Tittle : Even if it's not Necessary
Author : Kim Joungwook
Pairing : YooSu, ChunJae, YunJae, Hint!ChangHo
Length : two of five
Genre : Romance, hurt/comfort, angst
Summary : "se-mengenaskan inikah kita sekarang, Su…." gumam Yunho, yang dibalas dengan isakan Junsu yang semakin keras, meski teredam pelukan Yunho.
|- Junsu-|-Yoochun-|-Jaejoong-|-Yunho-|-Changmin-|
.
.
.
Hari sudah tidak bisa dikatakan malam lagi, sudah menjelang pagi. Seorang namja tampan memasuki dorm yang sudah ia tempati lebih dari 3 tahun belakangan.
"hah~" helaan nafas keluar dari bibirnya saat ia sudah menjatuhkan dirinya sendiri di atas sofa. Kepalanya bersandar dengan lelah di lengan sofa, memejamkan matanya yang sedari tadi pagi belum beristirahat.
"kau baru pulang, Yun?" sebuah suara mengagetkan Yunho yang baru saja melangkah masuk ke dorm mereka. Namja tampan itu tersenyum dan mengangguk.
"ne. kau belum tidur Jaejoongie?" tanya Yunho. jaejoong menggeleng.
"aku belum mengantuk. Lagipula aku menunggumu. Kau lelah? Kusiapkan air hangat dulu agar kau bisa membersihkan diri." ucap Jaejoong, ia sudah akan berbalik masuk ke kamar mereka jika saja lengannya tidak ditahan oleh Yunho.
"eh?" jaejoong memandang bingung Yunho yang membalik tubuhnya tiba-tiba dan memeluknya. Namja brunette itu menyusupkan wajahnya di leher Jaejoong dan memejamkan matanya nyaman.
"biarkan seperti ini. Aku sangat lelah." gumam Yunho. jaejoong tersenyum, balik memeluk Yunho yang kini melingkarkan tangannya di pinggang milik Jaejoong. Jaejoong mengelus lembut pundak Yunho, berharap dapat merilekskan tubuh leader sekaligus kekasihnya itu. Dapat ia rasakan Yunho memeluknya semakin erat, membuat Jaejoong semakin mengeratkan pelukannya juga.
"Yun~" suara Jaejoong menginterupsi kegiatan Yunho yang tengah memejamkan matanya. Mereka sudah diposisi itu cukup lama, cukup membuat Jaejoong sedikit pegal. Yunho mengangkat wajahnya, tangannya masih setia di pinggang Jaejoong.
"saranghae." ucap Yunho pelan. Dan setelah itu wajah Jaejoong dihujani oleh kecupan dari bibir hati Yunho, membuat namja cantik itu memejamkan matanya sembari tersenyum, dan sesekali terkikik geli saat Yunho menggigit pelan pipinya. Kecupan itu terhenti setelah Yunho mengecup kedua mata Jaejoong dan membuat namja cantik itu membuka matanya.
"kau belum membalas pernyataan cintaku~" ucap Yunho sembari menatap Jaejoong dengan puppy eyes gagalnya. Jaejoong terkikik geli, mengecup cepat bibir Yunho.
"nado saranghae, Yunnie~ neomu neomu saranghae~" Ucap Jaejoong. Yunho tersenyum dan kembali memeluk Jaejoong. Tapi sebelum Yunho sempurna memeluk Jaejoong, namja itu sudah lebih dulu mendorong bahu Yunho dan memaksanya menjauh dari tubuhnya. Yunho memandang Jaejoong tak suka dan mengerucutkan bibirnya. Jaejoong tertawa kecil melihat ekspresi Yunho.
"jja! Mandilah, aku akan membuatkamu teh." ucap Jaejoong. Dan Yunho semakin menekuk wajahnya mendengar ucapan Jaejoong.
Dengan paksaan(karena Yunho bersikeras tak mau mandi) dan acara tarik menarik, akhirnya Jaejoong berhasil membuat Yunho masuk ke dalam kamar mandi.
.
"kau sudah selesai? Kemarilah, ini tehmu." ucap Jaejoong sembari menepuk ranjang disampingnya begitu melihat Yunho keluar dari kamar mandi.
Yunho tersenyum dan segera mendekat, duduk disamping Jaejoong dan menerima dengan senang hati cangkir yang diberikan Jaejoong.
"aku tahu kau lelah, Jae~ tidurlah." ucap Yunho pelan. Namja itu membelai lembut kepala Jaejoong yang bersandar di pundaknya. Jaejoong menggeleng.
"aku tak mau tidur jika kau tak memelukku dan ikut tidur disampingku." ucap Jaejoong. Yunho terkekeh pelan dan mencium rambut Jaejoong.
"dengan senang hati~"
Yunho kembali membuka matanya, bukannya merasa lebih baik, lelah itu malah semakin menjadi.
"cih!" Yunho mendecih pelan.
Ia tak pernah menunjukkan sisi lemahnya pada siapapun, tidak pada umma ataupun appanya. Ia merasa sudah dewasa dan mampu menyelesaikan segalanya sendiri.
Tapi tidak dihadapan namja cantik itu. Semua topeng 'sok' dewasa hilang entah kemana. Ia bersikap layaknya anak kecil yang butuh perhatian di hadapan Jaejoong. Mencari segala bentuk kasih sayang yang dibutuhkannya atas namja itu. Dan Yunho sadar, ia dan Jaejoong justru seperti anak kecil ketika bersama.
Saling melakukan skinship berlebihan, bercanda, bahkan bertengkar karena hal konyol. Mereka menanggalkan topeng dewasa jika sudah bersama. Topeng yang pasti akan mereka pakai di depan dongsaeng mereka. Dan Yunho sanngat menikmati semua itu. Menikmati beratus detik yang terlewati bersama namja cantik itu, menikmati segala skinship diantara mereka, menikmati setiap hal yang terjadi diantara mereka berdua.
Dan untuk kali ini saja, sungguh kali ini saja. Ia merasa sangat lelah. Ia merasa butuh sandaran bagi segala permasalahan yang akhir-akhir sering hinggap. Ia butuh seseorang yang mampu memberikan kesan nyaman dan membuatnya melupakan segala bebannya. Ia butuh dekapan tubuh itu, ia butuh menghirup aroma yang seakan candu baginya. Ia butuh melihat wajahnya. Kali ini saja…..
"Chagi, jeongmal bogoshipo"
.
.
.
Cklek.
Suara pintu dorm terbuka, menampilkan seorang namja jangkung yang kini mulai melangkah masuk.
"eh?" alisnya berkerut bingung saat dorm sangat sepi, dan lagi lampunya tak ada satupun yang menyala. Dengan perlahan ia meraba dinding disampingnya dan langsung tersenyum senang saat menemukan saklar. Ia langsung menghidupkan lampu, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang Yunho yang tengah tertidur di sofa.
"aish! Hyung kebiasaan!" Changmin menggerutu pelan. Ia melangkah mendekat dan menggoyang pelan bahu Yunho.
"hyung~ irrona, irrona!" ucap Changmin. Dapat ia lihat Yunho mulai membuka matanya dan menggeliat tak nyaman.
"eoh? Changmin-ah?" Yunho mengucek matanya dan membuka lebih lebar, ia mengerjapkannya beberapa kali dan menatap Changmin.
"tidurlah di kamar hyung~ kau kelihatan sangat lelah." ucap Changmin pelan. Yunho menunduk mendengar ucapan Changmin. Bisakah namja itu tidak menyebutnya 'sangat lelah'? Ia benar-benar tidak suka mendengar kata itu.
"aku ke kamar dulu, aku mau tidur. Besok aku akan ke apartement JYJ." ucap Changmin. Dan sebelum ia sempat melangkah, tangan Yunho sudah mencengkeram lembut pergelangan tangannya, membuatnya berhenti dan mengerutkan alisnya bingung.
"hyung?" tanya Changmin khawatir, pasalnya, leader satu ini tak menjawab tatapan bingung Changmin dan hanya diam sembari bangun dari posisinya, ikut berdiri di depan Changmin.
"eh?" Changmin hanya diam dan memandang Yunho bingung saat hyungnya itu memeluk tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya dipundaknya. Sungguh, Changmin tak tahu apa-apa.
"biarkan seperti ini, Min. sebentar." dan Changmin hanya diam, menuruti ucapan Yunho. Dapat ia rasakan tangan Yunho melingkar di pinggangnya, membuat Changmin membalas pelukan itu. Ia tahu, hyungnya butuh ketenangan saat ini. Dan Ia juga tahu hyungnya lelah dengan segala yang terjadi.
"gwenchana, hyung, gwenchana. Tak apa hyung memelukku selama apapun." ucap Changmin. Dapat ia rasakan Yunho semakin erat memeluknya. Changmin tersenyum, membelai lembut pudak Yunho, berharap dapat mengurangi sedikit beban leadernya itu.
Yunho masih memejamkan matanya, menggerakkan sedikit kepalanya, mencari posisi nyaman di pelukan magnae-nya itu. Tidak, ia tidak menangis. Hanya ingin mencari sandaran.
"saat ini aku merasa menjadi seorang seme yang tengah memeluk uke-nya." gumam Changmin masih mengelus pundak Yunho. yunho hanya tersenyum, membiarkan Changmin dengan segala spekulasinya.
"Changmin-ah?" Yunho berucap setelah sekian menit membiarkan keadaan sunyi.
"eum?" Changmin hanya bergumam pelan. Yunho sedikit melonggarkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di dada Changmin dan membuka matanya, membuat Changmin lagi-lagi bingung. Tapi membiarkannya saja, untuk kali ini saja, ia mau diapa-apakan oleh Yunho.
"saranghae." ucap Yunho pelan. Changmin tersenyum, mengeratkan kembali pelukan yang tadi sedikit longgar, membuat Yunho memejamkan matanya lagi.
"nado saranghae hyung~" balas Changmin pelan. Ia ikut memejamkan matanya, menikmati waktu yang berlalu begitu saja.
.
.
.
"Yunho hyung~ aku mau pergi ke apartement JYJ. Hyung ikut?" tanya Changmin pada Yunho yang kini tengah duduk santai di depan TV. Yunho menoleh ke arah Changmin yang tengah memakai sepatunya, ia terdiam sebentar sebelum mengangguk kecil.
"aku akan mengantarmu. Mungkin mampir sebentar di sana. Jam 10 aku harus sudah di lokasi syuting." ucap Yunho. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri, ia sudah ke dalam kamar untuk berganti baju kalau saja Changmin tidak memanggilnya.
"jika kau tak mau tidak usah dipaksakan, hyung." ucap Changmin pelan. Yunho berbalik, menunjukkan senyumnya pada Changmin.
"aku tidak terpaksa, Changmin." jawab Yunho, dan tanpa mendengar tanggapan dari Changmin, Yunho sudah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
"hah~" Changmin menghela nafasnya.
"aku hanya ingin melindungi hatimu yang sudah rapuh. Aku hanya merasa sedikit saja hatimu tergores, akan membuatnya hancur berkeping-keping. Aku hanya mencegah hal itu terjadi. Tidakkah kau sadar? Aku sangat menyayangimu hyung~" gumam Changmin.
Tak sampai lima menit, Yunho sudah keluar dengan kemeja putih polos dan jins warna hitamnya. Tak lupa jaket kebanggaannya ia pakai. Changmin menaikkan salah satu alisnya.
"kau berpakaian serapi ini hyung?" tanya Changmin heran. Yunho tertawa kecil.
"aku akan langsung ke lokasi syuting setelah dari dorm JYJ." jawab Yunho singkat. Changmin tersenyum dan mengulurkan tangannya. Yunho yang bingung maksud Changmin memandang bergantian antara tangan Changmin yang terulur dengan wajah magnae-nya itu. Changmin memutar bola matanya jengah.
"kajja!" ucapnya ketus. Yunho tersenyum dan menyambut uluran tangan Changmin, menyatukan kedua tangan mereka. Changmin balas tersenyum, menyusupkan jemarinya di sela-sela jari Yunho dan mengeratkan genggaman tangannya. Yunho menoleh, ikut memandnag Changmin yang kini juga memandangnya.
"aku baik-baik saja, Min. berhenti berperan menjadi seme-ku." ucap Yunho dengan wajah kesalnya. Changmin tertawa, mengacak rambut namja yang lebih tua darinya itu.
"aku memang seme-mu hyung. Mengingat betapa labilnya dirimu." ucap Changmin dengan seringainya. Yunho semakin menekuk wajahnya.
"terserahlah! Yang penting kali ini aku yang menyetir dan memakai mobilku." ucap Yunho kesal, meski ia tak melepas genggaman tangan mereka. Tetap mempertahankannya hingga ke basement apartement itu. Ada perasaan nyaman menyusup ke dalam hatinya.
"With my pleasure." dan Yunho mencibir pelan mendengar jawaban Changmin, berbanding terbalik dengan namja jangkung itu yang kini tersenyum puas.
.
.
.
"hyungdeul hari ini free?" tanya Junsu begitu ia keluar dari kamarnya dan mendapati ChunJae tengah duduk berdua di depan TV.
"ne. waeyo?" tanya Jaejoong. Namja cantik itu menatap Junsu yang baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang masih sedikit basah.
"Changmin mau ke sini. Entahlah, aku tak tahu Yunho hyung akan ikut kemari atau tidak." jelas Junsu. Jaejoong mengangguk paham.
"geurae. Kalau begitu aku akan memasak untuk Changmin, anak itu pasti belum sarapan mengingat betapa payahnya Yunho di dapur." Jaejoong terkikik kecil di akhir ucapannya. Junsu memajukan bibirnya.
"aku juga belum sarapan, hyung~" protes Junsu. Jaejoong mengangguk.
"aku akan memasak untuk kita. Kau mau membantuku, chagi?" tanya Jaejoong sembari menoleh pada Yoochun. Dengan senyuman di wajahnya, Yoochun berdiri dan memeluk pinggang Jaejoong.
"aku akan membantumu, chagi~" ucap Yoochun. Jaejoong terkikik kecil dan memukul pelan lengan Yoochun yang melingkar dipinggangnya.
"lepaskan pelukanmu! Kau tahukan, aku tak suka kau memeluk pinggangku~" ucap Jaejoong sembari mem-pout-kan bibirnya kesal. Yoochun terkekeh kecil dan mengecup kilat pipi Jaejoong, membuat pemilik pipi itu memerah.
"arra, arra! Kajja kita memasak!" ucap Yoochun sembari melepas pelukannya. Jaejoong tersenyum dan membalik tubuhnya, membuatnya kini berhadapan dengan Yoochun.
"saranghae~" ucap Jaejoong setelah mengecup bibir Yoochun. Yoochun tersenyum.
"nado saranghae~" jawab Yoochun lembut. Jemari namja tampan itu menggenggam tangan Jaejoong, menariknya pelan ke dapur.
"kita tidak akan selesai melakukan adegan lovey dovey tidak penting ini jika tidak dihentikan. Kajja memasak!" ucap Yoochun. Jaejoong tertawa dan mengikuti langkah Yoochun yang membawa mereka ke dapur.
"appo~" gumaman lirih milik Junsu mengingatkan keberadaan orang lain diruangan itu sepeninggal ChunJae couple. Dan couple itu tak pernah tahu -atau bahkan tak mau tahu- bahwa ada hati yang tersakiti diantara mereka bertiga. Betapa menyakitkan melihat orang yang dulu -bahkan sampai sekarang- kau cintai bermesraan dengan orang lain. Bahkan itu hyung-mu sendiri, seseorang yang sudah kau anggap sebagai kakak-mu yang kau beri kepercayaan penuh dan kini justru merebut -mantan- kekasihmu. Dan Junsu tak lagi mempunyai hak untuk melarang mereka bermesraan bukan?
Dan seringkali ia berpikir.
Salahkah ia tidak bersikap egois?
Salahkah ia karena telah melepas cintanya?
Salahkah ia karena tidak menahan seseorang yang ia cintai? Perlukah ia menahan orang yang tak lagi mencintainya?
"Chunnie-ah, mungkin kau memang tak lagi mencintaiku. Tapi tidakkah tersisa sedikit kenangan diantara kita? Hal-hal manis dan indah yang dulu pernah kita lalui bersama. Semudah itukah kau melupakkannya dan menggantinya dengan yang lain? Semudah itukah kau melupakan cintamu? Apakah aku sebegitu tidak berharganya sehingga kau dengan mudah melupakanku? Geuraeyo?" dan gumaman Junsu itu hanya menjadi sapaan ringan sang udara yang kini menyesakkan baginya. Seakan seluruh oksigen berontak tak ingin lagi mengisi paru-parunya yang kini terasa sesak. Sangat menyakitkan.
"appo~" sekali lagi Junsu bergumam lirih, sebelum memutuskan untuk berbalik dan masuk kembali ke dalam kamarnya.
.
.
.
Ting… tong…
Suara bel terdengar nyaring diapartement JYJ. Jaejoong dan Yoochun sedang memasak di dapur, sedangkan Junsu tengah asyik dikamarnya, menyiapkan segala sesuatu yang ia perlukan untuk recording single terbarunya hari ini.
Ting… tong…
Dan suara bel itu kembali terdengar. Membuat seorang Kim Jaejoong cukup terganggu.
"chunnie, bisakah kau bukakan pintu?" tanya Jaejoong pada kekasihnya. Namja cantik itu menoleh, memandang Yoochun yang kini juga memandangnya, mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan tepung dan cincangan daging.
"hah~ Junsu-ah!" akhirnya Jaejoong berteriak. Ia kini juga tak bisa membukakan pintu.
"ne. hyung~ gidarya!" Junsu balas berteriak. Namja imut itu segera keluar dari kamarnya, berjalan tergesa menuju pintu depan. Sebenarnya sedari tadi ia sudah mendengar bel itu, tetapi pekerjaannya di kamar membuatnya enggan untuk beranjak dari sana.
Ting…tong…
Sekali lagi bel terdengar. Junsu lebih mempercepat langkahnya.
"ne, ne. chakkaman." ucap Junsu begitu sudah sampai di depan pintu. Dengan cepat ia membukanya, menampilkan dua namja tinggi didepannya.
"eoh, Junsu hyung!" dan seorang Changmin langsung memeluk -menubruk- tubuh Junsu begitu pintu terbuka, melupakan wajah kaget Junsu yang baru sadar bahwa yang didepannya adalah Yunho dan Changmin.
"geumanhae, Min! kau mengagetkan Junsu." ucap Yunho memperingatkan. Leader DBSK itu melangkah masuk, mendorong tubuh Changmin dan Junsu agar masuk dan menutup pintu, ia tak ingin terlalu lama di depan apartement mantan bandmate nya ini, bisa mengundang kecurigaan.
"hahaha, Changmin-ah. Lepaskan! Kau membuatku tidak bisa bernafas. Aku tenggelam dipelukanmu, pabo!" ucap Junsu sedikit keras. Membuat Yunho terkekeh kecil. Changmin melepas pelukannya, tersenyum sangat lebar memandang Junsu.
"lama tak bertemu hyung. Sudah hampir 3 bulan kita tidak berjumpa." ucap Changmin. Junsu terkikik geli.
"sebegitukah kau merindukanku?" tanya Junsu. Changmin mengangguk.
"aku merindukan bertarung game dengan Hyung. Yunho Hyung payah! Dia tak mau aku ajak main game, justru selalu ada acara diluar dorm." adu Changmin. Yunho hanya diam, melangkahkan kakinya menuju sofa diruang tamu itu. Membiarkan Junsu dan Changmin yang masih setia berdiri di depan pintu masuk.
"ayo duduk dulu!" ucap Junsu. Ia menarik tangan Changmin untuk mengikutinya duduk disamping Yunho. dan Changmin hanya menurut.
"Jaejoong hyung gwa Yoochun hyung eodiga?" tanya Changmin. Junsu menunjuk arah belakangnya.
"di dapur. Mereka sedang menyiapkan sarapan untuk kita. Jaejoong hyung begitu bersemnagat ketika tahu bahwa kau mau kemari." jelas Junsu. Changmin langsung tersenyum senang.
"yaiy! Akhirnya aku akan makan makanan yang layak." ucap Changmin. Yunho mendelik tajam kearahnya.
"jadi selama ini kau tak pernah makan makanan yang layak, begitu maksudmu, Min?" tanya Yunho. changmin terkekeh kecil.
"ani. Bukan begitu juga maksudku. Hanya saja, aku sangat merindukan masakan buatan Jaejoong hyung." jawab Changmin. Junsu tertawa mendengar perdebatan dua namja beda usia didepannya itu.
"sudahlah hyungie~ Changmin memang selalu berlebihan jika sudah bersangkutan dengan makanan." ucap Junsu menengahi. Yunho ikut tersenyum.
"ne, ne. aku sangat tahu akan hal itu." jawab Yunho. Changmin mencibir.
"terserahlah! Aku mau ke dapur, siapa tahu ada yang dapat dimakan." dan setelah mengucapkan kalimat itu, Changmin langsung kabur ke dapur.
"kau tak berniat untuk pindah ke apartementmu sendiri?" tanya Yunho begitu Changmin menghilang. Junsu menoleh, menatap namja yang duduk di sampingnya itu. Ia mengernyitkan dahinya bingung.
"memang kenapa, hyung?" Junsu balik bertanya. Yunho yang tadi memandang ke arah ponsel ditangannya itu kini menoleh, balik menatap Junsu.
"Kemarilah!" ucap Yunho lembut, meski ada nada memerintah disana. Junsu menurut, ia menggeser tubuhnya hingga kini bahu mereka bersentuhan. Yunho memasukkan ponselnya kedalam saku dan melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher Junsu, memeluk dongsaengnya itu.
"biarkan seperti ini, biarkan hyung memeluk namdongsaeng hyung yang sangat imut ini." ucap Yunho dengan kekehan diakhir kalimatnya. Junsu memukul pelan punggung Yunho.
"hyung menyebalkan!" ucap Junsu kesal, meski tangannya kini balik memeluk pinggang Yunho, menyandarkan tubuhnya nyaman di pelukan namja tampan itu.
"hyung tahu kau menderita." ucap yunho setelah membiarkan keadaan hening sesaat. Junsu mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba meresapi makna dari kalimat yang baru saja dilontarkan oleh yunho.
"tak perlu berpikir terlalu keras, nanti otakmu kasihan." tambah Yunho. kali ini Junsu tertawa, semakin mengeratkan pelukannya.
"aku tak berpikir menggunakan otakku kali ini hyung. Aku berpikir menggunakan hatiku." balas Junsu. Yunho terdiam, membelai lembut punggung Junsu.
"hyung mungkin tak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi sakit yang kau rasakan, sedikit banyak hyung tahu. Naif bila hyung bilang hyung baik-baik saja, padahal nyatanya hyung tidak baik-baik saja. Hyung sangat beruntung karena masih memiliki Changmin di sisi hyung, setidaknya kehadirannya cukup membantu. Dan hyung tak bisa berhenti memikirkanmu yang 'sendirian' di sini. Hyung ingin menemanimu, membagi luka ini bersama." jelas Yunho. junsu hanya diam, mendengarkan seksama apa yang telah Yunho ucapkan. Wajahnya sudah tenggelam di bahu Yunho beberapa detik yang lalu, membuat pemilik bahu itu merasa bajunya basah. Dan diam-diam, Yunho tersenyum.
"hyung menyayangimu, Junsu-ah. Sangat menyayangimu. Hyung tak pernah memposisikan kita sebagai korban di sini. Dan lagi hyung tak pernah berfikir untuk menjadikan mereka tersangka. Tak ada yang bersalah di sini sebenarnya. Tetapi sejujurnya hyung ingin sekali menyalahkan mereka atas luka yang telah kita dapatkan. Sungguh! Hyung merasa sangat bodoh saat merutuki kelakuan mereka." Yunho menghentikan kalimatnya, menarik nafas sesaat, berusaha mengurangi sesak yang kini ikut bersarang di dadanya.
"Dan lagi hyung merasa sangat bodoh saat membiarkan seseorang yang lebih terluka lagi justru terpuruk, terpenjara di tengah suasana yang snagat tidak menyenangkan untuk menyembuhkan luka yang ada." tambah Yunho. junsu masih terisak, semakin mengeratkan pelukannya.
"ssssttt,… menangislah. Kali ini menangislah di pelukan hyung. Hyung yakin selama ini kau memendamnya seorang diri. Dan Kali ini, biarkan hyung menemanimu." ucap Yunho. tangannya masih setia membelai lembut punggung Junsu. Dan dalam diam, Yunho menitikkan air matanya. Hanya setetes, dari mata sebelah kanannya yang menangkap sesosok bayangan di balik tembok dihadapannya. Ia tersenyum miris.
"se-mengenaskan inikah kita sekarang, Su…." gumam Yunho, yang dibalas dengan isakan Junsu yang semakin keras, meski teredam pelukan Yunho.
.
.
.
TBC
Hahahahaha~ #ketawanista
pada bingung ya akan cerita FF ini~ Saya aja juga bingung! -_-"
Pokoknya ini FF tentang Yoochun yang putus dari Junsu dan Jaejoong yang putus dari Yunho. dan dua orang itu membentuk couple bernama ChunJae. Yah~ ini hanya fantasi diriku yang melihat kedekatan ChunJae akhir-akhir ini. Walaupun masih berusaha ber-positif thinking. Secara, mereka-kan Cuma soulmate, bukan real couple kayak YunJae~
Terus, untuk fans Xiah, eum… aku sebenarnya nggak tahu pasti, tapi setahuku itu Xiahtic. Tapi kalau saya salah, saya minta maaf~ #deepbow
Okelah, pokoknya saya sangat berterima kasih untuk semua reviews yang masuk. Dan semoga ceritanya tidak mengecewakan
