjadi tempat aku mengajar. Setelah beberapa menit aku mencari, akhirnya aku bisa menemukannya.

Aku sedikit merapikan penampilanku sebelum memasuki ruangan ini.

Tok,

Tok,

Tok,

Tidak perlu menunggu lama, suara berat khas pria tua menyahut dari dalam memintaku masuk kesana. Aku melangkah ke dalam dengan sedikit gugup. Seorang pria dengan setelan jas abu-abu nampak menanti kedatanganku di singgasana miliiknya. Tangan keriputnya bergerak menunjuk kursi kosong dihadapannya seolah mengisyaratkan padaku duduk di kursi yang ia tunjuk.

"Namamu Uzumaki Naruto, bukan?"

Aku mengangguk lalu menjawab, "Iya. Em-"

"ah, namaku Hiruzen Sarutobi. Kerabat jauh keluarga Uchiha, kepala sekolah disini."

"a- iya, Sarutobi-sama."

"baiklah aku lanjutkan, menurut kabar yang ku dengar dari sekolah-sekolah yang pernah menjadi tempat pelatihanmu sebelumnya, kau adalah orang yang bisa langsung dekat dengan anak senakal apapun lalu mengubah sikapnya. Benar begitu?"

Mendengar hal itu aku langsung tersenyum malu. "eum~ bisa dibilang begitu, ttebayo."

Pria tua itu tampak sedang menulis sesuatu dengan pena hitamnya, lalu memberikan sebuah stempel diatasnya. "Kau akan ditugaskan di kelas xx, disana tempat murid-murid yang paling sulit diatur, termasuk putra dari pemilik sekolah ini namanya-"

[Author pov]

Naruto berjalan menelusuri koridor dengan senyum cerah di wajahnya. Kini pakaiannya telah berganti menjadi setelan jas warna biru langit khas guru. Tangannya menggenggam beberapa buku kecil yang akan digunakannya sebagai materi pembelajaran di kelas nanti.

Seharusnya pada jam ini semua kelas sudah dalam keadaan tenang, pengecualian untuk kelas yang satu ini. Suara- suara cempreng khas anak kecil masih terdengar hingga jarak 100 meter dari kelas tersebut. Dan sialnya Naruto mendapatkan kesempatan mengajar di kelas ini.

Naruto membuka pintu kelas itu dengan perlahan. Seketika suara bising tadi menghilang dalam sekejap. Semua mata dari bocah-bocah mungil itu menatapnya. tatapan mereka semua seolah mengatakan bersiap-siaplah, kau akan segera menerima hadiahmu. Dan benar saja-

BYUR

Kumpulan air keruh jatuh dari atas pintu. Beruntung Naruto belum memasuki kelas itu, tubuhnya masih berada cukup jauh dari bibir pintu jadi air itu tak sampai mengotori seragam barunya. Sebagian dari bocah-bocah mungil itu mendesah kecewa karena jebakan yang dibuat mereka gagal mengenai sasaran.

"Ekhem-" Naruto berdehem keras guna menetralisir keadaan. "-jadi siapa yang akan bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini, hm?" Tanya Naruto sedikit menekan kata-katanya. Kedua kakinya mulai melangkah masuk.

Namun tidak ada satupun dari mereka yang mau menjawab. Karena menunggu terlalu lama, Naruto mendekati salah satu anak disana. Mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil dihadapannya. "halo gadis cantik, katakan padaku siapa dalang dari semua kekacauan ini?"

Gadis itu menatap polos Naruto, namun terdapat aura ketakutan yang tersirat di matanya. Sedangkan sebagian dari temannya menatap tajam gadis itu. Sepertinya gadis ini adalah gadis baik-baik, begitulah pikir Naruto. Sebuah senyuman manis mengembang di wajah Naruto. Bibir mungilnya ia dekatkan ke telinga gadis kecil itu. "jika kau mengatakannya padaku kau akan aman dan kau akan mendapatkan coklat dariku, kamu mau?"

Setelah Naruto menjauhkan wajahnya dari telinga gadis itu, ia dapat melihat gadis itu mengangguk ragu. Dengan bergetar tangan gadis itu bergerak mengisyaratkan sesuatu. Naruto mencoba membacanya dengan jelas. Akhirnya Naruto tau apa yang sedang disampaikan gadis itu. Sebuah nama. Itulah yang sedang ia coba katakan.

"baiklah, arigatou~" seru Naruto tiba-tiba. Tubuhnya kembali berdiri tegap. Menatap seluruh murid-murid barunya,

"saya sangat suka dengan kejujuran, begitupun sebaliknya. Saya sangat tidak menyukai kebohongan.-

- Jadi, jika kalian jujur pada saya siapa yang melakukan ini, maka kalian bebas dari hukuman."

Namun mereka masih tidak menanggapi perkataan Naruto.

Namruto menghela nafas pelan guna mengatur emosinya. "baiklah, siapa diantara kalian yang bernama Ryuuki?"

Mereka kembali terdiam selama beberapa menit. Saat Naruto ingin kembali membuka suara, sebuah tangan mungil terangkat tinggi di udara. Membuat semua mata tertuju pada anak itu.

"bisakah kau maju ke depan?" Naruto bertanya dengan lembut agar anak itu tidak merasa takut.

Lelaki kecil bernama Ryuu itu melangkah mendekati Naruto dengan wajah sedikit mendongak ke atas seolah menuunjukkan keangkuhan yang ia miliki. Melihat tingkah anak itu, Naruto hanya bisa memakluminya.

"siapa namamu?" Tanya Naruto sambil berjongkok.

"Ryuuki. Uchiha Ryuuki."

"hm baiklah, apa yang akan kau lakukan jika kau melakukan kesalahan?"

"aku akan menerima hukuman."

Mendengar jawaban itu Naruto kembali tersenyum, namun kini lebih manis dibanding sebelumnya. "hm, bisa jadi. Tapi ada yang kau lupakan? Tiga kata ajaib yang ada di dunia."

"ck, tidak usah banyak bicara. Katakan saja apa hukumanku, lalu aku akan menerimanya."

"baiklah, jika kau menginginkan sebuah hukuman-" Naruto mengelus dagu lancipnya. "minta maaf padaku, maka kau bisa duduk ke tempatmu."

Bocah itu terkejut. "a- tunggu, itu bukan hukuman. Berikan yang lain! Suruh aku keluar kelas, ata-"

"tidak. Aku hanya ingin kau katakan 'maaf'. Itu tidak sulit bukan?"

"aish, baiklah. M-ma-af" Ryu mengatakan kata terakhirnya dengan sangat pelan.

"apa? Aku tidak dengar. Katakan sekali lagi!" ujar Naruto pura-pura seolah tidak mendengarnya, padahal ia tadi masih mampu mendengar ucapan Ryu.

"aku minta maaf. PUAS?!" bentak Ryu kesal.

Naruto tersenyum lalu mengangguk. "kau bisa kembali ke tempatmu!"

Ryu kembali ketempatnya dengan wajah merah karena menahan malu bercampur kesal. Selama ia hidup, kata 'maaf' adalah hal yang dilarang dikatakan dalam kamusnya, dan tadi ia mengatakannya. Karena seorang Naruto, orang yang bahkan belum ia ketahui namanya. Dari tempatnya, Ryu menatap Naruto dengan tatapan tajam.

Apa rencana selanjutnya yang akan dibuat si kecil Ryu untuk Naruto?

Sasuke kembali kekediamannya pada pukul 22.30. Suasana sepi menyelimuti rumahnya. Beberapa penerangan di rumahnya pun telah padam. Ia duduk di sofa yang terletak di ruang tamunya guna melepas penat. Meminta beberapa maid membawakan makanan ringan dan kopi hangat untuknya.

Seorang wanita dengan pakaian khas babysitter mendekati Sasuke dengan penampilan agak kacau. "Permisi Uchiha-sama."

"ada apa?"

"saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini, Uchiha-sama."

"kenapa? Apa gaji yang ku berikan selama ini masih kurang? Katakana padaku berapa gaji yang kau inginkan, dan tetap bekerja disini."

"bukan Uchiha-sama, gaji yang selama ini Anda berikan sudah lebih dari cukup. Saya hanya tidak tahan dengan sikap Tuan muda. Dia terlalu nakal untukku."

Sasuke tampak memikirkan keputusan yang akan diambilnya untuk wanita yang bekerja sebagai pengasuh putranya ini. "baiklah, kamu bisa pergi. Mintalah pesangonmu pada Shikamaru."

Wanita itu tersenyum lega. "terima kasih Uchiha-sama."

"hn"

Setelah mengatakan itu Sasuke beranjak dari tempatnya menuju kamar pribadinya. Ia mengabaikan kopi hangat dan makanan yang telah ia minta. Otak cerdasnya memutuskan untuk membawanya tidur saja. Namun sebuah pintu yang sedikit terbuka membuatnya terhenti. Ia memutuskan untuk memasuki ruangan yang merupakan kamar dari anak semata wayangnya.

Sasuke membukanya dengan pelan agar si pemilik tidak menyadari kehadirannya. Di dalam sana putranya sedang terlelap sambil memeluk sebuah buku gambar. Sasuke penasaran apa yang membuat putranya itu sampai memeluk sebuah buku gambar.

Mata Sasuke berubah menjadi sendu setelah melihat gambar itu. Disana terlukis seorang lelaki kecil sedang menggandeng pria dewasa disampingnya. Wajah mereka berdua begitu bahagia dalam gambar itu. Hatinya mencelos seketika, ia teringat kalau selama ini ia mengabaikan putranya sendiri karena hal yang bukan disebabkan putranya.

Tangan kekarnya bergerak untuk mengelus rambut hitam kelam milik putranya. Namun belum sampai ia menyentuh helaian lembut itu. Sebuah ketukan muncul dari luar membuat pergerakan tangannya terhenti. Ia menaruh kembali buku gambar yang ia ambil dari tangan mungil putranya ke meja nakas di samping tempat tidur putranya.

Sasuke membuka pintu itu, ia menemukan orang kepercayaan sekaligus sahabatnya sedang berdiri di depan pintu. "aku harus kembali ke kamar. Carikan Babysitter baru untuk Ryuki!"

"tentu Sasuke."

Sasuke pun pergi meninggalkan sahabatnya di depan pintu kamar putranya.

"aku tau kau menyayangi putramu, Sasuke. Kau hanya belum mampu melupakan kejadian itu. Cobalah untuk melupakannya, maka kau akan menumpahkan semua kasih sayangmu pada Ryu."

Suara sahabatnya membuatnya terhentididepan pintu kamarnya. Perkataan sahabatnya itu membuat pikirannya kembali kalut. "aku tak tau, Shika. Itu sangat sulit." Setelah mengatakan itu Sasuke langsung memasuki kamarnya.

Menghempaskan tubuh kekarnya pada kasur empuk di dalam kamarnya.

Salah satu lengan menutup kedua iris hitam miliknya. Pikirannya masih kalut karena perkataan sahbatnya tadi. Semua yang terjadi padanya hari ini membuatnya lelah. Rasa penat itu membuatnya jatuh terlelap. Melupakan apa yang terjadi padanya hari ini.

ANNYEONG HASAEYEO~YOU CAN CALL ME MONSTER, eh bukan panggil aku KIM. Panggil sayang juga boleh hehehe :)Kim adalah author pindahan dari wp bernama FENT_NAMIKAZE. Kim hinggap disni because wp yang selalu error :(so, Kim harus pindah kesini dlu buat melanjutkan semua story Kim hingga wp kembali jelas tanpa ada kabar simpang siur :)Salam kenal~